Anda di halaman 1dari 7

Karbohidrat Karbohidrat diklasifikasikan menjadi monosakarida (glukosa, galaktosa, dan fruktosa), disakarida (maltosa, laktosa, sukrosa), oligosakarida dan

polisakarida (amilum/pati). Dalam kondisi sehari-hari, ada tiga sumber utama karbohidrat dalam diet makanan, yaitu sukrosa (gula pasir), laktosa (gula susu) dan pati/starch (gula tumbuhan). Pencernaan karbohidrat dimulai semenjak berada di mulut. Enzim ptyalin (amilase) yang dihasilkan bersama dengan liur akan memecah polisakarida menjadi disakarida. Enzim ini bekerja di mulut sampai fundus dan korpuslambung selama satu jam sebelum makanan dicampur dengan sekret lambung. Enzim amilase juga dihasilkan oleh sel eksokrin pankreas, di mana ia akan dikirim dan bekerja di lumen usus halus sekitar 15-30 menit setelah makanan masuk ke usus halus. Amilase bekerja dengan cara mengkatalisis ikatan glikosida (14) dan menghasilkan maltosa dan beberapa oligosakarida. Setelah polisakarida dipecah oleh amilase menjadi disakarida, maka selanjutnya ia kembali dihidrolisis oleh enzim-enzim di usus halus. Berbagai disakaridase (maltase, laktase, sukrase, dekstrinase) yang dihasilkan oleh sel-sel epitel usus halus akan memecah disakarida di brush border usus halus. Hasil pemecahan berupa gula yang dapat diserap yaitu monosakarida, terutama glukosa.

Sekitar 80% karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa, sisanya galaktosa dan fruktosa. Glukosa dan galaktosa diserap oleh usus halus melalui transportasi aktif sekunder. Dengan cara ini, glukosa dan galaktosa dibawa masuk dari lumen ke interior sel dengan memanfaatkan gradien konsentrasi Na+ yang diciptakan oleh pompa Na+ basolateral yang memerlukan energi melalui protein pengangkut SGLT-1. Setelah dikumpulkan di dalam sel oleh pembawa kotranspor, glukosa dan galaktosa akan keluar dari sel mengikuti penurunan gradien konsentrasi untuk masuk ke kapiler darah. Sedangkan frukosa diserap ke dalam sel melalui difusi terfasilitasi pasif dengan bantuan pengangkut GLUT-5. Lemak Lemak merupakan suatu molekul yang tidak larut air, umumnya berbentuk trigliserida (bentuk lain adalah kolesterol ester dan fosfolipid). Pencernaan lemak dilakukan oleh lipase yang dihasilkan oleh sel eksokrin pankreas. Lipase yang dihasilkan pankreas ini akan dikirim ke lumen usus halus dan menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan monogliserida. Selain dihasilkan oleh sel lipase pankreas, juga diketahui bahwa lipase juga dihasilkan oleh kelenjar lingual dan enterosit, namun lipase yang dihasilkan oleh bagian ini hanya mencerna sedikit sekali lemak sehingga tidak begitu bermakna.

Untuk memudahkan pencernaan dan penyerapan lemak, maka proses tersebut dibantu oleh garam empedu yang dihasilkan oleh kelenjar hepar (hati). Garam empedu memiliki efek deterjen,

yaitu memecah globulus-globulus lemak besar menjadi emulsi lemak yang lebih kecil (proses emulsifikasi). Pada emulsi tersebut, lemak akan terperangkap di dalam molekul hidrofobik garam empedu, sedangkan molekul hidrofilik garam empedu berada di luar. Dengan demikian lemak menjadi lebih larut dalam air sehingga lebih mudah dicerna dan meningkatkan luas permukaan lemak untuk terpajan dengan enzim lipase. Setelah lemak (trigliserida) dicerna oleh lipase, maka monogliserida dan asam lemak yang dihasilkan akan diangkut ke permukaan sel dengan bantuan misel (micelle). Misel terdiri dari garam empedu, kolesterol dan lesitin dengan bagian hidrofobik di dalam dan hidrofilik di luar (permukaan). Monogliserida dan asam lemak akan terperangkap di dalam misel dan dibawa menuju membran luminal sel-sel epitel. Setelah itu, monogliserida dan asam lemak akan berdifusi secara pasif ke dalam sel dan disintesis kembali membentuk trigliserida. Trigliserida yang dihasilkan akan dibungkus oleh lipoprotein menjadi butiran kilomikron yang larut dalam air. Kilomikron akan dikeluarkan secara eksositosis ke cairan interstisium di dalam vilus dan masuk ke lakteal pusat (pembuluh limfe) untuk selanjutnya dibawa ke duktus torasikus dan memasuki sistem sirkulasi. Selain lipase, terdapat enzim lain untuk mencerna lemak golongan nontrigliserida seperti kolesterol ester hidrolase (untuk mencerna kolesterol ester) dan fosfolipase A2 (untuk mencerna fosfolipase). Khusus untuk asam lemak rantai pendek/sedang dapat langsung diserap ke vena porta hepatika tanpa harus dikonversi (seperti trigliserida), hal ini disebabkan oleh sifatnya yang lebih larut dalam air dibandingkan dengan trigliserida. Protein Pencernaan protein (pemutusan ikatan peptida) dilakukan terutama di antrum lambung dan usus halus (duodenum dan jejunum). Sel utama (chief cell) lambung menghasilkan pepsin yang menghidrolisis protein menjadi fragmen-fragmen peptida. Pepsin akan bekerja pada suasana asam (pH 2.0-3.0) dan sangat baik untuk mencerna kolagen (protein yang terdapat pada dagingdagingan). Selanjutnya, sel eksokrin pankreas akan menghasilkan berbagai enzim, yaitu tripsin, kimotripsin, karboksipeptidase, dan elastase yang akan bekerja di lumen usus halus. Tiap-tiap enzim akan menyerang ikatan peptida yang berbeda dan menghasilkan campuran asam amino dan rantai peptida pendek. Hasil dari pencernaan oleh protease pankreas kebanyakan masih berupa fragmen peptida (dipeptida dan tripeptida), hanya sedikit berupa asam amino.

Setelah itu sel epitel usus halus akan menghasilkan enzim aminopeptidase yang akan menghidrolisis fragmen peptida menjadi asam-asam amino di brush border usus halus. Hasil dari pencernaan ini adalah asam amino dan beberapa peptida kecil. Setelah dicerna, asam amino yang terbentuk akan diserap melalui transpor aktif sekunder (seperti glukosa dan galaktosa). Sedangkan peptida-peptida kecil masuk melalui bantuan pembawa lain dan diuraikan menjadi konstituen asam aminonya oleh peptidase intrasel di sitosol enterosit. Setelah diserap, asam-asam amino akan dibawa masuk ke jaringan kapiler yang ada di dalam vilus.

Proses Penyerapan Lemak Pencernaan Lemak (Oleh Kelompok II:Gracia, Jordy K., Jordy S., Sandy) Makanan akan melewati kerongkongan menuju lambung, tempat penyerapan lemak berlangsung. Di sini, 10-20% lemak dari makanan dipecah. Lemak tersebut akan memasuki usus kecil, di mana tetes-tetes lemak besar diuraikan lebih lanjut oleh kontraksi usus (peristaltik) dan emulsifier (asam empedu dan lesitin) menjadi tetesan lemak yang lebih kecil. Sebagian besar lemak pada makanan berbentuk trigliserida (Gambar 1). Trigliserida terdiri dari rangka struktur gliserol dengan tiga asam lemak yang menempel dan menjadi bentuk molekuler seperti huruf besar E. Enzim lipase gastrointestinal memecah trigliserida yang terdapat di tetesan lemak kecil menjadi asam lemak bebas dan monogliserida, yang cukup kecil untuk memasuki sel-sel mukosa dinding usus. Untuk itu, molekul-molekul ini harus dapat larut dalam air.

Asam empedu membungkus asam lemak bebas, monogliserida, vitamin yang larut dalam lemak, lesitin dan kolesterol untuk membentuk tetesan mikroskopik larut air yang disebut misel. Misel kemudian menuju dinding sel dinding usus, di mana asam lemak bebas dan monogliserida melewati membran dan memasuki sel. Misel sendiri tidak melewati membran. Setelah memasuki sel mukosa, asam lemak dan monogliserida bergabung lagi menjadi trigliserida. Proses pencernaan selesai dan lemak dapat diedarkan melalui sistem limfatik menuju sistem peredaran darah lalu ke seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi atau disimpan di sel lemak yang disebut dengan adiposit.

FISIOLOGI PEMBENTUKAN BILIRUBIN 1. produksi/pembentukan bilirubin 2. transport bilirubun 3. asupan bilirubin 4. konjugasi bilirubin 5. ekskresi bilirubin Produksi : Sebagian besar bilirubin terbentuk sebagai akibat degradasi hemoglobin pada sistem retikuloendotelial. Tingkat penghancuran hemoglobin ini pada neonatos lebih tinggi daripada bayi yang lebih tua. Satu gr hemoglobin dapat menghasilkan 35mg bilirubin indirek. Bilirubin indirek yaitu bilirubin yang bereaksi tidak langsung dengan zat warna diazo, yang bersifat tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak. Transportasi : Bilirubin indirek kemudian dicta oleh albumin. Sel parenkim hepar mempunyai cara selektif dan efektif mengambil bilirubin dari plasma. Bilirubin ditransfer melalui membran sel ke dalam hepatosit sedangkan albumin tidak. Didalam sel bilirubin akan terikat pada ligandin dan sebagian kecil pada glutation S-transferase lain dan protein Z. Proses ini merupakan proses 2 arah, tergantung dari konsentrasi dan afinitas albumin dalam plasma dan ligandin dalam hepatosit. Sebagian besar bilirubin yang masuk hepatosit dikonjugasi dan diekskresi ke dalam empedu. Dengan adanya sitosol hepar, ligandin mengikat bilirubin sedangkan albumin tidak. Pemberian fenobarbital mempertinggi konsentrasi ligandin dan memberi tempat pengikatan yang lebih banyak untuk bilirubin. Konjugasi : Dalam sel hepar bilirubin kemudian dikonjugasi menjadi bilirubin diglukoronide walaupun ada sebagian kecil dalam bentuk monoglukoronide. Glukoronide transferase merubah bentuk monoglukoronide menjadi diglukoronide. Ada 2 enzim yang terlibat dalam sntesis bilirubin diglukoronide. Pertama-tama ahila uridin difosfat glukoronide transferase (UDPG) yang mengkatalisasi pembentukan bilirubin monoglukoronide. Sntesis dan ekskresi diglukoronide terjadi di membran kanlikulus. Isomer bilirubin yang dapat membentuk ikatan hidrogen seperti bilirubin natural IX dapat diekskresi langsung ke dalam empedu tanpa konjugasi misalnya isomer yang terjadi sesudah terapi sinar. Ekskresi : Sesudah konjugasi bilirubin ini menjadi direk yang larut dalam air dan diekskresi dengan cepat ke sistem empedu kemudian ke usus. Dalam usu bilirubin direk ini tidak diabsorbsi, sebagian kescil bilirubin direk dihidrolisis menjadi bilirubin indirek dan direabsorbsi. Siklus ini disebut siklus enterohepatis. Metabolisme bilirubin pada janin dan neonatus : Pada likuor amnion yang normal dapat ditemukan bilirubin pada kehamilan 12 minggu, kemudian menghilang pada kehamilan 36-37 minggu, pada inkompatibilitas darah Rh, kadar bilirubin dalam cairan amnion dapat dipakai untuk menduga beratnya hemolisis. Peningkatan bilirubin amnion juga terdapat pada obstruksi usus fetus. Bagaimana bilirubin sampai ke likuor amnion belum diketahui dengan jelas, tetapi kemungkinan besar melalui mucosa saluran nafas

dan saluran cerna. Produksi bilirubin pada fetus dan neonatos diduga sama besarnya tetapi kesanggupan hepar mengambil bilirubin dari sirkulasi Sangay terbatas. Demikian kesanggupannya untuk mengkonjugasi. Dengan demikian hampir semua bilirubin pada janin dalam bentuk bilirubin indirek dan mudah melalui placenta ke sirkulasi ibu dan disekresi oleh hepar ibunya. Dalam keadaan fisiologis tanpa gejala pada hampir semua neonatos dapat terjadi kumulasi bilirubin indirek sampai 2mg%. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan fatus mengolah bilirubin berlanjut pada masa neonatos. Pada masa janin hal ini diselesaikan oleh hepar ibunya, tetapi pada masa neonatus hal ini beakibat penumpukan bilirubin dan disertai gejala ikterus. Pada bayi baru lahir karena fungs hati belum matang atau bila terdapat gangguan dalam fungs hepar akibat hipokasi, asidosis atau bila terdapat kekurangan enzim glukoronil transferase atau kekurangan glucosa, kadar bilirubin indirek dalam darah dapat meninggi. Bilirubin indirek yang terikat pada albumin sangat tergantung pada kadar albumin dalam serum. Pada bayi kurang bulan biasanya kadar albuminnya rendah sehingga dapat dimengerti bila kadar bilirubin indirek yang bebas itu dapat meningkat dan sangat berbahaya karena bilirubin indirek yang bebas inilah yang dapat melekat pada sel otak. Inilah yang menjadi dasar pencegahan kernicterus dengan pemberian albumin atau plasma. Bila kadar bilirubin indirek mencapai 20mg% pada umumnya capacitas maksimal pengikatan bilirubin oleh neonatus yang mempunyai kadar albumin normal telah tercapai. Sumber : Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Perinatologi, dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 3. FKUI. Jakarta. 1985.

Tinjauan PustakaPada orang dewasa normal asupan nitrogen yang diekskresikan. Keseimbangan nitrogen positif, yaitukelebihan nitrogen yang masuk daripada yang keluar, terjadi pada masa pertumbuhan dan kehamilan.Kesimbangan nitrogen negative yaitu pengeluaran melebihi pemasukan, dapat terjadi setelahpembedahan, kanker tahap lanjut, dan kwasikoor atau marasmus.Sementara ammonia yang terutama berasal dari -amino asam amino sangat toksik, jaringan mengubahammonia menjadi nitrogen amida glutamine yang nontoksik. Deaminasi glutamine selanjutnya dihatimembebaskan ammonia kemuadian diubah menjadi urea nontoksikPenguraian protein sel berlangsung di semua bentuk kehidupan. Dari asam amino yang dilepaskansekitar 75% akan digunakan kembali. Nitrogen yang berlebihan akan membentuk urea. Kerentanansuatu protein terhadap penguraiannya dinyatakan sebagai waktu paruhnya(t1/2), yakni waktu yangdiperlukan untuk menurunkan konsentrasinya menjadi separuh konsentrasi awal.. waktu paruh proteinhati berkisar antara kurang dari 30 menit sampai lebih dari 150 jam. Protease intrasel menghidrolisisikatan-ikatan peptide internal. Peptida-peptida yang terbentuk kemudian akan diuraikan menjadi asamamino oleh endopeptidase yang memutuskan ikatanikatan internal serta oleh aminopeptidase dankarboksipeptidaseyang mengeluarkan asam amino secara sekuensial masing-masing dari terminal aminodan karboksil.Protein-protein ekstrasel, protein terikat membran dan protein intrasel yang berumur panjang diuraikandi lisosom melalui proses-proses yang tidak memerlukan ATP. Sebaliknya, penguraian protein yangberumur pendek dan abnormal terjadi sitosol serta memerlukan ATP dan ubikuitin. Ubikuitin adalahprotein kecil yang menguraikan banyak protein intrasel di semua sel eukariot.Biosintesi UreaBiosintesis urea berlangsung empat tahap : 1.Transaminasi 2.Deaminasi oksidatif glutamate 3.Transport ammonia 4.Reaksi siklus urea TransaminasiTransaminasi menindahkan nitrogen alpha-asam amino ke alpha-ketoglutarat yang membentukglutamat. Semua asam amino protein kecuali lisin, treonin, prolin dan hidroksiprolin ikut serta dalamtransaminasi. Transaminasi berlangsung reversible dan aminotransferase juga berfungsi dalambiosintesis asam amino. Sewaktu transaminasi (PLP) yang terikat berfungsi sebagai pembawa gugusamino. Tata ulang tersebut membentuk alpha-keto dan piridoksamin asam keto kedua. Setelahpengeluaran nitrogen alpha-amino melalui transaminasi rangka karbon yang tersisa akan diuraikanDeminasi oksidatif glutamate Pemindahan nitrogen amino ke alpha-ketoglutarat membentuk L-glutamat. Pembebasan nitrogen inikemudian dikatalis oleh L-glutamat dehidrogenasehati yang dapat menggunakan NAD+ atau NAD+.Aktivitas GDH hati secara alosentris dihambat oleh ATP, GTP, dan NADH serta diaktifkan oleh ADPAmmonia yang terutama berasal dari nitrogen alpha-asam amino yang sangat toksik , jaringanmengubah ammonia menjadi nitrogen amida glutamine nontoksik. Deaminasi glutamine selanjutnyadihati membebaskan ammonia kemudian diubah menjadi urea yang nontoksik.Sintesis fumarat pada daur urea merupakan reaksi penting sebab reaksi ini mengaitkan daur ureadengan daur asam sitrat. FumaGugus alpha-amino dibebaskan dan rangka karbon yang dihasilkan diubah menjadi zat antarametabolismHati melakukan banyak fungsi berbeda namun tetap merupakan organ tersendiri , dan berbagaifungsinya terganggu secara bersamaan.( Guyton)Fungsi hati secara umum adalahPenyaringan dan penyimpanan darahMetabolism karbohidrat, protein dan lemak, hormone, dan zat kimia.Pembentukan

empeduPenyimpanan vitamin dan besiPembentukan factor koagulasiAnatomi Fisiologi HatiHati merupakan organ terbesar pada tubuh, menyumbang sekitar 2 persen berat tubuh total, sekitar 1,5kg pada rata-rata manusia dewasa. Unit fungsional dasar hati adalah lobules hati yang terbentuk silindrisdengan panjang beberapa millimeter dan berdiameter 0,8 sampai 2 milimeter. Hati manusiamengandung 50.000 sampai 100.000 lobulus (guyton)Tubuh tidak dapat menggantikan kontribusi hati pada metabolism protein lebih dari beberapa haritanpa terjadi kematian. Funsi hati yang paling penting dalam metabolism protein (guyton)Deaminasi asam aminoPembentukan ureum untuk mengeluarkan ammonia dari cairan tubuh

Pembentukan protein plasmaInterkonversi beragam asam amino dan sintesis senyawa lain dari asam aminoDeaminasi asam amino diburuhkan sebelum asam amino dapat dipergunakan untuk energy atau diubahmenjadi karbohidrat atau lemak. Sejumlah kecil deaminasi dapat terjadi di jaringan tubuh lain, terutamaginjal. Pembetukan ureum oleh hati mengeluarkan ammonia dari cairan tubuh. Sejumlah besarammonia dibentuk melalui deaminasi dan jumlahnya masih ditambah oleh pembentukan bakterididalam usus secara kontinu dan kemudian diabsorbsi ke dalam darah. Oleh karena itu bila hati tidakmembentuk urea, konsentrasi ammonia plasma meningkat dengan cepat dan menimbulkan komahepatic dan kematian