Anda di halaman 1dari 11

Wirausaha adalah orang yang menjalankan usaha atau perusahaan dengan kemungkinan untung atau rugi.

Oleh karena itu wirausaha perlu memiliki kesiapan mental, baik untuk menghadapi keadaan merugi maupun untung besar. Sehingga seorang wirausaha harus mempunyai karakteristik khusus yang melekat pada diri seorang wirausaha seperti percaya diri, mempunyai banyak minat, bisa bersepakat, mempunyai ambisi, berjiwa penjelajah, suka mencoba sesuatu, dll

dengan kreativitas adalah menghadirkan suatu gagasan baru. Kreativitas itu merupakan sebuah proses yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan. Anda harus mengetahui bahwa kreativitas tiap-tiap orang berbeda-beda, kemampuan seseorang dalam bakat, pengetahuan, dan lingkungan juga dapat mempengaruhi kreativitas. Kreativitas merupakan sumber yang penting dari kekuatan persaingan karena adanya perubahan lingkungan. Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru ke dalam kehidupan. Pendapat lain menyebutkan kreativitas itu adalah kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru ini : a. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi atau melihat hubungan-hubungan baru antara unsure, data, variabel, yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Conny Semiawan (1984).

b.

seorang Wirausaha terletak pada sikap dan kemampuan berusaha, serta memiliki semangat yang tinggi. Sedangkan semangat atau etos kerja yang tinggi seorang Wirausaha itu terletak pada kreativitas dan rasa percaya pada diri sendiri untuk maju dalam berwirausaha. Seorang Wirausaha yang kreatif dapat menciptakan hal-hal yang baru untuk mengembangkan usahanya. Kreativitas dapat menyalurkan inspirasi dan ilham terhadap gagasan-gagasan baru untuk kemajuan dalam bidang usahanya. Kita tidak mungkin memiliki gambaran yang lengkap mengenai masa depan, tetapi tindakan kita akan memiliki konsekuensi di masa depan. Oleh karena itulah, kita memerlukan pemikiran yang kreatif yang membantu untuk melihat konsekuensi dari tindakan serta untuk memberikan alternatif tindakan. Pemikiran kreatif berhubungan secara langsung dengan penambahan nilai, penciptaan nilai, serta penemuan peluang bisnis. Pola pemikiran kreatif juga dibutuhkan untuk menggambarkan keadaan masa depan, di mana seorang Wirausaha akan beroperasi, juga akan memberikan gambaran yang tidak dapat dihasilkan oleh eksplorasi terhadap trend masa kini. De Bono, berpendapat bahwa pola merupakan motivator yang sangat besar, karena membuat orang sangat tertarik akan pekerjaanya. Pemikiran kreatif juga memberikan kemungkinan bagi setiap orang untuk mencapai sesuatu tujuan. Seorang Wirausaha yang kreatif akan membuat hidup akan lebih menyenangkan, lebih menarik serta akan menyediakan kerangka kerja dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Randsepp, menyebutkan ciri-ciri tentang pemikiran kreatif sebagai berikut :

a. sensitif terhadap masalah-masalah, b. mampu menghasilkan sejumlah ide besar, c. fleksibel, d. keaslian, pemikiran yang kreatif

Sedangkan berpikir kreatif adalah suatu cara berpikir dimana seseorang mencoba menemukan hubungan-hubungan baru untuk memperoleh jawaban baru terhadap masalah. Dalam berpikir kreatif, seseorang dituntut untuk dapat memperoleh lebih dari satu jawaban terhadap suatu persoalan dan untuk itu maka diperlukan imajinasi. Adapun berpikir analitis adalah berpikir yang sebaliknya menggunakan suatu pendekatan logis menuju ke jawaban tunggal. Sebenarnya dalam menghadapi masalah kita membutuhkan kedua jenis berpikir tersebut, yaitu berpikir logis-analitis dan berpikir kreatif. Berpikir logis-analitis sering disebut dengan berpikir konvergen, karena cara berpikir ini cenderung menyempit dan menuju ke jawaban tunggal. Sementara itu berpikir kreatid sering disebut sebagai berpikir divergen, karena disini pikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari ide-ide baru. MANAJEMEN BISNIS DALAM KEWIRAUSAHAAN

Pengertian Manajemen dan Organisasi :


Setiap perusahaan memiliki tujuan, untuk mencapai tujuan perusahaan adalah Manajemen. Manajemen dan Organisasi tidak dapat dipisahkan satu sama lain, manajemen bagian organisasi dan sebaliknya. Manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan. Organisasi merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Manajemen dapat diartikan sebagai proses dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen adalah proses pengelolaan suatu kegiatan atau usaha dari awal hingga perusahaan berjalan dan bangkrut. Manajemen merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan dengan melalui suatu proses.

Fungsi manajemen dalam bisnis : Proses untuk mencapai tujuan menjadi fungsi manajemen:

1. 1.

Planning

Perencanaan adalah proses menentukan arah yang akan ditempuh dan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Organizing

1. 2.

Pengorganisasian adalah proses pengelompokan berbagai kegiatan atau pekerjaan dalam unit-unit. Tujuannya adalah supaya tertata dengan jelas antara tugas, wewenang, dan tanggung jawab serta hubungan kerja dengan sebaik mungkin dalam bidangnya masing-masing. Actuating

1. 3.

Menggerakkan atau melaksanakan adalah proses untuk menjalankan kegiatan atau pekerjaan dalam organisasi. Controling

1. 4.

Pengawasan adalah proses untuk mengukur dan menilai pelaksanaan tugas apakah telah sesuai dengan rencana.

Suatu usaha yang telah dipilih oleh wirausahawan tidak serta merta akan memberikan jaminan bahwa usaha yang dipilihnya tersebut akan mendatangkan keuntungan jika usaha tersebut tidak dikelola secara professional. Pengelolaan usaha yang baik dapat anda lakukan dengan mengacu pada manajemen bisnis, langkah ini merupakan salah satu jalan menuju keberhasilan usaha. Seorang wirausahawan harus mempunyai rencana yang matang mengenai perencanaannya. Rencana tersebut mencakup: bisnis apa yang dimiliki, memulai sendiri atau membeli suatu perusahaan yang ada, mengetahui apa dan di mana pasar untuk produk atau servisnya. Memulai suatu tidaklah mudah karena banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi. Untuk suksesnya suatu permulaan kita memerlukan : a)Adanya peluang usaha yang sangat solid. b) Memiliki keahlian dan kemampuan dalam bidang yang akan ditekuninya. c)Pendekatan yang benar dalam menjalankan usaha, dan d) Memiliki dana yang cukup untuk memulai dan mengoperasikan usaha tersebut hingga dapat berdiri sendiri (Harper,1991).

Dalam memulai usaha baru kita harus mempelajari situasi pasar maupun keadaan industri yang akan dimasuki. Keadaan pasar tersebut mungkin telah dipenuhi oleh para pesaing lainnya sehingga tidak mudah untuk dimasuki, mungkin juga pasar yang dituju tersebut telah jenuh. Era orientasi produksi dan orientasi pemasaran tampaknya akan segera berlalu memasuki era baru yaitu era persaingan (competition era). Untuk itu perlu sekali menganalisis situasi kekuatankekuatan pesaing yang ada di pasar dengan cermat. Perusahaan dapat meluncurkan produk yang berbeda dari pesaing lainnya dengan memproduksi produk inovatif atau paling tidak ada perbedaan yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan produk pesaing lainnya. Strategi lain adalah dengan memanfaatkan keunggulan biaya. Keunggulan biaya ini dapat mengakibatkan biaya produksi kita lebih rendah sehingga dapat menjual dengan harga yang lebih kompetitif. Sedangkan untuk pasar industri dengan target yang lebih sempit kita dapat menggunakan strategi dengan memfokuskan keunggulan biaya atau memfokuskan differensiasi produk pada segmen pasar tertentu yang mampu dikuasai.
1.1. PENGERTIAN MANAJEMEN Manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan perkerjaan melalui orang lain (Mary Parker Follett) Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usahausaha para anggota organisasi dan pengunaan sumber daya- sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Stonner) Proses tersebut terdiri dari kegiatan-kegiatan manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Perencanaan berarti bahwa para manajer memikirkan kegiatan-kegiatan mereka sebelum dilaksanakan. Pengorganisasian berarti bahwa para manajer mengkoordinasikan sumber daya manusia dan material organisasi Pengarahan berarti bahwa para manajer mengarahkan, memimpin dan mempengaruhi bawahan. Pengawasan berarti bahwa para manajer berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak kearah tujuan-tujuannya. Kesimpulan manajemen didefinisikan sebagai bekerja dengan orang-orang untuk menentukan, menginterpretasikan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), Pengorganisasian (Oranizing), Penyusunan Personlia atau Kepegawaian (stafting), Pengarahan dan Kepemimpinan (leading) dan Pengawasan (controlling) (http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/gdr/SIM%20A.doc)

hambatan-hambatan kreativitas dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hambatan Psikologis ; hambatan ini membuat seseorang menjadi tidak bebas dalam mengeksploitasi dan mengubah gagasan, mengalami halangan dalam mengekspresikan kemampuan konseptual dan kurang mampu berkomunikasi dengan baik.

Hambatan Budaya ; adanya keseragaman berpikir atau pemujaan terhadap cara berpikir logis dan rasional.

Hambatan Lingkungan ; lingkungan dapat berbentuk fisik dan sosial Hambatan Bahasa Berpikir ; kita memiliki beragam bahasa yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah. Kemampuan untuk memilih bahasa berpikir yang paling tepat untuk memecahkan masalah akan dapat menghasilkan pemecahan masalah yang amat kreatif.

Hambatan Keterpakuan Fungsional ; hambatan ini bersumber pada kebiasan kita untuk memfungsikan peralatan, orang ataupun teknologi hanya dengan satu cara.

Hambatan Kebiasan Memandang ; kebiasaan memandang suatu benda atau alat adalah salah satu penghambat kreativitas

Hambatan Kreativitas Hambatan Psikologis, hal ini dikarenakan kebanyakan kita telah mengikuti proses pendidikan formal maupun informal yang sangat menekankan pentingnya satu jawaban yang benar. Sehingga kurang mampu mengekspresikan kemampuan konseptual, dan kurang mampu berkomuni-kasi dengan baik.

Hambatan Budaya, hal ini dikarenakan adanya keseragaman berpikir atau pemujaan terhadap berpikir logis dan rasional. Pemecahan masalah haruslah selalu bersifat serius dan tanpa humor maupun canda, sehingga menghambat penyelesaian yang bersifat intuitif atau menggunakan perasaan dan kreativitas.

Hambatan Lingkungan sosial maupun fisik, hal ini dikarenakan lingkungan sosial yang selalu teratur, dan lingkungan fisik atau layout yang tetap, permanen dan mapan, sehingga dapat mengurangi produktivitas dan kreativitas.

Hambatan Bahasa Berpikir, hal ini dikarenakan kita memiliki beragam bahasa yang digunakan untuk menyelesaikan suatu masalah, misalnya bahasa lisan, matematik, visual dan bahasa pengindraan lainnya. Sehingga kita tidak selalu dapat menggunakan satu bahasa berpikir untuk menyelesaikan segala persoalan.

Hambatan Keterpakuan Fungsional, hal ini dikarenakan pada kebiasaan kita untuk memfungsikan peralatan, orang, ataupun teknologi hanya dengan satu cara atau dengan kata lain terpaku pada apa yang dipelajari saja.

seorang pemimpin harus bisa mengambil tindakan yang tepat yaitu yang pertama adalah mencari orang orang yang tepat . sama hal dengan suatu organisasi, dalam dunia kewirausahaan juga membutuhkan patner ato teamwork(kerja tim) yang solid dan komunikatif agar bisa membina hubungan baik terutama antar pimpinan dan bawahan dalam hal ini rekan kerja. karena mustahil seorang pemimpin bisa memaksimalkan kinerjanya tanpa di dukung oleh orang-orang yang support ,berkompeten ,dan selalu ada di belakangnya. Sehingga untuk pencapaian yang maksimal biasanya seorang pemimpin ketika mencari patner atau rekan kerja, ia selalu mencari yang sepahaman dan bisa di arahkan untuk mencapai target dan tujuan yang ingin ia capai. Yang kedua seorang pemimpin harus menjadi konseptor dan selalu memiliki ide-ide yang kritis , inovtif dan selalu sadar akan perubahan-perubahan pasar(up to date), karena dalam dunia wirausaha ide-ide inovasi semacam inilah yang selalu digunakan untuk mempertahankan kelangsungan suatu usaha. dan yang terakhir adalah pelanggan (Costumer) nah untuk yang terahir ini yang paling sering kerap kali di abaikan oleh seorang pemimpin wiraushawan, padahal peran konsumen sangat penting terutama dalam cipta,cita,rasa. setiap konsumen selalu memliki bentuk emosi yang berbeda dalam menilai suatu barang atau produk dan bisa menjadi refrensi untuk slalu bisa melakukan evaluasi atas prodak(barang/jasa) yang kita sediakan sehingga seorang pemimpin yang pandai slalu menjadikan pelanggan atau kostumernya menjadi patner ketiganya.

Mengapa Kepemimpinan Penting dalam Berwirausaha: 1. Agar dalam pelaksanaan berwirausaha dapat terstruktur dan terencana dengan baik sesaui tujuan yang ingin di capai 2. karena dalam kewirausahaan dibutuhkan sosok/seseorang yang dapat memimpin secara bertanggung jawab dalam hal mengurus dan mengelola suatu usaha sesuai dengan karateristik seorang pemomimpin 3. Pemimpin merupakan jabatan tertinggi dalam suatu kewirausahaan dan memiliki tugas yang sangat berat seperti pengambil keputusan, penanggung jawab tindakan yang dilakukan oleh setiap bawahannya, memberikan wewenang, dan lain-lain. 4. dan syarat utama ketika ingin berwira usaha harus memiliki seorang pemimpin bukan pemimpi Kesimpulan :dengan dia untuk memajukan perusahaan yang di kelolanya
The art of getting someone else to do something you want done because he wants to do it. Kepemimpinan adalah seni meminta seseorang melakukan sesuatu yang ingin kau lakukan, tetapi orang tersebut merasa senang seolah melakukan sesuatu yang mereka inginkan sendiri. ~ D wight D. Eisenhower ~

Penyebab wirausaha gagal dalam menjalankan usahanya: 1. Kurangnya kehandalan SDM dan tidak kompeten dalam manajerial serta kurangnya pengalaman ketika menjalankan strategi perusahaan. Strategi baik yang dibuat tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya kompetensi dalam manajerial. Menempatkan orangorang yang tidak kompeten di tempat yang sangat strategis akan memperburuk jalannya usaha. Kompetensi dalam manajerial sangat membantu keberhasilan perusahaan karena meletakan orang-orang yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat bekerja karyawan akan mempermudah usaha dan strategi perusahaan untuk dilaksanakan. 2. Kurangnya pemahaman bidang usaha yang diambil karena tidak dapat memvisualisasikan dengan jelas usaha yang akan digeluti. Seorang wirausahawan apabila tidak dapat mendeskripsikan dan memvisualisakan bentuk usaha yang digeluti mengantar pada kehancuran usaha. Pemaham bisnis atau bidang usaha yang diambil secara kontekstual dan riel sangat membantu arah, tujuan, misi, dan visi perusahaan. Kejelasan bidang usaha yang telah ditentukan sangat membantu dan mempermudah mengambil kebijakan manajerial dan strategi yang dibuat. 3. Kurangnya kehandalan pengelolaan administrasi dan keuangan (modal dan kendali kredit). Pengelolaan adminsitrasi dan keuangan yang apa adanya akan mempersulit majunya perusahaan. Pencatatan adminsitrasi dan keuangan secara sembarang akan semakin memperburuk kondisi usaha karena tidak dapat membaca transaksi dan aktivitas yang telah terjadi. Aktivitas yang telah dilalui seperti pembayaran utang-piutang, jumlah pesanan, jadwal kirim, proses produksi, dll akan tidak dapat terselelsaiak dengan baik. Penangana modal dan kreditdari bank atau swasta apabila tidak dicatat pengeluaran dan alokasi penggunaannya akan semakin memperburuk kondisi keuangan. Alangkah baiknya dalam melakukan aktivitas selalu berpedoman Segala yang telah dikerjakan harus dicatat dan segala yang tercatat harus dapat dikerjakan dengan baik sehingga perusahaan yang menggunakan prinsip tersebut dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. 4. Gagal dalam perencanaan. Kegagalan dalam menerapkan rencana biasanya karena rencana yang telah dibuat berdasarkan pengalaman orang lain atau sebuah idealis yang belum pernah diaplikasikan. Kegagalan ini terjadi karena tidak tahu sama seklai kondisi atau medan usaha yang digelutinya. Faktor-faktor yang mendukung kegagalan dalam melaksanakan atau menerapkan rencana adalah dari dalam diri sendiri. 5. Tempat usaha dan lokasi yang kurang memadai. Tempat usaha dan lokasi sangat menentukan kelancaran bisnis yang digeluti. Salah memilih, membangun, atau membuka tempat usaha yang harapnnya dapat memperbesar usaha justru kandas karena kesalahan tersebut. Tempat usaha seharusnya diperiksa dulu kelayakannya seperti budaya, karakter, strata sosial, pendapatan, selera, kemanan masyarakat disekitarnya. 6. Kurangnyam pemahaman dalam pengadaan, pemeliharaan, dan pengawasan bahan baku dan sarana peralatan. Kemampuan dalam pengadaan, pemeliharaan, pengawasan bahan baku dan peralatan yang dimiliki sangatlah penting. Karena apabila tidak memiliki kemapuan dalam bidang ini akan membuat biaya operasioanal semakin tinggi dan kerugian akan terjadi. 7. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi perubahan teknologi. Seoranng yang berwirausaha haruis berani melakukan perubahan dalam organisasinya. Salah satu perubahan yang dapat membantunya adalah perubahan teknologi yang sedang

berkembang. Ketidakmampuan mengikuti perubahan teknologi tidak membuat organisasi mati begitu saja tetapi pergerakan organisasinya berlahan-lahan lambat dan berangsurangsur ketinggalan dengan organisasi yang lain yang lebih cepat menanggapi perubahan teknologi. 8. Hambatan birokrasi. Birokrasi sangat membantu dalam kearsipan dan adminsitrasi organisasi tetapi apabila birokrasi sangat lambat dan menghambat sama sekali maka akan memperlambat laju kinerga organsiasi. 9. Keuntungan yang tidak mencukupi. Keuntungan yang akan diperoleh dalam berwirausaha adalah dasar motivasi ketika seseorang merencanakan bidang usaha. Akan tetapi keuntungan yang diperolah di luar dari jangkau biaya yang telah dikeluarkan atau perkiraan laba yang diperoleh sebelumnya akan mengakibatkan kelangsungan usaha yang cepat berhenti. Motivasi karena bayangnan keuntungan yang diperoleh sangat tinggi adalah sikap yang kurang objektif apabila belum mengetahui kondisi lingkungan bisnis yang sebenarnya. Hal yanng paling penting sebelum mnemproleh laba yang tinggi adalah cepat kembalinya modal awal yang digunakan sebagai operasional awal. 10. Tidak adanya produk yang baru. Produk yang telah dibuat dan berhasil memenangi pasar belum tentu akan bertahan lama karena banyak kompetitor yang selalu melakukan inovasi maupun perbaikan produk mereka untuk tampil di pasar. Pengusaha yang tidak pernah menampilkan produk baru yang kreatif maupun inovatif akan mempercepat berhenti usahanya. Hal ini terjadi karena tidak mampu bersaing oleh kompetitor yang telah mengeluarkan produk baru dan mearik perhatian pasar. 1.Tiadak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil. 2.Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan. 3.Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran khas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran khas akan menghambat operasional perusahaan dan akan mengakibatkan perusahaan tidak lancar. 4.Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awak dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perncanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan. 5. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien. 6. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan eret kaitanya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif. 7. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalan berusaha. Sikap yang setengah-setengah dalam usaha akan mengakibatkan usaha yang

dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati kemungkinan gagal akan besar. 8.Ketidakmempuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka ia tidak ada jaminan untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu. Pola Pikir Entrepreneur : pemanfaatan sumber daya vs pembuangan sumber daya. Enterprenenur berpikir bahwa ada kesempatan yang dapat dimanfaatkan dari ketersediaan sumber daya di sekitarnya. Orang biasa mungkin berpikir bahwa sesuatu yang sudah digunakan atau yang tidak penting lebih baik dibuang, tetapi beberapa orang yang berpikir sudut pandang lain, berpikir untuk memanfaatkannya, dan dijadikan sesuatu yang bisa dijadikan uang. Terdapat perbedaan pola pikir antara Entrepreneur vs Non Entrepreneur, termasuk memikirkan adanya hambatan untuk memulai usaha,misalnya merasa sudah terlalu tua atau malah merasa terlalu muda, tidak berbakat, maupun tidak punya modal (uang). Hal-hal seperti itu pasti ada, tergantung pola pikir masing-masing orang. Apabila memang sudah bertekad bulat menjadi entrepreneur, hal seperti itu seharusnya mampu dihadapi dan diselesaikan. Pentingnya perubahan dan peranan mindset (pola pikir). Pola pikir manusia menentukan arah kemana manusia itu akan melangkah. Dipercaya atau tidak, segala yang kita capai itu dipengaruhi oleh pola pikir, yang mempengaruhi kebiasaan, itulah pentingnya memiliki mindset akan sesuatu. Tentunya berbeda pula langkah menjadi entrepreneur daripada jadi orang biasa saja. Apabila menargetkan sasaran menjadi entrepreneur,harus berani mengubah mindset dan selanjutnya mengubah kebiasaan. Apa yang diperlukan untuk memulai bisnis? Motivasi,mindset dan realisasi. Dengan tekad bulat mewujudkan ide di pikiran ke dalam kenyataan. Tingkatkan hasrat berwirausaha anda, seperti saat anda berhasrat akan sesuatu. Berpikirlah tentang keberhasilan yang akan anda peroleh nanti, setelah perjuangan anda sekian jauh menjadi enterprenenur. Oleh karena itu, Bertransformasilah dengan cepat dan tepat. Apa yang masih mengganggu di belakang, secepat mungkin diselesaikan, agar tidak mengganggu langkah anda. Untuk berubah tidak perlu menunggu suatu waktu, karena kita tidak tahu keadaan suatu waktu itu.

Tips Praktis mengubah mindset secara sederhana, yaitu dengan menyemangati diri sendiri bahwa hari ini kita akan berhasil, akan memotivasi diri untuk mewujudkannya secara nyata.
pada entrepreneur berpikir produktif dan resources utilization sedangkan pola pikir non entrepreneur konsumtif dan resources disposal.

Pola pikir entrepreneur:

Produktif

Sebuah pola pikir yang salah satu penggunaan terbaik dari sumberdaya manusia yang dikemas menjadi satu dalam system waktu dan usaha yang akan digunakan. Elemen dari pola pikir produktif adalah: 1. Percaya diri 2. Keyakinan, kemandirian, individualitas,optimisme. 3. Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan,memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras,energik dan emiliki inisiatif. 4. Memiliki kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan. 5. Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap Keorisinilan. 6. Berorientasi ke masa depan. 7. Jujur dan tekun saran dan kritik yang membangun. 8. Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel,serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas. 9. Persepsi dan memiliki cara pandang/ cara pikir yang berorientasi pada masa depan Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja

Resources utilization (Pemanfaatan sumberdaya)

Merupakan bentuk dari pola pikir yang memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah. Pola pikir non entrepreneur:

Konsumtif

Pola pikir konsumtif merupakan kebalikan dari pola pikir produktif. Dalam hal ini pengkonsumsian dan penggunaan barang-barang yang secara berlebihan. Pola pikir ini merupakan Pola pikir non entrepreneur karena tidak bisa memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk memperoleh profit.

Resources Disposal

Pola buang adalah pola desain yang digunakan untuk menangani pembersihan sumberdaya yang ada pada suatu lingkungan. Jadi pola ini tidak mampu memberikan nilai tambah pada suatu sumberdaya sehingga potensi yang ada tidak dapat dioptimalkan.