Anda di halaman 1dari 34

RR.

Khairiyah Amalia

Anatomi Sendi
Penghubung antar tulang
Biasanya disertai dengan adanya pergerakan sendi,

tetapi tidak selalu. Dibentuk dari jaringan connective, yang terdiri dari : - fibrous - cartilaginous - synovial

Anatomi Sendi
Sendi fibrous
Sutura - Tulang-tulang terikat rapat oleh minimal fiber. - Hanya ditemukan di Skull.

Syndesmosis - Tulang tulang dihubungkan oleh ligamen

- contoh : tibiofibular ligament, membran introosseus radius ulna

Anatomi Sendi
Sendi Cartilaginous Synchondrosis - Terdiri dari unit-unit kartilago hyalin. - Epiphyseal growth plates - Costal cartilage-sternum Symphysis Fibrocartilage tulang Simpisis pubis Diskus Intervertebralis

Anatomi Sendi
Sendi Sinovial

- Jenis Sendi yang paling banyak di dalam tubuh - Dapat bergerak bebas - Memiliki : Permukaan Artikular pada tulang yang memiliki kartilago hyalin.

Anatomi Sendi
Kapsul sendi yang komplit terbentuk dari jaringan connective ligamen.
Cairan sinovial yang berfungsi sebagai cairan lubrikasi untuk kapsul sendi. Beberapa memiliki meniskus atau diskus artikularis ( contoh : genu )

Dislokasi
Dislokasi Dislokasi adalah keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis, atau Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera.
Subluxasio dislokasi yang hanya sebagian

permukaan sendi yang terlepas dari mangkuknya. Atau disebut dislokasi yang inkomplit.

Etiologi Dislokasi
Kongenital terjadi sejak lahir akibat salah pertumbuhan. Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi.

misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang. Trauma Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular.

Jenis Dislokasi Sendi


Dislokasi Sendi bahu
Dislokasi Sendi Siku Dislokasi Sendi Panggul Dislokasi Sendi lutut Dislokasi interphalangeal, metacarpal Dislokasi Tulang belakang

Dislokasi Sendi Bahu


Dislokasi Anterior (paling sering)

Mekanisme trauma Paling sering, Jatuh dalam posisi out strechted atau trauma pada skapula sendiri dan anggota gerak dalam posisi rotasi lateral sehingga kaput humerus menembus kapsul anterior sendi. Pada dislokasi anterior kaput humerus berada dibawah glenoid, subkorakoid dan subklavikuler

Dislokasi Sendi Bahu


Gambaran Klinis

Nyeri hebat, gangguan gerakan sendi bahu, kontur sendi bahu rata karena kaput humerus bergeser kedepan.

Pengobatan

a. Dengan pembiusan umum Metode hipocrates : penderita dibaringkan dilantai, anggota gerak ditarik keatas dan kaput humerus ditekan dengan kaki agar kembali ke tempatnya. Metode kocher : penderita dibaringkan ditempat tidur dan ahli bedah berdir disamping penderita Cara : sendi siku fleksi 90 derajat dan dilakukan traksi sesuai garis humerus, rotasi kearah lateral, lengan diadduksi dan sendi siku dibawa mendekati tubuh kearah garis tengah, lengan dirotasi ke medial sehingga tangan jatuh didaerah dada.

b. Tanpa pembiusan umum

Teknik menggantung lengan Penderita diberi petidin atau diazepam agar tercapai relaksasi maksimal, biarkan tidur tengkurap dan membiarkan lengan tergantung dipingggir tempat tidur.Setelah beberapa waktu dapat terjadi reduksi secara spontan. Setelah reposisi difiksasi didaerah thoraks selama 3-6 minggu agar tak terjadi dislokasi rekuren

Komplikasi

Kerusakan nervus aksilaris, kerusakan pembuluh darah, tidak dapat direposisi, kaku sendi, dislokasi rekuren.

Dislokasi Sendi Bahu


Dislokasi Posterior

Biasanya akibat trauma langsung pada sendi bahu dalam keadaan rotasi interna. Ditemukan adanya nyeri tekan serta benjolan dibagian belakang sendi. Pengobatan dilakukan dengan cara menarik lengan kedepan secara hati-hati dan rotasi eksterna serta imobilisasi selam 3-6 minggu.
Dislokasi inferior/errecta Akibat kaput humerus mengalami jepitan dibawah glenoid dimana lengan mengarah keatas sehingga terjadi dislokasi inferior. Ditangani dengan reposisi tertutup seperti pada dislokasi anterior, bila tidak berhasil dengan reposisi terbuka secara operasi. Dislokasi disertai dengan fraktur tuberositas mayor humerus Biasanya tipe dislokasi anterior disertai dengan fraktur. Bila reposisi dilakukan pada daerah dislokasi maka fraktur akan tereposisi dan melekat kembali pada humerus.

Dislokasi Sendi Siku


Biasanya penderita jatuh dengan posisi tangan out strechted dimana bagian distal humerus terdorong kedepan melalui kapsul anterior sedangkan radius dan ulna mengalami dislokasi ke posterior. Dislokasi umumnya posterior atau posterolateral. Terdapat nyeri disertai pembengkakan yang hebat disekitar sendi siku ketika siku dalam posisi semi fleksi, olecranon dapat teraba pada bagian belakang. Pengobatan dengan reposisi, pada jam-jam pertama dapat tanpa pembiusan umum, setelah reposisi lengan difleksikan >90 derajat dan dipertahankan dengan gips selama 3 minggu. Komplikasi : kekakuan sendi, trauma nervus medianus, trauma a.brakhialis.

Dislokasi Sendi Panggul


Dislokasi posterior

Trauma biasanya terjadi akibat kecelakaan lalu lintas dimana lutut dalam keadaan fleksi dan menabrak dengan keras yang berada dibagian depan lutut, dapat juga terjadi pada saat mengendarai sepeda motor. Penderita biasanya datang setelah suatu trauma yang hebat dengan keluhan nyeri dan deformitas pada daerah sendi panggul. Sendi panggul teraba menonjol kebelakang dalam posisi adduksi, fleksi dan rotasi interna. Terdapat pemendekan anggota gerak bawah.

Klasifikasi, untuk rencana pengobatan (Thompson Epstein) :

Tipe I : dislokasi tanpa fraktur atau dengan fragmen tulang yang kecil Tipe II : dislokasi dengan fragmen tunggal yang besar pada bagian posterior acetabulum Tipe III : dislokasi dengan fraktur bibir acetabulum yang komunitif Tipe IV : dislokasi dengan fraktur dasar acetabulum Tipe V : dislokasi dengan fraktur kaput femur

Pengobatan dengan reposisi secepatnya dengan pembiusan umum disertai relaksasi secukupnya, Penderita dibaringkan dilantai dan pembantu menahan panggul. Sendi panggul difleksikan serta lutut difleksi 90 derajat dan kemudian dilakukan tarikan pada paha secara vertical. Setelah direposisi, stabilitas sendi diperiksa apakah sendi panggul dapat didislokasi dengn cara menggerakkan secara vertical pada sendi panggul. Untuk kasus yang melibatkan penanganan fragmen tulang membutuhkan tindakan operatif.

Traksi kulit 4-6 minggu, setelah itu tak menginjakkan kaki dan menggunakan tongkat selama 3 bulan. Komplikasi dini berupa kerusakan nervus skiatik, kerusakan kaput femur, dan fraktur diafisis femur. Komplikasi lanjut berupa nekrosis avaskuler, osteoarthritis, dan dislokasi yang tak dapat direduksi.

Dislokasi anterior

Lebih jarang dibanding anterior dapat akibat kecelakaan lalulintas, jatuh dari ketinggian atau trauma dari belakang saat berjongkok dan posisi penderita dalam keadaan abduksi yang dipaksakan, leher femur atau throkanter menabrak acetabulum dan terjungkir keluar melalui robekan kapsul anterior.

Gambaran klinis, tungkai bawah dalam keadaan rotasi eksterna, abduksi dan sedikit fleksi, tungkai tak mengalami pemendekan karena perlekatan otot rectus femur mencegah kaput femur bergeser ke proximal, terdapat benjolan didepan daerah inguinal dimana kaput femur dapat diraba dengan mudah, sendi panggul sulit digerakkan. Pengobatan dilakukan dengan reposisi seperti pada dislokasi posterior, dilakukan adduksi pada dislokasi anterior.
Komplikasi tersering adalah nekrosis avaskuler.

Dislokasi sentral

Terjadi apabila kaput femur terdorong ke dinding medial acetabulum pada rongga panggul, kapsul tetap utuh. Terdapat perdarahan dan pembengkakan didaerah tungkai proximal tetapi posisi tetap normal, nyeri tekan pada daerah throchanter, dan gerakan sendi panggul terbatas. Pengobatan dengan melakukan reposisi dan traksi selama 46 minggu, setelah itu diperbolehkan berjalan dengan penopang berat badan.

Dislokasi Sendi Lutut


Dislokasi ini sangat jarang terjadi, biasanya terjadi apabila penderita mendapat trauma dari depan dengan lutut dalam keadaan fleksi. Dislokasi dapat bersifat anterior, posterior, lateral, medial atau rotasi. Dislokasi anterior lebih sering ditemukan dimana tibia bergerak kedepan terhadap femur, trauma ini menimbulkan kerusakan pada kapsul, ligamen, yang besar dan sendi.

Trauma juga dapat menyebabkan dislokasi yang terjadi disertai dengan kerusakan pada nervus peroneus dan arteri poplitea.
Gambaran klinis dijumpai a danya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan, nyeri dan hamartrosis serta deformitas. Pengobatan, tindakan reposisi dengan pembiusan harus dilakukan sesegera mungkin dan dilakukan aspirasi hamartrosis dan setelahnya dipasang bidai gips posisi 100-150 selama 1 minggu kemudian dipasang gips sirkuler iatas lutut selama 7-8 minggu, bila ternyata lutut tetap tak stabil (varus ataupun valgus) maka harus dilakukan operasi untuk perbaikan pada ligamen.

Dislokasi Interphalangeal
Pada dislokasi ini, jari pertama dan jari-jari yang

lainnya dapat direposisi dengan mudah . Dapat terjadi reposisi spontan

Dislokasi tulang belakang


Merupakan bentuk dislokasi yang paling berbahaya karena sering menyebabkan kelumpuhan yang permanen dan bahkan dapat mengancam nyawa secara langsung. Lokasi: -Cervical (paling berbahaya) -Thoracal -Lumbal. Terapi Jangan coba reposisi selain oleh ahli dibidang ini.

TERIMA KASIH

Dislokasi pada tulang belakang yang paling sering


Perbedaan penatalaksanaan DDH dengan Dislokasi

pada dewasa Dislokasi Infeksi