Anda di halaman 1dari 29

PKB, PKG, DAN PIGP

Siapa Takut ?!!


Ujian adalah Pembelajaran

Rumus 5 N untuk Peneliti Pemula

Berinternet Sehat untuk Generasi Sehat

Karakterisasi Siswa melalui Keteladanan

Tata Kelola Ruang Kelas

Mengapa Harus Berteriak?

Cegah Malpraktek Pendidikan ! dengan Program Induksi & Replikasinya


Guru di Mata Mbok Siti Guru di Mata Mbok Siti

eks Distrik Purwantoro Kabupaten Wonogiri

EDISI 03 - DESEMBER 2011

Daftar Isi
1. Sekapur Sirih ........................................................................................................................ 1 2. Laporan Utama : PKB, PKG dan PIGP Siapa Takut ?!!...................................................... 3 3. Laporan Utama : Peran PIGP dalam Pendidikan ............................................................... 4 4. O p i n i : Ujian adalah Pembelajaran ............................................................................. 18 5. Beranda : Rumus 5N untuk Peneliti Pemula ..................................................................... 8 6. Gagasan : Cegah Malpraktek Pendidikan dengan Program Induksi & Replikasinya .... 9 7. Artikel : Karakterisasi Siswa melalui Teladan Guru & Orang Tua ................................. 12 8. Renungan : Mengapa Harus Berteriak ?.......................................................................... 13 9. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Bulukerto ...................... 14 10. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Purwantoro ................. 15 11. Lensa KKG : Kegiatan Simulasi PIGP KKG Gugus Madyantara Kec. Kismantoro .... 17 12. Lensa KKG : Pertemuan Rutin KKG Gugus Diponegoro Kec. Purwantoro ............... 18 13. Eksplorasi : Tata Kelola Ruang Kelas ........................................................................... 19 14. Dinamika : Bertinternet Sehat untuk Generasi Sehat ................................................... 20 15. Abstrak Penelitian : Penggunaan Media Ular Tangga ................................................... 23 16. Abstrak Penelitian : Penggunaan Alat Peraga Manik-Manik ........................................ 24 17. Tips & Triks : Kiat Sukses menjadi Guru Baru di Sekolah . ........................................ 25 18. Refleksi : Guru Menjadi Profesional, Bisakah ? ........................................................... 27 19. Refleksi : Guru di Mata Mbok Siti .................................................................................. 28 20. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Slogohimo ................... 29 21. Lensa KKG : Kegiatan In Service KKG Bermutu Kecamatan Puhpelem .................... 30

Lensa FKKG
Kegiatan Pertemuan Koordinasi FKKG eks Distrik Purwantoro Kabupaten Wonogiri dalam rangka pelaksanaan kegiatan Program BERMUTU Tahun 2011 Kegiatan dilaksanakan di SDN I Purwantoro (sekretariat Forum KKG eks Distrik Purwantoro)

Buletin PROSPEK edisi 03 - Desember 2011

Laporan Utama
PKB, PKG dan PIGP Siapa Takut ?!!
Pengantar Redaksi. Pelaksanaan kegiatan KKG Bermutu tahun 2011 di wilayah eks Distrik Purwantoro yang terdiri dari 14 kelompok kerja (gugus) yang tersebar di 5 Kecamatan Purwantoro, Slogohimo, Bulukerto, Kismantoro, dan Kecamatan Puhpelem diawali dengan kegiatan Pertemua In Service selama sehari yang dilanjutkan dengan pertemuan rutin sebanyak 16 kali pertemuan. Topik utama yang mengemuka pada kegiatan In Service tersebut adalah PKG, PKB, PIGP dan PPKHB.

Penilaian Kinerja Guru (PKB)


Oleh : Suparno, S.Pd.
(KKG Gugus Diponegoro, Kec. Purwantoro)

D. Pengertian PK Guru
Menurut Permenpan dan RB Nomor 16 Tahun 2009, PK Guru adalah penilaian tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier, kepangkatan, dan jabatannya. Pelaksanaan tugas utama guru tak dapat dipisahkan dari kemampuan guru dalam menguasai dan menerapkan pengetahuan keterampilan, sebagai bagian dari kompetensi seorang guru. Keduanya sangat menentukan tercapainya kualitas proses pembelajaran atau pembimbingan peserta didik, dan pelaksanaan tugas tambahan yang relevan bagi sekolah. Sistem PK Guru adalah sistem penilaian dirancang untuk mengidentifikasi kemampuan guru berupa penguasaan kompetensi yang ditunjukkan dalam unjuk kerjanya. Secara umum, PK Guru memiliki 2 fungsi utama sebagai berikut : 1.Untuk menilai kemampuan guru dalam menerapkan semua kompetensi dan keterampilan yang diperlukan pada proses pembelajaran, pembimbingan, atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah / madrasah. Dengan demikian , profil kinerja guru sebagai gambaran kekuatan dan kelemahan guru akan teridentifikasi dan dimaknai sebagai analisis kebutuhan atau audit keterampilan untuk setiap guru, yang dapat dipergunakan sebagai basis merencanakan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB) 2. Untuk menghitung angka kredit yang diperoleh guru dalam pembelajaran, pembimbingan , atau pelaksanaan tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah / madrasah yang dilakukan pada tahun tersebut. Kegiatan penilaian Kinerja dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari proses pengembangan karir dan promosi guru untuk kenaikan pangkat dan j a b a t a n f u n g s i o n a l n y a

A. Latar Belakang
Guru adalah pendidik profesional yang mempunyai tugas, fungsi, dan peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru yang profesional diharapkan mampu berpartisipasi dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan insan Indonesia yang bertakwa kepada Tuhan YME, unggul dalam IPTEK, memiliki jiwa estetis, etis, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian.Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus-menerus dan proposional menurut jabatan fungsional guru. Untuk itu diperlukan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU) yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan

B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisitim Pendidikan Nasional 2. Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen 4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru 5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

C. Tujuan
Pedoman pelaksanaan PK Guru ini disusun untuk memperluas pemahaman semua pihak terkait tentang prinsip,proses, dan prosedur pelaksanaan PK GURU, sebagai suatu sistem penilaian kinerja yang berbasis bukti (evidencebased appraisal).

Laporan Utama
Hasil Penilaian Kinerja Guru diharapkan menuaimanfaat untuk menentukan berbagai kebijakan yang terkait dengan peningkatan mutu dan kinerja guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pendidikan dalam menciptakan insan yang cerdas, komprehensif d a n b e r d a y a s a i n g t i n g g i . PK Guru merupakan pedoman mendeteksi unsur-unsur kinerja yang dinilai dan merupakan sarana untuk mengetahui kekuatan kelemahan individu dalam rangka memperbaiki kualitas kinerjanya. PK Guru dilakukan terkait kompetensi guru sesuai tugas pembelajaran, pembimbingan, atau tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah. Khusus kegiatan pembelajaran atau pembimbingan, kompetensi yang dijadikan dasar untuk penilaian kinerja guru adalah 4 kompetensi yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Keempat kompetensi ini telah dijabarkan menjadi butiran kompetensi guru yang harus ditunjukkan dan diamati dalam berbagai kegiatan, tindakan dan sikap guru dalam melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan. Pelaksanaan PK Guru dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tapi sebaliknya, PK Guru dilaksanakan untuk mencetak guru profesional, karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang bermutu. Menemukan secara tepat tentang kegiatan guru di dalam kelas, dan membantu mereka meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, akan memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan, sekaligus membantu pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bahwa setiap guru adalah seorang profesional di bidangnya dan sebagai penghargaan atas prestasi kerjanya, maka PK Guru harus dilakukan terhadap guru di semua satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Oleh karena itu agar menjadi guru yang profesional dan berkualitas maka sudah seharusnya guru selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensinya yang meliputi 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi Profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian.Mari kita mulai berbenah diri mulai sekarang,tingkatkan kinerja kita, sehingga pembelajaran lebih berkualitas, sehingga kita patut dan layak mendapat sebutan guru profesional. Salam BERMUTU ...

PERAN PIGP
DALAM PENDIDIKAN
Oleh: Wiyadi, S.Pd.
(KKG Gugus Setia, Kec. Kismantoro)

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Bagi Guru Pemula, bahwa salah satu syarat untuk pengangkatan pertama kali dalam jabatan fungsional guru harus memiliki kinerja yang baik yang dinilai dalam masa program induksi. Hal ini jelas bahwa PIGP mempunyai andil yang tidak kalah penting dalam pemantapan teknik kerja seorang guru. Walaupun dalam pendidikan formal sebelumnya sudah barang tentu ada teknik dan dasar-dasar mengajar dengan baik. Tapi realisasi di lapangan yang menjadi tupoksinya barulah pertama ia lakukan. Maka, PIGP bolehlah dikatakan sebagai training atau uji coba untuk mendapatkan kinerja yang baik dalam melaksanakan tugas yang akan diemban pada waktu-waktu ke depan. Program Induksi bagi Guru Pemula yang selanjutnya disebut Program Induksi adalah kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan, dan praktik pemecahan masalah dalam proses pembelajaran dan konseling bagi guru pemula, mempunyai tujuan agar guru pemula dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah dan melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional di sekolah. Guru pemula adalah guru yang baru pertama kali ditugaskan melaksanakan proses pembelajaran dan konseling pada sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat. Mereka itu adalah: a. Guru pemula berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang ditugaskan pada sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah atau Pemda; b. guru pemula berstatus pegawai negeri sipil (PNS) mutasi dari jabatan lain; c. guru pemula bukan PNS yang ditugaskan pada sekolah yang diselenggarakan masyarakat. Dengan demikian program induksi ini adalah mutlak untuk semua guru yang pertama kali menerima tugas sebagai pendidik di manapun.

Guru Pemula Berkunjung sekolah guru Pemula Berkunjung keke Sekolah

Laporan Utama
Program induksi yang ditetapkan dalam waktu 1 tahun, merupakan program dilaksanakan sebagai salah satu syarat pengangkatan dalam jabatan guru tetap bagi guru pemula yang berstatus bukan PNS, untuk yang CPNS adalah sebagai syarat untuk pengangkatan ke PNS penuh yang harus melewati diklat prajabatan. Semua pengangkatan guru pemula tersebut harus memperolah sertifikat PIGP terlebih dahulu, dengan syarat telah menyelesaikan program induksi dengan nilai kinerja paling kurang kategori baik. Untuk menyukseskan program induksi ini, KKG Gugus Setia Kismantoro mengadakan simulasi PIGP. Sejak dari planing sampai seeing. Yang hal ini tidak lepas dari peran serta anggota gugus yang berperan sebagai kepala sekolah, pengawas, guru pemula dan guru pembimbing. Pembimbingan guru pemula dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara: 1. memberi motivasi tentang pentingnya tugas guru; 2. memberi arahan tentang perencanaan pembelajaran/pembimbingan, pelaksanaan pembelajaran/pembimbingan dan penilaian hasil belajar/bimbingan siswa; 3. memberi kesempatan untuk melakukan observasi pembelajaran di kelas dengan menggunakan lembar observasi pembelajaran. Bimbingan pelaksanaan tugas lain dilakukan dengan cara: 1. melibatkan guru pemula dalam kegiatankegiatan di sekolah; 2. memberi arahan dalam menyusun rencana dan pelaksanaan program pada kegiatan yang menjadi tugas tambahan Selanjutnya dalam realisasi guru pemula melaksanakan proses pembelajaran dengan observer pembimbing minimal satu kali setiap bulan pada masa pelaksanaan program induksi dari bulan ke-2 sampai dengan bulan ke-9.

Planning Simulasi PIGP SDN 1 Kedawung yang dijadikan tempat simulasi, di mana kepala sekolah, guru pemula yang di dampingi guru pembimbing yang telah ditunjuk Kepala Sekolah. KS menyampaikan halhal yang berhubungan dengan program induksi. Realisasinya, sekolah mempersiapkan hal-hal berikut: 1. Analisis kebutuhan dengan menimbang faktorfaktor antara lain: ciri khas sekolah, latar belakang pendidikan dan pengalaman guru pemula, ketersediaan pembimbing yang memenuhi syarat, penyediaan buku pedoman, dan keberadaan organisasi profesi yang terkait. 2. Pelatihan program induksi bagi guru pemula yang diikuti oleh kepala sekolah/madrasah dan calon pembimbing dengan pelatih seorang pengawas yang telah mengikuti program pelatihan bagi pelatih program induksi. 3. Penyiapan buku pedoman bagi guru pemula yang memuat kebijakan sekolah/madrasah, prosedur kegiatan sekolah/madrasah, format administrasi pembelajaran/pembimbingan, dan informasi lain yang dapat membantu guru pemula belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah/madrasah.

Simulasi pembimbingan guru pemula oleh pembimbing Penilaian guru pemula merupakan penilaian kinerja berdasarkan kompetensi guru: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut dapat dinilai melalui observasi pembelajaran dan observasi pelaksanaan tugas lain. Observasi pembelajaran dan pembimbingan ini diawali dengan pertemuan praobservasi yang dilaksanakan untuk menentukan fokus sub-kompetensi guru yang akan diobservasi (maksimal 5 sub-kompetensi), kemudian pelaksanaan observasi yang dilakukan terhadap fokus sub-kompetensi yang telah disepakati, dan diakhiri pertemuan pascaobservasi untuk membahas hasil observasi dan memberikan umpan balik berdasarkan fokus sub-kompetensi yang telah disepakati bersama, berupa ulasan tentang hal-hal yang sudah baik dan hal yang perlu Guru Pemula Hasil penilaian setiap subdikembangkan. Berkunjung ke Sekolah

Laporan Utama
kompetensi dicantumkan dengan memberikan tanda cek ( ) dan deskripsinya berdasarkan observasi. Deskripsi hasil penilaian menjadi masukan atau umpan balik untuk perbaikan pada pelaksanaan pembelajaran dan pembimbingan berikutnya.

Guru Pemula mengkonsultasikan perangkat pembelajaran yang disiapkan kepada Guru Pembimbing

Simulasi KS, pengawas, guru pemula, dan guru pembimbing membahas hasil observasi dan memberikan umpan balik berdasarkan fokus sub-kompetensi

Guru Pemula melaksanakan proses pembelajaran di kelas dengan dibantu dan dibimbing oleh seorang Guru Senior (Mentor)

Guru Pemula dan Guru Pembimbing menghadap Kepala Sekolah dan menyerahkan berkas serta dokumen kepegawaian sebagai bukti resmi keberadaan Guru Pemula bertugas di sekolah tersebut.

Kegiatan refleksi pasca simulasi PIGP

Artikel
Ujian Adalah Pembelajaran
Oleh: Siti Istiqomah, S.Pd.
(Gugus Diponegoro, Kec. Purwantoro)

jian Nasional telah di depan mata, Persiapan demi persiapan telah dilaksanakan. Mulai dari les di sekolah, try out, pembahasan soal dan lain-lain. Siswa kadang merasa tertekan karena hanya diperintahkan untuk belajar terus menerus. Bahkan kadang tidak ada kesempatan bermain sedikitpun menjelang ujian. Sebagian besar dari kita menganggap tujuan ujian adalah untuk memperoleh nilai yang bagus. Namun anggapan tersebut salah. Ada kalimat yang membuat kita mengetahui kalau ujian bukanlah segalanya. ujian adalah pembelajaran, bukan sebaliknya. Kalimat tersebut sangat sederhana, namun dalam konteks pembentukan learning society (masyarakat belajar) kalimat tersebut sangat tepat. Yang dimaksud ujian adalah pembelajaran dimaknai ujian bukanlah akhir segalanya. Ujian justru merupakan titik awal dari proses belajar berikutnya yang lebih efektif. Ujian hanya sebagai alat ukur, parameter yang sengaja dibuat untuk menilai kemampuan siswa setelah melalui proses belajar selama periode tertentu. Dengan ujian, peserta didik bukan hanya tahu status kemampuanya (apakah di bawah standar, sesuai standar atau bahkan melebihi yang distandarkan oleh pemerintah) tapi juga mengetahui cara belajar yang baik dan benar. Melalui struktur soal yang ada, mereka menjadi tahu unsur-unsur penting dari domain kognitif, afektif dan psikomotor. Jadi, secara konseptual ujian adalah pembelajaran mengandung etos yang luar biasa.. Hidup adalah pembelajaran terus menerus untuk menghasilkan inovasi demi inovasi menuju kehidupan yang berkualitas. Etos belajar di atas tidak akan muncul dari konsep kedua: belajar untuk ujian. Karena, selesai ujian padamlah semangat belajarnya, kecuali nanti datang musim ujian lagi. Yang tertinggal di dada adalah penantian kelulusan.

Mind-setnya adalah bisa lulus dengan nilai baik. Karena lulus ujian dapat meningkatkan status sosialnya. Dia akan begitu kecewa jika tidak lulus ujian. Meski demikian, Ia tidak merasa kecewa saat ilmu yang diperolehnya lama-lama hilang tidak berbekas dalam pikiran, tidak ada internalisasi, dan tidak membentuk pola pikir. Motivasinya saat belajar bukanlah motivasi dari dalam, bukan motivasi pengembangan diri. Yang dikejar sebatas kelas, pangkat, jabatan atau status sosial dan bukan ilmu, kemandirian, tanggung jawab dan sebagainya. Pragmatis dan oportunis sekali. Karena itu, kerugianlah yang diperoleh. Peserta didik yang motivasinya ujianadalah pembelajaran memperoleh banyak keuntungan. Ia tidak saja belajar bagaimana diuji tapi juga dapat belajar etika dan manajemen pengembangan potensi dan kreativitasnya, mendorong ke arah penemuan IPTEK yang inovatif sehingga memiliki daya saing global. Peserta didik kuat moralitasnya. Keikhlasan, kegigihan, kesabaran, tanggung jawab, disiplin dan kepedulianya. Pada learning society, bukan hanya peserta didik yang dituntut belajar. Tapi juga seluruh komponen dan lapisan sosialnya, baik pengelola, pelaksana pendidikan, dan wali peserta didik. Semua belajar agar dapat berperan sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing. Masyarakat belajar adalah sebuah masyarakat yang well educated dan menghargai ilmu serta akhlak sebagai basis pembangunanya. Tindakan mereka rasional, transparan, penuh estimati, bermoral, dan berwawasan jauh ke depan. Tidak mudah dihasut dan diperbudak. Mereka aktif berperan serta dalam melakukan kontrol terhadap seluruh sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk terhadap sistem penegakan hukumnya. Itulah sebabnya mereka memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap kekuasaan negara dan pada gilirannya menjadi kekuatan penyeimbang bagi negara sehingga pemerintah tidak sewenag-wenang.

Beranda

RUMUS 5 N
UNTUK PENELITI PEMULA
Pada tahun ke dua pelaksanaan KKG Program Bermutu tahun 2011/2012 di KKG Gugus Diponegoro Kecamatan Purwantoro pada pembahasan materi tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menghadirkan narasumber Drs. Tarmo, M.Pd. Beliau adalah Ketua Forum Ilmiah Guru (FIG) Kabupaten Wonogiri. Aktifitas keseharian Pak Tarmo Golik (begitu sapaan akrabnya) adalah Kepala SMPN 2 Sidoharjo. Dalam kesempatan itu beliau mengatakan bahwa kemampuan para guru untuk menulis KTI (Karya Tulis Ilmiah) mutlak diperlukan. Apalagi Karya Tulis Ilmiah (KTI) mulai tahun 2013 mendatang menjadi salah satu persyaratan bagi guru yang akan mengajukan kenaikan pangkat dari golongan IIIA dan seterusnya. Untuk itu dengan adanya kegiatan KKG Program Bermutu tersebut merupakan wahana belajar untuk menyusun Karya Ilmiah Khususnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga apabila Sistem Pengajuan Angka Kredit mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009, para guru sudah tidak menemui kesulitan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa mengapa sampai saat ini banyak guru yang mangkrak di golongan IV A, hal ini dikarenakan para guru enggan menulis, khususnya menulis tentang PTK. Bahkan sebagian besar belum memahami tentang apa itu PTK, bagaimana menulis Laporan PTK. Kepala SMPN 2 Sidoharjo yang juga Guru Teladan Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas Tahun 2010 ini selanjutnya memotivasi guruguru di Gugus Diponegoro agar belajar dan berusaha untuk menyusun laporan PTK. Untuk peneliti pemula ada rumus yang cukup mudah diterapkan yaitu 5N. 5N yang dimaksud adalah Niteni, Nirokke, Nambahi, Ngurangi, Ngowahi. Apabila rumus itu diterapkan maka menulis Laporan PTK menjadi sangat mudah. Yang penting ada kemauan dan selalu berusaha dan tidak mudah putus asa. Kita harus yakin tidak ada hal yang sulit kalau kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Motivasi untuk menulis bagi para guru harus ditingkatkan. Hal ini dikarenakan pada kenyataannya para guru masih menghadapi berbagai masalah kaitannya dengan menulis atau menghasilkan karya tulis ilmiah. Menurut Drs.Tarmo,M.Pd penyebab kemampuan menulis belum optimal itu diantaranya adalah: 1. Motivasi rendah 2. Minimnya wawasan pendukung bacaan 3. Merasa tidak punya kemampuan 4. Lingkungan kurang mendukung 5. Menulis belum menjamin kehidupan yang layak. 6. Kurang pekanya cita, rasa, dan karsa 7. Tidak punya waktu 8. Tidak memiliki bakat 9. Takut salah 10. Tidak berani mengambil risiko Itulah sepuluh hal yang menyebabkan para guru saat ini belum dapat menghasilkan Karya Tulis Ilmiah (KTI) khususnya PTK. Untuk itu melalui KKG Program BERMUTU inilah mari kita manfaatkan untuk meningkatkan profesionalisme para guru demi kemajuan pendidikan di tanah air kita.

: Memperhatikan contoh yang ada irokke : Menirukan sistem penulisannya ambahi : Menambahi beberapa hal yang perlu gurangi : Mengurangi hal-hal yang tidak perlu gowahi : Merubah sedikit dari contoh

iteni

Gagasan
CEGAH MALPRAKTEK PENDIDIKAN !
DENGAN PROGRAM INDUKSI DAN REPLIKASINYA
oleh : Toyik Haryanto, S.Pd.
(KKG Gugus Teuku Umar, Kec. Purwantoro)

alam dunia kedokteran, kita mengenal istilah malpraktek yang sering terjadi akibat kelalaian atau kesalahan dalam diagnosis dari tenaga medis atau dokter. Sebenarnya malpratek itu sendiri tidak saja berkaitan dengan dokter atau kalangan medis, tapi sebenarnya profesi lain juga bisa melakukan tindakan yang salah atau tidak benar dalam menjalankan profesinya. Misalnya : advokad/pengacara, wartawan, guru, dan lainnya. Dunia pendidikan, kasus malpraktek pun banyak ditemukan. terkait malpraktek yang dilakukan guru sebagai profesional di bidang edukatif. Malpraktek di sini diartikan sebagai setiap kegiatan perencanaan, pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi dan bimbingan yang dilakukan di bawah standar yang dipersyaratkan
atau mungkin salah konsep terkait materi pelajaran yang disampaikan pada siswa, sehingga siswa tidak dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Sekolah Dasar adalah salah satu bentuk satuan pendidikan formal penyelenggara pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar yang melandasi jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah dasar sangat berpengaruh pada keberhasilan siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Beberapa indikasi malpraktek pendidikan antara lain : 1. Masih banyak guru yang membuat rencana pembelajaran (RPP) tidak dipedomani dalam kegiatan belajar mengajar, guru langsung mengajar apa adanya. Seringkali RPP yang digunakan adalah hasil copy paste dari sekolah lain, sehingga tidak sesuai dengan kondisi dan karakter sekolah bersangkutan. 2. Masih banyak guru yang senang mengajar, bukan membelajarkan siswa, sehingga hanya terjadi komunikasi satu arah di kelas. 3. Tidak melakukan follow up (tindak lanjut) dari tugas/PR yang diberikan pada siswa. Pada kegiatan ulangan harian dan ulangan semester, guru tidak melakukan perbaikan, sehingga tidak memberikan kesan umpan balik bagi siswa. 4.

4. Adanya asumsi bahwa ketidaktuntasan belajar siswa disebabkan kebodohan siswa sendiri, tanpa mencoba mereview dan merefleksi apa yang salah dalam perencanaan, pelaksanaan pembelajaran ataupun faktor-faktor penyebab lainnya. 5. Penyusunan PTK pada umumnya hanya digunakan untuk kenaikan pangkat, bukan benar-benar diterapkan untuk perbaikan kualitas pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar siswa, dll . Beberapa indikasi malpraktek pendidikan tersebut, layak kita jadikan cermin betapa banyak ragam bentuk kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan dalam menjalani profesi mulia ini. Kita maklumi bersama, memang tidak mudah melaksanakan tugas-tugas keseharian kita dalam waktu yang bersamaan. Namun, setidaknya ada upaya kita untuk merintis sedikit demi sedikit untuk melakukan perbaikan layanan pada anak didik kita. Bagaimana pun anak didik kita berhak untuk mendapatkan perlakuan yang layak untuk belajar dan membekali dirinya dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa mendatang. Tentunya bukanlah suatu hal yang berlebihan, apabila kita sebagai pendidik memberikan sesuatu yang terbaik pada mereka. Cegah Malpraktek Pendidikan Bahwa malpraktek pendidikan dapat dialami oleh semua guru, baik guru senior maupun yunior (guru pemula). Namun ketika terjadi pada guru senior bagaimana dengan guru pemula yang dibimbingnya? Untuk itu dengan adanya Program Induksi inilah secara tidak langsung ada beban tanggung jawab bagi para guru untuk membiasakan diri mengemban tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Keteladanan, dedikasi, dan profesionalitas dari para guru senior dimungkinkan para guru pemula akan terinduksi hal-hal yang positif. Pengaruh iklim kerja di tempat tugas (sekolah) serta pembiasaan keseharian yang tertangkap dan dirasakan oleh para guru pemula tentu berpengaruh kuat terhadap sikap, perilaku, dan...

Gagasan
kinerja guru pemula selanjutnya. Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberadaan gurunya, baik dari wawasan keilmuan yang dimiliki, relevansi keilmuan, pengalaman kerja, serta iklim kerja di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Dengan demikian keberadaan pendatang baru guru pemula tersebut tentunya akan diarahkan untuk ikut menunjang keberhasilan pendidikan di sekolah. Keberadaan Guru WB/GTT Di lain sisi tidak dapat kita pungkiri, bahwa masih banyak sekolah yang kekurangan tenaga guru. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan guru, pihak sekolah mengangkat guru tidak tetap/guru wiyata bakti. Keberadaan Guru WB/GTT tersebut sangat diperlukan, terutama bagi sekolah yang benar-benar mengalami kekurangan tenaga guru. Betapa sulitnya ketika seorang guru harus mengajar lebih dari satu kelas dalam waktu yang bersamaan (kelas rangkap), apalagi kelas yang ada jumlah siswanya cukup besar. Di sinilah Guru WB/GTT diberi peran untuk menjadi guru kelas/wali kelas. Kenyataan di lapangan, berdasarkan data yang ada tidak semua guru WB telah menamatkan pendidikan keguruan (D2 PGSD/S1 PGSD), namun beberapa guru WB masih dalam proses menempuh pendidikan keguruan di perguruan tinggi. Apa boleh buat bila sekolah memang benarbenar membutuhkan tenaga guru tersebut? Apakah sekolah harus bersabar sampai ada pengangkatan dan penempatan guru (CPNS)? Dengan kondisi demikian, tentunya tidak bijak bila para calon guru tersebut kita lepas begitu saja untuk belajar melaksanakan proses pembelajaran tanpa adanya bimbingan dan keteladanan dari guru senior dan kepala sekolah. Untuk meminimalisir terjadinya malpraktek pendidikan, diperlukan kepedulian guru senior untuk memberikan bimbingan secara intensif dan terus-menerus kepada calon-calon guru yang sedang belajar menjadi guru tersebut. Ironisnya, ketika datang guru pemula (CPNS) di suatu sekolah, maka para guru senior merasa mendapatkan tenaga baru yang dapat diberdayakan dengan memberi tugas dan tanggung jawab lebih kepada guru baru. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya asumsi bahwa guru baru dengan semangat baru akan mendapatkan pengalaman baru apabila diberi kesempatan untuk melaksanakan tugas-tugas baru agar semakin bertambah pengalamannya. Pendidikan pada tingkat Sekolah Dasar (SD), khususnya kelas bawah (Kelas I - III) merupakan bentuk pendidikan yang vital dan mendasar. Kegagalan proses pendidikan pada masa ini akan berpengaruh bagi perkembangan individu pada masa berikutnya. Oleh karena itu, diperlukan kearifan dalam pembagian tugas guru dalam PBM. Kelas rendah justru memerlukan guru yang benar-benar memahami tingkat perkembangan dan psikologi kematangan anak. Pemenuhan persyaratan kompetensi guru SD menjadi mutlak dan tidak bisa ditawar lagi. Berbekal kompetensi yang memadai inilah diharapkan tidak terjadi lagi aneka bentuk malpraktek (maltreatment) dalam pendidikan. Guru senior dan guru pemula hendaknya saling bersinergi dan berkolaborasi agar proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik, lancar, dan kondusif. Sebagai upaya penyelamatan siswa dari malpraktek ini, pemerintah telah mengambil kebijakan dengan diberlakukan program induksi bagi guru pemula, yang diatur Permendiknas No. 27 tahun 2010 tentang Program Induksi bagi Guru Pemula. PIGP merupakan bentuk keseriusan pemerintah mempersiapkan guru profesional sejak guru baru bertugas dengan melakukan pembimbingan oleh guru senior (mentor), kepala sekolah dan pengawas sekolah. Program induksi merupakan kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan, dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran/bimbingan dan konseling bagi guru pemula pada sekolah/madrasah di tempat tugasnya. PIGP merupakan trik untuk menempatkan kembali tanggung jawab para guru senior, kepala sekolah, dan pengawas sekolah, dan kalangan birokrat pendidikan dalam membina guru pemula atau guru baru. Dengan demikian guru pemula harus segera mendapatkan perlakukan khusus dalam mengawali perjalanan pengabdiannya. Melalui PIGP diharapkan semakin meningkatkan dan memantapkan penguasaan kompetensi bagi guru yang bersangkutan. Melalui PIGP ini pula diharapkan dapat tumbuh dan tercipta guru-guru kontruktivis dan berkompeten, yang mampu membangun, mengembangkan potensi peserta didiknya. Bukan sebaliknya, menjadi perusak perkembangan peserta didik alias destruktivis.

10

Gagasan
Memang, seandainya guru pemula tidak mendapatkan bimbingan dari guru senior atau kepala sekolah, guru pemula akan tetap menemukan keprofesionalannya. penemuan berdasar pengalaman tersebut tentunya sangat membutuhkan proses dan waktu yang panjang. Sangat berbeda jika guru pemula diberikan bimbingan secara terprogram dan intensif dapat mempercepat proses pematangan profesi guru pemula sehingga guru pemula akan lebih siap untuk memberikan pengabdian terbaiknya.

Bagaimana dengan Guru WB/GTT (Non CPNS/PNS) ?


Untuk mencegah terjadinya kesalahan tindakan bagi guru baru/guru yang masih dalam tahap belajar, maka pemberlakuan PIGP yang mengacu pada Permendiknas Nomor 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi bagi Guru Pemula, sebaiknya Program tersebut tidak hanya sebatas bagi guru pemula berstatus calon pegawai negeri sipil (CPNS)/pegawai negeri sipil (PNS) mutasi dari jabatan lain/PNS yang ditugaskan pada sekolah/madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Namun Program Induksi tersebut juga diberlakukan bagi Guru Tidak Tetap/Guru WB. Penerapan Program Induksi bagi guru baru yang masih berstatus GTT/WB bukanlah tanpa alasan. Karena kenyataan di lapangan antara Guru pemula yang berstatus CPNS/PNS

mutasi dari jabatan lain (pasal 4 Permendiknas No. 27 tahun 2010) dengan guru yang masih berstatus WB ketika menjadi guru kelas (wali kelas tertentu) di sekolah tempat tugas memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama. Dapat kita bayangkan bersama, Guru Pemula (CPNS/PNS yang mutasi dari jabatan lain) yang notabene sudah memiliki pengetahuan paedagogik/ilmu pendidikan saja masih harus mengikuti Program Induksi. Apalagi Guru WB/GTT yang masih dalam proses menempuh study di bangku kuliah. Apakah penerapan Program Induksi bagi guru WB/GTT tersebut sama ? Tentu saja tidak. Misalnya saja melalui Replikasi Program Induksi dengan aturan main yang berbeda, misalnya hanya diadopsi pada tahapan pembimbingannya, mulai dari : Persiapan, Pengenalan Sekolah/Madrasah, Pelaksanaan dan Observasi Pembelajaran. Untuk tahap Penilaian dan Pelaporan bisa diganti dengan kegiatan refleksi antara guru WB dengan Mentor/Pembimbing. Memang selama ini para guru WB tersebut secara berkala telah dibimbing oleh guru-guru senior di sekolah yang bersangkutan, namun bukankah lebih baik bila bimbingan tersebut dikemas melalui perencanaan program yang baik layaknya Program Induksi ???
Mari Kita Sukseskan Program Induksi

( PETIKAN ) PERMENDIKNAS NO.27 TAHUN 2010 TENTANG PROGRAM INDUKSI BAGI GURU PEMULA Pasal 7
(4) Program induksi dilaksanakan secara bertahap dan sekurang-kurangnya meliputi persiapan, pengenalan sekolah/madrasah dan lingkungannya, pelaksanaan dan observasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, penilaian, dan pelaporan. (5) Guru pemula diberi beban mengajar antara 12 (dua belas) hingga 18 (delapan belas) jam tatap muka per minggu bagi guru mata pelajaran, atau beban bimbingan antara 75 (tujuh puluh lima) hingga 100 (seratus) peserta didik per tahun bagi guru bimbingan dan konseling. (6) Selama berlangsungnya program induksi, pembimbing, kepala sekolah / madrasah, dan pengawas wajib membimbing guru pemula agar menjadi guru profesional. (7)Pembimbingan yang diberikan meliputi bimbingan dalam perencanaan pembelajaran/bimbingan dan konseling, pelaksanaan kegiatan pembelajaran/ bimbingan dan konseling, penilaian dan evaluasi hasil pembelajaran/bimbingan dan konseling, perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, dan pelaksanaan tugas lain yang relevan.

11

Artikel

melalui Teladan Orang Tua & Guru


Oleh: Wahanto, S.Pd.
(KKG Gugus Teuku Umar, Kec. Purwantoro)

Karakterisasi Siswa

esatnya ilmu dan teknologi, serta kebebasan pers melalui media cetak maupun elektronika,telah membawa perubahan pada hampir semua aspek kehidupan manusia, baik yang menyangkut politik, ekonomi, maupun kehidupan sosial budaya bangsa. Sesuai Undang undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3 disebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka dari itu, untuk mewujudkan tujuan tersebut, khususnya dalam membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat, harus ada upaya-upaya untuk meningkatkan pendidikan budi pekerti, khususnya di Sekolah Dasar. Kalau kita perhatikan, tata kehidupan anak, khususnya siswa Sekolah D a s a r, t e l a h b a n y a k meninggalkan adat ketimuran yang penuh dengan sopan-santun, tata krama, atau dalam bahasa jawa disebut unggahungguh. Ti n g k a h l a k u s i s w a keseharian, cara berbahasa, perilaku, tata krama, tindakan, mulai terpengaruh budaya barat. Ilustrasi berikut adalah contoh konkrit ketika siswa bertemu guru menyapa, Halo, Pak sambil mengangkat tangannya. Atau siswa yang sedang berkejaran, tidak mempedulikan orang tua yang di sekitarnya. Terlebih lagi cara berbahasa, kepada siapa dan dalam kontek apa, mereka mengacuhkan dan tidak

Banyak siswa beranggapan bahwa memelihaha adat ketimuran (sopan santun, tata krama, unggah-ungguh) adalah budaya tempo dulu. Sebaliknya juga tidak sedikit orang tua yang paham tentang budi pekerti, tetapi mereka selalu melanggar norma- norma peradaban bangsa, sehingga sulit untuk dijadikan teladan. Yang membuat prihati apabila pelakunya seorang Guru. Dalam istilah bahasa Jawa guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Dalam analogi ekstrim bahkan teladan buruk guru dapat dilakukan lebih buruk lagi oleh siswa sebagaimana peribahasa guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Permasalahan lain, sebagian besar sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi berlatar belakang anak sekolah sebagai tokoh utamanya, baik tokoh pentagonis maupun tokoh antagonis. Akibatnya sebagian besar anak meniru tingkah laku yang paling mudah untuk ditiru, yaitu tokoh antagonis, yang tidak tahu tentang budi pekerti, sopan-santun, dan tata krama.

Sebuah Solusi
Berdasarkan uraian di atas, maka guru berkewajiban tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan melainkan juga mendidik siswa ke arah kedewasaan moral. Membentuk kepribadian siswa yang memahami akan sopansantun, tata krama, atau berbudi pekerti yang luhur, tidaklah mudah seperti yang kita bayangkan, karena parameter dan indikator yang juga turut berkembang seirama perubahan budaya. Pemerintah telah menginterprestasikan Pendidikan Budi Pekerti ke dalam mata pelajaran, tetapi perubahan kepribadian peserta didik belum memenuhi harapan. Oleh karenanya melalui strategi dalam paparan ini, dimungkinkan dapat membentuk peserta didik memiliki kepribadian sesuai dengan peradaban bangsa Indonesia, Pertama, di dalam lingkungan keluarga, orang tua harus selalu menanamkan sopansantun, tata krama, unggah-ungguh pada anaknya. Tidak sekedar kata-kata tetapi juga diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, Misalnya, dalam berbicara dan bertingkah laku. Kedua, dalam mensikapi masuknya arus globalisasi, kebebasan pers pada media cetak maupun elektronik, orang tua harus waspada

12

Artikel
Sebagai contoh, apabila anak menyaksikan televisi, atau membaca bacaan yang berindikasi pada pornografi, orang tua harus bertindak tegas melarangnya. Demikian juga kecanggihan HP dengan kemampuannya mengakses dan menyimpan perlu disikapi dengan lebik bijak. Hendaknya orang tua memiliki aturan yang tegas, dan pada saat-saat tertentu memeriksa memori maupun jejak guna HP tersebut. Ketiga, dalam falsafah Jawa, guru adalah figur yang dapat digugu dan ditiru, jadi mendidik siswa jangan hanya sekedar memberi teori-teori mengenai budi pekerti yang harus dilaksanakan oleh peserta didik, sementara guru sendiri tidak menghiraukan apa itu budi pekerti. Sebagai pendidik, orang guru harus menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Logika riil dari kondisi ini adalah bagaimana mungkin seorang guru melarang anak didiknya minum-minuman keras, dan berjudi, sementara guru sendiri melakukan hal tersebut dengan suka hati. Guru sekaligus sebagai orang tua siswa di sekolah, dalam rangka membentuk kepribadian siswa mengarah pada peningkatan budi pekerti yang luhur, sesuai dengan peradaban bangsa kita yang kaya akan sopan-santun, dan tata krama.

(Diilhami oleh Cerita Rakyat Pulau Solomon Menebang Pohon)

MENGAPA HARUS BERTERIAK ?


Oleh: Suyanto, S.Pd.
(KKG Gugus Madyantara, Kec. Kismantoro)

Ada hal unik ketika penduduk primitif kepulauan Solomon di Pasifik Selatan ingin menumbangkan pohon besar yang tak lagi dapat dikapak atau dipotong. Caranya, seseorang yang kuat naik ke puncuk pohon. sementara di bawah pohon beberapa penduduk melingkarinya dengan rapat. secara bersma mereka meneriaki pohon tersebut selama berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Sungguh aneh!Pohon yang diteriaki itu perlahanlahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahandahannya dan perlahan-lahan pohon itu akan mati keropos dan mudah ditumbangkan Menurut kepercayaan mereka, teriakan itu akan mengusir roh pohon. Tanpa roh, maka makhluk hidup akan mati pada akhirnya. Meskipun terdengar muskil, mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap makhluk hidup seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya, dalam waktu singkat, makhluk itu akan mati. Bagaimana dengan kita? Guru dan juga orang tua, siswa, pekerja, atau manusia di sekitar kita? Pernahkah sebagai guru kita berteriak karena ketidakmampuan mengendalikan emosi kita? Dasar bodoh!! Soal segampang itu tidak bisa!! Apa yang ada di otak kamu! Lelet!!! Cepat!!!.. Keluarkan PR! Cepatttt!!! Pernahkah kita sebagai orang tua berteriak kepada anak anak kita? Anak macam apa kau ini!!! Jangan main disini ! Berisiiiiiiiiiik ! Diam!! Pernahkah kita berteriak balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati ? "Istri seperti kamu nggak tahu diri... ! Ngaca!!! Cuma minta, minta dan minta... !

"Suami seperti kamu cuma jadi benalu! kampungan! Apa yang kamu bisaaa!!! Suami lemot!!!" Pernahkah kita berteriak pada orang di sekitar kita "Hutang lagiii!!! Kapan mau mandiri!! Sebell!!! Gak becus kerja! Buat apa aku gaji kau!! Pernahkah kita merasa? Setiap kali kita berteriak karena jengkel, marah, terhina, terluka, berarti kita telah mematikan roh kehidupan mereka. Kehidupan orang-orang yang kita cintai seperti dilakukan oleh penduduk Solomon. Teriakan yang terus menerus melalui emosi-emosi kita adalah pisau yang perlahan mengiris roh hidup orang-orang yang kita cintai. Roh yang telah melekatkan hubungan, Roh yang telah menjalinkan kebersamaan, Roh yang di dalamnya tersusun bakat, kreativitas, dan inovasi untuk membangun hidup. Dan roh itu akan pergi, membunuh kebaikan yang ada di dalamnya. Dalam keseharian, kita berteriak hanya pada lawan bicara jauh. Aneh jika kita berteriak pada seseorang yang hanya berjarak beberapa centi saja? Melalui teriakan, tanpa sadar kita mulai berusaha melukai serta mematikan roh kreatifitas orang yang kita teriaki. Apakah kita tidak ingin roh kreativitas orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati? Apakah kita tidak ingin anak kita, siswa-siswa kita mengenang kelembutan dan kasih sayang kita? Bukannya mengenang teriakan kemarahan kita? Sebagai guru, mengapa kita harus berteriak, sementara berpasang telinga telah terbuka dengan rela siap mendengarkan suara sepelan apapun juga? Karakter apa yang ingin kita kenangkan untuk siswa kita ketika mereka dewasa kelak?

13

Lensa KKG
KEGIATAN IN SERVICE KKG PROGRAM BERMUTU TAHUN 2011 KECAMATAN BULUKERTO KABUPATEN WONOGIRI

Pelaksanaan Kegiatan In Service KKG Program BERMUTU Tahun 2011 di Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri

14

Lensa KKG

15

Lensa KKG

Bp. Drs. Sarwono, M.Pd. (Kasi. PPTK Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri) menyampaikan materi tentang Kebijakan Program BERMUTU dan Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) pada kegiatan In Sevice KKG Program BERMUTU TAHUN 2011 di Kecamatan Purwantoro, Wonogiri.

Bp. Drs. Nurhadi, M.Pd. (DCT Program BERMUTU Kabupaten Wonogiri) selaku narasumber sedang menyampaikan materi tentang PIGP pada kegiatan In Sevice KKG Program BERMUTU TAHUN 2011 di Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri.

16

Lensa KKG
KEGIATAN SIMULASI PROGRAM INDUKSI GURU PEMULA (PIGP) KKG PROGRAM BERMUTU GUGUS MADYANTARA KECAMATAN KISMANTORO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2011

17

Lensa KKG
PERTEMUAN RUTIN KKG PROGRAM BERMUTU TAHUN 2011 KKG GUGUS DIPONEGORO KECAMATAN PURWANTORO KABUPATEN WONOGIRI

Bp. Suwarno, S.Pd. (PengawasTK/SD Kec.Purwantoro) selaku narasumber menyampaikan materi tentang Pengembangan KTSP Berkarakter Bangsa (PBKB)

Peserta KKG Gugus Diponegoro Kec. Purwantoro dalam Pertemuan Rutin KKG Program BERMUTU.

Bp. Suparno, S.Pd. (Ketua KKG Gugus Diponegoro, Kecamatan Purwantoro sedang membuka kegiatan Pertemuan Rutin KKG Program BERMUTU yang bertempat di SDN I Kenteng (SD Inti) KKG Gugus Diponegoro.

Dari sebelah kiri : Bp. Sutimin, S.Pd. (Kepala SDN I Ploso, Kec. Purwantoro) dan Bp. Sutanto, S.Pd., M.Pd. (Kepala SDN I Bakalan, Kecamatan Purwantoro) sedang memantau pelaksanaan kegiatan Pertemuan Rutin KKG Gugus Diponegoro.

18

Ekplorasi
Tata Kelola Ruang Kelas
Oleh: Agus Budiyanto, S.Pd.SD.
(Gugus Madyantara, Kec. Kismantoro)

1. Tata Kelola Ruang Kelas


Di dalam kelas guru melaksanakan dua kegiatan pokok yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan mengelola kelas. Kegiatan mengajar pada hakikatnya adalah proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa. Semua komponen pengajaran yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajarmengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi diperankan secara optimal guna mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelum pengajaran dilaksanakan. Tata kelola kelas diperlukan karena dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Kelas selalu dinamis dalam bentuk perilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa. Kelas dengan luas 56 m2 perlu dimodifikasi agar memberikan akses yang lebih luas terhadap berbagai proses yang terjadi. Akses yang menekankan pada kesetaraan, kreativitas, kegembiraan, dan persaingan secara demokratis antar siswa haruslah dimunculkan. Jumlah siswa sedikit bukan berarti kemudahan. Jumlah siswa sedikit adalah tantangan bagi guru untuk mencapai keberhasilan lebih baik dalam proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar hasil akhir yang memenuhi tuntutan KKM namun juga proses pembelajaran yang mencerminkan kreativitas dan kualitas pembelajaran. Contoh desain tata kelola ruang kelas di bawah ini adalah salah satu diantaranya.
Keterangan
1. 2. 3. 4. 5. papan tulis tiang bendera almari pohon prestasi tempat sapu dan berbagai alat kebersihan kelas 6. rak tempat pajangan karya 3 dimensi siswa 7. karpet 8. lokasi penataan kursi dan meja siswa

ada saat ini ruangan yang dipergunakan untuk pembelajaran berukuran atau 56 m2 kemampuan daya tampung maksimal untuk 28 siswa (Permen No 24 tahun 2007 ), sehingga rasio luas ruangan dengan peserta didik adalah 2 :1 atau tingkat kepadatan 2 m2 untuk setiap siswa. Kenyataan di lapangan, muatan peserta didik tidak sesuai Permen tersebut. Beberapa sekolah bahkan memiliki kepadatan 4m2 / siswa atau kelas hanya terisi 14 siswa. Di Kismantoro misalnya dari ruang kelas 174, 126 diantaranya merupakan ruang kelas dengan jumlah siswa kurang dari 20 siswa. Bahkan 30 ruang diantaranya terisi kurang dari 10 siswa. Kondisi demikian membutuhkan kreativitas guru untuk menerapkan tata kelola ruang kelas memadai dan selaras dengan jumlah siswa sehingga dapat tercipta proses pembelajaran aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan bukan hanya bagi siswa tetapi juga bagi guru. Kemampuan guru dalam mengelola ruang kelas menjadi parameter tingkat reseptif dalam mengakses berbagai inovasi pembelajaran yang makin berkembang (Sanjaya, 2006:18). Kemampuan guru untuk mengadaptasikan kelebihan dan kekurangan dalam ruang kelas menjadi ciri seorang guru dapat melaksanakan proses pembelajaran yang mengedepankan aspek edukasi (Fakhruddin,2010:228). Keadaan inilah yang mengharuskan guru mengembangkan segenap kreativitas dan ide-ide pembelajaran inovatif melalui konsep tata ruang kelas yang mampu memperlihatkan proses dan hasil pembelajaran keseluruhan. Setidaknya guru mampu menciptakan ruang kelas ''terbuka'' yaitu ruang kelas yang mampu merangsang kreativitas anak dan anak bebas memamerkan karyanya baik secara individual maupun kelompok.

Permasalahan
Permasalahan dalam tulisan ini adalah pengelolaan tata ruang kelas yang menjadi cermin kreativitas siswa dan guru, dengan menitikberatkan pada kelas dgn jumlah siswa tidak memenuhi amanat Permen 24 / 2007.

19

Ekplorasi
Rangsangan siswa untuk belajar dan menjadi yang terbaik dapat dilakukan dengan menggantungkan nama-nama siswa dalam pohon prestasi. kreativitas dan kualitas pembelajaran.
Ket: 1. benda-benda kesetiaan negara 2. penyemangat siswa 3. papan tulis 4. kalender pendidikan
5. 6. 7. 8. 9. jadwal mata pelajaran pengurus kelas daftar piket harian daftar kelompok siswa jadwalkegiatan ekstra

2. Tata Kelola Tempat Duduk Siswa


Guru sebagai pemegang utama manajemen kelas perlu menyusun tata kelola meja dan kursi siswa yang dapat mengakses keberagaman inovasi pendekatan, metode dan teknik dalam pembelajaran. Tatakelola tersebut juga mampu mengungkap perencanaan belajar guru, desain proses pembelajaran, dan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Tata kelola meja dan kursi siswa menekankan pada interaksi antarsiswa yang cukup tinggi, kesetaraan guru dan siswa dalam pembelajaran, dan demokratisasi proses pembelajaran. Berikut sampel penataan tempat duduk siswa.

Ket: 1. Penyemangat guru 2. prestasi siswa kelas yang bersangkutan dari tahun ke tahun 3. papan data kelas 4. papan prestasi belajar memajang hasil test terbaik 5. tempelan dokumentasi photo kegiatan kelas 6. jam individual kehadiran pagi untuk siswa serta nama 7. rak untuk memasang karya tiga dimensi hasil kerja siswa

Ket: 1. penyemangat siswa 2. pajangan karya siswa 3. papan absensi harian siswa 4. tempat sapu dll. 5. rak untuk memasang karya tiga dimensi hasil kerja siswa

Kesimpulan 3.Tata Kelola Dinding Ruang Kelas Desain dinding dalam penggunaannya mencakup aktivitas guru dan administrasi, kreativitas dan prestasi siswa, penunjang pendidikan, dan berbagai atribut yang dapat merangsang siswa untuk berkreasi dan beraktivitas dalam suasana gembira. Tata kelola dinding ruang kelas sebagaimana dicontohkan di bawah ini.

Ket: 1. penyemangat siswa 2. gambar cetakan 3. pajangan karya siswa 4. almari kelas

Proses pembelajaran terjadi dengan intensitas interaksi antarsiswa yang tinggi dapat dilakukan melalui pengelolaan tempat belajar dan perabot yang ada seperti meja-kursi, pajangan sebagai hasil karya siswa, perabot sekolah, atau sumber belajar yang ada di kelas. Tata kelola mejakursi dapat disusun secara kelompok, bentuk U, atau bentuk berjajar atau secara berbaris. Susunan ini bergantung strategi yang digunakan dan tujuan yang hendak dicapai.

20

Dinamika
Berinternet Sehat untuk Generasi Sehat
Oleh: Budhi Prayitno, A.Ma.
(KKG Gugus Potrokusumo, Kec. Puhpelem)

eknologi terus berkembang, terutama teknologi informasi, melahirkan berbagai modus baru dalam penyampaian informasi dan pengetahuan. Salah satu yang paling santer saat ini adalah Internet. Teknologi berbasis komputer ini menjadikan informasi dan pengetahuan cepat mencapai penggunanya di seluruh dunia.

Internet merupakan sebuah jaringan global yang memungkinkan komunikasi antar kota dan bahkan antar negara dapat dilakukan dengan biaya yang murah. Kita bisa mengirim surat elektronik (e-mail), ngobrol (chatting), mendengarkan radio, melihat video (streaming) dan mencari informasi (browsing), dari manapun dan kemanapun dengan biaya pulsa telepon lokal. Kita bisa pula "bertelepon" ke luar negeri, tentunya dengan pulsa lokal. Internet juga dipadati dengan materi pendidikan dan hiburan. Sebagai seorang guru yang dituntut untuk selalu inovatif, internet merupakan partner online

dalam menambah wawasan dan pengetahuan yang berkembang pesat saat ini. Internet ibarat perpustakaan super lengkap, karena terdapat informasi/materi referensi (berita, video tutorial, artikel, e-book, dll) dari seluruh dunia yang dapat diambil dan manfaatkan sesuai kebutuhan kita sebagai pendidik. Sebagai contoh, anda ingin melihat bagaimana guru jepang mengajar, tidak perlu studi banding ke negara tersebut, cukup menggunakan internet dan putar videonya, tentunya dengan mengakses situs penyedia layanan video online, www.youtube.com misalnya. Bahkan jika anda menguasai bahasa Inggris, berbicara langsung dengan guru-guru seluruh dunia pun bukan menjadi sesuatu yang sulit menggunakan layanan chat yahoo massanger. Menarik bukan ? Di samping segala kelebihan di atas, tidak seluruh konten di internet bermanfaat bagi kita. Beberapa bahkan cenderung merugikan remaja, anak-anak dan murid. Materi yang merugikan tersebut terdapat di situs-situs negatif, misalnya : pornografi, rasisme, kekerasan dan perjudian. Di Internet dapat pula terjadi pelanggaran privasi, perendahan martabat dan pelecehan seksual ringan maupun berat. Dari internet juga program jahat penginfeksi komputer, seperti : virus, worm, trojan disebarkan. Berdasarkan informasi yang saya dapat saat ini, ada lebih dari 500 juta situs berbau pornografi, belum konten negatif lainnya. Orang tua dan guru yang baik, pasti menginginkan anaknya maju dan semestinya berusaha memberikan akses ke media informasi.orang tua dan guru berharap anakanaknya dapat berselancar (menggunakan internet) dengan sehat dan cerdas. Mau tidak mau proteksi harus di tambahkan agar proses selancar tersebut dapat dilakukan dengan nyaman dan menyenangkan. Dalam melakukan proteksi dari konten yang tidak diinginkan, terdapat istilah blokir, yaitu filtering akses ke website. Penulis pribadi masih berpendapat bahwa teknik blokir yang paling baik, paling ampuh dan paling murah adalah pendidikan moral dan pendekatan agama, tetapi tidak menjamin teknik tersebut efektif, karena beberapa faktor. Secara teknis dalam dunia komputer, ada beberapa cara untuk blokir konten berbahaya atau tidak baik, antara lain: a. Menggunakan PoEsia, direkomendasikan oleh Masyarakat Ekonomi Eropa. b. Menggunakan Sistem Operasi (misalnya Ubuntu Muslim Edition) c.Desktop Untuk Anak

21

Dinamika
d. Setting Internet Explorer & Default Browser Page Bagi Putra-Putri Anda e. Software Parental Control (misalya vitur pada antivirus) f. Teknik Filter pada Browser g. Teknik Filter Content h. Teknik Berbasis DNS (Sangat Disarankan) I. Teknik Berbasis Proxy j. Teknik Berbasis Firewall k. Anti Virus dan Trojan l. ISO / Appliance Kemungkinan istilah-istilah di atas masih terlalu asing bagi penggununa baru internet. Dari beberapa metode di atas, pilihan menggunakan teknik berbasis DNS sangat disarankan, selain paling mudah settingnya juga cukup efektif. Setahu penulis dan paling populer, ada dua penyedia DNS gratis untuk filtering konten negatif, yaitu open DNS dan DNS nawala. DNS filtering tersebut teknis penggunaan dan cara kerjanya dapat anda download pada alamat di bawah ini. http://dev.nawala.org/panduan/buku-kecilmanual-dns-nawala-xp-7.pdf Cara di atas tidak dapat memberikan 100% jaminan, karena pengetahuan anak-anak tidak seperti yang kita bayangkan, tetapi setidaknya telah memberikan tindakan awal dalam pencegahan. Selamat berinternet sehat

Sejenak
Jendela Rumah Sakit......
Dua orang pria menderita sakit keras di sebuah rumah sakit. Seorang di antaranya diharuskan duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satusatunya yang ada di kamar itu. Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya. Setiap hari mereka bercakap selama berjam-jam membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan. Setiap sore, pria dekat jendela menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya. Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warnawarna indah yang ada di luar sana. Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam indah, itik dan angsa berenang cantik, anakanak bermain dengan perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi bunga berwarnakan pelangi. Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona Pria pertama menceritakan keadaan di luar jendela dengan detail, sedangkan pria yang lain berbaring memejam mata membayangkan semua keindahan itu. Rasanya lebih tenang dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah. Suatu sore yang lain, pria yang duduk di dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas.Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata kata-kata indah. Begitulah seterusnya, dari hari ke hari, satu minggu pun berlalu. Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati pria yang di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang. Perawat itu sedih lalu memindahkannya ke ruang jenazah. Pria yang kedua ini meminta perawat agar ia dapat dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Dengan senang hati perawat menurutinya, dan meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar dekat jendela. Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan di dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Jendela itu ternyata itu menghadap ke sebuah tembok kosong!!! Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun. Renungan Setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah pemicu yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia. Dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang akan selalu hadir pada kita yang percaya. Kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. (Redaksi)

22

Abstrak Penelitian
Penggunaan Media Ular Tangga untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPS Keadaan Sosial Negara di Dunia pada Siswa Kelas VI SDN III Bakalan Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri Tahun 2012 Oleh : TRI KURNIASIH,A.Ma ( KKG Gugus Diponegoro, Purwantoro ) Penelitian ini berawal dari rendahnya minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VI SDN III Bakalan. Berdasarkan hasil evaluasi belajar Kompetensi Dasar mengidentifikasi benua-benua, diperoleh data bahwa hanya 4 dari 18 siswa yang mendapat nilai di atas KKM (65). Berdasarkan hal itu maka permainan ular tangga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran. Ular tangga dipilih karena permainan ini telah dikenal luas oleh siswa, selain itu permainan ular tangga juga merupakan salah satu bentuk permainan yang kreatif dan menarik, serta siswa akan dituntut untuk berkompetisi dalam memainkannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN III Bakalan yang berjumlah 18 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah RPP, lembar observasi motivasi, soal pre tes dan post tes. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan lembar observasi motivasi siswa, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes setiap akhir siklus serta ketuntasan belajar siswa pada masingmasing siklus. Analisis data menggunakan analisis deskriptif berupa nilai rata rata dan persentase keberhasilan tindakan dengan membandingkan data pada tes awal, siklus I dan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media ular tangga secara umum dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran IPS keadaan sosial Negara di dunia siswa kelas VI SDN III Bakalan Kecamatan Purwantoro. Dari paparan data dan temuan penelitian diketahui bahwa motivasi belajar pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 30 % dari 60% pada siklus I naik menjadi 90% pada siklus II. Hasil belajar siswa dapat diketahui dari tes yang diadakan setiap siklus. Nilai rata rata belajar siswa pada tes awal sebesar 53,93 meningkat pada siklus I menjadi 63,57 dan pada siklus II menjadi 66,79.Ketuntasan belajar pada tes awal 27,78 % meningkat pada siklus I menjadi 61,11 % dan pada siklus II menjadi 83,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media ular tangga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VI SDN III Bakalan. Saran dari peneliti adalah penggunaan media pembelajaran bagi siswa yang bervariasi sangat ditekankan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

23

Abstrak Penelitian
Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat melalui Penggunaan Alat Peraga Manik-manik pada Siswa Kelas VI SDN Ngroto Kecamatan Bulukerto Semester I Tahun 2011/2012 Oleh : Puji Handayani, S.Pd.
Penelitian Tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan penggunaan alat peraga manik-manik dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VI SDN Ngroto pada Semester I tahun 2011/2012. Dipilihnya manik-manik dimaksudkan untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, tidak verbalistik, menarik, menumbuhkan keaktifan dan menyenangkan bagi siswa. Dengan pembelajaran yang konstektual diharapkan siswa dapat lebih mudah memahami materi pembelajaran karena pembelajaran tidak lagi bersifat abstrak tetapi kongkrit sehingga memudahkan siswa dalam mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan setting penelitian ini adalah di SDN Ngroto Kecamatan Bulukerto, dan Subyek penelitian adalah siswa kelas VI SDN Ngroto tahun 2011/2012 sebanyak 31 siswa terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Dipilihnya Subjek penelitian dan setting penelitian ini karena peneliti adalah guru di SDN Ngroto Kecamatan Bulukerto, dan mengampu kelas VI sehingga memudahkan dalam pelaksanaanya. Adapun metode dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yaitu metode bersiklus dan berdaur ulang yang terdiri dari empat kegiatan pokok yaitu perencanaan (planing), pelaksanaan(actuating), pengamatan (observing), dan refleksi (reflekting) yang diawali dengan refleksi terhadap kekurangan pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil refleksi kemudian dijadikan dasar untuk merencanakan tindakan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Rencana yang sudah tersusun selanjutnya dilaksanakan dengan diamati oleh teman sejawat selaku observer. Data temuan hasil observasi itu kemudian didiskusikan dengan observer yang merupakan teman sejawat peneliti yang kemudian dilakukan penyempurnaan untuk merencanakan perbaikan pembelajaran berikutnya. Refleksi dan analisa akan dihentikan bila tujuan penelitian telah tercapai yaitu seluruh siswa sudah dapat mencapai ketuntasan belajar. Hasil penelitian ini berupa kesimpulan bahwa dengan penggunaan alat hasil belajar juga terjadi dari pra siklus rata-rata nilai hanya 55,31 pada siklus I menjadi 69,68 dan pada siklus II meningkat menjadi 75,63. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan peraga manik-manik dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas VI SDN Ngroto Semester I tahun 2011/2012. Terbukti dari hasil pembelajaran yang semula pada pra siklus tentang keaktifan siswa hanya pasif mendengarkan penjelasan guru mengenai materi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, pada siklus I sudah banyak anak anak yang terlibat dalam pembelajaran. Sedangkan pada siklus II hampir semua siswa terlibat dalam proses pembelajaran. Peningkatan yaitu pada pra siklus 28%, pada siklus I meningkat menjadi 69% dan siklus II meningkat menjadi 87,5%.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui alat peraga manik-manik dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Give me the tool and we finish the Job


Winston Churchil

24

Tips & Triks

Kiat Sukses menjadi Guru Baru di Sekolah


Oleh: Etik Mustikasari, S.Pd.
(KKG Gugus Soedirman, Kecamatan Slogohimo)

ada saat seorang guru pemula mulai mengajar dan mengenal lingkungan sekolah mereka menghadapi beberapa hambatan antara lain: pengenalan karakteristik peserta didik, budaya sekolah, beradaptasi dan berkomunikasi dengan warga sekolah. Padahal pengenalan guru pemula terhadap situasi sekolah akan menentukan karir dan profesionalitas seorang guru selanjutnya. Salah satu program yang dapat membekali guru pemula dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi guru pada awal mereka bertugas adalah program induksi. Program induksi dilaksanakan dalam rangka menyiapkan guru pemula agar menjadi guru profesional dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dengan demikian program induksi senantiasa dipantau dan dievaluasi agar dapat diperbaiki di masa depan. Pemantaun dan evaluasi sebagai salah satu bagian proses penjaminan mutu pendidikan terutama dalam pemenuhan standar kompetensi guru sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Selain itu, melalui program induksi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan sekaligus memecahkan permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh guru pemula dalam pelaksanaan tugas sehari-hari sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, peserta didik, kondisi sekolah, dan lingkungannya. Tips Jitu Mengajar Pertama Kali Bagi Guru Pemula, langkah-langkah yang harus anda lakukan cukup sederhana antara lain : 1. Usahakan anda sarapan/makan pagi sebelum berangkat bekerja, hal ini sederhana namun penting dilakukan karena kondisi perut yang kosong akan membuat anda sulit berkonsentrasi maksimal disaat mengajar 2. Siapkan semua perlengkapan yang anda butuhkan, seperti buku pedoman, RPP, Silabus, dll hal ini penting dilakukan agar ketika anda mengajar tetap sesuai dengan program yang sudah anda tetapkan. 3. Ketika anda memasuki kelas, usahakan ucapkan salam dan melakukan absensi terlebih dahulu. karena dengan melakukan langkah ini anda akan dapat mengenal kondisi kelas dengan baik serta menimbulkan kesan yang baik pula pada siswa didik anda. 4. Perkenalkan diri anda (nama, alamat dll) agar siswa didik anda merasa lebih dekat dengan anda dan tidak merasa anda sebagai orang asing. 5. Gunakan metode pembelajaran yang tepat ketika anda mengajar, dan usahakan sesekali memberikan sedikit jooke/humor kepada siswa didik anda agar mereka tidak merasa bosan. Tutuplah proses belajar mengajar dengan baik, dan akhiri dengan salam dan senyum terkembang. Tips Sukses Menjadi Guru Baru di Sekolah Guru baru biasanya dianggap belum mempunyai pengalaman apa-apa dan dianggap masih bau kencur oleh guru lainnya yang berkategori guru lama. Anggapan itu tidak jadi soal karena memang begitu kondisinya. Terima saja anggapan itu. Lalu, beri kesan kepada guru senior bahwa guru baru dapat mengimbangi dengan seabrek prstasi. Caranya, mengalirlah dalam kedirian guru. Lalu ciptakan sinergi dengan rekan sejawat guru. Ini tidak sebatas agar perbedaan pendapat dapat dihindari, tetapi juga melatih diri dan menciptakan mental untuk dapat berpikir lebih positif. Misalnya, saat guru baru terlibat suatu konflik dengan kawan lain sesama guru atau atasan, cara mengatasi agar mood dalam pekerjaan tidak terganggu. Sinergi yang baik akan membantu menciptakan kondisi kerja yang baik pula.

25

Tips & Triks


1. Komunikasi dua arah Komunikasi yang baik tidak dapat didefinisikan saat pesan tersebut sampai kepada bawahan dengan baik. Tetapi komunikasi dalam hal pekerjaan harus terjadi dua arah, antara atasan dan bawahan. Dengan komunikasi ini, guru baru dapat menyampaikan keluhan dan kendala yang terjadi pada bidang pekerjaan. Terkadang guru senior dan yunior menjadi jarak untuk kelancaran komunikasi, tetapi coba sedikit demi sedikit untuk saling mengkomunikasikan pekerjaan dengan baik. 2. Memahami kepentingan Perbedaan kepentingan sering kali menyebabkan persimpangan dalam pendapat. Biasanya guru senior dengan sendirinya terbentuk menjadi karakter yang lebih disiplin dan pekerja keras karena tanggung jawab yang diembannya untuk memajukan perusahaan atau malah sebaliknya. Pahami kepentingan guru senior itu 3. Membangun reputasi Dalam pekerjaan, melakukan kesalahan itu hal biasa. Tetapi tidak lantas kesalahan yang sama lalu dilakukan berulang-ulang. Saat guru baru melakukan kesalahan fatal yang membuat guru senior atau atasan kesal, coba meminta maaf dengan mengakui kesalahan tersebut. Langkah selanjutnya, perbaiki diri dengan kinerja yang semakin baik. 4. Fokus pada masalah Guru baru juga harus pintar memilah saat terjadi konflik dengan guru senior atau atasan karena perbedaan pendapat. Hindari agar konflik tidak melebar, coba mencari solusi sehingga perbedaan dalam urusan pekerjaan dapat diselesaikan di lingkungan kerja saja. 5. Empati Ini perlu dilakukan saat guru baru dihadapkan dengan perbedaan dan selisih pendapat dengan guru senior atau atasan. Cobalah untuk menempatkan diri jika Anda duduk di bangku mereka. 6. Jangan ragu bertanya Sebagai guru baru, Anda juga berhak mengajukan pertanyaan. Bukan hanya menerima perintah. Tanyakan kepada guru senior atau atasan dengan cara simpatik, apa yang harus guru baru lakukan untuk kepentingan sekolah. Jika merasa menghadapi kendala di lapangan, mintalah pendapat atau solusi. Ini akan membuat guru senior atau atasan merasa lebih dihargai, dari pada hanya sekadar diam saja dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Orang yang bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit menjadi mudah dimengerti, atau atau yang sukar menjadi mudah dilakukan, itulah pendidik yang sejati.
(Ralph Waldo Emerson)

26

Refleksi GURU MENJADI PROFESIONAL, BISAKAH ?


Walaupun saat ini telah lahir UndangUndang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis profesi guru, tetapi untuk menjadikan guru di Indonesia sebagai sebuah pekerjaan yang benar - benar profesional tampaknya masih perlu dikaji dan d i r e n u n g k a n l e b i h j a u h . Dalam Wikipedia menyebutkan kriteriakriteria yang harus dipenuhi dari sebuah pekerjaan profesional yang sejatinya, yakni: 1. academic qualifications a doctoral or law degree i.e., university college/institute; 2. expert and specialised knowledge in field which one is practising professionally; 3. excellent manual/practical and literary skills in relation to profession; 4. high quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavours; 5. a high standard of professional ethics, behaviour and work activities while carrying out one's profession (as an employee, selfemployed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc.) Merujuk pada kriteria di atas, mari kita telaah lebih lanjut tentang guru sebagai seorang profesional. Berdasarkan kriteria yang pertama, seorang guru bisa dikatakan sebagai seorang profesional apabila dia memiliki latar belakang pendidikan sekurang-sekurangnya setingkat sarjana. Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa untuk dapat memangku jabatan guru minimal memiliki kualifikasi pendidikan D4/S1. Ketentuan ini telah memacu para guru untuk berusaha meningkatkan kualiafikasi akademiknya, baik atas biaya sendiri maupun melalui bantuan bea siswa dari pemerintah. Walaupun, dalam beberapa kasus tertentu ditemukan ketidakselarasan dan inkonsistensi program studi yang dipilihnya. Misalnya, semula dia berlatar belakang D3 Bimbingan dan Konseling tetapi mungkin karena alasan-alasan tertentu yang sifatnya pragmatis, dia malah melanjutkan studinya pada program studi lain. Terkait dengan kriteria kedua, guru adalah seorang ahli. Sebagai seorang ahli, maka dalam diri guru harus tersedia pengetahuan yang luas dan mendalam (kemampuan kognisi atau akademik tingkat tinggi) yang terkait dengan substansi mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Guru harus sanggup mendeskripsikan, menjelaskan, memprediksi fenomena yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya. Selain memiliki pengetahuan yang tinggi dalam substansi bidang mata pelajaran yang diampunya, seorang guru dituntut pula untuk menunjukkan keterampilannya secara unggul dalam bidang pendidikan dan pembelajaran (kemampuan pedagogik), seperti: keterampilan menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran, teknik pengelolaan kelas, keterampilan memanfaatkan media dan sumber belajar, dan sebagainya. Keterampilan pedagogik inilah yang justru akan membedakan guru dengan ahli lain dalam bidang sains yang terkait. Untuk memperoleh keterampilan jenis ini, di samping memerlukan bakat tersendiri juga diperlukan latihan secara sistematis dan berkesinambungan. Lebih dari itu, seorang guru tidak hanya sekedar unggul dalam mempraktikkan kognitif tetapi juga mampu menuliskan (literary skills) segala sesuatu yang berhubungan bidang keilmuan (substansi mata pelajaran) dan bidang yang terkait pendidikan dan pembelajaran, misalnya kemampuan membuat laporan penelitian, makalah, menulis buku dan kegiatan literasi lainnya. Inilah kriteria yang ketiga dari seorang profesional. Kriteria keempat, seorang guru dikatakan sebagai profesional yang sejatinya manakala dapat bekerja dengan kualitas tinggi. Pekerjaan guru termasuk dalam bidang jasa, pelayanan (service). Pelayanan yang berkualitas dari seorang guru ditunjukkan melalui kepuasan dari para pengguna jasa guru yaitu siswa. Kepuasaan utama siswa selaku pihak yang dilayani guru terletak pada pencapaian prestasi belajar dan terkembangkannya potensi yang dimilikinya secara optimal melalui proses pembelajaran yang mendidik. Untuk bisa memberikan kepuasan ini tentunya dibutuhkan kesungguhan dan kerja cerdas dari guru itu sendiri. Kritera terakhir, seorang guru dikatakan sebagai seorang profesioanal yang sejati apabila dia dapat berperilaku sejalan dengan kode etik profesi serta dapat bekerja dengan standar yang tinggi. Beberapa produk hukum kita sudah menggariskan standar-standar yang berkaitan dengan tugas guru. Guru profesional yang sejatinya tentunya tidak hanya sanggup memenuhi standar secara minimal, tetapi akan mengejar standar yang lebih tinggi. Termasuk dalam kriteria yang kelima adalah membangun rasa kesejawatan dengan rekan seprofesi untuk bersama-sama membangun profesi dan menegakkan kode etik profesi.

dan mengendalikan tentang berbagai

Berdasarkan uraian di atas, ada sebuah refleksi bagi kita. Bahwa ..... 27

Refleksi
untuk menjadi guru dengan predikat sebagai profesional tampaknya tidaklah mudah, tidak cukup hanya dinyatakan melalui selembar kertas Sertifikat Pendidik yang diperoleh melalui proses sertifikasi, baik melalui jalur portofolio, PLPG, PPG, ataupun lainnya. Tetapi betapa kita dituntut lebih jauh untuk terus mengasah kemampuan kita secara sungguh-sungguh guna memenuhi segenap kriteria yang telah dikemukakan di atas, yang salah satunya dapat dilakukan melalui usaha belajar dan terus belajar yang tiada henti. Jika tidak, maka kita mungkin hanya akan menyandang predikat sebagai guruguruan, alias pura-pura menjadi guru yang justru akan semakin merusak dan membahayakan pendidikan. Semoga kita sekalian mampu mewujudkan guru yang benar-benar profesional. (Teha, Redaksi).

Mari Belajar dan Terus Belajar !

Halaman belakang rumah mBok Siti tampak lapang dan menyenangkan. Ayam berkeliaran menyemangati datangnya siang. Terlihat dua ayam jago berkejaran sambil mengeluarkan kokok yang mendayu. Di kanan terlihat bebek memainkan paruhnya yang juga berkejaran. Hewan-hewan itu berlari-lari menikmati ruang halaman. Aku terpaku melihat kegembiraan hewan peliharaan itu. Lama dan terdiam menjadi kesukaanku pagi itu. Kalau mau, pegang saja satu ayam itu. Nanti, kita potong dan dimasak santan, anakku, sergah Mbok Siti yang muncul dari pintu dapur lurus dengan halaman belakang. Aku tersenyum membalas tawaran Mbok Siti. Sudah, Mbok. Aku hanya mengamati hewan-hewan itu berlari-lari. Tampak lucu, jawabku. Oh itu. Hewan-hewan itu berlari karena yakin akan kekuatan kakinya, tidak menabrak karena menggunakan sorot mata kecilnya, dan meliuk-liuk karena mampu mengolah gerak tubuhnya, anakku, jawabnya dengan suara pelan khas Mbok Siti. Guru tentu dapat mengajari murid-muridnya untuk berlari karena lari merupakan hak murid-murid, tambahnya. Murid punya kaki maka ajarilah mereka menentukan langkahnya. Murid mempunyai mata maka ajarilah murid untuk menajamkan penglihatannya. Murid mempunyai tubuh maka ajarilah menempatkan tubuhnya. Murid mempunyai otak maka ajarilah mereka berpikir. Murid punya hati maka ajarilah mereka menempatkan sikap dirinya. Dengan begitu, murid-murid akan dapat berlari menggapai keinginannya karena lari merupakan hak murid sebagai manusia. Tugas guru adalah memberikan kesempatan yang luas kepada murid untuk berlari. Jangan hentikan langkah murid hanya karena guru susah untuk melangkah. Lihatlah, induk ayam itu. Induk itu tidak pernah sekalipun melarang anak-anaknya untuk berlari, tegas Mbok yang sangat sabar dan rendah hati itu.

28

Ayo Berinovasi

dalam PEMBELAJARAN

Puji Purwati, S.Pd (Guru SDN I Miricinde), KKG Gugus Hasanuddin, Kec. Purwantoro.

Daryanti, S.Pd (Guru SDN I Bangsri), KKG Gugus Teuku Umar, Kec. Purwantoro.