Anda di halaman 1dari 26

PERUBAHAN POSISI SUPINASI PRONASI MENYEBABKAN PERUBAHAN TEKANAN BALON ENDOTRAKEAL DISERTAI DENGAN PERPINDAHAN TABUNG

JOURNAL READING

YOSI RINJANI

ABSTRAK
Tujuan Untuk menentukan apakah perubahan posisi supinasi pronasi dan jika demikian apakah perpindahan yang terkait dengan perubahan ini disebabkan perubahan tekanan balon ETT. Design Study prospektif Setting Ruang operasi dari rumah sakit pendidikan

Pasien 132 diintubasi, dewasa, status fisik ASA 1, 2, dan 3 pasien yang menjalani operasi lumbal spina. Intervensi dan pengukuran Setelah induksi anestesi , trakea setiap pasien diintubasi. Kedalaman penyisipan setiap ETT adalah 23 cm untuk pria dan 21 cm untuk wanita di gigi seri atas. Dalam posisi supinasi dan setelah perubahan posisi supinasi ke pronasi dengan kepala diputar ke kanan, panjang dari carina ke ujung ETT dan tekanan ETT diukur.

Hasil Setelah perubahan posisi supinasi-pronasi, sebanyak 91,7% pasien mengalami perpindahan tabung ETT. Dari hasil ini, 48% dari ETT pasien mengalami perpindahan 10 mm, sedangkan 86,3% dari pasien mengalami perubahan tekanan balon ETT. Ada korelasi yang sedikit tetapi signifikan antara gerakan ETT dan perubahan tekanan balon. Tergantung pada perubahan posisi, tekanan balon ETT menurun dan ETT yang cenderung untuk mengalami penarikan Kesimpulan Kesimpulan: Setelah perubahan posisi supinasi ke pronasi , pasien mengalami perpindahan tabung ETT. Perpindahan ETT tersebut kemungkinan juga disertai dengan penurunan pada tekanan balon.

INTRODUCTION
Gerakan kepala dan leher, termasuk rotasi, fleksi, dan ekstensi dalam posisi terlentang, mampu menggeser tabung endotrakeal (ETT) pada pasien dewasa. Dari perpindahan tersebut, gerakan fleksi dan ekstensi dari kepala sampai dengan leher akan menarik ETT, sedangkan efek rotasi dapat terjadi. Posisi pronasi dengan wajah subjek berada pada bantal wajah dan kepala diputar membuat kepala pasien dan leher tertekuk dan berputar, dengan demikian, kemungkinan perpindahan ETT pada perubahan posisi supinasi ke pronasi menimbulkan banyak kesulitan. Akan tetapi, perpindahan ETT dalam kaitannya dengan perubahan posisi dari supinasi ke pronasi belum dievaluasi.

Perubahan tekanan balon ETT adalah tugas penting bagi personel anestesi untuk menghindari morbiditas terkait dengan intubasi ETT, termasuk cedera trakea dan aspirasi. Karena trakea tidak mirip berbentuk silinder, perubahan tekanan balon ETT dapat bervariasi tergantung pada derajat perpindahan ETT akibat perubahan posisi. Namun,belum diketahui jika perpindahan ETT pada posisi supinasi ke pronasi mengubah tekanan balon tube. Studi ini dirancang untuk menentukan apakah posisi supinasi ke pronasi mengubah perpindahan ETT pada pasien yang menjalani operasi tulang belakang, dan apakah perpindahan tersebut terkait dengan perubahan yang disebabkan tekanan balon ETT.

Materials and methods


Institutional Review Board menyetujui dari Wakayama Medical University dan didapatkan, informed consent, 132 status fisik ASA 1, 2, dan 3 pasien yang menjalani operasi tulang belakang dari Januari 2009 sampai April 2011. Pasien dengan gerakan leher terbatas, nyeri leher, atau tidak memiliki gigi merupakan kriteria eksklusi.

Setelah induksi anestesi umum, trakea dari masing-masing pasien secara oral diintubasi dengan ETT ukuran 8,0 untuk pria dan ukuran 7,5 untuk wanita.(Covidien Co, Mansfield, MA, USA). Penyisipan kedalaman ETT adalah 23 cm untuk laki-laki dan 21 cm untuk wanita di atas gigi seri , dan ETT dipertahankan di tengah mulut dengan gigitan. Masing-masing tekanan balon ETT disesuaikan di bawah 30 cm H2O tanpa kebocoran udara pada tekanan inflasi dari 25 cm H2O menggunakan balon pengukur tekanan (Covidien Co), dan tekanan balon pada akhir ekspirasi dilihat. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tekanan balon ETT harus di bawah level tersebut untuk menghindari gangguan aliran darah mukosa trakea .Selanjutnya, panjang dari carina ke ujung ETT diukur dengan menggunakan bronkoskop fiberoptik (diameter luar 3,1 mm, Olympus Medical Systems Co, Tokyo, Jepang).

Selama prosedur tersebut, diberikan 100% oksigen dengan kecepatan 6 L / menit. Perubahan posisi supinasi-pronasi dibuat di atas meja ruang operasi Jackson menggunakan posisi standar , dengan wajah subjek ditinggikan sekitar 7-cm, bantal wajah berbentuk U dengan kepala diputar ke kanan. Panjang dari carina ke ujung ETT dan tekanan balon kemudian secara bersamaan dievaluasi. Jarak dari carina ke ujung ETT sebelum (B mm) dan sesudah (mm P) posisi pronasi digunakan untuk menentukan perpindahan ETT [(B-P) mm] yang disebabkan oleh posisi pronasi, menunjukkan bahwa (-) berarti nilai ETT penarikan. Perpindahan tabung absolute ditampilkan sebagai nilai (+) juga dihitung menggunakan data mentah pada kemajuan ETT (+) dan penarikan (-).

Selain itu, apakah garis hitam distal (sekitar 20 mm dari balon ETT) pada ETT terlihat dari rongga mulut dievaluasi menggunakan bronkoskop fiberoptik sehingga menghindari cedera pita suara saat perpindahan ETT > 10 mm. Namun, tidak dibutuhkan untuk koreksi panjang penyisipan ETT pada setiap pasien. 24 jam setelah ekstubasi frekuensi sakit tenggorokan atau suara serak dievaluasi dengan menggunakan skor 4 poin, di mana 0 = tidak ada, 1 = sedikit, 2 = sedang, dan 3 = berat

Statistical methods
Data digambarkan menggunakan SD. Uji Wilcoxon signed-rank, analisis regresi linier mengevaluasi koefisien korelasi Spearman-rank, dan analisis regresi multiple menggunakan PASW Statistik versi 18 software (SPSS Jepang, Inc, Tokyo, Jepang). Perbedaan yang dianggap signifikan secara statistik pada P-value < 0,05.

RESULTS

Tabel 1 menunjukkan karakteristik klinis dari studi populasi, termasuk jenis kelamin, usia, indeks massa tubuh (BMI) dan skor Mallampati . Setelah perubahan posisi supinasi-pronasi, 91,7% dari pasien mengalami perpindahan tabung ETT, dari hasil ini, 48% dari ETT pasien tersebut bergeser 10 mm dan 86,3% dari pasien mengalami perubahan tekanan balon. Dengan analisis regresi multiple didapatkan tidak ada korelasi antara perpindahan ETT dengan usia, jenis kelamin, atau BMI.

Gbr. 1 dan 2 menunjukan scatter plot untuk hubungan antara perpindahan ETT aktual atau absolut terkait dengan posisi pronasi dan perubahan tekanan balon. Ada korelasi yang sedikit tetapi signifikan antara parameter (Gambar 1 dan 2).

Dengan perubahan posisi supinasi-pronasi , 86,3% pasien mengalami perubahan tekanan balon ETT. Dari jumlah tersebut, 86% dari ETT pasien tekanan balonnya menurun. Namun, penurunan tekanan balon oleh perubahan posisi itu kecil (yaitu, 4,6 cm H2O), sedangkan ada hubungan antara sedikit perpindahan ETT dengan perubahan tekanan balon. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan dalam tekanan balon ETT dalam kaitannya dengan perubahan posisi supinasi-pronasi bervariasi dan bahwa derajat perpindahan ETT mungkin tidak banyak berperan pada perubahan tekanan balon setelah posisi pronasi.

Dengan perubahan posisi supinasi-pronasi, tekanan balon ETT menurun secara signifikan dan ETT cenderung untuk menarik (Tabel 2).

Pasca operasi keparahan sakit tenggorokan dan suara serak tidak berkorelasi dengan perpindahan ETT atau penurunan tekanan balon terkait dengan perubahan posisi supinasi- pronasi (Tabel 3).

DISCUSSION
Setelah perubahan posisi supinasi-pronasi, 91,7% dari pasien mengalami perpindahan tabung ETT, dari hasil tersebut, 48% dari ETT pasien bergeser 10 mm.

Studi-studi sebelumnya agak bertentangan, dengan hasil yang kami dapatkan bahwa penarikan ETT setelah terjadi fleksi kepala dan leher. Efek rotasi, yang tak terduga, mungkin lebih relevan untuk perpindahan ETT pada perubahan posisi supinasi- pronasi meskipun mekanismenya masih belum jelas.

Dengan perubahan posisi supinasi-pronasi , 86,3% pasien mengalami perubahan tekanan balon ETT. Dari jumlah tersebut, 86% dari ETT pasien tekanan balonnya menurun. Namun, penurunan tekanan balon oleh perubahan posisi itu kecil (yaitu, 4,6 cm H2O), sedangkan ada hubungan antara sedikit perpindahan ETT dengan perubahan tekanan balon. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan dalam tekanan balon ETT dalam kaitannya dengan perubahan posisi supinasi-pronasi bervariasi dan bahwa derajat perpindahan ETT mungkin tidak banyak berperan pada perubahan tekanan balon setelah posisi pronasi.

Ini adalah studi pertama yang mengevaluasi bagaiamana perubahan posisi supinasi pronasi mengubah ETT pada pasien bedah, dan apakah perpindahan tersebut berhubungan dengan perubahan postural yang dimodifikasi tekanan balon ETT. Setelah perubahan posisi supinasi-pronasi, 91,7% dari pasien mengalami perpindahan tabung ETT dan ada hubungan sedikit tetapi signifikan antara perpindahan ETT dan perubahan tekanan balon. Posisi pronasi mengubah posisi ETT dan perpindahan ETT dapat menyebabkan perubahan tekanan balon.