Anda di halaman 1dari 29

M.

Nur Ihsan MEI RESUME BUKU Judul buku Pengarang Tahun terbit Metodologi : FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER : Jujun S. Suriasumantri : 2002 : Metode deskriptif BAB I PENDAHULUAN Buku yang berjudul FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER disusun oleh Jujun S. Suriasumantri. Buku ini terdiri dari sepuluh bab dengan 368 halaman, cetakan keempat belas (tahun 2002). Adapun mengenai sistematika dan kerangka penulisan buku ini sebagai berikut:
Daftar Isi Kata Pengantar oleh: Andi Hakim Nasution Sekapur Sirih I Ke Arah Pemikiran Filsafat 1. Ilmu dan Filsafat II Dasar-dasar Pengetahuan 1. Penalaran 2. Logika 3. Sumber Pengetahuan 4. Kriteria Kebenaran III Ontologi: Hakikat Apa yang dikaji 5. Metafisika 6. Asumsi 7. Peluang 8. Beberapa Asumsi dalam Ilmu 9. Batas-batas Penjelajahan Ilmu IV Epistimologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar 10. Jarum Sejarah Pengetahuan 11. Pengetahuan 12. Metode Ilmiah 13. Struktur Pengetahuan Ilmiah V Sarana Berpikir Ilmiah 14. Sarana Berpikir Ilmiah 15. Bahasa 16. Matematika 17. Statistika VI Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu 18. Ilmu dan Moral 19. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan 20. Nuklir dan Pilihan Moral 21. Revolusi Genetika VII Ilmu dan Kebudayaan 22. Manusia dan Kebudayaan 23. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional 24. Dua Pola Kebudayaan VIII Ilmu dan Bahasa 25. Tentang Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetahuan atau Sains? 26. Quo Vadis? 1

27. Politik Bahasa Nasional Penelitian dan Penulisan Ilmiah 28. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah 29. Teknik Penulisan Ilmiah 30. Teknik Notasi Ilmiah X Penutup 31. Hakikat dan Kegunaan Ilmu Daftar Pustaka Indeks IX

BAB II ISI SEKAPUR SIRIH Buku ini disusun untuk mengisi kekosongan dalam bidang filsafat ilmu agar masyarakat mengenal bidang keilmuan dengan berbagai aspeknya. Fokus utama dari pembahasan buku ini adalah tema pokok yang hidup di sekitar masyarakat keilmuan, patokan-patokan dasar yang diterima oleh sebagian besar masyarakat keilmuan. Tujuan utama dari pengkajian dalam buku ini adalah untuk mengenal alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan, seperti usaha peningkatan penalaran, permasalahan moral dalam kegiatan keilmuan, kaitan ilmu dengan kebudayaan, perkembangan bahasa nasional, penerapan asas-asas keilmuan dalam kegiatan penelitian dan pembahasan tentang penulisan ilmiah. Pengetahuan kefilsafatan secara pragmatis ditujukan untuk kemampuan mendiagnosis persoalan dan mencari alternatif pemecahan. Diharapkan dengan adanya buku ini, cakrawala keilmuan dapat turut memperkaya jiwa pemuda dan mengantar ke alam kedewasaan. I Ke Arah Pemikiran Filsafat 1. Ilmu dan Filsafat Karakter berpikir filsafat: (a) menyeluruh, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari sudut pandang tertentu. Pemikiran filsafat ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain, moral, seni, tujuan hidup. (b) mendasar, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental/esensial objek yang dipelajarinya, sehingga dapat dijadikan dasar berpikir bagi segenap nilai dan keilmuan. Jadi, tidak hanya pada periferis (kulit) saja, tetapi sampai tembus ke dalamnya. (c) spekulatif, hasil pemikiran apat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya. Jadi, tugas filsafat dalam hal ini menyiapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan bagi wilayah pengetahuan yang baru. Filsafat: Peneretas Pengetahuan Filsafat (menurut Will Durant) ibarat pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu-ilmu lain dan kembali menjelajah laut lepas; berpsekulasi dan meneratas. Semua ilmu, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat (nama asal fisika: natural philosophy, ekonomi: moral philosophy). Dalam perkembangan filsafat sebagai ilmu, maka terdapat taraf peralihan yang membuat bidang
2

filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh, tetapi sektoral (moral berkembang menjadi ilmu ekonomi). Walaupun demikian, dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat (ekonomi masih merupakan penerapan etika dalam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya). Metode yang digunakan adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang bersifat filsafat. Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada hakekat alamiah sebagaimana adanya. Dalam menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini, maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif, melainkan kombinasi secara deduktif dan induktif dengan jembatan yang berupa pengajuan hipotesis (metode logico-hypotetico-verifikatif). Auguste Comte (1798-1857) membagi tiga tingkat (tahap) perkembangan pengetahuan tersebut di atas ke dalam tahap religius, metafisik, dan positif. Pada tahap pertama, asas religiuslah yang dijadikan postulat ilmiah, sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjembatan dari ajaran religi. Pada tahap kedua, orang mulai berspekulasi tentang metafisika (keberadaan) wujud yang menjadi objek penelaahan yang bebas dari dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik tersebut. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pengetahuan ilmiah, asas-asas ilmu yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif. Bidang Telaah Filsafat Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia (filsafat) menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sebagaimana fungsinya sebagai pionir mempermasalahkan hal-hal pokok: filsafat menjawab masalah satu, kemudian merambah kepada masalah lain. Cabang-cabang Filsafat Pokok permasalahan yang dikaji dalam filsafat mencakup tiga segi, benar-salah (logika), baik-buruk (etika), indah-jelek (estetika). Ketiganya bertambah lagi yakni teori tentang ada (terangkum dalam ilmu metafisika) dan politik. Kelima cabang utama itu kemudian bertambah lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang memiliki kajian yang lebih spesifik, yakni epsitimologi (filsafat pengetahuan), etika (filsafat moral), estetika (filsafat seni), metafisika, politik (filsafat pemerintahan), filsafat agama, filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat matematika. Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan bagian dari filsafat pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Ilmu berbeda dari pengetahuan-pengetahuan secara filsafat. Akan tetapi, tidak terdapat perbedaan prinsipil antara ilmu alam dengan ilmu sosial-memiliki ciri keilmun yang sama. Jadi, secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu alam dengan ilmu sosial. Akan tetapi, karena permasalahan teknis khusus, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu alam dan filsafat ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing-masing bidang telaahnya dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom. Filsfat ilmu merupakan telaah secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu (ontologis), sumber ilmu/pengetahuan (epistimologis), dan kegunaan ilmu (aksiologi). Semua pengetahuan (ilmu, seni, pengetahuan apa saja) pada dasarnya memiliki ketiga landasan ini. Yang berbeda adalah materi perwujudan dan sejauh mana lanadasan-landaan dari ketiga aspek ini dikembangkan dan dilaksanakan. Dari sinilah penyebutan ilmu sebagi pengetahuan yang aspek ontologis, epistimologis, dan aksiologisnya
3

lebih berkembang dari pengetahuan-pengetahuan lain dan dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. Jadi, pengertian ilmu sebagai disiplin yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan mainnya dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Dari sini diharapkan dapat memanfaatkan kegunaan pengetahuan dan ilmu secara maksimal dan tidak salah dalam menggunakannya (ilmu dikacaukan dengan seni, ilmu dikonfrontasikan dengan agama), sehingga menimbulkan konfrontasi yang menyedihkan. Kerangka Pengkajian Buku Buku ini mengulas beberapa persoalan pokok yang seharusnya diketahui pada tahap elementer. Pembahasan ini ditujukan bagi orang awam yang ingin mengetahui aspek kefilsafatan dari bidang keilmuan dan bukan ditujukan kepada mereka yang menjadikan ilmu sebagai satu bidang keahlian. Pada dasarnya buku ini mencoba membahas aspek ontologis, epistimologis, dan aksiologis keilmuan sambil membandingkan dengan beberapa pengetahuan lain. Dalam kaitan-kaitan ini akan dikaji hakekat beberapa sarana berpikir ilmiah, yakni bahasa, logika, matematika, dan statistik. Setelah itu dibahas beberapa aspek yang berkaitan erat dengan kegiatan keilmuan seperti aspek moral, sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Akhir buku ini ditutup dengan pembahasan struktur penelitian dan penulisan ilmiah dengan harapan agar dapat membantu mereka yang berkarya dalam bidang keilmuan. Tujuan utama dari buku yang bersifat pengantar ini bukan pendalaman yang bersifat teknis, melainkan pengenalan menyeluruh. Salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh penerbitan buku ini ialah agar masyarakat tergerak hatinya untuk mencintai filsafat (dari yang terlihat angker menjadi santai dan menyenangkan). Materi filsafat ilmu yang terkandung dalam buku ini merupakan kompromi ekletik dari berbagai aliran yang hidup dalam pemikiran filsafat. Titik berat pembahasan diletakkan pada kesamaan dan bukan pada perbedaannya. Tema pokok dari filsafat ilmulah yang ingin dikemukakan dalam buku ini dan bukan variasi-variasi yang berkembang sekitar tema pokok tersebut. II Dasar-dasar Pengetahuan 2. Penalaran Manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekadar memenuhi kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya. Pengetahuan ini jugalah yang mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi ini. Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama. Pertama, karena manusia memiliki bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, manusia memiliki penalaran yang mampu berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Perbedaan antara manusia dengan binatang adalah manusia mampu berpikir nalar sedangkan binatang mampu berpikir saja, tetapi tidak mampu berpikir nalar. Hakekat Penalaran Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu simpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir itu sendiri merupakan kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Tidak semua kegiatan berpikir menyandarkan diri pada penalaran. Jadi, penalaran merupakan kegiatan yang memiliki ciri-ciri/karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran sesuai dengan kriteria kebenaran itu sendiri.
4

Ciri penalaran yang pertama adalah adanya suatu pola berpikir yang luas, jamak dapat disebut logika (sehingga penalaran merupakan suatu proses berpikir logis, menurut pola/logika tertentu). Ciri penalaran yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Artinya penalaran adalah suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Sifat analitik itu sendiri merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Dengan demikian, penalaran ilmiah merupakan suatu kegiatan analisis yang mempergunakan logika ilmiah/dengan langkah-langkah berpikir tertentu. Adapun penalaran lainnya mempergunakan logikanya sendiri. Selain itu, tidak semua berpikir bersifat logis dan analisis. Penalaran berbeda dengan perasaan dan intuisi. Perasaan merupakan suatu penarikan simpulan yang tidak berdasarkan penalaran. Intuisi adalah kegiatan berpikir yang tidak berdasarkan penalaran, nonanalitik yang tidak berdasarkan pada suatu pola berpikir tertentu. Jadi, secara luas dapat dikatakan bahwa cara berpikir masyarakat dapat dikategorikan kepada cara berpikir analitik yang berupa penalaran dan cara berpikir nonanalitik yang berupa perasaan dan intuisi. 3. Logika Logika secara luas dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara shahih. Terdapat cara penarikan simpulan. Agar sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terdapat dua jenis cara penarikan simpulan, yakni logika induktif (hal khusus ke hal umum) dari berbagai kasus yang bersifat individual dan logika deduktif (hal umum ke hal khusus). Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang memiliki ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Keuntungan dari simpulan penalaran ini; pertama, pernyataan yang bersifat umum tersebut memiliki sifat ekonomis. Kehidupan yang beraneka ragam dapat direduksi menjadi beberapa pernyataan, pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri adalah esensi dari fakta-fakta kehidupan yang beraneka ragam tersebut. Dalam pernyataan mengenai fakta yang dipaparkan, pengetahuan tidak bermaksud membuat reproduksi dari objek tertentu, melainkan menekankan pada struktur dasar yang menyangga wujud fakta tersebut. Pernyataan bagaimanapun lengkap dan cermatnya- tidak tidak dapat memproduksikan betapa manisnya kopi dan pahitnya pil kina. Pengetahuan cukup puas denga pernyataan elementer yang bersifat kategoris bahwa kopi itu manis dan pil kina pahit. Pernyataan ini sudah cukup bagi manusia untuk bersifat fungsional dalam kehidupan praktis dan berpikir teoretis. Keuntungan kedua, dimungkinkannya proses penalaran selanjutnya, baik secara induktif maupun secara deduktif, sehingga memungkinkan disusunnya pengetahuan secara sistematis yang mengarah kepada pernyataan-pernyataan yang makin lama makin bersifat fundamental. Secara induktif, maka dari berbagai pernyataan dapat ditarik pernyataan yang lebih bersifat umum lagi. Penalaran secara deduktif adalah cara bepikir yang menarik pernyataan yang bersifat umum kepada simpulan yang berupa pernyataan yang bersifat khusus. Penarikan simpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah simpulan. Pernyatan yang mendukung silogisme itu disebut premis (ada premis mayor dan premis minor). Simpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Ketepatan penarikan simpulan bergantung pada tiga hal: kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan keabsahan penarikan/pengambilan simpulan.
5

4. Sumber Pengetahuan Pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan: mendasarkan kepada rasio dan mendasarkan kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan faham yang dikenal dengan rasionalisme-menggunakan metode deduktif dan kaum yang mendasarkan diri kepada pengalaman (empiris) mengembangkan faham yang dikenal dengan empirisme-menggunakan metode induktif. Ide bagi kaum rasionalis bersifat apriori dan prapengalaman yang didapatkan manusia melalui penalaran rasional. Masalah utama yang dihadapi kaum rasionalis adalah evaluasi dari kebenaran premis-premis (berupa ide) yang digunakannya dalam penalaran deduktif, karena premis-premis itu semuanya bersumber pada penalaran nasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalamanm, sehingga evaluasi semacam ini tidak dapat dilakukan. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung untuk bersifat solipstik (hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang berpikir tersebut) dan bersifat subjektif. 5. Kriteria Kebenaran Terdapat beberapa kriteria kebenaran, yakni; kebenaran koherensi, kebenaran korespondensi, dan kebenaran pragmatis. Teori kebenaran koherensi menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (berdasarkan logika deduktif). Misalnya pernyataan yang berupa aksioma atau matematika. Plato dan Aristoteles mengembangkan teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan Euclid dalam menyusun ilmu ukurnya. Teori kebenaran korespondensi menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila (materi pengetahuan yang dikandung dalam) pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya pernyataan "Ibu kota Indonesia adalah Jakarta". Bertrand Russel adalah eksponen teori ini. Teori kebenaran pragmatis (fungsional) menyatakan suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis (memiliki kegunaan praktis). Pencetus teori ini adalah Charles S. Peirce. III Ontologi: Hakikat Apa yang dikaji 6. Metafisika Beberapa Tafsiran Metafisika Pertama, terdapat wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Misalnya yang terkait supernatural ini adalah faham yang paling tua umurnya, yakni animisme (percaya adanya rohroh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda). Kedua, terdapat wujud yang bersifat materi (tidak gaib), gejala-gejala alam disebabkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari yang akhirnya dapat diketahui. Fahamnya disebut faham naturalisme. Adapun materialisme merupakan faham berdasarkan naturalisme. Prinsip-prinsip ini dikembangkan oleh Democritus dengan mengembangkan teori atom yang didapat dari gurunya, Leucippus. Terdapat pendapat berbeda bila gejala alam didekati dari segi proses kimia-fisika. Bagi kaum mekanistik, gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika belaka. Sedangkan bagi kaum vitalistik, hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan prosesnya sendiri. Demikian pun mengenai masalah pikiran (kesadaran) dan zat (objek yang dipikirkan). Aliran monistik berpendapat bahwa pikiran dan zat (objek yang dipikirkan) itu sama
6

substansinya, yang membedakan adalah gejala yang disebabkan oleh proses yang berlainan. Tokoh aliran ini adalah Christian Wolff. Sedangkan aliran dualistik berpendapat bahwa pikiran (kesadaran) dan zat itu berbeda secara substantif. Tokoh aliran ini adalah Rene Descartes, John Locke, dan George Berkeley. Mereka berpendapat bahwa apa yang ditangkap manusia, termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia bersifat mental. Bagi Descartes, yang bersifat nyata adalah pikiran karena dengan berpikir manusia itu ada, cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada). Locke menganggap pikiran manusia pada mulanya ibarat tabula rasa, lempeng lilin yang licin tempat pengalaman indera melekat pada lempeng tersebut. Berkeley sendiri berpendapat bahawa hakekat ada adalah disebabkan persepsi (to be is to be perceived). Jadi, pada dasarnya tiap ilmuwan boleh memiliki filsafat individual yang berbeda. Ia bisa menganut faham mekanistik, vitalistik, materialistik Thomas Hobbes atau idealitik George Berkeley. Titik pertemuan kaum ilmuwan dari semua itu adalah sifat pragmatis dari ilmu. 7. Asumsi Asumsi adalah dugaan. Dalam kaitannya dengan gejala alam terdapat faham yang berbeda, yakni faham determinisme (gejala alam dikendalikan oleh hukum alam yang bersifat universal), faham undeterminisme (pilihan bebas, gejala alam akibat pilihan bebas manusia tanpa kendali hukum alam), dan faham probalistik (berupa peluang, posisi tengah antara hukum kejadian berlaku bagi seluruh manusia atau khusus bagi manusia secara individul saja). Faham determinisme dikembangkan oleh Willian Hamilton dari doktrin Thomas Hobbes yang menyimpulkan bahwa pengetahuan itu bersifat empiris, dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu. Juga lawan dari faham aliran bebas yang menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya, tidak terikat kepada hukum alam yang tidak memberikan alternatif. Dalam kaitannya dengan ilmu, di antara kutub determinisme dan kutub pilihan bebas, ilmu menjatuhkan pilihannya terhadap penafsiran yang bersifat probalistik. Ilmu sebagai pengetahuan yang berfungsi membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis seharihari, tidak perlu memiliki kemutlakan seperti agama (yang memberikan pedoman terhadap hal-hal yang paling hakiki dari kehidupan) dan juga keunikan personal dan individual seperti upaya seni yang tidak bersifat praktis. Jadi, sampai tahap tertentu ilmu perlu memiliki keabsahan dalam melakukan generalisasi. 8. Peluang Sebagaimana sebelumnya posisi ilmu berada pada posisi probalistik (bersifat berpeluang), Ilmu tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Ilmu digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang keputusan itu harus didasarkan pada penafsiran simpulan ilmiah yang bersifat relatif. 9. Beberapa Asumsi dalam Ilmu Terdapat asumsi dalam ilmu. Asumsi manusia terhadap atap rumah dengan asumsi amuba berbeda. Menurut manusia atap rumah itu datar, sedangkan menurut amuba bergelombang. Dalam kaitannya dengan analisis mekanistik (empat komponen analisis utama) terdapat asumsi berbeda. Newton berpendapat zat, gerak, dan waktu bersifat absolut. Sedangkan Einstein berasumsi bahwa keempat komponen tersebut bersifat relatif.
7

Jadi, asumsi yang ada itu dapat bersifat terbatas bagi manusia, bergantung pada konteks, ruang, dan waktu. Ialu bersifat otonom dalam bidang kajiannya masing-masing, tetapi berfederasi dalam pendekatan multidisipliner. Dengan demikian dalam mengembangkan asumsi ini, harus diperhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Juga harus bersifat operasional dan menjadi dasar dari pengkajian teoretis. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya (asumsi yang mendasari telaah ilmiah), bukan bagaimana keadaan yang seharusnya (asumsi yang mendasari telaah moral). Seorang ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis keilmuannya, sebab mempergunakan asumsi yang berbeda, berarti mempergunakan konsep pemikiran yang berbeda pula. 10. Batas-batas Penjelajahan Ilmu Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia (yang bersifat empiris). Ilmu hanya membatasi hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman manusia, sehingga jika berbicara masalah di luar pengalaman manusia perlu ditanyakan kepada agama. Ilmu hanya berwenang menentukan benar-salah suatu pernyataan dalam batas pengalaman manusia. Sedangkan mengenai baik-buruk diserahkan pada moral dan indahjelek diserahkan pada estetik. Tetapi, ilmu tetap perlu bimbingan agama, moral, dan estetik. Cabang-cabang Ilmu Ilmu berkembang dengan pesat, demikian pun dengan cabang-cabangnya. Diperkirakan terdapat 650 cabang keilmuwan yang sebagaian besar belum diketahui oleh orang-orang awam. Pada mulanya ilmu-ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang berkembang menjadi ilmu alam dan filsafat sosial yang berkembang menjadi ilmu sosial. Ilmu alam bercabang menjadi dua, ilmu alam sendiri dan ilmu hayat. Ilmu sosial pun bercabang. Cabang utamanya yakni antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, ilmu politik. Lalu tiap cabang ilmu tersebut berkembang menjadi beberapa cabang lagi. Di samping ilmu-ilmu alam dan sosial, pengetahuan mencakup juga humaniora (seni, filsafat, agama, bahasa, dan sejarah) serta matematika (cara berpikir deduktif). IV Epistimologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar 11. Jarum Sejarah Pengetahuan Objek pengetahuan pada mulanya menyatu dalam satu kesamaan/kesatuan dalam batas-batas yang belum jelas. Konsep dasarnya baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya abad pertengahan (abad ke-17 M). Dengan berkembangnya abad pertengahan, maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada perbedaan. Mulailah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan. Makin ciutnya kapling disiplin keilmuan itu bukan tidak menimbulkan masalah, sebab dalam kehidupan nyata justru menimbulkan masalah. Untuk memecahkan masalah tersebut digunakan pendekatan interdisipliner dengan tidak mengaburkan otonomi masing-masing disiplin keilmuan yang telah berkembang berdasarkan rutenya masing-masing. Setelah Perang Dunia II (PD II) muncullah paradigma "konsep sistem" yang diharapkan menjadi alat untuk mengadakan pengkajian bersama antardisiplin keilmuan. Pendekatan interdisipliner dijadikan seperti federasi yang diikat oleh suatu pendekatan tertentu, yang tiap disiplin ilmu dengan otonominya masing-masing saling menyumbangkan analisisnya dalam kajian objek yang menjadi telaah bersama.
8

12. Pengetahuan Pengetahuan adalah segenap apa yang diketahui oleh manusia tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu. Jadi, ilmu bagian dari pengetahuan. Hanya suatu pengetahuan disebut ilmu jika memiliki sistematika ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah, empiris, objektif, dan sistemik serta bersifat umum dan impersonal. Manusia masih memerlukan pengetahuan untuk memperkaya dan memenuhi kehidupannya bagaimanapun majunya ilmu secara hakiki, sebab ilmu terbatas dan tidak lengkap. 13. Metode Ilmiah Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah. Syarat pengetahuan menjadi ilmu tercantum dalam metode yang disebut metode ilmiah. Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang memiliki langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Metodologi secara filsafati termasuk dalam epistimologi (pembahasan bagaimana memperoleh pengetahuan). Metode ilmiah merupakan ekspresi cara bekerja pikiran. Dengan cara bekerja pikiran ini, pengetahuan dihasilkan dan memiliki sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini, metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif (berdasarkan kriteria kebanaran koherensi) dan induktif (berdasarkan kebenaran korespondensi) dalam membangun tubuh pengetahuannya. Dalam langkah-langkah metode ilmiah, pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris. Secara rasional ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan antara pengetahuan yang sesuai dengan fakta dengan yang tidak. Secara sederhana semua teori ilmiah harus memenuhi dua syarat utama: (a) harus konsisten dengan teori sebelumnya yang tidak memungkinkan terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan dan (b) harus cocok dengan fakta-fakta empiris. Jadi, logika ilmiah merupakan gabungan antara logika dediktif dan logika induktif yang rasionalisme dan empirisme hidup berdampingan dalam sebuah sistem dengan mekanisme korektif. Adapun kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batasbatasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya; (2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan; (3) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dan kerangka berpikir yang dikembangkan; (4) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak;
9

(5) Penarikan simpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis, maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung hipotesis, maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah, sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan, yakni mempunyai kerangka penjelasan konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran di sini harus ditafsirkan pragmatis artinya bahwa sampai saat ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya. Hubungan langkah satu dengan langkah lainnya tidak terikat secara statis, tetapi bersifat dinamis. Selain itu, langkah-langkah metode ilmiah ini harus dijadikan dasar dan sesuatu yang penting bagi ilmuwan dalam melancarkan kritik terhadap suatu penyelidikan dan dalam mendidik calon ilmuwan. Perbedaan metode ilmiah dengan metode pengetahuan lainnya menurut Jacob Bronowski bahwa metode ilmiah bersifat sistemik dan eksplisit. 14. Struktur Pengetahuan Ilmiah Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengetahuan ilmiah adalah istilah lain dari struktur ilmu. Sedangkan struktur pengetahuan ilmiah adalah struktur/bangunan yang dibentuk dari proses yang berdasarkan metode ilmiah. Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada. Pada dasarnya ilmu dibangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit para ilmuwan memberikan sumbangannya menurut kemampuannya masing-masing. Pengetahuan ilmiah pada hakekatnya memiliki tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Secara garis besar, terdapat empat jenis pola penjelasan, yakni penjelasan deduktif, probabilistik (yang ditarik secara induktif), fungsional atau teleologis (meletakkan unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan), dan genetik (mengaitkan faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian). Pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan disebut teori. Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum. Hukum itu sendiri pada hakekatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih alam suatu kaitan sebab- akibat. Secara mudah dapat dikatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan mengapa suatu gejala terjadi. Sedangkan hukum untuk meramalkan tentang apa yang mungkin terjadi. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini merupakan alat yang dipergunakan untuk mengontrol gejala alam. Keduanya harus memiliki tingkat keumuman yang tinggi atau secara idealnya bersifat universal. Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoretis baru dapat dikembangkan jika konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dari pengetahuan inilah dikenal konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan. Di samping hukum, dalam teori keilmuan juga dikenal kategori pernyataan yang disebut prinsip. Prinsip adalah pernyataan yang berlaku umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi, seperti hukum sebab-akibat sebuah gejala.
10

Dalam menyusun teorinya, beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan postulat. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenarannya diterima tanpa dituntut pembuktiannya. Sebuah postulat dapat diterima jika ramalan yang bertumpu kepada postulat itu kebenarannya dapat dibuktikan. Berbeda dengan asumsi. Asumsi kebenarannya harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. V Sarana Berpikir Ilmiah 15. Sarana Berpikir Ilmiah Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah. Sarana adalah alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan tertentu. Sarana ilmiah memiliki fungsi-fungsi khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh. Sarana ilmiah dalam proses pendidikan merupakan bidang studi tersendiri. Akan tetapi, sarana ilmiah yang dimaksud adalah sarana berpikir ilmiah yang mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuannya yang berbeda dengan metode ilmiah. Sarana ilmiah pun diperuntukan untuk melakukan penelitian ilmiah secara baik. Adapun sarana-sarana ilmiah yang membantu proses metode ilmiah yaitu berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. 16. Bahasa Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Tanpa kemampuan bahasa, maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi yang selanjutnya. Manusia dapat berpikir dengan baik karena ia mempunyai bahasa. Bahasa memungkinkan manusia berpikir secara abstrak dengan mentransformasikan objek-objek faktual menjadi simbol-simbol yang abstrak. Bahasa memiliki aspek informatif dan emotif yang tercermin dalam bahasa yang dipergunakan. Jadi informasi yang disampaikan pada dasarnya mengandung unsur emotif (perasaan). Demikian pun perasaan yang diungkapkan mengandung unsur informatif (informasi). Bahasa mengkomunikasikan tiga hal; buah pikiran, perasaan, dan sikap atau seperti dinyatakan Kneller, bahasa dalam kehidupan manusia mempunyai fungsi simbolik, emotif, dan afektif. Dalam komunikasi ilmiah, yang lebih menonjol adalah unsur simbolik, bersifat antiseptik dan reproduktif. Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi, lambang yang kemudian lambanglambang disusun dan disebut dengan perbendaharaan kata. Bahasa terus berkembang seiring dengan pengalaman dan pemikiran manusia. Kekurangan bahasa sendiri berkaitan dengan multifungsi bahasa sebagai sarana komunikasi simbolik, emotif, dan afektif. Kedua, kekurangan bahasa terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Ketiga, sifat bahasa yang majemuk (plural), sebuah kata dapat memiliki lebih dari satu arti. Keempat, konotasi bahasa yang bersifat emosional sebagaimana disinggung sebelumnya. 17. Matematika Matematika sebagai Bahasa Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dan pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artificial, yang baru memiliki arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk, dan emosional dari bahasa verbal.
11

Sifat Kuantitatif dari Matematika Matematika memiliki kelebihan dibanding bahasa lain. Matematika megembangkan bahasa numerik yang memungkinkan manusia melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengannya matematika dapat meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu, sehingga ilmu dapat memberikan jawaban bersifat eksak yang memungkinkannya memecahkan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika: Sarana Berpikir Deduktif Matematika memiliki peranan penting dalam cara berpikir deduktif (proses pengambilan simpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan) untuk mendapatkan pengetahuan. Perkembangan Matematika Matematika pada mulanya adalah sebuah logika deduktif. Kemudian berkembang menjadi matematika yang merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Griffits dan Howson (1974) membagi sejarah perkembangan matematika menjadi empat tahap. Tahap yang pertama dimulai dengan matematika yang berkembang pada peradaban Mesir Kuno dan daerah sekitarnya seperti Babylonia dan Mesopotamia. Waktu itu matematika dipergunakan dalam perdagangan, pertanian, bangunan, mengontrol alam seperti banjir. Para pendeta Mesir Kuno mempunyai keahlian dalam bidang matematika yang sangat dihargai dalam masyarakat yang mengaitkan aspek praktis dan matematika dengan aspek mistik keagamaan. Di samping kegunaan praktis ini, aspek estetik juga dikembangkan matematika sebagai kegiatan intelektul dalam kegiatan berpikir yang penuh kreatif. Walaupun demikian, dari budayaan Mesir Kuno ini, aspek praktis dari matematika inilah yang merupakan tujuan utama. Hal yang sama juga berlangsung dalam peradaban di Mesopotamia dan Babylonia yang turut mengembangkan kegunan praktis dari matematika. Matematika mendapatkan momentum baru dalam peradaban yang sangat memperhatikan aspek estetik dari matematika. Dapat dikatakan bahwa peradaban Yunanilah yang meletakkan dasar matematika sebagai cara berpikir rasional dengan menetapkan berbagai bentuk definisi tertentu. Euclid pada 300 SM mengumpulkan semua pengetahuan ilmu ukur dalam bukunya Elements-dengan penyajian secara sistematis dari berbagai postulat, definisi, dan teorema. Kaum cendekiawan Yunani, terutama mereka yang kaya, mempunyai budak belian mengerjakan pekerjaan kasar termasuk hal-hal yang praktis seperti melakukan pengukuran. Dengan demikian, maka kaum cendekiawan ini memusatkan perhatiannya kepada aspek estetik dari matematika yang merupakan simbol status dari golongan atas waktu itu. Orang Yunani sangat memperhatikan ilmu ukur sebagaimana tercermin dalam bukunya Euclid tersebut. Babak perkembangan matematika selanjutnya terjadi di Timur pada sekitar tahun 1000, bangsa Arab, India, dan Cina mengembangkan ilmu hitung dan aljabar. Mereka mendapatkan angka nol dan cara penggunaan desimal serta membagi kegunaan praktis dan ilmu hitung dari aljabar tersebut. Waktu perdangan antara Timur dan Barat berkembang pada Abad Pertengahan, maka ilmu hitung dan aljabar ini telah dipergunakan dalam transaksi pertukaran. Gagasan-gagasan orang Yunani dan penemuan ilmu hitung dan aljabar itu dikaji kembali dalam zaman Renaissance yang meletakkan dasar bagi kemajuan matematika modem selanjutnya. Ditemukanlah di antaranya kalkulus diferensial yang memungkinkan kemajuan ilmu yang cepat di abad ke-17 dan revolusi industri di abad ke-18.
12

Bagi dunia keilmuan matematika berperan sebagai bahasa simbolik yang memungkinkan terwujudnya komunikasi yang cermat dan tepat. Matematika dalam hubungannya dengan komunikasi ilmiah mempunyai peranan ganda, kata Fehr, yakni sebagai ratu dan sekaligus pelayanan ini. Di satu pihak, sebagai ratu matematika merupakan bentuk tertinggi dari logika, sedangkan di lain pihak, sebagai pelayan matematika mencirikan bukan saja sistem pengorganisasian ilmu yang bersifat logis, tetapi juga pernyataan-pernyataan dalam bentuk model matematik. Matematika bukan saja menyampaikan informasi secara jelas dan tepat, tetapi juga singkat, sederhana, dan ekonomis. Sebagaimana sarana ilmiah maka matematika itu sendiri tidak mengandung kebenaran tentang sesuatu yang bersifat faktual mengenai dunia empiris. Matematika merupakan alat yang memungkinkan ditemukan serta dikomunikasikannya kebenaran ilmiah lewat berbagai disiplin keilmuan. Kriteria kebenaran dari matematika adalah konsistensi dari berbagai postulat, definisi, dan berbagai aturan permainan lainnya. Untuk itu, matematika sendiri tidak bersifat tunggal, seperti juga logika, melainkan bersifat jamak. Dengan mengubah salah satu postulatnya umpamanya, maka dapat dikembangkan sistem matematika yang baru sekali bila dibandingkan dengan sistem sebelumnya. Semula memang dianggap bahwa hanya terdapat satu sistem matematika yang perubahan dari postulat-postulatnya akan mengakibatkan terjadinya inkonsisten. Namun, hal ini ternyata tidak benar sebagaimana terjadi dengan ilmu ukur Euclid. Perubahan salah satu postulat Euclid tersebut yang semula berbunyi dari satu titik di luar sebuah garis hanya dapat ditarik satu garis sejajar dengan garis tersebut menjadi dari satu titik di luar sebuah garis dan ditarik ganis-garis sejajar dengan garis tersebut yang jumlahnya tak terhingga, ternyata tidak menimbulkan inkonsistensi, malah menimbulkan sistem matematika baru yang sama sekali berbeda dengan ilmu ukur Euclid. Sistem matematika yang baru ini dikenal sebagai Ilmu Ukur Non-Euclid yang sudah dikemukakan oleh Gauss (1777-1855) pada tahun 1979 dan dikembangkan oleh Lobachevski (1793-1856), Bolyai (1802-1860) dan Riemann (1826-1866). Ilmu Ukur Non-Euclid ini mulanya hanya merupakan sesuatu yang bersifat akademis dan baru menemukan kegunaannya waktu Einstein menyusun Teori Relativitas. Adanya dua sistem ilmu ukur yang keduanya bersifat konsisten ini bukan berarti bahwa sistem Ilmu Ukur Euclid atau Ilmu Ukur Non-Euclid ini bersifat benar atau salah, sebab hal ini harus dilihat dalam ruang lingkupnya masing-masing. Matematika bukanlah merupakan pengetahuan mengenai objek tertentu melainkan cara berpikir untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Jika objek yang ditelaah itu mempunyai ciri yang cocok dengan postulat Euclid umpamanya dalam bidang mekanika kiasik Newton, maka jelas bahwa Ilmu ukur nonEuclid ini tidak dapat digunakan. Sedangkan dalam pengkajian mengenai alam semesta, cahaya menjadi garis lengkung bersama tarikan gravitasi dan jarak terdekat antara dua objek tidak lagi merupakan garis lurus, maka dalam hal ini berpaling kepada ilmu ukur non-Euclid. Jadi, kedua sistem ilmu ini berlaku bergantung dari postulat yang dipergunakannya. Beberapa Aliran dalam Filsafat Matematika Ada dua pendapat tentang matematika, yakni dari Immanuel Kant (1724 - 1804) yang berpendapat bahwa matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik apriori yang eksistensi matematika bergantung pada pancaindera serta pendapat dan aliran yang disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika ini merupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Akhir-akhir ini filsafat Kant tentang matematika ini mendapat momentum baru dalam aliran yang disebut intuisionis dengan eksponen utamanya adalah seorang ahli material berkebangsaan Belanda bernama Jan Brouwer (1881-1966).
13

Di samping dua aliran ini terdapat pula aliran ketiga yang dipelopori oleh David Hubert (1862-1943) dan terkenal dengan sebutan kaum formalis. Tesis utama kaum logistik adalah bahwa matematika murni merupakan cabang dari logika. Tesis ini mula-mula dikemnbangkan oleh Gottlob Frege (1848-1925) yang menyatakan bahwa hukum bilangan (the law number) dapat direduksikan ke dalam proposisi-proposisi logika. Russel dan Whitehead, dalam bukunya Principia Mathematica, melangkah lebih jauh dari Frege dan mencoba untuk membuktikan bahwa matematika seluruhnya dapat direduksikan ke dalam proposisi logika. Russell Whitehead berhasil menyelesaikan pembuktian ini, meskipun di sistem bilangan mereka dituduh mengembangkan berbagai asumsi yang kurang dapat diterima. Kaum formalis menolak anggapan kaum logistik ini yang menyatakan bahwa konsep matematika dapat direduksikan menjadi konsep logika. Mereka berpendapat bahwa banyak masalah-masalah dalam bidang logika yang sama sekali tidak ada hubunganya dengan matematika. Bagi mereka matematika merupakan pengetahuan tentang struktur formal dan lambang. Kaum formalis menekankan kepada aspek formal dari matematika sebagai bahasa perlambang (sign-language) dan mengusahakan konsistensi dalam penggunaan matematika sebagai bahasa lambang. Usaha kaum formalis ini belum banyak membawa basil. Pengetahuan kita tentang bilangan, kata Frege, merupakan pengertian rasional yang bersifat apriori yang dipahami lewat mata penalaran (the eye of reason) yang memandang jauh ke dalam &struktur hakikat bilangan. Hal ini ditentang oleh kaum intuisionis yang menyatakan lewat Brouwer bahwa intuisi murni dari berhitung merupakan titik tolak tentang matematika bilangan. Hakekat sebuah bilangan harus dapat dibentuk melalui kegiatan intuitif dalam berhitung (counting) dan menghitung (calculating). Dengan demikian, maka pernyataan George Cantor (1845-1918) yang menyatakan bahwa lebih banyak bilangan nyata (real number) dibandingkan bilangan asli (natural number) ditolak oleh kaum intusionis. Hal ini menyebabkan banyak sekali bagian dari matematika secara kumulatif telah diterima harus ditolak dan matematika itu sendiri harus ditulis kembali secara rumit sekali. Dengan demikian, tampak jelas bahwa tidak satu pun dari ketiga aliran dalam filsafat matematika ini sepenuhnya berhasil dalam usahanya. Walaupun demikian, perbedaan pandangan ini tidak melemahkan perkembangan matematika, justru sebaliknya, yang satu aliran memberi inspirasi kepada aliran-aliran lainnya dalam titik-titik pertemuan yang disebut Black sebagai kompromi yang bersifat eklektik (eclectic compromise). Kaum logistik mempergunakan sistem simbol yang diperkembangkan oleh kaum formalis dalam kegiatan analisisnya. Kaum intuisionis memberikan titik tolak dalam mempelajari matematika dalam perspektif kebudayaan suatu masyarakat tertentu yang memungkinkan diperkembangkannya filsafat pendidikan matematika yang sesuai. Ketiga pendekatan dalam matematika ini, lewat pemahamannya masing-masing, memperkukuh matematika sebagal sarana kegiatan berpikir deduktif. Matematika dan Peradaban Matematika dapat dikatakan hampir sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Sekitar 3500 tahun SM bangsa Mesir Kuno telah mempunyai simbol yang melambangkan angka-angka. Para pendeta mereka adalah ahli matematika yang pertama. Mereka menyembunyikan pengetahuan matematika dan menyebutnya pengetahuan keramat untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Matematika tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Bagi ilmu sendiri, matematika menyebabkan perkembangan yang sangat cepat.

14

18. Statistika Statistika dan Cara Berpikir Induktif Statistika memiliki peranan penting dalam cara berpikir induktif. Statistika merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan simpulan induktif (dari kasus-kasus yang bersifat individual ke yang umum sifatnya) secara lebih seksama. Berbeda denga deduktif. Dalam penalaran induktif, meskipun premis-premisnya benar dan porosedur penarikan simpulannya sah, maka simpulannya belum tentu benar, tetapi simpulan itu dapat dikatakan berpeluang untuk benar secara eksak. Statistika memberikan cara untuk dapat menarik simpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian tinggi dengan semakin banyaknya contoh yang diambil. Dengan demikian, ketelitian simpulannya akan semakin tinggi pula terhadap permasalahan yang beragam. Karakteristik Berpikir Induktif Logika induktif tidak memberikan kepastian, tetapi sekadar tingkat peluang bahwa untuk pemis-premis tertentu dapat ditarik, sehingga simpulan yang ditarik secara induktif, meskipun premis yang dipakainya benar dan penalaran induktifnya benar, tetapi simpulannya belum tentu benar. Jadi, mungkin salah juga mungkin benar. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian kembali dengan mengumpulkan fakta atau contoh-contoh yang cukup, sehingga mendapat tingkat peluang yang sangat tinggi dan tingkat kekeliruan yang sangat kecil. Dengan penguasaan statistika yang baik, maka tingkat keberhasilan untuk berpikir induktif dan simpulan atau peluang yang didapat akan baik pula. VI Aksiologi: Nilai Kegunaan Ilmu 19. Ilmu dan Moral Sebenarnya sejak pertumbuhan ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral, namun dalam perspektif yang berbeda. Tanpa moral, maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dalam melakukan prostitusi intelektual. 20. Tanggung jawab Sosial Ilmuwan Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Lalu ilmu itu dimanfaatkan oleh masyarakat. Penciptaan ilmu itu sendiri bersifat individual sedangkan penggunaan ilmu itu bersifat sosial. Peranan individu ilmuwan begitu menonjol hingga mempengaruhi peradaban manusia, seperti halnya penemuan lampu pijar oleh Thomas Alfa Edison. Ilmuwan ikut bertanggung jawab tidak hanya secara individual, tetapi secara sosial agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan secara baik dan benar oleh masyarakat secara luas. Dapat dikatakan bahwa ilmu itu netral, sedangkan ilmuwan sendiri tidak, karena ilmuwan dipengaruhi oleh nilai-nilai tertentu. Kelebihan ilmuwan yang memiliki jalan pikiran yang teratur dan cermat inilah yang menyebabkan ilmuwan memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk menyampaikan penjelasan kepada orang-orang awam agar mereka tidak keliru dalam memahami dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapai. Ilmuwan terutama pada masa krisis multidimensi ini- harus menjadi suri teladan dan harus tampil di depan memberi contoh bagaimana bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggapnya benar, berani menerima kesalahan.
15

21. Nuklir dan Pilihan Moral Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahan yang menurut mereka melanggar asas-asas kemanusiaan. Ilmu pengetahuan dan teknologi (dalam hal ini nuklir) bagai pisau bermata dua. Oleh karena itu, diperlukan landasan moral yang kukuh untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi secara konstruktif untuk kemaslahatan manusia. 22. Revolusi Genetika Revolusi genetika merupakan babak baru dalam sejarah keilmuan manusia. Revolusi genetika pada jasad manusia pun merupakan sesuatu yang baru, sehingga membawa kepada permasalahan moral yang tak berkesudahan. Revolusi genetika pada manusia menjadikan manusia sebagai objek eksperimen. Meskipun revolusi genetika akan dipergunakan dengan itikad baik untuk keluhuran manusia. Akan tetapi, jika digunakan untuk kepentingan individual dan untuk tujuan destruktif tentu tidak ada garansinya, malah semakin besar keburukannya karena genetik manusia dijadikan percobaan, padahal derajat manusia tidak ditentukan oleh atribut fisiknya, tetapi moral atau amal perbuatannya. Simpulan yang dapat ditarik bahwa revolusi genetika pada manusia harus ditolak. VII Ilmu dan Kebudayaan 23. Manusia dan Kebudayaan Kebudayaan didefinisikan pertama kali oleh E.B.Taylor, kemudian Kroeber dan Kluckholn. Definisi kebudayaan menurut Kuntjaraningrat tidak berbeda jauh, khususnya dengan E.B.Taylor. Pada prinsipnya definisi kebudayaan yang didefinisikan oleh mereka semua sama, yakni mencakup sistem religi, upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, kesenian, adat-kebiasaan, bahasa, dan sistem mata pencaharian. Hanya saja Kuntjaraningrat menambahkan dengan sistem teknologi dan peralatan. Kebudayaan muncul karena manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang banyak sekali, baik terkait naluri maupun jasmani. Pilihan nilai budilah yang menentukan tujuan dan isi kebudayaannya. Kemudian nilai-nilai budaya menjadi jiwa bagi kebudayaan dan segenap wujud kebudayaannya. Wujud kebudayaan salah satunya diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Nilai budaya dan tata hidup itu ditopang oleh wujud kebudayaan lain yang berbentuk sarana fisik kebudayaan, yang merupakan produk dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan dan Pendidikan Keseluruhan fase kebudayaan sebelumnya memiliki kaitan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, karena materi yang terkandung dalam kebudayaan dari generasi ke generasi diperoleh manusia secara sadar melalui proses belajar. Allport, Vernon, dan Lindzey (1951) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan, yakni nilai teori (hakekat penemuan kebenaran melalui berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme, dan metode ilmiah), nilai ekonomi (mencakup kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia), nilai estetika (berhubungan dengan keindahan dan segi-segi artistik yang menyangkut bentuk, harmoni, dan wujud kesenian lain yang memeberi kenikmatan bagi manusia), nilai sosial (berorientasi kepada hubungan antarmanusia dan penekanan segi-segi kemanusiaan yang luhur), nilai politik (berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia politik), dan agama (merengkuh penghayatan yang bersifat mistik dan transendental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi).
16

Pendidikan yang dapat diartikan secara luas sebagai usaha sadar dan sistematis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian, dan kemampuan fisiknya, mengharuskan siapa pun untuk mengkaji masalah nilai-nilai budaya yang harus dikembangkan. Hal ini harus dilakukan karena a) nilainilai budaya yang hendak dikembangkan harus relevan dengan kurun zaman b) usaha pendidikan yang sadar dan sistematis mengharuskan untuk lebih eksplisit dan definitif, karena gejala kebudayaan yang besifat tersembunyi, sehingga perlu pengenalan dan pendalaman yang sadar agar tidak menerima aspek kebudayaan begitu saja tanpa filter. Untuk menentukan nilai-nilai mana yang patut mendapatkan perhatian, maka pertama kali harus dapat memperkirakan skenario dari masyarakat pada masa yang akan datang. Skenario masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang memperhatikan indikator dan perkembangan yang sekarang ada, cenderung memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) Memperhatkan tujuan dan strategi pembangunan nasional, maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat tradisional yang rural agraris menjadi masyarakat modern yang urban dan bersifat industri (2) Pengemabangan kebudayaan ditujukan ke arah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Dibandingkan dengan masyarakat tradisional, maka masyarakat modern memiliki indikator-indikator: (a) lebih bersifat analitik, yang sebagian besar aspek kehidupan masyarakat didasarkan pada asas efisiensi, baik bersifat teknis maupun ekonomis. Indikator ini memberikan tempat penting kepada nilai teori dan nilai ekonomi, terutama terkait aspek penalaran, ilmu, dan teknologi (b) lebih bersifat individual daripada komunal, terutama ditinjau dari pengembangan potensi manusiawi dan masalah survival. Indikator ini menimbulkan pergeseran dalam nilai sosial dan nilai kekuasaan (politik). Kedua nilai harus lebih berorientasi kepada kepercayaan pada diri sendiri serta keberanian untuk mengambil keputusan sendiri. Kenyataan yang ada masyarakat sekarang umumnya lebih cenderung kepada intuisi, perasaaan, dan tradisi. Sedangkan masyarakat modern secara khusus lebih dominan menggunakan kekuatan berpikir dibandingkan intuisi, perasaan, dan tradisi. Pengembangan kebudayaan nasional ditujukan ke arah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. Untuk mewujudkannya diperlukan nilai khusus yang bernama kreativitas (kemampuan baru untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah). Nilai ini bersifat mendorong ke arah pengembangan segenap potensi kebudayaan dalam mewujudkan peradaban yang khas. Dalam proses pengembangan kebudayaan, nilai estetika memiliki kedudukan yang khusus, bukan saja merupakan ekspresi yang menyimak keindahan yang memperkaya khazanah batin, namun juga berfungsi sebagai media yang memperhalus budi pekerti. Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan. Hakekat semua kebudayaan manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia agar tidak terjadi dekadensi moral. Dalam hal ini agama memberikan kompas dan tujuan. Kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak memberikan kebahagiaan hakiki menyebabkan manusia kembali kepada nilai-nilai agama. Seni yang bersifat nisbi dan agama yang bersifat absolut dengan ilmu saling melengkapi. Menurut Albert Einstein, ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan generasi manusia modern yang bertakwa, terdidik, bermoral luhur, memiliki estetika, memiliki usaha keras untuk maju dengan usaha sendiri, yang hidup dengan keseluruhan kemanusiaan secara intens.

17

24. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Kebudayaan di sini merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup, dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Adapun kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa, baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling bergantung dan saling mempengaruhi. Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional, ilmu mempunyai peranan ganda yang saling terpadu dan sukar dibedakan, menjadi sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan kebudayaan nasional dan menjadi sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa. Pengkajian pengembangan kebudayaan nasional ini tidak dapat dilepaskan dari pengembangan ilmu. Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir Ilmu merupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut berpikir ilmiah. Ilmu pun merupakan cara berpikir dalam menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan Dari hakekat berpikir ilmiah dapat ditarik simpulan beberapa karakteristik ilmu itu: (1) ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, (2) alur jalan pikiran yang logis dan konsisten dengan pengetahuan yang telah ada, (3) pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif, (4) mekanisme yang terbuka terhadap koreksi. Dengan demikian, manfaat nilai yang dapat ditarik dari karakteristik ilmu ialah sifat rasional, logis, objektif, dan terbuka. Ilmu Sebagai Asas Moral Secara sederhana ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran yang universal. Dengan demikian, yang menjadi asas moralnya dari ilmu itu adalah kebenaran dan keuniversalan. Nilai-nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Pengembangan kebudayaan nasional pada hakekatnya adalah perubahan dari kebudayaan yang sekarang bersifat konvensional ke arah situasi kebudayaan yang lebih mencerminkan aspirasi dan tujuan nasional. Proses pengembangan kebudayaan ini pada dasarnya merupakan penafsiran kembali dari nilai-nilai konvensional agar sesuai dengan tuntutan zaman serta penumbuhan nilai-nilai baru yang fungsional. Untuk terlaksananya kedua proses dalam pengembangan kebudayaan nasional tersebut diperlukan sifat kritis, rasional, logis, objektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal (nilai-nilai ilmiah). Ke Arah Peningkatan Peranan Keilmuan Disadari bahwa keadaan masyarakat kita sekarang masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi kepada ilmu. Bahkan, dalam masyarakat yang telah terdidik pun ilmu masih merupakan koleksi teori-teori yang bersifat akademik yang sama sekali tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang sistematik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagaimana tercakup di bawah ini. Pertama, ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkahlangkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat.
18

Kedua, ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran, disamping cara-cara lain yang sah sesuai dengan lingkup pendekatan dan permasalahannya masingmasing. Ketiga, asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya terhadap metode yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut. Keempat, pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral. Kelima, pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat, terutama yang menyangkut keilmuan, seperti filsafat ilmu. Keenam, kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. Akan tetapi, bukan terlepas sama sekali dari kontrol pemerintah dan masyarakat. 25. Dua Pola Kebudayaan Tak dapat disangkal terdapat dua pola perbedaan kebudayaan berdasarkan kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu ke dalam dua golongan, yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Akan tetapi, perbedaan ini hanyalah bersifat teknis yang tidak menjurus kepada perbedaan yang fundamental. Dasar ontologis, epistimologis, dan aksiologis dari kedua ilmu tersebut sama, demikian pun metode yang dipergunakannya. Hanya saja ilmu-ilmu alam lebih maju dalam analisis kuantitatif dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial. Ilmu-ilmu sosial memiliki lebih banyak variabel karena permasalahan manusia yang lebih kompleks, misalnya mengukur aspirasi dan emosi seorang manusia dibandingkan mengukur panjang sebuah logam. Adanya dua kebudayaan yang terbagi ke dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial ini sayangnya masih terdapat di Indonesia. Hal ini dicerminkan adanya jurusan Pasti-Alam dan Sosial-Budaya. Bagi yang menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan yang mencakup ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, maka dualisme kebudayaan ini harus dibongkar atau dihilangkan. VIII Ilmu dan Bahasa 26. Tentang Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetahuan atau Sains? Dua Jenis Ketahuan Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra, dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk "ketahuan" umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah, dan filsafat. Terminologi ketahuan ini adalah terminologi artifisial yang bersifat sementara sebagai alat analisis yang pada pokoknya diartikan sebagai keseluruhan bentuk dari produk kegiatan manusia dalam usaha untuk mengetahui sesuatu. Dalam bahasa Inggris sinonim dari ketahuan ini adalah knowledge. Dapat pula knowledge ini disebut pengetahuan yang merupakan terminologi generik, sehingga mencakup segenap bentuk yang diketahui, seperti filsafat, ekonomi, seni, bela diri, cara menyulam, biologi, matematika, dan lain-lain. Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok pengetahuan ini, terdapat tiga kriteria sebagai berikut: (a) Apakah objek yang ditelaah yang membuahkan pengetahuan tersebut? Kriteria ini disebut objek ontologis. (b) Cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan tersebut (bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu?). Kriteria ini disebut objek epistimologis. (c) Untuk apa pengetahuan ini dipergunakan atau nilai kegunaan apa yang dipunyai olehnya? Kriteria ini disebut landasan aksiologis.
19

Salah satu bentuk pengetahaun ditandai dengan: (1) objek ontologis: pengalaman manusia, yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat pancaindera atau alat yang membantu kemampuan panca indera. (2) Landasan epistimologis: metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hypotetico-verifikasi. (3) Landasan aksiologis: kemaslahatan manusia artinya segenap wujud pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia. Jadi, pengetahuan (knowledge) yang memiliki ketiga kriteria di atas dalam bahasa Inggris disebut science (ilmu pengetahuan), pengetahuan yang bersifat spesifik (khusus).

Beberapa Alternatif Alternatif pertama adalah menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge seperti yang umum digunakan sekarang ini. Pengetahuan ilmiah dapat diartikan scientific knowledge yang dalam bahasa Inggris sama dengan science; sedangkan ke-ilmu-pengetahu-an rasanya terlampau dilebih-lebihkan. Selain itu tidak konsekuennya mempergunakan terminologi ilmu pengetahuan untuk science, biologi disebut ilmu hayat, sedangkan fisika disebut ilmu pengetahuan alam. Alternatif kedua didasarkan pada asumsi bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah dua kata benda, yakni ilmu dan pengetahuan. Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Dengan demikian, maka social science dapat diterjemahkan dengan ilmuilmu sosial (termasuk humaniora: seni, filsafat, bahasa, dsb) dan natural science dengan ilmuilmu alam. Kata sifat dari ilmu adalah ilmiah atau keilmuan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ilmiah (keilmuan) adalah metode ilmiah (keilmuan). Ahli dalam bidang keilmuan adalah ilmuwan. Sains: Adopsi yang kurang dapat dipertanggungjawabkan Sains adalah terminologi yang dipinjam dari bahasa Inggris, yakni science. Adopsi ini dianggap tidak perlu, karena pembentukan kata sifat dengan kata dasar sains ini adalah agak janggal dalam struktur bahasa Indonesia. Science, sekiranya sains adalah sinonim dengan science, adalah ke-sains-an atau saintifik. Scientist adalah sainswan atau saintis (sic). Keberatan kedua adalah ilmu-ilmu sosial bukanlah science; atau preferensi utama penggunaan kata science adalah untuk ilmu-ilmu alam. Keduanya dianggap tidak memiliki struktur dan logika bahasa yang jelas. Oleh karena itu, baiknya menyimak pendapat Wittgenstein: Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan yang terkandung dalam karya filsafat adalah tidak salah, namun nonsensical. Konsekuensinya adalah bahwa kita tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam ini, melainkan hanya mampu menunjukkan bahwa itu adalah nonsensical. Kebanyakan dari pernyataan dan pertanyaan dalam filsafat ditimbulkan oleh kegagalan kita untuk memahami logika dari bahasa kita sendiri. 27. Quo Vadis? Ketidakkonsistenan penggunaan ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge tampak pada penggunaan kata ilmu kebatinan yang sebetulnya bukan ilmu, melainkan pengetahuan. Dengan menggunakan ilmu pengetahuan untuk scientific knowledge, ilmu untuk knowledge dan pengetahuan untuk science, maka harus diadakan beberapa penyesuaian antara lain (1) metode ilmiah harus diganti dengan metode pengetahuan, (2) ilmu-ilmu sosial (the social science) harus diganti dengan pengetahuan-pengetahuan sosial atau ilmu-ilmu
20

pengetahuan sosial, dan (3) ilmuwan harus diganti dengan ahli pengetahuan. Keadaan ini jauh lebih baik daripada kekacauan semantik sekarang dengan terminologi ilmu pengetahuan yang bersifat ambivalen, asalkan dilakukan dengan cara konsisten. Untuk itu penulis buku menyarankan kepada LIPI untuk melakukan tindak lanjut dari KIPNAS III dengan mengadakan pertemuan secara lebih khusus membahas masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam konferensi lalu. Dengan demikian, terminologi-terminologi yang berkaitan dengan dunia keilmuan secara tuntas dapat dijernihkan. 28. Politik Bahasa Nasional Bahasa pada hakekatnya mempunyai dua fungsi utama, yakni (a) sebagai sarana komunikasi antarmanusia (disebut juga fungsi komunikatif) dan (b) sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut (disebut juga fungsi kohesif dan integratif). Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya. Fungsi kedua terwujud pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bangsa Indonesia telah memilih bahasa Indonesia sebagai nasional untuk lebih menekankan fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana untuk mengintegrasikan berbagai suku ke dalam satu bangsa, yakni Indonesia. Sebagai alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup unsur, yakni (a) bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif), (b) berkonotasi sikap (afektif), dan (3) berkonotasi pikiran (penalaran). Kedua fungsi bahasa, yakni fungsi komunikatif dan fungsi kohesif memiliki kaitan erat dan bahkan harus diprioritaskan untuk semua kelompok daripada fungsi afektif dan emotif yang hanya diterima oleh satu kelompok. Agar dapat mencerminkan kemajuan zaman, maka fungsi komunikasi bahasa harus secara terus-menerus dikembangkan. Untuk itu, maka bahasa Indonesia harus diarahkan agar menghimpun khasanah kata-kata yang terabaik dari seluruh bahasa daerah di Indonesia. Perkembangan bahasa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sektor-sektor lain yang juga tumbuh dan berkembang. Sekiranya bahasa berkembang terisolasi dari perkembangan sektor-sektor lain, maka bahasa mungkin bersifat tidak berfungsi dan bahkan kontra produktif. Oleh karena itu, harus ada upaya untuk lebih memasyarakatkan ilmu di kalangan masyarakat luas dan kaum muda agar tercipta keadilan atau kesetaraan penggunaan bahasa antara ilmuwan dengan masyarakat. IX Penelitian dan Penulisan Ilmiah 29. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah Banyak sekali bentuk dan cara penulisan keilmuan yang dapat ditemui dalam berbagai pedoman penulisan, bergantung selera dan preferensi, masalah yang dikaji, pembaca, serta untuk tujuan apa karya ilmiah disampaikan. Bentuk luarnya dapat berbeda, tetapi jiwa dan penalarannya adalah sama. Dengan demikian yang lebih penting adalah bukan saja teknikteknik pelaksanaannya, melainkan memahami dasar pikiran yang melandasinya. Berdasarkan pemikiran tersebut, dicoba untuk membahas alur-alur jalan pikiran yang terdapat dalam sebuah penelitian ilmiah yang dikaitkan dengan proses penelitian. Dengan kata lain, hanya membahas rambu-rambu pikiran yang merupakan tema pokok sebuah proses penelitian. Tema tersebut dijabarkan secara logis dan kronologis dari metode keilmuan. Adapun st

21

ruktur penulisan ilmiah yang logis dan kronologis yang mencerminkan kerangka ilmiah diharapkan dapat memahami logika dan arsitektur penulisan ilmiah dan memudahkan penguasaaan hal-hal yang bersifat teknis. Pengajuan Masalah Pengajuan masalah merupakan langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah. Secara kronologis dapat disimpulkan enam kegiatan dalam langkah pengajuan masalah sebagaimana berikut: 1. Latar belakang masalah (faktor yang menimbulkan kontelasi pada situasi tertentu) 2. Identifikasi masalah (penguasaan masalah dan pengenalan objek dalam situasi jalinan situasi tertentu sebagai suatu masalah) 3. Pembatasan masalah (penetapan batas-batas masalah yang jelas ruang lingkupnya, sehingga dapat diidentifikasi faktor apa saja yang termasuk ke dalam lingkup masalah dan yang tidak) 4. Perumusan masalah (pertanyaan tersurat, lengkap, dan terperinci berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah untuk dicarikan jawabannya) 5. Tujuan penelitian (pernyataan mengenai ruang lingkup dan kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan masalah yang telah dirumuskan) 6. Kegunaan penelitian (manfaat yang dapat dipetik dari pemecahan masalah yang didapat dari penelitian). Sebetulnya terdapat kaitan yang erat antara keenam kegiatan tersebut, misalnya kaitan yang bersifat apriori antara latar belakang masalah dengan kegunaan penelitian. Keseluruhan langkah dalam kegiatan keilmuan terpadu secara utuh dalam suatu logika ilmiah. Oleh karena itu, yang harus benar-benar difahami bukanlah sekadar mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan, melainkan mengetahui dasar pikiran yang melatarbelakangi langkahlangkah itu, sehingga dapat benar-benar mengetahui hakekat dan fungsi format tersebut. Penyusunan Kerangka Teoretis Setelah masalah berhasil dirumuskan dengan baik, maka langkah kedua dalam metode ilmiah adalah mengajukan hipotesis. Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang diajukan. Dalam hal ini cara yang digunakan adalah cara ilmiah, yakni dengan mempergunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan agar mendapatkan jawaban yang dapat diandalkan. Agar sebuah kerangka teortis dapat disebut meyakinkan, maka argumentasi yang disusun tersebut harus dapat memenuhi beberapa syarat. Syarat yang utama adalah teori-teori yang digunakan dalam membangun kerangka berpikir harus merupakan pilihan dari sejumlah teori yang dikuasai secara lengkap dengan mencakup perkembangan-perkembangan terbaru yang paling representatif sesuai bidang yang dikaji. Secara ringkas, langkah-langkah dalam penyusunan kerangka teoretis dan pengajuan hipotesis ini dapat dibagi ke dalam kegiatan-kegiatan berikut: Penyusunan Kerangka Teoretis dan Pengajuan Hipotesis 1. Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis. 2. Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan. 3. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis dengan mempergunakan premispremis sebagai tercantum dalam butir (1) dan (2) dengan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi, dan prinsip yang dipergunakan (bila diperlukan).
22

4. Perumusan hipotesis.

Metodologi Penelitian Metodologi adalah pengetahuan tentang metode-metode. Jadi, metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian. Salah satu metode yang harus ditentukan dalam metodologi penelitian ini adalah metode penelitian. Metode penelitian ini ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Metode sendiri merupakan prosedur atau cara yang ditempuh dalam mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan teknik adalah cara spesifik dalam memecahkan masalah tertentu yang ditemui dalam melaksankan prosedur. Jadi, suatu metode penelitian memiliki beberapa teknik yang termasuk di dalamnya , seperti teknik pengambilan contoh, teknik pengukuran, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data. Secara ringkas langkah dalam penyusunan metodologi penelitian mencakup kegiatankegiatan sebagai berikut: Metodologi Penelitian 1. Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasikan variabel-variabel dan karakteristik hubungan yang akan diteliti. 2. Tempat dan waktu penelitian yang akan dilakukan generalisasi mengenai variabelvariabelyang akan diteliti. 3. Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan. 4. Teknik pengambilan contoh yang relevan dengan tujuan penelitian, tingkat keumuman, dan metode penelitian. 5. Teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengukuran, instrumen, dan teknik mendapatkan data. 6. Teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan dan ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya mempergunakan statistika, maka tuliskan hipotesis nol dan hipotesis tandingan: H0/H1). Hasil Penelitian Secara singkat, hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan berikut: 1. Menyatakan variabel-variabel yang diteliti 2. Menyatakan teknik analisis data 3. Mendeskripsikan hasil analisis data 4. Memberikan penafsiran terhadap simpulan analisi data 5. Menyimpulkan pengujian hipoteis apakah ditolak atau diterima. Ringkasan dan Simpulan Ringkasan dan simpulan dapat diperinci ke dalam langkah-langkah berikut: 1. Deskripsi singkat mengenai masalah, kerangka teoretis, hipoteis, metodologi, dan penemuan penelitian. 2. Simpulan penelitian yang merupakan sintesis berdasarkan keseluruhan aspek tersebut di atas. 3. Pembahasan simpulan penelitian dengan melakukan perbandingan terhadap penelitian lain dan pengetahuan ilmiah yang relevan. 4. Mengkaji implikasi penelitian. 5. Mengajukan saran.
23

Abstrak Abstrak merupakan ringkasan seluruh kegiatan penelitian yang paling banyak terdiri dari tiga halaman. Dalam abstrak terdapat satu judul, yakni judul penelitian. Sesuai dengan langkah-langkah dalam kegiatan penelitian, abstrak mencakup keseluruhan pokok pernyataan penelitian mengenai masalah, hipoteis, metodologi, dan simpulan penelitian. Tiap bagian ditulis secara utuh dan ringkas, masing-masing dalam paragraf tersendiri. Daftar Pustaka Daftar pustaka merupakan sumber referensi bagi seluruh kegiatan penelitian. Pada hakekatnya ia merupakan inventarisasi dari seluruh publikasi ilmiah maupun nonilmiah yang dipergunakan sebagai dasar bagi pengkajian yang dilakukan. Riwayat Hidup Riwayat hidup merupakan deskripsi dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang mempunyai hubungan dengan penulisan ilmiah yang disampaikan. Semua hal yang bersifat penting diringkas dalam satu atau dua halaman tulisan. Riwayat hidup dicantumkan pada halaman terakhir sebuah laporan tanpa diberi nomor halaman. Usulan Penelitian Usulan penelitian mengandung seluruh langkah penelitian tersebut di atas tanpa hasil penelitian, sebab hal ini baru akan dilakukan. Usulan penelitian hanya mencakup langkah pengajuan masalah, penyusunan kerangka teoretis, dan pengajuan hipotesis serta metodologi penelitian. Usulan penelitian biasanya dilengkapi dengan jadwal kegiatan, personalia peneliti serta aspek-aspek lainnya yang berhubungan dengan penelitian, seperti pembiayaan. Lain-lain Sebelum memasuki tubuh utama laporan sebuah tulisan ilmiah, biasanya didahului oleh beberapa informasi yang bersifat pengantar, seperti halaman judul, ucapan terima kasih, daftar isi yang dilengkapi daftar tabel dan daftar gambar, lembar persetujuan pembimbing/promotor, dan abstrak yang semua halamannya diberi nomor halaman dengan mempergunakan angka latin yang ditulis dengan huruf kecil (misalnya i, iv, dan x). Penutup Mengkomunikasikan gagasan-gagasan dalam cara-cara yang dapat diterima oleh bidang keilmuan yang merupakan jiwa dari sebuah karya ilmiah. Cara-cara ini biasanya dilengkapi dengan berbagai teknik dan format seperti yang telah dihadirkan sebelumnya dalam bentuk struktur penulisan ilmiah yang mencerminkan cara berpikir ilmiah. Catatan Akhir Langkah-langkah dalam penelitian ilmiah ini dapat dijadikan sebagai kerangka pembahasan yang lebih mendalam mengenai filsafat ilmu. Dalam penetapan masalah, pembahasannya dapat dikaitkan dengan objek penelitian ilmiah yang dibatasi oleh jangkauan pengalaman empiris serta kajian metafisis yang bertujuan untuk menggali hakekat realitas yang bersifat sebagaimana adanya (das Sein). Sedangkan proses penyusunan hipotesis dan pengujian secara empiris dapat dikaitkan dengan epistimologi keilmuan yang pembahasan dipusatkan pada metode ilmiah dengan berbagai aspek pemikiran yang mendasarinya, seperti
24

sumber pengetahuan, kriteria kebenaran, cara penarikan simpulan menurut logika tertentu, dsb. Demikian juga hakekat saran berpikir ilmiah, seperti bahasa, logika, matematika, dan statistika dapat dibahas dengan mengaitkannya kepada proses berpikir ilmiah. Akhirnya kegunaan yang diperoleh dari penelitian dapat dikaitkan dengan aksiologi keilmuan yang membahas nilai kegunaan ilmu sekaligus membahas berbagai aspek moral dan sosial. 30. Teknik Penulisan Ilmiah Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek, yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber data pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah harus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal. Bahasa yang digunkan pun harus jelas, sehingga penerima betul-betul mengerti isi pesan yang disampaikan kepadanya. 31. Teknik Notasi Ilmiah Teknik notasi ilmiah merupakan cara mencantumkan (1 nama orang yang membuat pernyataan dalam tulisan ilmiah (2 media komunikasi ilmiah (3 lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah beserta waktu dan tempat penerbitan dilakukan. Teknik notasi ilmiah dalam bagian ini menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki. Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip dengan mempergunakan angka Arab yang diketik naik setengah spasi. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai angka 1 sampai habis dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab yang baru. 1 Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki jika kalimat itu terdiri dari beberapa kalimat. Dalam keadaan seperti ini, maka tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup. Sedangkan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup kalimat. Umpamanya:
Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan yang dapat diandalkan1 sedangkan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode2 dan Conant mengidentifikasikan ilmu sebagai serangkaian konsep sebagai basil dan pengatnatan dan percobaan 3.

Jika kalimat di atas dijadikan menjadi tiga buah kalimat yang masing-masing mengandung sebuah kutipan, maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup:
Larrabee mendefinisikan ilmu sebagai pengetahuan ilmiah.1 Sedangkan Richter melihat ilmu sebagai sebuah metode.2 Pendapat lain dikemukakan oleh Conant yang mengidentifikasikan ilmu sebagal serangkaian konsep basil pengamatan dan percobaan.3

Kalimat yang dikutip harus dituliskan sumbernya secara tesurat dalam catatan kaki sebagai berikut:
1)Harold A. Larrabee, Relable Knowledge (Boston: Houghton Miffin, 1964), hlm. 4. 2)Maurice N. Richter, Jr., Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman, 1972), hlm. 15. 3)James B. Conant, Science and Common Sense (New Haven: Yale Universuty Press, 1961), hlm. 25.

Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir, asalkan dilakukan secara konsisten.

Atau bisa saja tiap catatan kaki diberi lambang yang bukan berupa angka. Lambang tersebut harus berbeda untuk tiap catatan kaki yang berada dalam halaman yang sama. 25

Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap, sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pengarang pertama ditambah kata et.al. (et all: dan lain-lain).
4)William 5. Shakian dan Mabel L. Sahakian, Realms of Philosophy (Cambridge: Schkenkman, 1965). 5)Ralph M. Blake, Curt J. Ducasse and Edward H. Madden, Theories of Scientific Method (Seattle: the University of

Washington Press, 1966). 6)Sukarnos et. al., Dasar-Dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bhratara, 1973).

Kutipan yang diambil dan halaman tertentu disebutkan halamannya dengan singkatan p (pagina) atau hlm. (halaman). Sekiranya kutipan itu disarikan dari beberapa halaman umpamanya dan halaman 1 sampai dengan 5, maka ditulis pp. 1-5 atau hlm. 1-5. Jika nama pengarangnya tidak ada, maka langsung saja dituliskan nama bukunya atau dituliskan Anom. (Anonymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang diterjemahkah harus ditulis, baik pengarang maupun penerjemah buku tersebut, sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya seperti contoh berikut:
7)Rencana Strategi Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Departemen Pndidikan dan Kebudayaan, 1976). 8)E.F. Schumacher, Keluar dari Kemelut, terjemahan Mochtar Pabotinggi (Jakarta LP3ES, 1981). 9)James R. Newman (ed). What is Science? (New York: Simon and Schustcr. 1955).

Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, koran, kumpulan karangan atau disampaikan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip yang disertai dengan informasi mengenai makalah tersebut:
10)Karlina, Sebuah Tanggapan: Hipotesis dan Setengah ilmuwan, Kompas, 12 Desember 1981, hlm. 4. 11)Liek Wilardjo, Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan. Pustaka, th. III No. 3, April 1979, hIm. 11-14. 12)M. Sastrapratedja, Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam Kaitannya dengan Agama dan Kebudayaan, makalah

disampaikan dalain Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) III, LIPI, Jakarta, 15-19 September 1981. 13)B. Suprapto, Aturan Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam, Ilmu dalam Perspektip, ed. Jujun S. Suriasumartri (Jakarta: Gramedia, 1978) hIm. 129-133.

Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit. (opere citato: dalam karya yang telah dikutip), loc. cit. (loco citato: dalam tempat yang telab dikutip), dan ibid. (ibidem: dalam tempat yang sama). Untuk pengulangan, maka nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselang oleh pengarang lain, maka dipergunakan notasi ibid. Seperti dalam contoh berikut:
14)Ibid, hlm. 131.

Artinya kita mengulangi kutipan dari karangan B. Suprapto seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 meskipun dengan nomor halaman yang berbeda. Sekiranya kita mengulang kutipan M. Sastrapratedja dalam catatan kaki nomer 12 terhalang oleh karangan B. Suprapto, maka kita tidak mempergunakan ibid. melainkan loc. cit. seperti contoh di bawah ini:
15)Sastrapratedja, loc. cit.

Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan op cit.:
16)Wilardjo, op. cit., him. 12

26

Jika dalam kutipan dipergunakan seorang pengarang yang menulis beberapa karangan, maka untuk tidak membingungkan sebagai pengganti loc. cit atau op. cit dituliskan judul karangannya. Bila judul karangan itu panjang, maka dapat dilakukan penyingkatan selama itu mampu menunjukkan identifikasi judul karangan yang lengkap, seperti:
17)Larrabee, Reliable Knowledge, hlm. 6.

Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan yang lain. Untuk itu, maka kedua sumber itu dituliskan sebagai berikut:
I8) Robert K. Merton, The Ambivalence ol Scientist, hlm. 77-97, dikutip langsung (atau tidak langsung) oleh Maurice N.

Richter, Jr., Science as a Cultural Process (Cambridge: Schenkman, 1972), hlm. 114.

Semua kutipan tersebut di atas, baik yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung, sumbernya kemudian kita sertakan dalam daftar pustaka. Hal ini dikecualikan untuk kutipan yang kita dapatkan dan sumber kedua sebagaimana tampak dalam catatan kaki nomor 18. Terdapat perbedaan notasi bagi penulisan sumber dalam referensi pada catatan kaki dan referensi daftar pustaka. Dalam catatan kaki nama pengarang dituliskan lengkap dengan tidak mengalami perubahan apa-apa. Sedangkan dalam daftar pustaka, nama pengarang harus disusun berdasarkan abjad huruf awal nama familinya. Tujuan utama dari catatan kaki adalah mengidentifikasikan lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip. Dipihak lain, tujuan utama dari daftar pustaka adalah mengidentifikasikan karya ilmiah itu sendiri. Untuk itu, maka dalam daftar pustaka tanda kurung yang membatasi penerbit dan domisili penerbit tersebut dihilangkan serta demikian juga lokasi halaman. Dengan demikian, catatan kaki (CT) nomor 1, 4, 5, 6, 9, 11, dan 13 bila dimasukkan ke dalam daftar pustaka (DP) berubah sebagai berikut:
(1) (4) (5) CT: Harold A. Larrabee, Reliable Knowledge (Boston: Houghton Mifflin, 1964), hlm. 4 DP : Larrabee, Harlod A. Reliable Knowledge. Boston: Houghton Mifflin, 1964 CT : William S. Sahakian dan Mabel L. Sahakian, Realms of Philosophy (Cambridge: Schenkman, 1965). DP: Sahakian, William S., dan Sahakian, Mabel L. Realms of Philosophy. Cambridge: Schenkman, 1965. CT: Ralph M. Blake, Curt J. Ducasse dan Edward H. Madden, Theories of Scientific Method (Seattle: The University of Washington Press, 1966). DP : Blake, Ralph M, Ducasse, Curt J., dan Madden, Edward H. Theories of Scientific Method. Seatle: The University of Washington Press, 1966. CT: Sukarno et al., Dasar-dasar Pendidikan Science (Jakarta: Bharata, 1973). DP: Sukarno, et al., Dasar-dasar Pendidikan Science. Jakarta: Bharata, 1973. CT: James R. Newman (ed.), What is Science? New York: Simond and Schuster, 1955). DP: Newman, James R. (ed.), What is Science? New York: New York: Simond and Schuster, 1955). CT: Liek Wilardjo, Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan". Pustaka. Th. III No. 3, April 979, 11-14. CT: B. Suprapto, Aturan Permainan dalam Ilmu-Ilmu Alam", Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Suriasumantri (Jakarta: Gramedia, 1978), hlm. 129-133. DP : Suprapto, B. Aturan Permainan dalam Ilmu-Ilmu Alam, llmu dalam Perspektif, ed. Jujun S. Suriasumantri, hlm. 129- 133. Jakarta: Gramedia, 1978.

(6) (9) (11) (13)

Daftar pustaka itu kemudian diurut berdasarkan huruf pertama dari nama famili pengarangnya. Demikianiah secara singkat telah dibahas salah satu contoh teknik notasi ilmiah yang biasa dipergunakan dalam penulisan ilmiah. Pembahasan secara lebih terpeninci dapat dibaca dalam buku pedoman penulisan yang secara khusus mengkaji masalah ini dengan berbagai variasinya. Untuk standar yang bersifat internasional, maka dapat dibaca umpamanya buku karangan Jacques Barzun dan Henry F. Graff yang berjudul The Modern Researcher (New York: Harcourt, Brace & World, 1970), Kate L. Turabian yang berjudul Students Guide for Writing College Papers (Chicago: The University of Chicago Press, 1963), Eugene Ehrlich dan Daniel Murphy yang berjudul Writing and Researching Term Papers and Reports (New
27

York: Bantam, 1968) dan Peyton Hurt yang berjudul Bibliography and Footnotes (Berkeley: University of Calofornia Press, 1968). Publikasi dalam bahasa Indonesia mengenai pembahasan metode penelitian secara lengkap umpamanya dapat dibaca dalam buku karangan Winarno Surakhmad yang berjudul Pengantar Penelitian Ilmiah (Edisi ke-7: Bandung: Tarsito, 1980) dan Koencaraningrat (ed.) yang berjudul Metodologi Penelitian Masyarakat (Jakarta: LIPI, 1973). Sedangkan pembahasan yang mengkhususkan diri kepada penulisan ilmiah umpamanya dapat dibaca dalam buku karangan Slamet Suseno yang berjudul Teknik Penulisan Imiah Populer (Jakarta: Gramedia, 1980) dan S. Effendi (ed.) yang berjudul Pedoman Penulisan Laporan Penelitian (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1979). X Penutup Hakikat dan Kegunaan Ilmu Ilmu merupakan sesutu yang penting bagi cara berpikir masyarakat dan jika diamalkan (tidak hanya dihafal) berguna bagi mereka untuk menjelaskan, meramal (mengukur), mengontrol, dan mengatasi masalah kehidupan mereka, sehingga masalah kehidupan nyata dapat diselesaikan secara baik dan benar. Komentar: Dari hasil resume sebelumnya, ada beberapa hal utama yang perlu disoroti, sebagaimana berikut: 1. berkaitan dengan sifat atau karakter filsafat. Dalam sifat berpikir filsafat disebutkan salah satunya spekulatif. 2. berkaitan dengan sumber pengetahuan. Disebutkan bahwa pada dasarnya sumber pengetahuan itu ada dua: rasio dan empiris, tanpa memberi porsi pembahasan wahyu. 3. berkaitan dengan cabang-cabang filsafat dan kebenaran. Dijelaskan bahwa ilmu hanya berwenang menentukan benar-salah suatu pernyataan dalam batas pengalaman manusia. Sedangkan mengenai baik-buruk diserahkan pada moral dan indah-jelek diserahkan pada estetik. Tetapi, ilmu tetap perlu bimbingan agama, moral, dan estetik. Sepintas penjelasan tersebut tidak bermasalah. Akan tetapi, di sana terdapat konsep benar-salah yang hanya dibatasi dalam batas pengalaman manusia (yang bersifat empiris, inderawi) yang sangat terbatas. Sedangkan baik-buruk diserahkan pada moral dan indahjelek diserahkan pada estetika, bukan didasarkan pada agama, sehingga disimpulkan bahwa kebenaran agama itu kebenarannya relatif, termasuk Islam. 4. berkaitan dengan tingkat perkembangan pengetahuan manusia Auguste Comte. Padahal ia meletakkan agama sebagai jenis pengetahuan yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme atau empirisme. Berangkat dari sana, yang disebut ilmiah adalah sesuatu yang bersifat positivis atau empiris, sehingga agama tidak termasuk ke dalam hal yang ilmiah.

BAB III PENUTUP A. Simpulan Buku Filsafat Ilmu karya Jujun S. Suriasumantri ini memang merupakan buku populer yang meskipun cukup tebal, tetapi lebih ringan dibaca dan difahami daripada buku Filsafat Ilmu lainnya karena menggunakan bahasa populer dan humor. Meskipun isi teori Filsafat Ilmu dalam buku ini tidak lengkap dan bersifat mendalam sebagaimana yang telah disampaikan
28

penulisnya, tetapi menjadi sebuah buku pengantar yang elementer bagi masyarakat yang masih awam agar mereka mencintai filsafat dan memiliki paradigma keilmuan dalam kehidupannya. Selain itu, porsi materi yang berkaitan dengan penelitian dan penulisan ilmiah dapat membantu untuk para calon peneliti guna mengadakan penelitian ilmiah. Akan tetapi, konsep filsafat ilmu dalam buku tersebut berangkat dari konsep filsafat sekuler yang tidak mendasari konsepnya pada Islam, sehingga mendukung pembaca untuk menjadi sekuler. Di sini letak problem filsafat ilmunya.

B. Saran Membaca buku ini perlu secara menyeluruh karena terdapat ide penting termasuk ide berbahaya yang terselip di antara paragraf yang ada. Karena buku ini ditujukan untuk pemula dan tidak semua simpulan tiap bab dalam buku ini dijabarkan secara jelas, maka pembaca perlu membaca buku filsafat Ilmu lain yang selamat, yakni buku filsafat ilmu dalam perspektif Islam.

29

Anda mungkin juga menyukai