Anda di halaman 1dari 1

IMUNOMODULATOR PADA GANGGUAN PSIKOSOMATIK

PENDAHULUAN Imunomodulator berasal dari bahasa latin immunis + modulus yang diartikan sebagai suatu zat yang merubah respon imun dengan cara memperbanyak atau mengurangi kemampuan sistem imun untuk menghasilkan antibody atau mensensitifkan sel yang bisa mengenal dan bereaksi dengan antigen yang menginisiasi produksinya. Imunomodulator mencakup kortikosteroid, zat sitotoksik, timosin dan immunoglobulin. Beberapa

imunomodulator secara alami ditemukan di tubuh dan beberapa dapat tersedia sebagai preparat farmakologi / obat. Imunomodulator juga diartikan sebagai zat yang merubah respon imun dengan menekan ( imunosupresi ) atau meningkatkan ( imunostimulan ) sistem imun. Imunomodulator telah dipakai luas dalam pengobatan, sering dipakai pada transplantasi organ untuk mencegah penolakan organ terhadap organ yang baru ditransplantasikan, dan telah dipakai pada penyakit autoimun seperti rematoid arthritis ( RA ). Obat imunomodulator berpotensi untuk menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan. Pada pemberian antibodi monoclonal misalnya sangat berhubungan dengan progresivitas penyakit, survival yang pendek, respon terapi dan resistensi terapi. Aktivitas berbagai sistem organ dikontrol oleh susunan saraf pusat. Semua hal yang mengaktifkan jalur SSP terdeteksi sebagai sinyal input dan akan menghasilkan sinyal output yang dapat menekan dan mengaktifkan sistem imun. Sinyal input bisa berupa distress emosional, antigen, infeksi dan obat-obatan. Distress emosional akan menyebabkan peningkatan sekresi CRH dan penurunan sensitivitas reseptor CRH adenohipofisis. Rematoid arthritis merupakan salah satu contoh penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi pasien secara fisik dan psikologis. Komorbiditas depresi sering ditemui pada RA