Anda di halaman 1dari 3

DEMOKRASI

Ringkasan Materi
A. Pengertian Demokrasi
Secara etimologis, demokrasi berasal dari kata Yunani demos yang berarti rakyat dan kratos/kratein yang berarti kekuasaan atau berkuasa. Demokrasi dapat diterjemahkan menjadi rakyat yang berkuasa atau pemerintahan rakyat. Dengan kata lain demokrasi berarti pemerintahan yang dilaksanakan oleh rakyat baik langsung (melalui perwakilan) setelah melalui proses pemilihan umum yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber dan jurdil). Dalam system pemerintahan demokrasi, kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat. Sehingga secara singkat demokrasi dapat diartikan mengacu pada pendapat Abraham Lincoln yakni: suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat (the government from the people, by the people and for the people). Dalam pelaksanaannya demokrasi dapat dibedakan menjadi: 1. Demokrasi langsung: yaitu suatu demokrasi dimana rakyat secara langsung menggunakan haknya dalam menetapkan kebijakan politik. 2. Demokrasi tidak langsung: yaitu rakyat menggunakan hak-haknya melalui orang-orang yang dipercaya, yang duduk dalam lembaga perwakilan rakyat.

B. Sistem dan Praktik Demokrasi di Indonesia


Pendiri negara Indonesia telah memilih demokrasi menjadi pilihan politik yang diyakini sebagai salah satu bentuk sistem politik yang terbaik untuk mencapai efektivitas penyelenggaraan pemerintahan negara. Namun dalam kenyataannya hampir dalam kurun waktu enam puluh tahun Indonesia merdeka, praktik kehidupan demokrasi masih mengalami pasang surut seiring dengan arah dinamika pembangunan politik yang masih dalam proses menentukan format sistem politik ideal yang sesuai dengan cita-cita demokrasi. Praktik kehidupan demokratis sebagaimana banyak terjadi di negaranegara berkembang, termasuk di Indonesia sering terkecoh pada format politik yang kelihatannya demokratis, tetapi dalam prakteknya terwujud otoriter. Seiring perkembangan yang terjadi di masyarakat, sering terjadi warga yang seenaknya main hakim sendiri. Pada saat yang sama ada sekelompok masyarakat mengorganisasi diri untuk memaksakan nilai hukum yang diyakini pada kelompok lain. Ini menunjukkan adanya kesulitan-kesulitan dalam mencari identitas baru sebagai bagian dari sebuah kekuatan politik. Oleh karenanya dalam kondisi semacam ini, diperlukan polisi lalu lintas yang berintegritas tinggi untuk menjaga agar dialektika politik menuju tatanan baru itu tetap dalam koridor hukum. Sang polisi dituntut agar mampu mengawal proses demokrasi ini dengan kesadaran rasionalitas yang tinggi disertai itikad untuk membangun suatu peradaban bangsa yang lebih demokratis.

Studi Kasus
Tepat di jantung ibukota kawasan Segitiga emas, Sudirman, Jakarta. Ribuan mahasiswa yang sebelumnya menggelar aksi ini didepan gedung DPR menggelar aksi unjuk rasa. Aksi penolakan kenaikan harga BBM serta solidaritas atas kematian mahasiswa UNAS, Maftu Fauzi berlangsung ricuh. Di depan kampus Atmajaya mahasiswa melampiaskan protes dengan merazia sejumlah mobil plat merah milik instansi pemerintah. Mobil milik kementrian riset teknologi ini akhirnya menjadi korban. Seluruh kaca mobil pecah sebelum akhirnya digulingkan ditengah jalan. Pengendara mobil yang melihat kendaraannya dirusak mahasiswa tidak mampu berbuat banyak. Aksi yang berlangsung sejak pukul lima sore ini terus berlanjut hingga pukul tujuh malam. Tidak puas melakukan aksi perusakan, mahasiswa akhirnya membakar mobil naas ini. Meski berlangsung lebih dari dua jam, polisi tidak mampu berbuat banyak menghadapi aksi mahasiswa. Kepolisian pun tidak berbuat apa-apa mencegah aksi perusakan yang berujung pembakaran mobil ini. Padahal aksi hanya berjarak sepelemparan batu dari kepolisian daerah Polda Metrojaya. Meski terkesan terlambat, kerusuhan didepan kampus Atmajaya Semanggi, Jakarta berakhir setelah polisi membubarkan paksa aksi mahasiswa. Kerusuhan selam dua jam yang terjadi didepan kampus Atmajaya kawasan Semanggi Jakarta akhirnya berakhir setelah polisi menurunkan pasukan gabungan, pasukan pengendali masa dan pasukan tanpa seragam. Enambelas mahasiswa ditangkap secara paksa. Selain mobil yang hangus terbakar, kerusuhan di jantung ibukota ini mengakibatkan delapan mobil lainnya rusak, enambelas polisi dan lima orang warga dilaporkan terluka. Sebelumnya kerusuhan juga terjadi didepan gedung DPR-RI Senayan Jakarta. Ribuan mahasiswa tumpah ruah didepan gedung wakil rakyat ini dan mereka menolak kenaikan harga BBM serta memprotes polisi atas kematian mahasiswa UNAS, Maftu Fauzi. Mahasiswa juga sempat melanjutkan aksi dengan memblokir jalan serta menurunkan paksa penumpang bus kota. Sebuah mobil polisi juga menjadi sasaran amuk mahasiswa. Sementara ribuan mahasiswa lain melanjutkan aksi ke arah Semanggi. Aksi berlanjut didepan Universitas Atmajaya yang juga berakhir dengan kerusuhan. Setelah melalui proses panjang, sidang paripurna DRP-RI memutuskan mengajukan hak angket kepada presiden. Seluruh fraksi kecuali Golkar dan Demokrat sepakat mempertanyakan kebijakan presiden menaikkan harga BBM. Sementara sidang paripurna berlangsung didepan gedung wakil rakyat, ribuan mahasiswa dan masyarakat memaksa memasuki gedung DPR-MPR untuk menolak kenaikan harga bahan bakar minyak. Kericuhanpun tidak terelakkan, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan masa yang membalas dengan lemparan batu. Meski masa akhirnya membubarkan diri, kericuhan berlanjut di kawasan Semanggi.

Telaah Materi
Dari kasus diatas, banyak didapatkan peristiwa yang tidak sesuai dengan sistem demokrasi di Indonesia. Negara demokratis warganya bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas, namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis tidak dapat dikatakan adil apabila warga yang berjumlah 51% diperbolehkan menindas penduduk yang sisanya 49%. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan atas hak asasi manusia. Kelompok mayoritas dapat melindungi kaum minoritas. Hak-hak minoritas tidak dihapuskan oleh suara mayoritas. Semua kelompok, golongan atau warga negara hendaknya mendapat perlindungan hukum atau mendapat jaminan menurut undang-undang.