Anda di halaman 1dari 33

TUGAS MAKALAH ORGAN REPRODUKSI BETINA

Dosen pengampu: Kholifah Holil, M.Si

Oleh Kelompok II: 1. Miftahur Rohmah 08620019 2. Driyana Rike 09620000

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reproduksi merupakan salah satu ciri aktifitas mahluk hidup yang bertujuan untuk melestarikan jenisnya. System reproduksi di sebut juga sistem perkembangbiakan atau system genetalia. Sistem ini berfungsi untuk menghasilkan sel kelamin (Gamet),menyimpan gamet jantan dan betina, dan pada kelompok hewan betina tertentu berfungsi pula untuk memelihara embrio yang berkembang di dalamnya. Hewan betina tidak hanya menghasilkna sel-sel kelamin betina yang penting untuk membentuk suatu individu baru, tetapi juga menyediakan lingkungan dimana individu tersebut terbentuk diberi makan dan berkembang selama masa-masa permuliaan hidupnya. Fungsi-fungsi ini dijalankan oleh organ-organ reproduksi primer dan sekunder. Organ reproduksi primer, ovaria, menghasilkan ova dan hormonhormon kelamin betina. Organ-organ reproduksdi sekunder atau saluyran reproduksi terdiri dari tuba fallopi (oviduct), uterus, serviks, vagian, dan vulva. Fungsi organ-organ reproduksi sekunder adalah menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina yang memberi makan dan melahirkan individu baru. Kelenjar susu dapat dinggap sebagai suatu organ kelamin pelengkap, karena sangat erat berhubungan dengan proses-proses reproduksi dan esensial untuk pemberian makanan bagi individu yang baru lahir. Alat-alat kelamin dalam digantung oleh ligamentum lata. Ligamen ini terdiri dari meso ovarium, mesosalvin, dan mesometrium yang masing-masing menggantung ovarium, tuba vallopi dan uterus.

Reproduksi secara fisiologik tidak vital bagi kehidupan makhluk hidup, tetapi reproduksi merupakan proses yang sangat penting untuk kelanjutan suatu jenis atau bangsa hewan. Dalam bidang peternakan, produktivitas ternak tidak dapat dipisahkan dengan proses reproduksi. Sebagai contoh, untuk menghasilan telur, susu dan ternak muda, haruslah melalui serangkaian proses reproduksi yang dimulai dengan pembentukan sel telur / sel sperma, ovulasi, fertilisasi, pertumbuhan dan perkembangan fetus sampai dengan dilahirkan (partus). Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka diadakanlah diskusi oleh kelompok kami kelompok kami. dan dibuatlah makalah ini sebagai hasil dari diskusi

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Organ Reproduksi Betina 2.1.1 Organ reproduksi merpati betina Merpati betina tidak mempunyai organ kopulasi secara khusus. Organ reproduksinya meliputi ovarium yang jumlahnya hanya satu yang terletak sebelah kiri. Ovarium tersusun dari lapisan serosa dan lapisan otot. Pada ovarium inilah tempat terbentuknya sel telur. Selain itu oviduct yang terletak disebelah bawah dari ovarium. Oviduct kanan rudimenter yang ukurannya lebih kecil dari oviduk yang satunya dan tidak berkembang. Histology dari oviduk adalah tersusun atas lapisan peritoneal eksternak, otot longitudinal luar, sirkuler dalam, jaringan pengikat, dan lapisan mukosa. Oviduk dapat mensekresikam albumen pada saat pembentukan telur. Oviduk pada saat masih muda lurus, makin tua makin berkelok-kelok. Oviduk bermuara pada kloaka yang merupakan pertemuan antara organ kopulasi dengan anus.uterus sebenarnya bukan merupakan uterus yang sebenarnya karena berbeda dengan uterus pada mamalia karena uterus pada merpati hanya berupa kelenjar kerabang. Pada uterus mempunyai banyak kelenjar yang membentuk kulit telur (Mukayat, 1993). Fertilisasi pada merpati betina merupakan reproduksi internal artinya bahwa reproduksi terletak didalam tubuh. Sistemnya disebut sistem duktus yang berupa saluran yang memiliki diameter hampir seragam dengan suatu perluasan tunggal unilateral pada kloaka. Merpati merupakan hewan ovipar yaitu hewan yang berkembang biak dengan bertelur ( Jasin. 1984). Perkawinan pada merpati dilakukan dengan cara kopulasi. Setelah sperma dan ovum bertemu dan terjadi fertilisasi maka tahap selanjutnya adalah akan terbentuk telur yang terjadi di oviduk. Tahap pertama adalah terbentuknya kalaza yaitu suatu bangunan yang tersusun dari dia tali mirip

ranting yang bergulung memanjang dari kuning telur sampai kekutub-kutub telur. Setelah itu ditambahkan putih telur (albumen) disekitar kuning telur. Setelah itu maka telur akan mendapatkan selaput kerabang pada uterus. Setelah telur sempurna maka telur akan dikeluarkan melalui kloaka. Telur yang dikeluarkan tidak langsung menetas, tetapi mengalami masa inkubasi selama 16-18 hari. Burung muda yang baru menetas berada dalam kondisi sangat lemah, disebut kondisi altrisal. Anak merpati yang baru menetas sedikit sekali bulu kapasnya. Merpati muda dapat terbang setelah 4 minggu kemudian (Nalbandov, 1990). 2.1.2 Reproduksi babi betina Al-maidah, ayat 3:

Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Organ genital babi betina meliputi organ Interna yang terdiri dari ovarium, oviduct (tuba uterina), uterus, service dan vagina) dan organ eksterna yang terdiri dari vagina dan vulva. a. Organ interna terdiri dari: 1. Ovarium Babi merupakan salah satu hewan beranak banyak (politokus) sehingga mempunyai bentuk uterus dan serviks tampak paling rumit. Uterus bikoru pada babi mempunyai bagian yang kecil, badan uterus, tempat kedua tanduk utrus bermuara pada lamen yang sama, dan terdapat serviks tunggal. Sedangkan pada hewan ruminansia (sapi, domba) memiliki badan uterus yang lebih luas, tetapi penggabungan sebagai saluran itu membentuk lipstsn jsringan (septum) yang menojol di daerah ini (Hunter, 1995).

Pada ovari babi dara menunjukkan aktivitas sel epithel kecambah beberapa minggu sebelum permulaan pubertas. Folikel-folikel de Graaf mulai nampak di dalam ovarium pada umur 7 minggu dan folikel yang mengandung antrum muncul pada umur 15 minggu (Toelihere, 1993.). Pada babi ovarium berbentuk lonjong, berat 3,0 7,0 gram. Tetapi berbentuk bagaikan setangkai buah anggur karena banyaknya folikel dan atau corpora lutea. Folikel babi secara normal berdiameter 8,0 12,0 mm dan corpora lutea kurang lebih 10,0 - 15,0 mm. Lokasi ovaria pada babi kira-kira sama dengan pada sapi. Karena ligamentum lata yang panjang, lokasi ovarium di dalam rongga perut pada babi-babi betina tua sangat bervariasi. Ovaria babi hampir seluruhnya ditutup di dalam bursa ovarii oleh mesosalpinx (Toelihere, 1993). Babi mempunyai dua ovarium yang berbentuk berbenjol-benjol, bulat kecil, berukuran 10-25 nm. Ovarium menghasilkan ovum (telur) dan berbagai hormone yang membantu dalam reproduksi dan mempengaruhi pertumbuhan. Di dalam ovarum, telur dihasilkan di dalam suatu bentuk kantong yang disebut follicle. Follicle juga menghasilkan suatu cairan, sehingga apabila telur telah masak dan follicle pecah, cairan itu membawa telur dari ovarium ke dalam ovidac (tuba fallopi) yang bisa dibuahi oleh sperma. Peristiwa masuknya telur disebut ovulasi (Aak, ). Ovarium merupakan alat reproduksi utama seperti halnya pada testes. Adapun fungsi dari ovarium antara lain; menghasilkan ovum (sel telur), hormon esterogen dan progesteron. a. Ovum Ovum babi dihasilkan dalam jumlah terbatas, jumlah telur yang dihasilkan selama satu periode birahi biasanya 12-16 buah. Tetepi terkadang juga mencapai 20 buah bahkan hanya 3-4 buah. Di sini yang diovulasikan yang masak saja. Berbeda dengan sapi biasanya hanya

satu atau dua buah saja yang masak dalam satu periode. Telur biasanya dibuahi 6 jam setelah ovulasi. Jika telur tidak di buahi selama 12 jam setelah ovulasi, kesuburan menjadi turun. Sehingga harus memperhatikan masa birahi. a. Hormon estradiol (esterogen) Homon ini berfungsi untuk pertumbuhan alat kelamin, menolong produksi air susu, mempercepat birahi. b. Progesteron Hormon ini berfingsi untuk memelihara kebuntinggan dan membantu keluarnya air susu.

(a)

(b) Gambar (a) dan (b) merupakan alat reproduksi babi betina (aak, ) 2. Oviduct Oviduct pada babi secara umum terdiri dari beberapa bagian yang berurutan dari cranial ke caudal yaitu: Infundibulum Ampulla Isthmus. Pada bagian ujung terdapat dua ekstremitas:
a. Ujung cranial (ekstremitas cranii), berbentuk corong seperti

infundibulum tubae uterine. b. Ujung caudal (ekstremitas uterina), terdapat lubang yaitu ostium tubae uterina 3. Uterus Uterus terdiri dari 3 bagian: Cornu uteri, Corpus uteri, Cervix uteri, yang terletak dalam cavum abdominalis. Bentuk uterus bervariasi pada berbagai spesies, pada babi panjang dan berkelok-kelok berbeda pada sapi yaitu berbentuk spiral sementara pada kuda cekung ke arah dorsal, pada

anjing pendek. Terdapat lubang yaitu Orificium uterina interna dan Orificium uterina eksterna. Pada uterus terdapat juga penonjolan yaitu: portio vaginalis uteri. 4. Serviks Dalam serviks terdapat saluran yang disebut canalis cervicis. Pada kuda dan babi ada di central, pada anjing (karnivora) ada di dorsal, sementara pada ruminan ada di ventral. Cervix adalah barier fisik bagi pergerakan mikroorganisme lebih jauh ke dalam saluran reproduksi. Fungsi cervix difasilitasi oleh sekresi organ ini yang kental dan dapat menutupi lumen cervix selama terjadi kebuntingan. Sekresi cervix ini juga mengandung molekul yang disebut lactoferrin yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain fungsi cervix yang sebagai barier fisik tersebut, saluran reproduksi mengandung macrophages, lymfosit T, lymfosit B, neutrofil dan sel-sel lain yang berperan dalam menjaga saluran reproduksi tetap steril. Selain itu, saluran reproduksi juga difasilitasi oleh aliran sistem lympha. Pembuluhpembuluh lympha mengaliri uterus bersama-sama dengan pembluhpembuluh dari ovarium sehingga konsentrasi progesterone pada saluran lympha utero-ovari pada sisi ipsilateral dimana ovariumdengan corpus luteum yang berfungsi, mencapai 10 -1000 lebih tinggi dari pada konsentrasi progesterone yang berada di pembuluh darah jugularis (Hafez, E.S.E and Hafez, B. 2000). c. 1. Organ eksternal Vagina Vagina dibatasi oleh Rectum (dorsal), Vesica Urinaria (ventral), Cavum pelvis (laterl). Terdapat fornix uteri , ruang di sekitar portio vaginalis uteri. Batas antara vagina dan vulva terdapat selaput, hymen, dan introitus vaginae.

Vagina adalah bagian saluran reproduksi yang mempunyai kontak dengan udara luar dan merupakan gerbang bagi mikroorganisme memasuki tubuh. Sementara vulva dan otot sphincter vulva memperkecil kemungkinan masuknya mikroorganisme ke dalam vagina, demikian pula otot sphincter vestibula memperkecil pergerakan mikroba menuju arah anterior vagina. 2. Vulva Vulva pada babi berbatasan dengan rectum dan anus (dorsal), dasar cavum pelvis (vebtral),dengan m.Semimembranosus (lateral). Terdapat celah pada vulva disebut Rima Vulvae selain itu juga terdapat juga lubang tempat bermuaranya urethra: Orificium Urethra Eksternum Musculi pada genetalia feminimum: a. m. Ischiocavernosus b. m. Urethralis c. m. Constrictor cornii d. m. Bulbocavernosus e. m. Ischiourethralis Oogenesis Pada Babi Siklus ovarium terdiri dari dua fase (Sanders, 2003): a. Fase folikel Didominasi dengan adanya folikel matang. Satu folikel akan menghasilkan satu ovum. Folikel hanya tumbuh pada fase folikel, pada saat di lingkungan hormonal mendukung pematangannya. Folikel yang tidak mendapat bentuan hormon akan mengalami atresia. Pada tepi folikel terdapat sel-sel granulose yang berproliferasi membentuk cairan kental yang menjadi membrane penghalang yang disebut zona pelusida. Seiring

terbentuknya zona pelusida tepi folikel juga berdiferensiasi menjadi sel teka, kemudian sel-sel folikel ini menjadi kesatuan yang dapat mensekresikan estrogen. Lingkungan hormonal pada fase ini mendorong folikel menjadi folikel sekunder. Oosit mencapai ukuran maksimum dan memicu percepatan pertumbuhan folikel. Sebagian pertumbuhan disebabkan oleh proliferasi sel folikel dan ekspansi folikel yang drastic dan folikel matang. Folikel yang matang akan pecah akibat enzim dari sel folikel dan ovum keluar ke cornue uteri pada masa ovulasi. Rupturnya folikel menandai berakhirnya fase folikel dan menuju fase luteal. b. Fase Luteal Folikel akan tinggal di ovarium. Sel folikel mengalami kolaps ke dalam ruang folikel matang dan mengalami transformasi structural menjadi corpus luteum. Sel folikel mengalami hipertrofi menjadi jaringa steroidogenik yang menyimpan banyak kolesterol. Korpus luteum menghasilkan progesterone dalam jumlah tinggi dan estrogen yang sedikit untuk mempersiapkan tempat impalantasi jika terjadi pembuahan. Jika tidak terjadi pembuahan maka sel-sel luteal akan degenerasi dan difagosit, pembuluh darah berkurang terdapat korpus albikans, fase luteal berakhir (Sherwood, 2001). Siklus reproduksi pada babi betina (Sanders, 2003): a. Siklus Berahi Siklus berahi pada babi mencapai 19-23 hari, rata-rata 21 hari dan relatif konstan. Estrus terjadi sepanjang tahun. Perubahan-perubahan suhu dan musim tidak mempengaruhi berahi dan siklus berahi. Gangguan endokrin dan perubahan patologik pada organ kelamin betina sering mengakibatkan bertambah panjangnya siklus berahi. Corpora lutea bertumbuh sempurna dalam waktu 6-8 hari dan kalau hewan tidak bunting, beregresi kembali pada hari ke-14 samapi hari ke-16 siklus berahi. Perubahan regresif terjadi sangat

cepat dan corpora albicantia terbentuk pada hari ke-17 sampai hari ke-18 siklus berahi. Walaupun tiap spesies mempunyai ciri-ciri khas dari pola siklus berahinya, namun pada dasarnya adalah sama. Siklus berahi umumnya dibagi atas 4 fase atau periode yaitu proestrus, estrus, matestrus / postestrus dan diestrus. b. Proestrus Proestrus adalah fase sebelum estrus yaitu periode dimana folikel de Graaf bertumbuh di bawah pengaruh FSH dan menghasilkan sejumlah estradiol yang makin bertambah. Sistem reproduksi memulai persiapanpersiapan untuk pelepasan ovum dari ovarium. Folikel tergantung pada spesies, mengembang dan diisi dengan cairan folikuler. Setiap folikel bertumbuh cepat selama 2 atau 3 hari sebelum estrus. Pada periode ini terjadi peningkatan dalam pertumbuhan sel-sel dan lapisan bercilia pada tuba Falopii, dalam vaskularisasi mocusa uteri dan dalam tebal dan vaskularisasi ephythel vagina. Vulva menjadi sangat oedematous dan membengkak. Cervix mengalami relaksasi gradual dan makin banyak mensekresikan mucus yang tebal dan berlendir dari sel-sel gobet pada Cervix dan vagina anterior dan dari kelenjar-kelenjar uterus. Pada akhir periode proestrus hewan betina biasanya memperlihatkan perhatiannya pada hewan jantan. Periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode ini pada umumnya hewan betina akan mencari dan menerima pejantan untuk berkopulasi. Folikel de Graaf membesar dan menjadi matang. Ovum mengalami perubahan-perubahan ke arah pematangan. Sekresi cairan tuba bertambah. Uterus berereksi, tegang dan pada beberapa spesies oedamatous. Suplai darah ke uterus bertambah mucosa tumbuh dengan cepat dan lendir disekresikan. Lendir Cervix dan

vagina bertambah. Mucusa berwarna merah jambu dan terjadi kongesti karena vaskularisasi yang bertambah. Cervix mengendor dan agak oedematous. Mucosa vagina sangat menebal dan pada beberapa spesies banyak sel-sel epithel berkornnifikasi tanggal. Vulva mengendor dan oedematous dan terlihat jelas sekali. Berahi pada babi berlangsung 2-3 hari dengan variasi antara 1-4 hari. Suatu batasan yang nyata antara permulaan dan akhir estrus sulit ditentukan karena estrus adalah fenomena yang berlangsung gradual. Babi betina yang berahi memperlihatkan suatu respons diam atau sikap kawin yang jelas apabila ditekan punggungnya baik oleh pejantan, oleh betina lain atau penunggu ternak. Respon ini sangat bermanfaat dalam deteksi bukan saja permulaan berahi tetapi juga tingkatan berahi karena suatu sikap yang lebih tenang dan kaku diperlihatkan selama pertengahan periode berahi. Bangsa, paritas dan gangguan hormonal mempengaruhi lamanya berahi. Babi dara sering tidak memperlihatkan estrus lebih dari satu hari, sedangkan babi yang sudah sering beranak umumnya menunjukkan berahi selama dua hari atau lebih dan rata-rata periode estrus adalah 12-18 jam lebih lama pada babi induk dari pada babi dara. Ovaria yang cystik adalah satu contoh gangguan hormonal yang akan menghambat ekspresi gejalagejala berahi yang normal. c. Matestrus atau Postestrus Merupakan periode sesudah estrus dimana corpus luteum bertumbuh cepat dari sel-sel granulosa folikel yang telah pecah di bawah pengaruh LH. Matestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh progresteron yang dihasilkan oleh corpus luteum. Lamanya matestrus kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan ova untuk mencapai uterus yaitu kira-kira 3 4 hari. d. Diestrus

Diestrus adalah periode terakhir dan terlama siklus berahi pada ternak mamalia. Corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progresteron terhadap saluran reproduksi menjadi nyata. Endometrium lebih tebal dan kelenjar-kelenjar berhypertrophy. Cervix menutup dan lendir vagina mulai kabur dan lengket. Selaput mocusa vagina pucat dan otot uterus mengendor. Pada akhir periode ini Corpus luteum memperlihatkan perubahan-perubahan retrogresif dan vaculisasi secara gradual. Endrometrium dan kelenjar-kelenjarnya berhypertrophy atau beregresi ke ukuran semula. Mulai terjadi perkembangan folikel-folikel primer dan sekunder dan akhirnya kembali ke proestrus. Anestrus yang fisiologik umumnya ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Anestrus normal akan diikuti oleh proestrus. Anestrus selama laktasi disebabkan oleh kegagalan pelepasan hormon gonadotropin dari hypophysa dan rendahnya sensitivitas ovarium terhadap gonadotropin. Estrus akan terlihat sesudah penghentian produksi susu. Akan tetapi, penyapihan kapan saja selama masa laktasi akan menimbulkan estrus. Kurang jelas apakah penghentian produksi susu, penyingkiran rangsangan menyusu atau faktor faktor lain sehubungan dengan penyapihan menyebabkan dimulai kembali siklus berahi Corpora lutea kebuntingan beregresi sesudah patrus dan regresi tesebut terjadi sempurna selama minggu pertama periode post-partum. Penurunan aktivitas folikuler ovarium terjadi dalam minggu tersebut. Kejadian ini diikuti kemudian dengan kenaikan ukuran folikel tesebut tidak mencapai ukuran dewasanya sampai sesudah penyapihan. Birahi sesudah penyapihan biasannya terjadi 3-8 hari sesudah penyapihan, apabila anank-anak babi dipisahkan 6-8 minggu sesudah patrus. Interval ke estrus sesudah penyapihan dini, 2-3 minggu sesudah patrus, adalah lebih lama dan lebih bervariasi.

3. Ovulasi Ovulasi dapat didefinisikan sebagai pelepasan ovum dari folikel de Graaf. Jumlah telur yang diovulasikan oleh kedua ovaria pada satu estrus (ovulation rate) berbeda-beda menurut jenis hewannya. Pada babi terjadi selama estrus pada babi betina dan sebagian besar ova dilepaskan 38 - 42 jam sesudah permulaan estrus. Lama proses ovulasi adalah 3,8 jam. Ovulasi terjaadi kira-kira 4 jam lebih cepat pada betina yang sudah dikawinkan dibandingkan dengan pada betina yang belum kawin (Toelihere, 1993). Babi betina adalah hewan polytocus dan angka ovulasi (ovulation rate) berkisar antara 10 sampai 20 ova pada setiap periode berahi. Paritas, umur, tingkatan makanan dan bangsa babi menentukan angka ovulasi. Babi dara mengovulasikan lebih sedikit ova dari pada babi induk dan jumlah ova yang diovulasikan makin meninggi dengan setiap estrus. Rata-rata peningkatan dari estrus pertama ke estrus kedua adalah sekitar 2 ova. Pemberian ransum berenergi tinggi dan peningkatan kosumsi energi dengan pemberian glucosa atau lemak juga memberi efek flushing pada babi betina. Modus operandi tingkatan makanan terhadap angka ovulasi mungkin berupa suatu pengaruh langsung terhadap perkembangan folikel atau secara tidak langsung melalui peningkatan pelepasan gonadotropin (Toelihere, 1981). Integrasi menyeluruh dari sistem saraf dan endokrin tergantung pada hipotalamus, suatu struktur yang berasal dari otak muka. Hipotalamus menjalankan pengaruhnya melalui kelenjar hipofisis anterior (adenohipofisis) dengan neurosekresi dari kelompok sel khusus di daerah hipofisiotrofin yang disebut nuklei yang tertata sebagai kelompok yang berpasangan secara bilateral (Hunter, 1995). Penyakit pada babi betina Sistem Imun Innate

Ketika antigen berada di saluran reproduksi, reaksi penolakan/ pengluaran pertama dilakukan oleh sel-sel phagosit dari sistem imun innate. Makrophag dan sel-sel dendritelike berada di saluran reproduksi. Biasanya sangat sedikit neutrofil yang hadir pada saluran reproduksi saat tidak terjadinya infeksi, walaupun pada babi, sel-sel ini dapat terlihat pada basal epitel endometrium uterus, terutama pada saat mendekati estrus (Bischof, 1994). 1. Penyakit MMA (Mastitis, Metritis, Agalactia) Mastritis, metritis dan agalactia (MAA) adalah Sindrom yang kompleks dari etiologi yang terjadi pada 1-3 hari setelah Induk babi melahirkan. Induk babi dipengaruhi oleh faktor predisposisi, yaitu kebersihan yang buruk saat melahirkan, kelebihan berat badan dan pemberian pakan sesaat sebelum melahirkan. Perawatan untuk Induk babi yang terinfeksi adalah dengan oxytocin, non-steroidal, anti-inflammatories dan berbagai antibiotik yang biasanya digunakan untuk pengobatan ini.
a.

Mastitis Mastitis adalah Radang kelenjar susu yang disebabkan oleh

infeksi bakteri klebsiella, streptococci, staphylococci dan e. coli.


b.

Metritis Metritis adalah penyakit radang ambing (uterus) yang merupakan

radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Metritis atau peradangan seluruh bagian uterus meliputi semua lapisan dinding uterus. Kejadiannya berlangsung dua minggu setelah beranak. Penyebab infeksi yang paling banyak ditemukan adalah kuman-kuman koliform seperti, E.coli, Strepthoccocus, Staphiloccocus dan defisiensi mineral. c. Agalactia

Agalactia adalah kesalahan sekresi ASI pada kelahirkan berikutnya. Tanda-tanda Terinfeksi Penyakit MMA (Mastitis, Metritis, Agalactia) Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri. Menurut faktor penyebabnya, mastitis dapat disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae, Str. dysgalactiae, Str. uberis, Str. zooepidemicus, dan Staphylococcus aureus, serta berbagai spesies lain yang juga bisa menyebabkan terjadinya mastitis walaupun dalam persentase kecil. Sindrom biasanya terjadi dalam waktu 12 jam setelah kelahiran. Biasanya tanda pertama diikuti oleh depresi, gelisah ketika sedang menyusui dan melemahnya kondisi anak babi. Terjadi demam pada induk babi 39,5-41 C jika mastitis hadir. Dalam banyak kasus, hanya satu kelenjar mastitic. Penyakit ini berlangsung selama minimal 3 hari dan kemudian sembuh secara spontan. Kondisi dapat didahului oleh penundaan dalam proses kelahiran (> 5 jam) dan dapat bervariasi dalam intensitasnya. Dalam kasus susu tanpa disertai hypogalactia mastitis atau unsur-unsur lain yang kompleks, akan berkurang berat badan pada anak-anak babi (<105 g / hari, normal 125g/day) mungkin satu-satunya indikasi dari masalah. 2. Endometriris (Lendir Infeksi) Infeksi endometrium merupakan peradangan pada bagian uterus yang paling ringan. Pada umumnya disebabkan oleh infeksi jasad renik yang masuk ke dalam uterus melalui cervic dan vagina. Kuman-kuman yang sering masuk melalui cervic dan vagina adalah Strepthococcus, Staphylococcus, Coli (berasal dari feses, mungkin pada waktu inseminasi buatan, atau pertolongan distokia maupun retensio). Endometritis penyebab utama kemajiran.

3.

Pyometra Pyometra merupakan penyakit yang ditandai dengan teririsnya

rongga uterus oleh eksudat purulent dan biasanya tanpa diikuti oleh gejalagejala penyakit sistemik. Pengamatannya melalui lendir yang sangat kental dengan banyaknya gumpalan-gumpalan putih keluar dari vulva. (Anonim, 2010).

2.1.3 Organ reproduksi sapi betina 2.1.3.1 Kajian Islam Qs. Al Baqarah

67. Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." Mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?"[62] Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orangorang yang jahil".

71. Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan

tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." Mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu[63].

68. Mereka menjawab: " Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". 2.1.3.2 Anatomi Alat Kelamin Sapi Betina Partodiharjo (1992) menjelaskan bahwa alat kelamin betina secara anatomi dapat dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu ovarium, saluran reproduksi, dan alat kelamin bagian luar. Ovarium merupakan bagian alat kelamin yang menghasilkan telur. Organ ini identik dengan testis pada alat kelamin jantan. Saluran reproduksi betina terbagi menjadi oviduct atau tuba fallopii, uterus, serviks, dan vagina. terdiri atas klitoris dan vulva. Sedangkan alat kelamin bagian luar Organ penting lain yang tidak berperan

langsung dalam proses reproduksi namun sangat penting bagi kelangsungan hidup individu baru adalah kelanjar mammae. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing organ: a. Ovarium Ovari yaitu organ betina yang homolog dengan testes pada hewan jantan. Ovary berada di dalam rongga tubuh di dekat ginjal dan tidak

mengalami pergeseran atau perubahan tempat seperti pada testes.

Ovary

seekor sapi betina berbentuk menyerupai biji buah almond dengan berat ratarata 10 sampai 20 gram. Sebagai perbandingan, pada sapi jantan di mana biji pejantan berkembang di tubulus seminiferus yang letaknya dalam, pada betina jaringan yang menghasilkan ovum berada sangat dekat dengan permukaan ovary (Blakeley, 1991). Pada sapi, ovarium berbentuk oval dan bervariasi dalam ukuran panjang, lebar, dan tebal masing-masing 1,3-5,0 cm, 1,3-3,2 cm, dan 0,6-1,9 cm. Ovarium kanan umumnya agak lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik ia akan lebih aktif. Berat setiap ovarium bervariasi antara 10-20 gram. Ukuran ovarium berbeda-beda menurut struktur di dalamnya, yang berupa corpora luteus atau folikel. Ovaria sapi terletak pada perbatasan cranial ligamentum lata, kadangkala di bawahnya. Kantong yang dibentuk oleh ligament utero-ovarii dan mesovarium disebut bursa ovarii. Folikel de graaf yang matang biasanya berdiameter 1,0-2,0 cm dan licin, convex, berdinding tipis, dan berfluktuasi pada palpasi. Korpus luteum berdiameter kira-kira 1,9-3,3 cm dan dapat mencapai tiga-perempat ukuran ovarium. Corpus luteum kebuntingan dan corpus luteum yang matang pada siklus berahi mempunyai berat 3-9 gram atau rata-rata 5-6,5 gram. Konsistensinya bagaikan hati (hepar). Corpus luteum biasanya berbentuk ireguler degan suatu penonjolan atau mahkota yang dapat berbeda-beda dalam ukuran, dari 0,5-1,5 cm dalam diameter yang membentang 0,5-1,0 cm di atas permukaan ovarium. Kira-kira 3-5 hari sesudah ovulasi corpus luteum dapat dikenal melalui palpasi rectal. Kurang lebih 3 hari sebelum ovulasi berikutnya corpus luteum mulai menyusut, lambat laun berathropy dan diganti oleh jaringan ikat, corpus albicans. Struktur ini cenderung untuk member perasaan kasar dan fibrous pada ovaria sapi betina yang sudah tua (Toelihere,1979). b. Oviduct Oviduct adalah saluran yang akan menampung ovum yang berovulasi dan meneruskannya ke uterus. Di saluran ini berlangsung aktifitas

pembuahan. Bagian terujung tuba yang berfungsi menampung ovum dan tempat berlangsungnya pembuahan disebut infundibulum. Daerah pinggir infundibulum yang mengarah ke ovarium dan berumbai-rumbai disebut fimbrial. Dinding tuba terdiri atas tiga lapis, yaitu mukosa, otot, serosa. Mukosa berlipat-lipat memanjang dan bercabang-cabang membentuk lumen. Sel epitel mukosa berbentuk batang selapis atau beberapa lapis. Sel epitel pada tuba terdiri atas dua macam, yaitu epitel bersilia dan epitel kelenjar. Sel bersilia berfungsi untuk mengayuh ovum atau spermatozoa agar lancer bergerak agar lancer bergerak ke tempat pembuahan. Sel penggetah berguna untuk menggetahkan lender yang memudahkan silia dalam bekerja (Yatim, 1982). Lapisan otot polos menyebabkan tuba mampu bergerak. Lapisan otot itu terdiri atas lapisan otot sirkular dan memanjang serta sedikit melingkar ke arah luar. Waktu ovulasi tuba aktif bergerak berirama mendekati ovarium. Dalam fimbriae banyak jaringan pembuluh darah hal ini membuat fimbriae mampu menjulur dan membesar hingga melingkupi ovarium. Dengan cara demikian ovum akan selamat tertampung dan tidak jatuh peritoneum. Lapisan serosa terdiri dari jaringan ikat yang bersambung dengan broad ligament yang menngantung uterus kedinding dorsal tubuh (Yatim, 1982).

Mesosalpinx merupakan bagian dari ligamentum penggantung uterus yangv mengantung tuba falopi. Pada keadaan normal fimbriae didapati sedang menyelimuti ovarium. Fimbriae mempunyai sifat ovotaxis, artinya bergerak ke arah ovum. Fungsi lain oviduct adalah kapasitasi spermatozoa, yaitu proses pendewasaan sperma sampai siap membuahi telur (Partodiharjo, 1992). c. Uterus Uterus terdiri dari struktur yang menyerupai dua tanduk yang melengkung menyerupai tanduk domba dengan satu badan yang sama. Pada sapi tanduk uterus tersebut Tanduk-tanduk uterus itu biasanya berkembang

dengan baik, salah satunya akan menjadi tempat terjadinya perkembangan fetus. Di dalam uterus, lapis mukosa mengandung karunkula. Tonjolantonjolan kecil ini membesar sampai membentuk puntiran spiral yang lengkap sebelum kemudian bersambung dengan tuba falopi. sebesar uang logam saat kebuntingan. Karunkule tidak mengandung kelenjar dan memiliki banyak pembuluh darah. Penampakan karunkule menyerupai spons karena adanya rongga-rongga kecil yang berperan sebagai titik perlekatan bagi kotiledon dari plasenta. Kotiledon dan karunkula bersama-sama membentuk plasetom yang dapat dibayangkan dua tombol yang menempel satu sama lain (Blakeley, 1991). Uterus adalah suatu organ untuk menerima ovum dari ovulasi. Dan kalau dibuahi tempat pertumbuhan embrio. Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan, pertama lapisan endometrium (lapisan mukosa), kedua myometrium (lapisan otot polos), dan yang ketiga lapisan serosa (penerusan peritoneum). Endometrium berfungsi untuk menyiapkan dan ikut bekerja untuk proses nidasi dan ikut membina placenta dari pihak induk. Struktur dan funsi endometrium berhubungan dengan kegiatan penggetahan hormon dari ovarium , jadi menyesuaikan diri dengan kegiatan ovarium menghasilkan folikel dan ovum. Mymetrium membuat uterus dapat berkontraksi . kegunaan kontraksi itu adalah untuk mengisap spermatozoa yang diejakulasin waktu coitus, untuk melancarkan aliran spermatozoa menuju infundibulum, dan untuk meluruhkan embrio, placenta atau lapisan fungsionalis endometrium (Yatim, 1994). d. Cervix Serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke caudal ke dalam vagina. Ia dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat. Walaupun struktur serviks berbeda- beda antar hewan, dindingnya ditandai oleh berbagai penonjolan- penonjolan. Pada ruminansia penonjolan ini terdapat dalam bentuk lereng- lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin- cincin annuler yang berkembang sampai derajat yang berbeda

(biasanya 4 buah) dan pada domba, yang dapat menutup rapat serviks secara sempurna (lihat gambar). Pada babi, cincin- cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka tutup botol yang disesuaikan dengan perputaran spiralis ujung penis babi jantan. Pada serviks kuda terdapat lipatan-lipatan mukosa yang nyata dengan penonjolannya yang memanjang ke dalam vagina (Prihatno, 2004). Dinding serviks terdiri dari mukosa, muskularis dan serosa. Mukosa serviks tersusun dalam lipatan-lipatan sekunder yang kecil. Sel-sel yang menghasilkan mucus pada mukosa mempunyai permukaan sekretoris yang luas. Aktivitas sekretorisnya yang tertinggi ditemukan pada waktu estrus; pada waktu berahi mucus serviks terdapat dalam keadaannya yang paling tidak kental. Muskularis sangat kaya akan jaringan kolagen dan jaringan elastic. Ia juga mengandung otot licin. Lapisan otot sirkuler dibagian dalam sangat berkembang e. Vagina Vagina merupakan struktur reproduksi internal yang paling bawah (palingluar). Vagina berperan sebagai organ kopulasi pada betina. Di sinilah semen di tumpahkan oleh penis pejantan. Seperti halnya serviks, vagina juga mengembang agar fetus dan membran dapat dapat lewat pada waktunya (Blakeley, 1991). f. Klitoris dan Vulva Vulva terdiri dari labia majora, kommisura dorsalis dan ventralis dan juga klitoris. Vulva dan vistikulum tidak timbul dari saluran aramesomerephrik primitive tetapi bersal dari entoderm sinus urogenitalis dan ectoderm embrional. Labia atau bibir vulva secara normal selalu dekat berdampingan, tidak menganga, dan lubang vulva terletak tegak lurus terhadap lantai pelvis. Dinding labia majora banyak terkandung kelenjarkelenjar sebaceous dan tubuler, deposit-deposit lemak, jaringan elastic dan dan membentuk bahan utama lipatan-lipatan annuler (Partodihardjo, 1979).

selapis tipis otot licin, dan mempunyai struktur permukaan luar yang sama seperti kulit. Labia minora adalah bibir yang lebih kecil dengan jaringan ikat di bagian dalamnya. Permukaanya mengandung kelenjar sebacious g. Kelenjar mammae Tipe kelenjar susu : tubule alveolar yang terkelompok dalam atas lobi. Tiap lobus terdapat banyak lobuli, diantara lobi dan lobuli terdapat jaringan ikat dan jaringan lemak. Sel kelemjar ini menggetahkan air susu yang berkumpul dalam lumen alveoli. Alveoli diselaputi oleh epitel yang dapat berkerut (Yatim, 1994). Lobus memiliki saluran susu yang bermuara ke papilla, di dekat muaranya saluran itu membesar disebut ampulla. Perubahan histologist pada kelenjar seirama dengan daur ovarium dan uterus (Yatim, 1994). 2.1.3.3 Oogenesis Folikel mencapai kematangannya melalui tingkatan-tingkatan

perkembangan folikel-folikel primer, sekunder, tersier (yang sedang bertumbuh) dan degraaf (yang matang). Folikel primer terdiri satu bakal sel telur yang pada fase ini disebut oogonium dan selapis sel folikuler kecil. Selapis tebal folikel-folikel ini berkumpul di bawah tunica albuginea (Toelihere, 1979). Seperti halnya pada jantan, oogenesis pun memiliki tahap, yaitu proliferasi, meiosis, transformasi atau pematangan. Spermatogenesis berlangsung setelah akil baligh, sedangkan oogenesis sudah mulai semasa embrio awal, terhenti sebagian waktu lahir, dan dilanjutkan setelah akil baligh. Pada mamalia jantan tak memiliki daur pembiakan yang jelas sedangkan betina memiliki daur itu (Yatim, 1994). Folikel tumbuh memiliki tahap pertumbuhan sejak dari folikel primer, sekunder, tersier. Pada filokel primer terkandung oosit primer. Waktu itu oosit primer sedang menempuh tahap leptoten profase meiosis I. ketika

folikel primer tumbuh jadi folikel sekunder, oosit primer sampai pada tahap pakiten profase meiosis I. folikel tersier sudah mulei dibentuk dari folikel sekunder waktu bayi lahir. Jadi, folikel tersier ini mengandung oosit primer yang sudah menyelesaikan tahap diploten profase meiosis 1. Volikel tersier timbu sewaktu sel-sel pada lapisan volikuler memisahkan diri untuk membentuk antrum. Antrum di batasi oleh banyak lapisan volikuler yang di kenal secara umum sebagai membrane granulose, dan di isi oleh liquor volikuli yang kaya protein dan esatrogen. Volikel degraf memiliki diameter yang berbeda menurut jenis hewan. Pertumbuhan volikel degraf meliputi dua lapis sel stroma cortex yang mengelilingi sel-sel volikuler. Lapisan sel tersebut membentuk lapisan theca interna dan theca externa. Jumlah volikel degraf yang terbentuk persiklus birahi tergantung pada hereditas dan factor lingkungan. Pada sapid an kuda satu volikel biasanya berkembang lebih cepat dari pada yang lain sehingga pada tiap estrus hanya satu yang di lepaskani . Pemecahan volikel degraf terjadi sewaktu ovulasi. Sebelum

pemecahan volikel terjadi ovum di bungkus oleh cumulus oophorus yang tersembul ke dalam antrum yang berisi cairan. Ruktura berlangsung pada apex volikel dan terjadi secara berangsur-angsur. Lapisan terluar terlepas dan lapisan dalam membentuk stigma. Stigma menipis, menggembung ke permukaan ovarium dan pecah usmelepaskan sedikit cairan volikuler. Kemudian ovum bergerak ke arah celah dan tertadah oleh ujung ovidak yang berfimbriae. Setelah ovulasi volikel menciut. Jumlah oosit yang terdapat pada sapi betina yang baru lahir sejumlah 75.000 dan bersiasa 2500 ketika sapi berusia 12-14 tahun. Hal ini di sebabkan oleh volikel yang gagal matang. Dan akan berdegenerasi (atresia). Ukuran dan jumlah volikel menurun sesudah partus dan selama laktasi. Segera setelah ovulasi rongga volikel membentuk corpus

haemorragikum. Membrane granulose melipat dan sel-sel granulose yang

hipertropis berbentuk tali dan membentang dari permukaan ke pusat ronggga. Perubahan selanjutnya tergantung pada ovum yang di buahi atau tidak. Warna korpus luteum pada sapi dan kuda adalah kuning, karena sel-sel luteim mengandung liphocrom kuning (luteim). Sedangkan pada domba dan babi corpus luteum berwarna seperti daging. Bentuk corpus luteum berbeda pada setiap spesies. Sapi dan domba corpus leteum berada permukaan ovarium. Ukuran terbesar corpus luteum pada sapi dicapai kira-kira 8 hari setelah ovulasi dan tetap hingga hari ke 18. Apabila terjadi kebuntingan corpus luteum mempertahankan ukuran besarnya. Corpus luteum bertambah besar sampai bulan ke 2 dan ke 3, kemudian menurun pada bulan ke 4 dan ke 6 dan selanjutnya konstan pada partus. Jika tidak terrjadi vertelisasi corpus luteum berregresi yang memungkinkan volikel degraf matang. Regresi korpus luteum pada sapi betina yang tidak bunting di mulai 14-15 hari setelah estrus (toilehere, 1979). 2.1.3.4 Siklus Reproduksi Sapi Siklus reproduksi di awali oleh dewasa kelamin (pubertas). Pubertas pada hewan betina nampak oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sekali pubertas telah tercapai dan musim reproduksi telah mulai estrus mulai terjadi pada hewan yang tidak bunting menurut suatu siklus tertentu. Interval antara satu periode birahi dengan periode berikutnya di sebut siklus birahi. Beberapa spesies adalah hewan monoestrus dan sebagian yang lain adalah poliestrus. Siklus birahi umumnya di bagi atas empat fase, yaitu proestrus, estrus, metestrus dan dietrus (Blakeley, 1991). Proestrus adalah fase sebelum estrus. Sistem reproduksi memulai persiapan pelepasan ovum pada tahap ini. Volikel mengembang dan di isi oleh cairan volikuler. Pada sapi mucus yang kering dan lengket berubah menjadi transparan. Pada akhir proestrus hewan betina memperlihatkan perhatian pada hewan jantan.

Estrus adalah periode yang di tandai dengan penerimaan kelamin betina dari kelamin jantan. Pada sapi betina estrus di tandai dengan vulva bengkak, memerah, mengeluarkan lendir, menaiki sapi lain dan diam saat di naiki sapi lain. Ovum dilepaskan dan ditangkap oleh fimbriae oviduct. Metestrus adalah periode segera sesudah estrus dimana corpus luteum bertambah dari sel-sel granulosa folikel yang telah pecah di bawah pengaruh LH dari adenohvpophysa. Matestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh progesteron yang dihasilkan oleh corpus luteum. Diestrus adalah periode terakhir dan terlama siklus berahi pada ternakternak mamalia. Corpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron terhadap saluran reproduksi (Blakeley, 1991). 2.1.3.5 Penyakit Reproduksi Sapi Betina a. Penyebab Gangguan Reproduksi Gangguan reproduksi pada sapi potong disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya (Blakeley, 1991).: a. Cacat anatomi saluran reproduksi (defek kongenital). b. Gangguan fungsional. c. Kesalahaan manajemen. d. Infeksi organ reproduksi. b. Macam Gangguan Reproduksi 1. Cacat anatomi saluran reproduksi Abnormalitas yang berupa cacat anatomi saluran reproduksi ini dibedakan menjadi dua yaitu cacat congenital (bawaan) dan cacat perolehan.

2.

Cacat Kongenital

Gangguan karena cacat kongenital atau bawaan lahir dapat terjadi pada ovarium (indung telur) dan pada saluran reproduksinya. Gangguan pada ovarium meliputi: Hipoplasia ovaria (indung telur mengecil) dan Agenesis ovaria (indung telur tidak terbentuk). Hipoplasia ovaria merupakan suatu keadaan indung telur tidak berkembang karena keturunan. Hal ini dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral. Apabila terjadi pada salah satu indung telur maka sapi akan menunjukan gejala anestrus (tidak pernah birahi) dan apabila terjadi pada kedua indung telur maka sapi akan steril (majir). Secara perrektal indung telur akan teraba kecil, pipih dengan permukaan berkerut. Agenesis merupakan suatu keadaan sapi tidak mempunyai indung telur karena keturunan. Dapat terjadi secara unilateral (salah satu indung telur) ataupun bilateral (kedua indung telur). Cacat turunan juga dapat terjadi pada saluran alat reproduksi, diantaranya : Freemartin (abnormalitas kembar jantan dan betina) dan atresia vulva (pengecilan vulva). Kelahiran kembar pedet jantan dan betina pada umumnya (lebih dari 92%) mengalami abnormalitas yang disebut dengan freemartin. Abnormalitas ini terjadi pada fase organogenesis (pembentukan organ dari embrio di dalam kandungan), kemungkinan hal ini disebabkan oleh adanya migrasi hormon jantan melalui anastomosis vascular (hubungan pembuluh darah) ke pedet betina dan karena adanya intersexuality (kelainan kromosom). Organ betina sapi freemartin tidak berkembang (ovaria hipoplastik) dan ditemukan juga organ jantan (glandula vesikularis). Sapi betina nampak kejantanan seperti tumbuh rambut kasar di sekitar vulva, pinggul ramping dengan hymen persisten. Sedangkan Atresia Vulva merupakan suatu kondisi pada sapi induk dengan vulva kecil dan ini membawa resiko pada kelahiran sehingga sangat memungkinkan terjadi distokia (kesulitan melahirkan). Penanganannya

dengan pemilihan sapi induk dengan skor kondisi tubuh (SKT) yang baik (tidak terlalu kurus atau gemuk serta manajemen pakan yang baik 3. Cacat perolehan

Cacat perolehan dapat terjadi pada indung telur maupun pada alat reproduksinya. Cacat perolehan yang terjadi pada indung telur, diantaranya: Ovarian Hemorrhagie (perdarahan pada indung telur) dan Oophoritis (radang pada indung telur). Perdarahan indung telur biasanya terjadi karena efek sekunder dari manipulasi traumatik pada indung telur. Bekuan darah yang terjadi dapat menimbulkan adhesi (perlekatan) antara indung telut dan bursa ovaria ( Ovaro Bursal Adhesions / OBA). OBA dapat terjadi secara unilateral dan bilateral. Gejalanya sapi mengalami kawin berulang. Sedangkan Oophoritis merupakan keradangan pada indung telur yang disebabkan oleh manipulasi yang traumatik/ pengaruh infeksi dari tempat yang lain misalnya infeksi pada oviduk (saluran telur) atau infeksi uterus (rahim). Gejala yang terjadi adalah sapi anestrus. Cacat perolehan pada saluran reproduksi, diantaranya: Salphingitis, trauma akibat kelahiran dan tumor. Salphingitis merupakan radang pada oviduk. Peradangan ini biasanya merupakan proses ikutan dari peradangan pada uterus dan indung telur. Cacat perolehan ini dapat terjadi secara unilateral maupun bilateral. Sedangkan trauma akibat kelahiran dapat terjadi pada kejadian distokia dengan penanganan yang tidak benar (ditarik paksa), menimbulkan trauma/ kerusakan pada saluran kelahiran dan dapat berakibat sapi menjadi steril/ majir. Tumor ovarium yang umum terjadi adalah tumor sel granulosa. Pada tahap awal sel- sel tumor mensekresikan estrogen sehingga timbul birahi terus menerus (nympomania) namun akhirnya menjadi anestrus. Penanganan cacat perolehan disesuaikan dengan penyebab

primernya. Jika penyebab primernya adalah infeksi maka ditangani dengan

pemberian antibiotika. Perlu hindari trauma fisik penanganan reproduksi yang tidak tepat. 4. Gangguan fungsional

Salah satu penyebab gangguan reproduksi adalah adanya gangguan fungsional (organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik). Infertilitas bentuk fungsional ini disebabkan oleh adanya abnormalitas hormonal. Berikut adalah contoh kasus gangguan fungsional, diantaranya : 1. Sista ovarium 2. Subestrus dan birahi tenang 3. Anestrus 4. Ovulasi tertunda

BAB III PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2006. Pejantan Sapi Potong dan Kambing. Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Direktorat Jendral Peternakan. Deptan. Blankeley, James AND H. David. 1991. Ilmu Peternakan Edisi Ke Empat. Universitas Gajahmada Press, Yogyakarta. Boothby, D. AND G. FAHEY, 1995. A Practical Guide Artificial Breeding of Cattle. Agmedia, East Melbourne Vic 3002. Pp 127. Ewer, T.K. 1982. Practical Animal Husbandry. Dorset Press,

Dorchester.

Prihatno, S.A. 2004. Infertilitas dan Sterilitas. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Riady, M. 2006. Implementasi Program Menuju Swasembada Daging 2010. Strategi dan Kendala. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak, 5-6 September, 2006. Toelihere, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan pada Ternak Sapi dan Kerbau. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta. Ewer, T.K. 1982. Practical Animal Husbandry. Dorset Press,

Dorchester.