Anda di halaman 1dari 26

BAB III KETEPATAN PEMERIKSAAN TERPADU SITOLOGI BIOPSI JARUM HALUS DAN ULTRSONOGRAFI PADA NODUL TIROID DITINJAU

DARI ISLAM

III.1. PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PEMERIKSAAN NODUL TIROID MENURUT PANDANGAN ISLAM Saat ini perkembangan dunia teknologi sangat berkembang pesat terutama dalam dunia IT (Informatica Technology). Perkembangan dunia IT berimbas pada perkembangan berbagai macam aspek kehidupan manusia. Salah satu aspek yang terkena efek perkembangan dunia IT adalah kesehatan. Dewasa ini dunia kesehatan modern telah memanfaatkan perkembengan teknologi untuk meningkatkan efisiensi serta efektivitas di dunia kesehatan. Salah satu contoh pengaplikasian dunia IT di dunia kesehatan adalah penggunaan alat-alat kedokteran yang mempergunakan aplikasi komputer, salah satunya adalah ultra sonografi (Shihab,2009 ). Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterimaoleh Nabi Muhammad SAW. Seperti firman Allah (Shihab,2009 ) :


Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah, dan
26

Tuhanmulah yang Maha Pemurah.Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusiaapa yang tidak diketahuinya (QS Al-'Alaq [96]: 1-5). Setelah dilakukan kajian yang mendalam, diketahui bahwasannya dalam surat al-Alaq ayat 1-5 yang pertama turun kepada nabi Muhammad pada dasarnya merupakan bentuk perintah untuk memperhatikan

pengetahuan. Hal ini karena pengetahuan adalahsangat penting peranananya bagi manusia, sehingga surat al-Alaq lebih menggunakan kata iqra dan alqalam. Diakui atau tidak, keduanya sangat penting perannya dalam proses pembelajaran, khususnya dalam mempelajari sains dan teknologi. Dalam mempelajari sains dan teknologi, membaca tidak sekedar melihat catatan. Namun lebih jauh dari itu adalah untuk membaca asma dan kemuliaan Allah, membaca teknologi genetika, membaca teknologi komunikasi, dan membaca segala yang belum terbaca, sehingga dengan membaca ini terjadi suatu perubahan, baik perubahan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu atau bahkan pada perubahan tingkah laku dan sikap yang merupakan ciri dari keberhasilan aktifitas belajar (Mustahafa, 1993). Di samping itu, dengan membaca diharapkan membawa

tertanamnya keimanan dan ketakwaan seseorang sebagai wujud dari perubahahn yang merupakan hasil dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad Saw adalah komunikasi verbal pertama Allah SWT kepada nabi Muhammad Saw. Menurut Muhammad Abduh bahwa dalam ayat ini yang dibaca adalah nama, sebab nama mengantarkan kepada pengetahuan tentang dzat. Penciptaan kemampuan membaca akan menarik perhatian manusia kearah pengetahuan tentang dzat Allah SWT serta sifat sifat-Nya semuanya.
27

Karena membaca merupakan suatu ilmu yang tersimpan dalam jiwa yang aktif, sedangkan pengetahuan tersebut masuk ke dalam pikiran manusia atas ijin Allah SWT melalui kemurahan-Nya, ilmu-Nya, qudrat-Nya, serta iradat-Nya. Di samping itu, membaca yang dimaksudkan dalam surat al-Alaq juga sebagai bentuk pencerahan intelektual (Mustahafa, 1993). Manusia, menurut Al-Quran, memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu,bertebaran menempuh berbagaicara untuk

ayat yang memerintahkan manusia

mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula Al-Quran menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Menurut

pandangan Al-Quran seperti diisyaratkan oleh wahyu pertama, ilmu terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamai 'ilm ladunni. Seperti firman Allah (Shihab,2009) :


Artinya : Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hambahamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (QS Al-'Kahfi [18]: 65). Ayat tersebut diatas menceritakan peristiwa sejarah itu diperankan dua tokoh sentral. Nabi Musa dan nabi Khidhir sebagai gambaran sosok yang telah menjiwai ilmunya masing-masing. Untuk menghasilkan ilmu laduni, dua karakter tokoh sentral tersebut, yaitu karakter Musa dan karakter Khidhir, harus dipertemukan dengan pelaksanaan amal ibadah. Diharapkan

28

dengan amal tersebut dapat membuahkan suatu jenis pemahaman hati. Pemahaman hati itulah yang dinamakan ilmu laduni (Ghozali, 2008). Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamai 'ilm kasbi. Ayat-ayat 'ilm kasbi jauh lebih banyak daripada yang berbicara tentang 'ilm laduni. Pembagian ini disebabkan karena dalam pandangan Al-Quran terdapat hal-hal yang "ada" tetapi tidak dapat diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak (Shihab,2009). Sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleh Al-Quran, antara lain dalam firman-Nya :

Artinya : Maka aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat.dan dengan apa yang tidak kamu lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39). Dalam Al- Quran juga diinformasikan bahwa suatu ilmu pengetahuan harus diperoleh dengan belajar dan riset. Namun ada juga suatu ilmu yang tidak diketahui oleh manusia, sebagai kehendak Allah SWT, seperti halnya ilmu yang berkaitan dengan wahyu dan lainnya atau bahkan mencakup inspirasi dalam penemuan iptek (Effendi dkk, 2007). Menuntut ilmu itu dilakukan tanpa batas waktu yang diawali dari sejak bayi sampai akhir hayat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang berbunyi :


Artinya : Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat (HR Muslim). Bahkan Allah telah menjanjikan akan mengangkat derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu kepada derajat yang lebih mulia, sebagaimana firman Allah :
29


Artinya : Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjaka ( QS Al Mujaadilah [58]: 11). Perintah menuntut ilmu, meliputi ilmu agama ataupun umum, Allah SWT menyamakan orang mukmin yang memperdalam ilmu pengetahuan bidang agama dengan orang yang berperang sebagaimana firman-Nya :


Artinya :

30

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang), mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (QS.At-Taubah [9] : 122). Dengan menghimpun dan mengembangkan ilmu pengetahuan, manusia menjadi mengerti apa yang harus diperbuat dan apa yang harus dihindarkan. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang dimilikinya semakin mudah pula baginya mencapai kemudahan, kemajuan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat (Effendi dkk, 2007). Sebaliknya, tanpa memiliki ilmu pengetahuan, seorang muslim akan kehilangan kendali, berbuat sesukanya, tidak akan menyadari bahwa perbuatannya telah merugikan dirinya dan orang lain. Demikian pula tanpa dimiliknya ilmu pengetahuan akan membuat hidupnya menjadi statis, terbelakang, tersisih, dan sulit menjangkau kebahagiaan yang diinginkannya (Effendi dkk, 2007). Allah menyuruh manusia memperhatikan dan memikirkan apa-apa yang diciptakan-Nya untuk dijadikan contoh dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari kejadian alam lingkungan, kemudian mengembangkannya sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dilakukan (Effendi dkk, 2007). Sebagaimana Firman Allah :


31


Artinya : Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segal macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berpikir (QS. An-Nahl [16] : 11). Melalui ilmu pengetahuan, manusia dapat menyingkap berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah di alam ini melalui sinyal-sinyal yang dapat dilihat dari gejala-gejala alam, dari hal tersebut dapat diciptakan berbagai jenis teknologi, yang dapat mempermudah banyak permasalahan

kehidupan (Effendi dkk, 2007). Semakin banyak permasalahan kehidupan, semakin beragam pula teknologi yang harus diciptakan agar pekerjaan menjadi lebih mudah. Dalam sudut pandang agama Islam, memperoleh kemudahan dengan memanfaatkan teknologi merupakan salah satu pemberian dari Allah, selama pemanfaatan itu sejalan dengan kehendak-Nya. Firman Allah :


Artinya : Dan Kami memberimu taufik agar kamu memperoleh kemudahan (QS. Al Ala [87] : 8). Keingintahuan manusia akan berkembang terus tanpa batas. Hanya batas kemampuannyalah yang menyebabkan manusia berhenti pada pengetahuan tertentu. Begitu juga penerapan Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang tanpa batas, namun di dalam ajaran Islam penerapan ilmu pengetahun dan teknologi berkembang dengan batas, yang dibatasi oleh ketetapan AlQuran dan hadis. Ilmu pengetahuan merupakan produk akal, berdasarkan gejala alam yang sifatnya tidak mutlak dan harus tunduk
32

kepada aturan

Al-Quran dan sunnah Rasul sehingga antar ilmu

pengetahuan dan teknologi, Al-Quran dan hadist harus sejalan (Effendi dkk, 2007). Allah juga menyuruh manusia untuk tidak berhenti dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia diminta segera menyelesaikan urusan lain dengan sungguh-sungguh setelah berhasil menyelesaikan suatu urusan. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam surat AlQuran :


Artinya : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS. Alam Nasrah [94] :7) Berdasarkan uraian diatas perkembangan teknologi yang ada sekarang ini berkembang dengan pesat yang banyak memberikan manfaat bagi manusia diantaranya di bidang kesehatan berupa informasi tentang kesehatan yang dapat diperoleh dari media cetak, televisi, bahkan internet. Serta berkembangnya teknologi bidang kesehatan diantaranya alat-alat baru yang membantu menegakkan diagnostik seperti pemeriksaan sitologi biopsi aspirasi jarum halus dan Ultrasonografi dalam penanganan nodul kelenjar tiroid.

III.2. PENGOBATAN NODUL TIROID DALAM ISLAM Nodul kelenjar tiroid merupakan benjolan berisi cairan yang terbentuk di dalam tiorid. Banyak pembesaran nodul kelenjar tiroid yang menampilkan kesulitan dalam diagnosis dan penatalaksanaan serta

33

alogoritma klinik telah dibentuk untuk membantu pemeriksaan dan terapi (Wijayahadi et al, 2000). Pengobatan merupakan suatu kebudayaan untuk menyelamatkan diri dari penyakit yang mengganggu hidup. Kebudayaan tidak saja dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh kepercanyaan dan kenyakinan, karena manusia telah merasa di dalam alam ini ada sesuatu yang lebih kuat dari dia. Baik yang dapat dirasakan oleh pancaindera maupun yang tidak dirasakannya yang mereka bersifat ghaib. Pengobatan inipun tidak lepas dari pengaruh kepercanyaan atau agama yang dianut manusia. Mengenai pengobatan, terdapat dua hadis yang terkenal, yakni mewajibkan berobat bila sakit dan melarang berobat dengan yang haram (Taha, 1992). Hadis yang menganjurkan untuk berobat, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :

Artinya : Usumah bin Syarik berkata, Di waktu saya beserta Nabi Muhammad SAW, datanglah beberapa orang badui, lalu mereka bertanya, Ya, Rasulullah, apakah kami mesti berobat?, Jawab beliau, Ya, wahai hamba Allah, berobatlah kamu, karena Allah tidak mengadakan penyakit melainkan Dia adakan obatnya, kecuali satu penyakit. Tanya mereka, Penyakit apa itu?. Beliau menjawab, Tua (HR. Ahmad). Hadist yang melarang berobat dengan yang di haramkan,

sebagaimana dari Abu Darda` mengatakan Rasulullah SAW bersabda:

34


Artinya : Abu Darda berkata, bahwa Rasulullah bersabda, Sesungguhnyqa Allah menurunkan penyakit serta obat dan diadakan-Nya bagi tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu, tetapi janganlah kamu berobat dengan yang haram (HR. Abu Daud). Dalam ajaran Islam, tidak hanya ditetapkan tentang dianjurkannya berobat, tetapi juga ditegaskan bahwa berobat tidak boleh dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT (Zuhroni, 2003). Dalam dunia kedokteran kemajauan zaman sangat mempengaruhi berbagai aspek bidang kesehatan. Aspek bidang kesehatan yang telah sangat terpengaruh teknologi adalah pengobatan dengan cara pengobatan moderen. Pengobatan modern berasal dari pengobatan tradisional. Dia merupakan perkembangan hasil kerja akal manusia yang diberi kesempatan untuk aktif memikirkan dan merenungkan kehidupan ini. Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT, untuk menuntun manusia dalam

mengembangkan dan mengamalkan akal pikirannya, guna kebaikan manusia dan alam sekitarnya, hingga dia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah yang diperintahkan untuk mengelola segala di bumi ini dengan baik (Taha, 1992). Firman Allah :

Artinya :

35

Dialah yang menjadikan apa yang berada di bumi semuanya buatmu.Kemudian Dia menghadap ke langit, kemudian Dia jadikan atas tujuh langit dan Dia terhadap tiap-tiap sesuatu Maha Tahu. (QS Al- Baqarah [2]: 2930). Bidang ilmu kedokteran sebagai bidang ilmu yang selalu

perkembangan dengan pesat. Hal ini disebabkan kebutuhan manusia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kesehatan dimana manusia menginginkan hidup sehat, terbebas dari segala macam penyakit maupun segala hal yang mengganggu kesehatannya (Sudan, 1997). Sejalan dengan terus dikembangkannya teknik diagnostik dan pengobatan penyakit, saat ini semakin banyak peralatan yang digunakan untuk menutupi keterbatasan yang dimiliki manusia sehingga menimbulkan polemik berkaitan dengan penggunaan peralatan tersebut, apakah

bertentangan dengan Islam atau tidak (Sudan, 1997). Allah berfirman :


Artinya : "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Al-Zumar [39]: 9) Tindakan medis dengan ilmu dan teknologi secanggih apapun hampir selalu mengandung resiko, karena itu sebelum dilakukan tindakan medis, pasien harus bertanya dulu kepada dokter untuk mendapatkan penjelasan yang sebaik-baiknya, sehingga pasien dapat mengambil keputusan yang baik untuk menolak atau menerima tindakan medis tersebut.
36

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah menerangkan dalam bukunya Zadul Maad bahwa seharusnya orang meminta bantuan dalam segala macam ilmu dan teknik kepada yang terahli, sebab orang yang terahli itu pendapatnya lebih dekat kepada yang tertepat (Sudan, 1997). Penggunaan teknologi dalam bidang kedokteran adalah untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkan oleh suatu penyakit. Ilmu dan teknologi yang terus dikembangkan diharapkan semaksimal mungkin dapat digunakan untuk kepentingan pasien dan umat Islam yang membutuhkan (Sudan, 1997). Setiap muslim, apabila sakit dianjurkan untuk berobat dan meyakini bahwa Allah-lah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang menurunkan obatnya, sebagaiman hadist dari Usamah bin Syarik radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Saw berkata :

: : . : :
Artinya : Aku pernah berada di samping Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Lalu datanglah serombongan Arab dusun. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat? Beliau menjawab: Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab Allah Subhanahu wa Taala tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya: Penyakit apa itu? Beliau menjawab: Penyakit tua (HR. AlBukhari). Dari hadist Rasulullah SAW tersebut di atas menganjurkan berobat apabila sakit, karena Allah SWT menurunkan penyakit beserta obatnya
37

kecuali penyakit tua. Akan tetapi, perlu diyakini bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat dengan penyakit, kesembuhannya tidak terlepas dari izin Allah SWT, manusia berusaha untuk pengobatan tetapi Allah SWT yang

menyembuhkan (Taha, 1992). Sebagaimana dalam hadist Rasulullah SAW :

Artinya : Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat yang tepat diberikan, dengan izin Allah, penyakit itu akan sembuh (HR Ahmad dan Hakim). Disebutkan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yaitu :

Artinya : Allah tidak menurunkan suatu penyakit tanpa menurunkan obatnya (HR Abu Hurairah). Di dalam upaya pengobatan, Islam memerintahkan untuk berobat kepada dokter atau yang ahli di bidang pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Dalam kedokteran Islam diajarkan bila ada dua obat yang kualitasnya sama maka pertimbangan kedua yang harus diambil adalah yang lebih efektif dan tidak memiliki efek merusak bagi pasien. Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berobat pada ahlinya (Taha, 1992). Dalam Al-Quran menjelaskan agar bertanya kepada Sebagaimana firman Allah SWT : ahlinya.

38


Artinya : maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui(QS An-Nahl [16]: 43). Hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW :


Artinya : Kemudharatan harus dilenyapkan (H.R. Ibnu Majah dan Ahmad) Umumnya, satu-satunya tindakan kuratif yang dilakukan saat ini dalam penatalaksanaan nodul kelenjar tidoid adalah dengan tindakan bedah yang di lakukan sebelumnya pemeriksaan penunjang BAJAH dan ultrasonografi. Tujuan utama tindakan bedah ialah untuk menghilangkan semua jaringan, sedangkan pemeriksaan penunjang BAJAH dan

ultrasonografi bersifat untuk mendukung diagnosis (De Jong, 1997). Dalil dari As-Sunnah yang lainnya, sebagaimana hadist-hadist dari Rasulullah yang berbunyi:


Artinya : Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak oleh membahayakan (orang lain) [Hadits Riwayat Ibnu Majah, kitab Al-Ahkam 2340]. Jadi, menimbulkan bahaya adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syariat, baik bahaya terhadap badan, akal ataupun harta. Dokter yang Islami perlu mengetahui berbagai dasar hukum yang jelas terkait dengan kesehatan dalam Islam ketika melakukan prakteknya. Dalam kehidupan keseharian seorang dokter akan sangat banyak hal-hal yang ditemui yang membutuhkan kecermatan dalam menganalisis
39

hukumnya menurut syariat. Misalnya bagaimana pandangan Islam tetang hukum mengobati pasien dengan obat yang halal. Jika seorang dokter tidak mempunyai pemahaman Islam yang benar dan tidak tahu tentang hukum yang benar dalam kasus-kasus tersebut, maka dia akan melakukan tindakan menurut pemikirannya yang belum tentu sesuai dengan ketentuan Islam. Oleh sebab itu, muslim yang bertugas sebagai dokter untuk dapat selamat dunia akhirat perlu memiliki sikap yang Islami, diantaranya adalah (Ramadhan, 2004) : 1. Beriman Dokter seharusnya mempunyai keimanan terhadap Allah SWT sehingga terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Karena orang beriman akan mengerjakan pekerjaan penuh dengan kesungguhan karena Allah Taala. Dia akan selalu melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diperintahkan dan menjauhi larangannya. Dokter harus meyakini bahvva kesembuhan ada ditangan Allah dan dia sebagai perantara dan membantu mengobati saja. Tanpa iman, segala amal saleh sebagai dokter akan siasia dimata Allah (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya :
40

Demi masa, Sesungguhnya manusia selalu dalam kerugian, Selain mereka yang beriman, Dan berbuat amal shaleh, Dan nasehat-nasehati dengan kebenaran,Dan naseha-nasehati dengan kesabaran (QS Al-Ashr [103]: 1-3). 2. Ikhlas Sebagai dokter dalam menjalani pekerjaan harus dengan tulus dan ikhlas karena Allah. Semua yang dilakukan semata-mata karena Allah, bukan untuk mendapat pujian atau mengharapkan imbalan semata (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. ( QS Al-Bayyinah [98] : 5). 3. Berbahasa yang baik Dokter harus punya bahasa yang baik, sopan santun dalam berbicara, menghormati, dan menyayangi orang yang sakit sehingga dapat menyenangkan hati orang yang sakit (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


41

Artinya : Perkataan yang baik dan pemberian maaf [167] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun (Al-Baqarah [2] : 263)
4.

Lemah lembut Dokter harus memiliki sikap lemah lembut agar dapat membantu pasien untuk mengungkapkan rasa sakit yang dirasakan pasien tanpa rasa takut ataupun malu. Hal ini akan sangat membantu dalam pengobatan dan penyembuhan penyakit pasien (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah
42

ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya ( Ali Imran [3]: 159 ) 5. Sabar dan pemaaf Dokter harus memiliki sifat sabar dan pemaaf dalam menghadapi orang yang sakit, karena jika tidak sabar dan pemaaf maka akan membuat pasien menjadi takut dan tidak mau berobat sehingga akan memperparah penyakit pasien ( Ramadhan, 2004 ). Firman Allah SWT :


Artinya : Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan (Asy Syura [42] :43). 6. Tenang Dalam menghadapi orang sakit hendaknya dokter harus dapat bersikap tenang dan tidak gugup dalam keadaan gawat. Hal ini akan mempermudah pekerjaan dokter sehingga membuat orang yang sakit menjadi semakin tenang dan tidak cemas atau takut terhadap penyakit yang dideritanya (Ramadhan, 2004). 7. Teliti Dalam menghadapi pasien sikap teliti akan mempengaruhi kinerja dan hasil dari pengobatan yang akan diberikan kepada pasien (Ramadhan, 2004). 8. Tegas Dalam menjalani tugasnya dokter harus menpunyai sikap yang
43

tegas dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan karena dengan ketegasan itu akan mempermudah pekeijaannya (Ramadhan, 2004).

9. Patuh pada peraturan Seorang dokter dalam bertindak atau tingkah laku haruslah patuh pada perintah ataupun peraturan yang telah ada dan semua pengobatan yang dilakukan harus sesuai dengan prosedur yang telah ada dan yang telah ditentukan (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya : kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk man usia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab ber -iman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Imran [3] :110) 10. Bersih, apik, suci Dokter haruslah mementingkan kebersihan untuk dirinya sendiri dan lingkungan agar selalu tetap sehat (Ramadhan, 2004). Firman Allah

44

SWT :


Artinya : janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selamalamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orangorang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih (At Taubah [9]: 108). 11. Menyimpan rahasia Dokter harus memiliki sikap yang dapat menyimpan rahasia pasien terutama rahasia tentang penyakit maupun pribadi pasien yang tidak ingin atau tidak boleh diketahui oleh orang lain atau khalayak luas kecuali atas seizin pasien (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya :
45

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui (An-Nur [24] : 19). 12. Dapat dipercaya Dokter hendaknya mempunyai sikap dapat dipercaya, terutama oleh pasiennya. Dokter yang amanah akan berkerja sesuai dengan kepercayaan yang telah diberikan kepada tenaga medis (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat (An Nisa [4] : 58 ).
13.

Bertanggung jawab

46

Dokter harus punya sikap bertanggung jawab atas segala pekerjaan yang dilakukan, baik itu menyangkut diagnosa maupun pengobatan yang di berikan. Tanggung jawab ini bukan hanya terhadap manusia tetapi nanti akan dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT (Ramadhan, 2004). Firman Allah SWT :


Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Al Isra [17] : 36) Berdasarkan uraian tersebut di atas Islam mewajibkan umatnya untuk berobat apabila sakit dan berobat kepada dokter atau ahlinya. Maka diharapkan dalam upaya penyembuhan penyakit seorang muslim mendapat pengobatan yang optimal dan berserah diri kepada Allah karena hanya Allah yang dapat menyembuhkan segala penyakit . Apabila usaha dalam penyembuhan dari sakit sudah dilakukan secara optimal maka jangan lupa manusia wajib menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sebagai dokter muslim bukan hanya dituntut untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit saja, tapi mereka juga dituntut untuk memiliki akhlak atau perilaku yang mulia sehingga si sakit akan merasa aman, nyaman, tenang dan percaya akan pengobatan yang diberikan kepadanya. Adapun sikap-sikap yang harus dimiliki oleh
47

dokter adalah beriman, ikhlas, bahasa yang baik, lemah lembut, sabar dan pemaaf, tenang, teliti, tegas, patuh pada peraturan, bersih, penyimpan rahasia, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab

(Ramadhan, 2004).

III.3. TINJAUAN ISLAM TERHADAP KETEPATAN PEMERIKSAAN TERPADU SITOLOGI BIOPSI JARUM HALUS DAN ULTRSONOGRAFI PADA NODUL TIROID Manusia memperoleh ilmu pengetahuan untuk diterapkan dalam bentuk teknologi dengan memanfaatkan kejadian alam untuk mendapatkan kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Teknologi yang sangat berkembang saat ini bermanfaat atau menimbulkan dampak positif bagi manusia diantaranya di bidang kesehatan berupa banyaknya informasi tentang kesehatan yang dapat diperoleh dari media cetak, televisi, bahkan internet. Serta berkembangnya teknologi bidang kesehatan diantaranya alat-alat baru untuk menegakkan diagnostik seperti Sitologi biopsy aspirasi jarum halus dan Ultrasonografi untuk penanganan nodul kelenjar tiroid. Penggunaan teknologi dalam bidang kedokteran adalah untuk mencegah akibat buruk yang ditimbulkan oleh suatu penyakit. Ilmu dan teknologi yang terus dikembangkan diharapkan semaksimal mungkin dapat digunakan untuk kepentingan pasien dan umat Islam yang membutuhkan. Rasulullah SAW tersebut di atas menganjurkan berobat apabila sakit, karena Allah SWT menurunkan penyakit beserta obatnya kecuali penyakit tua. Akan tetapi perlu diyakini bahwa proses penyembuhan terhadap suatu penyakit hendaklah adanya kecocokan obat dengan penyakit,

48

kesembuhannya tidak terlepas dari izin Allah SWT, manusia berusaha untuk pengobatan tetapi Allah SWT yang menyembuhkan. Nabi SAW menganjurkan untuk berobat kepada dokter atau yang ahli di bidang pengobatan, agar pengobatan dan perawatan dapat dilakukan dengan tepat. Tindakan kuratif yang dilakukan saat ini dalam

penatalaksanaan nodul kelenjar tidoid adalah dengan tindakan bedah yang di lakukan sebelumnya pemeriksaan penunjang BAJAH dan ultrasonografi. Tujuan utama tindakan bedah ialah untuk menghilangkan semua jaringan. Sebagai dokter muslim bukan hanya dituntut untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit saja, tapi mereka juga dituntut untuk memiliki akhlak atau perilaku yang mulia sehingga si sakit akan merasa aman, nyaman, tenang dan percaya akan pengobatan yang diberikan kepadanya. Adapun sikap-sikap yang harus dimiliki oleh dokter muslim diantaranya adalah beriman, ikhlas, bahasa yang baik, lemah lembut, sabar dan pemaaf, tenang, teliti, tegas, patuh pada peraturan, bersih, penyimpan rahasia, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab. Perkembangan teknologi dibidang kesehatan semakin berkembang dan memberikan kemudahan, diantaranya adalah tindakan tindakan pemeriksaan terpadu sitologi biopsi aspirasi jarum halus dan ultrasonografi pada nodul kelenjar tiroid. Berdasarkan kaidah fiqliyah Islam membolehkan tindakan sitologi biopsi aspirasi jarum halus dan ultrasonografi dilakukan pada penderita nodul kelenjar tiroid, karena banyak memberi manfaat.

49

Islam membolehkan penggunaan biopsi aspirasi jarum halus dan ultrasonografi pada pemeriksaan nodul tiroid yang sesuai dengan kaidah hukum Islam, yaitu :


Artinya : Asal sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya Kebolehan penggunaan biopsi aspirasi jarum halus dan USG sesuai dengan kaidah hukum Islam. Hukum kebolehan semula berubah menjadi dilarang karena perubahan yang berakibat memudharatkan, sebagaimana kaidah lain menyatakan (Mudjib, 1994):


Artinya : Hukum-hukum itu bisa berubah sesuai dengan ada tidaknya sebab. Dalam kaidah hukum Islam yang lainnya dinyatakan (Mudjib, 1994) :


Artinya : Hukum-hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman, tempatdan keadaan. Menurut pandangan Islam berdasarkan kaidah tersebut diatas, pada dasarnya biopsi aspirasi jarum halus dan USG dapat di gunakan sebagai pemeriksaan pada nodul tiroid. Tetapi apabila mendatangkan kemudharatan lebih besar dari manfaatnya maka pemriksaan tersebut tidak boleh digunakan, dan tergolong halal tidak baik.

50

Dari beberapa uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kaidah fiqliyah tindakan Sitologi biopsi jarum halus dan ultrasonografi diperbolehkan dalam pandangan Islam, selama banyak memberikan manfaat kepada manusia dan tidak memberikan mudharat.

51