Anda di halaman 1dari 2

Analisis Fertilitas Indonesia Nama: Devina Anindita NPM: 1006666702 Secara demografis, fertilitas diartikan sebagai hasil reproduksi

yang ditunjukkan dengan banyaknya bayi lahir hidup 1. Fertilitas ini merupakan salah satu penyumbang tingginya angka kelahiran selain mortalitas dan migrasi. Tingkat fertilitas merupakan salah satu faktor demografi yang paling menentukan di dalam penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di Indonesia. Dimulai pada tahun 70-an, penurunan tingkat fertilitas di Indonesia adalah bentuk keberhasilan program Keluarga Berencana yang mulai dilaksanakan dengan target awal wanita daerah Jawa dan Bali serta efek dari perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Dari tahun 1970 hingga tahun 1991 TFR menurun hingga mencapai 3,0. atau sekitar setengahnya dari tahun 1970. Hal ini diperkirakan diakibatkan oleh menurunnya angka kematian bayi dengan drastis pada periode tersebut sehingga menambah probabilitas bayi selamat .2 Tahun 1995 TFR mengalami penurunan menjadi 2,8 dan mencapai 2,7 di tahun 1997. Terlihat umur ibu juga dianggap berpengaruh, terjadinya pergeseran fertilitas dari kelompok usia ibu (20-24 tahun) menjadi cenderung sama dengan kelompok usia (25-29 tahun) berdasarkan SP71, SP2000 dan SUPAA05. Terjadinya hal ini diperkirakan karena pemakaian kontrasepsi dan penundaan usia kawin. Pada tahun 2003 TFR kembali mengalami penurunan meskipun tidak signifikan yaitu menjadi 2,6 dan cenderung stagnan hingga tahun 2007 3. Stagnasi TFR ini diperkirakan karena tingkat pemakaian KB hanya meningkat sedikit. Selain itu, diperoleh data bahwa fertilitas pada kelompok usia remaja (15-19 tahun) mengalami kenaikan dari 35 menjadi 48 kelahiran/1.000 perempuan yang menjadi penyebab stagnasi ini.4 Jika melihat data tahun 1960 di mana tingkat kelahiran masih sangat tinggi antara 5-7 per wanita usia produktif dengan tingkat tertinggi di propinsi Papua (7.2 anak) dan terendah Jawa Timur (4.72 anak) maka secara nasional saat ini tingkat fertilitas Indonesia relatif sudah cukup rendah bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, namun angkanya sangat bervariasi menurut provinsi tetap bertahan sampai sekarang. Keragaman fertilitas antar provinsi ini relatif besar, berkisar antara 1,8 anak per wanita di DI Yogyakarta hingga 4,2 anak per wanita di Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, tingkat fertilitas di beberapa provinsi masih cukup tinggi dengan TFR diatas tiga anak per wanita, antara lain NAD, Sumut, Sumbar, Kep. Riau, Kalteng, Sulteng, Sultra, Sulbar,Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat 5. Hal ini mungkin disebabkan populasi yang juga sangat bervariasi antar status sosial, ekonomi, dan demografi. 6 Perbedaan norma-norma, nilai kekeluargaan, dan kultur yang membedakan perliaku perkawinan dan kelahiran antar propinsi. Kondisi perekonomian rumah tangga akan mempengaruhi daya beli masyarakat termasuk kemampuan mereka untuk membeli alat kontrasepsi. Telah diketahui juga bahwa status sosial ekonomi akan mempengaruhi tingkat pendidikan. Sedangkan tingkat pendidikan akan berpengaruh sebagai variabel antara untuk penentuan umur nikah pertama serta pemakaian kontrasepsi yang merupakan salah satu dari sekian banyak variabel yang secara langsung berpengaruh terhadap angka kelahiran 7.
Hartanto, 1994 Syahrudin, 1983; Cantrelle 1974 3 SDKI, 1991, 1995, 1997, 2003, 2007 4 BKKBN: Angka Total Fertilitas Stagnan. http://m.pikiran-rakyat.com/node/218149 Selasa, 8 January, 2013 - 18:38 5 BPS, BKKBN, DepKes, dan Macro, 2007 6 Proximate Determinan Fertilitas di Indonesia. Pustlibang BKKBN. 2009 7 Freedman,1975 ; Davis and Blake 1956)
1 2

Hanya saja dapat juga terlihat bahwa pemakaian alat kontrasepsi kontribusinya terhadap perubahan fertilitas tidak sama di tiap daerah. Beberapa provinsi di Indonesia yang angka fertilitasnya rendah seperti di Provinsi DIY (1,8) memiliki angka prevalensi kontrasepsi yang tinggi (66 persen), sedangkan di Provinsi NTT fertilitasnya cukup tinggi (4,1) ternyata angka prevalensi kontrasepsinya hanya 42 persen. Namun demikian ditemukan pula provinsi dengan tingkat fertilitas rendah dan angka prevalensi kontrasepsi yang juga rendah. Sebagai contoh di Provinsi DKI Jakarta angka kelahirannya 2,1, sedangkan angka prevalensi kontrasepsi hanya 60 persen (dibawah angka nasional 61 persen). 8 Sebagai kesimpulan, tingkat fertilitas di Indonesia masih cukup sangat bervariasi dikarenakan perbedaan faktor sosial ekonomi dan budaya karena itu pemerataan pendidikan, informasi serta fasilitas yang menyangkut kelahiran dan kontrasepsi harus ditingkatkan dan difokuskan di beberapa daerah. Stagnasi tingkat fertilitas sendiri harus dapat lebih diawasi karena komponen kehamilan remaja yang memiliki risiko dan implikasi yang tidak diinginkan bertambah pesat.

Kontribusi Pemakaian Alat Kontrasepsi Terhadap Fertilitas. Pustlibang BKKBN. 2009