Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

KATARAK MATUR PADA PENDERITA


DIABETES MELLITUS

OLEH:
FADHLUR RAHMAN
H1A 004 017

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
FEBRUARI 2009

1
PENDAHULUAN

Perempuan usia 50 tahun datang dengan keluhan kabur, penglihatan kabur dirasakan
sejak ±1 tahun yang lalu. penglihatan kabur/tidak jelas dan seperti ada kabut serta
terkadang pasien merasa silau saat melihat cahaya. dari hasil pemeriksaan pada mata
didapatkan : visus mata kanan dan kiri 2/60, lapang pandang pada mata kanan kabur di
sebelah kanan dan lensa pada kedua mata keruh. TIO (palpasi) pada kedua mata pasien
normal. Pasien ini memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus.

2
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. W
Umur : 50 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Alamat : Cakranegara
Tanggal pemeriksaan : 25 Februari 2009

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Penglihatan kabur

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh pusing dan penglihatannya kabur, penglihatan kabur dirasakan sejak ±1
tahun yang lalu. Penglihatan kabur/tidak jelas dan seperti ada kabut serta terkadang pasien
merasa silau saat melihat cahaya. Mata merah (-), nyeri (-)

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat penyakit Diabetes Mellitus, didiagnosis sejak ± 3 tahun yang lalu.
hipertensi (-) TBC (-). Riwayat trauma pada mata (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada dari keluarga pasien yang menderita penyakit/gejala-gejala yang sama seperti
yang diderita oleh pasien saat ini.

Riwayat Pengobatan Sebelumnya


Pasien tidak pernah berobat penyakit mata sebelumnya. hanya berobat untuk penyakit DM
di Puskesmas

3
III. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal Pemeriksaan : 25 Februari 2009
Keadan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Status Lokalis :

No Pemeriksaan Mata kanan Mata kiri


Visus 2/60 2/60
Pinhole Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refraksi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Lapang pandang Kabur di sebelah kanan Normal
Gerakan bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah
Palpebra superior
- -
• Edema
- -
• Hiperemi - -
- -
• Papil Normal Normal
- -
• Enteropion
- -
• Silia
• Pseudoptosis
• Sikatriks
Palpebra inferior
Normal Normal
• Silia
- -
• Trikiasis - -
- -
• Hiperemi
• Edema
Konjungtiva palpebra
Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
• Superior
Injeksi konjungtiva (-) Injeksi konjungtiva (-)
• Inferior
Konjungtiva bulbi
- -
• Injeksi konjungtiva
- -
• Injeksi silier
Kornea Jernih Jernih
Permukaan cembung Permukaan cembung
Infiltrate (-) Infiltrate (-)
Bilik mata depan Kedalaman cukup Kedalaman cukup

4
Hifema (-) Hifema (-)
Hipopion (-) Hipopion (-)
Iris Warna coklat Warna coklat
Iridodenesis (-) Iridodenesis (-)
Iridodialisis (-) Iridodialisis (-)
Sinekia (-) Sinekia (-)
Pupil
Regular Regular
• Bentuk
(+) (+)
• Refleks (langsung) (+) (+)

• Refleks (tidak langsung)


Lensa Keruh (berwarna putih) Keruh (berwarna putih)
Iris shadow (-) Iris shadow (-)
TIO (palpasi) Normal Normal
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Katarak Matur
IV. DIAGNOSIS
Katarak matur OD dan OS

V. DIAGNOSIS BANDING
Katarak imatur

VI. USULAN PEMERIKSAAN


Funduskopi
VII. PENATALAKSANAAN
1. KIE
2. Operasi
a. ICCE (Intra Capsuler Cataract Extraction)
b. ECCE (Extra Capsuler Cataract Extraction)
c. SICS

5
d. Fakoemulsifikasi

VIII. PROGNOSIS
Pasien katarak dengan diabetes mellitus yang akan dioperasi katarak akan memiliki
prognosis:
1. Baik  bila penyakit diabetes terkontrol dan tidak ada komplikasi akibat
penyakit diabetesnya.
2. Buruk  bila pasien terkena komplikasi dari penyakit diabetesnya yaitu retinopati
diabetic.

6
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian
Katarak adalah perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya
menjadi keruh. Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena
dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan
yang kabur pada retina.1
Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di
dalam kapsul lensa atau juga suatu keadaan patologik lensa di mana lensa menjadi keruh
akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.1
Katarak disebabkan hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa,
proses penuaan (degeneratif). Meskipun tidak jarang ditemui pada orang muda, bahkan
pada bayi yang baru lahir sebagai cacat bawaan, infeksi virus (rubela) di masa
pertumbuhan janin, genetik, gangguan pertumbuhan, penyakit mata, cedera pada lensa
mata, peregangan pada retina mata dan pemaparan berlebihan dari sinar ultraviolet.
Kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, diabetes mellitus, rokok, alkohol, dan obat-obatan
steroid, serta glaukoma (tekanan bola mata yang tinggi), dapat meningkatkan risiko
terjadinya katarak.1

1. Etiologi
etiologi katarak adalah :
a. degeneratif (usia)
b. kongenital
c. penyakit sistemik (misal DM, hipertensi, hipoparatiroidisme)
d. penyakit lokal pada mata (misal uveitis, glaukoma dll)
e. trauma
f. bahan toksik (kimia & fisik)
g. keracunan obat-obat tertentu (kortikosteroid, ergot, dll)

Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia
seseorang. Katarak kebanyakan muncul pada usia lanjut. Data statistik menunjukkan
bahwa lebih dari 90% orang berusia di atas 65 tahun menderita katarak. Sekitar 55% orang
berusia 75— 85 tahun daya penglihatannya berkurang akibat katarak. Walaupun
sebenarnya dapat diobati, katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.1

7
Gejala
Gejala umum gangguan katarak meliputi :
• Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
• Peka terhadap sinar atau cahaya.
• Dapat melihat dobel pada satu mata.
• Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
• Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.1

Penyebab terjadinya kekeruhan lensa ini dapat :


1. Primer, berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar lensa.
2. Sekunder, akibat tindakan pembedahan lensa.
3. Komplikasi penyakit lokal ataupun umum.2

Jenis-jenis katarak
Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :
• Katarak perkembangan (developmental) dan degeneratif
• Katarak kongenital, juvenvil, dan senil.
• Katarak komplikata
• Katarak traumatik.2

Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :


• Katarak kongenital, katarak yang terlihat pada usia di bawah 1 tahun
• Katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas1 tahun dan di bawah 40
tahun.
• Katarak presenil, katarak sesudah usia30 - 40 tahun
• Katarak senil, katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.2

KATARAK SENIL
Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia di
atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti.
Katarak senil secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur, intumesen,
matur, hipermatur dan morgagni. 3

8
Katarak insipien. Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut :
Kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior
(katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Katarak subkapsular posterior,
kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa
dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien. Kekeruhan
ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refaksi yang tidak sama pada semua
bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama. 3

Katarak intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang
degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi
bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal
dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan
penyulit glaukoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat
dan mengakibatkan miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga
lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikdn miopisasi.
Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat
lensa. 3

Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai
seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat
meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma
sekunder. 3

Katarak matur. Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur
atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali
pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan
mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris
negatif. 3
Katarak matur bila dibiarkan saja akan menjadi katarak intumesen (katarak dengan
kandungan air maksimal), yang dapat memblok pupil dan menyebabkan tekanan bola mata
meningkat (glaucoma). Atau lama kelamaan bahan lensa akan keluar dari lensa yang

9
katarak ke bilik mata depan dan menyebabkan reaksi radang. Sel-sel radang ini akan
menumpuk di trabekulum dan akhirnya juga dapat meningkatkan tekanan bola mata
(glucoma). Bila tekan bola mata yang tinggi ini tidak segera diturunkan, maka sel-sel
syaraf mata yang terdapat pada dinding belakang bola mata akan tertekan, yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf tersebut, yang mengakibatkan
kebutaan. 5

Katarak hipermatur. Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi


lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi
keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering,
Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang
pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula Zinn menjadi kendor. Bila
proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang
berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk
sebagai sekantong susu disertai dengan nukieus yang terbenam di dalam korteks lensa
karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.3

KATARAK KOMPLIKATA
Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa faktor fisik
atau kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa. Katarak komplikata dapat terjadi
akibat iridosikiitis, miopia tinggi, ablasi retina, dan glaukoma. Katarak komplikata dapat
terjadi akibat kelainan sisternik yang akan mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang
akan mengenai satu mata. 2
1. Katarak akibat kelainan sistemik
Diabetes melitus, akan menyebabkan katarak pada kedua mata dengan bentuk yang khusus
seperti terdapatnya tebaran kapas atau saiju di dalam bahan lensa. Kekeruhan lensa
dapat berjalan progresif sehingga terjadi gangguan penglihatan yang berat. Katarak
diabetes merupakan katarak yang dapat terjadi pada orang muda akibat terjadinya
gangguan keseimbangan cairan di dalam kaca atau tubuh secara akut.2
Pathofisiologi. Diabetes Mellitus adalah kelainan yang bersifat khronik, yang oleh
gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein diikuti oleh komplikasi makro dan
mikrovaskuler. Kelainan metabolik ini erat berkaitan dengan faktor genetik dengan jalan
utama adalah intoleransi glukosa.

10
Patogenesa terjadi katarak pada Diabetes Mellitus sesuai dengan uji coba pada binatang
dapat diterangkan sebagai berikut:
Masuknya glukosa ke dalam lensa mata tidak memerlukan adanya insulin. Dalam keadaan
normal glukosa ini direduksi menjadi sorbitol dalam jumlah terbatas dan oleh enzim
sorbitol dehidrogenase dirubah menjadi fruktosa. Pada Diabetes Mellitus dimana terjadi
hiperglikemia yang diikuti kadar glukosa dalam lensa tinggi sehingga pembentukan
sorbitol meningkat yang akan berubah menjadi fruktosa yang relatif lambat. Sorbitol akan
menaikan tekanan osmose intraseluler dengan akibat penarikan air ke dalam lensa.
Disamping itu terjadi pula metabolisme mioinositol dimana kedua peristiwa ini
menyebabkan katarak.4

TERAPI
Bedah katarak senil
Bedah katarak senil dibedakan dalam bentuk ekstraksi lensa intrakapsular dan ekstraksi
tensa ekstrakapsular. 2

Ekstraksi lensa intrakapsular


Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil.
Lensa dikeluarkan berama-sama dengan kapsul lensanya dengan memutus zonula
Zinnyang telah pula mengalami degenerasi.
Pada ekstraksi lensa intrakapsular dilakukan tindakan dengan urutan berikut:
1. Dibuat flep konjungtiva dari jam 9-3 melalui jam 12
2. Dilakukan pungsi bilik mata depan dengan pisau
3. Luka kornea diperlebar seluas 160 derajat
4. Dibuat iridektomi untuk mencegah glaukoma blokade pupil pasca bedah
5. Dibuat jahitankorneosklera
6. Lensa dikeluarkan dengan krio
7. Jahitan kornea dieratkan dan ditambah
8. Flep konjungtiva dijahit.2

Penyulit pada saat pembedahan yang dapat terjadi adalah :


1. Kapsul lensa pecah sehingga lensa tidak dapat dikeluarkan bersama-sama
kapsulnya. Pada keadaan ini terjadi ekstraksi lensa ekstrakapsular tanpa rencana
karena kapsul posterior akan tertinggal

11
2. Prolaps badan kaca pada saat lensa dikeluarkan. 2

Bedah ekstraksi lensa intrakapsular (EKIK) masih dikenal pada negera dengan ekonomi
rendah karena :
1. Teknik yang masih baik untuk mengeluarkan lensa keruh yang mengganggu
penglihatan
2. Teknik dengan ongkos rendah. 2

Ekstraksi lensa ekstrakapsular


Pada ekstraksi lensa ekstrakapsular dilakukan tindakan sebagai berikut:
1. Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat dari jam
2. 10 sampai jam 2
3. Dibuat pungsi bilik mata depan
4. Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi anterior
5. Dibuat luka kornea dari jam 10-2
6. Nukieus lensa dikeluarkan
7. Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul poserior saja
8. uka komea dijahit
9. Flep konjungtiva dijahit2

Penyulit yang dapat timbul adalah terdapat korteks lensa yang akan membuat katarak
sekunder. 2

Fakoemulsifikasi
Untuk mencegah astigmat pasa bedah EKEK, maka luka dapat diperkecil dengan tindakan
bedah fakoemulsifikasi. Pada tindakan fako ini lensa yang katarak di fragmentasi dan
diaspirasi. 2

SICS
Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan teknik
pembedahan kecil. Teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh
dan murah.6

12
PEMBAHASAN

1. Apakah diagnosis dan pemeriksaan kasus ini sudah tepat?


Pada pasien ini, katarak terjadi pada usia lanjut sehingga jenis katarak pada pasien
ini adalah katarak senil. Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat
pada usia lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak
diketahui secara pasti. Katarak senil secara klinik dikenal dalam 4 stadium yaitu
insipien, imatur, matur, hipermatur. Pada pemeriksaan fisik mata pada pasien ini
ditemukan tanda-tanda katarak matur yaitu kekeruhan telah mengenai seluruh masa
lensa, kedalaman bilik mata depan berukuran normal, tidak terdapat bayangan iris
pada lensa, sehingga uji bayangan iris negatif.
Pemeriksaan pada pasien ini kurang lengkap. Pada pasien tidak dilakukan
pemeriksaan pinhole, refraksi dan funduskopi. Ketiga pemeriksaan ini penting
dilakukan.
Hasil pemeriksaan visus pada kedua mata pasien adalah 2/60. Hal ini menunjukkan
bahwa tajam penglihatan pasien berkurang. Untuk mengetahui apakah berkurangnya
tajam penglihatan disebabkan oleh kelainan refraksi atau media, maka harus dilakukan
pemeriksaan pinhole. Bila setelah pemeriksaan pinhole tajam penglihatan meningkat,
berarti terjadi kelainan refraksi. Sebaliknya bila setelah pemeriksaan pinhole tajam
penglihatan tetap atau menurun, maka letak kelainan terjadi pada media.
Setelah pemeriksaan pinhole, bila terdapat kelainan refraksi, perlu dilakukan
pemeriksaan refraksi untuk mengetahui apakah pasien ini memiliki kelinan refraksi
miopi, hipermetropi, astigmatisme atau presbiopi. Pasien ini dapat diduga menderita
presbiopi karena usia pasien 50 tahun (pasien berusia tua).
Pemeriksaan funduskopi juga penting dilakukan untuk mengetahui apakah
kekeruhan telah mengenai seluruh lensa atau tidak. Namun sebelum melakukan
funduskopi, mata sebaiknya di beri tetes mata Midriacil agar pupil menjadi midriasis
sehingga keadaan lensa dapat terlihat lebih jelas, tetapi tekanan bola mata pasien harus
normal sebelum diberi tetes mata Midriacil.

2. Apa penyebab terjadinya katarak pada kasus ini?


Penyakit katarak pada pasien ini dapat diduga disebabkan oleh penyakit yang
diderita pasien sebelumnya yaitu diabetes mellitus. Penyakit diabetes ini diderita oleh
pasien sejak ± 3 tahun yang lalu. Diabetes mellitus dapat menebabkan penyakit

13
katarak. Patogenesa terjadi katarak pada Diabetes Mellitus dapat diterangkan sebagai
berikut: Masuknya glukosa ke dalam lensa mata tidak memerlukan adanya insulin.
Dalam keadaan normal glukosa ini direduksi menjadi sorbitol dalam jumlah terbatas
dan oleh enzim sorbitol dehidrogenase dirubah menjadi fruktosa. Pada Diabetes
Mellitus dimana terjadi hiperglikemia yang diikuti kadar glukosa dalam lensa tinggi
sehingga pembentukan sorbitol meningkat yang akan berubah menjadi fruktosa yang
relatif lambat. Sorbitol akan menaikan tekanan osmose intraseluler dengan akibat
penarikan air ke dalam lensa. Disamping itu terjadi pula metabolisme mioinositol
dimana kedua peristiwa ini menyebabkan katarak.

3. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?


Penatalaksanaan katarak pada pasien ini adalah operasi katarak dengan tehnik
ECCE tanpa pemasangan IOL karena pasien lebih memilih menggunakan kacamata.
Sebelum operasi, pasien sebaiknya di KIE terlebih dahulu, karena pada pasien ini
memilliki visus 2/60. Bila di operasi maka visusnya menjadi semakin menurun dari
2/60, maka perlu dipasang IOL atau kacamata. Selain itu juga, kondisi diabetesnya
harus terkontrol dan tidak ada hipertensi agar tidak terjadi komplikasi saat dan setelah
dioperasi.

4. Apa prognosis kasus ini?


Pasien katarak dengan diabetes mellitus yang akan dioperasi katarak, memiliki
prognosis baik bila penyakit diabetenya terkontrol dan tidak ada komplikasi akibat
diabetesnya. Selain itu, pasien ini dapat memiliki prognosis yang buruk bila
diabetesnya tidak terkontrol dan telah terjadi komplikasi akibat diabetesnya yaitu
retinopati diabetic. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan funduskopi untuk
mengetahui apakah telah terjadi retinopati diabetic. Pemeriksaan funduskopi pada
retinopati diabetic dapat ditemukan mikroaneurisma, perdarahan retina, exudate,
neovaskularisasi retina dan jaringan proliferasi di retina atau badan kaca. Bila pada
pasien katarak dengan retinopati diabetic akan dioperasi katarak dengan pemasangan
IOL atau tidak (menggunakan kacamata), maka hasilnya akan sia-sia karena tindakan
operasi yang dilakukan tidak dapat meningkatkan visus. Hal ini disebabkan karena
kerusakan telah terjadi di retina.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Putri C. F., 2007. Makalah Penugasan Blok Ketrampilan Belajar Dan Teknologi
Informasi. Available on fkuii.org/tiki-download_wiki_attachment. php? attId =
966&page=Chori%20Fadhila%20Putri. (Diakses 25 Februari 2009).
2. Ilyas S., 2005. Penuntun Ilmu Penyakit Mata edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI, hlm : 128.
3. Ilyas S., 2008. Ilmu Penyakit Mata. 3rd edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI,
4. Adrian N., 2003. Katarak Diabetes. Available on fkuii.org/tiki-
download_wiki_attachment.php? attId=1998&page=LEM%20FK%20UII.
(Diakses 25 Februari 2009).
5. Joomla., 2009. Tindakan Bedah Katarak. Available on
http://209.85.175.132/search?q=cache:8de-uud-INQJ:203.211.145.29/~gadingey//
index2.php%3Foption%3Dcom_content%26do_pdf%3D1%26id%3D9+Tindakan+
Bedah+Katarak%2BJoomla&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&client=firefox-a.
(Diakses 25 Februari 2009).
6. Zuhri A., 2008. FK UGM Gelar Operasi Gratis Katarak. Available on
http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=160711. (Diakses 2 Maret 2009).

15