Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

Ekstraksi forceps adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan dengan suatu tarikan cunam (forsep) yang dipasang pada kepalanya. 1 Forsep ialah suatu alat kebidanan untuk melahirkan janin dengan tarikan pada kepalanya, disamping itu alat tersebut dapat digunakan untuk menyelenggarakan putaran kepala janin.2 Ukuran dan bentuk forsep sangat bervariasi tetapi pada dasarnya alat ini terdiri atas dua sendok (branch) yang bersilangan. Setiap sendok memiliki 4 komponen: daun (blade), tangkai (shank), kunci (lock), dan pegangan (handle).3 Bagian depan sendok yang biasanya dinamakan daun biasanya berlubang dan memiliki lengkungan kepala (cephalic cueve) untuk menyesuaikan dengan bentuk kepala janin serta lengkungan panggul (pelvic curve) untuk menyesuaikan dengan bentuk rongga panggul ibu. Pada bagian tengah atau leher terdapat semacam kunci yang menghubungkan sendok yang satu dengan yang lain. Bagian belakang atau tangkai cunam digunakan sebagai tempat memegang pada waktu dilakukan tarikan.2 Cunam dipakai untuk membantu atau mengganti his, akan tetapi sekali-kali tidak boleh digunakan untuk memaksa kepala janin melewati rintangan dalam jalan lahir yang tidak dapat diatasi oleh kekuatan his yang normal. Jika ini tidak diindahkan, maka ekstraksi dengan cunam akan mengakibatkan luka pada ibu dan terutama pada anak.2 Syarat syarat untuk melakukan ekstraksi dengan forcep yaitu pembukaan harus lengkap, ketuban harus sudah pecah atau dipecahkan dulu, ukuran terbesar kepala harus sudah melewati pintu atas panggul, kepala harus dapat dipegang oleh forcep, anak hendaknya hidup, panggul tidak boleh sempit.4 Indikasi ekstraksi forsep dibagi atas : 1 a. Indiksasi janin : gawat janin b. Indikasi ibu : eklampsi & preeklampsi, ibu dengan penyakit jantung, paru paru. c. Indikasi waktu : kala II memanjang Sedangkan kontraindikasinya yaitu bila semua syarat dipenuhi , tidak ada indikasi kontra.1 1

Macam macam forcep meliputi forcep Naegele, forcep Kielland, forcep Piper, forcep Boerma dan forsep Tarnier.3 Jenis forsep yang banyak dipakai di Indonesia adalah forsep Naegele yang mempunyai lengkungan kepala, lengkungan panggul, dan sejenis kunci yang menghubungkan kedua sendok dalam dalam posisi yang tetap. Kadang-kadang dipakai juga forsep Kielland yang tidak memiliki lengkungan panggul, dengan sejenis kunci yang memungkinkan pada cunam yang ditutup, sendok yang satu bergeser dalam jurusan longitudinal terhadap yang lain.2 Fungsi forsep ialah : ekstraktor, rotator, ekstraktor dan rotator. 3 Pemilihan jenis forsep yang akan dipakai hendaknya disesuaikan dengan fungsi forsep.1 Berdasarkan penurunan kepala ke dalam panggul, maka ekstraksi cunam dibagi menjadi :1 a. Cunam tinggi (high forceps), ekstraksi dimana kepala janin masih diatas pintu atas panggul (floating head). b. Cunam tengah (mid forceps), ekstraksi cunam dimana kepala sudah cakap (engaged). c. Cunam rendah (low forceps = outlet forceps), ekstraksi cunam dimana kepala sudah mencapai pintu bawah panggul dan sutura sagitalis sudah dalam anteroposterior. Pemasangan/ekstraksi cunam dinyatakan gagal bila sendok cunam tidak dapat dikunci meskipun pemasangan cunam sudah betul dan 3 kali traksi dengan tenaga cukup janin tidak dapat lahir.1 Kegagalan pemasangan/ekstraksi cunam dapat disebabkan oleh :1 1. Kegagalan menentukan denominator kepala. 2. Adanya disproporsi sefalopelvik yang tidak ditemukan sebelumnya. Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Hipertensi didiagnosis bila tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg sedangkan proteinuria ialah adanya 300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau sama dengan 1+ dipstick.5 Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum usia kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis sebelum umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi sampai 12 minggu pasca persalinan. Sedangkan preeklampsi adalah hipertensi yang timbul setelah kehamilan 20 minggu disertai dengan proteinuria. Preeklampsi dibagi menjadi 2 yaitu preeklampsi ringan ( TD 140/90 2

mmHg disertai proteinuria 300 mg/24 jam atau 1+ dipstick ) dan preeklampsi berat (TD 160/110 mmHg disertai dengan proteinuria 2+ dipstick ).5 Semua gangguan hipertensi kronik apapun sebabnya merupakan predisposisi timbulnya preeklampsi atau eklampsi. Hipertensi kronik yang disertai tanda-tanda preeklampsi atau hipertensi kronik disertai proteinuria disebut sebagai superimposed preeclampsia. Beberapa kriteria yang mendukung diagnosis superimposed preeclampsia termasuk peningkatan proteinuria, gejala-gejala neurologis termasuk nyeri kepala hebat & gangguan penglihatan, oliguria, edema paru sedangkan abnormalitas laboratorium yang mendukung termasuk peningkatan kadar serum kreatinin, trombositopeni < 100.000/mm3, peningkatan kadar serum transaminase hepar. Faktor lain yang mendukung diagnosis adalah multiparitas dan hipertensi yang menjadi penyulit kehamilan sebelumnya. Biasanya juga jelas terdapat riwayat hipertensi esensial dalam keluarga.6 Diagnosis hipertensi kronis sulit ditentukan apabila wanita yang bersangkutan belum pernah diperiksa sampai paruh terakhir kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan darah selama trimester kedua dan ketiga awal baik pada wanita normotensif maupun hipertensi kronik. Bahaya yang spesifik pada kehamilan yang disertai oleh hipertensi kronik adalah risiko timbulnya preeklampsi yang dijumpai hampir 25% pada wanita ini3. Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan diantaranya primigravida, umur > 35 th, multigravida (dengan kondisi klinis : kehamilan ganda, penyakit vaskuler termasuk hipertensi kronik dan diabetes mellitus, penyakit ginjal), riwayat pernah eklampsi/preeklampsi.7 Menurut WHO angka kejadian preeklampsi berkisar antara 0,51% - 38,4%. Di Negara maju angka kejadian preeklampsi berkisar antara 5-6% dan eklampsi 0,1 0,7 %. Pada tahun 2005 Angka Kematian Maternal (AKM) di seluruh rumah sakit Dibawah ini akan dilaporkan kasus ekstraksi forceps atas indikasi superimposed preeclamsia. seluruh Indonesia akibat eklampsi atau preeklampsi sebesar 44,91%.8

BAB II LAPORAN KASUS


IDENTITAS Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Suku/ Bangsa Agama TTL Nama Suami Pekerjaan Suami Masuk RS ANAMNESIS Keluhan Utama: Keluar air dari jalan lahir Riwayat Penyakit Sekarang: Pelepasan air dari jalan lahir dialami sejak jam 22.00 saat penderita Nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan (+) Pelepasan lendir campur darah (+) Pergerakan janin (+) saat MRS Nyeri ulu hati, mual, muntah disangkal Keputihan (+) tidak berbau BAB/BAK biasa sedang istirahat. : Ny. F.M : 33 tahun : SMA : Ibu rumah tangga : Teling Tingkulu : Indonesia : Kristen protestan : Manado, 11 februari 1979 : Tn. J.K : Honorer pol pp : 8 Juni 2012

Pendidikan Suami : SMA

Riwayat Penyakit Dahulu : Penyakit darah tinggi (+) 1 tahun yang lalu tidak berobat teratur. Penyakit jantung, penyakit paru-paru, penyakit hati, penyakit ginjal,

penyakit kencing manis disangkal. 4

Riwayat gemelli (-) Anamnesis Kebidanan Riwayat Kehamilan Sekarang Ada riwayat pusing-pusing, sakit kepala, dan perdarahan. Sedangkan riwayat bengkak-bengkak, muntah, penglihatan kabur disangkal. Pemeriksaan Antenatal (PAN) PAN 6x dilakukan di Puskesmas Teling dan mendapat suntikan TT 2x. Riwayat perkawinan Penderita kawin 1 kali dengan lama perkawinan 6 tahun.

Riwayat Haid Menarche pada umur 12 tahun, siklus haid teratur, lamanya haid 5 hari, HPHT tanggal 12 september 2011, TTP : 19 Juni 2012. Keluarga Berencana Penderita berhenti menggunakan KB pil dan suntik pada tahun 2011. Rencana KB berikut adalah suntikan 3 bulan. Riwayat Kehamilan Terdahulu 1. 2. 2011. Riwayat operasi Penderita belum pernah operasi. Penderita melahirkan anak pertama, laki-laki pada tahun 2006, lahir Abortus 3 bulan, dilakukan kuretase di RSUP Prof.Kandou pada tahun spontan letak kepala, berat badan lahir 4000 gr, hidup, lahir di RS Bersalin.

PEMERIKSAAN FISIK Status Praesens - Keadaan Umum - Kesadaran - Tekanan darah - Nadi - Pernapasan - Suhu Badan - BB/TB - Gizi - Kulit - Kepala - Mata - Telinga - Hidung - Mulut/Gigi - Tenggorokan - Leher - Dada - Jantung - Paru-paru - Abdomen - Alat Kelamin - Anggota gerak - Refleks Status Obstetri TFU BJA His : 32 cm : 120 130 dpm : 7- 8 // 15-20 6 Letak janin : Letak kepala U punggung kanan

: Cukup : Compos Mentis : 170/110 mmHg : 88 kali/menit : 24 kali/menit : 36,8 o C : 92,5 kg / 165 cm : lebih : Turgor dalam batas normal : Normocephali : Konj. an -/-, skl ikt -/: Serumen -/: Sekret -/: Caries (-) : T1/T1, hiperemis (-) : Pembesaran KGB (-) : Simetris kiri dan kanan : SI-SII normal, bising (-) : Sp. Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/: Hepar dan lien sulit dievaluasi : Tidak ada kelainan : Edema (-), varises (-) : Refleks fisiologis normal (+), refleks patologis (-)

TBBA

: 3100 gr .

Pemeriksaan Dalam Effacement 90 %, pembukaan 2 - 3 cm, ketuban (-) putih keruh, pp kepala HI. Laboratorium Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit Proteinuria Resume Masuk G3P1A1 33 tahun MRS tanggal 8 Juni 2012 dengan keluhan keluar air dari jalan lahir sejak pukul 22.00 (tgl 7/6 2012), nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan (+) Pelepasan lendir campur darah (+), pergerakan janin (+) dirasakan SMRS, riwayat darah tinggi (+), BAB/BAK biasa. HPHT 12 September 2011, TTP 19 Juni 2012, PAN 6x di Puskesmas Teling, TT 2x. Status Praesens : KU = cukup T=170/110 mmHg R=24x/m Status Obstetrik : TFU Letak janin BJA His TBBA : 32 cm : Letak kepala U punggung kanan : 120-130 dpm : 7-8 // 15-20 : 3100 gr Kes = CM N=88x/m S=36,2 C Proteinuri : +++ : 12,4 gr% : 8100/mm3 : 39 % : 259.000/mm3 : +++ Creatinin Asam Urat Ureum SGOT SGPT : 0,6 mg/dl : 4,8 mg/dl : 12 mg/dl : 42 U/L : 34 U/L

Diagnosa sementara G3P1A1, 33 tahun, hamil 38-39 minggu + Superimposed PE Janin intra uterin, tunggal, hidup, letak kepala 7

Sikap Antibiotik Rencana partus pervaginam percepat kala II MgSO4 sesuai protokol Laboratorium, USG, NST, crossmatch Konsul mata dan konsul interna Dopamed 3x250mg Observasi T, N, R, S, His, BJJ Lapor konsulen Advis : a. 12 Jam bila belum inpartu oksitosin drips. b. Percepat kala II dengan ekstraksi forceps. Observasi Persalinan Tanggal 8 Juni 2012 Jam 03.00 : Kes: CM; T; 170/110 mmHg; N: 80 x/mnt; R: 24 x/mnt His 7-8//15-20 BJA: 120 130 dpm Pemeriksaan dalam : Effacement 90%, pembukaan 2-3 cm, ketuban (-) putih keruh, pp kepala H1. Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala Sikap : Rencana partus pervaginam percepat kala II MgSO4 sesuai protokol Observasi T, N, R, S, His, BJJ BJA : 120 - 130 BJA : 130 - 140 BJA : 150 - 160 BJA : 140 - 150 BJA : 130 - 140 BJA : 140 - 150 8 His : 7-8//15-20 His : 7-8//15-20 His : 6-7//20-25 His : 6-7//20-25 His : 5-6//25-30 His : 5-6//25-30 Diagnosis : G3P1A1 33 th hamil 38 39 minggu inpartu kala I + superimposed PE

Jam 0300 0330 Jam 0330 0400 Jam 0400 0430 Jam 0430 - 0500 Jam 0500 0530 Jam 0530 - 0600

Jam 0600 0630 Jam 0630 - 0700 Jam 07.00

BJA : 150 - 160 BJA : 130 - 140

His : 4-5//30-35 His : 4-5//30-35

: Kes: CM; T; 160/100 mmHg; N: 92 x/mnt; R: 24 x/mnt His 4-5//30-35 BJA: 130 - 140 dpm

Pemeriksaan dalam : Effacement 90%, pembukaan 5-6 cm, ketuban (-) putih keruh, pp kepala H1. Diagnosis : G3P1A1 33 th hamil 38 39 minggu inpartu kala I + superimposed PE Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala Sikap : Rencana partus pervaginam percepat kala II Observasi T, N, R, S, His, BJJ BJA : 140 - 150 BJA : 150 - 160 BJA : 150 - 160 BJA : 150 - 160 BJA : 140 - 150 BJA : 150 - 160 BJA : 150 - 160 BJA : 130 - 140 His : 4-5//30-35 His : 4-5//30-35 His : 4-5//30-35 His : 4-5//30-35 His : 3-4//30-35 His : 3-4//35-40 His : 2-3//40-45 His : 2-3//45-50

Jam 0700 0730 Jam 0730 0800 Jam 0800 0830 Jam 0830 0900 Jam 0900 0930 Jam 0930 1000 Jam 1000 1030 Jam 1030 - 1100 Jam 11.00

: Kes: CM; T; 160/100 mmHg; N: 86 x/mnt; R: 22 x/mnt His 2-3//45-50 BJA: 130 - 140 dpm

Pemeriksaan dalam : Effacement 90%, pembukaan lengkap, ketuban (-) putih keruh, pp kepala HIII-IV Diagnosis : G3P1A1 33 th hamil 38 39 minggu inpartu kala II + superimposed PE Janin intrauterine tunggal hidup letak kepala Sikap : Ekstraksi forcep Jam 11.12 : Lahir bayi perempuan BBL 3500 gr, PBL 51 cm, As 7-9 Jam 11.17 : Lahir plasenta secara manual plasenta LAPORAN PERSALINAN Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi, dilakukan tindakan disinfeksi dengan kapas Lysol pada daerah vulva dan sekitarnya. Kemudian dilakukan pemeriksaan 9

dalam: pembukaan lengkap, ketuban (-) sisa putih keruh, PP kepala HIII-IV UUK depan forceps dipegang di depan vulva sebagaimana mestinya akan dipasang, forceps biparietal terhadap kepala dan miring terhadap panggul. Forceps yang akan dipasang lebih dahulu adalah forceps kiri. Tangan kanan membuka labia mayora, empat jari penolong dimasukkan ke dalam antara kepala anak dan dengan dinding vagina. Gagang forceps dipegang seperti memegang pensil dan forceps dimasukkan di mana gagang forceps dibawa ke lipat paha ibu, sementara itu daun forceps dimasukkan ke dalam vagina antara kepala dan empat jari sebagai rel dan daun forceps didorong oleh ibu jari masuk ke dalam vagina. Gagang forceps dibawa ke tengah dan ke bawah. Setelah daun forceps kiri terpasang, gagang forceps dipegang oleh asisten, selanjutnya labia mayora dibuka dengan tangan kiri dan keempat jari tangan kiri dimasukkan ke dalam vagina, antara dinding vagina dan kepala bayi. Gagang forceps dipegang seperti memegang pensil. Daun forceps kanan dimasukkan ke dalam vagina dan empat jari tangan kiri penolong sebagai rel, sementara daun forceps didorong oleh ibu jari masuk ke dalam vagina. Gagang forceps di bawa ke tengah dan ke bawah, kemudian dilakukan penguncian. Setelah daun forceps terkunci dilakukan pemeriksaan dalam apakah ada jaringan vagina yang terjepit, ternyata tidak ada. Dilakukan traksi percobaan ternyata kedua daun forceps telah mencekap kepala bayi dengan baik. Dilakukan episiotomi mediolateral dan dilakukan traksi definitif dengan arah tarikan ke atas, setelah batas rambut kepala berada dibawah simpisis, penolong berpindah tempat ke samping kanan penderita kemudian gagang forceps dipegang dengan tangan kiri sementara itu asisten menyokong perineum agar tidak robek. Gagang forceps digerakkan kearah perut ibu sehingga dengan demikian lahirlah berturut-turut dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Setelah kepala lahir, forceps dibuka dengan memasukkan jari IV dan V kiri di antara kedua gagang sehingga forceps terbuka. Setelah itu dilakukan putaran paksi luar sesuai punggung janin, kemudain dilakukan traksi ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan traksi ke atas untuk melahirkan bahu belakang. Jadi telunjuk dikaitkan pada ketiak bayi secara hatihati untuk melahirkan seluruh badan. Jam 11.12 lahir bayi perempuan, BBL = 3500 g, PBL = 51 cm, AS = 7-9 Setelah bayi lahir, tali pusat dijepit dengan cunam kocher I 3 cm dari insersionya kemudian diurut ke arah ibu 7 cm, dijepit dengan cuna kocher II lalu dipotong

10

diantaranya. Bokong ibu dialas dengan stickpan, kemudian dilakukan pengosongan kandung kencing dengan kateter. Jam 11.17 lahir plasenta secara manual yaitu tangan kanan penolong dimasukkan secara obstetric hand, menyusuri tali pusat sampai di pinggir plasenta. Plasenta dilepaskan dengan bagian ulnar tangan kanan (seperti membuka buku) sampai lepas seluruhnya kemudian plasenta dikeluarkan melalui jalan lahir. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan jalan lahir, tampak ruptur perineum grade II dilakukan hecting dalam jelujur dan simpul V. Keadaan setelah manual plasenta KU : cukup, T : 170/90 mmHg, N: 92 x/m, R: 24x/m. Dalam 2 jam keadaan post partum: KU post partum : T: 170/100 mmHg, N: 90x/mnt, R: 22x/mnt, S: 37,60C Perdarahan kala III: 250cc Perdarahan kala IV: 100cc Total : 350cc

Diagnosa Post Partum P4A0 33 th post ekstraksi forceps atas indikasi superimposed preeclampsia Lahir bayi perempuan BBL 3500 gr,PBL = 51 cm, AS = 7-9 Instruksi Post Partum Kontrol tanda vital, perdarahan dan kontraksi uterus Infus RL : D5% = 2 : 2 20 gtt/menit MgSO4 sesuai protokol Dopamed 3x250mg Cefadroxil 3x500mg SF 1x1 Follow Up 9 Juni 2012 S: O: Keluhan (-) KU = cukup kes = CM R=24x/m S=36,50C TD = 150/100 N= 86x/m 11

Mamae : laktasi +/+ Abdomen : TFU : 2 jari di bawah pusat Kontraksi uterus: baik Perineum: Luka hecting baik A: Diagnosa : P4A0 33 tahun, post ekstraksi forceps H1 atas indikasi supperimposed preeklampsiaa Lahir bayi perempuan, BBl 3500 gr, PBL 51 cm, AS 7-9 P: - Infus dekstrose 5 %. - Cefadroxil 3x500 mg - SF 1x1 - Dopamed 3x250mg - MgSO4 sesuai protokol (MgSO4 40% 10 cc bokong kanan dan 10 cc bokong kiri) 10 Juni 2012 S: O: Keluhan (-) KU = cukup TD = 130/90 kes = CM N= 80x/m R=22x/m S=36,60C

Mamae : laktasi +/+ Abdomen : TFU : pertengahan pusat simpisis Kontraksi uterus: baik Perineum: Luka hecting baik A: Diagnosa : P4A0 33 tahun, post ekstraksi forceps H II atas indikasi supperimposed preeklampsiaa Lahir bayi perempuan, BBl 3500 gr, PBL 51 cm, AS 7-9 P: - Cefadroxil 3x500 mg - SF 1x1 11 Juni 2012 S: O: Keluhan (-) KU = cukup TD = 120/80 kes = CM N= 76x/m R=20x/m S=36,70C

Mamae : laktasi +/+ 12

Abdomen : TFU : pertengahan pusat simpisis Kontraksi uterus: baik Perineum: Luka hecting baik A: Diagnosa : P4A0 33 tahun, post ekstraksi forceps H III atas indikasi supperimposed preeklampsiaa Lahir bayi perempuan, BBl 3500 gr, PBL 51 cm, AS 7-9 P: - Cefadroxil 3x500 mg - SF 1x1 12 Juni 2012 S: O: Keluhan (-) KU = cukup TD = 120/90 kes = CM N= 80x/m R=20x/m S=36,50C

Mamae : laktasi +/+ Abdomen : TFU : pertengahan pusat simpisis Kontraksi uterus: baik Perineum: Luka hecting baik A: Diagnosa : P4A0 33 tahun, post ekstraksi forceps H IV atas indikasi supperimposed preeklampsiaa Lahir bayi perempuan, BBl 3500 gr, PBL 51 cm, AS 7-9 P: - Cefadroxil 3x500 mg - SF 1x1

13 Juni 2012 S: O: Keluhan (-) KU = cukup TD = 130/80 kes = CM N= 84x/m R=20x/m S=36,90C

Mamae : laktasi +/+ Abdomen : TFU : pertengahan pusat simpisis Kontraksi uterus: baik Perineum: Luka hecting baik A: Diagnosa : P4A0 33 tahun, post ekstraksi forceps H V atas indikasi supperimposed preeklampsiaa 13

Lahir bayi perempuan, BBl 3500 gr, PBL 51 cm, AS 7-9 P: - Cefadroxil 3x500 mg - SF 1x1

BAB III DISKUSI


Dalam diskusi ini akan dibahas mengenai: 1. Diagnosis 2. Penanganan 3. Komplikasi 4. Prognosis Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan keluhan keluarnya air dari jalan lahir sejak jam 00.10 saat penderita sedang istirahat, ada pelepasan lendir campur darah, nyeri perut bagian bawah ingin melahirkan dirasakan teratur. Hal ini menunjukkan bahwa pasien telah inpartu. Dari riwayat penyakit terdahulu diketahui penderita mengidap hipertensi kronis selama 1 tahun dan melakukan pengobatan teratur. HPHT 12 september 2011 sehingga TTP 19 Juni 2012. Pada riwayat kehamilan sekarang terdapat sakit kepala dan pusing pusing. Pada pemeriksaan fisik diperoleh tekanan darah penderita 170/110 mmHg dan pada pemeriksaan laboratorium urin kualitatif didapatkan proteinuria +++. Status obstetric : TFU : 32 cm, BJJ : 120-130 dpm, letak anak : letak kepala U puka, his : 89//10-15. Pada pemeriksaan dalam diperoleh pembukaan lengkap ketuban (-) putih keruh pp kepala HIII-IV. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetri, pemeriksaan labooratorium yang telah diperoleh pada pasien ini maka dapat ditegakkan diagnosis superimposed preeclampsia. Hal ini ditunjang dengan adanya riwayat hipertensi kronik yang diderita pasien, tekanan darah 170/110 mmHg, dan proteinuria 3+. Pada pasien ini diambil sikap partus pervaginam dengan mempercepat kala II yaitu dengan melakukan ekstraksi forcep. Ekstraksi forcep tidak memerlukan tenaga 14

mengejan dari ibu sehingga dapat mengurangi kejadian kejang pada saat persalinan. Sikap ini diambil sesuai dengan indikasi ibu yaitu preeklampsi/eklampsi.

Cara ekstraksi forseps :1 Setelah semua persiapan selesai, penolong berdiri didepan vulva sambil memegang kedua pemegang cunam dalam keadaan tertutup dan membayangkan bagaimana posisi cunam akan dipasang. Pemegang cunam dipegang sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari sejajar dengan sumbu cunam. Sendok cunam yang akan dipasang lebih dahulu ialah sendok cunam kiri, karena pada sendok kiri terletak kunci cunam. Cunam kiri dipegang dengan tangan kiri penolong seperti memegang pensil dengan tangkai cunam sejajar lipatan paha depan kanan. Bersamaan dengan itu 4 jari tangan kanan dimasukkan kedalam vagina. Kemudian daun cunam sendok kiri dimasukkan kedalam vagina dan dengan tuntunan dan dorongan ibu jari tangan kanan daun cunam dimasukkan kedalam jalan lahir sehingga daun cunam berada setinggi puncak kepala. Tangan kanan penolong dikeluarkan dari vagina dan bergantian memegang sendok cunam kanan. Ketiga jari tangan kiri penolong dimasukkan kedalam vagina antara kepala dan jalan lahir. Cunam kanan dipegang sebagai memegang pensil dan sejajar lipatan paha depan kiri. Daun cunam kanan sekarang dimasukkan kedalam vagina dan dengan tuntunan dan dorongan ibu jari tangan kiri daun cunam dimasukkan kedalam jalan lahir sampai setinggi puncak kepala. Kedua sendok cunam dikaitkan dan dikunci kemudian dilakukan periksa dalam ulangan untuk mengetahui apakah daun cunam telah terpasang dengan benar dan adakah bagian jalan lahir yang terjepit oleh daun cunam. Selanjutnya bila diperiksa dalam ulangan baik, maka dilakukan traksi percobaan. Maksud traksi percobaan ini ialah untuk mengetahui apakah daun cunam telah mencekam kepala janin dengan baik. Ekstraksi cunam percobaan dikerjakan dengan cara sebagai berikut: Tangan kiri dan tangan kanan penolong menggenggam pemegang cunam sedang jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan penolong diluruskan sampai menyentuh puncak kepala. Bila pada waktu traksi dilakukan kedua jari terlepas dari puncak kepala berarti kepala tidak ikut tertarik. Tetapi bila traksi dilakukan kedua jari tetap menyentuh puncak kepala, berarti kepala ikut tertarik. Bila pada waktu traksi percobaan kepala 15

janin tidak ikut tertarik maka berarti daun cunam belum terpasang dengan benar sehingga cunam harus dilepaskan dan dipasang lagi. Bila traksi percobaan ternyata berhasil maka dilakukan traksi definitive. Ekstraksi forcep definitive dilakukan dengan mencengkam pemegang cunam oleh tangan kiri penolong. Tangan kanan penolong mencekam pemegang cunam diatas tangan kiri sambil jari tengah berada diantara kedua tangkai cunam. Traksi dilakukan dengan arah tangkai cunam sesuai dengan sumbu panggul yaitu curam kebawah bila kepala masih agak tinggi dan mendatar bila kepala dipintu bawah panggul sampai suboksiput tampak dibawah simpisis. Segera setelah suboksiput berada dibawah simpisis cunam dipegang hanya oleh tangan kanan sedang tangan kiri menahan perineum. Cunam dielevasi keatas, sehingga kepala melakukan gerakan defleksi dengan suboksiput sebagai hipomoklion sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut dan dagu. Akhirnya lahirlah seluruh kepala. Cunam dilepaskan pada waktu gerakan defleksi ini atau bila kepala sudah lahir seluruhnya. Episiotomi pada waktu ekstraksi cunam dilakukan pada saat sebelum memasang cunam dan kepala meregang perineum Penanganan Pemberian MgSO4 sesuai protokol Dosis awal 4 gram MgSO4 20 % (20 cc) IV,kemudian 8 gram MgSO4 40 % (20 cc) IM diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gram. Maintenance dose : 4 gram IM setelah 6 jam pemberian dosis awal, kemudian diberikan 4 gram IM tiap 6 jam.9 Syarat-syarat pemberian:9 1. Harus tersedia antidotum, yaitu calsium glukonas 10 % (1 gram dalam 10 cc) diberikan IV pelan-pelan 2. Refleks patella (+) 3. Frekuensi pernapasan > 16 kali permenit 4. Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/KgBB/Jam) Penanganan aktif berupa terminasi kehamilan. Dalam kasus ini dipilih partus buatan ekstraksi forcep untuk memperpendek kala II. Hal ini sesuai dengan indikasi ibu yaitu preeklampsi.9 Cara terminasi kehamilan:9 Belum inpartu 16

Induksi persalinan Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor bishop 6 2. Seksio sesarea bila syarat tetes oksitosin tidak dipenuhi atau adanya kontra indikasi tetes oksitosin, atau bila 8 jam sejak dimulainya tetes oksitosin belum masuk kedalam fase aktif. Sudah inpartu Kala I Fase laten: Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor bishop 6 Fase aktif: Dilakukan amniotomi, bila his tidak adekuat diberikan tetes oksitosin dan bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap, dilakukan seksio sesarea. Kala II Pada persalinan pervaginam, maka kala II diselesaikan dengan partus buatan. Komplikasi Komplikasi yang bisa terjadi akibat ekstraksi cunam bagi ibu seperti perdarahan, trauma jalan lahir sedangkan bagi janin seperti luka pada kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, perdarahan intracranial.1Pada kasus ini tidak ditemukan komplikasi pada ibu dan bayi. Prognosis Pada kasus ini mulai hari I post partum sampai hari IV keadaan ibu dan bayi masih baik, tekanan darah ibu menurun, apgar score 7-9 sehingga prognosis pada kasus ini dapat dikatakan baik. Pada bayi tidak ditemukan komplikasi akibat ekstraksi forceps seperti luka pada kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, perdarahan intrakranial.

17

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis: G3P1A1, 33 tahun, hamil 38-39 minggu + Superimposed PE Janin intra uterin, tunggal, hidup, letak kepala Dasar diagnosis supperimposed preeklampsia pada kasus ini yaitu berdasarkan anamnesa diperoleh riwayat hipertensi yang diderita sejak 1 tahun yang lalu, pada pemeriksaan fisik diperoleh tekanan darah 170/110 mmHg dan pada pemeriksaan urin kualitatif diperoleh proteinuria +++. Pada pasien ini diterapi menggunakan MgSO4 sesuai protocol sampai 24 jam pasca persalinan. Pada pasien ini diambil sikap ekstraksi forcep dengan tujuan untuk mempercepat kala II. Hal ini dilakukan untuk menghindari pasien mengalami eklampsi. Saran Deteksi dini dan pencegahan dilakukan dengan kunjungan antenatal yang teratur dan berkesinambungan. Pengontrolan tekanan darah juga harus dilakukan secara ketat baik sebelum, saat dan sesudah persalinan agar tidak terjadi perburukan keadaan ibu.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro, Hanifa. Ekstraksi forcep. Dalam: Buku bedah ilmu kebidanan, edisi pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.12451:2009. 2. Cuningham FG, Gant HF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Dalam : Obstetri william, edisi ke-21. Jakarta:EGC.531-38:2006. 3. Bagian obstetri dan ginekologi UNPAD. Ekstraksi forcep. Dalam : Obstetri operatif. Bandung;37-84:1987. 4. Wiknjosastro H. Hipertensi dalam kehamilan. Dalam: Buku Ilmu kebidanan. Edisi keempat. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.53161:2008. 5. Levano KJ, Cuningham FG, Alexander JM, et al. Gestational hypertention and preeclampsia. Dalam: Williams manual obstetrics pregnancy complications edisi ke-22. United state: McGraw-Hill.149-57:2007. 6. Hasan H. Hipertensi dalam Kehamilan/Preeklamsi dan Eklamsi (Gestosis). Dalam: Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran USU. 2005. 7. Bahari S. Hubungan usia dan paritas terhadap kejadian preeclampsia pada ibu bersalin. Buletin penelitian RSUD Dr.Soetomo vol.IV;11:164-69:2009. 8. Tim Pengajar Obstetri dan Ginekologi FK UNSRAT. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNSRAT. Manado: 36-38.1996.

19