Anda di halaman 1dari 6

Pemeriksaan Diagnostik Hal yang penting dalam menilai wanita dengan inkontinensia urine adalah dengan anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang lengkap. Pemeriksaan awal tidak selalu diagnostik, tetapi informasi yang didapat akan menuntun klinisi dalm memilih test diagnostik yang diperlukan. 1. Pemeriksaan fisik Untuk inspeksi umum dan evaluasi neurologis awalnya, perineum diinspeksi ada tidaknya atrofi, yang dapat diperhatikan dari traktus genital bagian bawah. Sebagai tambahan, penggelembungan sub-uretra (suburethral bulging) mungkin mengindikasikan adanya divertikulum dan sebaiknya dieksklusikan selama inspeksi. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh pada wanita inkontinensia juga harus meliputi evaluasi neurologi perineum yang menyeluruh. Karena respon neurologis bisa berubah pada pasien dengan gangguan kecemasan saat keadaan tertentu, tanda-tanda klinis yang menghilang selama pemeriksaan tidak menunjukkan patologi sebenarnya, jadi sebaiknya diintepretasikan dengan hati-hati. Evaluasi neurologis dimulai denan upaya menghilangkan refleks bulbokavernosus. Selama tes ini, salah satu labium mayor digores cotton swab. Normalnya, kedua labia akan sama-sama berkontraksi bilateral. Komponen aferen refleks ini adalah nervus pudendus cabang klitoris, dimana komponen eferennya dibungkan melalui nervus pudendus cabang hemoroidal. Refleks ini diintegrasikan pada medulla spinalis setinggi S2 sampai S4 (Wester, 2003). Sehingga ketiadaan refleks ini dapat merefleksikan adanya defisit neurologis sentral maupun perifer. Yang kedua, kontraksi sfingter anal yang normal melingkar, biasa disebut sebagai "anal wink", harus mengikuti penggoresan cotton swab pada kulit perianal. brushing of the perianal skin. Aktivitas sfingter uretra eksternal membutuhkan paling sedikit inervasi setinggi S2 sampai S4 yang intak, dan refleks anokutaneus ini dimediasi oleh tingkat neurologis spinal yang sama. Dengan demikian, tidak adanya anal wink dapat mengindikasikan adanya defisit neurologis pada distribusi neurologis ini. 2. Penilaian Support Pelvis a. Evaluasi Prolaps Organ Pelvis Urethral support yang melemah biasanya disertai dengan prolaps organ pelvis (POP). Contohnya, wanita dengan prolaps yang signifikan biasanya tidak mampu mengosongkan bladderya dengan sempurna karena obstruksi maupun lipatan (kinking)

uretra. Mereka harus menaikkan atau mengurangi prolapsnya dengan jari untuk mengosongkan bladdernya. Sehingga evaluasi eksternal POP diindikasikan untuk wanita dengan inkontinensia. Selain mengevaluasi defek kompartemen vaginal, evaluasi kekuatan otot pelvis juga harus dilaksanakan. Wanita dengan inkontinensia ringan sampai moderat sering merespon dterapi dasar panggul dengan baik dan dalam keadaan ini, trial terapi ini dijamin baik dan sering kuratif. b. Q-Tip Test Jika uretra tersupport lemah, maka selama peningkatan tekanan intraabdominal, uretra akan mengalami hipermobilitas. Untuk menilai mobilitasnya, letakkan ujung lembut cotton swab masuk ke uretra sampai pada urethrovesical junction. Kegagalan memasukkan ujung cotton swab ke dalam urethrovesical junction menandakan adanya permasalahan pada jaringan pendukung. Ketidaknyamanan dari Q-tip test ini dapat dikurangi dengan analgesia intrauretra. Biasanya, 1% jeli lidokain ditambahkan pada cotton swab sebelum disisipkan ke dalam uretra. Berikutnya, dilakukan manuver valsava. Penyimpangan sudut swab sebelum dan sesudah manuver valsava diukur dengan goniometer atau standard protractor. Penyimpangan sudut swab sebelum dan sesudah manuver valsava lebih besar daripada 30 di atas horisontal, mengindikasikan adanya hipermobilitas uretra dan hal ini dapat membantu mengarahkan perencanaan terapi surgikal untuk menangani stress incontinence. c. Pemeriksaan Rektovaginal dan Bimanual Pada umumnya, pmeriksaan pelvis memberikan sedikit petunjuk diagnostik mengenai penyebab yang mendasari trerjadi inkontinensia. Pemeriksaan bimanual dapat mengungkapkan massa pelvis atau uterus yang membesar karena leiomioma atau adenomiosis. Hal ini mengakibatkan inkontinensia melalui peningkatan tekanan eksternal yang ditransmisikan ke VU. Sebagai tambahan, impaksi faeces yang biasa terjadi pada pasien yang dirawat di rumah (nursing home) dapat mengarah pada urgensi bladder dan akhirnya terjadi inkontinensia urin. 3. Uji Diagnostik a. Urinalisis dan Kultur Semua wanita inkontinensia sebaiknya diteliti apakah ada infeksi maupun patologi traktus urinariusnya pada kunjungan awal. Atasi infeksi dengan pengobatan yang sesuai jika ada, dan jika

terdapat simptom yang persisten, perlu evaluasi tambahan lebih lanjut. b. Residual Post Pengosongan (PVR) Volume ini rutin diukur selama evaluasi inkontinensia. Setelah miksi, residu post pengosongan atau biasa disebut PVR (postvoid residual) diukur dengan hand-held sonographic scanner atau dengan kateterisasi transuretral. Jika menggunakan hand-held scanner, perhatikan wanita dengan uterus leiomiomatous yang membesar karena ini akan salah merekam PVR yang besar. Pada contoh kasus ini, atau pada kasus tidak adanya scanner, maka gunakan kateterisasi transuretral untuk mengonfirmasi volume residual bladder. PVR yang besar bisa menunjukkan salah satu dari beberapa masalah berikut ini : infeksi rekuren, obstruksi uretra oleh massa pelvis, atau defisit neurologis. Sebaliknya, PVR yang normalnya sedikit sering ditemukan pada SUI. Setelah tindakan pembedahan anti-inkontinensia, pengukuran PVR merupakan indikator yang membantu menilai kemampuan pasien dalam mengosongkan blaaddernya dengan sempurna. Evaluasi ini dapat dilengkapi dengan trial pengosongan aktif maupun pasif. Dengan trial pengosongan pasif, kateter urin dilepas, dan PVR diukur dengan scanner atau dengan kateterisasi transurethral tiap setelah pengosongan volunter dalam 2 kesempatan. Volume pengosongan minimal 300 mL dan yang ditargetkan adalah PVR kurang dari 100 mL. Namun pengosongan bladder dianggap normal jika PVR kurang dari 1/3 volume pengosongan. Jika pasien tdak memenuhi kriteria tersebut, atau ia tak mampu memngosongkan bladder dalam waktu 4-6 jam semenjak pelepasan kateter, selanjutnya pasang kateter lagi dan tes dilakukan sehari kemudian atau lebih. Selama trial pengosongan aktif, bladder secara aktif diisi dengan set volume, dan diikuti pengosongan bladder oleh pasien, volume residual urin bladder kemudian dihitung. Awalnya bladder dikosongkan seluruhnya dengan kateterisasi. Berdiri tegak lurus selama kateterisasi dapat membantu membersihkan sebagian besar porsi dependen bladder. Air steril diinfuskan di bawah gravitas ke bladder melalui kateter yang sama sampai kira-kira 300 mL atau sampai tercapai kapasitas maksimum subyektif. Pasien kemudian dinminta untuk mengosongkan spontan ke alat penampung urin. Perbedaan antara volume yang diinfuskan dengan volume yang dikeluarkan dicatat postvoid residual (PVR). Residu kurang dari 100 mL atau 1/3 volume yang dimasukkan, jika kurang dari 300 ml yang diinfuskan, mengindikasikan pengosongan bladder adekuat.

c. Sistometrik Koreksi surgikal bersifat invasif dan beresiko. Terlebih lagi bladder merupakan bukti yang kurang dapat diandalkan dan informasi riwayat penyakit tidak selalu tepat mengindikasiskan tipe inkontinensia yang mendasari (Blaivas, 1996). Sehingga jika terapi konservatif tidak berhasil atau tindakan surgikal diantisipasikan, maka harus didapatkan penilaian yang lebih obyektif. Sebagai tambahan, jika simptom dan penemuan fisik yang didapatkan ternyata kurang sesuai, maka dapat diindikasikan studi urodinamik obyektif (UDS) berupa evaluasi sistometrik. Contohnya, bila ada seorang wanita dengan inkontinensia urin campuran yang memiliki kedua gejalanya baik gejala SUI maupun UUI, UDS dapat menunjukkan bahwa hanya komponen UUI yang berperan dalam inkontinensia tersebut. Dalam hal ini, inkontinensia dapat diterapi dulu dengan terapi fisik, behavioral dan atau farmakologis. Jadi dengan UDS, tindakan surgikal dapat dihindari. Terapi surgikal dapat dirubah jika UDS menunjukkan parameter yang konsisten dengan defek sfingter intrinsik. Meskipun ada indikasi UDS tersebut di atas, namun UDS masih kontroversial. Kebocoran yang nampak pada saat tes tidak selalu relevan dengan klinisnya. Sebaliknya, tes tersebut bisa saja tidak informatif jika offending maneuver atau situasi yang menjurus pada keadaan inkontinensia sebenarnya tidak bisa dibuat saat evaluasi. Terlebih lagi, konfirmasi obyektif diagnosis tidak selalu diperlukan karena terapi empiris pada wanita dengan simtop predominan UUI bersifat reasonable. a) Sistometrik Sederhana (simple cystometric) Pengukuran obyektif fungsi bladder dalam serangkaian tes disebut sistometrik. Sistometrik ada yang sederhana maupun multichannel dan memiliki sensitivitas yang berbeda. Sistometrik sederhana membedakan stress incontinence dengan overaktivitas detrusor, seperti halnya pada pengukuran sensasi pertama, keinginan untuk mengosongkan, dan kapasitas bladder. Prosedur ini mudah dilakukan dengan air steril, 60-mL catheter-tipped syringe, dan kateter urin, serta bladder dikosongkan terlebih dahulu. Syringe 60 ml dipasang pada kateter, kemudian isi dengan air steril. Air ditambahkan sampai seorang wanita: (1) sensasi pengisian bladder (2) perasaan ingin segera mengosongkan (3) kapasitas maksimum bladder tercapai. Volume air dicatat di tiap 3 point tersebut. Perubahan meniskus cairan di dalam syringe dimonitor.

Elevasi meniskus apapun mengindikasikan kontraksi bladder dan menegakkan diagnosis overaktivitas detrusor. Ketika kapasitas bladder tercapai, kateter dilepas, dan wanita tersebut diminta melaksanakan manuver valsava atau batuk sambil berdiri. Adanya kebocoran urin mengindikasikan adanya SUI. Sistometrik sederhana memiliki beberapa keuntungan, diantaranya : mudah dilaksanakan, tidak memerlukan alat mahal, dan dapat dilaksanakan oleh sebagian besar ginekologis. Satu keterbatasan tes sistometrik sederhana adalah tidak bisa merefleksikan perubahan yang didapatkan pada pasien dengan defisisensi sfingter intrinsik (DSI). b) Sistometrik multichannel Seperti yang telah disebutkan, DSI tidak teridentifikasi dengan sistometrik sederhana. Determinasi ini penting, karena diagnosis ini potensial menghindarkan pilihan surgikal tertentu. Sistometrik multichannel memberikan lebih banyak informasi mengenai parameter fisiologis bladder, yang tidak dapat diketahui melalui sistometrik sederhana. Sistometrik multichannel lebih banyak dilaksanakan oleh uroginekologis atau urologis karena availabilitas alat terbatas dan biaya yang mahal. Tes dilaksanakan dengan meminta pasien berdiri atau duduk tegak lurus pada kursi evaluasi urodinamik khusus. Tes ini menggunakan 2 kateter. Satu kateter dipasang ke bladder dan yang satunya lagi ke vagina atau rektum (jika terdapat prolaps yang nyata karena faeces yang mengobstruksi sensor kateter, maka lebih baik dipasang ke vagina untuk menghindari pembacaan yang tidak akurat). Selain itu, pemasangan di vagina dirasa lebih nyaman pada sebagian besar wanita. Di tiap kateter akan diperoleh atau dihitung : (1) tekanan intraabdominal (2) tekanan vesikuler (3) tekanan detrusor terhitung (calculated detrusor pressure) (4) volume bladder (5) tingkat aliran infus salin. Dari pembacaan kateter ini, dapat diperoleh informasi mengenai bladder, intra-abdominal, dan tekanan detrusor.

d. Pemeriksaan Pad Test Penderita disuruh minum sebanyak 500 cc kemudian dalam waktu 30 menit penderita disuruh naik tangga, jalan dan batukbatuk. Lima belas menit kemudian penderita disuruh duduk berdiri, duduk berdiri sebanyak 10 kali dan batuk yang kuat serta mengambil barang yang jatuh di lantai. Enam puluh menit setelah tes ini selesai (lama tes 60 menit). Pad ditimbang dengan hasil kemungkinan : a) Timbangan Pad bertambah 2 gram, ini berarti tidak ada stres inkontinensia urin b) Pad bertambah beratnya 2-10 gram disebut stres inkontinensia urin derajat ringan c) Pad bertambah 10-20 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia urin sedang d) Pad bertambah beratnya 20-40 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia urin derajat berat. e) Pad bertambah beratnya 40-50 gram, ini berarti penderita mengalami stres inkontinensia urin derajat sangat berat. Sumber : 1. Josoprawiro. 1997. Inkontinensia Urin dan Gejala Uroginetal Terkait Pada Wanita Usia Lanjut. PIT X, Padang. 2. Walter MD. Karane MM. 1997. Clinical Uroginecology. London. 3. Stocklager, Jaime L. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatrik. Jakarta: EGC 4. Waston, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia.Jakarta: EGC 5. Maryam, R. Siti. 2008. Mengenal Usia Lanjut. Jakarta: Salemba Medika 6. Blaivas JG: The bladder is an unreliable witness. Neurourol Urodyn 15:443, 1996 [PMID: 8857612] 7. Wester C, Fitzgerald MP, Brubaker L et al: Validation of the clinical bulbocavernosus reflex. Neurourol Urodyn 22:589, 2003 [PMID: 12951668]