Anda di halaman 1dari 6

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.

1 Definisi Kejang demam Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam dan tidak terbukti adanya infeksi intrakranial. 2.2 Etiologi Semua jenis infeksi yang bersumber diluar SSP yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran nafas atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis, bronkhitis, dan infeksi saluran kemih. Ada beberapa faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam, yaitu: 1). Demam itu sendiri. 2). Efek produk toksik daripada mikroorganisme (kuman dan virus) terhadap otak. 3). Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi. 4). Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit. 5). Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan tidak diketahui. 6). Gabungan semua faktor diatas. Infeksi virus paling sering ditemukan pada kejang demam. Hal ini mungkin disebabkan karena infeksi virus memang lebih sering menyerang pada anak, dan mungkin bukan merupakan sesuatu hal yang khusus. Demam yang disebabkan oleh imunisasi juga dapat memprovokasi kejang demam. Anak yang mengalami kejang setelah imunisasi selalu terjadi waktu anak sedang demam. Kejang setelah imunisasi terutama didapatkan setelah imunisasi pertusis (DPT) dan morbilli (campak).

2.3 Epidemiologi Kejang sangat tergantung kepada umur, 85% kejang pertama sebelum berumur 4 tahun yaitu terbanyak di antara umur 17-23 bulan. Hanya sedikit yang mengalami kejang demam pertama sebelum berumur 5-6 bulan atau setelah berumur 5-8 tahun. Biasanya setelah berumur 6 tahun pasien tidak kejang demam lagi/ namun, beberapa pasien masih dapat mengalami kejang demam sampai umur lebih dari 5-6 tahun.1 Di Amerika Serikat insiden kejang demam berkisar antara 2-5% pada anak umur kurang dari 5 tahun. Di Asia angka kejadian kejang demam dilaporkan lebih tinggi dan sekitar 80-90% dari seluruh kejang demam adalah kejang demam sederhana. 2.4Patofisiologi Patofisiologi kejang demam secara pasti belum diketahui, diperkirakan bahwa pada keadaan demam terjadi peningkatan reaksi kimia tubuh. Dengan demikian reaksi-reaksi oksidasi terjadi lebih cepat dan akibatnya oksigen akan lebih cepat habis, terjadilah keadaan hipoksia. Transport aktif yang memerlukan ATP terganggu, sehingga Na intrasel dan K ekstrasel meningkat yang akan menyebabkan potensial membran cenderung turun atau kepekaan sel saraf meningkat. Demam dapat menimbulkan kejang melalui mekanisme sebagai berikut: Demam dapat menurunkan nilai ambang kejang pada sel-sel yang belum matang/immatur. Timbul dehidrasi sehingga terjadi gangguan elektrolit yang menyebabkan gangguan permiabilitas membran sel. Metabolisme basal meningkat, sehingga terjadi timbunan asam laktat dan CO2 yang akan merusak neuron.

Demam meningkatkan Cerebral Blood Flow (CBF) serta meningkatkan kebutuhan oksigen dan glukosa, sehingga menyebabkan gangguan aliran ion-ion keluar masuk sel.

Peningkatan suhu tubuh 10C

Metabolisme Basal meningkat 10%-15%

Kebutuhan O2 meningkat 20%

Perubahan keseimbangan membran Beda potensial Lepas muatan listrik Kejang

Pada keadaan umum demam, kenaikan 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan Oksigen meningkat 20%. Pada anak umur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari sirkulasi tubuh dibandingkan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh dapat terjadi perubahan keseimbangan membran dan dalam waktu singkat terjadi difusi K+ maupun Na+ melalui membran, terjadi lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini dapat meluas ke seluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang kita kenal sebagai neurotransmitter, akibatnya terjadilah kejang. 2.5Klasifikasi dan Gejala Klinis Kejang Demam Penggolongan kejang demam menurut kriteria Nationall Collaborative Perinatal Project adalah kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang lama kejangnya kurang dari 15 menit, umum dan tidak berulang pada satu episode demam. Kejang demam kompleks adalah

kejang demam yang lebih lama dari 15 menit baik bersifat fokal atau multipel. Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari satu episode demam.

Tiap anak mempunyai ambang

kejang yang berbeda dan

tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang seorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38oC sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang. 2.6 Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah tepi lengkap, elektrolit, dan glukosa darah, walaupun kadang tidak menunjukkan kelainan yang berarti. b. Indikasi lumbal punksi pada kejang demam untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Bila pasti bahawa kejang tersebut bukan disebabkan meningitis , lumbal punksi tidak perlu dilakukan. c. Pemeriksaan imaging (CT Scan atau MRI) dapat diindikasikan pada keadaan: Adanya riwayat dan tanda klinis trauma.

Kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosephali, spastic) Adanya tanda peningkatan tekanan intracranial (kesadaran menurun, muntah berulang, fontanel anterior membonjol, paresis saraf otak VI, edma papil)

d. Elektrosefalografi dipertimbangkan pada kejang demam kompleks. 2.7 Penatalaksanaan Prioritas utama dalam menangani anak dengan kejang adalah menjaga agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan untuk mencegah aspirasi. Untuk mengatasi kejang digunakan diazepam, diazepam merupakan obat pilihan utama untuk kejang demam fase akut, karena diazepam mempunyai masa kerja yang singkat. Diazepam dapat diberikan secara intravena atau rektal, jika diberikan intramuskular absorbsinya lambat. Dosis diazepam pada anak adalah 0,3 mg/kg BB, diberikan secara intravena pada kejang demam fase akut, tetapi pemberian tersebut sering gagal pada anak yang lebih kecil. Jika jalur intravena belum terpasang, diazepam dapat diberikan per rektal dengan dosis 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg pada berat badan lebih dari 10 kg. Pemberian diazepam secara rektal ini lebih aman dan efektif. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi dapat juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen juga harus dilakukan teratur. Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) dan pemberian antipiretik (asetaminofen oral 10 mg/kg BB, 4 kali sehari atau ibuprofen oral 20 mg/kg BB, 4 kali sehari). 2.8 Prognosis Prognosis kejang demam baik, namun 25%-50% kejang demam akan mengalami bangkitan kejang demam berulang dan 4% pasien kejang demam dapat mengalami gangguan tingkah laku dan penurunan

tingkat intelegensi. Insiden epilepsi akibat kejang demam berkisar antara 2%-5% dan meningkat hingga 9%-13% bila terdapat faktor risiko berupa riwayat keluarga dengan epilepsi, perkembangan abnormal sebelum kejang demam pertama, atau mengalami kejang demam kompleks. 2.8 Komplikasi Kejang demam berulang Kelainan motorik Gangguan mental dan belajar Epilepsi