P. 1
teknik irigasi dan drainase

teknik irigasi dan drainase

|Views: 207|Likes:
Dipublikasikan oleh Adynda Putri Pamungkas

More info:

Published by: Adynda Putri Pamungkas on Mar 09, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

IRIGASI DAN DRAINASE

Dr. Ir. Ruslan Wirosoedarmo,MS
Evi Kurniati, STP.MT.
• Pendahuluan:
- Irigasi: adalah kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan usaha
mendapatkan air untuk keperluan
tanaman dan mengganti air yang
hilang di lahan pertania.
- Drainase: adalah kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan usaha
mengurangi air berlebih dilahan
pertanian sampai jumlah yang diperlukan
tanaman dengan cepat dan aman
• Pembangunan Irigasi di Indonesia:
- Meningkatkan produksi pangan
- Mengamankan daerah Pertanian
- Mengatasi Persoalan penduduk
• Peningkatan Produksi:
- Perbaikan dan pemeliharaan jaringan
- Pembangunan Jaringan
- Pengembangan daerah rawa
• Tujuan umum Irigasi:
- Menambah air yang hilang di lahan
pertanian
- Memupuk areal pertanian

• Tujuan Khusus irigasi:
- Alat transportasi
- Menagtur suhu tanah
- Meningkatkan kualitas air
- Membersihkan Tanah
- Menambah air tanah
- Memberantas hama dalam tanah
- Membersihkan air buangan dar kota

• Tujuan umum drainase:
- Menurunkan muka air tanah
- Memperbaiki kondisi lingkungan
tanah
- Pengolahan tanah dan penanaman
lebih awal
- Memeperbaiki kapasitas infiltrasi
- Mengurangi dan mencegah akumulasi
garam
- Memperbaiki suhu tanah
- Memperbaiki aerasi didaerah perakaran
• Tujuan khusus:
- Memperbaiki pertumbuhan tanaman
- Pengolahan tanah
- Memperbaiki suhu tanah
- Meningkatkan infiltrasi
- Memperbaiki kehidupan mikroorganisme
tanah
- Mengurangi run off dan erosi
- Mengurangi akumulasi atau racun dalam tanah
• Kondisi air di bumi:
* 1400 x 1015 m3 atau 1400 x 106 km3
- 97 % air asin
- 3% air tawar:
- 75% berupa es
- 24% air tanah
- 1 % di atmosfer, danau,
sungai, partikel tanah atas.
• Siklus hidrologi:
- Hujan
- Evaporasi dan transpirasi
- Infiltrasi dan perkolasi
- Limpasan permukaan (run off)
• Kebutuhan air irigasi tergantung;
- Tanaman
- Tanah
- Iklim
- Pengelolaan
- Jumlah air

• IKLIM:
- CURAH HUJAN
- TEMPERATUR
- KELEMBABAN
- KECEPATAN ANGIN
• Tanah:
- Kandungan Liat
- Bahan organik
- Kimia tanah
- Fisik tanah
- Mikroorganisme tanah
• Tanaman:
- Jenis tanaman: - :tanaman padi
- tanaman palawija
- tebu
- tembakau
- dll
- Varietas tanaman:
Padi : PB, IR, dll.
Jagung : j.Manis, bisi dll.
Kedelai : wilis dll.

• Pengelolaan:
- Pengolahan tanah
- Pemupukan
- Pemberantasan hama dan penyakit
- Pola dan tata tanam
• Pengaruh kelebihan air di lahan pertanian
- Pada pertumbuhan tanaman
- Kehidupan mikro organisme tanah
- Suhu dan pengolahan tanah
- Salinitas
- Aliran permukaan dan erosi

• II. Perataan Lahan
- Topografi lahan
- Kemiringan lahan
- Sumber air
• Macam perataan lahan
- Kasar : permukaan tanah
bergelombang besar
- Medium : permukaan tanah
bergelombang menengah
- Halus : permukaan tanah, hasil
olahannya sangat halus
• Kreteria Perataan lahan
- Sifat Tanah
- Metode irigasi
- Topgrafi lahan
- Curah hujan
- Pola tanam
- Keinginan petani
• Jenis tanah
- Kedalaman lapisan tanah atas
- Macam tanah
- Kedalaman lapisan kedap air
- Bahan induk
- Kemampuan infiltrasi
- Konduktifitas hidraulik tanah
Topografi lahan
- Derajat kemiringan
- Bentuk permukaan tanah
- Arah kemiringan
- Bentuk lahan
• Curah hujan
- Jumlah hujan
- intensitas hujan
- frekuensi hujan
- Lama hujan
• Pola Tata tanam dan pola tanam
- Jenis tanaman
- Luas lahan
Pola tata tanam: adalah macam tanaman
yang diusahakan dalam satu satuan
luas pada satu musim tanam
Pola tanam: adalah susunan tanaman yang
diusahakan dalam satu satuan luas pada satu tahun


• Sistem irigasi
- Irigasi permukaan (surface irigation)
- Irigasi curah (sprikler irigation)
- Irigasi tetes (trikler irigation)
• Pemilihan sistem irigasi
- Sumber air
- Tenaga kerja
- Biaya
- Kondisi tanah
- Keinginan petani
• Cara perataan lahan
- Rancangan cara mendatar
- Rancangan cara profil
- Rancangan cara pengawasan rencana
- Rancangan cara penyesuaikan kontur
• Rancangan cara mendatar
- Menentukan pusat kebun
- Menentukan elevasi titik pusat
- Menentukan kemiringan bidang
- Menentukan ketinggian bidang
- Menghitung jumlah tanah yang
dipotong dan ditambahkan
• MENGHITUNG VOLUME TANAH
- Cara petak segi empat bujur sangkar

Vc= L2( C)2/4( c + F)

Vf= L2( F)2 / 4( C + F)
Vc = volume tanah yang dipotong (m3)
Vf = volume tanah yang ditimbun (m3)
L = Jarak antara garis kisi (m3)
C = jumlah tebal potongan pada sudut titik
segi empat dari masing-masing petakan kisi
(m)
F = jumlah tebal bumbunan pada sudut titik segi empat dari
masing-masing petakan kisi (m)
• CARA LUAS SELURUHNYA

v = L ( A
1
+ A
2
) / 2

v = volume tanah yang dipotong atau
ditimbun (m
3
)
L = jarak tepian ujung satu terhadap
ujung lain dari petak yang dihitung(m)
A
1
= luas lahan yang dipotong atau yang
ditimbun pada tepian yang satu (m
2
)
A
2
= Luas lahan yang dipotong atau ditimbun pada
tepian yang lain (m
2
)
• PENGUKURAN AIR
a. Kondisi tenang: (liter, m3, cm Ha, dll)
- Kolam
- Tangki
- Reservoir
- Dll
b. Kondisi bergerak: l/dt, l/jam m3/dt,
cm ha/jam , dll)
- Saluran
- Sungai
- Dalam pipa
- Dll.
• Metode Pengukuran
- Pengukuran secara volumetrik
- Pengukuran kecepatan air
- Dengan bangunan irigasi (orifice,
weir, flume)
- Pengenceran bahan kimia
• Volumetrik
- volume ember (liter)
- waktu yang digunakan (dt)


Q = volume/ waktu (liter/detik)
• Metode kecepatan aliran

Q = a x v

V = s/t

Q = debit (m3/dt)
a = luas saluran atau pipa yang dilalui air
(m2)
v = kecepatan aliran air (m/dt)
s = jarak lintasan (m)
t = waktu lintasan (dt)
• Menggunakan Carrent Meter
- Mengukur lebar permukaan air sungai
- Menetapkan letak (jarak) antar carrent
meter pada lebar permukaan air
- Mengukur kedalaman air mulai tepi
kanan saluran sampai bagian kiri
- Menentukan letak kedalaman current
meter
• Kedalaman Carrent Meter

1. d = 0,6 D Vm = V
0,6
2. d = 0,2 D
d = 0,8 D Vm =1/2 (V
0,2
+ V
0,8
)
3. d = 0,2 D
d = 0,6 D
d = 0,8 D Vm = ¼(V
0,2
+ 2 V
0,6
+ V
0,8
)
d = kedalaman current meter (cm)
D = kedalaman air sungai (cm)
Vm= kecepatan aliran air rata-rata (m/dt)
• Bangunan irigasi
a. Oriface
- Bebas
- Tertekan

V = 2gh
Q = A x V = A x 2gh
V = Cv x V A = Cc x A
= Cv 2gh
- Debit air Orifice bebas
Q = Cc A x V 2gh
= Cd A 2gh

Cv = koefisien kecepatan A = luas orifice teoritis A = luas sebenarnya
Cc = koefisien kontraksi V = kecepatan aliran air teoritis C = Kec. sebenarnya
Cd = koefisien pengaliran Q = debit air teoritis Q = Debit sebenarnya
• - Debit air Orifice tertekan

Q = Cd A 2g ( h1 – h2)

A = luas lubang orifice
Cd= koefisien pengaliran
g = percepatan gravitasi
h1= kedalaman air pada saluran 1
h2= kedalaman air pada saluran 2
• Menggunakan Ambang (weir)
- Kelas : - Puncak tajam (sharp crested)
- Puncak lebar (broad crested)
- Bentuk: - Persegi empat (rectangular)
- Trapesium (trapezoidal)
- Segi tiga (triangular)
• Rumus umum

Q = CLH
m


C = 0,615 ( 1 +1/H + 1,6)( 1 + 0 55 (H/P+H)2

H = tinggi air diatas ambang
P = tinggi ambang diatas dasar saluran
L = lebar ambang
m = suatu bilangan yang tergantung lebar ambang






• Rectangular Weir
- Suppresed rectangular weir:
lebar ambang = lebar saluran
- Contracted rectangular weir:
lebar ambang tidak sama lebar
saluran, bisa ditengah atau ditepi
• Bentuk pancaran pada bendung:
- Pancaran bebas
- Pancaran tertekan
- Pancaran tenggelam
- Pancaran melekat
• Menghitung debit berdasarkan Francis:
1. Suppresed rectangular weir

Q = 0,0184 LH
3/2
Atau
Q
= 3,33 LH
3/2

2. Contracted rectangular weir

Q = 0,0184 (L – 0,2 H) H
3/2
atau
Q = 0,0184 (L – 0,1 H) H
3/2


Q = 3,33 (L – 0,2 H) H
3/2
• Ambang trapesium
- Cipoletti
Q = 0,0186 LH
3/2
Atau
Q = 3,37 LH
3/2

Ambang Segitiga
- Thomson
Q = 0,0138H
5/2
Atau
Q = 2,49 H
5/2
• Penggunaan bahan kimia
Pembuatan larutan

C1(kons.larutan)=berat bhn/berat air

QCo + q C1 = (Q + q) C2
Q = q(C1-C2)/(C2-Co)
Co = konsentrasi bahan kimia di saluran
C1 = konsentrasi bahan kimia yang
dimasukkan dalam sungai
C2 = konsentrasi bahan kimia yang telah tercampur
sempurna dengan air sungai
• Flume
- Macam: - Bebas
- Tertekan
- Ciri : - Bagian menyempit
- Tenggorokan
- Bagian melebar
- Berdasarkan bentuk tenggorokan:
- Flume dengan tenggorokan panjang
- Flume dengan tenggorokan melengkung
- Flume dengan tenggorokan tajam
- Flume dengan tenggorokan persegi panjang (Parshall Flume)

• Rumus Umum

Q = K H
a
u

Q= debit air (m
3
/dt)
K= fungsi dari lebar tenggorokan(m)
Ha= kedalaman air(m)
u= tenaga yang dihasilkan air (1,522-1,60)
• Aliran air dalam pipa
- Aliran Vertikal
- Aliran horisontal:
Pipa diletakkan seinggi Y dari datum
Aliran air konstan
Jarak pancaran di sumbu X tetap

Y = gt2/2 t = 2y/g g= 9,81 cm/dt

X = Vot Vo= x/t Q = CA g/ 2y

Q = CAVo

• KEBUTUHAN AIR BAGI TANAMAN DAN IRIGASI
- Iklim
- Tanaman
- Taraf pertumbuhan tanaman
- Tanah

Iklim dan Tanaman referensi--ETo
ETo X Kc ------ ETcrop
ETcrop – Pef --- KAI

ETo = Evapotranspirasi potensial
Kc = taraf pertumbuhan tanaman bulanan
ETcrop= Evapotranspirasi tanaman
Pef = curah hujan efektif
KAI = kebutuhan air irigasi
• Difinisi:
- Evaporasi
- Traspirasi
- Evaporasi aktual
- Evaporasi potensial
- Transpirasi aktual
- Transpirasi potensial
- Evapotranspirasi aktual
- Evapotranspirasi potensial
• Iklim: - Sinar matahari
- Temperatur udara
- Kelembaban udara
- Kecepatan angin
• Kondisi tanah dan pertumbuhan tanaman
1. faktor lingkungan dalam tanah
- sifat fisik tanah
- air dalam tanah
- udara dalam tanah
- temperatur tanah
2. sifat fisik tanah
- tekstur tanah
- struktur tanah
- kesuburan tanah
• Aerasi dalam tanah:
Hubungannya dengan: - oksigen
- karbon dioksida
- air
Temperatur tanah berpengaruh pada:
- Proses asimilasi, pernapasan,
transpirasi, photosintesa
- reaksi kimia dalam tanah dan tanaman
- air tersedia bagi tanaman
- perkembangan biji dalam tanah
• 3. Air dalam tanah
- Air tersedia
- Air tidak tersedia
- Air berlebihan
Jumlah air yang ditahan tanah tergantung:
- bahan organik
- tekstur tanah
- kandungan liat
• Tanaman: - Jenis tanaman
- Varietas tanaman

Taraf Pertumbuhan Tanaman:
- Taraf awal : Tanam – 10% kanopi nutup
tanah
- Taraf pengembangan: 10% - (70-80)%
- Taraf pertengahan : pengembangan –bunga
- Taraf akir : Pertengahan - panen
• Menghitong Evapotranspirasi Potensial
1. Menggunakan data evaporasi panci
- Menghitung rata –rata evaporasi
harian
- Menghitung koefisien panci
- Panci klas A
- Panci Sunken Korolado

ETo = E pan X K panci
• Blaney-Criddle

ETo = p ( 0,4 Tr + 8 )

ETo = evapotranspirasi potensial
(mm/hari)
Tr = temperatur rata-rata harian (oC)
p = rata-rata presentase jam penyinaran
matahari (dari tabel)

Rata-rata Tmax = Jumlah Tmax / jumlah hari

Rata-rata Tmin = Jumlah Tmin / jumlah hari

Tr = rata-rata Tmax – Tmin /2
• Thornthwaite

ETo = 1,6 ( 10T/I ) a

I = indek panas tahunan dengan bulan
ke i
i = ( t/5)1,514 - I = (t/5)1,514
a= 675 x 10 -9 I3 – 77 X 10-6 I2 + 0,0179 I +
0,49239
• Jensen-Haise

ETo ( 0,025 T + 0,08 ) Hsh/59

Hsh = H sh top( a + b n/N)

Hsh top = radiasi gelombang pendek
tanpa ada awan
n = lama penyinaran matahari aktual
N = maksimum lama penyinaran matahari
a & b = konstanta yang tergantung musim dan
tempat (lihat tabel)
• Penman
1. ETo = C(W Rn + (1-W)f(u)(ea – ed)

ETo = evapotranspirasi potensial
W = faktor temperatur
Rn = radiasi total setara dengan dengan
evaporasi
f(u) = fungsi angin
(ea-ed)= perbedaan tekanan uap jenuh pada
temperatur udara rata-rata dan tekanan uap
sesungguhnya (mBar)
C = faktor pengendalian pengaruh cuaca siang dan
malam
ea = tekanan uap jenuh pada temperatur rata-rata (lihat tabel)
ed = ea x RH rata-rata
• Total Periode Pertumbuhan

Tanaman Total P. Pertumbuhan
(hari)

Kapas 180 – 195
Jagung manis 80 - 110
Jagung Biji 125 – 180
Kedelai 135 – 150

• Taraf pertumbuhan tanaman
Tanaman total Taraf P. Tanaman
awal peng. Pert. Akhir

Kapas 180 30 50 55 45
Jagung: m 80 20 25 25 10
110 20 30 50 10
Jagung: b 125 20 35 40 30
180 30 50 60 40
Kedelai 135 20 30 60 25
150 20 30 70 30
• Koefisien tanaman (Kc)
Tanaman Koefisien tanaman (Kc)
Awal Peng. Pert. Akhir
Kapas 0,45 0,75 1,15 0,75
Jagung:m 0,40 0,80 1,15 1,00
b 0,40 0,80 1,15 0,70
Kedelai 0,35 0,75 1,10 0,60
Tembakau 0,35 0,75 1,10 0,90

Nilai Kc akan kurang 0,05 jika RH > 80% dan kecepatan
angin (u) < 2 m/dt
Nilai Kc akan bertambah 0,05 jika RH < 50 % dan kecepatan angin
(u) > 5 m/dt
• Kc Padi

Taraf Angin
Lambat Kencang
kering lembab kering lembab
0-60hr 1,1 1,1 1,1 1,1
60 -120 1,2 1,05 1,35 1,30
30hr sbl 1,0 1,0 1,0 1,0
panen




• Curah hujan efektif (Pef)

Pef = 0,8 P – 25 -- P> 75 mm/hari

Pef = 0,6 P – 10 -- P< 75 mm/hari

P = curah hujan harian
Pef = Curah hujan efektif
• Contoh perhitungan kebutuhan air
tanaman Jagung dan untuk Irigasi
- Kelembaban udara medium
- Kecepatan angin medium
- Tanggal tanam 1 Juli
- Umur tanaman 130 hari


• Taraf pertumbuhan dan Kc tanaman
Taraf Kc
- T awal 20 0,40
- T Perk 35 0,80
- T Pert. 45 1,15
- T akhir 30 0,70
• Taraf pertumbuhan per bulan:
Juli: - 20 hari; kc = 0,40
- 10 hari ; kc = 0,80
kc Juli = (20/30 x 0,40) + (10/30 x 0,80)
= 0,55
Agustus: 25 hari ; kc = 0,80
5 hari ; kc = 1,15
kc Agustus = (25/30 x 0,080) + (5/30 x
1,15)
= 0,85
Demikian sama untuk bulan September, Oktober dan
Nopember
• Tahapan perhitungan kebutuhan air
Bulan Juli Agus Sep Okt Nop
ETo (mm/bl) 6,0 5,6 5,8 5,6 5,3
kc pert. 0,4 0,80 1,15 0,70
kc/bl 0,55 0,85 1,15 0,85 0,70
ETcrop (mm/hr) 3,30 4,80 6,70 4,80 3,70
ETcrop (mm/bl) 99 144 201 144 37
P (mm/bl) 144 40 16 0 0
Pef (mm/bl) 90 14 0 0 0
KAI (mm/bl) 9 130 201 144 37
KAI (mm/hr) 0,3 4,3 6,7 4,8 3,7
• Menghitung kebutuhan air untuk padi
1. Air untuk penjenuhan(SAT)= 200mm
2. Pengganti air perkolasi:
- tanah liat = 4mm/hari
- tanah pasir= 8mm/hari
- rata-rata = 6mm/hari
3. Air untuk penggenangan (WL)=100mm
KAI = ETcrop + SAT + Perk + WL - Pef
• Penjawalan atau pergiliran air
1. Kapan air diberikan
2. Berapa banyak air diberikan:
- Jenis tanah
- Sumber air
- Jenis tanaman
- Tenaga
- Kondisi iklim
• Perkiraan jumlah air dapat dimanfaatkan
(IN mm)
Tanah/Tan Dangkal Sedang Dalam
Dangkal 15 30 40
(pasir)
Sedang 20 40 60
(lempung)
Dalam 30 50 70
(liat)

Contoh: -dangkal : bawang, kentang dll
-sedang : k. tanah, kedelai, tomat dll.
-dalam : kapas, jagung, melon
• Penjadwalan air
1. Pengamatan di lapangan
2. Estimasi
3. Perhitungan

Estimasi : - tipe tanah: dangkal, sedang
dalam
- Iklim:
1. ETo = 1- 5 mm/hari;

temp=<15
o
C
2. ETo = 6 – 7 mm/hari;
Temp. 15 – 25
o
C
3. ETo = 8 – 9 mm/hari; Temp = > 25
o
C
• Contoh Estimasi interval irigasi
Tan T pasir T lemp T liat
inter IN inter IN inter IN
(hr) (mm) (hr) (mm) (hr) (mm)
1 2 3 1 2 3 1 2 3
Pisang 5 3 2 25 7 5 4 40 10 7 5 55
Kapas 8 6 4 40 11 8 6 55 14 10 7 70
K tanah 6 4 3 25 7 5 4 35 11 8 6 50
Kedelai 8 6 4 40 11 8 6 55 14 10 7 70
Jagung 8 6 4 40 11 8 6 55 14 10 7 70
• Perhitungan
Tahap 1. estimasi d net dan d gross dari
kedalaman irigasi yang diberikan
(mm)
2. menghitung jumlah air yang
dibutuhkan dalam satu periode
(IN) mm
3. menghitung jumlah pemberian air
4. menghitung interval irigasi
• Dasar perhitungan
1. total jumlah air yang dibutuhkan selama
periode pertumbuhan
2. jumlah air per bulan yang paling tinggi
dalam satu periode pertumbuhan
3. kombinasi 1 dan 2
Dengan pertimbangan
- jenis tanaman
- tipe tanah
- cara irigasi
- efisiensi pemberian air: permukaan (60%); curah(75%);
tetes (90%)
- tanggal tanam
• Contoh soal
Tentukan penjadwalan irigasi tanaman
kacang tanah berdasarkan
1. total periode pertumbuhan
2. bulan kebutuhan air tertinggi
3. kombinasi 1 dan 2
Tanaman ditanam pada tanah lempung
dengan irigasi alur. Kacang tanah tersebut ditanam pada
tanggal 15 juli dengan umur 130 hari dengan kebutuhan
air irigasi adalah sebagai berikut: juli, agustus, sep.,
Okt., Nop., dan total masing-masing 38, 115, 159, 170,
45 dan 527 mm/bl.
• Perhitungan: 1. berdasarkan total
d gross = 100 d.net/eff
total IN = 38 + 115 + 159 + 170 + 45
= 527 mm
jumlah pemberian air = 527/40 = 13,2
= 13 kali
interval pemberian = 130/13 = 10 hari


• juli Agus Sep. Okt. Nop Ttl
IN (mm/bl) 38 115 159 170 45 527
Jml pemb 2 3 3 3 2 13
d net (mm/bl) 80 120 120 120 80 520
d net – IN +42 + 5 -39 - 50 +35 -7
• 2. Berdasarkan kebutuhan paling tinggi
Cara perhitungan sama dengan diatas
sehingga dapat dituliskan sbb:

Sep. Okt. Total
IN (mm/bl) 159 170 329
jumlah pemberian = 329/40 = 8,2 = 8 kali
interval pemberian = 60/8 = 7,5 = 7 hari
total pemberian = 130/7 = 19 kali
• Jul. Agus. Sep. Okt. Nop. Ttl
IN (mm/bl) 38 115 159 170 45 527
jml pemb. 3 4 4 4 4 19
d net (mm/bl)120 160 160 160 160 760
d net – IN + 82 + 45 +1 -10 +115 242
• 3. kombinasi 1 dan 2
jumlah pemberian = 329/40 = 8,2 = 8 kali
interval pemberian = 60/8 = 7,5 = 7 hari
sisa IN = 527 – 329 = 198
jumlah pemberian = 198/40 =4,9 = 5 kali
interval pemberian = 70/5 = 14 hari
• Evaluasi
Jul. Agus. Sep. Okt. Nop. Ttl
IN (mm/bl) 38 115 159 170 45 527
Jml pemb. 1 3 4 4 1 13
d net(mm/bl) 40 120 160 160 40 520
d net – IN -2 +5 +1 -10 -5 -11
• Sistem Eksploitasi Air irigasi
- Sistem Pasten:nilai rata-rata pemberian
air minimum yg diijinkan untuk
tanaman palawija (l/dt/ha pol.)
dimana kehilangan air dimulai
dari sawah sampai ke pintu air
pemasukan primer dimasukkan
dalam perhitungan

Paten = Q/ LPR x K1 x K2 x K3----- x Kl
• Luas polowijo relatif (LPR): suatu angka
hasil perbaandingan antara kesatuan
luas baku terhadap polowijo yang
didasarkan pada jumlah kebutuhan
satuan air terhadap tanaman lain
Contoh : polowijo 1
pembenihan gadu ijin 20
garapan tanah gadu ijin 6
tanaman padi 4
padi gadu tak ijin 1
tebu muda dan tua 1,5 dan 0
tebu bibit, tembakau dan rosella 1,5 ; 1; dan 1
bero 0

• Faktor polowijo relatif (FPR)
yaitu rata-rata pemberian air minimum
yang diijinkan dimana tanaman
polowijo dapat tumbuh tanpa
memperhatikan kehilangan baik di
saluran maupun di sawah

FPR = Q/LPR
• Contoh perhitungan
Garapan I
- padi gadu 60 ha LPR = 4 x 60 = 240ha
- polowijo 23 ha LPR = 1 x 23 = 23 ha
- bero 0 ha LPR = 0 x 0 = 0 ha
- tebu tua 11 ha LPR = 0 x 11 = 0 ha
Total = 263ha
• Garapan II
- padi gadu 44 ha LPR = 4x44 = 176ha
- polowijo 5ha LPR = 1x5 = 5 ha
- bero 4ha LPR = 0x4 = 0 ha
- tebu tua 21ha LPR = 0x21 = 0 ha
Total = 181ha
Debit air tersedia 135 l/dt
Total LPR = (263 + 181)ha = 444ha
FPR = Q/LPR = 135/444 = 0,3 l/dt/ha pol
0,25 l/dt/ha pol = baik
0,20 l/dt/ha pol = cukup
0,15 l/dt/ha pol = kurang (giliran)
• Perencanaan saluran terbuka
Harus memperhatikan
1. volume aliran air maksimum yang
mungkin terjadi
2. kemampuan ketahanan bahan saluran
terhadap daya rusak aliran air
Q = V x A
• Kecepatan dan luas aliran air dipengaruhi
1. Ukuran saluran
2. Bentuk saluran
3. Kemiringan dasar saluran (gradient)
4. Kekasaran permukaan saluran
5. Radius hidraulik saluran
6 Kemiringan tebing saluran (talud)
• Persamaan pergerakan air
1. Kontinuitas
Q = A1 V1 = A2 V2
2. Persamaan Bernoulli



dimana :
P = teakanan pada suatu titik
Y = elevasi dari garis datum
hL = kehilangan tinggi tekan air
W = berat dari tiap satuan volume air
V = kecepatan aliran air
g = percepatan akibat gravitasi


L
H Y
W
P
g
V
Y
W
P
g
V
+ + + = + +
2
2 2
1
1 1
2 2
Kehilangan tinggi tekan dihitung sbb:


Dimana:
f = fungsi kehilanagan friksi
L = jarak antara dua titik
d = diameter saluran
V = kecepatan tara-rata aliran air
gd
LV
f h
L
2
2
=
• Perhitungan volume air pada saluran trapesium:
1. Keliling basah saluran
P = b + c + c
2. Luas basah saluran


3. Radius hidraulik
R = a/P
4. Kemiringan dasar saluran
S = h/l

5. Lebar dasar saluran b = 2 d tan

2
) ( d t b
a
+
=
2
u
• Kecepatan aliran air
1. Menurut Chezi

2. Menurut Darcy- Weisbach


dimana:
c = nilai konstanta bentuk saluran
f =koefisien kekasaran Darcy - Weisbach
RS c V =
f
RS g
V
8
=
• Nilai bentuk saluran (C) dapat dihitung:















• Q = V A
n
R
C
6 / 1
=
RS C V =
2 / 1 2 / 1
S R C
2 / 1 2 / 1
2 / 1
S R
n
R
V =
2 / 1 3 / 2
1
S R
n
V =
=
• Rembesan air di saluran:
Merupakan aliran air jenuh tak tertekan
artinya bahwa tekanan air sama dengan
tekanan atmosfer dan merupakan aliran
horizontal
Pengukuran:
a. inflow – outflow
b. Seepage mater
c. Permeabilitas tanah
• Asumsi volume aliran air dalam tanah
menurut Dupuit – Forcheimer
1. Aliran air vertikal dalam tanah kecil di
bandingkan dengan aliran horizontal,
sehingga dapat diabaikan
2. Debit aliran air pada bidang vertikal
sama dengan kedalaman air
• Menghitung aliran air dalam bidang
vertikal:
h q Q
x x
=


dx
dh
K q
x
÷ =

dx
dh
h K Q
x
÷ =
• Debit aliran air dalam bidang Tanah:
dx
dh K
dx
dh
K Q
x
2
2
2
2
1
÷ = ÷ =

1
2
2
C x
K
Q
h
x
+ ÷ =


K
Q
dx
dh
x
2
2
÷ =
• Dengan Kondisi Batas:
X = 0 ---------
X = L ---------
2
1
2
2
1
2
1
2
h L
K
Q
h
C h
x
+ ÷ =
=

( )
( )
2
2
2
1
2
2
2
1
2
2
h h
L
K
Q
h h L
K
Q
x
x
÷ =
÷ =
L
h h
2
2
2
1
÷
>1
• Apabila ada Tambahan Air pada Tanah:

( ) x x Q x Q
x x
A + =

dx
dh
h K x Q Q
x
÷ = =

( ) x R x Q x x Q
x x
A = ÷ A + .


( )
R
x
x Q x x Q
x x
=
A
÷ A +
• Bilamana:
2 1
2 2
1
2
2
2 2
2
2 2
2
2
2
2
) (
C x C x
K
R
h
C x
K
R
dx
dh
K
R
dx
h d
dx
h d K
R
dx
dh
h K
dx
d
R
C x R Q R
dx
Q d
x
x
+ ÷ ÷ =
÷ ÷ =
÷ = ÷ ÷ =
÷ =
+ = ÷ =

• Dengan kondisi batas:
X = 0 ------------
X = L ------------
( )
L R
L
h h
K C
h L
K
C R
L
L
R
h
C h
2
2
2
2
1
1
2
1
1 2 2
2
2
2
1
÷
÷
=
+ ÷ ÷ =
=
( )
( )
2
1
2
2
2
1 2
2
1
2
2
2
1 2 2
2
2 2
2
h x
K
RL
L
h h
x
K
R
h x
RL
L
h h K
K
x
K
R
h
+
(
¸
(

¸

÷
÷
+ ÷ =
+
(
¸
(

¸

÷
÷
+ ÷ =
• Sehingga Dapat dituliskan sbb:
( )
(
¸
(

¸

÷
÷
÷ ÷ =
÷ =
K
RL
L
h h
x
K
R
dx
dh
h
dx
dh
h K Q
x
2
2
2
1
2
2

2 2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
RL
L
h h
K RX Q
K
RL
L
h h
X
K
R K
Q
x
x
+
|
|
.
|

\
| ÷
÷ =
(
(
¸
(

¸

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
÷
|
|
.
|

\
| ÷
+ ÷ ÷ =
• Bilamana:

2 1
h h =
( ) L x R
RL
x R Q
h x
K
RL
x
L
R
h
x
2 / 1
2
2
1
2 2
2
+ =
+ =
+ + ÷ =

• Pengukuran Air Dalam Pipa
- Aliran Pada Pipa Vertikal
- Aliran Pada Pipa Horizontal

53 , 0 99 , 1
35 , 1 25 , 1
15 , 3
47 , 5
s p
s p
h D Q
h D Q
=
=

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->