Anda di halaman 1dari 16

MORFOLOGI BUNGA WALUH (Cucurbita moschata)

Makalah dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Morfologi Tumbuhan yang dibimbing oleh Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd

Oleh: Kelompok 9 Farah Robiatul Jauhariyyah Nina Yunindar (110341421572) (110341421577)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI OKTOBER 2012

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sebelum suatu tumbuhan mati, biasanya sudah dihasilkan suatu alat perkembangbiakan. Pada tumbuhan berbiji alat perkembangbiakan tersebut berupa bunga. Bunga merupakan modifikasi dari ranting berdaun. Walaupun terdapat variasi yang banyak di antara tipe-tipe bunga, namun pada umumnya pola dasar setiap bunga adalah sama, yaitu mempunyai perhiasan bunga. Pada pengamatan yang dilakukan oleh kelas C jurusan Biologi terdiri atas morfologi beberapa bunga. Bunga Waluh menjadi sangat menarik ketika kita mengetahui terdapat dua jenis bunga dalam satu tumbuhan. Oleh sebab itu, kami susun makalah dengan judul Morfologi Bunga Waluh yang nantinya akan dijelaskan beberapa cirri bunga Waluh secara morfologi.

1.2 Rumusan masalah 1) Bagaimana tata letak bunga Waluh pada tumbuhan Waluh? 2) Apa saja bagian-bagian bunga Waluh? 3) Bagaimana tipe perbungaan bunga Waluh? 4) Bagaimana kelengkapan, keadaan, dan aestivatio bunga Waluh? 5) Bagaimana andresium dan ginesium bunga Waluh? 6) Bagaimana tipe plasenta bunga Waluh? 7) Bagaimana rumus dan diagram bunga Waluh?

1.3 Tujuan 1) Mengetahui tata letak bunga Waluh pada tumbuhan Waluh. 2) Mengetahui bagian-bagian bunga Waluh. 3) Mengetahui tipe perbungaan bunga Waluh. 4) Mengetahui kelengkapan, keadaan, dan aestivatio bunga Waluh. 5) Mengetahui tipe andresium dan ginesium bunga Waluh.

6) Mengetahui tipe plasenta bunga Waluh. 7) Mengetahui rumus dan diagram bunga Waluh. 1.4 Dasar teori

A. Jumlah dan tata letak bunga pada tumbuhan Jumlah bunga pada setiap tumbuhan tidak sama. Pada umumnya tumbuhan memiliki banyak bunga, namun ada tumbuhan yang hanya memiliki satu bunga saja. Tumbuhan yang hanya memiliki satu bunga disebut planta uniflora, sedangkan yang memiliki banyak bunga disebut planta multiflora. Planta uniflora dapat dibedakan lagi berdasarkan letak bunga pada tumbuhan, yaitu : 1) Flos terminalis yaitu bunga yang tumbuhnya pada ujung batang, 2) Flos axillaris atau flos lateralis yaitu bunga yang tumbuh pada ketiak daun. Sedangkan letak bunga dari tumbuhan yang memiliki bunga banyak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1) Flores sparsi, yaitu letak bunga tersebar pada tumbuhan, 2) Anthotaxis atau inflorescentia, yaitu letak bunga bergerombol membentuk rangkaian. (Tjitrosoepomo, 2005)

B. Bagian-bagian bunga Bunga majemuk memiliki bagian-bagian yang kompleks, untuk itu perlu diketahui dengan jelas bagian-bagian apa saja yang terdapat pada bunga majemuk, diantaranya : 1) Tangkai bunga (pedicellus), yaitu cabang ibu tangkai yang mendukung bunganya, 2) Dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai bunga, yang mendukung bagianbagian bunga lainnya, 3) Hiasan-hiasan bunga (perianthium), diantaranya: 1) Daun-daun kelopak (sepalae), 2) Daun-daun mahkota atau daun-daun tajuk (petalae), 3) Daun-daun tenda bunga (tepalae), jika kelopak dan mahkota sama bentuk dan warnanya, 4) Alat kelamin

1) Alat kelamin jantan (androecium) 2) Alat kelamin betina (gynaecium). (Tjitrosoepomo, 2005:142)

C. Tipe Perbungaan Ibu tangkai bunga pada bunga majemuk dapat mengadakan percabangan dapat pula tidak. Ibu tangkai bunga yang tidak bercabang dan tidak berdaun seringkali dinamakan sumbu bunga (scapus). Ibu tangkai yang bercabang memperlihatkan cara percabangan yang bermacam-macam. Selain dari itu, jumlah cabang, panjangnya dibandingkan dengan tangkai serta susunan cabang-cabang tadi, berpengaruh pula terhadap urutan mekarnya masing-masing bunga pada suatu bunga majemuk. Bertalian dengan sifat-sifat itu bunga majemuk dibedakan menjadi tiga golongan : 1) Bunga majemuk tak terbatas (inflorescentia racemosa), yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya dapat tumbuh terus, mempunyai susunan acropetal yaitu semakin muda semakin dekat dengan ujung ibu tangkai, dan jika dilihat dari atas bunga mulai mekar dari tepi menuju pusat (inflorescentia centripetala), 2) Bunga majemuk terbatas (inflorescentia cymosa), yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, dan jika dilihat dari atas bunga mulai mekar dari pusat menuju tepi (inflorescentia centrifuga), 3) Bunga majemuk campuran (inflorescentia mixta), yaitu bunga yang

memperlihatkan baik sifat-sifat bunga majemuk terbatas maupun tak terbatas. (Tjitrosoepomo, 2005:129)

D. Kelengkapan Bunga Berdasarkan bagian-bagian yang terdapat pada bunga (tangkai dan dasar bunga tidak diperhitungkan), bunga dapat dibedakan : 1) Bunga lengkap (flos completus), yaitu bunga yang terdiri atas 1 lingkaran daundaun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran benang-benang sari dan 1 lingkaran daun-daun buah 2) Bunga tidak lengkap (flos incompletus), yaitu jika salah satu dari bagian-bagian tadi tidak ada

Berdasarkan kelaminnya dalam satu bunga, bunga dapat dibedakan menjadi : 1) Bunga banci atau berkelamin dua (flos hermaphroditus), 2) Bunga berkelamin tunggal (flos unisexualis) Berdasarkan kelaminnya dalam satu tumbuhan, dapat dibedakan menjadi : 1) Berumah satu (monoecus), dalam satu tumbuhan terdapat bunga jantan dan bunga betina, 2) Berumah dua (dioecus), dalam satu tumbuhan hanya terdapat satu jenis bunga jantan atau betina, 3) Poligam (polygamus), dalam satu bunga terdapat bunga jantan, betina, dan banci. (Tjitrosoepomo, 2005:146)

E. Keadaan bunga Pembagian tempat antara bagian bunga yang satu dengan bagian yang lain : 1) Terpencar, tersebar (acyclis), jika daun-daun kelopak, mahkota, benang sari tersusun spiral, 2) Berkarang, melingkar (cyclis), jika daun-daun kelopak, mahkota, benang sari tersusun melingkar, 3) Campuran (hemicyclis), jika daun-daun kelopak, mahkota, benang sari tersusun spiral dan melingkar, Jika bagian-bagian bunga duduknya berkarang, maka dibedakan lagi : 1) Berseling (alternatio), yaitu jika bagian-bagian suatu lingkaran terletak di antara dua bagian lingkaran di bawahnya atau atasnya, 2) Berhadapan (superpositio), jika masing-masing bagian dalam setiap lingkaran berhadapan satu sama lain Berdasarkan simetri 1) Asimetris atau tidak bersimetris 2) Setangkup tunggal (zygomorphus) 3) Setangkup menurut dua bidang (disimetris) 4) Beraturan atau bersimetri banyak (actinomorphus) Berdasarkan susunan kelopak 1) Berlekatan (gamosepalus)

2) Tidak berlekatan (polisepalus) Berdasarkan susunan mahkota 1) Berlekatan (gamopetalus) 2) Tidak berlekatan (polipetalus) Sedangkan jenis gamotepalus atau politepalus hanya untuk bunga yang bentuk kelopak dan mahkotanya tidak berbeda. (Tjitrosoepomo, 2005:160)

F. Aestivatio Bunga 1) Terbuka (aperta), jika tepi daun-daun kelopak atau mahkota tidak bersentuhan sama sekali satu sama lain, 2) Berkatup (valvata), jika tepi daun-daun kelopak atau mahkota saling bertemu tetapi tidak berlekatan, 3) Berkatup dengan tepi melipat ke dalam (induplicativa), 4) Berkatup dengan tepi melipat keluar (reduplicativa), 5) Menyirap, tepi saling menutupi seperti susunan genting atau sirap (imbricata), dapat dibedakan lagi : a) Terpuntir satu arah (convoluta atau concorta), a. Terpuntir ke kiri (sinistrorsum-contorta), jika arah putar sesuai dengan arah putar jam, b. Terpuntir ke kanan (dextrorsum-contorta), jika arah putar berlawanan dengan arah putaran jarum jam b) Mengikuti rumus 2/5 (quincuncialis), jika arah putar menyebabkan letak daun-daun kelopak atau mahkota mengikuti rumus 2/5, dua daun sama sekali di luar, dua daun sama sekali di dalam, dan satu daun yang tepinya satu di sebelah luar dan tepi lainnya di sebelah dalam. c) Kohlearis (cohlearis), mengikuti garis spiral seperti pada rumah siput, jika pada bunga dengan 5 daun kelopak atau lima daun tajuk : 1 daun sama sekali di luar, 1 daun sama sekali di dalam, sedang 3 lainnya tepi yang satu di luar dan tepi yang lainnya di dalam. Kohleat ini dibedakan lagi menjadi : a. Kohlearis visinal, jika daun yang sama sekali di dalam letaknya langsung berbatasan dengan daun yang sama sekali di luar,

b. Kohleat distal, jika daun yang sama sekali di luar dan daun yang sama sekali di dalam tidak langsung berbatasan. (Tjitrosoepomo, 2005:151)

G. Tipe Andresium Berdasarkan jumlah benang sari pada bunga, benang sari dibedakan menjadi 3, yaitu : 1) Benang sari banyak, yaitu jika dalam satu bunga terdapat lebih dari 20 benang sari 2) Jumlah benang sari 2x lipat jumlah daun tajuknya. Dibedakan menjadi 2 macam : 1. Diplostemon, benang sari dalam lingkaran luar duduk berseling dengan daundaun tajuk 2. Obdiplostemon, benang sari pada lingkaran dalam yang duduknya berseling dengan daun-daun tajuknya 3) Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang, : 1. Episepal, yaitu berhadapan dengan daun-daun kelopak, berseling dengan daun tajuk 2. Epipetal, yaitu berhadapan dengan daun tajuk, berseling dengan daun kelopak Berdasarkan jumlah berkas yang merupakan perlekatan dari benang sari, dapat dibedakan : 1) Benang sari berberkas satu (monadelphus) 2) Benang sari berberkas dua (diadelphus), jika benang sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang berlekatan dalam masing-masing kelompok 3) Benang sari berberkas banyak, jika dalam suatu bunga yang mempunyai banyak benang sari, tangkai sarinya tersusun menjadi beberapa kelompok atau berkas. (Tjitrosoepomo, 2005:176)

H. Tipe Ginesium Berdasarkan jumlahnya, putik dibedakan menjadi dua, yaitu : 1) Putik tunggal (simplex), yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun buah saja,

2) Putik majemuk (compositus), yaitu jika putik terjadi dari dua daun buah atau lebih, Berdasarkan letak ovarium (bakal buah) putik terhadap dasar bunga, dapat dibedakan juga menjadi : 1) Bakal buah menumpang (superus), yaitu bakal buah duduk di atas dasar bunga sedemikian rupa, sehingga bakal buah tadi lebih tinggi, sama tinggi, atau bahkan mungkin lebih rendah daripada tepi dasar bunga, tetapi bagian samping bakal buah tidak pernah berlekatan dengan dasar bunga, 2) Bakal buah setengah tenggelam (hemi inferus), yaitu jika bakal buah duduk pada dasar bunga yang cekung, jadi tempat duduknya bakal buah selalu lebih rendah daripada tepi dasar bunga, 3) Bakal buah tenggelam (inferus), yaitu bakal buah berlekatan dengan dasar bunga yang berbentuk mangkuk atau piala. Berdasarkan perlekatan daun buah (carpellum), sifat bakal buah atau putiknya dibedakan menjadi : 1) Apokarp, yaitu jika putik lebih dari satu dan daun buah masing-masing putik tadi berlekatan satu sama lain, 2) Senokarp, yaitu jika satu bakal buah terdiri atas beberapa daun buah yang berlekatan satu sama lain, jika perlekatan daun-daun buah itu hanya merupakan satu putik dengan satu ruang, disebut parakarp, sedangkan jika dari perlekatan daun-daun buah itu terbentuk putik dengan jumlah. (Tjitrosoepomo, 2005:184)

I. Tipe Plasenta Menurut letaknya, tembuni (plasenta) dibedakan menjadi : 1) Marginal, jika letaknya pada tepi daun buah 2) Laminal, jika letaknya pada helaian daun buah 3) Parietal, jika letaknya pada dinding bakal buah 4) Sentral, jika letaknya pada poros 5) Aksilar, jika letaknya pada sudut tengah pertemuan daun buah (Tjitrosoepomo, 2005:185)

J. Rumus Bunga Rumus bunga berasal dari ciri-ciri bunga, diambil dari bagian-bagian pokok bunga : 1) Kelopak : K 2) Mahkota : C 3) Benang sari : A 4) Putik : G Untuk bunga yang memiliki tenda bunga, rumus bunganya menggunakan huruf P. yang ditulis paling awal adalah kelamin bunga, menggunakan tanda , , dan (banci). Kemudian tanda simetri *(aktinomorphus),(zygomorphus), setelah itu baru urutan-urutan bagian pokok bunga tadi. Setiap bagian-bagian bunga diperjelas dengan menyertakan jumlahnya menggunakan angka kecil, tanda kurung berarti berlekatan. (Tjitrosoepomo, 2005:211)

K. Diagram Bunga Diagram bunga adalah suatu gambar proyek pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang, jadi pada diagram tersebut digambarkan penampang melintang daun-daun kelopak, mahkota,benang sari, dan putik, dan juga bagianbagianselain bagian pokok tadi jika masih ada. (Tjitrosoepomo, 2005:206)

1.5 Tempat Kebun Ambarawa

1.6 Hari, Tanggal Senin - Selasa, 29-30 Oktober 2012

1.7 Cara Kerja Menyiapkan bahan berupa bunga waluh (Cucurbita moschata) : jantan, betina, dan kuncup

Menentukan bahan tersebut (kuncup bunga) dalam kelompok aestivasinya berup aperta, valvata, redupliativa, induplikativa, koliearis, kuinkunsialis

Membuat diagram bunga dari hasil pengamatan tanaman bunga waluh (Cucurbita moschata)

Menentukan kedudukan bakal buah dari tanaman bunga waluh (Cucurbita moschata) terhadap reseptakulumnya

Mengiris melintang pada bakal buahnya dan menentukan jumlah karpelum penyusun putik dan jumlah ruang

Menentukan tipe putik tanaman bunga waluh (Cucurbita moschata) termasuk kelompok putik simplek, compositus, sinkarp, apokarp, senokarp, paracarp.

Menentukan tipe plasnta dari tanaman bunga waluh (Cucurbita moschata) termasuk parietales, laminalis, marginalis, axilaris dan sentralis.

BAB II ISI 2.1 Data hal Tipe perbungaan Bunga waluh jantan Tunggal flos axillaris flos sparsi Kelengkapan bunga Flos incompletus Flos unisexualis Flos masculus Planta monoecus Keadaan bunga Siklis alternatio Aktinomorphus gamopetalus gamosepalus Aestivatio Aperta (kelopak) Induplicativa (mahkota) Andresium syanthera Bunga waluh betina Tunggal flos axillaris flos sparsi Flos incompletus Flos unisexualis Flos femineus Planta monoecus Siklis alternatio Aktinomorphus gamopetalus gamosepalus Aperta (kelopak) Induplicativa (mahkota) -

Ginesium

Compositus Inferus Sinkarp

Plasenta Rumus bunga Diagram bunga

* K(5), C(5), A3

Axilaris * K(5), C(5), G(3)

Bunga jantan

Bunga betina

Sumber : http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/pla nts/cucu/cucurbitaceae.html

Sumber :
http://www.ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id= 131

2.2 Pembahasan

1) Tipe perbungaan Tipe perbungaan dari bunga Waluh jantan dan betina adalah bunga tunggal, letaknya di ketiak daun (flos axillaris), dan dalam satu tumbuhan terdapat banyak bunga dan letaknya tersebar (flos sparsi). Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005), 2) Kelengkapan bunga 1) Bunga jantan Bunga jantan tidak memiliki alat kelamin betina, hanya memiliki satu jenis kelamin yaitu alat kelamin jantan, dan dalam satu tumbuhan masih ditemukan bunga betina, sehingga bunga jantan termasuk flos incompletus, flos unisexualis, flos masculus, dan planta monoceus. (Tjitrosoepomo, 2005) 2) Bunga betina Bunga betina tidak memiliki alat kelamin jantan, hanya memiliki satu jenis kelamin yaitu alat kelamin betina, dan dalam satu tumbuhan masih ditemukan bunga jantan, sehingga bunga jantan termasuk flos incompletus, flos unisexualis, flos femineus, dan planta monoceus. (Tjitrosoepomo, 2005) 3) Keadaan bunga Bunga jantan dan betina masing-masing memiliki daun-daun kelopak, benangbenang sari, dan daun-daun buah, masing-masing tersusun dalam satu lingkaran, sehingga disebut siklis. Bunga ini memiliki bagian-bagian bunga yang terletak berseling (alternatio). Bunga ini memiliki banyak simetri (aktinomorphus), kelopak yang berlekatan (gamosepalus), dan mahkota yang berlekatan (gamopetal). Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005), 4) Aestivatio Letak daun-daun kelopak bunga waluh terhadap sesamanya tidak bersentuhan sama sekali satu sama lain, termasuk aperta. Sedangkan letak mahkota menurut aestivationya termasuk melekuk ke dalam atau disebut induplicativa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005), 5) Andresium Andresium pada bunga waluh jantan termasuk syanthera, yaitu alat kelamin jantan sebanyak 3 namun bersatu pada kepalanya.

6) Ginesium Putik pada bunga waluh betina berjumlah lebih dari satu, sehingga ia termasuk compositus, letak bakal buah terdapat di bawah dasar bunga sehingga disebut inferus. Selain itu, bakal buah dari bunga waluh betina ini dinamakan sinkarp karena jumlah putik dengan jumlah ruang sesuai dengan jumlah daun buahnya, Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005), 7) Plasenta Letak tembuni (plasenta) bakal buah bunga waluh terdapat pada sudut tengah pertemuan dari daun-daun buah, sifat ini disebut axillaris. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005)

8) Rumus bunga 1) Bunga jantan : * K(5), C(5), A(1) * K(5) Menunjukkan jenis kelamin bunga Menunjukkan simetri bunga Menunjukkan jumlah kelopak Tanda kurung berarti gamosepal C(5) Menunjukkan jumlah mahkota Tanda kurung berarti gamopetal A(1) Menunjukkan jumlah andresium

2) Bunga betina * K(5), C(5), G(3) * K(5) Menunjukkan jenis kelamin bunga Menunjukkan simetri bunga Menunjukkan jumlah kelopak Tanda kurung berarti gamosepal C(5) Menunjukkan jumlah mahkota

Tanda kurung berarti gamopetal G(3) Menunjukkan jumlah ginesium Garis di atas menunjukkan letak bakal buah inferus Hal ini sesuai dengan pernyataan Gembong Tjitrosoepomo (2005) 9) Diagram bunga

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bunga Waluh termasuk bunga tidak lengkap dan planta monoecus karena pada setiap bunga hanya terdapat satu jenis kelamin dan dalam satu tumbuhan Waluh terdapat kedua jenis bunga ini.

3.2 Saran -Hendaknya pengamatan dilakukan secara langsung di tempat habitat tumbuhan agar tidak merusak ekositem -Untuk melakukan poin sebelumnya secara efektif hendaknya dibuatkan taman habitat untuk tumbuhan yang akan di amati

DAFTAR PUSTAKA Evans , Don Herbison.2012. CUCURBITACEAE in Australi,(online), http://lepidoptera.butterflyhouse.com.au/plants/cucu/cucurbitaceae.html diakses tanggal 29 Oktober 2012 Maryani, Ria dan Sarmoko.2012. Labu Kuning (Cucurbita moschata Durch),(online),
http://www.ccrc.farmasi.ugm.ac.id/?page_id=131. diakses tanggal 29 Oktober 2012

Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press