Anda di halaman 1dari 11

LAKPESDAM NU

RENCANA STRATEGIS PP LAKPESDAM NU 2010-2015 A. SEJARAH DAN DASAR LEGITIMASI LAKPESDAM NU Dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama di Situbondo Jawa Timur pada tahun 1983, muncul pesan penting, yaitu: (1) bagaimana mengembalikan peran NU kembali pada Khittah 1926; dan (2) bagaimana mengarahkan peran dan program NU pada usaha pengembangan masyarakat, khususnya warga NU, bukan kepada partai politik. Pada muktamar NU ke 27 1984 di Situbondo gagasan kembali pada Khittah mendapat penegasannya. Ketua Umum Tanfidziyyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), langsung menyiapkan tim untuk merumuskan konsep Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM). Konsep PSDM merupakan penjabaran dari konsep atau ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah, Khittah NU dan Mabadi Khaira Ummah. Ketiga ajaran tersebut adalah pilar NU. Diharapkan Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)-NU menjadi pilar keempat yang mencakup acuan untuk mengaktualisasikan muatan-muatan yang terkandung dalam ketiga pilar sebelumnya. B. MANDAT DAN FUNGSI Berdasarkan pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta hasil Mutamar Nahdlatul Ulama 2010, Mandat PP Lakpesdam NU adalah Menyelenggarakan program kajian, pendidikan dan pengembangan SDM dalam rangka meningkatkan khidmah kepada warga NU. PP Lakpesdam NU memiliki Dua Fungsi Utama, yaitu: 1. Sebagai perangkat kajian dan upaya rintisan untuk pengembangan peran strategis organisasi NU dalam bermasyarakat dan bernegara. 2. Sebagai penggerak dan dinamisator dalam penyusunan pola-pola pengembangan SDM di lingkungan NU. C. VISI DAN MISI Visi: Sebagai pusat kajian dan pengembangan SDM NU untuk mewujudkan organisasi yang peka, kritis, amanah, terhubung dengan masyarakat, serta bermanfaat bagi bangsa dan negara. Misi: 1. Melakukan kajian-kajian strategis untuk meningkatkan peran organisasi NU dalam merespon dinamika masyarakat 2. Menggerakkan SDM NU agar lebih dinamis untuk merespon kebutuhan dan kepentingan masyarakat. D. TUJUAN 1. Meningkatkan kemampuan warga nahdliyin khususnya dalam merespon ketidak adilan terkait dengan isu pengurangan kemiskinan, kekerasan dan konflik sosial 2. Meningkatkan peran organisasi NU dalam memberikan kontribusi atas upaya menjawab berkembangnya paham keagamaan yang bertentangan dengan prinsip kemajemukan warga

bangsa. 3. Meningkatkan kemampuan pengurus dan kader NU dalam menggerakkan warga Nahdliyin untuk mencapai tujuan sebagai jamiaya maupun jamaah NU. E. NILAI, PRINSIP, DAN ASAS KERJA Lakpesdam memegang teguh nilai-nilai keadilan (al-Adalah), kesetaraan (al-Musawah), moderat (al-Tawasuth), keseimbangan (al-Tawazun), toleransi (al-Tasamuh) sesuai dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Lakpesdam juga memegang teguh prinsip-prinsip kejujuran (as-Shidqu), dapat dipercaya (alAmanah), saling tolong (at-Taawun), dan konsisten dalam memegang agama Allah (alIstiqomah) sesuai dengan prinsip Mabadi Khaira Ummah Asas kerja yang dipedomani PP Lakpesdam adalah: 1. Konsisten dalam prinsip. 2. Keadilan dan kerakyatan dalam orientasi. 3. Ilmiah dalam pemecahan masalah. 4. Demokratis dalam pengambilan keputusan. 5. Realistis dalam perencanaan. 6. Manusiawi dalam ucapan dan tindakan. 7. Profesional dalam kerja. 8. Terbuka dalam manajemen. 9. Kolegialitas dalam semangat. F. ANALISA SITUASI Situasi Eksternal Lakpesdam adalah task force Nahdlatul Ulama (NU) untuk pengkajian dan pengembangan sumberdaya manusia. Lakpesdam memiliki tugas untuk: (1) membuat kajian untuk mengkampanyekan pandangan keagamaan yang moderat, toleran, dan berkeadilan; serta (2) memperkuat kapasitas sumber daya manusia warga Nahdliyyin di tengah-tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara pada tingkat lokal sampai global. Terkait dengan tugas-tugas tersebut, terdapat beberapa situasi di luar keorganisasian NU dan Lakpesdam NU yang perlu dipertimbangkan untuk periode 5 tahun mendatang: 1) Tema-tema Hak Asasi Manusia, Lingkungan Hidup, Demokrasi Lokal, tata kelola Pemerintahan yang Baik, Anti Korupsi, dan isu Pro Gender masih akan tetap kuat, baik di level lokal, nasional, hingga internastional. Isu Perubahan Iklim dan Evaluasi untuk Memperkuat Capaian MDGs (Millenium Development Goals) juga masih menjadi isu menarik. Hal ini memberikan peluang yang besar bagi kiprah Lakpesdam NU yang memiliki komitmen terhadap penguatan tema-tema tersebut. 2) Pada sisi yang lain, isu terorisme dan kekerasan berbasis agama masih berkembang. Hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi Lakpesdam untuk berperan lebih optimal dalam mencegah berkembangnya isu tersebut, terutama sebagai bagian dari upaya penguatan wacana keislaman yang moderat dan penguatan warga nahdliyin sampai ke basis 3) Kondisi politik dalam negeri yang berkembang, antara lain: a) Pemilihan Presiden/Wakil Presiden dan Legislatif Nasional/Daerah pada tahun 2014; b) Revisi UU 32 tentang Otonomi Daerah; c) Revisi UU Politik; d) Masih lemahnya peran negara dalam pelayanan publik; e)

Akan disahkan aturan-aturan operasional UU Pelayanan Publik dan UU Kebebasan Memperoleh Informasi Publik; dan f) Indeks korupsi masih sangat tinggi. 4) Kondisi masyarakat secara umum masih sangat memprihatinkan. Di antaranya: a) Angka dan keadaan kemiskinan yang tidak membaik secara signifikan; b) Indeks Pembangunan Manusia masih rendah dari sisi pendidikan, kesehatan, dan tingkat daya beli; dan c) Capaian MDGs yang dikhawatirkan tidak tercapai terutama dalam pengurangan angka kematian ibu dan anak, serta menyangkut kesehatan reproduksi. 5) Para akademisi yang melakukan studi tentang NU semakin menurun. Hal ini terutama disebabkan kecenderungan politik praktis yang terjadi di kalangan para elit NU. Situasi Internal Terkait dengan situasi internal NU dan Lakpesdam NU, beberapa hal yang bisa dipetakan antara lain: 1) Lakpesdam NU memiliki kejelasan ideologis, menganut pandangan Islam yang moderat, inklusif, toleran, mendorong keadilan, dan menghargai keragaman. Dalam menjalankan pandangan tersebut, Lakpesdam memiliki pengalaman kerja yang cukup lama, area cakupan geografis yang luas (nasional dan daerah), jaringan kerja dari level daerah sampai internasional, memiliki sumber daya manusia dengan latar belakang yang beragam, serta memiliki standar manajemen dan sistem keorganisasian yang jelas. 2) NU memiliki sumberdaya manusia yang semakin berkualitas. Selain para sarjana agama, juga makin banyak sarjana umum lulusan dalam dan luar negeri yang telah menyelesaikan program master dan doktoral. Mereka memiliki latar belakang studi yang beragam, dari sosial humaniora, politik, ekonomi, dan bidang lain seperti pertanian dan perikanan yang langsung terkait dengan profesi sebagian besar warga NU. Selain pengetahuan, mereka juga memiliki jaringan nasional dan internasional yang berpotensi bagi kerja-kerja NU dan Nahdliyyin. Namun, sebagai gerakan sosial, NU dan Lakpesdam NU belum bisa mengkonsolidasi kelembagaan, gagasan, dan sumber daya yang beragam tersebut. G. RUMUSAN MASALAH STRATEGIS 1) Posisi tawar masyarakat masih rendah dalam merespon isu-isu pemiskinan, ketidakadilan, peminggiran, dan konflik sosial. 2) Munculnya fenomena paham-paham keberagamaan yang eksklusif dan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip penghargaan terhadap keberagaman. 3) Keterbatasan SDM yang mampu merespon dinamika sosial-politik, ekonomi, dan budaya secara cepat, kreatif, dan inovatif 4) Kapasitas fungsional Lakpesdam masih lemah dalam memperluas jangkauan program dan kelompok dampingan H. STRATEGI Strategi I : Pendidikan Politik dan Fasilitasi Advokasi Kebijakan Publik untuk meningkatkan posisi tawar masyarakat dalam merespon isu-isu pemiskinan, ketidakadilan, peminggiran, dan konflik sosial. Strategi II : Melakukan kajian dan riset strategis terkait dengan peran organisasi NU untuk merespon

fenomena paham-paham keberagamaan yang eksklusif dan tidak sesuai dengan prinsipprinsip penghargaan terhadap keberagaman. Strategi III : Peningkatan Kapasitas SDM Kader untuk memperkuat sumber daya manusia yang mampu merespon secara cepat, kreatif, dan inovatif sesuai dengan dinamika sosial-politik, ekonomi, dan budaya. Strategi IV : Penguatan Kelembagaan Lakpesdam untuk meningkatkan kapasitas fungsional Lakpesdam dalam memperluas jangkauan program dan kelompok dampingan.

STRATEGI, TUJUAN, AREA PROGRAM DAN HASIL YANG INGIN DICAPAI STRATEGI I : Pendidikan Politik dan Fasilitasi Advokasi Kebijakan Publik untuk meningkatkan posisi tawar masyarakat dalam merespon isu-isu pemiskinan, ketidakadilan, peminggiran, dan konflik sosial. Tujuan : 1) Meningkatkan kesadaran politik masyarakat 2) Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk terlibat dalam proses-proses pengambilan keputusan kebijakan publik 3) Mengembangkan model-model demokrasi deliberatif 4) Meningkatkan jaringan kerja dengan stakeholder. Area Program : 1) Kajian kritis dan monitoring terhadap kebijakan dan pelayanan publik. 2) Pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan 3) Fasilitasi dan inisiasi kegiatan-kegiatan rintisan demokrasi deliberatif 4) Pengembangan kerjasama tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/ CSR) stakeholder lain untuk pemberdayaan masyarakat. Hasil Yang di Capai 1) Terbentuk sistem kajian dan monitoring implementasi kebijakan dan pelayanan publik di tingkat lokal dan nasional 2) Terbangun gerakan bagi partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pembuatan kebijakan publik serta pemantauan implementasinya. 3) Terbentuk model-model fasilitasi dan inisiasi kegiatan rintisan demokrasi deliberatif 4) Terbangun kerjasama strategis dengan perusahaan-perusahaan (program CSR) dan stakeholder lain untuk dukungan program pemberdayaan dan pendidikan politik warga Strategi II : Melakukan kajian dan riset strategis terkait dengan peran organisasi NU untuk merespon fenomena paham-paham keberagamaan yang eksklusif dan tidak sesuai dengan prinsipprinsip penghargaan terhadap keberagaman

Tujuan : Meningkatkan kapasitas kelembagaan NU sehingga bisa memberikan kontribusi yang bermakna untuk perkembangan bangsa yang damai, toleran, dan berkeadilan. Area Program : 1) Kajian strategis isu-isu keagamaan, kebudayaan, dan kebangsaan 2) Fasilitasi Advokasi Kebijakan Strategis 3) Dokumentasi, diseminasi dan publikasi paham-paham keagamaan yang toleran dan inklusif Hasil Yang diCapai 1) Tersosialisasikan wacana yang menyangkut isu-isu keagamaan, kebudayaan, dan kebangsaan yang menghormati keberagaman. 2) Tersusun rencana aksi untuk advokasi kebijakan strategis di tingkat lokal dan nasional. 3) Terwujud media dan atau sistem informasi manajemen untuk mempromosikan pahampaham keagamaan yang toleran dan inklusif Strategi III : Peningkatan Kapasitas SDM Kader untuk menguatkan sumber daya manusia yang mampu merespon secara cepat, kreatif, dan inovatif dinamika sosial-politik, ekonomi, dan budaya. Tujuan : Memperbanyak Sumber Daya Manusia sebagai aktor perubahan untuk merespon tantangan organisasi dan dinamika sosial-politik, ekonomi, dan budaya Area Program : 1) Pendidikan Kader 2) Mengembangkan pusat sumber daya (Pool of Resources) Hasil Yang dicapai 1) Terlaksana strategi dan mekanisme peningkatan kapasitas pengurus dalam mengelola organsiasi 2) Terlselenggara stretegi dan mekanisme peningkatan kapasitas kader NU secara sistematis dan berkelanjutan yang meliputi kader ulama muda , kader penggerak warga tingkat basis, fasilitator dan kader khusus 3) Terbentuk model pusat sumber daya (pool of resources) di tingkat lokal dan nasional Strategi IV : Penguatan Kelembagaan Lakpesdam untuk meningkatkan kapasitas fungsional Lakpesdam dalam memperluas jangkauan program dan kelompok dampingan. Tujuan : Meningkatkan kinerja organisasi, program dan keuangan Area Program : 1) Pegembangan Pusat Data dan Diseminasi Informasi 2) Peningkatan kapasitas staff 3) Perbaikan sistem organisasi 4) Konsolidasi internal 5) Pengembangan Jaringan Kerja

Hasil Yang diCapai 1) Terbangun Pusat Data dan Diseminasi Informasi di tingkat PP Lakpesdam 2) Meningkatnya kemampuan Lakpesdam dalam mengelola organisasi, SDM dan melakukan kerja-kerja lapangan bersama masyarakat. 3) Terbangun jaringan sinergis dengan stakeholders potensial untuk melaksanakan visi, misi dan rencana strategis organisasi Lakpesdam

Peta Program NU

(Ringkasan Saran dan Rekomendasi Rakernas IV Lakpesdam NU di Batu Malang, Nopember 2009)

PETA PROGRAM MENUJU SATU ABAD NAHDLATUL ULAMA (Tahun 2026)

Bismillahirrohmanirrohim Alhamdulillah, 83 (delapan puluh tiga) tahun pengabdian Nahdlatul Ulama terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara telah dilewati. Sumbangsih terhadap kemerdekaan, keutuhan NKRI dengan ideologi Pancasila telah dipertaruhkan dalam arus dan penggalan sejarah Indonesia. Universalitas Islam rahmatan lil alamin diperjuangkan dengan gigih untuk disandingkan dengan lokalitas Indonesia dalam damai tanpa kekerasan (bil hikmah). Kemoderenan (al-jadidul ashlah) telah dijangkarkan pada akar jati diri tradisi yang baik (al qodimus sholih). Akan tetapi, kiranya perjuangan masih panjang. Di awal dekade kesembilan usia NU, kita dapati Bangsa Indonesia masih berada dalam realitas defisit nilai yang berdampak pada keputusasaan multidimensional. Keberadaan jamaah dan jamiyah belum sepenuhnya menjadi jembatan dan wahana internalisasi nilai dalam perilaku bangsa untuk menghadapi tantangan riil bersumber ketidakadilan yang datang silih berganti seperti kemiskinan, korupsi, kekerasan dan semisalnya. Perilaku berinteraksi dengan sesama (al muamalah maan-nas) maupun dengan alam lingkungannya (al muamalah maal alam) belum sepenuhnya dilandasi nilai dan moralitas transenden sebagaimana yang diidamkan. Oleh karena itu, menuju Satu Abad keberadaannya di bumi tercinta ini, NU sebagai salah satu organisasi sosialkeagamaan (jamiyyah diniyyah ijtimaiyyah) terbesar harus kembali mempertegas ideologi, paradigma, mandat dan nilai-nilai yang diperjuangkan dan yang senantiasa diperangi (amr maruf nahi munkar). Dalam Muktamar ke-32 di Makassar, NU telah menetapkan tema Khidmat Nahdlatul Ulama untuk Indonesia yang Bermartarbat. Dalam konteks ini, diyakini bahwa kemartabatan suatu negara dalam percaturan dunia tidak akan terwujud tanpa didukung oleh anak bangsa yang beradab. Mengingat potensi kultural dan kuantitas jamaahnya, NU akan berada di garis depan untuk mengantarkan terwujudnya peradaban Indonesia yang berkeadilan. Rapat Kerja Nasional IV Lembaga Kajian Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM) Nahdlatul Ulama (NU), di Hotel Surya Indah, Kota Batu, Jawa Timur, tanggal 17-20 November 2009, diikuti 173 pengurus Lakpesdam dari 11 Wilayah dan 78

Cabang. Salah satu tujuan Rakernas IV yang bertema Mempersiapkan SDM NU untuk Indonesia yang Berkeadaban, adalah menyumbangkan pokok-pokok pikiran tentang program sebagai inisiasi skenario masa depan jamiyyah NU. Program adalah manifestasi harapan sebagai energi jiwa yang berpotensi meningkatkan daya hidup jamaah. Setelah (1) Mengidentifikasi faktor penggerak utama (al muharrikul aula/prime mover) perubahan internal dan eksternal; (2) Membuka dan mengkritisi peluang yang menghasilkan kemungkinan-kemungkinan masa depan (al-mumkinaatul mustakbalah); (3) Menyaring dan memilih unggulan-unggulan komparatif (al mumayyazatul mutaqorrinah); (4) Menyepakati nilai bersama (al qiyamul musytarikah) untuk meraih masa depan yang diidamkan, maka Rakernas IV Lakpesdam menyimpulkan dan merekomendasikan Rencana Strategis Program Jangka Panjang (tiga periode) Nahdlatul Ulama menuju Satu Abad (1926-2026), sebagai berikut: I. Visi dan Strategi Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama (1926-2026) 1. Visi Nahdlatul Ulama. Menjadi organisasi sosial-keagamaan terdepan di Indonesia dalam melakukan transformasi sosial menuju masyarakat utama (Khoiru Ummah) yang berkeadilan, berkeadaban dan bermartabat berdasarkan ajaran Islam faham Ahli Sunnah Wal-jamaah. 2. Konsolidasi Strategi Gerakan NU jangka panjang (3 periode) difokuskan pada 4 (empat) sasaran utama, yakni: a. Islam paham Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) menjadi doktrin, pijakan dan nilai yang mengikat bagi jamiyyah dan jamaah. b. Pranata sosial yang kuat, berupa kelompok-kelompok basis (Ranting) yang fungsional di tingkat akar rumput tetapi visioner (ashluha tsabitun wa faruha fissama) c. Visi ke-Indonesia-an untuk mempertahankan dan mendinamisir kemajemukan dalam bingkai NKRI d. Gerakan Islam Rahmatan Lilalamin untuk mewujudkan tatanan dunia yang damai (global peace) dan dimotori oleh para ulama garis depan (abral hudud) 3. Untuk merumuskan skenario Khidmat NU 2026 diperlukan perubahan mendasar yang didukung oleh 3 unggulan komparatif sumber daya : a. Sumber daya doktriner berupa nilai keberagamaan (Aswaja) yang terwujud dalam perilaku para fungsionaris dan jamaah untuk berinteraksi dengan lingkungannya. b. Sumber daya kebijakan program pembelaan, pendampingan, pemberdayaan dan pelayanan terhadap jamaah. c. Sumber daya organisasional berupa mekanisme dan kepemimpinan yang memberi harapan dan mengarahkan serta aktor gerakan dan jaringan tingkat lokal, nasional dan internasional. II. Skenario Program Atas dasar visi, strategi dan sasaran tersebut faktor kekuatan penggerak NU menuju Indonesia bermartabat dan berkeadaban, mencakup sasaran dan bidang-bidang pokok program: A. Doktrin Aswaja/Agama: 1. Sasaran Faham Aswaja sebagai doktrin dan ideologi gerakan yang membentengi jamaah dari gerakan Islam transnasional dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. 2. Program a. Menjadikan Islam faham Aswaja sebagai materi pokok pengkaderan di semua tingkatan pendidikan dan pelatihan. b. Menjadikan Islam faham Aswaja sebagai acuan fikroh nahdliyah dalam bertauhid, berfiqih, bertasawuf dan beretika sosial mencakup fikroh tawassuthiyyah, tasamuhiyyah, ishlahiyyah, tathowwuriyah, manhajiyyah. c. Melakukan kajian sosial-keberagamaan terhadap praksis pelaksanaan ajaran Aswaja. d. Mendirikan Laboratorium Sosial di lingkungan Pesantren, Madrasah di lingkungan NU dan Masjid Jami di setiap desa. e. Membentuk Forum Aswaja di masjid dan majlis talim.

f.

Menginternalisasikan ajaran Aswaja dalam program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat yang akan dilaksanakan oleh setiap perangkat organisasi NU.

B. Pendidikan 1. Sasaran Pengembangan pendidikan yang mencerahkan akal-budi untuk harkat dan martabat kemanusiaan melalui peningkatan mutu, relevansi, daya saing dan pelayanan akses serta perluasan jaringan pendidikan internasional. 2. Program a. Memasukkan kurikulum Aswaja & Ke-NU-an di lembaga pendidikan di lingkungan NU. b. Mengembangkan Sekolah Tinggi Agama Islam di lingkungan Pesantren. c. Mendirikan Perguruan Tinggi Internasional d. Memfasilitasi proses studi luar negeri untuk S2 dan S3 e. Menyusun Data Base S2 dan S3 di lingkungan NU C. Ekonomi 1. Sasaran Keberdayaan dan kemandirian warga NU melalui ekonomi kerakyatan berbasis pertanian, kelautan, industri kecil dan sektor informal yang ramah lingkungan. 2. Program a. Mendirikan lembaga keuangan mikro dan koperasi. b. Mendampingi sentra-sentra usaha kecil. c. Mendirikan pusat informasi komoditas dan bursa kerja d. Pendirian Usaha Bersama petani dan nelayan e. Pendayagunaan lahan tidur dan telantar untuk usaha-usaha produktif. f. Memfasiltasi penggunaan dan akses teknologi tepat guna. g. Mendirikan balai latihan kerja di lingkungan pesantren dalam bentuk pelatihan ketrampilan (vocational training) dan manajemen usaha. h. Menciptakan jaringan pemasaran produksi pertanian, kelautan, dan industri kecil. D. Kesehatan Meningkatkan kehidupan yang sehat dengan mendorong kebijakan negara di bidang kesehatan yang berpihak kepada rakyat, kampanye pola hidup sehat serta layanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. 2. Program a. Kampanye dan sosialisasi pola hidup sehat b. Mendirikan dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat di tingkat Ranting seperti Pos Obat dan semisalnya c. Memastikan terpenuhinya hak masyarakat atas kesehatan dan kesehatan reproduksi yang disediakan oleh negara d. Mendorong sistem jaminan kesehatan mandiri E. Politik, Hukum dan Hak Asasi Manusia 1. Sasaran Berorientasi pada politik kebangsaan, konsolidasi demokrasi substansial yang mensejahterakan, keberpihakan kepada mustadhafin atas pemenuhan hak-hak dasar, dan berperannya masyarakat sipil dalam mempengaruhi kebijakan publik. 2. Program a. Mengawal pelaksanaan kebijakan otonomi daerah (desentralisasi) yang berorientasi pembagian kewenangan yang adil. b. Mempromosikan demokrasi substansial yang berbasis nilai kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. c. Advokasi kebijakan dalam bentuk Undang-Undang Desa yang mencakup Pemerintahan Desa, pengelolaan sumber daya alam, pengelolaan keuangan. d. Membuat forum untuk aktivis politik di lingkungan NU. e. Mengefektifkan LBH NU dan lembaga lain di lingkungan NU untuk pembelaan dan perlindungan hukum dan hak-hak dasar jamaah maupun jamiyyah.

aran

3. Lingkungan: 1. Sasaran Kelestarian sumberdaya alam, penanggulangan krisis pencegahan berlangsungnya perubahan iklim global

pangan,

energi,

air

dan

2. Program a. Menggerakkan Go Green (gerakan ramah lingkungan) melalui komunitas masjid, majlis talim, pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU. b. Menfasilitasi Hutan Tanaman Rakyat (HTR) untuk mengimbangi meluasnya Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dipadu dengan Sistem Pertanian Organik Terpadu Tanpa Limbah (Integrated Organic Farming System Zero Waste) c. Mendorong pembatasan semakin meluasnya perkebunan Sawit yang cenderung monokultur di Kalimantan dan Sumatra d. Advokasi terhadap praktek eksplorasi penambangan galian A (emas, batu bara) dan galian C (batu dan pasir). 4. Teknologi Informasi 1. Sasaran Kemajuan dan percepatan inovasi, kompetensi dan akseptibilitas SDM NU dalam penguasaan sumberdaya. 2. Program a. Pengembangan dan pemanfaatan IT dalam meningkatkan kinerja organisasi b. Mengembangkan radio komunitas sebagai media dakwah c. Merintis pendirian stasiun TV sebagai wahana penyebarserapan nilai-nilai Aswaja 5. Hubungan Luar negeri 1. Sasaran Mewujudkan paradigma Islam Rahmatan lil Alamin sebagai pandangan hidup bagi semua umat manusia untuk mengharmonisasikan nilai-nilai universal (khair) dengan nilai-nilai lokal (maruf) 2. Program a. Fungsionalisasi secara efektif Pengurus Cabang Istimewa sebagai simpul jaringan NU Internasional b. Mempelopori berdirinya pusat-pusat media di kota-kota besar Negara Barat, untuk berpartisipasi aktif dalam perdebatan publik, penyediaan informasi dan menjembatani antara masyarakat Muslim dan Barat c. Melakukan studi terhadap dampak globalisasi guna waspada terhadap struktur politik yang dapat menciptakan dampak sosial terhadap kemanusiaan, termasuk ketegangan, konflik dan kekerasan. d. Membentuk perwakilan ICIS di kawasan Asia Timur dan Pasifik, Asia Selatan dan Tengah, Timur Tengah, Afrika, Amerika, dan Eropa. e. Pembentukan lembaga kajian (think-tank) untuk melakukan studi dan riset tentang pencegahan konflik, penyelesaian konflik serta perdamaian paska konflik, dan langkahlangkah pembangunan kepercayaan melalui interaksi dengan universitas terkemuka, lembaga penelitian, pakar dan intelektual f. Mempersiapkan dan membentuk perhimpunan ulama pendamping masyarakat di areal konflik seperti Thailand Selatan, Mindanau, Pakistan, Afganistan, Kasmir, Darfour dengan melibatkan para profesional dan pakar berlandaskan prinsip-prinsip keadilan, kepedulian, kepekaan, dialog, keterbukaan dan kesabaran, solidaritas kemanusiaan, kepemimipinan yang visioner. g. Memfasilitasi para ulama untuk melakukan kolaborasi dengan para profesional dan pakar dalam hal-hal sebagai berikut: (i) Pengembangan kapasitas Ulama/Cendekiawan di semua tingkat dalam membangun perdamaian dan mencegah konflik (ii) Melakukan kajian mendalam dan pemetaan konflik yang terjadi di dunia Islam untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategis serta pemangku kepentingan.

(iii) Pembentukan sistem peringatan dini di tingkat akar rumput agar tercipta tanggapan dini yang tepat. (iv) Memfasilitasi dan melakukan advokasi kelompok masyarakat yang tidak berdaya dan rentan terhadap provokasi. (v) Penguatan kekebalan masyarakat terhadap elemen-elemen yang dapat menciptakan benih-benih kebencian, kekerasan dan teror. (vi) Advokasi dengan menggunakan prinsip, metode dan keahlian ulama agar dapat berkontribusi dalam upaya pembangunan perdamaian dan pencegahan konflik yang dilakukan dalam struktur formal kekuasaan baik pada tingkat lokal, nasional, regional maupun global. 6. Organisasi 1. Sasaran Kepemimpinan dan kapasitas kelembagaan yang mampu menetapkan dan melaksanakan kebijakan secara efektif serta mengintegrasikan elemen struktural dan kultural, relasi dan jaringan sosial NU tingkat lokal, nasional dan internasional. 2. Program a. Fungsionalisasi peran Syuriyah sebagai pengambil dan penentu arah serta kebijakan organisasi, pengendali dan evaluasi kinerja NU. b. Halaqoh Peningkatan Peran Syuriah NU di tingkat Pengurus Besar, Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang. c. Membangun sistem dan kultur organisasi sesuai dengan nilai-nilai Aswaja. d. Menyusun panduan tugas pokok dan fungsi musytasar, syuriyah, tanfidziyah, dan perangkat organisasi e. Sistem kerja seluruh perangkat organisasi pelaksana program NU berbasis kinerja. f. Memfungsikan, mengefektifkan dan memperkuat Ranting sebagai basis khidmat jamaah dalam gerakan dawah bilhal NU. 7. Pengkaderan 1. Sasaran Sumber Daya Manusia NU yang berkualitas, loyal dan militan untuk mengawal gerakan Aswaja dan mendorong proses transformasi sosial masyarakat menuju khoiro ummat. 2. Program a. Merumuskan sistem doktrinasi, mendinamisir perangkat organisasi NU dalam menyebarserapkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Aswaja sesuai dengan segmen jamaah melalui kegiatan pengkaderan di seluruh jenjang. b. Mendorong berfungsinya elemen-elemen organisasi NU untuk mewujudkan Islam Rohmatan Lilalamin. Untuk itu, cara pandang keberagamaan dan kesalehan harus bergerak paralel dengan persoalan laten Indonesia yang hingga kini belum tertuntaskan, seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, korupsi, penikmatan duniawi yang berlebihan dalam aneka konsumtif baru. c. Mendorong dan memfasilitasi kesiapan SDM NU untuk menjalankan perangkat organisasi yang sistematis, programatik dan profesional sehingga menjadi pionir (al mubtadi) perubahan sosial baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. d. Menggerakkan SDM NU sebagai elemen-elemen organisasi yang memiliki keteguhan iman, integritas, keluasan ilmu, kepekaan sosial, ketajaman nalar, kemampuan profesional dan militansi daya juang. e. Memfasilitasi SDM NU dalam rangka mentransformasikan nilai-nilai agama (moralitas transenden) dalam menghadapi realitas yang terus berkembang. Untuk itu nilai-nilai agama harus diorientasikan pada keadaban publik. f. Menyempurnakan (i) buku Pedoman Kaderisasi yang telah disusun dan dilaksanakan oleh Lakpesdam (disahkan dalam Munas dan Konbes NU 2002 di Pondok Gede, Jakarta); dan (ii) Panduan dan Modul Halaqoh Peningkatan Peran Syuriah (disusun dan dilaksanakan oleh Syuriah PBNU dan PP. Lakpesdam tahun 2007). Penyempurnaan mencakup pedoman umum dan modul berisi materi pengkaderan, metodologi, jenis dan jenjang pengkaderan serta kualifikasi nara sumber dan fasilitator.

g.

Menyusun mekanisme pengkaderan yang lebih efektif, mencakup: pelaksana operasional pengkaderan NU yang diperlukan organisasi di tingkat Pengurus Besar (PB), Pengurus Wilayah (PW), dan Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Cabang Istimewa (PCI). h. Membangun dan mengembangkan sistem dan pola rekruitmen kader dan pengurus di lingkungan NU i. Membuat sistem promosi dan distribusi penempatan untuk berkarya para kader NU . III. Pelaksanaan Program Guna menjamin tercapainya sasaran-sasaran di atas dalam pelaksanaan yang bertanggung jawab, maka disarankan sistem pengelolaan sebagai berikut: 1. Mempertegas sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan program oleh Dewan Syuriah dan Tanfidiyah dengan urain tugas yang jelas dan terukur. 2. Setiap program di atas dan/atau yang terkait dengannya akan dilaksanakan langsung oleh perangkat organisasi yang ada. Dengan demikian, maka pembentukan pelaksana baru secara ad hok harus dihindari. 3. Rapat Kerja Pleno NU pasca Mutamar harus difokuskan pada agenda menyusun rencana aksi (action plan) oleh masing-masing Perangkat Organisasi baik dalam Jangka Panjang (15 tahun), Jangka Menengah (5 tahun) yang diurai dalam Jangka Pendek (tahunan) atas program yang diamanatkan Mutamar 4. Salah satu agenda Konbes NU adalah melakukan refleksi dan evaluasi internal tengah masa (2.5 tahun) program oleh masing-masing perangkat organisasi.