Anda di halaman 1dari 20

PASIEN MERASA TELAH TERTULAR HIV-AIDS KELOMPOK 3

03006149 MARDIANSYAH RAKUN 03007246 SITI AMANDA C 03008016 ALEXANDRIA V.A.R 03008017 ALFIAN WIBISONO 03008022 ANASTASIA CAROLIN 03008083 DINA PUTRI D 03008084 DINI NOVIANI P 03008085 DITA RAHMITA

03008156 MARIZA WANDA A 03008157 MARSYA JULIA RIYADI 03008161 MIKAEL STEVAN 03008225 SHELLA PRATIWI 03008227 SILMINATI NUR SADDAH 03008274 IZZUL AKMAL BIN K. 03008275 MASITAH BT ABD MAJID 03008279 MOHD RODZI BIN R.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA, 24 MEI 2011

BAB I PENDAHULUAN Gangguan delusional didefinisikan sebagai suatu gangguan psikiatrik dimana gejala yang utama adalah waham. Istilah sebelumnya untuk gangguan delusional, paranoia, diturunkan dasri bahasa mesir yang berarti disamping dan pikiran. Tetapi istitlah tersebut secara tidak tepat menyatakan bahwa waham selalu bersifat persekutorik, padahal waham dalam ganguan delusional juga dapat bersifat kebesaran, erotik, cemburu, somatik, dan campuran. Prevalensi gangguan delusional di Amerika Serikat sekarang ini diperkirakan 0,0250,03%. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 40 tahun, tetapi rentan usia untuk onset adalah dari 18-90 tahun. Terdapat sedikit lebih banyak pasien pria. Banyak pasien yang sudah menikah dan bekerja, tetapi mungkin terdapat hubungan dengan imigrasi yang baru dan status sosio ekonomi yang rendah.

BAB II LAPORAN KASUS Tuan Budi, 35 tahun, datang ke RS Trisakti dengan keluhan merasa tertular HIV/AIDS. Pada pemeriksaan penampilan Tuan Budi tampak sangat rapi, wajah sesuai dengan usianya. Ekspresi fasial terkesan sangata percaya diri. Sikapnya formal agak kaku. Ketika ditanya apa masalahnya datang ke RS ini, pasien serta merta menyatakan bahwa ada sekelompok orang yang ingin menjatuhkan reputasinya lewat cara-cara yang menjijikan yaitu dengan menularkan penyakit yang memalukan yaitu HIV/AIDS. Celakanya istrinya ikut serta dalam kelompok itu, seperti musuh dalam selimut. Tuan Budi ingin menuntut kelompok itu melalui pengadilan, termasuk istrinya. Oleh karena itu ia perlu bukti-bukti otentik yang meyakinkan. Pasien sangat yakin bahwa jalan yang terbaik adalah dengan menunjukkan bukti dirinya positif terinfeksi HIV/AIDS. Tuan Budi dan istrinya telah menikah 10 tahun yang lalu dan telah dikaruniai dua orang anak berumur 8 dan 5 tahun. Menurut istrinya, selama ini suaminya baik-baik saja, termasuk kehidupan keagamaannya, hanya memang dari dulu suaminya sangat disiplin dan tak mudah percaya pada orang. Hampir semua urusannya ia kerjakan sendiri. Di lingkungannya ia dikenal sangat kritis dan paling tidak suka bila tidak ada ketidakadilan. Sejak 3 bulan yang lalu tampak ada perubahan pada Tuan Budi. Ia sering marah-marah tanpa alasan yang jelas dan mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam rumah tangganya. Ia melarang keras istrinya bicara dengan orang lain, terutama pria. Ia curiga jangan-jangan istrinya sudah mengkhianati kesetiaan pernikahannya. Ketika Tuan Budi menemukan puntung rokok pada asbak di rumahnya, ia langsung yakin bahwa istrinya telah berbuat serong dengan pria lain. Menurut istrinya, puntung rokok itu adalah puntung rokok suaminya sendiri, namun Tuan

Budi tetap pada keyakinannya bahwa istrinya telah berbuat serong dan menularkan HIV/AIDS pada dirinya. Pemeriksaan fisik pada Tn. Budi tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan neurologis juga tidak ditemukan kelainan. Hasil pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan HIV/AIDS hasilnya negatif. Setelah mengetahui hasil pemeriksaan tersebut, Tn. Budi marah dan menuduh dokternya telah bersekongkol dengan istrinya dan sengaja memanipulasi hasil tes laboratorium sehingga hasilnya negatif. Ia sangat yakin betul bahwa dirinya telah terinfeksi dengan HIV/AIDS. Oleh karena itu ia berniat mangedukan dokternya kepada Ketua IDI dan Menteri Kesehatan agar dicabut izin praktikya. Menurut istrinya, Tn. Budi sebelumnya tidak pernah menderita gangguan jiwa apa pun dan bahkan belum pernah berobat atau konsultasi ke bagian psikiatri. Baru tiga bulan belakangan inilah suaminya pertama kali mendapat gangguan kejiwaan. Selama sakit ini, Tn. Budi tidak pernah lagi mengatakan melihat bayangan-bayangan atau mendengar suara-suara aneh yang tidak jelas sumbernya. Riwayat keluarganya tidak pernah ada yang menderita gangguan jiwa. A. Identitas Pasien

Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan

: Tn. Budi : 35 tahun : Laki laki :-

B. Riwayat Psikiatri Keluhan utama


4

o Merasa telah tertular HIV/AIDS oleh istrinya Riwayat gangguan sekarang o Marah marah (disthim) o Waham non-bizarre menetap 3 bulan o Halusinasi (-) o Fungsi sosial cukup bagus Riwayat gangguan dahulu
o o o o

Riwayat psikiatri Kondisi medik umum Riwayat penggunaan zat Riwayat kehidupan pribadi Sangat disiplin Kritis

::::

Tidak mudah percaya pada orang lain


o

Riwayat keluarga

:: belum pernah berobat atau konsultasi kebagian psikiatri

o Riwayat pengobatan

Status mental
5

o Deskripsi umum 1. Penampilan umum 2. Kesadaran : Baik : - Neurologis Kompos mentis - Psikologis Terganggu 3. Pembicaraan : Baik

4. Perilaku dan aktivitas psikomotor :


Marah marah

Sangat kritis Sangat percaya diri Disiplin Tidak mudah percaya orang lain 5. Sikap terhadap pemeriksa o Alam perasaan 1. Mood (suasana perasaan) 2. Afek (ekspresi afektif ) : Dysthimia : Stabilitas Labil : - Afek dalam - Afek serasi Formal Agak kaku :

o Gangguan persepsi 1. Halusinasi 2. Waham 3. Depersonalisasi 4. Derealisasi


o o o

:: Non-Bizarre :: Pseudocommunity : Baik : - Kurang Baik : - Produktivitas : cukup - Kontinuitas : baik

Fungsi intelektual Tilikan Proses pikir

- Gangguan Asosiasi : tidak ada


o

Isi pikir

Waham curiga Waham somatik Pikiran preokupasi Waham kejar Waham cemburu Waham kebesaran Waham Persekutori

o Pengendalian Impuls
o

Menbangun pseudokomuniti

:: - Sosial terisolasi - Realita tergangu

Daya nilai

o o o

Taraf dapat dipercaya Echt Skala differensiasi

: Tidak dapat dipercaya : Dalam : - Kurang luas - Serasi

C. Pemeriksaan Fisik D. Pemeriksaan Neurologis Tanpa defisit neurologis

: Tidak ditemukan kelainan

G. Laboratorium darah Normal HIV/AIDS (-)

H. Diagnosis Multiaksial Axis I :

Menurut PPDGJ III


- F22.0 gangguan waham delusional tipe campuran (5)

Axis II : Ciri kepribadian Paranoid Axis III Axis IV : Tidak ada diagnosis : Tidak ada dianosis

Axis V : GAF 85 o Gejala sementara dan dapat

diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll

ALGORITME GANGGUAN DELUSIONAL


Algoritma Simpto m psikotik

N O Akibat kondisi medis atau pengguna obat/zat Psikosis Organik YE S Gangguan Psikosis Akbiat zat

N O

Durasi < 1bulan

YE S

Gangguan skizofreniform Gangguan psikotik (akut/transien) 9

N O Simptom hanya waham saja durasi > 1 bulan

YE S

Gangguan Delusional

I. Diagnosa Kerja

Gangguan delusional (tipe campuran) DAFTAR MASALAH DAN HIPOTESIS

MASALAH Ada sekelompok

orang

yang

HIPOTESIS ingin Waham Kejar Ide paranoid

menjatuhkan reputasinya

Pikiran pseudokomuniti Curiga istri musuh dalam selimut Waham Curiga Yakin istri telah berbuat serong dengan pria Waham Cemburu lain Merasa dirinya telah tertular HIV/AIDS Waham Somatik Ingin menuntut sekelompok orang dan istri Waham Paranoid Persekutorik nya ke pengadilan Ingin menutut dokter ke ketua IDI dan Menteri Kesehatan

Kecurigaan pada Tn. Budi sudah berkualitas sebagai waham, karena telah memenuhi kriteria waham yaitu :
1. Isi pikir yang patologis atau keyakinan palsu

2. Tidak dapat dikoreksi

10

3. Tidak sesuai dengan sosio budaya Dasar psikopatologi: a. Faktor biologis Pendekatan neuropsikiatrik : waham-waham merupakan gejala yang lazim pada kondisi neurologis yang melibatkan sistem limbik dan ganglia basal. Lesi anatomi dan molekuler pada daerah tersebut tanpa adanya gangguan fungsi kognitif membuktikan dasar biologik dari waham dan gangguan delusional b. Faktor Psikodinamika Pasien dengan gangguan delusional biasanya secara sosial terisolasi dan mencapai tingkatan pencapaian yang lebih rendah daripada yang diharapkan. Teori psikodinamika spesifik tentang penyebab dan evolusi gejala waham adalah anggapan tentang orang hipersensitif dan meaknisme ego spesifik : formasi reaksi, proyeksi dan penyangkalan. J. Rencana penatalaksanaan a. Non-medikamentosa
-

Membangun kepercayaan antara pasien dengan lingkungannya dan mengembangkan rasa percaya dalam hubungan dokter-pasien

Dokter harus pandai membujuk pasien agar mau diobati Dokter meyakinkan kepada pasien tentang sifat konfidensialitas Menjelaskan semua tindakan medis kepada pasien Hindari tindakan koersif
11

Diberikan terapi suportif berupa : Dukungan kepada pasien untuk mengikuti pengobatan secara teratur Memberikan penjelasan dan bimbingan mengenai hubungan sosial Dibimbing untuk menghadapi dunia nyata dan menyesuaikan dengan realita

- Terapi kelompok tidak dianjurkan b. Medikamentosa Risperdal : 2 x 3 mg K. Prognosis Ad vitam Ad sanationam Ad fungsionam Ke arah baik : bonam : dubia ad malam : bonam

: dukungan keluarga dan rehabilitasi yang adekuat serta lingkungan sosial yang baik

Ke arah buruk

: pengaruh lingkungan sosial yang buruk dan tidak mau menerima pengobatan, waham cemburu dan waham kebesaran

12

BAB III PEMBAHASAN GANGGUAN DELUSIONAL (1) DEFINISI Gangguan khayalan ditandai dengan satu atau lebih keyakinan palsu yang berlangsung setidaknya 1 bulan. Gangguan khayalan biasanya pertama kali mempengaruhi orang di pertengahan atau akhir kehidupan orang dewasa. Khayalan cenderung tidak aneh dan berhubungan dengan situasi yang bisa secara masuk akal terjadi dalam kehidupan nyata, seperti diikuti, diracuni, terinfeksi, cinta jarak jauh, atau ditipu oleh pasangan atau kekasih. Beberapa subjenis pada gangguan khayalan diketahui.

Pada erotomanic subtype, tema pusat pada khayalan adalah bahwa orang lain mencintai secara individual. Upaya untuk berhubungan dengan benda pada khayalan melalui panggilan telepon, surat, atau bahkan pengawasan dan mengikuti kemungkinan umum. Perilaku berhubungan dengan khayalan bisa mendatangkan konflik dengan hukum.
13

Pada grandiose subtype, orang tersebut berkeyakinan bahwa mereka memiliki talenta besar atau telah membuat beberapa penemuan penting. Pada subtipe cemburu, orang tersebut berkeyakinan bahwa pasangan atau kekasih tidak setia. Keyakinan ini didasari pada kesimpulan yang tidak benar oleh bukti yang meragukan. Di bawah beberapa keadaan, serangan fisik kemungkinan menjadi bahaya yang signifikan. Pada subtipe penyiksa, orang tersebut percaya bahwa dia direncanakan untuk dilawan, diselidiki, difitnah, atau diganggu. Orang tersebut bisa mencoba berulang-kali untuk memperoleh keadilan dengan protes ke pengadilan dan para agen pemerintahan lainnya. Jarang, kekerasan kemungkinan dipilih untuk pembalasan penyiksaan yang dibayangkan. Pada subjenis somatik, orang tersebut terlalu disibukkan dengan fungsi atau atribut tubuh, seperti kelainan atau bau fisik yang dibayangkan. Khayalan tersebut bisa juga mengambil bentuk kondisi kesehatan umum yang dibayangkan, seperti infeksi parasit.

GEJALA Gangguan delusional bisa muncul dari gangguan kepribadian paranoid yang telah ada. Diawali pada masa dewasa dini, orang dengan gangguan kepribadian paranoid menunjukkan kecurigaan pervasiv dan kecurigaan pada orang lain dan motif mereka. Gejala-gejala awal bisa termasuk merasa dieksploitasi, terlalu sibuk dengan kesetiaan atau kepercayaan pada teman, membaca ancaman yang berarti ke dalam keterangan atau peristiwa yang tidak berbahaya, menyimpan dendam untuk waktu yang lama, dan bereaksi dengan segera dari perhatian yang meremehkan.

DIAGNOSA Setelah menguasai kondisi tertentu lain yang berhubungan dengan khayalan, seorang
14

dokter mendasari diagnosa pada gangguan khayalan sebagian besar pada riwayat orang tersebut. Hal ini sangat penting untuk dokter untuk menilai tingkat bahaya, terutama tingkat dimana orang tersebut ingin bertindak dalam khayalannya.

PENGOBATAN Gangguan khayalan umumnya tidak menyebabkan kerusakan hebat. Meskipun begitu, orang tersebut bisa menjadi semakin terlibat dengan khayalan. Kebanyakan orang bisa tetap dipekerjakan.

Hubungan dokter-pasien yang baik membantu dalam pengobatan gangguan khayalan. Opname kemungkinan diperlukan jika dokter tersebut meyakini orang tersebut adalah membahayakan. Obat-obatan antipsikotis tidak umum digunakan tetapi kadangkala efektif dalam menekan gejala-gejala. Tujuan pengobatan jangka panjang adalah untuk mengangkat focus yang hilang orang tersebut dari khayalan ke daerah yang lebih membangun dan memuaskan, meskipun tujuan ini sering sulit untuk dicapai. ETIOLOGI Penyebab gangguan delusional sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Di sini hanya dikemukakan 2 pendekatan yang tidak didukung dengan bukti yang kuat seperti halnya dengan gangguan-gangguan lain, yakni pendekatan psikodinamik dan pendekatan fisiologis. a. Pendekatan psikodinamik Dalam sejarah pasien yang menderita gangguan delusional sering ditemukan bukti adanya perasaan inferioritas yang kuat setelah gagal dalam bidang-bidang penyesuaian diri yang penting. Simtom-simtom dari gangguan delusional sering berupa pembentukan-pembentukan reaksi dalam mengadakan respons terhadap
15

perasaan bersaalah yang tidak dapat diterima oleh individu. Ada 2 teori utama yang berusaha menjelaskan psikodinamika dari proses gangguan delusional yaitu teori psikoanalitik dari Freud dan teori pseudokomuniti dari Cameron. 1. teori psikoanalitik Freud menjelaskan bahwa pola yang berikut yang terjadi pada gangguan delusional :
a. Aku mencintainya tetapi ini ditolak karena merupakan ungkapan dari

kecenderungan-kecenderungan homoseksual yang tidak disadari; dan dengan demikian tidak dapat diterima.
b. Dengan

proses pembentukan reaksi a akan berubah menjadi aku

membencinya tetapi ini juga ditolak karena isinya agresif. c. Mekanisme proyeksi mengubah b menjadi ia membenciku dan mengejarngejar aku. Meskipun benar bahwa pola ini muncul dalam banyak kasus gangguan delusional, tetapi rupanya tidak cukup bukti untuk

mengemukakannya sebagai penyebab umum dari penyakit ini. 2. Teori Cameron tentang pseudokomuniti seorang psikiater Amerika dr Norman Cameron menerima gangguan delusional sebagai hasil dari kepekaan reaksi (reaction-sensitivity) dan proyeksi. Individu yang belum pernah mengembangkan kebiasan-kebiasaan untuk mengutarakan dan mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi, hidup dalam dunia orang-orang asing, dimana ia tidak dapat berkomunikasi dengan mereka dan juga tidak mendapat kesenangan serta dukungan dari mereka. Ia kurang pandai mengambil peran dan dengan demikian ia tidak dapat menghargai segi pandang orang lain.
16

Karena tidak meneliti secara normal ketepatan dari ide-idenya sendiri, maka ia tetap berada dalam keadaan cemas dan tidak pasti. Untuk memecahkan ketidakpastian ini, maka ia mengatur orang-orang dan peristiwa yang ada di sekitarnya menjadi pseudokomuniti. Meskipun masyarakat tidak dapat menyenangkannya dan tidak mennetramkan hatinya, tetapi dapat memuaskan kebutuhanya untuk menerangkan apa yang sedang terjadi. Dengan cara ini, keyakinan-keyakinan salah yang dimilikinya diperkuat oleh interpretasi yang salah tentang kegiatan dan ide-ide yang terisolasi. Akibatnya apa yang dipersepsikannya sebagai kelompok sosial yang secara fungsional terintegrasi hanya suatu pseudokomuniti yaitu suatu organisasi dari rekasi-reaksinya sendiri yang berdasarkan suatu struktur yang tidak dibenarkan oleh masyarakat. b. Pendekatan fisiologis Delusi dapat terjadi karena penggunaan bermacam-macam obat terutama amfetamin atau karena individu menderita gangguan psikotik (pskizofrenia) tetapi tidak demikian halnya dengan gangguan delusional, tidak ada bukti khusus yang ditemukan dalam patologi fisik atau biokimiawi yang menyebabkan delusi-delusi. Walaupun kebenarannya diragu8kan, tetapi beberapa penelitian mengemukakan bahwa tumortumor endokrin yang diamati pada pemeriksaan mayat pada para pasien yang menderita gangguan delusional, dengan frekuensi 10 kali pada orang-orang normal dan 4 kali pada pasien psikotik yang bukan menderita gangguan delusional. KRITERIA DIAGNOSTIK GANGGUAN DELUSIONAL menurut DSM IV TR a. Waham non-bizarre b. Lama penyakit paling sedikit 1 bulan

17

c. Tidak memenuhi kriteria A dari skizofrenia d. Kecuali dampak dari wahamnya, fungsi sehari-hari tidak terganggu, dan perilakunya tidak aneh/bizarre e. Bila terjadi episode gangguan mood bersamaan gangguan waham durasi total relatif lebih pendek f. Gangguan tersebut bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsungndari zat atau kondisi medik umum BAB IV DAFTAR PUSTAKA
1. Gangguan Berhubungan dengan Zat , Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis

Psikiatri . Jilid I Jakarta : Binarupa Aksara, 2010. Terapi Ketergantungan Ganja, Pedoman Terapi Pasien Ketergantungan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya . Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, 2000. Komisi Kepolisan Repubilik Indonesia. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2009 TENTANG NARKOTIKA. Available at http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=ruu&id=512 diakses pada tanggal 19 May 2011
2. Komisi Kepolisan Repubilik Indonesia. UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN Available at http://www.scribd.com/doc/22637435/UU-RI-No-36-Tahun-2009-Kesehatan-13Oktober-2009 diakses pada tanggal 19 May 2011

18

3. Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Ed. Maslim .R. PT Nuh Jaya : Jakarta.
4. Klasifikasi dalam Psikiatrik dan Skala Penilaian Klinik, Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb

JA. Sinopsis Psikiatri . Jilid I Jakarta : Binarupa Aksara, 2010.

BAB V PENUTUP Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan anugerah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah hasil diskusi kami ini dengan judul PASIEN MERASA TELAH TERTULAR HIV/AIDS Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih atas dukungan, penunjuk, saran, pendapat, bimbingan dan kesempatan yang diberikan selama penulisan makalah ini. Ucapan terimakasih tersebut penulis tujukkan kepada: 1. Prof. DR. Julius E. Surjawidjaja, Sp.MK, selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti 2. dr. Hartanto Gondoyuwono, Sp. KJ-AR, selaku koordinator dan penanggung jawab modul organ ME

19

3. dr. Joice Viladelvia Kalumpiu, selaku sekretaris modul organ ME


4. dr. I.Made Wiguna S.,MM , selaku tutor kami

5. Seluruh dosen yang telah banyak memberi bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penulisan makalah ini. 6. Teman teman yang telah banyak membantu dan memberi masukan serta pendapatnya serta semua pihak lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu penulis sangat menghargai dan berterimakasih untuk saran dan kritik yang bersifat membangun dan mendorong ke arah pengembangan penulisan makalah ini lebih lanjut. Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kemajuan pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti.

20