Anda di halaman 1dari 51

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dari kelompok 4 berhasil menyelesaikan Makalah yang berjudul HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA tepat pada waktunya untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Bisnis kami.

Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian Kepailitan yang lebih khususnya membahas tentang Sejarah Hukum Kepailitan di Indonesia dan

Perkembangan Hukum Kepailitan di Indonesia.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan bagi para pembaca. Dan kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Balikpapan, Desember 2012

( Penyusun )

Page 1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

1. Sejarah Hukum Kepailitan di Indonesia

Dalam sejarah berlakunya Peraturan Kepailitan di Indonesia, dapat dipilah menjadi 3 masa yakni masa sebelum Faillisement Verordening berlaku, masa

berlakunya Faillisements Verordening itu sendiri dan masa berlakunya Undang-Undang Kepailitan dan PKPU yang sekarang ini. Sejarah perundang-undangan kepailitan di Indonesia telah dimulai hampir 100 tahun yang lalu yakni sejak 1906, sejak berlakunya Verordening op het Faillissement en Surceance van Betaling voor de European in Indonesia sebagaimana dimuat dalam Staatblads 1905 No. 217 jo. Staatblads 1906 No. 348 Faillissementsverordening.1 Dalam tahun 1960 - 1970 secara relatif masih banyak perkara kepailitan yang diajukan kepada Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia, namun sejak 1980 hampir tidak ada perkara kepailitan yang diajukan ke Pengadilan Negeri.

Kartini Muljadi, Perubahan pada Faillessementsverordinering dan Perpu No. 1 Tahun 1998 jo UU No. 4 tahun 1998 Tentang Penetapan peraturan pemerintah pengganti UU Nomor 1 tahun 1998 tentang perubahan atas UU tentang kepailitan menjadi UU umum, makalah Indonesia. Jakarta 25 Juli 2003.

Page 2

Tahun 1997 krisis moneter melanda Indonesia, banyak utang tidak dibayar lunas meski sudah ditagih, sehingga timbul pikiran untuk membangunkan proses kepailitan dengan cara memperbaiki perundang - undangan di bidang kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang atau biasanya disingkat PKPU. Pada tanggal 20 April 1998 pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang tentang Kepailitan yang kemudian telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat menjadi Undang-Undang yaitu Undang-Undang No. 4 tahun 1998 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang tentang Kepailitan tanggal 9 september 1998 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 nomor 135). Undang-Undang No. 4 tahun 1998 tersebut bukanlah mengganti peraturan kepailitan yang berlaku, yaitu Faillissements Verordening Staatsblad tahun 1905 No. 217 juncto Staatblads tahun 1906 No. 308, tetapi sekedar mengubah dan menambah. Dengan diundangkannya Perpu No. 1 tahun 1998 tersebut, yang kemudian disahkan oleh DPR dengan mengundangkan Undang-Undang No. 4 tahun 1998 tersebut, maka tiba-tiba Peraturan Kepailitan (Faillissements Verordening S. 1905 No. 217 jo S. 1906 No. 348) yang praktis sejak lama sudah tidak beroperasi lagi, menjadi hidup kembali.2 Sejak itu, pengajuan permohonan-permohonan pernyataan pailit mulai mengalir ke

Sutan Remy Sjahdeni. Hukum Kepailitan Memahami Faillissementsverordening juncto UndangUndang No. 4 tahun 1998. (Jakarta: Pusataka Utama Grafiti, 2002) hlm. Ix.

Page 3

Pengadilan Niaga dan bermunculanlah berbagai putusan pengadilan mengenai perkara kepailitan. Masa-masa awal hingga dilakukannya revisi atas Faillisements Verordening

(Fv, 1998), urusan kepailitan kurang populer karena selama masa tersebut banyak pihak yang tidak puas terhadap pelaksanaan putusan pernyataan pailit (banyak urusan kepailitan tidak tuntas, lamanya waktu persidangan, tidak ada kepastian hukum). Fakta juga menunjukkan bahwa banyak Debitor nakal telah dinyatakan pailit, namun demikian kepailitan tidak memberikan efek apapun bagi Debitotersebut. Kepailitan dianggap sebagai cara untuk melepaskan diri dari utang. Disamping itu di mata umum, Debitor yang dinyatakan pailit masih dapat dengan leluasa melakukan kegiatan usahanya dan melakukan segala tindakan yang secara yuridis kepailitan merupakan tindakan yang dilarang oleh hokum. Perubahan pertama, dari Fv kedalam Perpu No. 1 Tahun 1998 yang kemudian ditingkatkan menjadi UU No. 4 tahun 1998 tentang Kepailitan. Beberapa pertimbangan yang melandasi perubahan tersebut adalah:
3

a. Adanya kebutuhan yang besar dan mendesak sifatnya untuk dapat secepatnya mewujudkan sarana hukum bagi penyelesaian yang cepat, adil, terbuka dan efektif guna menyelesaikan utang piutang perusahaan yang besar pengaruhnya terhadap kehidupan perekonomian nasional. b. Dalam kerangka penyelesaian akibat-akibat daripada gejolak moneter yang terjadi sejak pertengahan 1997, khususnya terhadap masalah utang piutang dikalangan
3

Rahayu Hartini, Aspek Normatif UU Kepailitan, Makalah dalam Seminar Hukum Kepailitan di Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya, Sabtu 18 Juli 2009, Hal. 1

Page 4

dunia usaha nasional. Penyelesaian yang cepat mengenai masalah ini akan sangat membantu mengatasi situasi. yang tidak menentu di bidang perekonomian. Upaya penyelesaianmasalah utang piutang dunia usaha perlu segera dalam

kerangkahukumnya agar perusahaan-perusahaan dapat segera beroperasi secara normal. Dengan demikian selain aspek ekonomi, berjalannya kembali kegiatan ekonomi akan mengurangi tekanan sosial yang disebabkan oleh hilangnya banyak lapangan dan kesempatan kerja . Adanya perubahan dari Fv menjadi UU No.4 Tahun 1998 tersebut dalam praktiknya masih terdapat masalah atau kendala baik dari penerapan hukum materiil, misalnya tentang pengertian utang, makna pembuktian sederhana mengenai keberadaan utang, kedudukan Kreditor separatis, maupun dari sisi pelaksanaan hukum formil, misalnya tentang kewenangan mengadili Pengadilan Niaga dengan kewenangan penyelesaian sengketa alternatif melalui Arbitrase. Dalam beberapa perkara,

keberadaan klausula arbitrase menyebabkan permohonan kepailitan ditolak oleh Pengadilan Niaga . Demikian juga mengenai bukti baru (novum) sebagai dasar Peninjauan Kembali. Dalam beberapa perkara bukti baru (novum) yang dimajukan bukan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Mahkamah Agung, melainkan bukti bahwa selama proses kepailitan berlangsung di Pengadilan, Debitor sudah membayar lunas salah satu atau lebih Kreditor yang memohon pernyataan pailit atau yang

dijadikan sebagai Kreditor kedua dalam permohonan pernyataan pailit. Sehubungan dengan berbagai kendala dan permasalahan tersebut yang dijumpai dalam praktik pelaksanaan Undang-Undang Kepailitan, juga demi untuk kepentingan dunia usaha dalam menyelesaikan masalah utang-piutang secara adil,

Page 5

cepat, terbuka, dan efektif, sangat diperlukan perangkat hukum yang mendukungnya, maka kemudian diadakan perubahan kedua dengan Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Tujuan Undang-Undang ini untuk menyelesaikan masalah atau kendala tersebut yang pada prinsipnya mengembalikan kepailitan pada konsepnya semula. Beberapa faktor perlunya pengaturan mengenai Kepailitan dan PKPU adalah untuk menghindari adanya:4 a. Perebutan harta Debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa Kreditor yang menagih piutangnya dari Debitor. b. Kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik Debitor tanpa memperhatikan kepentingan Debitor atau para Kreditor lainnya. c. Kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang Kreditor atau Debitor sendiri. Misalnya, Debitor berusaha untuk memberi keuntungan kepada seorang atau

beberapa orang Kreditor tertentu sehingga Kreditor lainnya dirugikan, atau adanya perbuatan curang dari Debitor untuk memberikan semua harta kekayaannya dengan maksud untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap para Kreditor. Undang-Undang Kepailitan dan PKPU baru ini mempunyai cakupan yang lebih luas baik dari segi norma, ruang lingkup materi, maupun proses penyelesaian utang

Ibid hal.6

Page 6

piutang. Beberapa pokok materi baru dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU antara lain:5 a. Agar tidak menimbulkan berbagai penafsiran dalam Undang-Undang ini pengertian utang diberikan batasan secara tegas, demikian juga pengertian jatuh waktu; b. Mengenai syarat-syarat dan prosedur permohonan pernyataan pailit dan

permohonan PKPU termasuk di dalamnya pemberian kerangka waktu secara pasti bagi pengambilan putusan pernyataan pailit dan/ atau PKPU.

Ibid hal.7

Page 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KEPAILITAN 1. Pengertian Kepailitan Kata pailit berasal dari bahasa Prancis failite yang berarti kemacetan pembayaran. Secara tata bahasa, kepailitan berarti segala hal yang berhubungan dengan pailit. Menurut Imran Nating sebagaimana dikutip oleh Abdurrachman, kepailitan diartikan sebagai suatu proses di mana seorang Debitor yang mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan (dalam hal ini Pengadilan Niaga) dikarenakan Debitor tersebut tidak dapat membayar utangnya. Harta Debitor dapat dibagikan kepada para Kreditor sesuai dengan peraturan Pemerintah. Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan pailit adalah seseorang yang oleh suatu Pengadilan

dinyatakan bankrupt, dan yang aktivitasnya atau warisannya telah diperuntukkan untuk membayar hutang-hutangnya.6 Pailit adalah usaha bersama untuk mendapatkan pembayaran bagi semua kreditor secara adil dan tertib, agar semua kreditor mendapat pembayaran menurut imbangan besar kecilnya piutang masing-masing dengan tidak berebutan.Sedangkan kepailitan merupakan suatu proses di mana seorang Debitor yang mempunyai kesulitan

Abdurrachman, A, Op. Cit, Hal. 89

Page 8

keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan (dalam hal ini Pengadilan Niaga) dikarenakan Debitor tersebut tidak dapat membayar utangnya. Harta Debitor dapat dibagikan kepada para Kreditor sesuai dengan peraturan Pemerintah.7 Sedangkan yang dapat dinyatakan pailit adalah seorang debitor (berutang) yang sudah dinyatakan tidak mampu membayar utang-utangnya lagi yaitu : 1. Orang Perseorang baik laki-laki maupun perempuan yang telah menikah maupun belum menikah. Jika permohonan pernyataaan pailit tersebut diajukan oleh debitur perseorang yang telah menikah, maka permohonan tersebut hanya dapat diajukan atas persetujuan suami , kecuali antara suami isteri tersebut tidak ada pencampuran harta. 2. Perserikat-perserikatan atau perkumpulan tidak berbadan hukum lainnya.

Permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma harus membuat nama dan tempat kediaman masing-masing persero yang secara tanggung rentang terikat untuk seluruh utang firma. 3. Perseroan-perseoran, perkumpulan-perkumpulan, koperasi maupun yayasan yang berbadan hukum sebagaimana diatur dalam anggaran dasarnya.8

Sedangkan Pailit dapat dinyatakan atas : 1. Permintaan debitor sendiri; 2. Seseorang/bebarapa orang kreditur, (menurut Pasal 6 sebelum diputuskan pengadilan wajib memanggil debitornya);

J. Djohansah. Pengadilan Niaga di dalam Rudy Lontoh (Ed.), Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( Bandung: Alumni, 2001). Hal. 23 8 Ibid, hal. 108

Page 9

3. Pailit harus dengan putusan pengadilan (Pasal 1 Ayat 1); 4. Pailit dapat ats permintaan kejaksaan untuk kepentingan umum (Pasal 1 Ayat 2), pengadilan wajib memanggil debitor; 5. Bila debitornya bank, pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia; 6. Bila debitornya perusahaan efek, pailit dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM).

Seorang Debitor hanya mempunyai satu Kreditor dan Debitor tidak membayar utangnya dengan suka rela, maka Kreditor akan menggugat Debitor secara perdata ke Pengadilan Negeri yang berwenang dan seluruh harta Debitor menjadi sumber pelunasan utangnya kepada Kreditor tersebut. Hasil bersih eksekusi harta Debitor dipakai untuk membayar Kreditor tersebut. Sebaliknya dalam hal Debitor mempunyai banyak Kreditor dan harta kekayaan Debitor tidak cukup untuk membayar lunas semua Kreditor, maka para Kreditor akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan pelunasan tagihannya terlebih dahulu.Kreditor yang datang belakangan mungkin sudah tidak dapat lagi pembayaran atas utangnya, karena harta Debitor sudah habis. Hal ini sangat tidak adil dan merugikan Kreditor-kreditor lainnya. Dalam Blacks Law Dictionary, pailit atau bankrupt adalah the state or condition of a person (individual, partnership, corporation, municipality) who is unable to pay its debt as they are, or become due. The term includes a person againt whom an involuntary petition has been filed, or who has filed a voluntaru petition, or who has been adjudged a bankrupt.

Page 10

Berdasarkan pengertian tersebut, maka pengertian pailit dihubungkan dengan ketidakmampuan untuk membayar dari seorang Debitor atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo. Ketidakmampuan tersebut harus disertai suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh Debitor sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga. Maksud dari pengajuan permohonan tersebut sebagai bentuk pemenuhan asas publisitas dari keadaan tidak mampu membayar. 9 Orang sering menyamakan arti pailit ini sama dengan bankrupt atau bangkrut dalam bahasa Indonesia. Namun, menurut penulis pengertian pailit tidak samadengan bangkrut, karena bangkrut berarti ada unsur keuangan yang tidak sehat dalam suatu perusahaan, tetapi pailit bisa erjadi pada perusahaan yang dalam keadaan keuangannya sehat, perusahaan tersebut dapat dipailitkan karena tidak membayar utang yang telah jatuh tempo dari salah satu atau lebih Kreditornya. Menurut ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Dilihat dari beberapa arti kata atau pengertian kepailitan tersebut di atas maka esensi kepailitan secara singkat dapat dikatakan sebagai sita umum atas harta kekayaan debitor baik yang pada waktu pernyataan pailit maupun yang diperoleh selama kepailitan berlangsung untuk kepentingan semua kreditor yang pada waktu

Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis : Kepailitan. (Jakarta : Rajawali Pers, 1999) Hal. 11.

Page 11

kreditor dinyatakan pailit mempunyai utang, yang dilakukan dengan pengawasan pihak yang berwajib. Akan tetapi dikecualikan dari kepailitan adalah: 1. Semua hasil pendapatan debitor pailit selama kepailitan tersebut dari pekerjaan sendiri, gaji suatu jabatan/ jasa, upah pensiun, uang tunggu/uang tunjangan, sekedar atau sejauh hal itu diterapkan oleh hakim. 2. Uang yang diberikan kepada debitor pailit untuk memenuhi kewajiban pemberian nafkahnya menurut peraturan perundang-undangan (Pasal 213, 225, 321 KUH Perdata). 3. Sejumlah uang yang ditetapkan oleh hakim pengawasan dari pendapatan hak nikmat hasil seperti dimaksud dalam (Pasal 311 KUH Perdata). 4. Tunjangan dari pendapatan anak-anaknya yang diterima oleh debitor pailit berdasarkan Pasal 318 KUH Perdata.

2. Asas Asas Kepailitan Lembaga kepailitan merupakan lembaga hukum yang mempunyai fungsi penting, sebagai realisasi dari dua pasal penting dalam KUH Perdata yakni pasal 1131 dan 1132 mengenai tanggung jawab debitur terhadap utang-utangnya. Menurut Pasal 1131 Segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak

maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.10Pasal 1132 Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut
10

Sri Redjeki Hartono, Op.Cit., hal. 16

Page 12

keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing kecuali apabila diantara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan. Kedua pasal tersebut di atas memberikan jaminan kepastian kepada kreditur bahwa kewajiban debitur akan tetap dipenuhi dengan jaminan dari kekayaan debitur baik yang sudah ada maupun yang masih akan ada dikemudian hari Pasal 1131 KUH Perdata dan 1132 KUH Perdata ini merupakan perwujudan adanya asas jaminan kepastian pembayaran atas transaksi-transaksi yang telah diadakan. Hubungan kedua pasal tersebut adalah kekayaan debitur (Pasal 1131 KUH Perdata) merupakan jaminan bersama bagi semua krediturnya (Pasal 1132 KUH Perdata) secara proporsional, kecuali bagi kreditur dengan hak mendahului (hak preferensi). Pada dasarnya, asas yang terkandung di dalam Pasal 1131 KUH Perdata dan 1132 KUH Perdata ini adalah bahwa undang-undang mengatur tentang hak menagih bagi kreditur atau kreditur-krediturnya terhadap transaksinya dengan debitur. Bertolak dari asas tersebut sebagai lex generalis, maka dalam urutan yang lebih rinci dan operasional. Menurut Sri Redjeki Hartono, lembaga kepailitan pada dasarnya mempunyai dua fungsi sekaligus yaitu:11 1. Kepailitan sebagai lembaga pemberi jaminan kepada krediturnya bahwa debitur tidak akan berbuat curang dan tetap bertanggung jawab atas semua hutangketentuan kepailitan mengaturnya

hutangnya kepada semua kreditur-krediturnya.


11

Ibid, hal. 18

Page 13

2. Juga memberi perlindungan kepada debitur massal oleh kreditur-krediturnya.

terhadap kemungkinan eksekusi

Keberadaan ketentuan tentang kepailitan baik sebagai suatu lembaga atau sebagai upaya hukum khusus merupakan satu rangkaian konsep yang taat asas sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata. Sistem pengaturan yang taat asas inilah yang mempunyai nilai utama dalam rangka memberikan kepastian hukum. Dari itu timbullah lembaga kepailitan yang berusaha untuk mengadakan tata yang adil mengenai pembayaran utang terhadap semua kreditur dengan cara seperti yang diperintahkan oleh Pasal 1132 KUHPerdata. Jadi Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata merupakan dasar hukum dari kepailitan. Dalam vaillissements peraturan perundangan yang lama yakni dalam Ferordening tidak diatur

(FV) maupun UU No 4 Tahun 1998 tentang Kepailitan

secara khusus, namun pada UU No 37 Tahun 2004 yaitu Undang- Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa keberadaan asas-asas kepailitan yakni:12 1. Asas Keseimbangan Undang-undang ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan dari asas keseimbangan, yaitu satu pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak
12

undang-undang ini mendasarkan pada sejumlah

Ibid, hal. 19

Page 14

jujur. Pada pihak lain terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik. 2. Asas Kelangsungan Usaha Dalam undang-undang ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan debitor yang prospektif tetap dilangsungkan. 3. Asas Keadilan Dalam kepailitan asas keadilan mengandung pengertian, bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang

berkepentingan. Asas keadilan ini untuk mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak penagih yang mengusahakan pembayaran atas tagihan masing-masing terhadap Debitor, dengan tidak mempedulikan 4. Asas Integrasi Asas Integrasi dalam undang-undang ini mengandung pengertian bahwa sistem hukum formil dan hukum materiilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional. Kreditor lainnya. 3. Syarat Syarat Kepailitan Pengajuan pailit terhadap Debitor oleh Kreditor harus memenuhi syarat-syarat dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Untuk syarat dinyatakan pailit pada prinsipnya masih sama dengan Undang-Undang Kepailitan, hanya pengaturan pasalnya saja yang berubah bahwa dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU diatur dalam Pasal 2 ayat (1). Esensi kepailitan secara singkat dapat dikatakan sebagai sita

Page 15

umum atas harta kekayaan Debitor untuk kepentingan semua Kreditor yang pada waktu Debitor dinyatakan pailit mempunyai hutang. Syarat-syarat untuk mengajukan pailit terhadap suatu perusahaan telah diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Dari syarat pailit yang diatur dalam pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa syarat yuridis agar dapat

dinyatakan pailit adalah :13 a. Adanya utang; b. Minimal satu dari utang sudah jatuh tempo; c. Minimal satu dari utang dapat ditagih; d. Adanya Debitor dan Kreditor e. Kreditor lebih dari satu; f. Pernyataan pailit dilakukan oleh Pengadilan khusus yang disebut dengan Pengadilan Niaga; g. Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang yaitu: 1) Pihak Debitor; 2) Satu atau lebih Kreditor; 3) Jaksa untuk kepentingan umum; 4) Bank Indonesia jika Debitornya bank; 5) Bapepam jika Debitornya perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, dan lembaga penyimpanan dan penyelesaian; 6) Menteri Keuangan jika Debitornya perusahaan asuransi, reasuransi, dana pensiun dan BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik;
13

Munir Fuady, Op. Cit, Hal. 8

Page 16

h. Syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU; i. Apabila syarat-syarat terpenuhi, Hakim menyatakan pailit bukan dapat dinyatakan pailit. Sehingga dalam hal ini kepada Hakim tidak dapat diberikan ruang untuk memberikan judgement yang luas. Dalam Undang-Undang Kepailitan persyaratan untuk dapat dipailitkan sungguh sangat sederhana. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan, menentukan bahwa yang dapat dipailitkan adalah Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang ataulebih Kreditornya. Hal ini tidak berbeda jauh dengan syarat pailit yang diatur dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa : Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun ataspermintaan seorang atau lebih Kreditornya. Sebagai perbandingan, untuk lebih jelas dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Page 17

Peraturan PerundangNo Undangan 1. Verordening op het Faillissement en Surceance van Betaling voor de European in Indonesia Setiap Debitor yang tidak mampu membayar utangnya yang berada dalam keadaan berhenti membayar utang tersebut, baik atas permintaan sendiri maupun atas permintaan seorang Kreditor atau beberapa Kreditornya dapat diadakan oleh Hakim yang menyatakan bahwa Debitor yang bersangkutan dalam keadaan pailit 2 Perpu No. 1/1998 Debitor yang mempunyai dua atau lebih Syarat Pailit

Keterangan Tidak disebutkan mengenai jumlah utangnya

Disebutkan mengenai jumlah utangnya dan telah jatuh tempo serta dapat ditagih

tentang Perubahan atas Kreditor dan tidak membayar sedikitnya Undang-Undang tentang Kepailitan satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2,baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih Kreditornya. 3 UU No.37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran UtangUU No.37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Sumber : Data Sekunder yang telah diolah Debitor yang mempunyai dua / lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permintaan seorang atau lebih Kreditornya.

disebutkan mengenai jumlah utangnya dan telah jatuh tempo serta dapat ditagih

Page 18

Berdasarkan paparan di atas, maka telah jelas, bahwa untuk bias dinyatakan pailit, Debitor harus telah memenuhi dua syarat yaitu: Berdasarkan paparan di atas, maka telah jelas, bahwa untuk bias dinyatakan pailit, Debitor harus telah memenuhi dua syarat yaitu: a) Memiliki minimal dua Kreditor atau lebih. b) Tidak membayar minimal satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Kreditor yang tidak dibayar tersebut, kemudian dapat dan sah secara hukum untuk mempailitkan Debitor, tanpa melihat jumlah piutangnya.

4. Tujuan Pernyataan Kepailitan Tujuan pernyataan pailit sebenarnya adalah untuk mendapatkan suatu penyitaan umum atas kekayaan debitor (segala harta benda disita/dibekukan) untuk kepentingan semua orang yang mengutangkannya (kreditor). Prinsip kepailitan iini adalah suatu usaha bersama untuk mendapatkan pembayaran bagi semua orang berpiutang secara adil. Menurut Kartini Muljadi, hal inilah yang menjadi maksud dan tujuan dari UndangUndang Kepailitan, yaitu untuk menghindari terjadinya keadaan seperti yang

dipaparkan di atas.14Apabila dilihat menurut sudut sejarah hukum, Undang-undang

14

Lihat Kartini Muljadi. Pengertian dan Prinsip-prinsip Umum Hukum Kepailitan, di dalam Ruddhy Lontoh (Ed.), Penyelesaian Utang Piutang melaui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Bandung: Alumni, 2001) Hal. 75-76

Page 19

Kepailitan pada mulanya bertujuan untuk melindungi para Kreditor dengan memberikan jalan yang jelas dan pasti untuk menyelesaikan utang yang tidak dapat dibayar. 15

5. Pihak Pihak Yang Dapat Meminta Pailit

Adanya putusan kepailitan dari pengadilan lebih menjamin kepastian hukum dan adanya penyelesaian yang adil sehingga mengikat, oleh karena akan diberikan kewenangan oleh pengadilan kepada kurator atau hakim pengawasan untuk menilai apakah benar-benar tidak mampu membayarkan utang-utangnya.

Kemudian guna melindungi kepentingan kreditor agar kekayaan atau harta benda si debitor kepada pihak lain, maka setiap kreditor dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan sebelum ditetapkan seperti tercantum pada Pasal 7 ayat (7) sub a dan b Undang-Undang No.4 Tahun 1998 untuk: a. Meletakkan sita jaminan terhadap sebagian atau seluruhnya kekayaan debitor, atau b. Menunjukkan kurator sementara untuk: 1. Megawasi pengelola usaha debitor 2. Megawasi pembayaran kepada kreditor yang dalam rangka kepailitan

memerlukan kurator.16 Diharapkan dengan lahirnya Undang-undang No. 4 Tahun 1998 Tentang

Kepailitan bermaksud memberikan kesempatan kepada pihak kreditur ataupun debitur untuk mengupayakan penyelesaian yang adil dan mengikat serta sesuai dengan
15

Erman Radjagukuguk. Latar Belakang dan Ruang Lingkup Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 Tentang Kepailitan, di dalam Ruddhy Lontoh (Ed.), Penyelesaian Utang Piutang melaui Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Bandung: Alumni, 2001) Hal. 181.
16

Ibid, hal 110.

Page 20

putusan pengadilan terhadap utang piutang mereka. Ketentuan Pasal 1 UU No. 4 Tahun 1998 menyebutkan pihak-pihak yang meminta pailit yaitu: 1. Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo yang dapat ditagih dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan yang berwenang sebagaimana yang dimaksud pada Pasal 2, baik atas permohonannya sendiri maupun seorang atas permintaan seorang atau lebih kreditur. 2. Permohonan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dapat juga diajukan kejaksaan untuk kepentingan umum. 3. Dalam menyangkut debitur yang merupakan bank, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia. 4. Dalam hal menyangkut debitur yang merupakan perusahan efek, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawasan Pasar Modal (BAPEPAM).17

6. Prosedur Permohonan Pailit

Kalau diperhatikan prosedur untuk memohon pernyataan pailit bagi si debitur ada disebutkan Pasal 4 Undang-Undang No.4 Tahun 1998 yang berbunyi sebagai berikut: 1. Permohonan pernyataan pailit diajukan melalui panitera.

17

Siti Sumantri Hartono, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran, (Yogyakarta:PT Gajah Mada, 1993) , hal 73.

Page 21

2. Panitera mendaftarkan permohonan pernyataan pailit pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran. 3. Panitera menyampaikan permohonan pernyataan pailit kepada ketua dengan

jangka waktu paling lambat 1x24 jam terhitung sejak tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan, pengadilan mempelajari. 4. Sidang memeriksa atas permohonan pernyataan pailit diselenggarakan dalam

waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari sejak tanggal pemohonan didaftarkan. 5. Atas permohonan debitur dan berdasarkan alasan yang cukup, pengadilan dapat menunda permohonan dan menetapkan hari sidang. 6. Penyelenggaraan paling lama 25 (dua puluh lima) hari terhitung sejak tanggal permohonan didaftarkan. 7. Permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma.18

Demi melindungi kepentingan kreditur tersebut Pasal 7 ayat (1) sub a dan Undang-Undang No. 4 Tahun 1998, menegaskan bahwa kreditur dapat mengajukan permohonan pailit terhadap debitur yang ditetapkan. Hal ini dilakukan kreditor untuk menjaga itikad tidak baik debitor dalam berhubungan dengan pemberesan dan pengurusan hartanya. Selanjutnya juga dalam putusan pernyataan pailit ataupun setiap saat setelah putusan dijatuhkan, atas usul hakim pengawasan atau permintaan kurator atau salah seorang debitor atau lebih maka pengadilan boleh memerintahkan agar debitor pailit dimasukkan dalam tahanan baik dalam penjara maupun dalam rumah
18

Ibid, hal 76.

Page 22

debitor sendiri dibawah pengawasan seorang pejabat dari kekuasaan umum dan pemerintah untuk melakukan penahanan dijalankan oleh kejaksaan. Hal ini dilakukan oleh pengadilan atas dasar debitur pailit dengan sengaja tanpa dasar yang sah hal ini sesuai dengan Pasal 88, 101 dan 122 Undang-Undang No. 4 Tahun 1998.19 Jika kreditor yang memohonkan pernyataan pailit maka kreditortersebut harus dapat membuktikan bahwa tuntutannya terhadap pembayaranpiutangnya kepada debitor dilengkapi dengan bukti-bukti tagihan yang cukup,kalau tidak kreditor tersebut tidak akan mengajukan permohonan pernyataanpailit terhadap diri si debitor. Jaksa atau penuntut umum dapat memohon kepailitan seorang debitor bilamana dipenuhi syarat-syarat adanya keadaan berhenti membayar utang dari yang bersangkutan dengan alasan kepentingan umum. Jadi bila tidak ada lagi kepentingan perseorangan jaksa maka dapat berperan untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit atas si debitor, tetapi bila bukan, demi kepentingan umum jaksa tidak berhak mengajukan permohonan pailit.20

7. Akibat hukum Kepailitan

Putusan kepailitan membawa akibat bagi si pailit atau debitor sendiri maupun harta kekayaannya, sejak dibacakan putusan kepailitan, si pailit (debitor) kehilangan hak pengurusan dan penguasaan atas budel. Ia menjadi pemilik dari budel itu, tetapi ia tidak boleh lagi mengurus dan meguasainya. Pengurusan dan penguasaan itu beralih kepada hakim pengawasan dan kurator yang ditunjuk dari, sementara dalam hal

19 20

Mulaiman Hadad, Indikator Kepailitan di Indonesia,(Bandung:PT Citra Aditya Bakti, 2003), hal 67. Ibid, hal 69.

Page 23

kreditor dan debitor tidak mengajukan usul pengangkatan kurator lain kepada pengadilan maka Balai Harta Peninggalan (BPH) bertindak sebagai kurator.21

Pengurusan dan penguasaan harta kekayaan tersebut pindah kepada Balai HartaPeninggalan (BPH) dimana terhadap seluruh harta kekayaan yang sudah ada maupun yang diperoleh selama berjalannya kepailitan kecuali yang dengan undangundang dengan tegas dikeluarkan dari kepailitan. Adapun akibat putusan terhadap pailitnya debitor mempunyai pengaruh hukum baik terhadap debitor maupun terhadap kreditor, hal ini antara lain : a. Pengaruh putusan kepailitan atas tuntutan-tuntutan tertentu, pengaruh putusan kepailitan dalam tuntutan tersebut ada dua jenis yaitu: 1) Tuntutan yang berpokok hak-hak dan kewajiban masuk budel pailit. 2) Tuntutan-tuntutan yang bertujuan untuk dipenuhinya suatu perikatan dalam budel b. Pengaruh terhadap perbuatan si pailit (debitor) terhadap perbuatan si pailit yang merupakan para kreditor, Balai Harta Pengadilan atau kurator dapat mengemukakan pembatalan dari perbuatan tersebut. Perbuatan si pailit yang merugikan kreditor pada pokoknya adalah perbuatan yang berakibat berkurangnya budel, sehingga dianggap tidak pernah ada. Konsekuensinya adalah bilamana dikarenakan perbuatan tersebut ada bagian-bagian harta kekayaan dikeluarkan dari budel, maka bagian-bagian dari harta kekayaan tersebut oleh Balai Harta Peninggalan dituntut untuk dikembalikan ke dalam budel.

21

Ibid, hal 71.

Page 24

c. Pengaruh terhadap pelaksanaan hukum

atas harta kekayaan debitor/si pailit,

terhadap pelaksanaan hukum atas sesuatu bagian dari harta kekayaan debitor yang dimulai sebelum adanya putusan kepailitan, maka dengan adanya putusan kepailitan itu berakhir dengan pelaksanaan hukum tersebut. Pelaksanaan hukum yang dimaksud di atas yakni penyitaan, uang paksa, hukum badan (sandra), penjualan barang untuk pelunasan utang, perbaikan nama baik dan harta tanggungan serta lampau waktu. d. Pengaruh terhadap perjanjian timbal balik Pasal 36 sampai Pasal 39 Undangundang No. 4 Tahun 1998 mengatur putusan kepailitan terhadap perjanjian timbal balik dalam hal ini dibedakann antara perjanjian timbal balik dalam tarap pelaksanaan tertentu atau dalam tarap tidak dilaksanakan dengan beberapa perjanjian sewa menyewa dan perjanjian kerja (perjanjian perburuhan). Untuk perjanjian-perjanjian umum tata biasa dalam Pasal 36 menegaskan sebagai berikut: Ayat (1), dalam hal pada saat putusan pernyataan pailit ditetapkan terhadap perjanjian timbal balik yang belum atau sebagiannya dipenuhi maka pihak dengan siapa debitur mengadakan perjanjian tersebut maka dapat diminta kepada kurator untuk memberi kepastian tentang kelanjutan perjanjian tersebut dalam jangka waktu yang disepakati oleh kurator kemudian. Ayat (4), apabila kurator menyatakan kesanggupan, maka pihak sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dapat meminta kurator untuk memberikan jaminan atas kesanggupannya melaksanakan perjanjian tersebut. Kemudian perjanjian timbal balik yang terkena pengaruh pailit dalam hal ini, perjanjian sewa menyewa dan perjanjian kerja dapat dilihat dalam Pasal 38 dan

Page 25

Pasal 39 Undang-Undang Kepailitan No.4 Tahun 1998 yang menegaskan sebagai berikut: Untuk perjanjian kerja Pasal 39 menentukan bahwa pekerja-pekerja yang dalam ikatan kerja dengan si pailit dapat menghentikan hubungan kerja dan kepada mereka secara timbal balik hubungan-hubungan kerja itu dapat dihentikan oleh Balai Harta Peninggalan dengan mengindahkan isi yang diperjanjikan atau menurut undang-undang, akan tetapi dengan pengertian bahwa setiap hal hubungan kerja dapat diakhiri oleh penghentian dengan tenggang waktu 6 (enam) minggu semenjak hari pernyataan pailit itu upah buruh menjadi utang budel. e. Akibat putusan pailit terhadap kewenangan berbuat si pailit dalam bidang harta kekayaan, Undang-Undang, No 4 Tahun 1998 menegaskan bahwa si pailit (debitur) tidak mempunyai kewenangan baik sebagian maupun seluruhnya terhadap harta kekayaan setelah pernyataan putusan pailit. Hal ini dikarenakan untuk menghindari kemungkinan berkurangnya aset debitur atau si pemberesan utang-utang kreditur. pailit dalam melakukan proses

Selanjutnya terhadap ketentuan lain yang berhubungan dengan pembatalan perjanjian adalah apa yang dikenal dengan Actio Pauliana (gugatan pembatalan dari pihak kreditor yang ditujukan kepada debitor karena perbuatan itu dianggap curang dan sangat merugikan kreditor) ini dapat dikatakan terobosan terhadap sifat dasar perjanjian yang berlaku yang mengikat diantara pihak-pihak yang membuatnya, hal ini didasari pada Pasal 1340 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Terobosan

Page 26

yang diatur dalam ketentuan Pasal 1341 ayat (1) KUH Perdata ini memberikan hak kepada kreditur untuk menganjurkan pembatalan atas setiap tindakan hukum yang tidak diwajibkan yang dilakukan oleh debitur, dengan nama apapun juga yang merugikan kreditur.22

8. Berakhirnya Kepailitan ( Perdamaian / Akur )

Perdamaian dalam kepailitan adalah perjanjian antara debitor pailit dengan para kreditor dimana menawarkan pembayaran sebagian dari utangnya dengan syarat bahwa ia setelah melakukan pembayaran tersebut, dibebaskan dari sisa utangnya, sehingga ia tidak mempunyai utang lagi. Kepailitan yang berakhir melalui akur disebut juga berakhir perantaraan hakim (pengadilan).

Akur lazimnya berisi kemungkinan seperti di bawah ini :23 1) Si pailit menawarkan kepada kreditor-kreditornya untuk membayar sesuatu

presentase dan sisa dianggap lunas. 2) Si pailit menyediakan budelnya bagi para kreditor dengan mengangkat seorang pemberes untuk menjual budel itu dan hasilnya dibagi antara para pembebasan untuk sisanya. Akur semacam ini disebut akur likuidasi (liquidatieaccoord). 3) Debitor minta penundaan pembayaran dan minta diperbolehkan mengangsur utang. Ini tidak lazim terjadi. 4) Debitor menawarkan pembayaran tunai 100% ini jarang terjadi.

22 23

Andrian Sutedi, Hukum Kepailitan, (Bogor:Ghalia Indonesia, 2009), hal 115. Ibid,hal 106.

Page 27

Selengkapnya mengenai akur perdamai diatur dalam lampiran UU Kepailitan Pasal 134 s/d 167 (pasal ini tidak mengalami perubahan), yaitu menurut Pasal 134 UUK, debitur pailit berhak untuk menawarkan suatu perdamaian kepada semua kreditur secara bersama. Apabila penawaran itu diterima dan telah disahkan oleh hakim pengawas, maka kepailitan akan berakhir.24 Perdamaian dalam kepailitan ini akan mengikat semua kreditur termasuk kreditur yang tidak memberikan suara bahkan kreditur yang tidak menyetujuinya. Karena itu menurut Pasal 141 UUK, rencana perdamaian diterima apabila disetujui dalam rapat kreditur oleh lebih dari setengah jumlah kreditur konkuren yang hadir dalam rapat dan haknya sedikit 2/3 dari jumlah seluruh piutang konkuren yang diakui atau yang untuk sementara diakui dari kreditur konkuren atau kuasanya yang hadir dalam rapat tersebut. Selanjutnya Pasal 142 UUK menyebutkan bahwa, apabila dari setengah jumlah kreditur yang hadir dalam rapat kreditur dan wakil paling sedikit setengah dari jumlah piutang para kreditur yang mempunyai hak suara, menyetujui untuk menerima rencana perdamaian, maka dalam jangka waktu paling lama 8 hari terhitung sejak pemungutan suara pertama diadakan, diselenggarakan pemungutan suara kedua tanpa diperlukan pemanggilan. Pada pemungutan suara kedua, para kreditur tidak terikat pada suara yang dikeluarkannya pada pemungutan suara pertama. Bila perdamaian diterima, pengadilan akan memutuskan pengesahan perdamaian tersebut dan sidang diadakan paling cepat 8 hari atau selambat-lambatnya 14 hari setelah persetujuan perdamaian tercapai (Pasal 146 UUK).

24

Ibid, hal 108.

Page 28

Berita acara rapat tentang perdamaian berisi: 1. Isi perdamaian. 2. Nama para kreditur yang berhak memberikan suara tentang kehadirannya dalam rapat. 3. Suara yang diberikan oleh masing-masing. 4. Hasil pemungutan suara dan lain-lain yang dibicarakan dalam rapat. 5. Berita acara rapat ditandatangani oleh hakim pengawas dan panitera.

Walaupun telah ada perdamaian, para kreditur tetap mempunyai hak-hak mereka terhadap para penanggung dan semua kawan-kawan debiturnya (Pasal 155 ayat (1)) Hak-hak yang boleh dilakukan terhadap benda pihak ketiga tetap dimiliki, seolah-olah tidak ada suatu perdamaian (Pasal 155 ayat (2)).25 Penolakan pengesahan perdamaian apabila perdamaian ditolak, maka akan diberikan ketetapan oleh hakim disertai dengan alasan-alasannya. Menurut ketentuan Pasal 149 ayat (2) UUK, pengadilan harus menolak pengesahan perdamaian apabila: 1. Kekayaan harta pailit, termasuk di dalamya segala barang yang terhadapnya berlaku hak menahan barang (hak retensi), melebihi jumlah yang dijanjikan dalam perdamaian. 2. Perdamaian tersebut tidak terjamin penuh. 3. Perdamaian tercapai karena penipuan yang menguntungkan secara tidak wajar seorang kreditur atau beberapa kreditur atau karena penggunaan cara lain yang

25

J.Djohansyah, Pengadilan Niaga, (Jakarta:Proyek Pembinaan Tehnis Yudisial Mahkamah Agung RI, 1999), hal 43.

Page 29

tidak jujur dengan tidak memperdulikan apakah dalam hal ini debitur pailit turut atau tidak melakukannya.26

Pengesahan perdamaian ditolak oleh hakim, dalam waktu 8 hari setelah penetapan, para kreditur yang mendukung pengesahan perdamaian maupun debitur itu sendiri dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung mengenai penetapan itu (Pasal 150 UUK). Sebaliknya bila pengesahan perdamaian dikabulkan oleh hakim, para kreditur yang menolak perdamaian atau tidak hadir dalam pemungutan suara dapat mengajukan kasasi dalam waktu 8 hari setelah penetapan.

Para kreditur yang piutang dijamin dengan hak tanggungan, gadai atau hak istimewa berada diluar perdamaian. Mereka tidak berhak mengeluarkan suara dan perdamaian tersebut juga tidak mengikat mereka (lihat Pasal 139,152 UKK). Dengan tetap memperlihatkan ketentuan Pasal 128, apabila erdapat bantahan terhadap hak para kreditur pemegang hak tanggungan, gadai ataupun hak agunan atas kebendaan lainnya pemegang hak agunan atas panenan dan kreditur yang diistimewakan, termasuk para kreditur yang haknya didahulukan, para kreditur tersebut tidak boleh mengeluarkan suara berkenaan dengan rencana perdamaian, kecuali apabila mereka telah melepaskan haknya untuk didahulukan demi kepentingan harta pailit sebelum diadakan pemungutan suara tentang rencana perdamaian tersebut.27

26 27

Ibid, hal 45. Ibid, hal 47.

Page 30

Menurut Pasal 152 UUK, perdamaian yang telah disahkan berlaku bagi semua kreditur yang tidak mempunyai hak untuk didahulukan tanpa kecuali, dengan tidak memperdulikan apakah mereka mengajukan diri atau tidak dapat kepailitan tersebut.

Debitur pailit menyampaikan rencana perdamaian dalam waktu selambatlambatnya 8 hari sebelum diadakannya rapat pencocokan utang piutang dan telah diumumkan oleh pengadilan, maka rencana tersebut setelah rapat pencocokan utang piutang harus dibicarakan dan diputuskan, kecuali: a) Bila dalam rapat yang sedang diselenggarakan itu diangkat suatu panitia tetap para kreditur yang anggotanya bukan berasal dari panitia sementara, sedangkan jumlah terbanyak dari kreditur menghendaki panitia yang tetap itu suatu nasihat tertulis mengenai rencana perdamaian yang diusulkan. b) Bila rencana perdamaian tidak diumumkan di tempat tertentu oleh panitera maupun kurator dalam waktu yang ditentukan dan sebagian besar kreditur yang hadir menghendaki rapat tersebut ditunda.

Dalam hal-hal tersebut, rapat untuk membicarakan dan mengambil keputusan rencana perdamaian harus ditunda sampai rapat berikutnya, yang harus ditentukan paling lambat 3 minggu kemudian oleh hakim pengawas. Menurut Pasal 168 UUK, apabila rencana perdamaian dilakukan pada rapat pencocokan piutang dan ditolak, maka harta pailit demi hukum berada dalam keadaan tidak mampu membayar. Dan apabila perdamaian atau pengesahan perdamaian ditolak, maka debitur pailit tersebut tidak boleh menawarkan lagi perdamaian baru (Pasal 153 UUK).

Page 31

Apabila pengesahan perdamaian telah memperoleh kekuatan pasti, kepailitan berakhir (Pasal 156 UUK). Karena itu kurator wajib melakukan perhitungan dan pertanggungjawaban kepada debitur pailit di hadapan hakim pengawasan. Bila dalam perdamaian tidak ditetapkan lain, kurator harus mengembalikan semua barang, uang, buku dan surat yang termasuk harta pailit kepada debitur pailit.

Menurut

Pasal 160 UUK, perdamaian yang telah disahkan dapat dituntut

pembatalan oleh setiap kreditur dengan alasan debitur lalai memenuhi isi perdamaian. Dalam ayat (2) mengatakan apabila ada permohonan pembatalan perdamaian, maka debitur pailit yang harus membuktikan bahwa ia telah memenuhi isi perdamaian itu. Selanjutnya dalam ayat (3,) hakim karena jabatan berwenang penuh untuk memberikan keleluasaan kepada debitur pailit untuk memenuhi kewajiban itu sampai waktu selambat-lambatnya dalam satu bulan.

Perdamaian dibatalkan, maka kepailitan dibuka kembali seperti semula. Akibatnya, semua perbuatan yang dilakukan debitur dalam waktu antara pengesahan perdamaian dan pembukaan kembali kepailitan, akan mengikat harta pailit (bandingkan Pasal 41 dan 164 UUK). Selanjutnya setelah kepailitan dibuka kembali, maka tidak dapat ditawarkan perdamaian atau akur untuk kedua kalinya (Pasal 165 UUK).

1. Insolvensi atau Pemberesan Harta Pailit Insolvensi terjadi bilamana dalam suatu kepailitan tidak ditawarkan

akur/perdamaian atau akur dipecahkan karena tidak dipenuhi sebagaimana yang telah disetujui. Menurut Pasal 168 UUK, bila dalam rapat pencocokan utang piutang tidak

Page 32

ditawarkan perdamaian atau bila perdamaian yang telah ditolak dengan pasti maka demi hukum, harta pailit berada dalam (insolvensi).28 keadaan tak mampu setengah membayar

Menurut Pasal 168 a ayat (1), bila dalam rapat pencocokan utang piutang tidak ditawarkan perdamaian atau bila perdamaian yang ditawarkan telah ditolak, maka kurator atau seorang kreditur yang hadir dalam rapat tersebut dapat mengusulkan agar perusahaan debitur pailit dilanjutkan. Atas permintaan kurator dan seorang kreditur yang hadir dalam rapat tersebut sampai pada rapat yang ditentukan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 hari kemudian. Usulan tersebut harus diterima bila jumlah kreditur yang mewakili lebih dari setengah dari semua piutang yang diakui dan diterima dengan bersyarat dan tidak dijamin dengan hak tanggungan atau gadai, menyokong usulan tersebut.

Dalam waktu 8 hari setelah pengesahan perdamaian secara pasti telah ditolak, kurator atau seorang kreditur yang hadir dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk melanjutkan perusahan debitur pailit. Untuk itu hakim pengawas harus mengadakan rapat untuk merundingkan usul tersebut dan mengambil keputusan. Pemanggilan terhadap kreditur oleh kurator harus dilakukan minimal 10 hari sebelum rapat diadakan. Atas permohonan seorang kreditur atau kurator, hakim pengawas dapat memerintahkan agar kelanjutan perusahaan dihentikan. Dalam hal ini kurator harus memulai pemberesan dan menjual semua harta pailit tanpa perlu memperoleh persetujuan atau bantuan debitur apabila:
28

Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, (Malang:UUM Press 2008), hal 175.

Page 33

a. Usul untuk mengurus perusahan debitur tidak diajukan dalam jangka waktu diatur dalam undang-undang ini atau usul tersebut telah diajukan tetapi ditolak atau b. Pengurusan terhadap perusahaan debitur dihentikan.

Pasal 170 ayat (2) UUK mengatur tentang pemberian perabot rumah tangga yang ditujuk oleh hakim pengawas untuk keperluan debitur pailit. Semua barang harus dijual di hadapan umum atau secara di bawah tangan ijin atau di bawah tangan tanpa ijin hakim pengawasan akan mempengaruhi jual beli tersebut.

Menurut Pasal 70 UUK, hal itu tidak mempengaruhi keabsahan jual beli yang hanya dipertanggungjawabkan kepada debitur pailit dan para kreditur. Kemudian dalam Pasal 174, pada setiap waktu, bila menurut hakim pengawas tersedia cukup uang tunai, maka ia memerintahkan suatu pembagian kepada para kreditur yang piutangnya telah mendapatkan pencocokan. Hal ini berarti setelah kepailitan selesai, debitur pailit dapat ditagih kembali apabila ia mempunyai uang yang cukup. Kurator selalu wajib membuat suatu daftar pembayaran untuk disahkan oleh hakim pengawas. Daftar tersebut berisi: a) Pertelaan tentang penerimaan dan pengeluaran (di dalamnya termasuk upah kurator); b) Nama para kreditur; c) Jumlah pencocokan tiap piutang; d) Pembagian yang harus diterima oleh setiap piutang tersebut.

Menurut ketentuan Pasal 182 ayat (4) UUK, karena lewatnya tenggang waktu yang tersebut dalam Pasal 178 UUK, atau apabila telah dimajukan perlawanan dan

Page 34

perlawanan tersebut telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti, maka daftar pembagian tersebut mengikat demi hukum. Selanjutnya kurator wajib segera melaksanakan pembayaran yang telah ditetapkan, kecuali bagi kreditur yang diterima dengan syarat tidak dapat diberikan pembayaran sepanjang belum ada keputusan

mengenai piutangnya (Pasal 184 UUK). Bila pada akhirnya ternyata ia tidak mempunyai suatu tagihan atau tagihannya kurang dari yang telah diterima, maka uang yang semula diperuntukkan bagi mereka seluruhnya atau sebagian menjadi keuntungan para kreditur lainnya. Kepailitan berakhir apabila seluruh kreditur yang piutangnya telah dicocokan dibayar penuh atau segera setelah daftar penutup memperoleh kekuatan hukum yang pasti.

2. Rehabilitasi

Dalam Pasal 205 UUK ditentukan bahwa debitur pailit atau para ahli warisan berhak untuk mengajukan permohonan rehabilitasi kepada pengadilan yang semula memeriksa kepailitan yang bersangkutan.Permohonan rehabilitasi akan diterima apabila pemohon dapat melampirkan bukti yang menyatakan bahwa para kreditur yang diakui sudah menerima pembayaran piutang seluruhnya. Permohonan tersebut harus diiklankan dalam berita negara dan surat kabar yang ditunjuk oleh hakim. Dalam waktu 2 bulan setelah dilakukan pengiklanan dalam berita negara. Setiap kreditur yang diakui boleh mengajukan perlawanan terhadap permohonan itu kepada panitera dengan menyampaikan surat keberatan dengan disertai alasan-alasannya.29

29

Ibid, hal 182.

Page 35

Setelah berakhirnya waktu 2 (dua) bulan, pengadilan harus mengabulkan permohonan tersebut sekalipun tidak ada perlawanan terhadap putusan pengadilan ini tidak boleh diajukan kasasi. Putusan mengenai pengabulan rehabilitasi harus diucapkan dalam sidang terbuka umum dan dicatat dalam register umum yang memuat: a. Ikhtisar putusan pengadilan; b. Uraian singkat mengenai isi putusan; c. Rehabilitasi.

9. Keberadaan Dan Kompetensi Pengadilan Niaga

Dalam Pasal 13 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 Tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (yang telah diganti dengan UU No. 4 Tahun 2004) dimungkinkan dibentuknya badanbadan peradilan khusus disamping badanbadan peradilan yang sudah ada dengan cara diatur dalam undang-undang. Demikian juga dalam Pasal 15 UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasan Kehakiman (UU

Kekuasaan Kehakiman) diberikan peluang dibentuknya pengadilan khusus.

1. Kedudukan Dan Pembentukan Pengadilan Niaga Pengadilan niaga yang pertama kalinya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berdasarkan Pasal 281 ayat (1) Perpu No.1 Tahun 1998 jo. UU No. 1 Tahun 1998 kemudian dinyatakan tetap berwenang memeriksa dan memutuskan perkara yang menjadi lingkup pengadilan niaga sebagaimana dalam bagian Ketentuan Penutup Bab VII Pasal 306 UU Kepailitan yang bunyinya Pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri

Page 36

Jakarta Pusat yang dibentuk berdasarkan ketentuan Pasal 281 ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Tentang Kepailitan sebagaimana telah ditetapkan menjadi UndangUndang Nomor 4 Tahun 1998, dinyatakan tetap

berwenang memeriksa memutus perkara yang menjadi ruang lingkup tugas pengadilan niaga.30

Pengadilan niaga pertama kali dibentuk di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mana pengadilan niaga tersebut berwenang untuk menerima permohonan kepailitan dan PKPU yang meliputi lingkup seluruh wilayah Indonesia. Dalam Pasal 281 ayat (2) Perpu No.1 Tahun 1998 jo. UU No.1 1998 tegas bahwa pembentukan pengadilan niaga selain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara bertahap dengan keputusan presiden, dengan memperhatikan kebutuhan dan kesiapan sumber daya yang diperlukan. Kemudian dengan Keputusan Presiden No 97 Tahun 1999, pemerintah membentuk pengadilan niaga pada empat wilayah pengadilan negeri lainnya, yaitu di Pengadilan Negeri Ujung Pandang, Pengadilan Negeri Medan, Pengadilan Negeri Surabaya, dan Pengadilan Negeri Semarang. Dengan dibentuknya empat pengadilan niaga tersebut, pembagian wilayah yurisdiksi relative bagi perkara yang diajukan kepada pengadilan niaga menjadi sebagai berikut: a) Daerah hukum pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Ujung Pandang meliputi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah,

Sulawesi Utara , Maluku dan Irian Jaya.

30

Ibid, hal 13.

Page 37

b) Daerah hukum

pengadilan

niaga pada Pengadilan Negeri Medan meliputi

Provinsi Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Daerah Istimewa Aceh.. c) Daerah hukum pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya meliputi

Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Timor Timur. d) Daerah hukum pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Semarang, meliputi

Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.31

Pembagian

kewenangan

tersebut,

kewenangan

pengadilan

niaga

pada

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya terbatas daerah hukumnya yang meliputi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Untuk mengatasi masalah peralihan kewenangan antara pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan pengadilan niaga pada pengadilan negeri lainnya, dalam Pasal sebagai berikut. a. Sengketa dibidang perniagaan yang termasuk lingkup kewenangan pengadilan 4 Kepres No. 97 Tahun 1999 ditentukan

niaga pada pengadilan-pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 pada saat Keputusan Presiden ini ditetapkan telah diperiksa, tetapi belum diputus oleh pengadilan niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. b. Sengketa dibidang perniagaan yang termasuk lingkup kewenangan pengadilan-

pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 pada saat Keputusan Presiden ini ditetapkan telah diajukan tetapi belum diperiksa oleh pengadilan niaga.
31

Ibid, hal 22.

Page 38

2. Kompetensi Pengadilan Niaga Dalam Pasal 300 ayat (1) UU Kepailitan secara tegas dinyatakan Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang,

berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain penetapannya dilakukan dengan undang-undang.

dibidang perniagaan yang

Hal ini berarti pengadilan niaga selain mempunyai kewenangan absolut untuk memeriksa setiap permohonan pernyataan pailit dan PKPU, juga berwenang untuk memeriksa perkara lain yang ditetapkan dengan undang-undang. Salah satu contoh bidang perniagaan yang juga menjadi kewenangan pengadilan niaga saat ini adalah persolan hak atas kekayaan intelektual.32

Selain itu, UU Kepailitan juga mempertegas kewenangan pengadilan niaga yang terkaitdengan perjanjian yang memuat klausul arbitrase, yaitu pada Pasal 303 UU Kepailitan berbunyi Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausal arbitrase, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) undangundang ini.

32

Ibid, hal 49.

Page 39

3. Hakim Pengadilan Niaga Pengadilan niaga dalam memeriksa dan memutus perkara kepailitan atau PKPU pada tingkat pertama dilakukan oleh hakim majelis. Dalam hal menyangkut perkara lain dibidang perniagaan, Ketua Mahkamah Agung dapat menetapkan jenis dan nilai perkara yang dapat tingkat pertama diperiksa dan putus oleh hakim tunggal. Hakim pengadilan niaga diangkat melalui Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Syarat-syarat untuk dapat diangkat sebagai hakim pengadilan niaga antara lain: a) Telah berpengalaman sebagai hakim dalam lingkungan peradilan umum; b) Mempunyai dedikasi dan menguasai pengetahuan dibidang masalah-masalah yang menjadi lingkup kewenangan pengadilan niaga; c) Berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan d) Telah berhasil menyelesaikan program pelatihan khusus sebagai hakim pada pengadilan.

10. Pengertian Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU)

Selain penyelesaian dengan permohonan pailit, maka masalah utang piutang dapat pula diselesaikan melalui mekanisme yang disebut Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Diajukannya PKPU ini biasanya untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi seluruh tawaran pembayaran dari seluruh atau sebagian utang kepada Kreditor konkuren. Mekanisme seperti ini dilakukan oleh Debitor yang tidak dapat atau memperkirakan tidak akan dapat melanjutkan membayar utang-

Page 40

utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon penundaan kewajiban pembayaran utang , dengan maksud untuk mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditor. Selain dilakukan oleh Debitor, mekanisme PKPU ini juga dapat dilakukan oleh Kreditor yang memperkirakan bahwa Debitor tidak dapat melanjutkan membayar utangnya yang sudah jatuh waktu dan dapat ditagih, dapat memohon agar kepada Debitor diberi penundaan kewajiban pembayaran utang, untuk memungkinkan Debitor mengajukan rencana perdamaian yang meliputi tawaran pembayaran sebagian atau seluruh utang kepada Kreditornya. Menurut Munir Fuady, istilah lain dari PKPU ini adalah suspension of payment atau Surseance van Betaling, maksudnya adalah suatu masa yang diberikan oleh Undang-Undang melalui putusan Hakim Niaga di mana dalam masa tersebut kepada pihak Kreditor dan Debitor diberikan kesempatan untuk memusyawarahkan cara-cara pembayaran utangnya dengan memberikan rencana pembayaran seluruh atau sebagian utangnya, termasuk apabila perlu untuk merestrukturisasi utangnya tersebut.33

Selanjutnya

menurut

Fred

BG

Tumbuan

sebagaimana

dikutip

oleh

Abdurrachman, pengajuan PKPU ini juga dalam rangka untuk menghindari kepailitan yang lazimnya bermuara dalam likuidasi harta kekayaan Debitor. Khususnya dalam perusahaan, penundaan kewajiban pembayaran utang bertujuan memperbaiki keadaan

33

Munir Fuady, Op. Cit, Hal. 50

Page 41

ekonomi dan kemampuan Debitor untuk membuat laba, maka dengan cara seperti ini kemungkinan besar Debitor dapat melunasi kewajibannya.34

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau disebut juga PKPU harus dibedakan dengan gagal bayar, karena gagal bayar secara esensial berarti bahwa seorang Debitor tidak melakukan pembayaran utangnya.

Gagal bayar terjadi apabila sipeminjam tidak mampu untuk melaksanakan pembayaran sesuai dengan jadwal pembayaran yang disepakati baik atas bunga maupun atas utang pokok. Istilah gagal bayar dikenal dan dipergunakan dalam dunia keuangan untuk menggambarkan suatu keadaan dimana seorang Debitor tidak dapat memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian utang piutang yang dibuatnya misalnya tidak melakukan pembayaran angsuran ataupun pelunasan pokok utang sesuai dengan kesepakatan termasuk melakukan pelanggaran atas persyaratan kredit sebagaimana diatur di dalam kontrak. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kewajiban utang termasuk obligasi, kredit pemilikan rumah, pinjaman perbankan, surat sanggup bayar, Medium Term Note , dan lain lain perjanjian yang bersifat utang.

34

Ibid, Hal. 52

Page 42

BAB III PEMBAHASAN

1. PERKEMBANGAN HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA

Mempelajari perkembangan hukum kepailitan yang berlaku di Indonesia tidak terlepas dari kondisi perekonomian nasional khususnya yang terjadi pada

pertengahantahun 1997. Dari sisi ekonomi patut disimak data yang dikemukakan oleh Lembaga Konsultan (think tank) Econit Advisory Group6, yang menyatakan bahwa tahun 1997 merupakan Tahun Ketidak pastian (A Year of Uncertainty). Sementara itu, Tahun 1998 merupakan Tahun Koreksi (A Year of Correction). Pada pertengahan tahun 1997 terjadi depresiasi secara drastis nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya US $ dari sekitar Rp. 2300,00 pada sekitar bulan Maret menjadi sekitar Rp. 5000,00 per US $ pada akhir tahun 1997. Bahkan pada pertengahan tahun 1998 nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp. 16.000,00 per US $.

Kondisi perekonomian ini mengakibatkan keterpurukan terhadap pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya positif sekitar 6 7 % telah terkontraksi menjadi minus 13 14 %. Tingkat inflasi meningkat dari di bawah 10 % menjadi sekitar 70 %. Banyak perusahaan yang kesulitan membayar kewajiban utangnya terhadap para kreditor dan lebih jauh lagi banyak perusahaan mengalami kebangkrutan (Pailit).

Terperosoknya

nilai

tukar

rupiah,

setidaknya telah memunculkan 3 (tiga)

negatif terhadap perekonomian nasional, yaitu :

Page 43

a. negative balance of payments, b. negative spread, dan c. negative equity.

Neraca pembayaran negatif terutama terjadi karena melonjaknya nilai tukar utang dalam valuta asing (valas) kalau dirupiahkan. Utang perusahaan swasta dan pemerintah yang cukup besar telah memperberat beban neraca pembayaran sementara kenaikan nilai ekspor sebagai akibat bonanza dari terdepresiasinya nilai rupiah tidak dapat dengan segera dinikmati. Negative spread terutama terjadi pada industri keuangan. Kebijakan pemerintah untuk menaikkan suku bunga untuk

mengerem laju permintaan valas telah menyebabkan naiknya bunga bank. Sementara itu, dana yang terkumpul dari masyarakat sulit disalurkan karena jarang ada perusahaan yang mampu memperoleh margin di atas suku bunga. Perusahaan yang terlanjur memperoleh kredit bank mengalami negative equity karena nilai kekayaannya dalam rupiah tidak cukup lagi dan bahkan berbeda jauh apabila dipersandingkan dengan nilai rupiah dari utang valas.

Kondisi

di

atas

mengakibatkan

banyaknya perusahaan-perusahaan yang

diancam kebangkrutan karena kondisi perekonomian nasional dan ketidak mampuan untuk membayar utang-utang perusahaan yang pada umumnya dilakukan dalam bentuk dollar. Dari segi hukum diperlukan suatu peraturan perundang-undangan yang mengatur masalah utang piutang ini secara cepat, efektif, efisien dan adil. Undangundang kepailitan yang lama dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis untuk menyelesaikan masalah utang piutang mereka secara cepat, efektif, efisien

Page 44

dan adil. Hal ini disebabkan bahwa hukum kepailitan yang selama ini berlaku Faillisement Verordening Stb. 1905 No. 217 jo Stb 1906 No. 348 merupakan hukum kepailitan warisan pemerintah kolonial Belanda yang diciptakan sesuai dengan kondisi perekonomian pada masa itu. Mengingat hal di atas pemerintah perlu melakukan revisi terhadap hukum kepailitan untuk mengantisipasi banyaknya perusahaan yang mengalami kebangkrutan. Melalui Perpu No. 1 Tahun 1998 yang kemudian dikuatkan menjadi UU No. 4 Tahun 1998 pemerintah telah melakukan perubahan, penambahan dan penyempurnaan pasalpasal yang terdapat dalam Faillisement Verordening Stb. 1905 No. 217 Jo. Stb.1906 No. 348.Namun perubahan dan penyempurnaan tersebut dirasakan masih

mengandung beberapa kelemahan terutama yang timbul dalam prakteknya.

Bagir Manan

menyebutkan bahwa keadaan

hukum

(the existing

legal

system) Indonesia dewasa ini menunjukkan hal-hal sebagai berikut : 1. Dilihat dari substansi hukum asas dan kaedah hingga saat ini terdapat berbagai sistem hukum yang berlaku sistem hukum adat, sistem hukum agama, sistem hukum barat, dan sistem hukum nasional. Tiga sistem hukum yang pertama merupakan akibat politik hukum masa penjajahan. Secara negatif, politik hukum tersebut dimaksudkanuntuk membiarkan rakyat tetap hidup dalam lingkungan hukum tradisional dan sangat dibatasi untuk memasuki sistem hukum yang diperlukan bagi suatu pergaulan yang modern. 2. Ditinjau dari segi bentuk sistem hukum yang berlaku lebih mengandalkan pada bentuk-bentuk hukum tertulis. Para pelaksana dan penegak hukum senantiasa mengarahkan pikiran hukum pada peraturan-peraturan tertulis. Pemakaian kaidah

Page 45

hukum adat atau hukum Islam hanya dipergunakan dalam hal-hal yang secra hukum ditentukan harus diperiksa dan diputus menurut kedua hukum tersebut. Penggunaan Yurisprudensi dalam mempertimbangkan suatu putusan hanya sekedar untuk mendukung peraturan hukum tertulis yang menjadi tumpuan utama. 3. Hingga saat ini masih cukup banyak hukum tertulis yang dibentuk pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Hukum-hukum ini bukan saja dalam banyak hal tidak sesuai dengan alam kemerdekaan, tetapi telah pula ketinggalan orientasi dan mengandung kekosongan-kekososngan baik ditinjau dari sudut kebutuhan dan fungsi hukum maupun perkembangan masyarakat. 4. Keadaan hukum kita dewasa ini menunjukkan pula banyak aturan kebijakan (beleidsregel). Peraturan-peraturan kebijakan ini tidak saja berasal dari administrasi negara, bahkan ada pula dari badan justisial. 5. Keadaan hukum kita dewasa ini adalah sifat departemental centris. Hukum-

khususnya peraturan perundang-undangan- sering dipandang sebagai urusan departemen yang bersangkutan. 6. Tidak pula jarang dijumpai inkonsistensi dalam penggunaan asas-asas hukum atau landasan teoretik yang dipergunakan.

Keadaan hukum kita- khususnya peraturan perundang-undangan yang dibuat dalam kurun waktu dua puluh lima tahu terkahir- sangat mudah tertelan masa, mudah aus (out of date). Secara obyektif hal ini terjadi karena perubahan masyarakat di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya berjalan begitu cepat, sehingga hukum mudah sekali tertinggal di belakang. Secara subyektif, berbagai peraturan perundangundangan dibuat untuk mengatasi keadaan seketika sehingga kurang memperhatikan

Page 46

wawasan ke depan. Kekurangan ini sebenarnya dapat dibatasi apabila aparat penegak hukumberperan aktif mengisi berbagai kekososngan atau memebrikan pemahaman baru suatu kaidah. Kenyatan menunjukkan bahwa sebagian penegak hukum lebih suka memilih sebagai aplikator daripada sebagai dinamisator peraturan perundangundangan.

Dalam rangka untuk penyempurnaan aturan hukum kepailitan perlu dilakukan perbandingan-perbandingan sistem hukum (Comparative Legal System). Oleh karena itu kajian terhadap perbandingan hukum di Indonesia khususnya hukum kepailitan selalu menarik untuk pelajari lebih mendalam.

Page 47

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pailit dapat diartikan debitor dalam keadaan berhenti membayar hutang karena tidak mampu. Kata Pailit dapat juga diartikan sebagai Bankcrupt. Kata Bankrupt sendiri mengandung arti Banca Ruta, dimana kata tersebut bermaksud memporak-porandakan kursi-kursi, adapun sejarahnya mengapa dikatakan demikian adalah karena dahulu suatu peristiwa dimana terdapat seorang debitor yang tidak dapat membayar hutangnya kepada kreditor, karena marah sang kreditor mengamuk dan menghancurkan seluruh kursi-kursi yang terdapat di tempat debitor. Menurut Siti Soemarti Hartono Pailit adalah mogok melakukan pembayaran.Sedangkan Pengertian Kepailitan berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No. 37 Tahun 2004 adalah sita umum terhadap semua kekayaan debitor pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh seorang kurator dibawah pengawasan hakim pengawas sebagaimana yang diatur oleh Undang-undang. Kartono sendiri memberikan pengertian bahwa kepailitan adalah sita umum dan eksekusi terhadap semua kekayaan debitor untuk kepentingan semua kreditornya.

B. Saran

a. Dalam memeriksa dan memutus suatu perkara kepailitan hendaklah hakim tidak hanya berdasarkan pada Undang-undang Kepailitan saja, tetapi juga

memperhatikan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Undang-undang Hak

Page 48

Tanggungan, dengan mengecualikan berlakunya ketentuan Pasal 56 ayat 1 dan Pasal 59 ayat 1 dan 2 Undang-undang Kepailitan, sehingga ketentuan Pasal 21 Undang-undang Hak Tanggungan tetap berlaku. b. Agar pengecualian tersebut diatas dapat diterapkan hendaklah hakim tidak mendasarkan kriteria pilihan hukum pada asas lex posteriori derogate legi priori, sehingga putusan pernyataan pailit yang dikeluarkanya dapat memberikan rasa keadilan dan kepastian hukum serta manfaat bagi kreditor.

Page 49

DAFTAR PUSTAKA

LITERATUR Black, Henry Campbell, 1990, Blacks Law Dictionary, West Publishing Co, St. Paul Minessota, USA. Fuady, Munir, 2002,Hukum Pailit 1998 Dalam Teori dan Praktek, Citra Aditya Bakti, Bandung. Kartono, 1985, Kepailitan dan Pengundurna Pembayarann, Pradnya Paramita, Jakarta Mertokusumo, Sudikno, 2002, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta. Mertokusumo, Sudikno, 2001, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty,Yogyakarta. Satrio, J, 2000,Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti, Bandung. Situmorang, Victor M., Hendri Soekarso, 1994, Pengantar Hukum. Kepailitan Di Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta. Sjahdeini, ST. Remy, 2004, Hukum Kepailitan, Memahami Failissementsverordening Juncto Undang-undang no. 4 Tahun 1998 , Pustaka Utama Grafiti, Jakarta. Sjahdeini, ST. Remy, 1999, Hak Tanggungan: Asas-asas, Ketentuan-ketentuan Pokok Dan Masalah Yang Dihadapi Oleh Perbankan, Alumni, Bandung. Soekardono, R, 1982, Hukum Dagang Indonesia Kapita Selekta, Rajawali, Jakarta. Soemitro, Ronny Hanitijo, 1988, Metodologi Penelitian Hukum Dan Jurimetri, Ghalia Indonesia: Jakarta. Subekti, 1980, Poko-pokok Humum Perdata, Intermassa, Jakarta.

Page 50

Suyudi, Aria dan Eryanto Nugroho, dan Herni Sri Nurbayanti, 2004, Kepailitan Di Negeri Pailit, Dimensi, Jakarta. Usman, Rachmadi, 2004, Dimensi Hukum Kepailitan Di Indonesia , Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Yani, Ahmad dan Gumawan Wijaya, 2002, Seri Hukum Bisnis, Kepailitan, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Banda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Page 51