Anda di halaman 1dari 6

Ogoh-ogoh Meninggalkan Sampah Abadi?

Styrofoam adalah sampah abadi yang tidak terurai. Di samping berbahaya bagi tubuh, styrofoam atau sterefoam pun berbahaya bagi lingkungan. Jika sampah plastik membutuhkan waktu hingga 500-an tahun untuk dapat terurai di dalam tanah, styrofoam justru tidak pernah dapat terurai. Sehingga sebungkus sampah styrofoam di dalam tanah akan tetap pada bentuknya, tidak berubah, apalagi hancur hingga kapanpun, mungkin hingga kiamat tiba. Malangnya, styrofoam atau sterefoam inilah yang telah menjadi bagian dari tradisi Nyepi di Bali. Styrofoam telah menjadi bahan dasar yang dipakai ogoh-ogoh. Bukankah dengan demikian tradisi Ogoh-ogoh telah meninggalkan sampah abadi bagi peradaban kita? Jika demikian, ini bertentangan dengan semangat Nyepi atau Brata Penyepian yang justru mendukung penyelamatan lingkungan dengan tidak mengkonsumsi listrik dan hening sehari. Styrofoam yang menjadi bahan ogoh-ogoh ini telah mencederai Nyepi. Masyarakat adat dan warga banjar tahun kedepan harus diajak menggunakan bahan yang bersahabat dengan lingkungan agar spirit Nyepi tercederai. Ada alternatif yaitu menggalakan penggunaan styrofoam ramah lingkungan atau berbahan dasar organik seperti styrofoam ramah lingkungan dari sekam padi. (Baca berita lengkapnya mengenai hal ini dalam berita Kompas:
http://edukasi.kompas.com/read/2012/08/23/11061422/Styrofoam.Ramah.Lingkungan.dari.Sekam.Padi )

Jika selama ini belum ada yang menertibkan penggunaan sterefoam berbahan dasar nonorganik ini, ayo mulai sekarang kita niatkan untuk menyongsong Pawai Ogoh-Ogoh 2014 dengan Ogoh-ogoh Organic dan tidak nyampah di jalan. Kasihan ibu bumi, kasihan para petugas kebersihan yang terbeban berat karena Pawai Ogoh-Ogoh yang sudah tradisi menyumbang sampah 5000 kubik pertahun. Semoga Nyepi tahun 2014 tidak lagi kita cederai bumi dengan sampah sterefoam nonorganic.

Libur Nyepi, Sampah di Denpasar Capai 5 Ribu Kubik


Oleh: Dewa Putu Sumerta INILAH.COM, Denpasar Sabtu, 24 Maret 2012 | 22:05 WIB Libur Hari Raya Nyepi, membuat sampah di beberapa ruas jalan di Kota Denpasar-Bali menggunung. Peningkatan volume sampah meningkat hingga 50 persen dari hari biasa yakni mencapai 5 ribu kubik. Akibat gunungan sampah ini, petugas kebersihan Kota Denpasar terpaksa harus bekerja ekstra untuk mengangkut tumpukan sampah organik dan non organik pasca kemarin aktivitas warga bali saat Nyepi berhenti total selama 24 jam. Kasubag Humas Pemkot Denpasar, Dewa Rai menerangkan pada hari biasa, sampah yang dihasilkan warga Denpasar mencapai 2500-3000 kubik, namun saat Nyepi melonjak drastis. "Kita mengerahkan 1500 petugas kebersihan untuk menyapu hingga mengangkut gunungan sampah tersebut," ungkap Dewa Rai saat dihubungi, Sabtu (24/3/2012). Ribuan petugas kebersihan kota Denpasar ini disebar menyisir sejumlah titik yang menjadi tempat penampungan sampah rumahan warga Denpasar. Selain itu, pihaknya mengerahkan 39 armada truk pengangkut sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangann Akhir (TPA) Suwung, Denpasar Selatan. Menurut Dewa Rai gunungan sampah itu dihasilkan dari sisa-sisa upacara menjelang Nyepi termasuk sampah bekas ogoh-ogoh yang dibiarkan menumpuk di jalanan usai dibakar warga Denpasar. Sebab usai pawai ogoh-ogoh, mobilitas petugas kebersihan kota Denpasar terkendala banyaknya warga dan kendaraan di jalan, sehingga pembersihan sampah tidak bisa berjalan maksimal. Kini usai Nyepi atau dari sabtu pagi, petugas kebersihan kota Denpasar baru bisa melaksanakan tugas seperti menyapu, mengangkut sampah warga kota Denpasar.

Libur Nyepi, 5 Ribu Kubik Sampah Menumpuk di Denpasar


Oleh: Rohmat Okezone Sabtu, 24 Maret 2012 Sumber: http://news.okezone.com/read/2012/03/24/340/599069/libur-nyepi-5-ribu-kubiksampah-menumpuk-di-denpasar

DENPASAR - Selama libur Nyepi, sampah di beberapa ruas Jalan Denpasar, Bali, menggunung dan jumlahnya meningkat 50 persen dari biasanya, hingga mencapai 5 ribu kubik. Sampai saat ini, petugas bekerja ekstra keras untuk mengangkut tumpukan sampah organik dan anorganik setelah aktivitas warga berhenti 24 jam kemarin. Jika hari normal, kata Kasubag Humas Pemkot Denpasar Dewa Rai, sampah dihasilkan sekira 2.500-3.000 kubik. Hari ini, dikerahkan 1.500 petugas kebersihan untuk menyapu hingga mengangkut sampah di ruas-ruas jalan, kata Dewa Rai saat dihubungi, Sabtu (24/3/2012). Seribu petugas disebar menyisir sejumlah titik yang menjadi tempat penampungan sampah rumahan warga. Selain itu, pihaknya mengerahkan 39 armada truk pengangkut sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangann Akhir (TPA) Suwung, Denpasar Selatan. Tumpukan sampah itu dihasilkan dari sisa-sisa upacara menjelang Nyepi, termasuk bangkai ogoh-ogoh yang dibiarkan menumpuk di jalanan usai dibakar pada Kamis malam. Karena usai pawai ogoh-ogoh, mobilitas petugas kebersihan terkendala banyaknya warga dan kendaraan, sehingga pembersihan sampah tidak bisa berjalan maksimal. Barulah usai Nyepi atau sekira pukul 06.00 Wita tadi, petugas kebersihan bisa melaksanakan tugas menyapu dan mengangkut sampah.

Sampah Berserakan di Jalan Saat Nyepi


Penulis : Herpin Dewanto Putro | Jumat, 23 Maret 2012 | Kompas.com
Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2012/03/23/08555193/Sampah.Berserakan.di.Jalan.Saat.Nyepi.

Herpin Dewanto/KOMPAS Sampah Berserakan Pada Hari Nyepi

DENPASAR, KOMPAS.com - Jalan-jalan di Kota Denpasar, Bali, mulai tampak lengang dan senyap di Hari Raya Nyepi tahun baru Saka 1934, Jumat (23/3/2012) pagi. Di beberapa titik jalan, sampah-sampah tampak berserakan. Sampah-sampah itu berupa bekas bungkus makanan dan minuman. Seperti di Jalan Jenderal Sudirman, Denpasar, sampah bekas makanan dan minuman itu berserakan di pembatas trotoar. Sampah itu merupakan sampah yang dibuang saat pawai ogoh-ogoh di tempat itu, Kamis (22/3) malam. Pawai ogoh-ogoh pada malam pengerupukan itu berlangsung di sejumlah titik di Denpasar. Di Denpasar, pusat pawai ogoh-ogoh berlangsung di Lapangan Puputan Badung. Nyepi di Bali berlangsung selama 24 jam sejak Jumat pukul 6.00 wita hingga Sabtu (24/3) wita. Selama Nyepi, umat Hindu melakukan catur brata penyepian, yaitu tidak menyalakan api, tidak bepergian, tidak bersenang-senang, dan tidal bekerja. Seluruh pintu masuk ke Bali, yaitu pelabuhan dan bandara ditutup. Siaran televisi dan radio juga dihentikan. Namun, fasilitas pelayanan penting seperti rumah sakit tetap beroperasi.

Bahaya Raksasa dalam Styrofoam (Baca : Gabus)


Oleh: Ari Budiadnyana www.balebengong.net
Sumber: http://www.balebengong.net/topik/budaya/2013/02/28/bahaya-raksasa-dalam-styrofoam-baca-gabus.html

Menyambut Hari Raya Nyepi, akan banyak kita temui raksasa di Bali. Raksasa-raksasa ini adalah patung yang sering disebut ogoh-ogoh. Aneka rupa raksasa ini akan dipawaikan saat hari Pengerupukan (sehari sebelum hari Raya Nyepi). Wujud raksasa ini beragam dan menarik, tidak hanya pose berdiri , namun beragam gaya dan pose yang menarik. Ragam wujud, gaya, dan pose saat ini sudah semakin kreatif dan inovatif. Yang lagi trend adalah gaya terbang, maupun berpijak dengan satu kaki bahkan jari. Bahan pun sudah mulai menggunakan besi sebagai rangka dan styrofoam (gabus) untuk bentuk badannya. Kreativitas dalam bentuk bagaimanapun rasanya bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Bagaimana dengan ogoh-ogoh jaman sebelumnya. Zaman sebelum menggunakan besi dan styrofoam pada badannya, pembuatan ogoh-ogoh menggunakan sarana bambu dan kayu. Dengan sarana bambu dan kayu ini perancang ogoh-ogoh ini harus benar-benar memikirkan rangka dan pondasinya. Waktu pembuatan juga akan lebih lama. Otak dan inovasi si pembuat akan benar-benar ditantang untuk mewujudkannya, karena untuk membentuk ogoh-ogohnya tidak akan segampang menggunakan styrofoam. Penghasil Limbah Namun menurut saya, justru inilah adu kreatifitas dan inovasi yang sebenarnya. Si pembuat tidak hanya memikirkan pembuatan bentuk badan yang menggunakan ulatan bambu, namun juga harus memikirkan kerangka agar kuat. Selain itu juga harus memikirkan bagaimana rangka yang kuat namun tidak menjadi berat saat akan diarak keliling. Ogoh-ogoh yang berasal dari bambu dan kayu ini (beberapa bagian dari styrofoam seperti wajah/kepala, telapak tangan dan kaki) justru lebih alami, lebih menarik, dan lebih aman secara lingkungan. Mungkin banyak yang belum tahu bahaya dari bahan styrofoam apalagi sampai dibakar. Mungkin yang membuat tidak memikirkan untuk dibakar, karena akan disimpan dan digunakan untuk tahun depan. Setahu saya, bahan styrofoam ini masuk bahan yang dikategorikan sebagai penghasil limbah berbahaya ke-5 terbesar di dunia, terutama saat dibakar karena asap hasil pembakaran ini melepaskan kurang lebih 57 zat berbahaya dan bau yang tidak sedap. Menurut saya pribadi, pembuatan ogoh-ogoh dengan menggunakan styrofoam ini tidaklah terlalu menguji adrenalin kreatif dan inovasi si pembuat. Cukup berbekal keahlian mengukir gabus, mendesain bentuk, potong-potong dikit, tempel jadilah si ogohogoh styrofoam ini. Rangka dan pondasi pun tidak terlalu memikirkan bentuk rangka dan

berat, cukup menggunakan besi pipa, dilas jadilah rangka yang akan ditempelkan oleh badan styrofoam. Bandingkan dengan pembuatan yang menggunakan rangka kayu dan bambu. Si pembuat harus banyak berpikir untuk mewujudkan ogoh-ogoh desainnya. Menurut saya (lagi), harusnya pemerintah yang saat ini sudah sangat mendukung pawai ogoh-ogoh ini, bahkan dilombakan dan diberikan bantuan dana, berusaha atau bahkan memaksa ogoh-ogoh yang dilombakan tidak boleh 80 persen menggunakan styrofoam. Wajib menggunakan bambu sebagai rangka, styrofoam hanya dibatasi maksimal 30 persen karena untuk bagian seperti kepala/wajah/tapel, telapak kaki, telapak tangan bisa menggunakan styrofoam karena akan sangat rumit jika membuatnya menggunakan bambu dan kayu. Rugi dong pemerintah daerah selalu berkoar-koar Clean and Green, jaga kebersihan, jaga alam dan sejenisnya, kalau tidak mengerti bahaya styrofoam yang dihasilkan dari ogohogoh styrofoam ini. Satu ogoh-ogoh saja sudah sangat berbahaya, apalagi ada ratusan ogoh-ogoh, kebayangkan asap dan limbah yang dihasilkan? Saat dibakar, butakhala yang seharusnya disomya(dijinakkan) akan kembali menjadi ganas yang menjelma dalam asap dan limbah styrofoam. Tulisan ini merupakan pendapat saya pribadi, bukan lembaga,bukan saudara, bukan keluarga, atau teman saya. Saya menulis cuma mengeluarkan rasa Kangen saya akan ogoh-ogoh seperti dahulu yang berasal dari bambu dan kayu, dan juga ketakutan saya akan limbah dari styrofoam ini yang sangat berbahaya. Berikut ini beberapa link mengenai bahaya Styrofoam :
http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2010/11/19/bahaya-styrofoam/ http://www.berbagaihal.com/2011/04/bahaya-dan-manfaat-lain-penggunaan.html http://alamendah.wordpress.com/2012/05/16/styrofoam-atau-sterefoam-sang-sampah-abadi/