Anda di halaman 1dari 10

1.

Klasifikasi Kehilangan Gigi pada Kasus Menurut Kennedy Kehilangan gigi sebagian adalah kehilangan satu atau lebih gigi pada rahang atas atau rahang bawah. Kehilangan gigi sebagian diklasifikasikan menjadi empat metode berdasarkan Klasifikasi Kennedy (1928). Kennedy tidak mengklasifikasikan geligi tiruan, namun mengklasifikasikan lengkung rahang yang bergigi sebagian. Klasifikasinya menghubungkan ruang yang tidak bergigi terhadap gigi-gigi yang masih ada. Klas I Kennedy: daerah tidak bergigi di bagian posterior dari gigi masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral) Klas II Kennedy : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi saja (unilateral) Klas III Kennedy : daerah yang tak bergigi terletak di antera gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya unilateral. kelas IV daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dan gigi yang masih dan melewati garis median (tengah) Dalam klasifikasi ini, ada beberapa faktor faktor yang harus diperhatikan yakni : Daerah tak bergigi yang terletak paling posterior ikut menentukan klasifikasi klas. Daerah tak bergigi tambahan disebut modifikasi. Besar daerah modifikasi tidaklah penting. Bila gigi molar ketiga tidak ada, dan tidak perlu diganti, gigi molar ketiga ini tidak ikut dipertimbangkan dalam menentukan klasifikasi. Berdasarkan uraian di atas, maka pada kasus yang terdapat di dalam pemicu 2 ini, kehilangan gigi pada pasien termasuk ke dalam klasifikasi Kennedy: Rahang atas klas II modifikasi . Pada kasus kehilangan gigi terjadi pada gigi posterior (free end) sebelah kana, yang mana keadaan ini sesuai dengan kondisi pada Klas II klasifikasi Kennedy. Selain mengalami kehilangan pada seluruh gigi posteriornya, pasien juga kehilangan gigi-gigi anterior dan gigi premolar yang merupakan dua bounded tambahan pada kasus kehilangan gigi Klas II sehingga disebut modifikasi 2. Rahang bawah klasifikasi kennedy klas III. 2. Pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk menegakkan diganosa. Diagnosa dan perawatan pendahuluan pada pembuatan gigitiruan mempunyai beberapa pertimbangan : 1. Membentuk kesehatan jaringan periodontal. 2. Pemulihan gigi pasien. 3. Pemulihan dan mengahrmoniskan hubungan oklusal. 4. Penggantian dari gigi yang hilang. Jika pasien langsung dirawat tanpa melakukan diagnosa dan perawatan pendahuluan, maka kegagalanlah yang akan dihadapi.

3. Perawatan Pendahuluan Sebelum Pembuatan GTSL Perawatan pendahuluan adalah tindakan yang dilakukan terhadap gigi, jaringan lunak maupun keras, dalam rangka mempersiapkan mulut untuk menerima gigi tiruan. Perawatan pendahuluan yang dilakukan sebelum pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan bertujuan untuk melihat keadaan seluruh perubahan-perubahan /kelainan yang terjadi pada gigi geligi, linggir alveolus yang mendukung gigi tiruan dan struktur rongga mulut yang lain yang dapat menggagalkan pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan.2

Perawatan ini meliputi: Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan bedah. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan bedah terdiri atas: Pencabutan Penyingkiran sisa akar yang tinggal dan gigi impaksi Kista dan tumor odontogenik Penonjolan tulang Bedah periodontal Pada kasus yang terdapat dalam pemicu 2, tindakan-tindakan ini tidak diperlukan karena tidak ada indikasi perwatan bedah pada kondisi rongga mulut pasien. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung. Hal ini berguna untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk gigi tiruan. Tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung meliputi: Menghilangkan kalkulus Menghilangkan pocket periodontal Melakukan splinting terhadap gigi-gigi yang mobiliti.

Pada kasus di dalam pemicu 2, tindakan-tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung yang harus dilakukan yakni berupa scalling pada daerah supragingiva pada gigi-gigi rahang bawah.. Dengan tindakan scalling, dokter gigi membantu menghilangkan kalkulus, poket periodontal. Selain itu, pada kasus ini juga harus dilakukan selektif grinding pada gigi 36 yang mengalami elongasi yang mana selektif grinding dilakukan sebanyak 1,5 mm. Tindakan selektif grinding ini bertujuan agar dataran oklusal menjadi lebih baik sehingga gangguanoklusal pada gigi pasien tersebut hilang. Tindakan konservasi.

Sebelum merencanakan gigi tiruan harus diketahui perbaikan yang akurat terhadap gigigigi yang ada. Antara lain: Penambalan Pembuatan inlay, dan sebagainya Kedudukan rest

Pada kasus di dalam pemicu 2, tindakan konservasi yang dilakukan yakni pada gigi 14 dan 15 (karies profunda di bagian proksimal) dengan dilakukan penambalan dengan menggunaka resin komposit untuk menghindari terjadinya galvanic shock jika pada rencana perawatan yang dipilih nantinya adalah berupa gigi tiruan kerangka logam. Perawatan pendahuluan : 1) Tindakan yang berhubungan dengan perawatan bedah a. Pencabutan Gigi yang cukup kuat yang akan dijadikan sandaran dapat dipertahankan dan sebaliknya gigi yang dapat menimbulkan kesulitan dalam pembuatan GT sebaiknya dicabut b. Penyingkiran sisa akar yang tinggal dan gigi impaksi Pengambilan sisa akar dapat dilakukan dari permukaan labial/bukal/palatal tanpa mengurangi alveolar ridge. Pengambilan gigi impaksi sedini mungkin agar mencegaj infeksi akut dan kronis. c. Kista dan tumor odontogenik d. Penonjolan tulang Yang menghalangi pemasangan GT harus disingkirkan Contoh : torus palatinus yang meluas sampai pertemuan palatum molle, torus palatinus yang besar dan yang menyebabkan penumpukan debris e. Bedah periodontal Untuk mendapatkan keadaan jaringan yang sehat sebagai pendukung GT. Penyingkiran saku gusi dapat dilakukan dengan cara kuretase dan eksisi surgical. Misalnya : ginggivectomy dan reposisi flep 2) Tindakan yang berhubungan dengan perawatan jaringan pendukung Untuk mendapatkan jaringan yang sehat pada gigi yang ada sehingga dapat memberikan dukungan dan fungsi yang baik untuk GT. Antara lain : - menghilangkan kalkulus dan menghilangkan pocket periodontal

- splinting - memperbaiki tambalan yang tidak baik - menghilangkan gangguan oklusal 3) Tindakan konservasi Perbaikan yang akurat terhadap gigi yang ada, misalnya restorasi, pembuatan inlay dan kedudukan rest 4) Tindakan ortodonti Misalnya pada kasus diastema sentralis, sebaiknya dilakukan perawatan orto sebelum pembuatan GT. Setelah dilakukan perawatan pendahuluan yang baik, barulah dapat dilakukan pengambilan cetakan pada pasien untuk pembuatan gigitiruan, karena gigitiruan dapat bertindak sebagai pengganti fungsi gigi yang hilang dan mengembalikan kesehatan jaringan mulut.

4. Gigitiruan yang dapat dibuat pada rahang atas adalah GTSL. Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian adalah : 1.Mengembalikan fungsi pengunyahan 2.Mengembalikan fungsi estetis 3.Mengembalikan fungsi bicara 4.Membantu mempertahankan gigi yang masih tertinggal 5.Memperbaiki oklusi 6.Meningkatkan distribusi beban kunyah 7.Mempertahankan jaringan lunak mulut yang masih ada agar tetap sehat Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTS adalah: 1.Gigi tiruan tersebut harus tahan lama 2.Gigi tiruan tersebut harus dapat mempertahankan dan melindungi gigi yang masih ada serta jaringan yang sekitarnya. 3.Gigi tiruan tersebut tidak boleh merugikan pasien dalam bentuk apapun 4.Gigi tiruan tersebut harus mempunyai konstruksi dan desain yang harmonis. Keberhasilan pembuatan GTS sangat tergantung pada peran serta pasien untuk mau dan dapat beradaptasi dalam pemakaiannya.

.Indikasi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan adalah sebagai berikut : 1.Hilangnya satu gigi atau lebih. 2.Gigi yang masih tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi abutment. 3.Keadaan processus alveolaris masih baik. 4.Oral hygiene pasien baik. 5.Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan. Pada rahang bawah gigitiruan yang dibuat adalah gigitiruan cekat. Gigitiruan cekat adalah gigitiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi dan tidak dapat dilepas dan dipasang oleh pasien yang terdiri dari gigitiruan cekat anterior (mahkota) dan posterior (jembatan).33 Indikasi pemakaian GTC yaitu: 1. Menggantikan gigi yang hilang satu atau beberapa gigi 2. Gigi yang dijadikan sebagai penyangga harus sehat dan jaringan periodontal relatif baik 3. Pasien berumur 20 55 tahun Tujuan Perawatan Gigi Tiruan Jembatan Menurut Prayitno (dalam Taqwim 2008), tujuan dari perawatan gigi tiruan jembatan yaitu : 1. Mencari Keserasian oklusi.

Harus ada keserasian geligi terhadap sendi temporomandibula. Ini terjadi kalau mandibula dapat menutup langsung dalam oklusi sentris tanpa danya kontak prematur mandibula. Jadi terdapat keserasian antara geligi dengan sendi dan otot kunyah. Keadaan seperti ini disebut keserasian oklusi. 2. Peningkatan Fungsi Bicara / Fonetik Alat bicara dibagi dalam dua bagian. Pertama, bagian yang bersifat statis, yaitu gigi, palatum dan tulang alveolar. Kedua yang bersifat dinamis, yaitu lidah, bibir, vulva, tali suara dan mandibula. Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi suara penderita, misalnya pasien yang kehilangan gigi depan atas dan bawah. Kesulitan bicara dapat timbul, meskipun hanya bersifat sementara. Dalam hal ini geligi tiruan dapat meningkatkan dan memulihkan kemampuan bicara, artinya ia mampu kembali mengucapkan kata-kata dan berbicara dengan jelas, terutama bagi lawan bicaranya. 3. Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Pengunyahan. Jika ada gigi yang hilang otomatis pola kunyah terganggu, atau terselipnya makanan di bagian yang tidak bergigi

4. Pelestarian Jaringan mulut yang masih tinggal. Pemakaian geligi tiruan berperan dalam mencegah atau mengurangi efek yang timbul karena kehilangan gigi. 5. Pencegahan Migrasi Gigi . Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang kosong tadi. Migrasi seperti ini pada tahap selanjutnya menyebabkan renggangnya gigi lain. Dengan demikian terbukalah kesempatan makanan terjebak disitu, sehingga mudah terjadi akumulasi plak interdental. Hal ini menjurus kepada peradangan jaringan periodontal serta dekalsifikasi permukaan proksimal gigi. Membiarkan ruang bekas gigi begitu saja akan mengakibatkan pula terjadinya overerupsi gigi antagonis dengan akibat serupa. Bila overerupsi ini sudah demikian hebat sehingga menyentuh tulang alveolar pada rahang lawannya, maka akan terjadi kesulitan untuk pembuatan protesa di kemudian hari. 6. Peningkatan Distribusi Beban Kunyah. Hilangnya sejumlah besar gigi mengakibatkan bertambah beratnya beban oklusal pada gigi yang masih tinggal. Keadaan ini memperburuk kondisi periodontal, apalagi bila sebelumnya sudah ada penyakit periodontal. Akhirnya gigi jadi goyang dan miring, terutama ke labial untuk gigi depan atas. Bila perlekatan periodontal gigigigi ini kuat, beban berlebih tadi akan menyebabkan abrasi berlebih pula pada permukaan oklusal/insisal atau merusak restorasi yang dipakai. Pembuatan restorasi pada kasus seperti ini menjadi rumit dan perlu waktu lama. Overerupsi gigi pada keadaan tertentu dapat pula mengakibatkan terjadinya kontak oklusi premature atau interfernsi oklusal. Pola kunyah jadi berubah, karena pasien berusaha menghindari kontak prematur ini. Walaupun beban oklusal sekarang berkurang. Perubahan pola ini mungkin saja menyebabkan disfungsi otot kunyah. 7. Manfaat Psikologik.

Terutama kehuilangan gigi depan dapat membawa dampak psikologik pada penderita yaitu karena estetika terganggu. Terutama berhubungan dengan profesi penderita yang harus selalu berhadapan dengan khalayak ramai, misal penyiar tv atau guru dan lain-lain. 8. Pemulihan Fungsi Estetik

Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya karena masalah estetik, baik yang disebabkan hilangnya, berubah bentuk, susunan, warna maupun berjejalnya gigi geligi. Nampaknya banyak sekali pasien yang dapat menerima kenyataan hilangnya gigi, dalam jumlah besar sekalipun, sepanjang penampilan wajahnya tidak terganggu. Penderita dengan gigi depan malposisi,pr otr usif atau berjejal dan tak dapat diperbaiki dengan perawatanort odonti k, tetapi tetap ingin memperbaiki penampilan wajahnya, biasanya dibuatkan suatu geligi tiruani mi di at yang dipas ang langsung segera setelah pencabutan gigi. Indikasi dan Kontra indikasi umum Menurut Prayitno (1991) terdapat beberapa indikasi dan kontraindikasi dalam perawatan gigi tiruan jembatan yaitu :

1.

Usia penderita : 20 s/d 50 tahun Kontra indikasi untuk usia dibawah 20 tahun karena:

Foramen apikal yang masih terbuka dan bisa fraktur Saluran akar masih lebar sehingga preparasi terbatas Proses pertumbuhan masih aktif dapat dilihat pertumbuhan gigi dengan rontgen Dapat menghambat pertumbuhan tulang Kontraindikasi untuk usia diatas 50 tahun karena:

2.

Sudah terjadi resesi gingiva dan terlihat servikal gigi Terjadi perubahan jaringan pendukung & resobsi tulang alveolar secara fisiologis Kelainan jaringan yang bersifat patologis Sikap Penderita & kondisi psikologis

Yang terpenting dalam menentuan dibuat tidaknya suatu jembatan pada seorang penderita adalah sikapnya terhadap pearwatan gigi serta motivasinya. Watak pasien terbagi dalam tahap-tahap psikologis saat anamnesa yaitu: - Klas 1 : filosofi (pasien kooperatif) - Klas 2 : Pasien banyak bicara dan ingin tahu (exciting) - Klas 3 : Histerical - Klas 4 : Indeferen (acuh tak acuh, pada pasien ini harus banyak komunikasi) 3. Kondisi keuangan, pendidikan & pekerjaan]

Keuangan dapat juga menjadi pertimbangan. Pada umumnya gigi tiruan lepasan lebih murah dibanding jembatan, tingkat pendidikan, wawasan dan intelektualitas berpengaruh dalam merencanakan suatu perawatan. 4. Penyakit sistemik

Pada penderita dengan epilepsi sebaiknya direncanakan pembuatan jembatan daripada gigi tiruan lepasan, sebab kemungkinan dapat terjadi fraktur pada gigi tiruan lepasan tersebut, dan kemungkinan dapat tertelan, bila penyakit sedang kambuh. Penyakit sistemik lainnya seperti penyakit jantung.

5. Kondisi Periondisium. Harus dipastikan melalui hasil foto rontgen tidak ada kelainan Indikasi khusus: 1. Gigi penyangga: Vital & non vital dengan perawatan saluran akar Jaringan periodontal sehat Bone support baik Bentuk akar yang panjang Posisi dan inklinasi yang baik dalam lengkung rahang Bentuk dan besar anatomis gigi normal Mahkota gigi punya jaringan email dan dentin yang sehat

2. Gigi antagonis: Oklusi normal

3. Gigi tetangga : Tidak mengalami rotasi, migrasi, miring

6. Alat dan bahan

2. Mendiagnosa pasien berarti melakukan anamnese dan pemeriksaan terhadap pasien. Anamnese yaitu menanyakan kepada pasien mengenai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gigitiruan yang akan dipakainya. Pemeriksaan 1. Pemeriksaan subjektif 2. Pemeriksaan objektif 1. Pemeriksaan subjektif. Yang diperiksa antara lain: Penyakit sistemik, misalnya: hipertensi, diabetes mellitus. Kebiasaan jelek, misalnya: mengunyah di satu sisi, bruxism, dsb. Apakah pernah memakai gigitiruan, jika pernah bagaimana keluhankeluhan gigitiruan yang lama. 2. Pemeriksaan objektif. Pemeriksaan objektif terbagi dua: a. Pemeriksaan ekstra oral b. Pemeriksaan intra oral. Pada pemeriksaan objektif ini, pemeriksaan dapat dilakukan dengan: Melihat Palpasi Perkusi Sonde Termis Rontgen foto Pemeriksaan ektra oral meliputi pemeriksaan terhadap: 1. Bentuk muka/wajah a. Dilihat dari arah depan. - oval/ovoid - persegi/square - lonjong/tapering b. Dilihat dari arah samping. - cembung - lurus - cekung

2. Bentuk bibir - panjang, pendek - normal - tebal, tipis - tegang, kendor (flabby) Tebal tipis bibir akan mempengaruhi retensi gigitiruan yang akan dibuat, dimana bibir yang tebal akan memberi retensi yang lebih baik. 3. Sendi rahang - mengeletuk - kripitasi - sakit Pemeriksaan intra meliputinpemeriksaan terhadap: 1. Pemeriksaan terhadap gigi, antara lain: a. Gigi yang hilang b. Keadaan gigi yang tinggal: - gigi yang mudah terkena karies - banyaknya tambalan pada gigi - mobility gigi - elongasi - malposisi - atrisi Jika dijumpai ada kelainan gigi yang mengganggu pada pembuatan gigitiruan, maka sebaiknya gigi tersebut dicabut. c. Oklusi : diperhatikan hubungan oklusi gigi atas dengan gigi bawah yang ada. Angle klas I, II, dan III. d. Adanya ovrclosed occlusion pada gigi depan, dapat disebabkan, antara lain karena : - angular cheilosis - disfungsi dari TMJ - spasme otot-otot kunyah Spasme otot-otot kunyah dapat diperbaiki dengan menambah dimensi vertical pada pembuatan gigitiruan sebagian lepasan. Selain deep overbite, harus diketahui oral

juga ukuran over jet dari gigi depan. Dalam keadaan normal, ukuran over bite dan over jet ini berkisar antara 2 mm. e. Warna gigi Warna gigi pasien harus dicatat sewaktu akan membuat gigitiruan sebagian lepasan, terutama pada pembuatan gigitiruan di daerah anterior untuk kepentingan estetis. f. Oral hygiene - adanya karang gigi - adanya akar gigi - adanya gigi yang karies - adanya peradangan pada jaringan lunak, misalnya : gingivitis g. Rontgen foto. Dengan rontgen foto dapat diketahui adanya: - kualitas tulang pendukung dari gigi penyangga - gigi-gigi yang terpendam, sisa-sisa akar - kista - kelainan periapikal - resorbsi tulang - sclerosis (penebalan tulang) h. Resesi gingival Terutama pada gigitiruan sebagian lepasan yang dilihat untuk gigi penyangga dari gigitiruan tersebut. i. Vitalitas gigi 2. Pemeriksaan terhadap mukosa / jaringan lunak yang menutupi tulang alveolar, seperti: - inflamasi, pada keadaan ini mukosa harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum dicetak. - bergerak/tidak bergerak. - keras/lunak 3. Pemeriksaan terhadap bentuk tulang alveolar. - bentuk U, V - datar, sempit, luas, undercut 4. Ruang antar rahang

- besar, dapat disebabkan karena pencabutan yang sudah terlalu lama - kecil, dapat disebabkan karena elongasi - cukup, minimal jaraknya 5 mm 5. Adanya torus -pada palatum disebut torus palatinus -pada mandibula disebut torus mandibula Torus ini bila keadaan mengganggu pada pembuatan gigitiruan, harus dibuang 6. Pemeriksaan jarngan pendukung gigi 7. Pemeriksaan terhadap frenulum Apakah perlekatannya tinggi atau rendah sampai puncak alveolar, dimana jika perlekatan yang rendah akan mengganggu gigitiruan yang dibuat, sehingga perlu dilakukan pembebasan. Setelah dilakukan pemeriksaanpemeriksaan terhadap pasien, dapat diketahui apakah masih perlu dilakukan perawatan pendahuluan sebagai persiapan perawatan prostodontik. Dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan tersebut di atas, maka dapat ditentukan : - diagnosa - rencana perawatan - prognosa EVALUASI DATA Sebagai suatu hasil darai pemeriksaan rongga mulut dan diagnosa pada pasien, sehingga dapat diramalkan status kesehatannya, seperti pemeriksaan radiografi.

Anda mungkin juga menyukai