Anda di halaman 1dari 11

PERBANDINGAN EFEK ANTIBAKTERI AIR PERASAN DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava) DENGAN AIR PERASAN DAUN SIRIH

(Piper betle Lynn) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB GASTROENTERITIS AKUT (Escherichia coli) SECARA IN VITRO
Mona Agustina, Fanny Rahardja, Rita Tjokropranoto Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha, Jl. Prof. Drg. Suria Sumantri MPH No. 65 Bandung 40164 Indonesia
Abstrak Gastroenteritis akut merupakan peradangan lambung dan usus ditandai gejala diare dengan atau tanpa muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh. Gastroenteritis paling sering disebabkan oleh bakteri Escherichia coli. Insidensinya cukup tinggi di Indonesia.Air perasan daun jambu biji dan daun sirih diduga dapat menjadi alternatif pengobatan. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efek antibakteri dari air perasan daun jambu biji dan air perasan daun sirih terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik, dengan menanamkan suspensi bakteri yang telah diidentifikasi dengan metode disc diffusion pada Mueller Hinton agar ,kemudian tanam cakram yang telah di rendam dalam air perasan daun jambu biji dan air perasan daun sirih dalam berbagai konsentrasi dilakukan secara duplo. Pengukuran zona inhibisi dilakukan dengan jangka sorong dalam mm. Analisis data menggunakan metode statistik one way anova dan tabel LSD dengan data dinyatakan berbeda nyata bila p<0.05 yang kemudian dilanjutkan dengan uji t tidak berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa air perasan daun jambu biji dan air perasan daun sirih efektif dalam menurunkan jumlah bakteri Escherichia coli dengan rata-rata zona inhibisi semakin besar mengikuti peningkatan kansentrasi. Berdasarkan statistik yang digunakan anova one way dan uji t tidak berpasangan, didapatkan hasil sangat signifikan dengan nilai p=o.oooo. Kesimpulan penelitian : Bakteri Escherichia coli bersifat sensitif terhadap air perasan daun jambu biji dan air perasan daun sirih dan aktivitas air perasan daun jambu biji dan daun sirih terhadap Escherichia coli semakin meningkat seiring peningkatan konsentrasi. Kata kunci : daun jambu biji, daun sirih, Eschrichia coli, efek antibakteri, gastroenteritis akut

ANTIBACTERIAL EFFECT COMPARISON JUICE of GUAVA SEEDS LEAVES JUICE (Psidium guajava) AND PIPER BETLE LEAVES JUICE (Piper betle Lynn) OF BACTERIA GASTROENTERITIS ACUTE CAUSE IN VITRO
Abstract Acute gastroenteritis is an inflammation of the stomach and intestines marked symptoms of diarrhea with or without vomiting, and often accompanied by an increase in body temperature. Gastroenteritis is most often caused by the bacterium Escherichia coli. Incidence is high in Indonesia.Air squeezed guava leaves and betel leaf could be expected to be an alternative treatment. The purpose and objective of this study was to compare the antibacterial effect of the juice of guava leaves and the juice of betel leaves to the bacteria Escherichia coli.

Laboratory experimental research is, by implanting a suspension of bacteria that have been identified by the disc diffusion method on Mueller Hinton agar, then planting discs that have been soaked in the juice of guava leaves and the juice of betel leaves in various concentrations performed in duplicate. Inhibition zone measurement performed with calipers and then processing the data using statistical analysis methods one way ANOVA and LSD table with the data is significantly different when p <0.05 followed by unpaired t test. These results indicate that the juice of guava leaves and the juice of betel leaves are effective in lowering the number of bacteria Escherichia coli with an average zone of inhibition greater following the increase kansentrasi. Based on the statistics used one-way ANOVA and unpaired t test, showed highly significant with p = o.oooo. Conclusions of the study: Escherichia coli bacteria are sensitive to the juice of guava leaves and the juice of betel leaf juice and water activities of guava leaves and betel leaf against Escherichia coli increases with increasing concentration. Key word : Psidum guajava leave, Piper betle leave, Eschrichia coli, antibacterial effect, gastroenteritis acute Pendahuluan Gastroenteritis akut merupakan peradangan pada lambung dan usus yang ditandai dengan gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh. Diare yang dimaksudkan adalah buang air besar berkali-kali (dengan jumlah yang melebihi 4 kali, dan bentuk feses yang cair, dapat disertai dengan darah atau lendir. 17 Penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama yang menjadi masalah kesehatan masyasakat di Indonesia karena memiliki insidensi dan mortalitas yang tinggi. Diperkirakan terdapat antara 20-50 kejadian diare per 100 penduduk setahunnya. Kematian terutama disebabkan karena penderita mengalami dehidrasi berat. Antara 70-80% penderita terdapat pada mereka dibawah 5 tahun. Data Departemen Kesehatan menunjukan, diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah 5 tahun atau balita di Indonesia, setelah radang paru ata pneumonia .8 Etiologi gastroenteritis akut menurut World Gastroenterology Organisation global guideslines 2005 dibagi 4 : bakteri, virus, parasit dan non-infeksi. Bakteri yang paling sering menyebabkan diare akut ini adalah : Escherichia coli pathogen, Shigella sp., Salmonella sp.,Vibrio cholera, Pseudomonas sp., Staphylococcus aureus, Streptococcus sp., Klabsiella sp. . Virus : rotavirus, adenovirus, Norwalk virus, CMV. Parasit: Entamoeba histolitica, Giardia lamblia. Cacing:Ascaris lumbricoides, cacing tambang. Fungus:kandida/moniliasis. Selain itu, dapat disebabkan oleh non-infeksi : imunodefisiensi (hipogamaglobulinemia), terapi obat antibiotik, kemoterapi, antasida.1 Pengobatan gastroenteritis akut dengan menggunakan obat antidiare dapat menimbulkan beberapa efek samping yang cukup berat yaitu: mulut kering, mual muntah, impaksi feses(tidak dapat buang air besar), konstipasi, alergi, fecalith dll. Oleh karena itu, sekarang sedang banyak dikembangkan obat-obatan herbal yang dapat dijadikan pengobatan alternatif untuk mengatasi diare. Beberapa diantaranya adalah daun jambu biji dan daun sirih.9 Daun jambu biji memiliki kandungan kimia : tanin, eugenol, seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin, polifenol dan vitamin.

Kandungan eugenol ini lah yang mempunyai efek antiseptik/antibakteri. Daun jambu biji ini juga sudah teruji secara klinis bermanfaat sebagai antidiare.9 Daun sirih memiliki kandungan kimia : minyak atsiri, hydroxychavicol, chavicol, chavibetol, allylpyrocatechol, cineole, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, phenyl propane, tannin, diastase, gula, pati dan eugenol. Kandungan eugenol pada daun sirih ini diduga mempunyai efek antiseptic/antibakteri yang dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk diare. Memang belum ada uji klinis mengenai efek antidiare dari daun sirih. Oleh karena itu dibutuhkan pengujian terhadap efek daun sirih tersebut. 7

Bahan dan Cara Penelitian ini menggunakan metode cakram kertas pada Mueller hinton agar bersifat experimental laboratorik. Metode yang digunakan adalah disc diffusion dengan melakukan pengamatan zona inhibisi yang ditimbulkan oleh ekstrak daun jambu biji dan ekstrak daun sirih serta kombinasi keduanya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Pengukuran zona hambat ditentukan dengan jangka sorong. Alat-alat yang di gunakan meliputi oese, Bunzen, Mikroskop cahaya, Object glass dan cover glass, Cawan petri steril, Spreader, Neraca analitis, Tabung erlenmayer, Otoklaf dan oven, Pisau, Penjepit kayu, Jangka sorong, Incubator 37 C, Cakram kosong steril, Kapas, Pinset, Kain kassa steril, Mikropipet 0-20 ul, 100- 1000 ul, Tip pipet steril Bahan-bahan yang digunakan, meliputi air perasan daun jambu biji, air perasan daun sirih, alkohol 70%, larutan NaCl 0.9% steril, Nutrien agar, Mueller hinton broth, Mueller hinton agar, tabung gula-gula, standar 0,5 Mcfarland BaCl2 + H2SO4 0,1M, air suling steril (akuades steril), reagen untuk Pewarnaan Gram (crystal violet, lugol, aseton alcohol, safranin, minyak emersi, mikroorganisme uji : Escherichia coli pathogen. Persiapan bakteri uji dimulai dari identifikasi ulang kuman biakan laboratorium yang berasal dari feses pasien yang dirawat di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Mikroorganisme tersebut diidentifikasi ulang dengan cara makroskopis yaitu dengan mengamati koloni kuman yang tumbuh pada media pembiakan kemudian dengan cara mikroskopis yaitu dengan Pewarnaan gram untuk melihat bentuk dan sifatnya di bawah mikroskop dan tes biokimiawi. Daun jambu biji dan daun sirih hijau masing-masing ditimbang sebanyak 40 gram yang diperoleh dari pasar tradisional dengan ukuran rata-rata sama, dicuci dan diletakkan dalam cawan Petri steril. Daun jambu biji dan daun sirh yang telah dicuci kemudian dihaluskan dengan ulekan yang telah disiram alkohol 70% dan dibilas dengan akuades steril. Hasil yang telah dihaluskan kemudian direbus dalam 100 ml aquadest sampai mendidih kemudian diletakkan dalam suatu kain perasan steril dan diperas lalu ditampung dalam gelas steril. NA sebanyak 0,135 gram dilarutkan ke dalam 135 ml akuades steril, dipanaskan sampai mendidih, disterilisasi dengan otoklaf pada 121oC dalam 15 menit, tunggu sampai cairan bersuhu 45-50oC, dituang ke dalam cawan Petri dan dibiarkan mengeras.

Sebanyak 0,135 gram serbuk MHA dilarutkan ke dalam 135 ml akuades steril yang dimasukkan ke dalam tabung Erlenmeyer, disumbat dengan kapas berlemak dan dipanaskan hingga larut. Lalu dibungkus tabung Erlenmeyer dengan alumunium foil dan disterilkan dalam otoklaf selama 15 menit pada suhu 121oC Setelah teridentifikasi, Escherichia coli dibuat suspensi dari koloni yang tumbuh pada medium pembiakan. Kekeruhan suspensi dibuat dengan standar 0,5 McFarland. Metode ini dikerjakan dengan menggunakan Barium Sulfat sebagai standar turbiditas. Pembuatan suspensi dilakukan dengan cara mengambil 1 sampai 2 koloni Escherichia coli yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,9%. Kemudian, kekeruhan suspensi tersebut dibandingkan dengan larutan standar 0,5 McFarland secara berdampingan dengan latar belakang garis-garis bewarna hitam menggunakan mata tanpa bantuan alat. Bila kekeruhan suspensi tersebut tidak cocok dengan turbiditas larutan standar maka dapat ditambahkan koloni Escherichia coli pada suspensi atau mengencerkan suspensi tersebut dengan menambahkan NaCl 0,9%. Koloni Esherichia coli diinokulasikan pada MHA dengan metode spread-plate menggunakan spreader hingga merata. Lalu ditanam cakram yang masing-masing ditetesi 10 l air perasan daun jambu biji, daun sirih dan campuran keduanya dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Hasil yang didapatkan adalah adanya zona hambat disekitar cakram dan diukur diameter terpanjang secara horizontal maupun vertikal dengan menggunakan jangka sorong lalu diambil rata-ratanya. Pengamatan dilakukan setelah inkubasi selama 24 jam. Pengamatan dilakukan terhadap zona inhibisi dari Esherichia coli oleh cakram yang masing-masing ditetesi 10 l air perasan daun jambu biji, 10ul air perasan daun sirih dan 10ul gabungan keduanya. Zona inhibisi diukur menggunakan jangka sorong. Hasil pengamatan dicatat dalam bentuk tabel.

Hasil dan Pembahasan Pengamatan uji aktivitas air perasan daun jambu biji dan daun sirih dilakukan dengan cara melakukan uji MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dan MBC (Minimum Bactericidal Concentration) sebanyak masing-masing 10 tabung atau pengenceran untuk masing-masing set dengan hasil yang dapat dilihat pada table 4.1.

Tabel 4.1 Kadar air perasan daun jambu biji dan daun sirih tiap tabung dan hasil pem. mikroskopis MIC Tabung 1 2 3 Daun Jambu Biji (%) 800 400 200 Pem. mikroskopis Daun Sirih (%) 800 400 200 Pem. mikroskopis -

4 5 6 7 8 9 10

100 50 25 12,5 6,25 3,125 1.5625

+ ++ +++

100 50 25 12,5 6,25 3,125 1,5625

+ ++ +++

Tabel 4.2 Hasil pengamatan zona inhibisi air perasan daun jambu biji konsentrasi 1 (mm) 800% 400% 200% 100% 50% 25% 12.50% 6.25% 3.13% 1.56% kontrol positif 24.5 21.5 18.5 14.5 12.5 10.5 10 7 29 percobaan 2 (mm) 24.4 22 18.7 15.2 12.7 10.6 9.6 7.4 29 3 (mm) 23.9 21.8 19 14.8 12.3 10.9 9.8 7.5 29 4(mm) 24.7 21.6 18.8 14.9 12 10.4 10.1 6.9 29 24.375 21.725 18.75 14.85 12.375 10.6 9.875 7.2 29 rata-rata (mm)

Tabel 4.3 ANOVA Satu Arah pada Zona Inhibisi yang Dibentuk oleh Cakram yang Mengandung Air Perasan Daun Jambu Biji Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 1742.202 1.690 1743.892 df 8 27 35 Mean Square 217.775 .063 F 3479.250 Sig. .000

Pada hasil uji ANOVA diperoleh p=0.000, hal ini menunjukan adanya perbedaan rerata zona inhibisi yang sangat bermakna antara kelompok perlakuan. Untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda dilakukan uji Post hoc LSD.

Tabel 4.4 Hasil pengamatan zona inhibisi air perasan daun sirih percobaan konsentrasi 800% 400% 200% 100% 50% 25% 12.50% 6.25% 3.13% 1.56% kontrol positif 1 (mm) 24 19 16.5 15.5 14 11.5 9 6 28.5 2 (mm) 23.5 19.5 17 15.2 13.7 11.7 8.6 6.5 28.5 3 (mm) 23.8 20 16.8 15 13.5 11.2 8.8 6.3 28.5 4(mm) 24.1 19.7 17.1 15.5 14 10.8 9 6.5 28.5 rata-rata (mm) 23.85 19.55 16.85 15.3 13.8 11.3 8.85 6.325 28.5

Tabel 4.5 ANOVA Satu Arah pada Zona Inhibisi yang Dibentuk oleh Cakram yang Mengandung Air Perasan Daun Sirih Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 1613.336 2.048 1615.383 df 8 27 35 Mean Square 201.667 .076 F 2659.344 Sig. .000

Pada hasil uji ANOVA diperoleh p=0.000, hal ini menunjukan adanya perbedaan rerata zona inhibisi yang sangat bermakna antara kelompok perlakuan. Untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda dilakukan uji Post hoc LSD. Tabel 4.6 Uji Post Hoc HSD pada Zona Inhibisi yang dibentuk oleh Air Perasan daun Jambu Biji terhadap bakteri Escherichia coli 800% Kelompok 800% (1) 400% (2) 200% (3) (1) 400% (2) ** 200% (3) ** ** 100% (4) ** ** ** 50% (5) ** ** ** 25% (6) ** ** ** 12,5% (7) ** ** ** 6,25% (8) ** ** ** ** ** ** KP

100 % (4) 50% (5) 25% (6) 12,5% (7) 6,25% (8) KP

**

** **

** ** **

** ** ** **

** ** ** ** **

Keterangan: TB = Tidak bermakna * = Bermakna ** = Sangat bermakna

Hasil uji Post hoc LSD pada tabel 4.6 didapatkan zona inhibisi kelompok 1 sampai kelompok 8 dibandingkan zona inhibisi kelompok 9 didapatkan hasil dengan p=0.000, ini menunjukan hasil yang sangat signifikan.

Tabel 4.7 Uji Post Hoc HSD pada Zona Inhibisi yang dibentuk oleh Air Perasan Daun Sirih terhadap bakteri Escherichia coli 800% Kelompok 800% (1) 400% (2) 200% (3) 100 % (4) 50% (5) 25% (6) 12,5% (7) 6,25% (8) KP (1) 400% (2) ** 200% (3) ** ** 100% (4) ** ** ** 50% (5) ** ** ** ** 25% (6) ** ** ** ** ** 12,5% (7) ** ** ** ** ** ** 6,25% (8) ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** KP

Keterangan:

TB = Tidak bermakna * = Bermakna ** = Sangat bermakna

Hasil uji Post hoc LSD pada tabel 4.7 didapatkan zona inhibisi kelompok 1 sampai kelompok 8 dibandingkan zona inhibisi kelompok 9 didapatkan hasil dengan p=0.000, ini menunjukan hasil yang sangat signifikan.

Tabel 4.8 Uji t Tidak Berpasangan Levene's Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means Sig. (2tailed F Sig. t df ) Mean Differenc e Std. Error Differenc e 95% Confidence Interval of the Difference Lowe r DASIRJA M Equal variance s assumed Equal variance s not assumed .30 1 69.89 8 3.7483 .66 8 .41 7 .30 1 70 .764 -.492 1.6328 Uppe r

3.7482

2.7649

.764

-.492

1.6328

2.7650

Hasil uji t tidak berpasangan pada tabel 4.8 menunjukan hasil non signifikan yang berarti, tidak ada perbedaan yang berarti antara efek antibakteri air perasan daun jambu biji dan air perasan daun sirih.

Pembahasan Hasil pada tabel 4.1 menunjukan hasil pemeriksaan secara mikroskopik pada setiap tabung MIC. Pada tabung dengan konsentrasi air perasan daun jambu biji maupun air perasan daun sirih menunjukan pemeriksaan mikroskopik yang negatif atau tidak ditemukan bakteri pada

konsentrasi 800% hingga 12.5%. sedangkan pada konsentrasi 6.25% hingga 1.56% dengan pemeriksaan mikroskopis ditemukan masih terdapat bakteri batang gram negatif. Hasil pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa bakteri Escherichia coli sensitif terhadap air perasan daun jambu biji. Hasil pada table 4.4 menunjukan bahwa bakteri Escherichia coli sensitif terhadap air perasan daun sirih. Didukung oleh Laura Piddock (1989) yang menyatakan bahwa kriteria suatu antibiotik secara umum dinyatakan sebagai sensitif, jika zona inhibisi yang terbentuk >30-35 mm dan resisten jika zona inhibisi yang tebentuk <15-20 mm (Laura Piddock, 1989). Sensifitas air perasan daun jambu biji dan daun sirih terhadap bakteri Escherichia coli disebabkan karena adanya zat-zat aktif yang terkandung dalam daun jambu biji maupun daun sirih yaitu minyak atsiri dan tannin yang menyebabkan permeabilitas membran sel bakteri menjadi meningkat sehingga bakteri akan lisis. Senyawa aktif dari daun jambu biji yang memiliki efek antimikroba yaitu minyak atsiri dan tannin melalui reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik.Minyak atsiri dan tannin akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel bakteri sehingga bakteri akan lisis. Sedangkan pada daun sirih senyawa aktif yang memiliki efek antimikroba yaitu eugenol, katekin dan tannin. Efek antibakteri katekin dengan cara mendenaturasi protein dari bakteri. Protein yang mengalami denaturasi akan kehilangan aktivitas fisiologis sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Perubahan struktur protein pada dinding sel bakteri akan meningkatkan permeabilitas sel sehingga pertumbuhan sel akan terhambat dan kemudian sel menjadi rusak. Sedangkan efek antibakteri tannin dengan cara menghambat enzim ekstraseluler mikroba, mengambil alih substrat yang dibutuhkan pada pertumbuhan mikroba atau bekerja secara langsung pada metabolisme melalui penghambatan fosforilasi oksidasi. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, bakteri Escherichia coli sensitif terhadap air perasan daun jambu biji dan daun sirih, tapi dalam penggunaannya daun jambu lebih banyak dipakai karena memiliki efek lain nya selain efek antibakteri yakni efek antispamolitik

Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan simpulan sebagai berikut: Air perasan daun jambu biji dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli Air perasan daun sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli Air perasan daun sirih dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sama dengan air perasan daun jambu biji.

Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa saran sebagai berikut : Dicoba dilakukan percobaan yang lebih lanjut apakah interaksi keduanya menghasilkan efek bakterisidal ataukah bakteriostatik.

Perlu dilakukan percobaan lebih lanjut untuk mengetahui efek lain nya dari kandungan lain dalam daun jambu biji dan daun sirih.

Perlu dilakukan percobaan bagaimana efek kombinasi antara air perasan daun sirih dan air perasan daun jambu biji dalam menghambat pertumbuhan bakteri lain atau jamur.

Saran untuk masyarakat luas: 1. Penggunaan air perasan daun jambu biji dan daun sirih untuk memgobati gastroenteritis akut. 2. Penggunaan air perasan masih kurang relevan pada konsentrasi 800%

Daftar pustaka 1. Wenny Anggraini. 2008. jurnal.dikti.go.id/jurnal/detil/id/19. 15 desember 2011 2. Fs Anton. Juli. 13. 2010. http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=GASTROENTERITIS+AKUT .15 Maret 2012 3. Baker, B.1997. The John Hopkins Microbioloy Newsletter. http://pathology5.pathology.jhmi.edu/micro/v16n05.htm. 26 Februari 2012 4. Bambang Mursito & Heru Prihmantoro. 2004. Tanaman Hias Berkhasiat Obat. Jakarta: Penebar Swadaya 5. Brooks G. F., Butel J. S., Morse S. A. 2001. Medical Microbiology. 22nd ed. USA: Appleton & Lange. P. 219, 225 227. 6. 7. Anonym. http://acta.fa.itb.ac.id/pdf_dir/issue_29_1_3.pdf 17 desember 2011 Daherlin. April. 9. 2011. http://daherlin.wordpress.com/2011/04/09/kandungan-danmanfaat-daun-sirih/ . 12 Desember 2011 8. Departemen Kesehatan. 2010. Situasi Diare di Indonesia. http://www.depkes.go.id/downloads/Buletin%20Diare_Final(1).pdf. 13 Desember 2011 9. Dalimarta, S., 2000, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid I, 71, Trubus Agrowijaya, Indonesia. 10. Fraser S. L. 2012. Enterobacter Infections. http://emedicine.medscape.com/article/216845overview. 24 juli 2012 11. Hidayat, Aziz Alimul. A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika 12. Kiat. Sehat. 2010.http://www.obatherbalalami.com/2010/07/lagikhasiat-daun-sirihmerah.html. 20 Desember 2011 13. Madappa T. 2011. Escherichia coli Infection. http://emedicine.medscape.com/article/217485-overview#a0101. 13 Desember2011 14. Netty. Febryanti. Sugiarto. 2008. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126141-FAR.05808-Uji%20antidiare-Literatur.pdf .16 Maret 2012

15. Rini Damayanti Moeljanto. 2003. Khasiat & Manfaat Daun Sirih, Obat Mujarab dari Masa ke Masa. Jakarta:Agromedia Pustaka 16. Sumanti, R., 2003, Uji Aktivitas Antifungi Infusa Daun Jambu biji (Psidium guajava Linn.) terhadap Candida albicans serta Profil KLT, Skripsi, Fakultas Farmasi, UAD, Yogyakarta. 17. Suratun. 2010. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Gastrointestinal. Jakarta: TIM 18. Todar K. 2012. Pathogenic E. coli. http://textbookofbacteriology.net/e.coli.html, 29 maret 2012. 19. Tortora, G.J., Funke, B.R. & Case, C.L. 2004. Microbiology: an introduction. 8th ed. San Fransisco: pearson Eduction 20. Yuniarti, P., 1991, Pengaruh Antibakteri Dekok Daun Jambu biji (Psidium guajava Linn.) terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, Skripsi, Fakultas rmasi, UGM, Yogyakarta.