Anda di halaman 1dari 2

Rabu, 20 Juni 2012 08:55 WIB

Translokasi Badak Mendesak

Penulis : Dinny Mutiah

(MI/Marlan Rainhard Silaen/bo) JAKARTA--MICOM: WWF memerkirakan populasi badak Jawa yang tinggal di wilayah Ujung Kulon tak lebih dari lima puluh ekor. Untuk menghindari risiko kepunahan yang lebih besar, WWF mendesak agar translokasi badak ke tempat baru segera dipersiapkan. Ada beberapa tempat yang direkomendasikan WWF sebagai habitat baru untuk badak Jawa, yakni Baduy; Sancang, Garut; Cikepuh, Pelabuhan Ratu; dan wilayah Halimun Salak. Di antara keempat tempat tersebut, wilayah Cikepuh, Pelabuhan Ratu, dianggap paling relevan sebagai tempat tinggal baru badak Jawa. Pertimbangan tersebut didasarkan pada beberapa faktor. "Lokasinya relatif datar, potensi terjadinya bencana alam minim, memungkinkan bagi kita untuk merelokasi badak menggunakan jalur laut, sebagai alternatif dari jalur darat. Tentu saja, ada kesamaan tipologi dan vegetasi di habitat tersebut yang cocok untuk badak Jawa, kata Koordinator Program Konservasi Badak WWF Adhi Rahmat Hariyadi kepada wartawan, seusai penandatanganan kesepakatan antara WWF dan PT Sinde Budi Sentosa di Jakarta, Selasa (19/6). Ide translokasi badak ini sudah tercetus sejak 1995 lalu. Namun, pelaksanaannya hingga kini masih belum berjalan tanpa alasan yang jelas. Padahal, WWF menilai opsi translokasi ini sebagai cara untuk meminimalisasi resiko bencana. Pemindahan badak ada risikonya. Tapi tidak dipindahkan, risiko kepunahannya lebih besar. Meski sebenarnya kondisi di Ujungkulon itu masih ideal untuk badak Jawa. Tapi, kondisi habitat disitu berubah seiring dengan perubahan alam, jelas Adhi. Perubahan iklim, sebaran penyakit, berkurangnya ketersediaan makanan dan air menjadi ancaman nyata bagi badak Jawa di habitatnya yang sekarang. Untuk itu, mitigasi bencana harus dilakukan agar status badak Jawa bisa ditingkatkan dari status ancaman kepunahan kritis. Salah satu yang didorong oleh WWF adalah dengan menyediakan akses jalan menuju sumber air yang

ada sepanjang tahun bagi badak. "Kalau berkurangnya makanan masih bisa ditolerir, tapi kalau kekurangan air, tingkat stress badak paling tinggi. Ini ekses yang terparah," cetusnya. Kalaupun pemerintah menyetujui upaya translokasi tersebut, Adhi menyatakan prosesnya membutuhkan persiapan tiga hingga empat tahun. Selain harus mempersiapkan tempat, proses tersebut juga harus meneliti individu badak yang potensial untuk dipindahkan ke tempat baru. Pemindahan itu tidak ditujukan untuk memindahkan keseluruhan populasi, tetapi hanya sebagian saja. "Di tahun 1965-an, populasi badak Jawa hanya ada sekitar 15-20 ekor. Sekarang populasinya meningkat. Sekitar dua tiga tahun sekali ada anak badak. Yang terekam kamera hanya 35 ekor, tapi estimasi maksimal kira-kira ada 47 ekor. Kami berharap jumlahnya meningkat setiap waktu," tukasnya. (Din/OL-10)