Anda di halaman 1dari 28

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT DUSTIRA / FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI Nama

Penderita Jenis Kelamin Jabatan/Pekerjaan Alamat Keluarga Dikirim oleh : Tn.Koko Komadin : Laki-laki : TNI AD : Komplek Sesko AD Cimahi : UGD RS Dustira Tgl. Dirawat : 16 Desember 2012 Ruangan : X Umur: 43 tahun Agama No.Cat.Med :053890 : Islam

Tgl. Diperiksa (Co. ass) : 19 Desember 2012 A. ANAMNESIS KELUHAN UTAMA ANAMNESIS KHUSUS: Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh sesak nafas. Keluhan sesak nafas dirasakan semakin lama semakin memberat. Keluhan sesak nafas disertai nafas yang berbunyi mengi. Keluhan sesak nafas dikeluhkan disertai pilek dan batuk berdahak berwarna putih. Sejak 1 bulan yang lalu, penderita mengeluh sering merasa sesak nafas yang dirasakan hilang timbul. Sesak nafas dirasakan tidak berkurang dengan posisi duduk. Keluhan sesak nafas dirasakan lebih dari 2x dalam seminggu. Keluhan sesak dimalam hari dirasakan lebih dari 2x dalam sebulan. Keluhan sesak dimalam hari dirasakan lebih dari 2x dalam sebulan. Pada saat serangan di malam hari, pasien merasa tidurnya menjadi terganggu. Sesak nafas yang hebat dirasakan baru pertama kali di tahun ini. Apabila sesak muncul penderita sering meminum obat yang dibeli dari warung dan penderita merasa sesak berkurang apabila sudah diberikan obat tersebut. Pasien juga mengeluhkan adanya batuk berdahak tanpa adanya darah sejak 1 bulan yang lalu. Penderita tidak pernah memiliki obat sesak khusus di rumah. Sesak nafas dirasakan penderita terutama di malam hari dan saat cuaca dingin . Keluhan sesak nafas tidak disertai panas badan. Keluhan sesak nafas tidak berkurang dengan mengubah posisi tidur miring ke kiri atau ke kanan. Keluhan sesak nafas tidak timbul secara tiba-tiba yang disertai nyeri dada hebat. Keluhan sesak nafas tidak disertai nyeri dada yang menjalar ke bahu, punggung, dan lengan kiri. Keluhan sesak nafas yang bertambah saat aktivitas dan berkurang pada saat istirahat tidak ada. : Sesak nafas

Pasien belum pernah memiliki riwayat asma sebelumnya,. Pasien tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun cuaca sebelumnya. Pasien tidak pernah merokok, tidak memiliki riwayat tekanan darah tinggi, maupun penyakit jantung, dan kencing manis. Keluarga pasien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit tb paru dan penyakit jantung.

a. Keluhan keadaaan umum Panas badan Tidur Edema Ikterus Haus Nafsu makan Berat badan Penglihatan Hidung Lidah Pendengaran Mulut Gigi Suara : Tidak ada : Ada, terganggu : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Nyeri tekan

: Tidak ada

Nyeri seluruh perut : Tidak ada Nyeri berhubungan dengan ; Makanan b.a.b haid Muntah-muntah Diare Obstipasi Tenesmi ad ani : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Perasaan tumor perut : Tidak ada

b. Keluhan organ kepala

Perubahan dlm b.a.b : Tidak ada Perubahan dlm b.a.k : Tidak ada Perubahan dlm haid Rasa kaku Rasa lelah Nyeri otot/sendi Patah tulang Nyeri tekan Luka/bekas luka Bengkak a. Gizi : kualitas kwantitas : Tidak ada f. Keluhan tangan dan kaki : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Cukup : Cukup

Gangguan menelan : Tidak ada

c. Keluhan organ di leher Rasa sesak di leher : Ada Pembesaran kelenjar : Tidak ada Kaku kuduk Sesak napas Nyeri dada Napas berbunyi Batuk Jantung berdebar Nyeri lokal : Tidak ada : Ada : Tidak ada : Ada : Ada : Tidak ada : Tidak ada d. Keluhan organ di thorax

Kesemutan/baal-baal: Tidak ada Nyeri belakang sendi lutut: Tidak ada

ANAMNESA TAMBAHAN

e. Keluhan organ di perut

b. Penyakit menular : Tidak ada c. Penyakit turunan : Tidak ada 2

d. Ketagihan

: Tidak ada

e. Penyakit venerik : Tidak ada g. Keluhan-keluhan lain Kulit Ketiak : Tidak ada : Tidak ada

Keluhan kel. limfe : Tidak ada Keluhan kel. Endokrin ; Haid D.M Tiroid lain-lain : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

B. STATUS PRAESEN I. KESAN UMUM a. Watak Kesan sakitnya Pergerakan Tidur Tinggi badan Berat Badan Bentuk badan Keadaan gizi Gizi kulit Gizi otot Umur yang ditaksir Kulit b. Keadaan sirkulasi : 120/80 mmHg : 120/80 mmHg : 80x/menit, regular, equal, isi cukup : 80x/menit, regular, equal, isi cukup : 36,8C : Tidak ada : Tidak ada : Torakoabdominal : 28 x/ menit : Takhipneu, ekspirasi memanjang : Tidak ada kelainan : Ada wheezing saat ekspirasi Tekanan darah kanan Tekanan darah kiri Nadi kanan Nadi kiri Suhu Sianosis Keringat dingin c. Tipe Frekwensi Corak Hawa/bau napas Bunyi nafas PEMERIKSAAN KHUSUS
a.

Keadaan Umum : Composmentis : Kooperatif : Sakit sedang : Tidak terbatas : Terlentang dengan dua bantal : 164 cm : 68 kg : Piknikus : : Cukup : Cukup : Sesuai : Turgor kembali cepat

Kesadarannya

Keadaan pernafasan

Kepala : 1. Tengkorak :

- Inspeksi - Palpasi 2. - Inspeksi - Palpasi 3. - Letak - Kelopak Mata - Kornea - Refleks Kornea - Pupil - Sklera - Konjungtiva - Iris - Pergerakan - Reaksi Cahaya - Visus - Funduskopi 4. - Inspeksi - Palpasi 5. - Inspeksi - Sumbatan - Ingus 6. - Sianosis - Kheilitis - Rhagaden - Perleche
7.

: Simetris : Tidak ada kelainan Muka : Simetris : Tidak ada kelainan Mata : Simetris : oedem tidak ada : Tidak ada kelainan :+/+ : Bulat, isokor : Ikterik tidak ada : Anemis tidak ada : Tidak ada kelainan : Normal ke segala arah : Direk + / + , Indirek + / + : Tidak dilakukan pemeriksaan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Simetris : Tidak ada kelainan Hidung : Pernafasan cuping hidung tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Bibir : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Gigi dan gusi :8 7 6 5 4 3 2 1 | 1 2 3 4 5 6 7 8 5 Telinga

- Reaksi Konvergensi : + / +

- Pendengaran : Tidak ada kelainan

- Stomatitis angularis : Tidak ada

8 7 6 5 4 3 2 1 | 1 2 3 4 5 6 7 8 X = tanggal O = karies 8. - Besar - Pergerakan - Bentuk - Permukaan 9. Selaput lendir - Hiperemis - Lichen - Aphtea - Bercak 10. - Selaput lendir - Tonsil b. - Trakea - Kelenjar Tiroid - Pembesaran vena - Pulsasi vena leher - tekanan vena jugular
-

Lidah : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Rongga mulut : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Rongga leher : Tidak ada kelainan : T1 T1 tenang Inspeksi : : Tidak terlihat adanya deviasi : Tidak terlihat membesar : Tidak ada : Tidak ada : 5 + 1 cmH2O, Tidak meningkat : Tidak teraba membesar : Tidak teraba membesar : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada Inspeksi : : Tidak ada kelainan 6

- Dinding belakang pharynx : Tidak hiperemis Leher

Palpasi :,

- Kelenjar Getah bening - Kelenjar Tiroid - Tumor - Otot leher - Kaku kuduk c. Ketiak - rambut ketiak

- tumor - tumor d.

: Tidak ada Palpasi : : Tidak teraba membesar : Tidak ada Thorax depan : Inspeksi bentuk umum frontal & sagital sudut epigastrium : <90 sela iga pergerakan muskulatur kulit tumor ictus cordis pulsasi lain pelebaran vena palpasi

- kel. Getah bening

Pemeriksaan thorax

: Simetris, Barrel chest tidak ada : frontal > sagital

: Tidak melebar ,tidak menyempit : Simetris : tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak terlihat : Tidak ada : Tidak ada

kulit muskulatur mammae sela iga kanan pergerakan kiri vocal fremitus kiri

: Tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak melebar, tidak menyempit kiri : simetris : normal kanan kanan = =

Thorax dan paru

Iktus cordis : sinistra

Lokalisasi Intensitas

: ICS V linea midklavikularis : tidak kuat angkat

Pelebaran Thrill

: Tidak ada : Tidak ada

Paru-paru suara perkusi batas paru hepar peranjakan Jantung batas atas batas kanan batas kiri - Auskultasi Paru-paru suara tambahan

Perkusi kiri : sonor, paru kanan = paru kiri : ICS V, linea midclavicularis dextra : 1 sela iga (2 cm) : ICS III linea parasternalis sinistra : linea sternalis dextra

kanan

: ICS V linea midklavikularis sinistra : kanan : wheezing ekspirasi ada, ekspirasi memanjang ronkhi tidak ada kiri wheezing ekspirasi ada, ekspirasi memanjang ronkhi tidak ada

suara pernafasan pokok : Vesikuler, kanan = kiri

vocal resonansi Jantung irama

: Normal, kanan = kiri : regular M1 > M2 T1 > T2 A1 < A2 ; ; P1 < P2 A2 > P2

bunyi jantung pokok :

Bunyi jantung tambahan Bising jantung Bising gesek jantung Thorax belakang : Inspeksi

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Bentuk Pergerakan

: Simetris : Simetris

Kulit Muskulatur Palpasi Kiri Sela iga Muskulatur Vocal fremitus Perkusi kiri

: Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Kanan : Tidak melebar,tidak menyempit : Tidak ada kelainan : Normal, kanan = kiri kanan : vertebra Th. X

Tidak melebar, tidak menyempit

Batas bawah vertebra Th. XI

Peranjakan: 1 sela iga (2 cm) Auskultasi kanan = kiri kiri Suara pernapasan : Vesikuler, kanan wheezing ekspirasi ada Ekspirasi memanjang Ronkhi tidak ada ekspirasi memanjang ronkhi tidak ada

Suara tambahan : wheezing ekspirasi ada,

Vocal resonansi : normal, kanan = kiri

e.

Abdomen Inspeksi Bentuk Otot dinding perut Kulit Pergerakan waktu nafas Pergerakan usus Pulsasi Venektasi Palpasi : Datar : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Normal : Tidak terlihat : Tidak ada : Tidak ada

Dinding perut Nyeri tekan lokal Nyeri tekan difus Nyeri lepas Defance muskuler Hepar Teraba/tidak teraba Besar Kosistensi Permukaan Tepi Nyeri tekan Lien Pembesaran Kosistensi Permukaan Insisura Nyeri tekan

: Lembut : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak teraba :::::: Tidak teraba, ruang TRAUBE kosong : : : : : Tidak teraba : Tidak teraba Nyeri tekan :

Tumor/massa Ginjal

Tidak ada Perkusi - Suara perkusi - Ascites Pekak samping Pekak pindah Fluid wave Auskultasi Bising usus Bruit Lain lain f. CVA(Costo vertebral angel) : (+) Normal : Tidak ada : Tidak ada : Nyeri ketok CVA tidak ada : Tympani : Tidak ada :::-

10

g.

Lipat paha Inspeksi: Tumor Kelenjar getah bening Hernia Palpasi: Tumor Kelenjar getah bening Hernia Pulsasi A Femoralis Auskultasi: A. femoralis : Tidak ada kelainan : Tidak dilakukan pemeriksaan : Edema tidak ada : Tidak dilakukan pemeriksaan atas : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Ada bawah Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada : Tidak ada : Tidak teraba pembesaran : Tidak ada :Ada : Tidak ada : Tidak ada pembesaran : Tidak ada

h. Genitalia i. Sacrum
j.

Rectum & anus Kaki & tangan Inspeksi Bentuk Pergerakan Kulit Otot Edema Clubbing finger Palmar eritem Palpasi Nyeri tekan Tumor Edema Pulsasi arteri

k.

l.

Sendi-sendi Inspeksi Kelainan bentuk Tanda radang Lain lain : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada 11

Palpasi Nyeri tekan Fluktuasi Lain lain m. Neurologik KPR APR Refleks patologis Rangsang meningen Sensorik C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM a. DARAH
-

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Refleks fisiologik :+/+ :+/+ : Tidak ada : Tidak ada :+/+

Hb Leukosit Eritrosit Hitung Jenis Neutrofil Segmen Limfosit Monosit Gula darah sewaktu

: 16,2 gr% : 9300 /mm3 : 5,7 juta/mm : 66,1 % : 18,0 % : 15,9 % : 108 mg/dl

Fungsi hati :

SGOT : 25 /l SGPT : 34 /l

Fungsi ginjal : Ureum : 33 mg/dl Creatinin : 1.1 mg/dl Asam urat : 7.3 mg/dl : kuning jernih

b. Urinalisa Warna

Berat jenis : 1.020

12

pH kimiawi:

: 6.0

o protein : negative o glukosa: negative o bilirubin: negative o urobilinogen: 0,2 o keton urin : negative o darah samar : negative o nitrit sedimen urin : o leukosit : 1-2 o eritrosit: 0-2 o epitel : 0-3 o lain-lain : negative : negative

13

RESUME Seorang Laki-laki berumur 43 tahun, sudah berkeluarga, pekerjaan TNI AD, datang dengan keluhan utama dyspneu. Dari anamnesis lebih lanjut didapatkan bahwa : Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh dyspneu. Dyspneu dirasakan semakin lama semakin hebat. Dyspneu disertai wheezing, batuk berdahak, hemaptoe tidak ada. Sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, penderita merasa dyspneu hilang timbul. Dyspneu dirasakan lebih dari 2x/minggu, <1x/hari, dyspneu malam hari > 2x dalam sebulan. Dyspneu dirasakan penderit saat malam hari dan cuaca dingin. Dyspneu tidak disertai febris. Dyspneu tidak berkurang dengan mengubah posisi tidur miring ke kiri atau ke kanan. Dyspneu tiba-tiba disertai nyeri dada tidak ada. Dyspneu tidak disertai angina, dyspneu de effort tidak ada, dyspneu paroksimal nocturnal tidak ada. Batuk batuk secara terus- menerus selama 1 bulan ada. Riwayat asma ada sejak kecil tidak ada. Riwayat penyakit asma dalam keluarga tidak ada. Riwayat penyakit darah tinggi tidak ada . Riwayat penyakit jantung tidak ada. Riwayat merokok tidak ada. Riwayat alergi makanan tidak ada. Keadaan umum : Tanda vital Kesadaran Kesan sakit Nadi Pernafasan Suhu Sianosis Pucat Kepala Muka Mata Hidung Mulut Lidah THT : Komposmentis : Sedang : 80x / mnt reguler, equal, isi cukup. : 28 x /mnt,` : 36,8 oC : Tidak ada : Tidak ada : Simetris : Sklera : ikterik tidak ada Konjungtiva : anemis tidak ada : Pernafasan cuping hidung tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tonsil : T1-T1 tenang Faring : Tidak hiperemis 14

Tekanan darah: 120/80mmHg

Keringat dingin : tidak ada Pada pemeriksaan lebih lanjut didapatkan :

Leher Thorak Pulmo

: KGB tidak teraba membesar JVP : 5 + 1 cmH2O, tidak meningkat

: Bentuk dan gerak simetris, Barrel chest tidak ada Muskulator : tidak ada kelainan : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung : bentuk dan gerak simetris : vocal fremitus normal paru kanan = paru kiri sela iga tidak melebar tidak menyempit : sonor paru kanan = paru kiri : VBS kanan = kiri, wheezing ekspirasi ada, ronkhi tidak ada, Ekspirasi memanjang : BJ I & II murni, reguler

Abdomen Bentuk Nyeri tekan Hepar Lien Ren CVA Auskultasi Ekstemitas Kulit : Datar : Tidak ada : Tidak teraba : Tidak teraba, ruang TRAUBE kosong : Tidak teraba : Nyeri ketok tidak ada : Bising usus (+) normal Dinding perut : Lembut

: Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan : a. Darah : dalam batas normal b. Urine : dalam batas normal c. Faeces : dalam batas normal DIAGNOSA BANDING
1. 2.

Asma bronkhiale serangan sedang PPOK eksaserbasi akut : Asma bronkhiale serangan sedang

DIAGNOSA KERJA

15

USUL PEMERIKSAAN

Tes Spirometri Prick test. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam serum Analisis Gas Darah. Pemeriksaan foto thorax PA :

PENGOBATAN

istirahat menghindari faktor- faktor pencetus 02 2 4 liter/menit Infus RL + relivan 1 ampul Nebulisasi combivent /8 jam Metal prednisolon 3x 62,5 mg Ambroxol 3x I cth : Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : dubia ad bonam

PROGNOSA

16

ASMA Definisi Asma Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

Faktor Risiko
Bakat yang diturunkan : Asma Atopi / Alergi Hipereaktiviti bronkus Faktor yang memodifikasi Penyakit genetik Pengaruh lingkungan : Alergen Infeksi pernapasan Asap rokok / polusi udara Diet Status sosioekonomi

Asimptomatik atau Asma dini

Manifestasi Klinis Asma (Perubahan ireversibel pada struktur dan fungsi jalan napas)

Interaksi faktor genetik dan lingkungan pada kejadian asma

Gejala klinis

Triad symptom asma : Dyspnea, batuk dan Wheezing (bentuk tipikal yang paling

sering terjadi)

17

Pada onset serangan, penderita merasakan kontriksi pada dada, sering dengan batuk

non produktif, respirasi terdengar kasar, wheezing pada kedua fase respirasi, eksipasi memanjang dan sering mengalami takipnea, takikardi dan mild sistolik hypertension paru-paru mengalami over inflamasi dan diameter anteroposterior thorax meningkat.

Bila serangan makin berat dan berkepanjangan menyebabkan hilangnya, suara

pernapasan dan wheezing terdengar semakin bernada tinggi,otot-otot bantu pernapasan terlihat aktif serta muncul nadi paradoxical yang kedua hal ini menandakan keparahan derajat obstruksi jalan napas.

Pada akhir episode : sering ditandai bantuk yang memproduksi sputum yang kental

dan menyerupai tali (strigy mucus), terbentuknya cast pada jalan nafas bagian distal (curschmanns spiral) dan pada pemeriksaan mikroskopik diteraukan, eosinofil dan kristal charcot leyden) Riwayat penyakit atau gejala pada asma: Bersifat efisodik, seringkali reversible dengan atau tanpa pengobatan Gejala batuk, sesak napas, rasa berat di dada Gejala timbul atau memburuk terutama pada malam hari alau dini hari Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu Berespon terhadap, pemberian bronkodilator

Pemeriksaan Fisik Gejala asma bervariasi sepanjang hari, sehingga pemeriksaan fisik dapat normal kelainan yang paling sering ditemukan adalah wheezing atau mengi pada auskultasi, sedangkan pemeriksaan fisik lainnya dapat normal. Pada asma derajat sedang dan berat dapat ditemukan retraksi iga, bahkan bentuk dada seperti tong atau barrel chest. Dapat pula ditemukan penggunaan otot-otot bantu pernapasan. Sesak napas, mengi dan hiperinflasi

18

merupakan hasil kompensair penderita bernapas pada volume paru yang lebih besar untuk mengatasi menutupnya/menyempitnya saluran napas. Pada serangan ringan wheezing hanya terdengar waktu ekspirasi paksa. Wheezing dapat tidak terdengar pada serangan berat, tetapi biasanya disertai gejala lain seperti sianosis, gelisah sukar bicara, takikardi, hiperinflasi dan penggunaan otot bantu pernapasan.

Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis (sebelum pengobatan) Derajat Asma I. Intermiten Bulanan - Gejala < 1x/minggu - Tanpa gejala di luar serangan - Serangan singkat II. Mingguan Persisten Ringan - Gejala 1x/hari - Serangan mengganggu aktiviti dan tidur III. Persisten Sedang Harian - Gejala setiap hari - Serangan -> 1x/seminggu APE 60-80%
- VEP1 -<

Gejala

Gejala Malam

Faal Paru

kali

APE > 80%


- VEP1

sebulan

>

80%

nilai

prediksi APE > 80% nilai terbaik - Variabiliti APE < 20%

-> >

kali

APE > 80%


- VEP1

sebulan

>

80%

nilai

1x/minggu, tetapi < dapat

prediksi APE > 80% nilai terbaik - Variabiliti 30% APE 20-

60-80%

nilai

prediksi APE 60-80%

19

mengganggu aktiviti dan tidur - Membutuhkan bronkodilator setiap hari IV. Persisten Berat Kontinyu - Gejala menerus - Sering kambuh - Aktiviti terbatas fisis terus - Sering

nilai terbaik - Variabiliti APE > 30%

APE < 60%


- VEP1

60%

nilai 60%

prediksi APE nilai terbaik

- Variabiliti APE > 30%

Klasifikasi derajat berat asma pada penderita dalam pengobatan Tahapan Pengobatan yang digunakan soat penilaian Tahap 2 Tahap 3 Tahap I Gejala dari Faal paru dalam Pengobatan Persisten Persisten Intermiten Ringan Sedang Tahap 1: Intermiten Gejala < 1 x / mgg Serangan singkat Gejala.malarn < 2x/ bln Faal paru normal di luar serangan Tahap II : Pemisten Ringan Gejala > 1x / mgg, tetapi < 1x/ hari Gejala malam >2x/bln, tetapi <1x/mmg Faal paru normal di luar serangan Persisten Ringan Persisten Sedang Persisten Berat Intermiten Persisten Ringan Persisten Sedang

Tahap III: Persisten Sedang Gejala setiap hari

Persisten Sedang

Persisten Berat

Persisten Berat

20

Serangan mempengaruhi aktiviti dan tidur Gejala.malarn < 1x/ mmg 60% < VEP1 < 80% nilai prediksi 60% < APE < 80% nilai terbaik Tahap IV : Pemisten Berat Gejala terus menerus Serangan sering Gejala malam sering VEP1 < 60% nilai prediksi atau APE < 60% nilai terbaik Persisten Berat Persisten Berat Persisten Berat

Pemeriksaan Laboratorium Pada penderita asma jumlah eosinofil dalam darah sering meningkat, selain dapat dipakai sebagai patokan untuk menentukan cukup tidaknya dosis kortikosteroid yang diperlukan penderita asma juga dapat membantu untuk membedakan asma dari bronkhitis kronis. Selain jumlah eosinofil dalam darah dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya, diantaranya : 1. Tes Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. 2. Tes Provokasi Bronkhial Untuk menunjukkan adanya hiperreaktivitas bronkhus. 3. Pemeriksaan tes kulit. Untuk menunjukkan adanya antibodi IgP yang spesifik dalam tubuh. Tes ini hanya menyokong anamnesis, karena alergen yang menunjukkan tes kulit positif tidak selalu merupakan penyebab asma. 4. Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam serum.

21

Pemeriksaan ini lebih berarti jika dilakukan terutama bila tes kulit tidak dapat dikerjakan atau jika hasilnya kurang dapat dipercaya. 5. Analisis Gas Darah. Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat. PAda keadaan tersebut dapat terjadi hipoksemia, hiperkapnea dan asidosis respiratorik. 6. Pemeriksaan Radiologi. Pada umumnya pemeriksaan foto thoraks penderita asma menunjukkan gambaran yang normal. Pemeriksaan tersebut dilakukan bila ada kecurigaan terhadap proses patologik di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, tumor mediastinuim, atelektasis dan lain-lain.

Radiologi Gambaran radiologi asma ringan umumnya normal tetapi pada asma berat dpat dijumpai gambaran radiology yang disebabkan oleh komplikasi seperti atelektasis, pneumothorax, pneumomediastinum atau pneumonia. Pada asma yang disertai obstruksi berat, didapatkan gambaran radiology hyperlucent dengan pelebaran sela antar iga, diafragma letak rendah, penumpukan udara didaerah retrosternal tetapi jantung masih dalam batas normal.

Penanganan Tujuan penatalaksanaan asma: 1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma 2. Mencegah eksaserbasi akut 3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin 4. Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise 5. Menghindari efek samping obat 6. Mencegah terjadi kete rbatas'an aliran-udara (airflow limitation) ireversibel. 7. Mencegah kernatian karena asma 22

Program penatalaksanaan asma, yang meliputi 7 komponen 1. Edukasi 2. Menilai dan monitor berat asma secara berkala 3. Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus 4. Merencanakan dan memberikan pengobatan jangka panjang 5. Menetapkan pengobatan pada serangan akut 6. Kontrol secara teratur 7. Pola hidup sehat

Tujuan penatalaksanaan asma jangka panjang Tujuan: Asma yang terkontrol Menghilangkan atau meminimalkan Menghilangkan/ meminimalkan Tujuan: Mencapai kondisi sebaik mungkin Gejala Membutuhkan seminimal

gejala kronik, termasuk gejala malam serangan. Meniadakan kunjungan ke darurat Meminimalkan penggunaan gawat bronkodilator Aktiviti sehari-hari normal, termasuk Meminimalkan/ menghilangkan efek latihan fisis (olahraga) samping obat Faal paru (mendekati) normal Variasi diurnal APE < 20% APE (mendekati) normal

bronkodilator mungkin

Keterbatasan aktiviti fisis Efek samping obat sedikit

minimal

Faal paru terbaik Variasi diurnal APE minimal APE sebaik mungkin

Terapi Pengobatan sesuai berat asma

23

Semua tahapan ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan tidak melebihi 3-4 kali sehari. Berat Asma Asma Intermiten. Asma Persisten Ringan Medikasi pengontrol harian Tidak perlu Glukokortikosteroid inhalasi (200-400 g BD/hari atau ekivalennya) Afternatif/ Pilihan lain Afternatif lain

Teofilin lepas lambat Kromolin Leukotriene modifiers Glukokortikoste Ditambah agnosis roid inhalasi (200beta-2 kerja lama 400 g BD atau oral atau ekivalenya) ditambah Teofilin lepas lambat atau Ditambah teorilin lepas lambat

Glukokortikoste roid inhalasi (400800 g BD atau ekivalenya) ditambah agnois beta-2 kerja lama oral, atau

Glukokortikoste roid inhalasi dosis tnggi (>800 g BD atau ekivalenya) atau

Glukokortikoste roid inhalasi (400800 g BD atau ekivalenya) ditambah leukotriene modifiers, Asma Persisten berat Kombinasi inhalasi glukokortikosteroid (>800 g BD atau ekivalenya) dan agnois beta-2 kerja Prednisolon/ metilprodnisolon oral selang sehari 10 mg ditambah agnosis beta2 kerja lama oral, 24

lama, ditambah > 1 dibawah ini : - Teofilin lepas lambat - Leukotriene modifiers - Glukokortikosteroid oral

ditambah teofilin lepas lambat

Semua tahapan : Bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan, kemudian turunkan bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin deagan kondisi asma tetap terkontrol

Pelangi asma Pelangi Asma, monitoring keadaan asma secara mandiri Hijau Kondisi baik, asma terkontrol Tidak ada / minimal gejala APE: 80 - 100 % nilai dugaan/ terbaik Pengobatan bergantung berat asma, prinsipnyo pengobatan dilanjutkan. Bila tetap berada pada warna hijau minimal 3 bulan, maka pertimbangkan turunkan terapi Kuning Berarti hati-hati asma tidak terkontrol, dapat terjadi serangan akut/ eksaserbasi Dengan gejala asma (asma malam, aktiviti terhambat, batuk, mengi, dada

terasa berat baik saat aktiviti maupun istirahat) dan/ atau APE 60 - 80 % prediksi/ nilai terbaik Membutuhkan peningkatan dosis medikasi atau perubahan medikasi Merah Berbahaya Gejala asma terus menerus dan membatasi aktiviti sehari-hari. APE < 60% nilai dugaan /terbaik

25

Penderita membutuhkan pengobatan segera sebagai rencana pengobatan yang disepakati dokter- penderita secara tertulis. Bila tetap tidak ada respons, segera hubungi dokter atau ke rumah sakit

Klasifikasi berat serangan asma akut Gejala dan Tanda Sesak napas Posisi Cara berbicara Kesadaran Berat (Serangan Akut) Ringan Sedang Berat Berjalan Dapat tidur terlentang Satu kalimat Mungkin gelisah Berbicara Duduk Beberapa kata Gelisah Istirahat Duduk membungkuk Kata demi kata Gelisah Mengantuk gelisah, kesadaran menurun Frekuensi nafas Nadi Pulsus paradoksus Otot bantu napas retraksi supraternal Mengi Akhir ekspirasi APE PaO2 PaCO2 SaO2 paksa >80% >80 mmHg <45 mmHg >95% Akhir ekspirasi 60 80% 60-80 mmHg <45 mmHg 91 95% Inspirasi dan ekspirasi <60% <60 mmHg >45 mmHg <90% Silent Chest dan <20/menit <100 10 mmHg 20-30/menit 100-120 +/-10 20 mmHg + >30/menit >120 + >25 mmHg + Bradikardia Kelelahan otot Torakoabdominal paradoksal Keadaan mengancam jiwa

Penatalaksanaan Serangan Asma di Rumah Penilian berat serangan Klinis : Gejala (batuk, sesak, mengi, dada terasa berat) yang bertambah APE < 80% nilai terbaik / prediksi 26

Terapi awal Inhalasi agonis beta-2 kerja singkat (setiap 20 menit, 3 kali dalam 1 jam), atau Bronkodilator oral

Respons baik Gejala (batuk/berdahak/sesak/mengi) membaik . Perbaikan dengan agonis beta-2 & bertahan selama 4 jam. APE > 80% prediksi / nilai terbaik

Respons buruk Gejala menetap atau bertambah berat APE < 60% prediksi/nilai terbaik Tambahkan kotrikosteroid oral Agonis beta-2 diulang

Lanjutkan agonis beta-2 inhalasi setiap 3-4 jam untuk 24 48 jam. Alternatif : bronkodialtor oral setiap 6-8 jam Steroid inhalasi diteruskan dengan dosis tinggi (bila sedang menggunakan steroid inhalasi) selama 2 minggu, kmd kembali ke dosis sebelumnya

Segera Ke dokter / IGD / RS

Hubungi dokter untuk instruksi selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

1.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan ASMA Di Indonesia. 2004

27

2. Global Initiative For Asthma. Global Strategy For Asthma Management and Prevention. 2011

28