Anda di halaman 1dari 33

I. I.1 I.

TUJUAN Mempelajari proses pemekatan gula dengan rising film evaporasi. Mempelajari parameter-parameter proses seperti vakum, laju alir, dan laju recycle.

I.3 I.4

Mempelajari sistem perpindahan massa dan perhitungannya. Mempelajari sistem perpidahan panas dan perhitungannya.

II.

PRINSIP Berdasarkan proses pemekatan suatu larutan gula dengan konsentrasi 10%.

III.

TEORI Evaporasi adalah proses penguapan pelarut dengan menggunakan panas

sehingga larutan zat cair pekat dengan konsentrasi yang lebih pekat (McCabe, 1991). Faktor-faktor yang mempengaruhi laju penguapan, yaitu: 1. Laju panas pada waktu dipindahkan ke zat cair. 2. Jumlah panas yang dibutuhkan untuk mneguapkan setiap kg air. 3. Suhu maksimum yang diperkenankan untuk zat cair. 4. Tekanan pada saat penguapan terjadi. 5. Perubahan lain yang mungkin terjadi di dalam bahan selama proses penguapan berlangsung. Sebagai suatu bagian proses di dalam pabrik, secara prinsip alat penguapan mempunyai dua fungsi yaitu mengubah panas dan memisahkan uap yang terbentuk dari bahan cair (Earle, 1969). Tipe-tipe umum evaporator, yaitu: 1. Ketel atau pan terbuka Bentuk ini merupakan yang paling sederhana dari evaporator, terdiri dari pan atau ketel terbuka di mana larutan dididihkan. Panas diberikan dengan mengembunkan uap pemanas dalam jaket atau gulungan yang terendam dalam cairan, bahkan ada beberapa yang langsung dipanaskan dalam api. Evaporator jenis ini tidak mahal dan mudah dioperasikan, tetapi panas yang dihasilkan tidak ekonomis. 2. Evaporator tabung horizontal dengan sirkulasi normal Berkas dari tabung pemanas horizontal serupa dengan berkas tabung dalam penukar panas. Uap masuk ke dalan tabung pipa untuk berkondensasi.

Kondensat dari uap keluar meninggalkan permukaan larutan. Tipe ini relatif murah dan digunakan untuk cairan yang tidak terlalu kental dengan daya hantar panas tinggi dan tidak meninggalkan kerak. 3. Evaporator tipe vertikal dengan sirkulasi normal Tipe ini lebih jarang digunakan. Larutan berada di dalam pipa dan uap pemanas berkondensasi di luar pipa. Karena mendidih dan berkurangnya densitas, maka larutan akan bersikulasi secara alami dan mengalir turun melalui lubang terbuka. Sirkulasi secara alami akan menambah daya hantar panas. 4. Evaporator tipe vertikal tabung panjang Pada jenis ini larutan berada di dalam tabung, panjang tabung sekitar 1-3 m. Biasanya larutan melewati tabung hanya satu kali dan tidak mengalami resirkulasi. 5. Evaporator tipe film jatuh Tipe ini merupakan variasi dari evaporator tipe tabung panjang, di mana larutan diumpankan ke atas tabung dan mengalir tueun di dinding tabung seperti film tipis. Tipe ini digunakan secra luas pada pemekatan material yang sensitif terhadap panas. 6. Evaporator tipe sirkulasi paksa Koefisien hantar panas larutan film dapat dinaikkan dengan memompa yang menyebabkan sirkulasi larutan secara paksa di dalam pipa. Pada tipe ini, tabung vertikal lebih pendek daripada tipe pipa panjang dan digunakan untuk larutan yang kental. 7. Evaporator film aduk Tipe ini merupakan modifikasi dari evaporator film jatuh yang mempunyai tabung tunggal bermantel. Keunggulan utama dari evaporator film aduk ialah

kemampuannya menghasilkan laju perpidahan kalor yang tinggi pada zat cair kental (Geankoplis, 1993). Gula adalah suatu istilah umum yang sering diartikan bagi setiap industry pangan karbohidrat yang digunakan sebagai pemanis, tetapi dalam tebu. Sukrosa sebegitu jauh merupakan disakarida yang paling manis diantara ketig jenis disakarida yang umum dijumpai. Sukrosa juga lebih manis dari glukosa. Karena terus miningkatnya biaya gula tebu import yang dibuat dari tebu dan bit, dan karena di Amerika tersedia jumlah yang besar D-glukosa yang diperoleh dari hidrolisis pati jagung, suatu proses industri baru baru ini telah berkembang untuk pembuat pemanis yang lebih manis dari D-glukosa. Pada proses ini, pertama tama pati dihidrolisa untuk menghasilkan D-glukosa dalam bentuk sirup jagung, yang merupakan suatu larutan pekat netral dari D-glukosa. Larutan ini dibiarkan melalui suatu kolom besar terbuat dari bahan penyangga yang bersifat tidak relatif, bukan lambat, yang berikatan secara kovalen dengan enzim glokosa isomerase, yang diisolasi dari sumber tanaman. Baik gula tebu maupun gula bit mengandung sukrosa kira kira 15%. Tebu dibudidayakan I negara negara tropis. Gula diekstraksi dengan menghancurkan tebu dan menyemprotnya dengan air sehingga sukrosa terdifusi ke dalam air. Kotoran dalam larutan dihilangkan dengan pemberian kapur dan karbon dioksida kemudian diikuti proses evaporasi. Gula kasar yang diperoleh selanjutnya dipisahkan dari tetes dengan menggunakan sentrifugasi (Buckle, dkk., 1987). Dilihat dari sumber pemanis dapat dikelompokkan menjadi alami dan pemanis buatan. Pemanis alami biasanya berasal dari tanaman. Tanaman penghasi pemanis adalah tebu (Saccharum officanarum L) dan bit (Beta vulgaris L). Bahan pemanis yang dihasilkan dari kedua tanaman tersebut dikenal sebagai gula alam atau sukrosa. Sedangkan pemanis sintesis adalah bahan tambahan yang dapat

biasanya digunakan untuk menyatakan sukrosa, gula yang diperoleh dari bit atau

menyebabkan rasa manis pada pangan tetapi tidak memiliki nilai gizi. Beberapa pemanis sintesis yang telah dikenal dan banyak digunakan adalah sakarin, siklamat, aspartam, dulsin, sorbitol sintesis, dan nitro-propoksi-analin. Zat pemanis sintesis merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis tersebut. Sedangkan kalori yang dihasilkannya jauh lebih rendah dari pada gula. Pemanis merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk keperluan produk olahan pangan, industri, serta minuman dan makanan kesehatan. Pemanis berfungsi untuk meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat fisik, sebagai pengawet, memperbaiki sifat sifat kimia sekaligus merupakan sumbr kalori bagi tubuh, mengembangkan jenis minuman dan makanan degan jumlah kalori terkontrol, mengontrol program pemeliharaan dan penurunan berat badan, mengurangi kerusakan gigi, dan sebagai bahan substitusi pemanis utama (Winarno,1997).

IV. IV.1

ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan: Ember Gelas plastik Penampung plastik Seperangkat alat evaporator Stopwatch Selang Timbangan

IV.2

Bahan yang digunakan: Air suling Essen pandan Gula

V. V.1

GAMBAR ALAT Boiler

V.2

Evaporator

VI.

PROSEDUR Langkah pertama yaitu pembuatan larutan gula pekat dengan konsentrasi

10%. Air sebanyak 3,5 liter dimasukkan ke dalam ember, kemudian ditambahkan 350 gram gula pasir dan 3 tetes pewarna makanan (essen) pandan. Lalu, larutan diaduk hingga homogen. Selanjutnya, ember didekatkan ke evaporator dan umpan dimasukkan selang penghisap evaporator ke dalam ember. Sebelum proses evaporator dijalankan, dinyalakan terlebih dahulu steam sebagai sumber panas dan dinyalakan kran air supaya air dapat mengalir melalui kondensor dengan kecepatan 4 liter/jam. Setelah steam telah siap, evaporator dibersihkan dengan cara evaporator dinyalakan sampai sisa-sisa larutan sebelumnya habis. Kemudian, pompa dinyalakan untuk menghisap larutan dari ember sampai evaporator terisi sebanyak 3 liter. Lalu, pompa dimatikan dan katup ditutup. Setelah itu, evaporator dinyalakan dengan aturan aliran feed 6 liter/jam. Setelah itu, larutan dipanaskan oleh uap dari boiler dengan suhu tertentu. Suhu pemanasan tergantung dari tekanan uap. Uap diteruskan ke atas dengan suhu T6 masuk ke sistem kondensor lalu didinginkan dengan air pendingin T1 dan uap terkondensasi menjadi cairan T4 lalu ditampung pada penampung gelas. Kemudian, air pendingin T1 berubah menjadi T2, sedangkan larutan pekat diputar balik ke sistem pemanasan di evaporator dan setiap saat dapat dikeluarkan melalui valve pengeluaran pada sisi gelas.

VII.

DATA PENGAMATAN

Menit ke0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40 42 44 46

F1 (liter/menit) 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7 7

F2 (liter/jam) 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6

T1

T2

T3

T4

T5 (OC) 25 25 26 26 27 28 30 33 35 36 38 39 40 39 39 39 40 40 40 41 40 43 39 40 35,3 3

T6 (OC) 86 88 89 87 88 89 89 90 91 91 91 92 93 93 92 92 92 91 91 93 92 93 92 93 90,75

(OC) (OC) (OC) (OC) 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 23 28 29 28 30 30 30 33 28 27 27 28 29 27 27 28 28 27 27 28 26 27 26 26 27 85 85 85 86 85 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 86 85 85 85 85 26 24 25 25 25 24 25 28 25 25 26 25 25 25 25 25 25 25 25 24 25 24 24 24

Rata-rata

VIII. PERHITUNGAN VIII.1 Neraca massa total Diketahui:

F = 3,5 liter L = 750 ml = 0,75 liter F air = 1 kg/liter Ditanya:

a) Vteoritis ? b) Vriil ? Jawab:


a) mF = mV + mL

F.F = v.V + L.L diasumsikan bahwa F = v = L air maka, F=V+L V=FL = 3,5 liter 0,75 liter = 2, 75 liter Jadi, Vteoritis = 2,75 liter
b) Vriil = 2,3 liter

VIII.2 Neraca massa gula

XF . F = XV . V + XL . L

Diasumsikan bahwa XV = 0, maka XF =

XF . F = XL . L

= 350 % Ditanya: XL ? Jawab: 350 % g . 3,5 liter = XL . 0,75 liter

= 16,33 % Jadi, konsentrasi gula dalam larutan pekat adalah sebesar 16,33%. VIII.3 Neraca panas di evaporator

Qsteam = Qsensible + Qevaporasi

hsteam .

. Cpair (

)+

.ev

= 0,05 kg/menit . 60 menit/1 jam = 3 kg/jam

ev = untuk mencari nilai hv dan hL pada perhitungan, digunakan data tabel uap. Tabel tersebut terlampir pada Lampiran.

diketahui: = 90,75oC Dengan cara interpolasi antara suhu 90oC dan 100oC, diperoleh hasil sebagai berikut:

Menghitung nilai hL

31,5975 = 10X 3769,3

31,5975+ 3769,3 = 10X

X=

= 380,08975

Jadi, diperoleh nilai hL pada suhu 90,75oC adalah 380,08975kJ/kg.

Menghitung nilai hV

Jadi, diperoleh nilai hV pada suhu 90,75oC adalah 2660,8075 kJ/kg.

Sehingga, ev =

Maka,

Jadi, diperoleh nilai

diperoleh dengan asumsi keadaan pada uap jenuh atau saturated

steam dan pada kondisi tekanan absolut 1,5 bar. Di mana tekanan atmosfer diasumsikan sebesar 1 bar. Data tabel uap dapat dilihat pada Lampiran. Dengan cara interpolasi antara tekanan 1,4 bar dan 1,6 bar, diperoleh hasil sebagai berikut:

Jadi, diperoleh

pada tekanan 1,5 bar adalah 2695,05 kJ/kg.

hsteam .

. Cpair (

)+

.ev

Jadi, diperoleh

sebesar 3,057 kg/jam.

IX.

PEMBAHASAN

LILIS SITI MASITOH 140503090011

Evaporator adalah salah astu alat yang digunakan untuk menguragi kandungan pelarut dari larutannya, agar larutan tersebut konsentrasinya dapat meningkat dengan cara pemanasan atau penguapan, dan proses ini disebut dengan evaporasi. Tujuan dari proses ini yaitu untuk mengurangi volume dari suatu larutan sampai batas yang ditentukan tanpa menghilangkan kandungan gizi yang terdapat dalam produk tersebut. Proses evaporasi ini menggunakan alat evaporator jenis long tube verticaltype evaporator pipe heat exchanger di mana umpan yang masuk melalui bagian bawah tangki umpan steinlestyle secara gravitasi menuju pipa pemanas evaporator dan larutan yang akan dipekatkan melewati bawah tengah pipa dan steam sebagai pemanas melalui pipa bagian luar. Umpan yang digunakan yaitu larutan gula 15%, dibuat dengan cara melarutkan gula sebanyak 525 gram dalam 3,5 L air suling, lalu diaduk hingga homogen dan diberi essen pandan. Yang bertindak sebagai zat terlarut adalah gula, sedangkan air suling bertindak sebagai zat pelarut. Kemudian umpan dimasukkan melalui bagian bawah evaporator yang dibantu dengan pompa, dan steam dimasukkan melalui bagian atas evaporator. Di dalam pipa pemanas ini larutan dipanaskan oleh steam dari boiler dengan suhu tertentu. Suhu pemanasan tergantung dari tekanan uap, dan steam tersebut dihasilkan dari boiler. Dengan adanya pemanasan oleh steam, maka

larutan dalam evaporator akan menguap. Uap yang terbentuk kemudian naik membawa lapisan tipis cairan pekat dan masuk ke dalam cyclone separator, di mana uap dan cairan dipisahkan. Selanjutnya, uap diteruskan ke atas dengan suhu T6 masuk ke sistem kondenser dan didinginkan dengan air pendingin T1 dan uap terkondensasi menjadi cairan dengan suhu T4 lalu ditampung pada penampung gelas, si mana masing-masing memiliki kapasitas 5 liter. Penampung gelas ini dilengkapi dengan sistem vakum, sistem vakum ini dapat digunakan apabila memerlukan pemanasan pada titik didih yang rendah. Kemudian air pendingin T1 berubah menjadi T2. Sedangkan larutan pekat diputar balik ke sistem pemanasan di evaporator untuk mengurangi kandungan pelarut dari larutan. Dan setiap saat larutan pekat dikeluarkan melalui valve. Adapun manfaat utama system evaporator diantaranya digunakan untuk pengentalan awal cairan sebelum proses lanjut, pengurangan volume cairan, untuk menurunkan aktivitas air. Tujuan dari operasi rising film evaporasi

bertujuan untuk mempelajari parameter-parameter proses seperti vakum, laju alir dan laju recycle, mempelajari proses pemekatan cairan (gula), mempelajari system perpindahan masssa dan perhitungan, mempelajari sistem perpindahan panas dan perhitungan. Beberapa faktor yang dapat berpengaruh, salah satunya yaitu di dalam selang kondensat kemungkinan masih terdapat air dari hasil evaporasi sebelumnya, sehingga dapat menambah volume kondensat. Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh volume kondensat yaitu 2,75 liter. Selanjutnya, diperoleh konsentrasi gula dalam larutan pekat sebesar 16,33%.

M. FAHRI NURZAMSI 140503090012 Di dalam suatu industri penggunaan alat evaporator sudah banyak digunakan, terutama pada industri gula, industri sirup, industri pupuk, dan industri-industri lainnya yang memerlukan penguapan dalam proses pengolahannya. Evaporator merupakan suatu alat penguap, yang digunakan untuk mengurangi kandungan pelarut dari larutanya. Akan tetapi pada beberapa industri evaporator digunakan untuk mendapatkan pelarut dari larutannya, misalnya: mendapatkan air tawar dari air laut (desalinasi air laut). Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari parameter-parameter proses seperti vakum, laju alir dan laju recycle, untuk mempelajari proses pemekatan cairan (gula), dan juga mempelajari sistem perpindahan massa dan panas beserta perhitungannya. Di dalam sistem evaporator banyak dikenal nama dan jenisnya, klasifikasinya yaitu: Open Kettle or Pan, Horizontal-Tube Natural Circulation Evaporator, Vertical-tube Natural Circulation Evaporator, dan Long Tube Vertical-Type Evaporator Raising Film. Pada percobaan kali ini tipe evaporator yang digunakan adalah Long Tube Vertical-Type Evaporator Raising Film, merupakan suatu evaporator yang terdiri dari double pipe heat exchanger dimana larutan yang akan dipekatkan lewat tengah pipa steam (uap) sebagai pemanas melalui pipa-pipa bagian luar. Umpan masuk melalui bagian bawah tangki ke dalam tengah pipa evaporator, kemudian dipanaskan dengan menggunakan steam yang berasal dari boiler. Dengan pemanasan terus menerus yang terjadi di dalam pipa evaporator, larutan mengalami penguapan yang kemudian larutan tersebut dipisahkan antara cairan dan uapnya pada cyclone separator dimana cairannya akan turun ke dalam produk tank dan seterusnya akan dipanaskan kembali pada evaporator sampai diperoleh larutan pekat yang diinginkan, sedangkan uapnya diteruskan ke atas dan masuk ke dalam kondensor. Fungsi kondensor adalah untuk mengubaha fasa, dari fasa uap menjadi fasa cair. Distilat yang dihasilkan ditampung pada sebuah gelas (dua buah) yang masing-masing memiliki kapasitas

5 liter dan dilengkapi dengan sistem vakum. Sistem vakum digunakan karena untuk menguapkan air tidak pada titik didihnya, sehingga dapat lebih efisien. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan larutan gula pekat 750 mL dengan konsentrasi 16,33 % dan kebutuhan uap air untuk evaporasi sebesar 3,057 kg/jam. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil percobaan yaitu suhu, tekanan dan banyak faktor yang lain. Panas yang hilang juga mempengaruhi proses pemekatan larutan.

TEO YUDA 140503090013

Evaporator adalah alat penguap, yang digunakan untuk mengurangi kandungan oelarut dari larutannya. Long tube vertical type evaporator raising film adalah evaporator yang digunakan dalam percobaan ini dimana evaporator ini terdiri dari double pipe heat exchanger dimana larutan yang akan dipekatkan lewat dari bawah tengah pipa dan steam sebagai pemanas melalui pipa-pipa bagian luar seperti ditunjukkan pada diagram -1 di bawah. Larutan gula 10% sebagai umpan dibuat dengan cara melarutkan gula sejumlah 350 gram dalam 3,5 L air suling, lalu diaduk sampai homogen. Gula bertindak sebagai zat terlarut, sedangkan air suling bertindak sebagai pelarut. Kemudian larutan gula 10% dimasukkan melalui bagian bawah evaporator, sedangkan steam dimasukkan melalui bagian atas evaporator. Steam berasal dari boiler dan digunakan untuk memanaskan larutan dengan suhu tertentu. Dengan adanya pemanasan oleh steam, maka larutan umpan akan menguap. Uap yang terbentuk kemudian naik membawa lapisan tipis cairan pekat dan masuk ke dalam cyclone separator, dimana uap dan cairan dipisahkan. Uap yang memiliki suhu T 6 kemudian diteruskan ke atas sehingga memiliki suhu T3 dan masuk ke dalam kondensor. Di dalam kondensor, dialirkan air pendingin dengan suhu T1 untuk mengubah fasa uap menjadi cair untuk memudahkan penampungan. Fase cair ini memiliki suhu T4, dan ditampung pada penampung gelas yang memiliki kapasitas 5 L. Sedangkan air pendingin suhunya naik menjadi T2 karena adanya perpindahan panas dari uap yang memiliki suhu T3 ke air pendingin. Menaikkan konsentrasi dari fraksi padatan di dalam produk bahan makanan cair adalah dengan menguapkan air bebas yang ada di dalam produk. Proses penguapan ini dilakukan dengan menaikkan suhu produk sampai titik didih dan menjaganya untuk beberapa waktu sampai konsentrasi yang diinginkan. Larutan gula pada percobaan ini memiliki titik didih lebih tinggi dari pada pelarutnya yaitu air. Sehingga perbedaan titik didih keduannya cukup jauh, dan lebih mudah untuk dipisahkan. Cairan gula akan turun ke dalam tangki produk

dan akan dipanaskan kembali pada evaporator sampai diperoleh larutan pekat yang diinginkan, sedangkan uapnya diteruskan ke atas dan masuk ke dalam kondensor. Fungsi kondensor adalah untuk mengubah fase, dari fase uap menjadi fase cair. Distilat yang dihasilkan kemudian ditampung pada wadah yang dilengkapi dengan sistem vakum. Sistem vakum digunakan karena untuk menguapkan air tidak pada titik didihnya, sehingga dapat lebih efisien. Kemudian dicatat banyak distilat yang sudah dipekatkan tersebut dan menghitung volume cairan yang telah diuapkan. Untuk perhitungan pada neraca panas dalam sistem rising film evaporator dihitung pada dua tempat yaitu pada sistem evaporator itu sendiri dan di sistem pendingin. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan didapatkan larutan gula pekat 750 mL dengan konsentrasi 16,33 % dan kebutuhan uap air untuk evaporasi sebesar 3,057 kg/jam. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil percobaan yaitu suhu, tekanan dan banyak faktor yang lain. Panas yang hilang juga mempengaruhi proses pemekatan larutan.

Galih Mery Damaiati 140503090014

Evaporasi atau penguapan merupakan metode pengeringan yang digunakan pada bahan cair untuk memekatkan larutan dengan cara menguapkan atau mendidihkan pelarut. Evaporasi dipengaruhi beberapa faktor yaitu, besarnya suhu, lama evaporasi dan besarnya tekanan yang digunakan Evaporator merupakan suatu alat penguap, yang digunakan untuk mengurangi kandungan pelarut dari larutanya. Akan tetapi pada beberapa industri evaporator digunakan untuk mendapatkan pelarut dari larutannya, misalnya: mendapatkan air tawar dari air laut (desalinasi air laut). Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari parameter-parameter proses seperti vakum, laju alir dan laju recycle, untuk mempelajari proses pemekatan cairan (gula), dan juga mempelajari sistem perpindahan massa dan panas beserta perhitungannya. Terdapat beberapa jenis evaporator, pada percobaan ini digunakan evaporator jenis Long Tube Vertical-Type Evaporator Raising Film, merupakan suatu evaporator yang terdiri dari double pipe heat exchanger dimana larutan yang akan dipekatkan lewat tengah pipa steam sebagai pemanas melalui pipa-pipa bagian luar. Umpan yang digunakan adalah larutan gula 10%, yaitu dengan melarutkan 350 gram gula kedalam 3500 mL air lalu diberi perasa pandan dengan warna hijau tujuannya karena larutan berwarna dapat mempermudah proses pengamatan. umpan masuk dari bagian bawah dari tangki umpan ke dalam pipa pemanas evaporator. Didalam pipa pemanas ini larutan dipanaskan oleh steam yang berasal dari boiler dengan suhu tertentu. Suhu pemanasan tergantung dari tekanan uap. Dengan adanya pemanasan didalam pipa evaporator, maka akan terjadi proses penguapan. Uap akan naik membawa lapisan tipis cairan pekat lalu masuk ke cyclone dimana uap can cairan akan dipisahkan. Lalu uap diteruskan keatas dan masuk ke kondensor dan terjadi proses kondensasi yaitu terjadi perubahan fase dari uap menjadi cair. cairan yang dihasilkan ditampung pada sebuah penampung

yang masing-masing memiliki kapasitas 5 liter dan dilengkapi dengan sistem vakum. Sistem vakum digunakan untuk membantu proses penguapan air ketika tidak pada titik didihnya, sehingga proses penguapan menjadi lebih cepat. Proses pengambilan data yang dilakukan dengan selang waktu 2 menit. Dalam waktu tersebut yang diambil datanya yaitu 6 titik suhu (T1-T6) dan 2 pengatur laju alir ( F1,F2). Untuk pembacaan suhunya dapat dibaca pada monitor dengan memutarkan swith karena semua sistem telah dilengkapi sensor pembacaan suhu sedangkan laju alir (F1) harus dijaga konstan dengan pengaturan katup dan laju alir (F2) menggunakan pompa vakum diakibatkan arus listrik bolak balik maka laju alir tidak konstan sehingga harus dikontrol agar konstan. Berdasarkan hasil percobaan diketahui konsentrasi gula dalam larutan pekat adalah 16,33% dan kebutuhan uap air untuk evaporasi sebesar 3,057 kg/jam serta diperoleh volume kondensat hasil perhitungan sebesar 2,75 liter sedangkan volume kondensat dari hasil percobaan sebesar 2,3 liter.

X.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan:


1. Dari proses rising film evaporator dapat diketahui parameter-

parameter proses yaitu suhu, tekanan, dan laju alir.


2. Larutan pekat yang diperoleh adalah 750 mL dengan konsentrasi 16,33

%
3. Kebutuhan uap air untuk evaporasi sebesar 3,057 kg/jam.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2012.Appendix20.http://www.Thermodynamic Properties of Saturated Water and Steam-University Publishing Online.html. (Diakses pada tanggal 26 April 2012). Buckle, K.A; Edwards, R.A; Fleet, G. H dan Wootton. M. 1987. Ilmu Pangan. Diterjemahkan oleh Hari Purnomo dan Adiono. Jakarta:UI-PRESS. Earle, R. L. 1969. Satuan Operasi dalam Pengolahan Pangan. Diterjemahkan oleh Zein Nasution. Staf Tenaga Akademik Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian IPB. Bogor:PT Sastra Hudaya. Geankoplis, C. J. 1993. Transport Procces and Unit Operations. 3rd ed. New Jersey:Prentice-Hall, Inc. Mc Cabe, W. L., Julian, C. S., dan Peter H. 1991. Operasi Teknik Kimia. Diterjemahkan oleh Ir. E. Jasjti M.Sc. Jilid I. Edisi ke-4. Jakarta:Erlangga. Winarno, F.G. 1997. Air untuk Industri Pangan. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.

LAMPIRAN untuk menghitung hV dan hL pada suhu 75,9oC dengan cara interpolasi.

untuk menghitung hsteam pada tekanan 1,5 bar dengan cara interpolasi.