Anda di halaman 1dari 4

Moh.

Arief Rakhman NPM : 170120110011

Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Padjajaran 2012

Tugas Mata kuliah Politik dunia dan Globalisasi Prof. Budi Winarno, M.A,PhD:

Artikel permasalahan Internasional Kontemporer

KRISIS LAUT CINA SELATAN Laut China Selatan (South China Sea) yang membentang dari Singapura (Selat Malaka) sampai ke Selat Taiwan telah sekian lama menjadi sumber pertentangan bagi beberapa Negara seperti China, Malaysia, Filipina, Vietnam, Brunei Darussalam dan Taiwan. Negara-negara tersebut dengan dalih masing-masing mengklaim seluruh atau sebagian dari Laut Cina Selatan sebagai bagian dari teritorialnya. Cina sendiri terlihat sangat ambisius dengan klaim yang sangat luas. Didalam kawasan laut ini memang tersimpan sejumlah alasan kuat untuk diperebutkan. Sebut saja kandungan gas alam dan minyak bumi yang demikian melimpah tentulah akan menjadi keuntungan besar bagi pemenang dari konflik berkepanjangan ini. Selain itu, lautan ini merupakan salah satu perairan yang paling sibuk di dunia. Hampir setengah kapal-kapal dunia melalui Laut Cina Selatan yang merupakan penghubung penting perdagangan Asia dan Eropa. Sebagian besar diantara kapal-kapal tersebut berlayar dari kawasan Timur Tengah membawa muatan minyak bumi. Karenanya bagi banyak negara, kawasan ini sangat strategis untuk dijaga keamanannya. Laut Cina Selatan jelas sangat penting bagi kestabilan ekonomi dan politik global. Dengan kandungan alam dan kekayaan perairannya, tidak heran pula, kawasan ini sering menjadi sumber pertentangan dan konflik, sampai dengan menimbulkan letupan senjata. Terhitung sejak taun 1974 2002 terdapat 17 kali konflik senjata di Laut Cina Selatan, 12 diantaranya melibatkan Cina.

Moh. Arief Rakhman NPM : 170120110011

Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Padjajaran 2012

Posisi Indonesia
Di tahun 1990-an Cina menerbitkan peta resmi versi Cina yang mencaplok hampir seluruh perairan Laut Cina Selatan sampai ke perairan Natuna (lihat peta). Hal tersebut sepertinya sangat mengusik kedaulatan Indonesia. Sebagai respon, tahun 1996 Indonesia menggelar latihan militer besar-besaran di perairan kepualauan Natuna . Sampai saat ini Cina tidak pernah secara resmi menyampaikan kekeliruannya mengenai peta tersebut. Tak berapa lama kemudian Indonesia mulai mengeksplorasi gas alam di kawasan tersebut tanpa komentar apapun dari pihak Cina yang sebelumnya mengklaimnya. Tahun 2001, Indonesia mulai mengekspor gas melalui pipa bawah laut sepanjang 400 mil ke Singapura. Dengan semakin berkembangnya kekuatan Cina sebagai ekonomi kedua terbesar kedua setelah Amerika saat ini, berkembang pula pendapat dan kekuatiran akan agresivitas ambisi Cina dalam menyelesaikan konflik perbatasan, termasuk persoalan Laut Cina Selatan. Cina melalui retorika China peaceful rise memilih menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika dalam masalah tersebut. Cina sepertinya menyelesaikannya dengan negara-negara terkait. Akan tetapi dengan kondisi kekuatan dan dominasi yang tidak seimbang, Cina di atas kertas sepertinya akan menang mudah dan malah berpotensi mengundang ketidakstabilan kawasan Asia Tenggara. Cina merupakan negara dengan jumlah tentara terbesar di dunia. Anggaran militer Cina juga meningkat drastis dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia. Tidak berlebihan jika Cina merasa sebagai penguasa di kawasan Asia. Hal tersebut tersirat dari komentar seorang diplomat Cina di Singapura beberapa waktu lalu bahwa: Cina itu negara besar, sementara negara-negara (tetangga) lainnya hanyalah negara-negara kecil. Itu faktanya! Pernyataan ini menegaskan kembali semangat orde Cina yang baru di kawasan ini. Negara-negara yang terlibat dalam perseteruan ini juga sepertinya tidak tinggal diam. Satusatunya harapan yang ada adalah Amerika. Vietnam dan Amerika beberapa kali mengadakan latihan perang di kawasan Laut Cina Selatan. Tentu saja hal ini selalu mengundang kritik dari Cina bahwa Vietnam berusaha memancing-mancing.

Moh. Arief Rakhman NPM : 170120110011

Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Padjajaran 2012 Upaya China Menguasai Laut China Selatan Penguasaan wilayah Laut China Selatan tidak dapat disangkal lagi dapat memberikan China keunggulan di kawasan Asia Pasifik mulai dari kedaulatan wilayah, keunggulan dan energi sampai kemampuan strategis militer seperti proyeksi kekuatan dan daya penggentar nuklir. China sudah bertahun-tahun melancarkan aksi-aksi untuk mencapai keunggulan tersebut dan tampak tidak segan untuk menggunakan cara-cara yang legalitasnya dapat dipertanyakan. Meskipun begitu, kemampuan China melancarkan aksi ini terbatas karena adanya kekuatankekuatan penyeimbang seperti ASEAN dan hukum-hukum internasional seperti UNCLOS. Untuk mengakali keterbatasan tersebut China mengandalkan prinsip negosiasi bilateral yang digunakannya untuk menumbangkan negara-negara lawan secara satu demi satu untuk melemahkan kekuatan penyeimbang yang ada. Persoalannya bagaimana memastikan agar China tidak akan menggunakan kekerasan? Di sinilah pentingnya keterlibatan ASEAN sebagai sebuah organisasi internasional yang netral dan menjadi fasilitator bagi negara-negara yang bersengketa Amerika sendiri mengakui pentingnya Asia Pasifik dalam arah kebijakan politik luar negerinya. Bulan Desember 2011 lalu, menteri luar negeri, Hilary Clinton menyebut abad 21 ini sebagai Americas Pacific Century. Sebuah ungkapan tegas mengenai keinginan Amerika untuk terlibat aktif dalam setiap permasalahan strategis di kawasan ini. Hal ini tidak berlebihan mengingat strategisnya asia Pasifik bagi perekonomian dan politik global termasuk ekonomi Amerika sendiri. Di kawasan ini terdapat sejumlah perusahaan Amerika termasuk Freeport di Papua. Amerika bisa saja semakin kuatir dengan bayang-bayang Cina yang semakin menggenggam kawasan Asia. Rencana terdekat Amrika saat ini adalah menempatkan personil militer di Darwin (Australia Utara). Sekitar 2500 personil secara bertahap akan ditempatkan di kawasan yang hanya berjarak sekitar 800 km dari perbatasan Indonesia tersebut. Cina, di sisi lain, sudah berencana pula menghadang dengan menempatkan personil militer di Timor Timurhanya sejengkal dari Indonesia. Kebijakan ekonomi dan politik Cina peaceful rise memang patut dipertanyakan. Tetapi yang lebih penting dari itu, sejauh mana pihak Indonesia

Moh. Arief Rakhman NPM : 170120110011

Program Pasca Sarjana Ilmu Hubungan Internasional

Universitas Padjajaran 2012 merespon dan mewaspadai perkembangan ini. Indonesia yang sudah lama dikenal sebagai stabilisator penting kawasan Asean dan Asia memiliki peran signifikan dalam isu in