Anda di halaman 1dari 16

Teknologi Bahan Penyegar

Hari/ tanggal Golongan Dosen Asisten : 1. 2.

: 20, 27 Oktober 2012 : P4 : Dr. Indah Yuliasih, S.TP, M.Si

Nur Rahmawati Dora Vitra Meizar

F34080004 F34080100

TEKNOLOGI PENGOLAHAN TEH


Anggota Kelompok 1. 2. 3. 4. 5. Sugiono Gita Melisa Yolanda Maya Ramadhayanti Yudha Yaniari Satriya Putri Fahrudin : F34100136 F34100144 F34100149 F34100157 F34080129 F34070060

6. Imam Muttaqien W.

TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

I.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Teh merupakan tanaman daerah tropis dan subtropis yang secara ilmiah dikenal dengan Camellia Sinensis. Dari kurang lebih 3000 jenis teh hasil perkawinan silang, didapatkan tiga macam teh hasil proses yaitu teh hijau, teh oolong, dan teh hitam. Cara pengolahan teh yaitu dengan merajang daun teh dan dijemur di bawah sinar matahari sehingga mengalami perubahan kimiawi sebelum dikeringkan. Perlakuan tersebut akan menyebabkan warna daun menjadi coklat dan memberi cita rasa teh hitam yang khas. Pada umumnya, tanaman teh tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200-2000 meter di atas permukaan laut. Suhu cuaca antara 14-25 derajat celsius. Ketinggian tanaman dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada yang berkisar antara 12-20 meter tingginya untuk tanaman teh jenis Assamica. Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara. Teh merupakan salah satu produk minuman terpopuler yang banyak dikomsumsi oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia karena teh mempunyai rasa dan aroma yang khas, selain itu teh juga dipercaya mempunyai khasiat bagi kesehatan di antaranya mencegah kegemukan, kanker, dan kolesterol. Seiring dengan perkembangan zaman serta teknologi maka pada saat sekarang ini banyak sekali kita temui industri pengolahan teh dengan menghasilkan berbagai macam produk akhir seperti halnya teh kering, teh celup, dan bahkan teh dalam kemasan botol yang mana kesemuanya dapat memberikan kemudahan bagi kita untuk mengkonsumsinya secara praktis. Untuk mempermudah pemetikan daun-daun teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya, dengan cara selalu dipangkas sehingga ketinggannya tidak lebih dari 1 meter. Dengan ketinggian ini, maka sangatlah mudah untuk memetik pucuk-pucuk daun muda yang baik. Teh merupakan hasil pengolahan pucuk (daun muda) dari tanaman teh yang dipakai sebagai bahan minuman. Teh yang baik dihasilkan dari bagian pucuk (pecco) ditambah 2-3 helai daun muda, karena pada daun muda tersebut kaya akan senyawa polifenol, kafein serta asam amino. Senyawa-senyawa inilah yang akan mempengaruhi kualitas warna, aroma, dan rasa dari teh. Dasar utama pengolahan teh adalah pemanfaatan oksidasi senyawa polifenol yang ada di dalam daun teh. Proses oksidasi ini lazim disebut fermentasi. B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah mempelajari jenis-jenis teh, kandungan teh, serta mempelajari cara pengolahan teh secara tradisional maupun secara pabrik.

II.

METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Bahan : daun teh, bunga melati, maltose dekstrin Alat : Timbangan, blower, spray dryer, wajan penggorengan, kompor, mesin steam, mesin penggulung, mesin oven berputar, nyiru B. Metoda 1. Analisa Petikan Siapkan daun teh

Ambil sebanyak 50100 gram

Pilah daun-daun menurut kelompok

Timbangan hasil pilahan menurut kelompoknya

Tentukan apakah daun teh termasuk ke dalam petikan yang mana

Analisa kadar airnya

2.

Pengolahan Teh Hijau Cara Pabrik

Siapkan daun teh

Pelayuan dengan mesin steamer

Penggulungan dengan mesin penggulung

Pengeringan dengan blower

Pengemasan

Analisa kadar air dan neraca massa

3.

Pengolahan teh hijau dengan cara rakyat

Siapkan daun teh

Pelayuan dengan penyangraian

Penggulungan dengan manual

Penyangraian

Penjemuran

Pengemasan

Analisa kadar air dan neraca massa

4.

Pengolahan teh hijau garang

Siapkan daun teh

Pelayuan

Penggulungan

Pengeringan

Pelembaban

Penggarangan

pengemasan

Analisa kadar air dan neraca massa

5.

Pengolahan teh hitam

Siapkan daun teh

Pelayuan dengan dipanaskan di oven

Penggulungan

Fermentasi dengan didiamkan di suhu ruang selama 1,5 jam

Pengemasan

Analisa kadar air dan neraca massa

6.

Pengolahan teh bunga

Siapkan teh hijau yang sudah dikeringkan

Campurkan teh dengan bunga melati

Diamkan di dalam wadah tertutup selama 23 hari

Pisahkan teh dengan bunga melati

Pengeringan

Pengemasan

Analisa kadar air dan neraca massa

7.

Pengolahan teh instan

Siapkan teh hijau atau teh hitam sebanyak 100 gram

Siapkan air panas sebanyak 500 ml

Seduh teh dengan air panas dan aduk

Pisahkan ampas teh dengan air

Campurkan dengan maltose dekstrin

Masukkan campuran ke dalam masin spray dryer agar menjadi bubuk

pengemasan

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan (Terlampir) B. Pembahasan Nama latin dari teh adalah Camelia sinensis (keluarga Camelia). Pada umumnya, teh tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200-2000 meter di atas permukaan laut. Suhu cuaca antara 14-25 derajat celsius. Ketinggian tanaman dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada yang berkisar antara 12-20 meter tingginya untuk tanaman teh jenis Assamica. Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara. Untuk mempermudah pemetikan daundaun teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya, dengan cara selalu dipangkas sehingga ketinggannya tidak lebih dari 1 meter. Dengan ketinggian ini, maka sangatlah mudah untuk memetik pucuk-pucuk daun muda yang baik. Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh di atas bidang petik yang memenuhi syarat untuk diolah secara berkesinambungan menjadi produk teh kering (Arifin, 1994). Pemetikan dilaksanakan setelah perdu dipangkas sampai tiba saat pemangkasan berikutnya. Jenis petikan ialah macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan pemetikan. Jenis petikan dapat dibedakan menjadi 3 kategori yaitu : a). Petikan halus apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko (P) dengan satu daun, atau pucuk burung (B) dengan satu daun muda (M), bisaanya ditulis dengan rumus P+1 atau B+1M. b). Petikan medium apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan dua daun, tiga daun, serta pucuk burung dengan satu, dua, atau tiga daun muda, ditulis dengan rumus P+2, P+3, B+1M, B+2M, B+ 3M. c). Petikan kasar apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk pekodengan empat daun atau lebih, dan pucuk burung dengan beberapa daun tua, ditulis dengan rumus [P+4 atau lebih, B+(1-4 t)]. Pucuk daun teh yang memenuhi syarat olah di pabrik teh adalah pucuk halus yaitu dengan rumus petikan sebagai berikut : P+1, P+2m, P+2, P+3m, P+3, B+1m, B+2m, dan B+3m. Sedangkan pucuk yang tidak memenuhi syarat adalah pucuk kasar dengan rumus petiknya yaitu B+1, B+2 serta lembaran dan tangkai. Setelah dipisahkan antara pucuk yang memenuhi syarat olah dan pucuk yang tidak memenuhi syarat olah kemudian masing-masing pucuk ditimbang. Kemudian dihitung presentase beratnya. Presentase yang dinyatakan masuk analisis adalah apabila hasil presentase bagian yang memenuhi syarat olah 50%. Hal ini berarti lebih banyak pucuk yang halus daripada pucuk yang kasar,dan pada hasil produksinya akan menghasilkan teh dengan mutu satu. Berdasarkan analisa petikan yang dilakukan kelompok 1, 2, 4, dan 5 didapatkan persentase bobot terbesar ada di P+>=3 yang termasuk dalam kelompok petikan kasar. Hal ini dapat disebabkan karena pemetik kurang menjaga kualitas petikan teh dan kemungkinan mengikuti standar petikan yang telah ditetapkan pabrik. Sedangkan pada kelompok 3 persentase bobot terbesar ada di P+2 yang termasuk dalam kelompok petikan medium. Hal ini dapat disebabkan pemetik kemungkinan mengikuti standar petikan yang telah ditetapkan tiap pabrik yang berbeda-beda. Pengolahan daun teh segar menjadi teh kering dapat dilakukan baik dengan cara rakyat maupun dengan cara pabrik. Pengolahan teh secara rakyat diawali dengan pengambilan daun teh segar. Selanjutnya

daun teh dilayukan dengan penyangraian diatas kompor dengan intensitas api yang sedang. Setelah daun teh sudah layu maka dilakukan proses penggulungan manual yaitu digulung dengan tangan. Proses penggulungan ini dilakukan pada saat teh masih dalam kondisi panas agar mempermudah dalam proses penggulungannya. Hal inilah yang membedakan antara prose pengolahan teh secara pabrik dan rakyat. Pada Pengolahan teh pabrik proses penggulungan menggunakan mesin tetapi kalau di pengolahan rakyat menggunakan penggulungan dengan tangan bisaa. Setelah digulung teh di masukkakn kembali kedalam penggorengan panas selama 5 sampai 10 menit. Selanjutnya teh dijemur sampai kering. Metode pengolahan teh dengan cara pabrik diawali dengan pengambilan daun teh segar, kemudian daun tersebut dilayukan selama 15 sampai 60 menit. Proses pelayuan ini berfungsi untuk mempermudah dalam proses penggulungan daun. Setelah daun sudah layu maka dilanjutkan dengan proses penggulungan. Pada pengolahan pabrik ini teh digulung dengan menggunakan alat penggulung daun teh. Proses penggulungan selesai jika semua daun sudah tergulung dengan baik. Daun teh kemudian dikeringkan menggunakan tray/dryer atau blower sampai kering dan timbang hasilnya serta ukur kadar airnya. Pada umumnya proses pengolahan antara metode rakyat maupun pabrik hampir sama. Perbedaan pada kedua proses pengolahan tersebut dapat dilihat pada proses penggulungannya saja. Selain itu, perbedaan kedua metode ini ada pada skala produksi yang dihasilkan, bisaanya pengolahan dengan metode rakyat hanya berskala produksi yang rendah sedangkan metode pabrik biasanya berskala produksi besar. Berdasarkan proses pengolahannya, teh dibedakan menjadi teh hijau, teh putih, teh oolong, dan teh hitam, kemudian beberapa turunannya yaitu teh garang, teh bunga, dan teh instan. Praktikum ini hanya membahas teh hijau, teh garang, teh hitam, teh bunga dan teh instan. Teh hijau adalah jenis teh yang juga tidak mengalami proses fermentasi akan tetapi mengalami proses pengeringan dan penguapan daun yang sedikit lebih lama dibandingkan teh putih. Semua jenis teh mengandung katekin, akan tetapi saat ini teh hijau lebih populer karena kandungan katekinnya lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam sehingga teh hijau lebih dikenal sebagai jenis teh yang dapat mencegah pertumbuhan penyakit kanker. Manfaat lain dari teh hijau adalah untuk mencegah dan menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), resiko terkena stroke dan menghaluskan kulit. Proses pengolahan daun teh segar menjadi teh hijau dilakukan melalui beberapa tahap yaitu pelayuan, penggulungan, dan pengeringan. Proses pelayuan pada teh hijau bertujuan untuk menginaktivasi enzim oksidase dan mengurangi kadar air daun sehingga mudah digulung. Selanjutnya pada proses penggulungan, tujuannya untuk membuat bentuk daun tergulung dan memeras cairan sel ke permukaan. Setelah penggulungan tersebut, daun teh dikeringkan sehingga kadar airnya berkurang, mematikan enzim apabila masih ada aktivitas, memperpanjang umur simpan dan membentuk keriting dan berbutir (Hartoyo 2003). Untuk kadar air teh hijau cara pabrik kadar air turun menjadi 83.84%, teh hijau cara rakyat turun menjadi 84.95%. Kadar air akhir teh hijau pabrik 1.32%. Teh hijau memiliki nilai kadar air yang sama dengan teh hitam yaitu <8.00 (b/b) (SNI 01-39451995). Teh garang adalah daun teh yang cara pembuatannya sama seperti teh hijau. Teh hijau kering dilembabkan kemudian digarang dengan suhu tinggi sehingga berubah warna menjadi coklat tua lalu didinginkan. Seperti halnya teh yang lain, teh garang juga mempunyai khasiat sehat yang dapat membantu kinerja pencernaan dan mengobati sakit kepala. Bahkan pada penelitian modern terhadap teh garang menunjukkan bahwa teh ini efektif mengontrol kadar kolesterol dan membantu menurunkan kadar gula.

Kadar air teh garang rakyat setelah dilembabkan turun menjadi 71.14% sedangkan teh garang pabrik naik cukup tinggi yaitu sampai 142.42%. Teh hitam adalah daun teh yang mengalami proses fermentasi paling lama sehingga warnanya sangat pekat dan aromanya paling kuat. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dunia (khususnya oleh bangsa Inggris). Teh Hitam lebih dipercaya memberikan banyak manfaat, seperti meningkatkan konsentrasi dan mencegah kantuk. Proses pembuatan teh hitam dimulai dengan penyiapan bahan baku, pelayuan, pengayakan pucuk layu, penggilingan, fermentasi, pengeringan, dan sortasi. Penyiapan bahan baku, yaitu bahan baku berupa pucuk halus dari hasil pemetikan medium murni. Kemudian pelayuan, dengan cara pabrik menggunakan mesin yang telah disediakan. Pelayuan bertujuan untuk menurunkan kadar air menjadi 65%-68% dengan membutuhkan waktu 4-6 jam dengan pelayuan kimia, bahkan dapat diperpanjang menjadi 12-16 jam (Rosyadi, 2001). Namun pada praktikum, setelah proses pelayuan (penggulungan) kadar air awal teh praktikan adalah 66.3% naik menjadi 71.69% yang seharusnya manjadi sekitar 46.2%. Padahal penurunan kadar air dengan pelayuan ini bertujuan agar pucuk yang awalnya kasar menjadi layu sehingga cukup lentur dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong. Hal inilah yang membuat mutu teh menjadi baik. Kesalahan ini mungkin disebabkan oleh durasi pelayuan yang masih kurang. Agar optimal, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, membutuhkan waktu paling sedikit 12 jam tanpa pelayuan kimia. Sedangkan, pada saat praktikum, pelayuan hanya dilakukan selama 3 jam. Setelah dilakukan pelayuan, dilanjutkan dengan penggilingan dengan mesin. Penggilingan akan menyebabkan memar dan dinding sel pada daun teh menjadi rusak. Cairan sel akan keluar di permukaan daun secara rata. Proses ini juga menjadi awal dari terjadinya oksidasi. Lalu, fermentasi saat praktikum dilakukan pada suhu ruang, yaitu di laboratorium selama 1.5 jam. Fermentasi inilah yang merubah teh menjadi hitam. Fermentasi disini sebenarnya adalah proses oksidasi. Menurut Rosyadi (2001) proses fermentasi memerlukan suhu udara 25oC dan kelembaban tinggi 90%-100%, dengan durasi 80-85 menit. Selama proses fermentasi berlangsung, katekin akan diubah menjadi teaflavin dan tearubigin yang merupakan komponen penting baik terhadap warna, rasa, maupun aroma seduhan teh hitam. Proses yang terakhir adalah pengeringan dan sortasi. Pengeringan dilakukan sampai kadar air pada bahan mencapai 35% (Rosyadi, 2001). Pada praktikum, kadar air teh hitam setelah dikeringkan adalah 2.82% sehingga masih dalam batas wajar. Nilai ini juga sesuai dengan SNI Syarat Mutu Teh Hitam yaitu sebesar <8.00 (SNI 01-1902-1990). Teh hijau, teh garang, dan teh hitam yang dihasilkan pada praktikum ini kemudian dijadikan sebagai teh bunga dan teh instan. Teh bunga juga bisaa disebut dengan teh wangi melati (jasmine tea). Prosesnya antara lain pengeringan, pemilihan bunga, proses pelembaban, dan proses pengeringan akhir. Pada teh hitam bobot awal setelah pengeringan awal adalah 100 gram, kemudian dicampur dengan bunga melati sebanyak 25 gram. Setelah proses pengeringan akhir, ternyata bobotnya berkurang menjadi 78.46 gram (setelah dipisahkan dari bunga melati). Proses pelembaban dilakukan selama 3 hari, dan proses pengeringan akhir secara tradisional selama 2.5 jam. Fungsi dari bunga melati pada teh adalah untuk menghasilkan aroma ketika diseduh. Prosesnya adalah pada saat proses pelembaban aroma dari bunga diikat oleh daun teh, hal ini terjadi saat malam hari kelopak bunga melati terbuka dan melepaskan aroma wangi ke dalam teh. Ketika dikeringkan akhir aroma akan tetap terikat pada daun teh. Teh menyerap kelembaban dari bunga melati segar, sehingga teh perlu dikeringkan untuk mencegah pembusukan (Anonim, 2012). Lalu saat diseduh maka aroma tersebut akan menguap bersama uap air dan menghasilkan aroma wangi melati yang diterima oleh indera penciuman manusia.

Beberapa jenis teh yang dihasilkan, selain dijadikan teh bunga juga dijadikan teh instan. Prosesnya diawali dengan mendidihkan 500 ml air untuk diseduh pada 62.5 gram teh, kemudian didiamkan selama 3 menit lalu disaring. Filtrat teh didiamkan sampai dingin, setelah dingin segeradicampur dengan maltodekstrin 10% (b/v). Maltodekstrin merupakan salah satu produk turunan pati yang dihasilkandari proses hidrolisis parsial oleh enzim -amylase. Maltodekstrin memiliki dextrose equivalent (DE) kurang dari 20. Maltodekstrin dapat bercampur dengan air membentuk cairan koloid bila dipanaskan dan mempunyai kemampuan sebagai perekat, tidak memiliki warna dan bau yang tidak enak serta tidak toksik (Jufri dkk, 2004). Pencampuran maltodekstrin pada teh ini bertujuan untuk enkapsulasi tanin sehingga tidak mudah teroksidasi. Enkapsulasi dengan pengikatan tanin ini bermanfaat mengoptimalkan fungsi teh sebagai antioksidan alami. Warna bubuk yang dihasilkan yaitu cream, sebagai hasil dari enkapsulasi tersebut. Pada industri, penambahan maltodekstrin sebagai campuran teh bermanfaat untuk menambah volume bubuk teh sehingga margin yang dihasilkan lebih besar. Salah satu kelemahan dari maltodekstrin yaitu strukturnya yang merupakan gula sederhana, memiliki nilai kalori yang lebih tinggi. Konsumsi dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama kurang baik bagi orang yang mengalami kegemukan. Setelah filtrat filtrat dicampur dengan maltodekstrin, campuran tersebut dijadikan bentuk serbuk dengan bantuan spray dryer. Spray drier mempunyai prinsip kerja dengan menyemprotkan cairan melalui atomizer. Cairan tersebut akan dilewatkan ke dalam aliran gas panas dalam sebuah tabung. Akibatnya, air dalam tetesan bisa menguap dengan cepat dan yang tertinggal hanyalah serbuk atau bubuk yang kering. Selanjutnya adalah memisahkan serbuk dari sejumlah udara yang mengangkutnya. Pemisahan ini dilakukan oleh separator atau kolektor serbuk (Ahira, 2012).

Neraca Massa

Bahan baku

Pembuatan Teh Hitam Digulung 85.75% Dikeringkan 20.49%

Pembuatan Teh Bunga Pengeringan 16.72%

100%

Produk jadi 13.77%

Produk jadi 5.27%

IV. A. Kesimpulan

PENUTUP

Teh merupakan komoditas pertanian yang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis teh original berdasarkan proses pengolahannya. Berdasarkan proses pengolahan tersebut, dapat dihasilkan teh hijau, teh oolong, teh putih, teh hitam, dan beberapa turunannya yaitu teh garang, teh bunga, dan teh instan. Proses pengolahan yang terjadi selama pembuatan teh yaitu pelayuan, penggulungan, fermentasi (pada teh hitam), pengeringan, dan pengemasan. Masing-masing proses memiliki tujuan. Proses pelayuan pada teh hijau bertujuan untuk menginaktivasi enzim oksidase dan mengurangi kadar air daun sehingga mudah digulung. Selanjutnya pada proses penggulungan, tujuannya untuk membuat bentuk daun tergulung dan memeras cairan sel ke permukaan. Setelah penggulungan tersebut, daun teh dikeringkan sehingga kadar airnya berkurang, mematikan enzim apabila masih ada aktivitas, memperpanjang umur simpan dan membentuk keriting dan berbutir. Pelayuan pada teh hitam bertujuan untuk menurunkan kadar air. Namun pada hasil praktikum, kadar air justru meningkat ketika pelayuan. Kesalahan ini mungkin disebabkan oleh durasi pelayuan yang masih kurang. Agar optimal, waktu yang dibutuhkan paling sedikit adalah 12 jam. Setelah dilakukan pelayuan, dilanjutkan dengan penggilingan dengan mesin yang menjadi awal terjadinya oksidasi. Kemudian dilakukan fermentasi yang merupakan proses oksidasi sehingga mengubah teh menjadi hitam. Proses yang terakhir adalah pengeringan. Pada praktikum, kadar air teh hitam setelah dikeringkan adalah 2.82% sehingga masih dalam batas wajar dan sesuai dengan SNI Syarat Mutu Teh Hitam yaitu sebesar <8.00 (SNI 01-1902-1990). Dari data-data kadar air yang diperoleh dari masingmasih the menunjukkan bahwa proses pelayuan belum maksimal dan optimal sehingga penurunan kadar air tidak mencapai target mutu baik bahkan terjadi kenaikan kadar air. Teh hijau, teh garang, dan teh hitam yang dihasilkan pada praktikum dijadikan sebagai teh bunga dan teh instan. Proses pembuatan teh bunga yaitu pengeringan, pemilihan bunga, proses pelembaban campuran teh dan bunga melati beberapa hari agar bunga melati mampu menghasilkan aroma maksimal ketika diseduh, dan proses pengeringan akhir. Setelah proses pengeringan akhir, bobot campuran teh dan melati berkurang karena saat itu juga terjadi pemisahan dengan bunga melati dan berkurangnya kadar air yang disebabkan oleh pengeringan. Proses pembuatan teh instan diawali dengan mendidihkan air untuk diseduh pada teh, kemudian disaring. Filtrat yang telah dingin mengalami pencampuran dengan maltodekstrin 10% (b/v). Maltodekstrin merupakan salah satu produk turunan pati yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial oleh enzim -amylase. Pencampuran maltodekstrin pada teh bertujuan untuk enkapsulasi tanin agar tidak mudah teroksidasi sehingga mampu meningoptimalkan fungsi teh sebagai antioksidan alami. Warna bubuk yang dihasilkan yaitu cream, sebagai hasil dari enkapsulasi tersebut. Pada industri, penambahan maltodekstrin sebagai campuran teh bermanfaat untuk menambah volume bubuk teh sehingga perusahaan mendapat keuntungan yang lebih besar. Namun maltodekstrin memiliki kelemahan yaitu strukturnya yang merupakan gula sederhana, memiliki nilai kalori yang lebih tinggi sehingga kurang baik untuk orang yang menderita kegemukan. Campuran filtrat teh dan maltodekstrin dijadikan dalam bentuk bubuk dengan bantuan spray dryer. Spray dryer merupakan alat pengering yang digunakan untuk menghasilkan bahan berbentuk butiran halus (bubuk) dari bahan masukan yang berupa cairan.

B. Saran Teh yang dihasilkan baik original maupun turunannya, bisa dijadikan produk bernilai tambah tinggi misalnya menjadikannya bubble tea, mengolah teh dengan variasi seperti adanya penambahan susu, dan sebagainya. Pembuatan produk ini bisa dilakukan di laboratorium dengan ketentuan peralatan dan bahan yang memadai. Peralatan di laboratorium ini sudah lengkap namun jumlahnya terbatas sehingga membutuhkan waktu menunggu yang lama jika banyak praktikan yang akan memakai alatnya. Selain itu beberapa timbangan susah untuk dioperasikan, baik neraca digital maupun neraca kasar. Kondisi tersebut diharapkan bisa diperbaiki agar praktikum berjalan lancar sesuai dengan tujuannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahira, Anne. 2012. Spray Drying untuk Membuat Minuman Serbuk [Terhubung berkala] http://www.anneahira.com/minuman-serbuk.htm. (5 Oktober 2012) Anonim. 2012. Teh Melati [Terhubung berkala] http://id.wikipedia.org/wiki/Teh_melati. [2 Oktober 2012]

Arifin, S. 1994. Petunjuk Teknis Pengolahan Teh. Bandung: Pusat Penelitian The dan Kina Gambung. Hartoyo, Arif. 2003. Teh dan Khasiatnya Bagi Kesehatan. Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS.

Rosyadi, Achmad Imron. 2001. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya Untuk Memproduksi Teh Hitam Berkelanjutan. Bandung: Disertasi, Universitas Padjajaran.

SNI 01-1902-1990.

SNI 01-3945-1995.