Anda di halaman 1dari 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Laju reaksi Laju menyatakan seberapa cepat atau seberapa lambat suatu proses berlangsung. Laju juga menyatakan besarnya perubahan yang terjadi dalam satu satua waktu. Satuan waktu dapat berupa detik, menit, jam, hari atau tahun. Reaksi kimia adalah proses perubahan zat pereaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat peraksi semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju terbentuknya produk (Hera, 2009).

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi 2.2.1 Konsentrasi Pereaksi Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar konsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin kecil konsentrasi pereaksi, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil.

2.2.2 Suhu Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi. Apabila suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan, maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar. Sebaliknya, apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tak aktif, sehingga laju reaksi semakin kecil.

2.2.3 Tekanan Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat memperbesar laju reaksi.

2.2.4 Katalis Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

2.2.5 Luas Permukaan Sentuh Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar luas permukaan bidang sentuh antar partikel, maka tumbukan yang terjadi semakin banyak, sehingga menyebabkan laju reaksi semakin cepat. Begitu juga, apabila semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil tumbukan yang terjadi antar partikel, sehingga laju reaksi pun semakin kecil. Karakteristik kepingan yang direaksikan juga turut berpengaruh, yaitu semakin halus kepingan itu, maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi; sedangkan semakin kasar kepingan itu, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi.

Gambar 2.1 Pengaruh Luas Permukaan Sentuh (Hera, 2009).

2.3. Katalisator Peningkatan produk hasil reaksi yang dilakukan melalui peningkatan temperatur, kadang-kadang tidak efektif, karena mungkin saja hasil yang diharapkan tidak stabil pada temperature tinggi. Beberapa penemuan pada awal abad 19 menunjukkan ada sejumlah reaksi yang kecepatan reaksinya dipengaruhi oleh adanya

substansi yang tidak mengalami perubahan sampai akhir proses, contohnya konversi pati menjadi gula yang dipengaruhi oleh asam atau dekomposisi amoniak dan alcohol dengan adanya logam platinum. Substansi tersebut oleh Berzelius (1836) disebut sebagai katalisator. Oswald (1902) mendefinisikan katalis sebagai suatu substansi yang mengubah laju suatu reaksi kimia tanpa terdapat sebagai produk akhir reaksi. Walaupun menurut definisi jumlah katalisator tidak berubah pada akhir reaksi, tetapi tidak berlaku anggapan bahwa katalisator tidak mengawali jalannya reaksi selama reaksi berlangsung. Katalisator akan mengawali penggabungan senyawa kimia, akan terbentuk suatu kompleks antara substansi tersebut dengan katalisator. Kompleksnya yang terbentuk hanya merupakan bentuk hasil antara yang akan terurai kembali menjadi produk reaksi dan molekul katalisator. Katalisator tidak mengalami perubahan pada akhir reaksi, karena itu tidak memberikan energi ke dalam sistem, tetapi katalis akan memberikan mekanisme reaksi alternatif dengan energi pengaktifan yang lebih rendah dibandingkan dengan reaksi tanpa katalis, sehingga adanya katalis akan meningkatkan laju reaksi. Berdasarkan jumlah fasa yang terlibat, proses katalitik dapat dibedakan mejadi katalisator homogen dan katalisator heterogen. Katalisator homogen jika katalisator yang digunakan berfasa sama dengan fasa zat pereaksi, dan disebut katalisator heterogen bila reaksi di katalisis oleh katalisator yang mempunyai fasa berbeda dengan zat pereaksi. Contoh katalis homogen yang banyak digunakan adalah katalisatoa asam-basa dan katalisator biologis (enzim) dalam reaksi enzimatik. Sedangkan katalisator heterogen banyak digunakan pada reaksi- reaksi permukaan seperti adsorpsi, atau penggunaan logam sebagai katalisator. Contoh reaksi yang menggunakan katalisator homogen adalah reaksi antara KMnO4- dan asam oksalat dalam suasana basa yang dikatalisis oleh ion Mn2+. Laju reaksi menggunakan katalisator bergantung pada aktivitas katalitiknya, makin tinggi aktivitas katalitiknya maka laju reaksinya makin cepat. Ada lima jenis aktivitas katalitik yang dikenal, yaitu: a. aktivitasnya bergantung pada konsentrasi dan luas permukaan katalisator. b. aktivitasnya hanya spesifik untuk katalisator tertentu.

c. aktivitasnya bergantung pada bentuk geometri atau orientasi permukaan katalisator. d. aktivitasnya memerlukan promotor tertentu, promotor adalah zat yang berfungsi untuk mengaktifkan kerja katalitik dari katalisator. e. aktivitasnya berlangsung baik jika tidak ada inhibitor, inhibitor adalah zat yang menghambat kerja katalisator. Logam- logam transisi periode pertama dari V sampai Zn umumnya merupakan katalisator bagi reaksi kimia (Widjajanti, 2005).

2.4 Pengadukan Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari bahan yang diaduk seperti molekul- molekul, zat-zat yang bergerak atau komponennya menyebar (terdispersi). Tujuan Pengadukan : a) Mencampur dua cairan yang saling melarut b) Melarutkan padatan dalam cairan c) Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung untuk mempercepat perpindahan panas antara fluida dengan koil pemanas dan jacket pada dinding bejana. (Kurniawan, 2011).

2.5 Kinetika Reaksi Homogen Kinetika kimia adalah bagian dari kimia fisika yang mempelajari tentang kecepatan reaksi-reaksi kimia dan mekanisme reaksi-reaksi tersebut. Termodinamika kimia mempelajari hubungan tenaga antara pereaksi dan hasil-hasil reaksi, tidak mempelajari bagaimana reaksi-reaksi tersebut berlangsung dan dengan kecepatan berapa kesetimbangan untuk reaksi kimia ini dicapai. Hal terakhir ini dipelajari dalam kinetika kimia, sehingga kinetika kimia merupakan pelengkap bagi termodinamika kimia. Tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara kinetik. Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau pembakaran dan reaksi-reaksi yang berjalan sangat lambat seperti pengkaratan, tidak dapat dipelajari secara kinetik.

Di antara kedua jenis ini, banyak reaksi-reaksi yang kecepatannya dapat diukur (Sukardjo, 1997). Kinetika kimia merupakan pengkajian laju dan mekanisme reaksi kimia. Yang lebih mendasar daripada sekedar laju suatu reaksi adalah bagaimana perubahan kimia itu berlangsung (Keenan, dkk., 1980). Kecepatan reaksi ialah kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi terhadap waktu, jadi dc/dt. Tanda minus menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang bila waktu berubah. Menurut hukum kegiatan massa, kecepatan reaksi pada temperatur tetap, berbanding lurus dengan konsentrasi pengikut-pengikutnya dan masing-masing berpangkat sebanyak molekul dalam persamaan reaksi (Sukardjo, 1997). Untuk reaksi : n1A + n2B + n3C hasil-hasil Rate : (Sukardjo, 1997).

2.6 Aplikasi Kecepatan Reaksi 2.6.1 Alkoholisis Minyak Jarak Pagar dengan Katalisator Asam Padat Minyak jarak pagar merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan biodiesel yang saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Hal ini karena minyak jarak tidak termasuk minyak pangan (edibel oil) sehingga ketersediaannya lebih terjamin dibandingkan minyak pangan, seperti minyak sawit, minyak kedelai dan lainnya. Penelitian alkoholisis minyak jarak pagar pernah dilakukan, akan tetapi selama ini masih menggunakan katalisator basa atau asam cair (Widiono, 1995 ; Junaedi, 1985 ; Tiwari dkk., 2007; Berchmans dan Hirata, 2008 dalam Rustamaji, dkk, 2010). Perlu dicatat bahwa alkoholisis menggunakan katalisator cair memiliki kelemahan dalam hal pemisahan dan pemurnian produk. Totalitas reaksi alkoholisis dipengaruhi beberapa parameter antara

lain;perbandingan pereaksi, suhu reaksi dan katalisator serta kecepatan pengadukan. Menurut Ma dan Hanna (1999) perbandingan pereaksi metanol-minyak tergantung katalisator yang digunakan. Perbandingan optimum untuk alkoholisis dengan. katalisator basa homogen adalah 6:1.

Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap konversi reaksi dipelajari pada 600-1000 rpm. Hubungan antara konversi dengan waktu pada berbagai kecepatan pengadukan ditunjukkan Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Hubungan konversi dengan waktu

Dari Gambar 3 di atas terlihat bahwa kenaikan konversi reaksi pada kecepatan pengadukan 600 rpm sampai 1000 rpm tidak signifikan, hal ini menunjukkan bahwa kenaikan kecepatan pengadukan dari 600 sampai 1000 rpm memiliki pengaruh yang sangat kecil atau hampir tidak berpengaruh terhadap kenaikan laju reaksi secara keseluruhan (Rustamaji, dkk, 2010)

Mulai Preparasi katalisator

Reaksi akoholisis Minyak jarak pagar, methanol, dan katalisator dimasukkan ke dalam reaktor

Reaksi dijalankan selama 120 menit

Pengambilan sampel dilakukan tiap 15 menit

Analisis gliserol

Selesai Gambar 2.2 Flowchart Alkoholisis Minyak Jarak Pagar dengan Katalisator Asam Padat

Beri Nilai