Anda di halaman 1dari 6

Nama Kelas Stambuk

: Facy Francine Coandy : Akuntansi B : 1013065 BAB 12 Single Model

Single market model merupakan suatu cara untuk memprediksi harga atau return sekuritas dengan menggunakan indeks pasar sebagai predictor, karena indeks pasar dianggap berpengaruh terhadap harga sekuritas. Sekuritas dalam bentuk saham harus dihubungkan dengan indeks pasar saham, yaitu indeks harga saham gabungan (IHSG) atau indeks LQ45. Single factor model adalah suatu cara untuk memprediksi harga atau return saham dengan menggunakan satu factor sebagai predictor yang dianggap berpengaruh terhadap suatu sekuritas. Beberapa factor yang berpengaruh terhadap harga saham adalah pertumbuhan ekonomi, inflasi, kurs valuta asing, tingkat bunga SBI, kebijakan pemerintah, dan tingkat bunga Federal Reserve System (FED) Amerika Serikat. A. Single Market Model Harga saham di pasar seringkali bergerak bersama-sama, yaitu turun bersama dan naik bersama walaupun tidak untuk keseluruhan jenis saham. Sebagian jenis saham mungkin bergerak naik, sebagian lagi bergerak turun, dan sebagian lagi stagnan (tidak berubah). Apabila sebagian besar saham bergerak naik, maka IHSG akan meningkat dan jika sebagian besar bergerak turun, maka IHSG akan turun pada hari itu. Selain factor ekonomi terdapat juga factor politik, hukum, dan proses tawar menawar harga saham. 1. Pembentukan Struktur Model Untuk pembentukan struktur model terbaik perlu dilakukan eksperimen atas berbagai initial set dan training set. Kemudian dipilih satu struktur model yang terbaik dari hasil eksperimen tersebut. Training set merupakan sesuatu yang penting untuk memvalidasi bahwa struktur model yang dipilih tidak didapat secara kebetulan. Y = fungsi (X) Keterangan: Y = indeks harga saham, sebagai dependent variable X = variabel indeks pasar, sebagai independent variable Hasil regresi menunjukkan: Yi,t = konstanta + b1 X1,t Keterangan: Yi,t = indeks saham ASII pada waktu t

b1 = koefisien dari variabel X1 X1,t = variabel LQ45 pada waktu t 2. Estimasi Nilai Variabel Independen Setelah struktur model terbentuk dan sebelum prediksi harga dilakukan, terlebih dahulu harus diestimasi nilai variabel independen untuk bulan prediksi. Estimasi nilai variabel LQ45 harus dilakukan dengan berbagai metode estimasi dan dipilih yang memiliki deviasi standar kesalahan terkecil. 3. Harga Prediksi Untuk meeengetttahui harga saham akan naik atau akan turun dengan melakukan

prediksi harga saham setiap akan mengambil keputusan jual atau beli. Salah satu cara prediksi harga saham adalah dengan menggunakan single indeks market model. Setelah struktur model terbentuk dan nilai estimasi variabel independen diketahui harga prediksi dapat dihitung, yaitu konstanta ditambah koefisien variabel dikali nilai estimasi variabel. 4. Keputusan Single Market Model Harga prediksi akan dibandingkan dengan harga sekarang untuk mendapatkan selisih lebih tinggi atau lebih rendah. Apabila harga prediksi lebih tinggi daripada harga sekarang, berarti akan terjadi kenaikan harga (selisih positif) atau harga sekarang lebih murah daripada harga besok sehingga harga sekarang disebut undervalued. Apabila harga prediksi lebih rendah daripada harga sekarang, berarti akan terjadi penurunan harga (selisih negative) atau harga sekarang lebih tinggi daripada harga besok sehingga harga sekarang disebut overvalued. Keputusan yang harus diambil untuk saham yang sudah undervalued adalah Beli, dan untuk saham yang sudah overvalued adalah Jual. 5. Indeks vs Harga Saham Penghitungan return saham dapat didasarkan baik pada harga saham maupun indeks harga saham. Akan tetapi, penggunaan indeks harga saham lebih diinginkan karena memudahkan penghitungan yaitu tidak perlu melakukan penyesuaian harga jika selama periode penghitungan terjadi corporate action atas suatu jenis saham dan data indeks harga saham mudah didapat dari Bursa Efek atau media komunikasi lainnya. Harga saham dalam rupiah dapat dihitung, jika indeks harga saham individu (IHSI) sudah diketahui, dengan menggunakan rumus berikut: Harga saham dalam Rp = IHSI x base value per unit saham Base value atau nilai dasar per unit saham dapat diperoleh dari laporan bulanan yang diterbitkan oleh Bursa Efek.

B. Single Factor Model 1. Prediksi Harga Saham Koefisien variabel US$ terhadap harga saham ASII bersifat negative, yaitu jika kurs US$ naik, harga saham turun dan jika US$ turun, harga saham naik. 2. Keputusan Single Factor Model Setelah diketahui harga produksi, harga jual atau beli dapat diambil. Apabila tren harga negative, berarti keputusan Jual harus diambil dan bila tren harga positif, berarti keputusan Beli yang harus diambil. C. Eksperimen Single Market Model Struktur model yang akan terbentuk sangat tergantung pada 1. Initial set dan 2. Lead time. Struktur model yang dihasilkan oleh regresi sederhana dengan data 4 bulan akan berbeda hasilnya dengan data 12 bulan (initial set berbeda). Demikian pula, memprediksi untuk waktu 1 bulan ke depan akan berbeda dengan untuk 3 bulan ke depan (lead time berbeda). Jumlah data (initial set) yang lebih banyak yang dimasukkan ke dalam regresi tidak berarti akan menghasilkan struktur model yang lebih baik daripada initial set yang sedikit. Hal ini juga tergantung pada jangka waktu prediksi (lead time). Berikut ini adalah tindakan apabila ingin mengambil keputusan menjual atau membeli saham: 1. Mengidentifikasi variabel dependen dan variabel independen; 2. Mengumpulkan data variabel dependen dan variabel independen; 3. Membentuk struktur model; 4. Mengestimasi nilai variabel independen; 5. Memprediksi harga saham; 6. Menentukan saham yang undervalued dan yang overvalued; 7. Mengambil keputusan jual atau beli; 8. Menghitung mutasi harga riil antara harga beli dan harga jual; 9. Menghitung return riil.

BAB 13 Model Multifaktor A. Model Multifaktor Terdapat banyak factor yang mempengaruhi harga saham atau return saham, baik yang bersifat makro maupun mikroekonomi. Faktor makro ada yang bersifat ekonomi maupun nonekonomi. Faktor makroekonomi terinci dalam beberapa variabel ekonomi. Faktor makroekonomi mencakup peristiwa politik domestic, peristiwa social, peristiwa hukum, dan peristiwa politik internasional. Sementara itu, factor mikroekonomi terinci dalam beberapa variabel. Pengaruh factor makro tidak selalu sama terhadap harga saham. B. Model Keputusan Investasi Pendekatan lain untuk mengambil keputusan jual atau beli adalah berdasarkan return ekspektasi, apakah positif atau negative. Apabila return ekspektasi positif berarti keputusan beli dan jika negative berarti keputusan jual. Bahkan untuk yang lebih konservatif, keputusan jual-beli diambil dengan berpedoman pada 1.keputusan beli didasarkan pada excess return positif, sedangkan keputusan jual pada excess return negative dan 2.keputusan beli didasarkan pada alpha positif, sedangkan keputusan jual pada alpha negative. Suatu jenis saham dianggap murah (undervalued) sehingga layak untuk dibeli apabila: 1. Harga saham sekarang < harga saham estimasi. 2. Average return saham sekarang > risk free rate. 3. Average return saham sekarang > minimum rate of return. Suatu jenis saham sudah dianggap mahal (overvalued) sehingga layak untuk dijual apabila: 1. Harga saham sekarang > harga saham estimasi. 2. Average return saham sekarang < risk free rate. 3. Average return saham sekarang < minimum rate of return. Excess return adalah selisih antara average return dan risk free rate, dan jika: Average return > risk free rate, disebut excess return positif Average return < risk free rate, disebut excess return negatif Alpha adalah selisih antara average return dan minimum rate of return, dan jika: Average return > minimum rate of return, disebut alpha positif Average return < minimum rate of return, disebut alpha negatif Average return adalah return rata-rata masa lalu yang dianggap akan terjadi lagi di masa mendatang, sehingga average return dapat dijadikan sebagai expected return, yaitu return yang diharapkan. Model multifactor merupakan salah satu cara untuk menentukan return yang diharapkan atau harga prediksi saham yang menggunakan analisis regresi majemuk.

C. Multifaktor Saham Individu Untuk mengetahui pengaruh factor makro dan factor mikroekonomi terhadap harga atau return saham individu, perlu diduga terlebih dahulu bahwa beberapa jenis variabel berasal dari factor makro dan mikroekonomi yang secara teoritis atau empiris hasil penelitian sebelumnya memiliki kausalitas dengan harga atau return saham individu. Variabel-variabel tersebut disebut sebagi variabel bebas atau independent variables. Harga saham atau return saham disebut sebagai variabel tidak bebas atau dependent variable. Harga suatu jenis saham dapat dipengaruhi oleh satu variabel bebas atau lebih di mana setiap variabel bebas memiliki pengaruh yang berbeda terhadap setiap jenis saham. Oleh karena itu, diperlukan identifikasi awal atas jenis variabel yang diduga kuat berpengaruh terhadap suatu jenis saham, yaitu yang secara teoritis mempunyai hubungan kausalitas antara harga saham dan variabel makroekonomi dan variabel mikroekonomi disesuaikan dengan kondisi ekonomi yang berlaku di suatu tempat. Selanjutnya, cara yang paling mudah untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap harga saham individu adalah dengan menggunakan model regresi majemuk (multiple regression). Untuk prediksi bisnis, model regresi adalah cara pertama yang harus dicoba karena dalam banyak hal model tersebut dianggap sudah memadai. Salah satu model terbaik dari multiple regression adalah stepwise regression. Stepwise regression merupakan kombinasi dari forward-selectioni dan backward-elimination. D. Proses Analisis Multifaktor 1. Pengumpulan Data Data yang akan dikumpulkan harus sesuai dengan tujuan prediksi yang akan dilaksanakan. Data yang dimaksud adalah berbagai variabel bebas, baik mikro maupun makroekonomi yang diduga berpengaruh terhadap harga saham, dan variabel tak bebas yang dikumpulkan berupa harga saham. Untuk analisis ini harga saham dapat dalam rupiah atau indeks harga saham individu. Akan tetapi, jika menggunakan harga saham dalam rupiah, perlu diadakan penyesuaian terhadap harga saham sebelum peristiwa corporate action. Penggunaan indeks harga saham individu tidak memerlukan koreksi sendiri karena pihak Bursa Efek sudah melakukan koreksi secara otomatis. 2. Pembentukan Struktur Model Suatu model multifactor yang baik tercermin dari besar-kecilnya koefisien determinasi (R ), yaitu semakin besar R2 semakin baik model yang bersangkutan. Akan tetapi, diperlukan berbagai eksperimen untuk memperoleh suatu model multifactor dengan R2 yang besar.
2

3. Estimasi Nilai Variabel Bebas Harga prediksi saham dapat berbeda dengan harga aktualnya, dan perbedaan itu muncul karena 1.kesalahan estimasi nilai variabel bebas dan 2.kesalahan struktur model. Kesalahan struktur model pada saat aplikasi dapat disebabkan oleh 1.jenis variabel bebas yang mempengaruhi harga saham dalam initial set berbeda dengan dalam training set, 2.nilai actual variabel bebas dalam initial set berbeda dengan nilai actual dalam training set, dan 3.jumlah bulan data sebagai initial set kurang tepat. 4. Harga Prediksi Nilai estimasi variabel bebas dapat dimasukkan ke dalam struktur model dengan cara mengalikan nilai variabel dan koefisien variabel, sehingga akan ditemukan harga setiap jenis variabel. Jika harga konstanta ditambah atau dikurangi dengan harga setiap variabel bebas yang ada dalam struktur model, akan diperoleh harga prediksi untuk masing-masing bulan prediksi. 5. Keputusan Jual atau Beli Keputusan jual atau beli saham dapat didasarkan pada 1.harga saham, 2.return saham, 3.excess return saham, dan 4.alpha saham. Pada dasarnya, untuk memutuskan jual atau beli diketahui posisi saham apakah sudah undervalued atau sudah overvalued. Undervalued, jika 1. Harga prediksi > harga sekarang 2. Return prediksi > return sekarang 3. Excess return positif 4. Alpha positif Keputusan : Beli Overvalued, jika 1. Harga prediksi < harga sekarang 2. Return prediksi < return sekarang 3. Excess return negative 4. Alpha negative Keputusan : Jual