Anda di halaman 1dari 4

STABILISASI DAN ISOLASI SENYAWA TEMBAGA(I)

Pada percobaan stabilisasi dan isolasi senyawa tembaga(I) ini bertujuan untuk mempelajari cara isolasi senyawa tembaga(I) melalui pembentukan senyawa kompleks tris(tiourea) tembaga(I) sulfat. Dalam percobaan ini larutan CuSO4.5H2O dicampurkan kedalam larutan tiourea dalam keadaan dingin, masing-masing 2,5 g dalam akuades 15 ml. setelah terbentuk Kristal ditambah dengan larutan tiourea 1 g dalam akuades 10 ml, dan diaduk dengan cepat lalu didiamkan. Saat Kristal sudah terbentuk maksimum, larutan disaring dan dilakukan rekristalisasi. Rekristalisasi dilakukan dengan cara menambahkan Kristal dengan tiourea 0,15 g dalam 30 ml akuades dan 5 tetes asam sulfat 1 M. kemudian dipanaskan dengan suhu maksimum 750C. selanjutnya larutan didinginkan, Kristal yang diperoleh disaring dan dicuci dengan 5 ml akuades dilanjutkan 5 ml etanol. Lalu Kristal dikeringkan dengan oven dan ditimbang. Dari hasil percobaan didapat Kristal padatan berwarna putih dengan berat 3,13 gram. Dengan perhitungan berdasarkan berat teoritis yaitu 3,397 gram, maka diperoleh nilai rendemen sebesar 92,15 %. Kata kunci : tembaga(I) dan (II) , tiourea, stabilitas

STABILISASI DAN ISOLASI SENYAWA TEMBAGA (I)


1.

TUJUAN

Mempelajari cara isolasi senyawa tembaga(I) melalui pembentukan senyawa kompleks tris(tiourea) tembaga (I) sulfat.
2. DASAR TEORI

Kompleks Cu(I) dan Cu (II) Tembaga adalah unsur kimia yang diberi lambang Cu (Latin: cuprum) dalam suatu Sistem Periodik Unsur (SPU) tembaga termasuk dalam golongan 11dan menempati posisi dengan nomor atom 29 dan mempunyai massa atom 63,546 (Cotton, 1989). Tembaga (Cu) merupakan salah satu logam yang paling ringan dan paling aktif. Cu+mengalami disproporsionasi secara spontan pada keadaan standar (baku). Hal ini bukan berarti larutan senyawa Cu(I) tidak mungkin terbentuk. Untuk menilai pada keadaan bagaimana mereka ditemukan, yaitu jika kita mencoba membuat (Cu+) cukup banyak pada larutan air, Cu2+ akan berada pada jumlah banyak (sebab konsentrasinya harus sekitar dua juta dikalikan pangkat dua dari Cu+. Disproporsionasi akan menajdi sempurna. Di lain pihak jika Cu+ dijaga sangat rendah (seperti pada zat yang sedikit larut atau ion kompleks mantap), Cu2+ sangat kecil dan tembaga (I) menjadi mantap (Vogel,1979). Tembaga dalam jumlah yang kecil esensial bagi kehidupan, tetapi akan bersifat racun dalam jumlah yang besar, terutama bagi bakteri, alga, dan fungi. Diantara banyak

senyawa tembaga yang digunakan sebagai pestisida adalah asetat basa, karbonat, klorida, hidroksida, dan sulfat. Secara komersil senyawa tembaga yang terpenting adalah CuSO4.5H2O. Selain dalam bidang pertanian, CuSO4 juga digunakan untuk baterai dan penyepuhan, pembuatan garam tembaga yang lain, perminyakan, keret, dan industri baja Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air. Senyawa-senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga (II) oksida, CuO hitam. Garam-garam tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, muapun dalam larutan-air. Warna ini benar-benar khas hanya untuk ion tetraakuokuprat (II) [Cu (H2O)4]2+ saja. Garam-garam tembaga (II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning). Senyawa-senyawa Cu (I) berwarna putih kecuali oksidasinya merah. Sedangkan senyawa Cu (II) hidratnya biru dan anhidratnya abu-abu. Senyawa-senyawa Cu (II) lebih stabil dalam larutan. Mereka beracun dan mengion yang berwarna gelap (biru gelap) yang terbentuk dengan larutan amonia berlebihan. Cu digunakan buat kabel/kawat/peralatan listrik; dalam logam-logam paduan; monel, perunggu kuningan, perak jerman, perak nikel untuk ketel dan lain-lain. Umumnya bijih tembaga hanya mengandung 0,5% Cu. Pemekatan bijih ini sangat diperlukan. Hal ini biasanyanya dilakukan dengan pengembangan menghasilkan bijih pekat dengan kandungan sekitar 20-40%. Untuk mendapatkan tembaga yang lebih murni, Cu2O direduksi dengan karbon (C). 2Cu2O + C 4Cu + CO2 Salah satu sifat dari logam tembaga yaitu tembaga tidak larut dalam asam yang bukan pengoksidasi tetapi tembaga teroksidasi oleh HNO3 sehingga tembaga larut dalam HNO3. 3Cu(s) + 8H+(aq) + 2NO3- 3Cu2+(aq) + 2 NO(g) + 4H2O Logam tembaga dibuat dari tembaga sulfida (Cu2S) yang dioksidasi dengan oksigen. Cu2S + 2O2 2CuO + SO2 2CuO + Cu2S SO2+4Cu Garam tembaga dalam larutan berwarna biru pucat, karena membentuk ion Cu(H2O)42+.Jika larutan ini ditambah amonia akan menghasilkan ion Cu(NH3)42+ yang berwarna biru pekat. Senyawa CuCl2, Cu2Br2, Cu2I2 sukar larut dalam air dengan Ksp masing-masing 1,9.10-7, 5.10-9, dan 1.10-12. Senyawa Cu2O dan Cu2S dapat dibuat langsung dari unsurnya pada suhu tinggi. Kedua senyawa ini cenderung nonstoikiometrik karena dapat pula sebagian membentuk CuO dan CuS (Vogel, 1979) Secara umum garam tembaga (I) tidak larut dalam air dan tidak berwarna, perilakunya mirip perilaku senyawa perak (I). Mereka mudah dioksidasi menjadi senyawa tembaga (II), yang dapat diturunkan dari tembaga(II) oksida, CuO, hitam. Garamgaram tembaga (II) umumnya berwarna biru, baik dalam bentuk hidrat, padat, maupun dalam larutan air; warna ini benar-benar khas hanya untuk ion tetraakuokuprat (II) [Cu(H2O)4]2+ saja. Batas terlihatnya warna ion kompleks tetraakuokuprat(II) (yaitu,

warna ion tembaga (II) dalam larutan air), adalah 500 g dalam batas konsentrasi 1 dalam 104. Garam-garam tembaga (II) anhidrat, seperti tembaga (II) sulfat anhidrat CuSO4, berwarna putih (atau sedikit kuning) (Sidgwick,1962). Thiourea Thiourea adalah thiokarbamida, hablur tanpa warna, titik leleh 445 K. larut dalam air panas dan etanol, pereaksi analisis dan zat antara bagi zat farmasi dan zat celup. Thiourea memiliki rumus molekul (NH2)2CS (Pass, 1974). Tiourea adalah molekul planar. Jarak ikatan C = S adalah 1,60 0,1 untuk tiourea (dan juga banyak turunannya). Materi yang memiliki sifat yang tidak biasa berubah ke amonium tiosianat pada pemanasan di atas 130 C . Setelah pendinginan, garam amonium mengkonversi kembali ke tiourea. Tiourea terjadi dalam dua tautomer bentuk. Dalam larutan berair, thione ditampilkan di sebelah kiri bawah mendominasi:

Thiourea digunakan sebagai alternatif pengganti sianida, terutama pada batuan berjenis sulfida, pelarangan terhadap penggunaan sianida, dan digunakan pada lokasi yang tak memungkinkan penggunaan sianida. Thiourea secara relatif tak beracun dan aman bagi lingkungan. Akan tetapi senyawa ini bersifat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker). Tingkat pelarutan menggunakan thiourea sangat cepat, jauh lebih cepat dibanding pelarutan sianida.. bisa 4 hingga 5 kali lebih cepat dibanding proses sianida (El-Sayed,1999)
3. METODE PERCOBAAN 1. ALAT DAN BAHAN

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Erlenmeyer, gelas ukur 50 ml, gelas beker 100 ml, corong gelas, pengaduk gelas, hot plate, pepet tetes, thermometer 1000C, kertas saring, alat timbang, oven. Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan stabilisasi dan isolasi senyawa tembaga(I) adalah thiourea, tembaga(II) sulfat pentahidrat, asam sulfat 1 M, etanol, es batu, akuades. 2. PROSEDUR KERJA Dibuat larutan dari thiourea 2,5 g dalam 15 ml akuades dan larutan Cu(II) sulfat pentahidrat 2,5 g dalam akuades 15 ml. kemudian kedua larutan tersebut didinginkan dalam tempat yang berisi es. Dengan perlahan-lahan larutan Cu(II) sulfat pentahidrat ditambahkan ke dalam larutan thiourea sambil diaduk terus menerus. Setelah larutan Cu(II) sulfat pentahidrat habis ditambahkan, larutan campuran didiamkan hingga terbentuk Kristal putih pada dinding gelas beker.

Disiapkan larutan thiourea 1 g dalam akuades 10 ml, kemudian didinginkan dengan es batu. Selanjutnya ditambahkan kedalam campuran reaksi. Campuran reaksi diaduk secara cepat dan kemudian didiamkan. Setelah jumlah Kristal putih yang terbentuk maksimum, dilakukan penyaringan untuk memisahkan dari campuran reaksi. Rekristalisasi dilakukan dengan cara melurutkan hasil yang diperoleh dalam larutan thiourea 0,15 g dalam akuades 30 ml yang mengandung 5 tetes asam sulfat 1 M. pelarutan dipercepat dengan pemanasan larutan dengan suhu maksimum 75oC. Larutan didinginkan dan Kristal putih yang terbentuk disaring dengan kertas saring. Kristal yang diperoleh dicuci dengan 5 ml air dan dilanjutkan dengan 5 ml etanol. Selanjutnya Kristal dikeringkan dengan oven dan selanjutnya ditimbang.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. HASIL

Wujud : Kristal padatan Warna : Putih Berat : 3,13 gram

5. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan stabilisasi dan isolasi senyawa tembaga(I) dapat diperoleh kesimpulan : 1. Reaksi antara thiosulfat dengan Tembaga(II) sulfat pentahidrat menghasilkan senyawa kompleks tris(tiourea) tembaga(I) sulfat. 2. Hasil yang diperoleh adalah berupan Kristal padatan berwarna putih dengan berat 3,13 gram dan rendemen sebesar 92,15 %. 3. Bentuk geometri dari tris(thiourea) tembaga(I) sulfat adalah octahedral dengan sifat diamagnetik.
6. DAFTAR PUSTAKA

A.J. Vogel, 1979, A text book of Quantitative Inorganic Analysis, 5th edition, Longmans, United State. B.A. El-Sayed and M.M. Sallam, 1999, Temperature and frequency dependent electrical transport in thiourea and tris(thiourea) coupper (I) sulphate, J. Mater. Sci.:Mater. Electron,10, 63-66. Cotton.F.A, Wikinson G, 1989, Kimia Anorganik Dasar, UI- Press, Jakarta. G. Pass and H. Sutcliffe, 1974, Practical Inorganic Chemistry, Chapman and Hall, London. N.V. Sidgwick, 1962, The Chemical Elements and Their Compounds, Oxford University Press, Oxford.