Anda di halaman 1dari 50

AKUNTANSI KEUANGAN PELAPORAN KEUANGAN KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN UNSUR-UNSUR LAPORAN KEUANGAN KONSEP PENGAKUAN DAN PENILAIAN

1. ASUMSI-ASUMSI DASAR 2. PRINSIP-PRINSIP DASAR 3. KENDALA-KENDALA LAPORAN KEUANGAN RINCIAN ELEMEN STATEMEN KEUANGAN 1. POS NERACA, 2. POS STATEMEN PERUBAHAN EKUITAS, 3. POS STATEMEN LABA-RUGI, 4. STATEMEN ALIRAN KAS, 5. PENJELASAN STATEMEN KEUANGAN, LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DASAR-DASAR JURNAL PENYESUAIAN PENGENDALIAN INTERN DAN AKUNTANSI UNTUK KAS PIUTANG DAGANG PERSEDIAAN AKTIVA TETAPDEPRESIASI KEWAJIBAN JANGKA PANJANG MODAL SAHAM AUDITING TIGA JENIS AUDIT TERDIRI DARI: EMPAT JENIS AUDITOR TIGA JENIS STANDAR AUDITING YANG BERLAKU UMUM. PROSES AUDIT KERTAS KERJA RISIKO HUBUNGAN ANTARA MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, DAN BUKTI AUDIT SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN SISTEM PENGUKURAN KINERJA METODE PENENTUAN HARGA TRANSFER.

1 2 3 4 5 5 5 5 6 6 6 8 8 9 10 10 11 11 13 14 14 16 18 19 19 19 21 23 32 34 34 36 46 49

AKUNTANSI KEUANGAN
Akuntansi adalah proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, pengklasifikasian, penguraian, penggabungan, peringkasan, dan penyajian data keuangan dasar yang terjadi dari kejadian-kejadian, transaksi-transaksi atau kegiatan operasi suatu unit organisasi dengan cara tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang berkepentingan. Dari definisi diatas dapat diambil kata-kata kunci sebagai berikut: 1. Perekayasaan penyediaan jasa. Akuntansi dikatakan sebagai bidang pengetahuan perekayasaan berarti bahwa akuntansi berkaitan dan berkepentingan dengan penentuan, pemilihan, dan aplikasi konsep-konsep, metode, teknologi, dan pendekatan untuk mencapai tujuan sosial tertentu dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya tempat akuntansi akan diterapkan. Hasil proses perekayasaan akuntansi adalah sebagai rerangka konseptual pelaporan keuangan yang menjadi landasan bertindak bagi penyedia dan bagi yang dituju informasi atau pihak lain yang berkepentingan. 2. Informasi, merupakan data yang disajikan dengan cara tertentu sehingga mempunyai makna bagi pemakainya. Untuk menjadi informasi, data harus mengandung nilai dan kualitas tertentu. Nilai informasi adalah kemampuan informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan keyakinan pemakai dalam mengambil keputusan. Relevansi dan reliabilitas merupakan unsur utama pembentuk kualitas informasi. Relevansi ditentukan oleh nilai prediktif, nilai umpan balik, dan ketersediaan informasi pada waktunya. Reliabilitas informasi ditentukan oleh keterujian, kenetralan, dan ketepatan penyimbolan makna ekonomik yang ingin diungkapkan. 3. Laporan keuangan kuantitatif, laporan keuangan hanya menyajikan kejadian-kejadian yang dapat dinyatakan secara kuantitatif dalam bentuk satuan mata uang. Informasi yang disampaikan dalam bentuk laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan. 4. 5. Unit organisasi, merupakan pusat perhatian akuntansi dan merupakan subyek pelaporan. Bahan olah akuntansi, obyek-obyek yang terlibat dalam suatu transaksi keuangan menjadi pusat perhatian akuntansi. Obyek transaksi harus dikuantifikasi dalam unit moneter agar size dan relationship antarobyek dapat dikenali. 6. Transaksi keuangan adalah peristiwa ekonomik yang melibatkan obyek yang harus ditentukan jumlah rupiahnya (kosnya) untuk menentukan pengaruhnya terhadap kondisi keuangan perusahaan. Transaksi keuangan dapat digolongkan menjadi transaksi eksternal dan transaksi internal. Transaksi eksternal adalah transaksi yang melibatkan pihak luar perusahaan sebagai kesatuan usaha bisnis. Transaksi internal adalah transaksi yang terjadinya tidak melibatkan pihak luar. Ditinjau dari yang dilakukan manajemen perusahaan, transaksi keuangan sering dibedakan menjadi transaksi operasi dan transaksi modal. Transaksi operasi berkaitan dengan kegiatan

perusahaan dalam rangka menciptakan pendapatan. Transaksi modal berkaitan dengan kegiatan perusahaan dalam rangka mendapatkan dana khususnya yang berasal dari pemilik. 7. Memproses data keuangan, meliputi tindakan mengidentifikasi berarti mengenali suatu obyek transaksi dan menentukan apakah obyek tersebut memenuhi kriteria untuk diukur dan dimasukkan dalam laporan keuangan. Mengukur berarti menentukan jumlah rupiah (kos) suatu obyek agar jumlah rupiah tersebut dapat diolah lebih lanjut. Mencatat dan mengakui berarti memasukkan angka hasil pengukuran ke dalam sistem akuntansi sehingga angka kos tersebut terefleksi atau termuat dalam laporan keuangan. Mengklasifikasikan berarti memasukkan suatu jumlah rupiah ke dalam kategori yang telah ditentukan. Mengalokasikan berarti memecah kesatuan kos menjadi beberapa bagian berdasarkan wadah atau obyek tertentu. Meringkas berarti menggabungkan berbagai jumlah rupiah dari berbagai kategori/golongan khusus ke dalam golongan yang lebih umum. Menyajikan berarti memuat jumlah rupiah hasil penggolongan ke dalam laporan dengan format dan susunan yang telah ditentukan. 8. Pihak yang berkepentingan, terdiri dari pihak internal dan eksternal. Manajemen merupakan pihak internal yang berkepentingan langsung dan sangat membutuhkan informasi keuangan untuk tujuan perencanaan, pengkoordinasian, dan pengendalian operasi perusahaan. Pihak eksternal yang memiliki kepentingan langsung dengan perusahaan adalah investor, kreditor, pelanggan, pemasok, karyawan, lembaga pemerintah, dan masyarakat umum. 9. Dengan cara tertentu, agar komunikasi efektif, laporan keuangan harus disusun atas dasar pedoman yang telah dipahami bersama antara penyaji dan pemakai. Pedoman komunikasi dalam akuntansi sebagai bahasa bisnis disebut prinsip akuntansi berterima umum (PABU). 10. Dasar pengambilan keputusan, informasi akuntansi merupakan masukan yang penting dan relevan dalam pengambilan keputusan ekonomik. akuntansi keuangan menganggap bahwa investor dan kreditur merupakan pihak yang menjadi fokus penyampaian informasi.

Pelaporan Keuangan
Tujuan pelaporan keuangan adalah untuk menentukan bentuk, isi, dan susunan laporan keuangan. Pedoman penyusunan laporan keuangan diperlukan agar tujuan penyampaian informasi keuangan tercapai secara efektif. Tujuan penyampaian informasi keuangan mengenai unit organisasi perusahaan, adalah: menyediakan informasi keuangan yang dapat dipercaya bagi investor dan kreditur dalam pengambilan keputusan investasi dan pemberian kredit, menyediakan informasi posisi keuangan, dan menunjukkan sumber-sumber ekonomik, menyediakan informasi prestasi perusahaan menghasilkan laba, menyediakan informasi dalam kemampuan melunasi hutang-hutangnya, menyediakan informasi yang menunjukkan sumber-sumber pendanaan, menyediakan informasi dalam memprediksi aliran kas perusahaan,

menyediakan informasi lain yang membantu pemakai menilai prestasi dan pertanggungjawaban keuangan manajemen. Pedoman penyusunan laporan keuangan adalah prinsip akuntansi berterima umum (PABU). Maksud dari berterima umum adalah (1) merupakan ketentuan resmi yang dikeluarkan badan yang berwenang, (2) kalau belum terdaftar standar resmi, pedoman tersebut dianut karena merupakan kebiasaan, konvensi, tradisi, dan praktik bisnis yang sehat sehingga layak untuk diikuti. PABU merupakan seperangkat konsep, standar, prosedur, metode, konvensi dan praktik yang sehat yang dipilih atau didukung berlakunya serta dijadikan pedoman umum diwilayah tertentu, sedangkan Standar Akuntansi merupakan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang mengenai konsep, prinsip, dan metode yang ditetapkan sebagai pedoman utama praktik akuntansi. PABU dan Standar Akuntansi memberikan pedoman tentang: pengertian/ definisi, pengukuran/ penilaian, pengakuan, dan pengungkapan. PABU memberikan batasan (definisi) pengertian elemenelemen dan pos-pos laporan keuangan atau istilah yang digunakan dalam laporan keuangan atau istilah yang digunakan dalam laporan keuangan agar tidak terjadi kesalahan klasifikasi oleh penyusun dan kesalahan interpretasi oleh pemakai. Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah sebagai unit pengukur suatu obyek yang terlibat dalam suatu transaksi keuangan. Penilaian adalah menentukan dasar dan jumlah rupiah untuk dilekatkan pada elemen atau pos pada tanggal pelaporan. Pengakuan adalah pencatatan suatu jumlah rupiah ke dalam sistem akuntansi sehingga jumlah tersebut akan mempengaruhi suatu pos dan terefleksi dalam laporan keuangan. Pengungkapan/ penyajian adalah cara menyajikan informasi utama dan tambahan dalam seperangkat laporan keuangan yang lengkap.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


1. Dapat dipahami, kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami. 2. Relevan, agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi yang relevan membantu pemakai dalam membuat prediksi tentang hasil akhir dari kejadian yang lalu, sekarang, dan yang akan dating (nilai prediktif), atau mendukung ataupun memperbaiki perkiraan sebelumnya (nilai umpan balik). Informasi menjadi relevan, harus tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan-keputusan mereka (ketepatan waktu). 3. Materialitas, informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan. 4. Keandalan, informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

5. Penyajian jujur, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. 6. Substansi mengungguli bentuk, jika informasi yang dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi, dan bukan hanya bentuk hukumnya. 7. Netralitas, informasi diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak tergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. 8. Pertimbangan sehat, mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva dan penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah. 9. Kelengkapan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan material dan biaya. 10. Dapat dibandingkan, pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.

Unsur-unsur Laporan Keuangan


1. Asset/ aktiva adalah sumber daya yang mempunyai manfaat ekonomik, dikuasai oleh suatu entitas, dan timbul karena transaksi yang telah terjadi. Asset = Kewajiban + Ekuitas Pemilik Asset = Kewajiban + ( Modal Pemilik Prive + Pendapatan Beban ) 2. Kewajiban adalah pengorbanan sumber ekonomik di masa datang yang menjadi kewajiban/ hutang saat ini, akibat kejadian masa lalu. 3. Ekuitas/ modal merupakan selisih antara aktiva dan hutang. 4. Investasi dari pemilik adalah kenaikan ekuitas yang berasal dari penyetoran sumber ekonomik ke dalam perusahaan oleh pemilik. 5. Distribusi ke pemilik adalah penurunan ekuitas akibat transfer asset dari perusahaan kepada pemilik. 6. Pendapatan adalah aliran masuk sumber ekonomik (kas atau asset lainnya) ke dalam perusahaan yang berasal dari penyerahan barang atau jasa yang merupakan kegiatan utama perusahaan. 7. Biaya adalah aliran keluar sumber ekonomik (kas atau asset lainnya) dari perusahaan sebagai akibat penyerahan barang atau jasa yang merupakan kegiatan utama perusahaan. 8. Untung adalah kenaikan asset bersih yang berasal dari transaksi peripheral/ insidental (tidak berkaitan langsung dengan kegiatan utama perusahaan dan tidak berkaitan dengan transaksi modaltransaksi yang berkaitan dengan investasi/ setoran oleh pemilik). Penghasilan adalah seluruh kenaikan asset yang berasal dari pandapatan dan utung. 9. Rugi adalah penurunan asset bersih yang berasal dari transaksi peripheral atau insidental (tidak berkaitan dengan aktivitas utama perusahaan, dan tidak berkaitan dengan transaksi modal).

10. Laba adalah jumlah rupiah bersih yang diperoleh setelah semua pendapatan dan untung dikurangi dengan semua biaya dan rugi. Earning adalah laba yang diakumulasi selama beberapa periode yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dalam jangka panjang.

Konsep Pengakuan dan Penilaian


1. Asumsi-asumsi Dasar Asumsi kesatuan ekonomi bahwa aktivitas ekonomi dapat dianggap sebagai suatu unit pertanggungjawaban tersendiri, yaitu badan yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri, dan terpisah dari pemilik. Asumsi perusahaan berjalan (going concern), perusahaan dianggap akan berlangsung terus dan tidak akan pailit/ bangkrut. Asumsi unit moneter, akuntansi didasari asumsi bahwa uang adalah denominator di mana aktivitas ekonomi dilakukan, dan bahwa unit moneter memberikan dasar yang tepat untuk penilaian dan analisis akuntansi. Asumsi periodisitas, menyatakan bahwa aktivitas-aktivitas ekonomis dari suatu perusahaan dapat dibagi menjadi periode-periode waktu buatan. 2. Prinsip-prinsip Dasar Historical Cost Principle (Prinsip biaya historis), prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal dan biaya. Harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam transaksi. Revenue Recognition Principle (Prinsip pengakuan pendapata)n, pendapatan diakui saat direalisasi/ dapat direalisasi dan pada saat dihasilkan. Matching Principle (Prinsip pencocokan), pengakuan biaya dihubungkan dengan pengakuan pendapatan. Full Disclosure Principle (Prinsip pengungkapan penuh), mengakui sifat dan jumlah informasi yang dimuat dalam laporan keuangan mencerminkan sejumlah pertimbangan pertukaran. Pertukaran ini berusaha untuk (1) mengungkapkan masalah yang cukup yang dapat

menunjukkan perbedaan kepada pemakai, namun (2) peringkasan untuk membuat informasi tersebut dapat dimengerti, dengan memperhatikan biaya penyusunan dan pemakainnya. 3. Kendala-kendala Hubungan biaya dan manfaat, adanya kesulitan mengukur biaya yang dikeluarkan dan manfaat yang diperoleh dari penyusunan laporan keuangan. Materialitas, suatu pos dinyatakan material jika pemuatan atau penghapusannya akan mempengaruhi atau mengubah penilaian dari pihak lain, sehingga timbul masalah mengenai ukuran relatif dan kepentingannya.

Praktek-praktek industri, sifat khusus dari beberapa industri dan perusahaan yang terkadang tidak sejalan dengan teori dasar. Konservatisme, adanya keragu-raguan dalam mencatat suatu transaksi (apakah dinilai lebih tinggi atau lebih rendah).

Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah laporan yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelas yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pemakai laporan keuangan meliputi: investor, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat. Investor, berkepentingan untuk menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham tertarik pada informasi tentang penilaian kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Karyawan, tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan serta informasi yang memungkinkan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun, dan kesempatan kerja. Pemberi pinjaman, tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo. Pemasok dan kreditur usaha lainnya, tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayarkan pada saat jatuh tempo. Pelanggan, berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan atau tergantung pada perusahaan. Pemerintah, berkepentingan dengan alokasi sumberdaya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan (kebijakan pajak). Masyarakat, membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

Rincian Elemen Statemen Keuangan


1. Pos neraca, memberikan informasi tentang posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu yang terdiri dari, asset, kewajiban, dan modal.

Asset lancar adalah asset yang diharapkan akan segera terkonversi menjadi kas, terjual/ terpakai dalam periode kurang dari satu periode operasi (siklus operasi) normal perusahaan. Asset lancar terdiri dari: Kas adalah uang atau alat pembayaran lain yang disamakan dengan uang dan dapat digunakan secara bebas oleh perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan. Investasi jangka pendek, surat berharga (disebut juga efek atau sekuritas) dapat berupa saham, obligasi, atau surat berharga lainnya yang dibeli perusahaan untuk tujuan memanfaatkan kelebihan kas yang sementara menganggur dan akan dijual kembali bila kas dibutuhkan. Piutang, tagihan atau klaim untuk menerima kas atau jasa dari pihak lain, meliputi piutang usaha, piutang yang timbul akibat penyerahan barang atau jasa kepada pihak luar sebagai operasi utama (piutang dagang, dan piutang wesel), piutang non usaha, piutang yang biasanya timbul dari transaksi dengan pihak internal (pegawai atau manajer). Persediaan barang, barang atau bahan yang sengaja diperoleh perusahaan dan disediakan dalam rangka operasi umum perusahaan. Pembayaran dimuka, menunjukkan pembayaran-pembayaran untuk barang atau jasa yang baru akan dinikmati atau diterima perusahaan di masa datang. Investasi jangka panjang, sumber daya yang dapat dikonversi menjadi kas lebih dari satu tahun atau satu periode operasi normal perusahaan, merupakan investasi dalam asset untuk tujuan jangka panjang selain untuk operasi utama perusahaan (menguasai perusahaan lain, pemupukan dana untuk ekspansi atau pelunasan hutang, dan memperoleh pendapatan tambahan secara tetap). Tanah, Bangunan, dan Perlengkapan, merupakan asset berwujud yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam bisnis dan tidak dimaksudkan untuk dijual. Asset tak berwujud adalah nilai lebih yang melekat pada perusahaan secara keseluruhan dan tidak dapat diidentifikasikan secara fisik wujudnya, meliputi hak paten, hak cipta, merek dagang, goodwill, biaya pendirian/ organisasi, dan lisensi, yang memberikan pemegangnya hak eksklusif yang digunakan untuk periode waktu tertentu. Kewajiban lancar adalah hutang yang harus segera diselesaikan dalam waktu kurang dari satu periode operasi normal, meliputi (1) hutang yang berhubungan dengan siklus operasi, seperti hutang dagang, dan hutang gaji, (2) hutang jangka pendek yang lain, seperti hutang pinjaman bank, hutang bunga, hutang pajak. Kewajiban jangka panjang adalah hutang atau bagian hutang yang akan diselesaikan dalam waktu lebih dari satu periode operasi normal, misalnya hutang obligasi, hutang berhipotik, hutang sewa guna capital.

Ekuitas adalah selisih aktiva dan hutang, dapat dipandang sebagai hutang perusahaan kepada pemilik. Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, modal ditunjukkan dengan rekening modal yang terdiri dari beberapa elemen sebagai berikut: a. Modal disetor adalah jumlah uang yang disetorkan oleh pemegang saham dan biasanya dibagi dalam dua kelompok, yaitu: (1) Modal saham, yaitu jumlah nominal saham yang beredar, (2) Agio/ disagio saham, yaitu selisih antara setoran pemegang saham dengan nilai nominal saham. Agio adalah selisih di atas nominal, sedangkan disagio adalah selisih di bawah nominal. b. Laba ditahan, merupakan kumpulan laba tahun-tahun sebelumnya yang tidak dibagi sebagai dividen c. Modal penilaian kembali, apabila diadakan penilaian kembali terhadap aktiva-aktiva perusahaan, maka antara nilai buku lama dengan nilai buku yang baru dicatat sebagai modal penilaian kembali. d. Modal sumbangan, timbul apabila perusahaan memperoleh aktiva yang berasal dari sumbangan. e. Modal lain-lain, modal perusahaan yang tidak dapat dimasukkan dalam salah satu kelompok di atas. 2. Pos statemen perubahan ekuitas, ekuitas pemegang saham untuk PT terdiri dari modal setoran dan modal operasi (berasal dari laba). Modal setoran adalah bagian modal pemegang saham yang harus dipertahankan jumlah aslinya. Modal setoran hanya berubah kalau ada transaksi dengan pemilik berupa penerbitan saham baru atau penarikan saham yang beredar. 3. Pos statemen laba-rugi, memberikan informasi keberhasilan manajemen mengelola perusahaan. Keberhasilan tersebut diukur dengan kemampuan menghasilkan laba yaitu selisih antara semua penghasilan (pendapatan dan untung) dan semua biaya yang diperkirakan telah mendatangkan penghasilan tersebut. a. Pendapatan: Pendapatan operasi adalah pendapatan yang diperoleh dari kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan. Pendapatan non operasi adalah pandapatan yang diperoleh selain dari kegiatan utama perusahaan (tidak secara langsung berkaitan dengan kegiatan utama perusahaan), misalnya pendapatan bunga, pendapatan dividen, untung penjualan aktiva tetap, dan untung penjualan investasi. Untung luar biasa adalah untung non operasi yang sifatnya luar biasa, baik kejadian maupun jumlahnya, dan di luar harapan manajemen (ganti rugi perkara pengadilan).

b. Biaya adalah sumber ekonomik (barang dan jasa) yang dikorbankan dalam memperoleh pendapatan. Biaya operasi adalah biaya yang berkaitan langsung dengan operasi utama perusahaan. Biaya non operasi adalah biaya yang timbul bukan dari kegiatan utama perusahaan (biaya bunga, rugi penjualan aktiva tetap, rugi penjualan investasi). Rugi luar biasa adalah rugi non operasi yang sifatnya luar biasa baik kejadian maupun jumlahnya, dan di luar dugaan manajemen (rugi selisih kurs). c. Pajak penghasilan, merupakan pajak yang dikenakan atas laba yang diperoleh perusahaan. d. Pos-pos lain, pos yang dapat mempengaruhi laba dan harus dilaporkan dalam laporan laba/rugi, misalnya rugi akibat segmen perusahaan yang dihentikan operasinya, koreksi kesalahan dalam laporan periode sebelumnya, pengaruh perubahan metode akuntansi. Bentuk laporan laba/rugi dapat disusun dalam dua bentuk, sebagai berikut: Multiple Step (Bertahap), adalah bentuk laporan laba/rugi yang dilakukan beberapa pengelompokkan terhadap pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya yang disusun dalam urutan tertentu sehingga bisa dihitung penghasilan-penghasilan sebagai berikut: (1) laba bruto, yaitu hasil penjualan dikurangi harga pokok penjualan, (2) penghasilan usaha bersih, yaitu laba bruto dikurangi biaya-biaya usaha, (3) penghasilan bersih sebelum pajak, yaitu penghasilan usaha bersih ditambah dan dikurangi dengan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya di luar usaha, (4) penghasilan bersih sesudah pajak, yaitu penghasilan bersih sebelum pajak, dikurangi pajak penghasilan, (5) penghasilan bersih dan elemen-elemen luar biasa, yaitu penghasilan bersih sesudah pajak ditambah dan atau dikurangi dengan elemenelemen yang tidak biasa (sesudah diperhitungkan pajak penghasilan untuk pos luar biasa). Single Step, tidak dilakukan pengelompokkan pendapatan dan biaya ke dalam kelompokkelompok usaha dan di luar usaha, tetapi hanya dipisahkan antara: (1) pendapatanpendapatan dan laba-laba, (2) biaya-biaya dan kerugian-kerugian. 4. Statemen aliran kas, informasi mengenai aliran kas perusahaan yang menggambarkan aliran kas masuk dan kas keluar perusahaan selama satu periode. Pemakai dapat memperoleh informasi untuk mengevaluasi kegiatan manajemen dalam operasi, investasi, dan pendanaan. Pemakai juga dapat memprediksi aliran kas perusahaan dimasa datang dan menilai kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan (berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi laba/rugi bersih). Aktivitas investasi adalah perolehan atau pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.

Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. 5. Penjelasan statemen keuangan, beberapa informasi akuntansi yang sifatnya kualitatif tetapi perlu disampaikan karena dapat mempengaruhi pertimbangan dalam pengambilan keputusan atau karena memperjelas apa yang telah dimuat dalam statemen keuangan utama. Penjelasan atau catatan atas statemen keuangan pada umumnya memuat hal-hal sebagai berikut: (a) umum, (b) ikhtisar kebijakan akuntansi, meliputi metode depresiasi/ amortisasi/ deplesi, metode penilaian dan aliran kas persediaan barang, masalah dan metode konsolidasi, (c) rincian dan keterangan pos laporan, (d) pos-pos bersyarat, (e) penjelasan mengenai pengaruh inflasi dan perubahan harga.

Langkah-langkah penyusunan laporan keuangan


1. Menyusun neraca saldo, yaitu suatu daftar rekening-rekening buku besar dengan saldo debit dan kredit. Rekening adalah suatu alat untuk mencatat transaksi-transaksi keuangan yang bersangkutan dengan aktiva, kewajiban, modal, pendapatan, dan biaya. Tujuannya adalah untuk data yang akan menjadi dasar penyusunan laporan keuangan. Rekening dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (1) rekening neraca/ riil adalah rekening yang pada akhir periode akan dilaporkan dalam neraca (aktiva, kewajiban, dan modal), (2) rekening rugi/laba atau nominal meliputi pendapatan dan biaya. Neraca saldo adalah daftar yang berisi saldo-saldo dari seluruh rekening yang ada dalam buku besar pada suatu saat tertentu. Tujuannya, untuk menguji kesamaan debit dan kredit dalam buku besar (double-entry system), dan mempermudah penyajian laporan keuangan. Posting adalah proses memindahkan ayat-ayat jurnal yang telah dibuat dalam buku jurnal ke buku besar. 2. Mengumpulkan data yang digunakan untuk membuat jurnal penyesuaian 3. Menyusun neraca lajur, neraca lajur merupakan suatu cara untuk mempermudah penyusunan laporan-laporan keuangan. 4. Menyusun laporan keuangan, laporan keuangan ini adalah neraca, laporan laba/rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan-laporan tersebut dapat disusun secara langsung dari neraca lajur. 5. Menyesuaikan dan menutup rekening-rekening, sesudah rekening-rekening disesuaikan maka langkah selanjutnya adalah membuat jurnal penutupan buku, yaitu jurnal untuk menutup semua rekening-rekening nominal ke rekening laba/rugi dan memindahkan saldo rekening laba/rugi ke rekening laba ditahan. 6. Menyusun neraca saldo sesudah penutupan, untuk mengecek keseimbangan debit dan kredit rekening-rekening yang masih terbuka, neraca saldo seperti ini hanya berisi rekening-rekening riel saja, sedangkan rekening-rekening nominal semuanya sudah ditutup.

10

7. Menyesuaikan kembali rekening-rekening, membuat jurnal penyesuaian kembali yang dimaksudkan untuk menghapus rekening-rekening antisipasi (accrued) dan transitoris (prepaid) yang timbul dari jurnal penyesuaian akhir periode dan mengembalikannya ke rekening nominal. Pembuatan jurnal penyesuaian kembali ini untuk memudahkan pembuatan jurnal periode berikutnya, sehingga jika tidak dibuat jurnal penyesuaian kembali, akan diperoleh hasil yang sama dengan jika dibuat jurnal penyesuaian kembali.

Dasar-dasar jurnal penyesuaian


Jurnal penyesuaian dibutuhkan untuk menyakinkan bahwa prinsip pengakuan pendapatan dan prinsip matching diikuti. Jenis-jenis jurnal penyesuaian. a. Biaya dibayar dimuka: biaya-biaya yang sudah dibayar tetapi belum dibebankan sebagai biaya pada periode itu, penyesuaian biaya dibayar dimuka berakibat pada debit (kenaikan) pada akun biaya dan kredit (penurunan) pada akun asset. b. Pendapatan diterima dimuka: penerimaan dari pendapatan tetapi bukan merupakan pendapatan pada periode tersebut atau dengan kata lain merupakan pendapatan pada periode yang akan datang yang diterima pada periode sekarang, jurnal penyesuaian untuk pendapatan yang belum diterima berakibat pada debit (penurunan) akun hutang dan kredit (kenaikan) pada akun pendapatan. c. Piutang pendapatan: pendapatan yang sudah menjadi hak perusahaan tapi belum dibayar atau belum dicatat pada tanggal laporan, jurnal penyesuaian untuk piutang pendapatan berakibat pada debit (kenaikan) pada akun asset dan kredit (penurunan) pada akun pendapatan. d. Hutang biaya: biaya yang sudah menjadi kewajiban perusahaan tetapi belum dibayar dan belum dicatat pada tanggal laporan, jurnal penyesuaian hutang biaya berakibat pada debit (kenaikan) pada akun biaya dan kredit (penurunan) pada akun hutang.

Pengendalian Intern dan Akuntansi untuk Kas


Tujuh prinsip pengendalian intern yang pokok yang dapat diterapkan pada semua perusahaan. 1. Penetapan tanggung jawab secara jelas, agar mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas suatu kejadian. 2. Penyelenggaraan pencatatan yang memadai, untuk melindungi aktiva dan menjamin karyawan melaksanakan prosedur yang ada, serta sumber untuk memonitor operasi perusahaan. 3. Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan, melindungi dari kerugian akibat pencurian oleh karyawan.

11

4. Pemisahan pencatatan dan penyimpanan aktiva, menjaga kemungkinan memanipulasi atau mencuri aktiva yang menjadi tanggung jawab karyawan tertentu. 5. Pemisahan tanggung jawab atas transaksi yang berkaitan, dapat menjaga agar barang yang diterima benar-benar dicheck mengenai kebenaran jumlah dan kualitasnya, dan agar semua faktur pembelian diperiksa dahulu kebenarannya sebelum dibayar. 6. Penggunaan peralatan mekanis, membantu operasi perusahaan lebih efisien dan lebih aman. 7. Pelaksanaan pemeriksaan secara independen, untuk memastikan bahwa prosedur-prosedur yang telah ditetapkan diikuti dengan benar. Rekening Giro Bank sebagai alat pengawasan Rekonsiliasi Bank, apabila perusahaan membuka rekening giro di bank, maka perusahaan akan mempunyai dua catatan mengenai kas yang dimilikinya, yaitu: rekening kas yang terdapat dalam pembukuan perusahaan, dan laporan bank yang diterima perusahaan secara periodik dari bank. Saldo kas yang ditunjukkan dalam rekening kas biasanya jarang sama jumlahnya dengan saldo yang terdapat dalam laporan bank. Beberapa penyebab perbedaan antara saldo menurut pembukuan perusahaan dengan laporan bank adalah sebagai berikut: 1. Bank belum mencatat transaksi tertentu: a. Setoran dalam perjalanan, perusahaan telah mencatat setoran ke bank, tetapi bank belum. b. Cek dalam perjalanan (cek masih beredar), cek yang ditarik dan telah dibukukan oleh perusahaan, tetapi bank belum mencatatnya. 2. Perusahaan belum mencatat transaksi tertentu: a. Penerimaan kas melalui bank, bank kadang-kadang melakukan penerimaan kas untuk dibukukan ke dalam rekening giro perusahaan, transaksi semacam ini kadang-kadang belum diketahui oleh perusahaan, sehingga perusahaan belum mencatatnya. b. Biaya administrasi bank, bank biasanya membebankan sejumlah biaya untuk menangani transaksi-transaksi yang dilakukan pemegang giro. c. Pendapatan bunga atau jasa giro, bank memberikan bunga atas saldo giro yang dihitung atas dasar persentase tertentu dari saldo giro rata-rata per bulan. d. Cek kosong dari konsumen atau debitur, cek kosong adalah cek yang tidak cukup dananya (jumlah rupiah dalam cek lebih besar dari saldo giro si pemegang giro di bank pada saat ia menarik cek tersebut). e. Cek yang dikembalikan kepada penyetor karena alasan lain (bukan cek kosong), bank kadang-kadang mengembalikan cek kepada penyetor karena alasan-alasan berikut: (1) rekening penarik cek telah ditutup, (2) cek telah kadaluwarsa, (3) tanda tangan yang tercantum pada cek tidak sah, (4) terdapat kesalahan dalam penulisan cek.

12

3. Bank atau perusahaan (atau keduanya) telah melakukan kesalahan pencatatan, misalnya bank mungkin mengurangi saldo rekening seorang pemegang giro untuk cek yang ditarik oleh pemegang giro yang lain, sedangkan pemegang giro mungkin salah mencatat jumlah rupiah cek yang telah ditariknya, sehingga saldo menurut catatan perusahaan tidak akan sama dengan saldo yang tercantum dalam laporan bank. Jurnal penyesuaian dibuat untuk mengoreksi saldo rekening kas pada tanggal tersebut.

Piutang Dagang
Penilaian piutang dagang, piutang dagang harus dicatat dan dilaporkan sebesar nilai kas (neto) yang bisa direalisasi yaitu jumlah kas bersih yang diperkirakan dapat diterima. Kerugian piutang dagang, terjadi apabila debitur tidak mau atau tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Pencatatan kerugian piutang dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu: (1) metode cadangan, dan (2) metode penghapusan langsung. 1. Metode cadangan digunakan apabila kerugian piutang yang biasa terjadi, cukup besar jumlahnya. Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam metode ini. a. Kerugian piutang tak tertagih ditentukan jumlahnya melalui taksiran dan ditandingkan (matched) dengan penjualan pada periode akuntansi yang sama dengan periode terjadinya penjualan. b. Jumlah piutang yang ditaksir tidak akan dapat diterima, dicatat dengan mendebit rekening kerugian piutang dan mengkredit rekening cadangan kerugian piutang. c. Kerugian piutang yang sesungguhnya terjadi dicatat dengan mendebit rekening cadangan kerugian piutang dan mengkredit rekening piutang dagang pada saat suatu piutang dihapus dari pembukuan. Dasar yang digunakan dalam Metode Cadangan. Persentase dari penjualan, manajemen menetapkan suatu hubungan persentase antara jumlah penjualan kredit dengan taksiran kerugian yang mungkin diderita karena adanya piutang tak tertagih, persentase ini didasarkan pada pengalaman pada waktu-waktu yang lalu dan kebijakan kredit yang ditetapkan perusahaan. Persentase dari piutang, manajemen menetapkan suatu hubungan persentase antara jumlah piutang dengan jumlah kerugian akibat adanya piutang yang tidak tertagih. Untuk menganalisis hal tersebut manajemen biasanya menggunakan suatu daftar yang disebut daftar umur piutang. 2. Metode penghapusan langsung, jumlah kerugian piutang tidak perlu ditaksir dan dalam pembukuan tidak digunakan rekening Cadangan Kerugian Piutang, kerugian akibat piutang tersebut langsung didebit ke dalam rekening Kerugian piutang dan rekening Piutang Dagang dikredit.

13

Persediaan
Penentuan kuantitas persediaan, tujuan penentuan kuantitas persediaan adalah untuk menetapkan jumlah unit (satuan) persediaan yang dimiliki perusahaan pada tanggal neraca, meliputi: (1) melakukan perhitungan fisik atas barang yang ada di gudang, dan (2) menentukan kepemilikan atas barang dalam perjalanan. 1. Perhitungan fisik persediaan, meliputi pekerjaan menghitung, menimbang, atau mengukur tiaptiap jenis barang yang berada dalam persediaan. Prosedur pengendalian intern yang dapat digunakan adalah: a. Perhitungan dilakukan oleh orang-orang yang tidak ditugasi untuk menyimpan persediaan (pembagian tugas). b. Adanya tugas yang jelas (penetapan tanggung jawab). c. Pemeriksaan kedua oleh orang lain (pemeriksaan intern secara independen). d. Adanya kartu persediaan (prosedur dokumentasi). e. Pemberian kartu setiap persediaan (pemeriksaan intern secara independen). 2. Barang dalam perjalanan, ada dua jenis penentuan kepemilikan: a. FOB (Free on Board) shipping point, pemilikan atas barang akan berpindah ke tangan pembeli pada saat pihak pengangkut menerima barang dari tangan penjual. b. FOB (Free on Board) destination, hak milik atas barang akan tetap berada di tangan penjual sampai barang diserahkan ke tangan pembeli oleh perusahaan pengangkut. Metode penetapan harga perolehan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Atas dasar aliran fisik sesungguhnya, dengan menggunakan metode identifikasi khusus, yang berarti mengikuti aliran fisik barang yang sesungguhnya terjadi. 2. Atas dasar aliran anggapan, dibagi menjadi tiga macam: First-in, First-out (FIFO), menganggap bahwa barang yang lebih dahulu dibeli, akan dijual atau dikeluarkan lebih dahulu. Last-in, First-out (LIFO), menganggap bahwa barang yang dibeli lebih akhir akan dijual atau dikeluarkan lebih dahulu. Metode rata-rata tertimbang, didasarkan pada anggapan bahwa barang tersedia untuk dijual adalah homogin.

Aktiva TetapDepresiasi
Depresiasi adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aktiva tetap sepanjang masa manfaatnya. Jumlah yang disusutkan adalah biaya perolehan suatu aktiva, atau jumlah lain yang dapat disubstitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan, dikurangi nilai sisanya. Masa manfaat adalah periode suatu aktiva diharapkan digunakan perusahaan. Biaya perolehan adalah jumlah kas/ setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aktiva tersebut

14

dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan. Nilai sisa adalah jumlah netto yang diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aktiva setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan. Nilai wajar adalah suatu jumlah, untuk itu suatu aktiva mungkin ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar. Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aktiva setelah dikurangi akumulasi penyusutan. Jumlah yang dapat diperoleh kembali adalah jumlah yang diharapkan dapat diperoleh kembali dari pengguna suatu aktiva dimasa yang akan datang, termasuk nilai sisanya atas pelepasan aktiva. Metode depresiasi Misalnya: Harga perolehan Rp. 13.000.000,00, Taksiran nilai residu Rp. 1.000.000,00, Taksiran masa manfaat 5 tahun, dan Taksiran satuan hasil 100.000 km. 1. Metode garis lurus, beban depresiasi periodik sepanjang masa pemakaian aktiva adalah sama besar. Rumus biaya depresiasi: Harga perolehan didepresiasi Rp. 12.000.000,00 : Masa manfaat : 5 = Biaya depresiasi = Rp. 2.400.000,00

Harga perolehan didepresiasi adalah harga perolehan dikurangi dengan nilai residu. 2. Metode saldo menurun, biaya depresiasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Hal ini terjadi karena perhitungan biaya depresiasi periodik didasarkan pada nilai buku aktiva yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Tarif depresiasi yang sering digunakan adalah tarif metode garis lurus yang dikalikan dua, sehingga sering disebut metode saldo menurun ganda atau metode depresiasi dipercepat. Rumus biaya depresiasi: Nilai buku pada awal tahun : Tarif Depresiasi Rp. 13.000.000,00 : 40% = Biaya Depresiasi = Rp. 5.200.000,00

3. Metode jumlah angka-angka tahun, yaitu metode yang tarif depresiasinya didasarkan pada suatu pecahan yang: (1) pembilangnya adalah tahun-tahun pemakaian aktiva yang masih tersisa sejak awal tahun ini, (2) penyebutnya adalah jumlah tahun-tahun sejak tahun pertama hingga tahun pemakaian yang terakhir. Untuk aktiva yang ditaksir akan berumur 5 tahun, maka jumlah angkaangka tahunnya adalah 15 (1+2+3+4+5). Rumus depresiasi tahun pertama: Harga perolehan awal tahun: Pecahan angka-angka tahun Rp. 12.000.000,00 : 5/15 = Biaya Depresiasi = Rp. 4.000.000,00

4. Metode satuan hasil, masa pemakaian aktiva tidak dinyatakan dengan jangka waktu, melainkan dengan jumlah satuan (unit) yang dapat dihasilkan oleh aktiva yang bersangkutan. Metode ini cocok digunakan untuk depresiasi mesin pabrik, karena hasil suatu mesin dapat diukur satuannya. Metode ini dapat juga didasarkan pada jam kerja mesin atau jam kerja operator yang menangani mesin. Metode ini sering disebut metode satuan kegiatan. Rumus biaya depresiasi:

15

Harga perolehan Depresiasi : Jumlah satuan kegiatan Rp. 12.000.000,00 : 100.000

= Biaya Depresiasi per satuan = Rp. 120,00 = Biaya Depresiasi = Rp. 1.800.000,00

Biaya Depresiasi per satuan x Jumlah kegiatan tahun ini Rp. 120,00 x 15.000

Sumber Alam Sumber alam meliputi hasil tambang yang terdapat dalam tanah, seperti minyak, gas, dan mineral, dan hasil hutan (terutama berupa kayu). Aktiva produktif yang berumur panjang ini mempunyai dua karakteristik, yakni: (1) secara fisik berkurang karena operasi, dan (2) tidak dapat diganti. Sumber alam sering disebut aktiva menyusut (wasting assets). Harga perolehan suatu sumber alam adalah harga tunai atau harga pasar aktiva yang diserahkan atau diperoleh, tergantung mana yang lebih rendah, untuk mendapatkan sumber alam dan menyiapkannya sesuai dengan maksud pemilikan aktiva tersebut. Ada dua metode yang digunakan untuk penentuan harga perolehan sumber alam: (1) Metode harga perolehan penuh (full cost approach), yaitu baik pengeluaran untuk eksplorasi yang berhasil maupun yang tidak berhasil, dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan sumber alam, (2) Metode pendekatan usaha berhasil (successful effort approach), hanya pengeluaran untuk eksplorasi yang berhasil saja yang dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan sumber alam. Pengahapusan harga perolehan (deplesi), yaitu penghapusan harga perolehan sumber alam secara sistematis, biasanya digunakan metode satuan hasil (atau satuan kegiatan). Dalam metode ini harga perolehan sumber alam dikurangi nilai residu (jika ada), dibagi dengan taksiran jumlah satuan hasil, sehingga dapat ditentukan harga perolehan per satuan hasil. Untuk menentukan biaya deplesi, maka biaya deplesi per unit dikalikan jumlah satuan hasil yang ditambang dan dijual.

Kewajiban Jangka Panjang


Obligasi, merupakan pengakuan hutang pihak yang mengeluarkan pada pihak yang membeli. Obligasi merupakan suatu janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dan juga bunga setiap tanggal tertentu. Keuntungan obligasi dibanding penerbitan saham, (1) obligasi tidak menyebabkan pertambahan jumlah pemilik karena obligasi adalah pinjaman, sehingga kreditur tidak akan mengganggu hak pemilikan perusahaan dan juga tidak mengganggu pembagian keuntungan perusahaan (2) obligasi dapat meningkatkan laba perusahaan, sehingga bagian laba untuk pemegang saham juga akan meningkat. Karakteristik obligasi

16

1. Obligasi seri adalah obligasi yang terdiri atas beberapa seri dengan tanggal jatuh yang berbeda-beda. 2. Obligasi sinking fund, berbeda dengan obligasi seri karena memiliki tanggal jatuh yang sama. Dalam obligasi ini, perusahaan yang mengeluarkan obligasi disyaratkan untuk menyisihkan sejumlah kekayaan perusahaan (disebut sinking fund) yang ditanamkan sedemikian rupa sehingga pada saat jatuh obligasi, perusahaan akan memiliki kas yang cukup untuk melunasi obligasi tersebut. 3. Obligasi atas nama dan obligasi atas unjuk. Obligasi atas nama adalah obligasi yang dicantumkan nama pemilik obligasi tersebut. Obligasi atas unjuk, apabila obligasi tidak diberi nama, maka pembayaran bunga dan pelunasan obligasi akan dibayarkan kepada orang yang menunjukkan surat obligasi. 4. Obligasi dengan jaminan dan obligasi tanpa jaminan. Obligasi dengan jaminan adalah obligasi yang dijamin dengan harta kekayaan perusahaan tertentu, jika diperlukan maka kekayaan perusahaan yang dijadikan jaminan dapat dijual untuk melunasi obligasi. Obligasi tanpa jaminan tidak secara eksplisit menyebutkan jaminan kekayaan tertentu, jaminannya adalah kemampuan keuangan perusahaan itu. Jenis tingkat bunga obligasi a. Tingkat bunga kontrak, tingkat bunga yang dinyatakan secara pasti dan tercantum dalam perjanjian obligasi maupun dalam sertifikat obligasi. b. Tingkat bunga pasar, tingkat bunga yang bersedia dibayar oleh peminjam dan diterima oleh pemberi pinjaman untuk pemakaian uang pada tingkat risiko tertentu. Tingkat bunga pasar berfluktuasi tiap hari sesuai dengan perubahan pemintaan dan penawaran atas pinjaman. Penjualan obligasi a. Diskonto obligasi, perusahaan menerbitkan dan menjual obligasi yang tingkat bunga kontraknya lebih rendah daripada tingkat bunga pasar. b. Premi obligasi, selisih lebih antara harga jual obligasi dengan nilai nominal obligasi. Amortisasi adalah proses pengalokasian beban bunga selama jangka waktu obligasi. Amortisasi terdiri dari dua macam: (1) metode garis lurus, jumlah yang dibebankan sama setiap tahunnya, (2) metode bunga efektif, beban bunga setiap periode dihitung dengan mengalikan nilai buku obligasi awal periode dengan suatu tingkat bunga konstan, sehingga beban bunga yang dicatat berubah-ubah setiap periode.

17

Modal Saham
Jenis-jenis saham 1. Saham biasa, pemegang saham biasa adalah merupakan pemilik yang paling pokok dalam perseroan, mereka mempunyai hak suara, turut menentukan dalam pembagian laba, menentukan penambahan saham baru atau dalam hal likuidasi perseroan. 2. Saham preferen, saham yang memiliki keistimewaan dalam pembagian dividen yang didahulukan daripada pemegang saham biasa. Dividen adalah bagian laba yang dibagikan kepada para pemegang saham. Ada beberapa macam saham preferen: Saham preferen kumulatif, bila suatu tahun tertentu dividen preferen tidak dibayar, maka pada tahun berikutnya dividen pemegang saham preferen diperhitungkan terlebih dahulu termasuk dividen preferen tahun lalu sebelum menentukan dividen untuk pemegang saham biasa. Saham preferen non kumulatif, dividen yang tidak dibayar tahun yang lalu tidak bisa diperhitungkan untuk tahun ini. Saham preferen partisipatif, pemegang saham preferen mungkin masih akan menerima dividen tambahan bersama-sama dengan pemegang saham biasa. Saham preferen non partisipatif, pemegang saham preferen tidak memiliki hak atas tambahan dividen. Saham bernilai pari dan tidak bernilai pari 1. Saham bernilai pari, saham yang menyebutkan nilai tertentu untuk tiap lembar saham dalam akte pendiriannya. 2. Saham tidak bernilai pari, saham yang tidak disebutkan secara formal nilainya dalam akte pendirian. Penjualan saham Agio saham, saham yang dijual dengan harga lebih tinggi dari nilai parinya. Disagio saham, saham yang dijual dengan harga lebih rendah dari nilai parinya. Pemecahan saham, penurunan nilai pari atau nilai yang ditetapkan dari saham biasa dengan mengeluarkan tambahan saham bagi para pemegang sahamnya. Alasan dilakukan pemecahan saham adalah untuk menurunkan harga pasar saham-sahamnya.

18

AUDITING
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Kriteria yang ditetapkan adalah patokan atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (yang berupa hasil proses akuntansi) dapat berupa: a. peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif, b. anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen, dan c. prinsip akuntansi yang lazim (PABU). Tiga jenis Audit terdiri dari: 1. audit laporan keuangan bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan secara keseluruhanyang merupakan informasi terukur yang akan diverifikasitelah disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang tertentu. 2. audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya. 3. audit ketaatan bertujuan mempertimbangkan apakah klien telah mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi. empat jenis auditor yang dikenal secara umum, yaitu: 1. akuntan publik terdaftar bertanggung jawab atas audit laporan keuangan historis dari seluruh perusahaan publik dan perusahaan besar lainnya, 2. auditor pemerintah adalah lembaga atau badan yang bertanggung jawab secara fungsional atas pengawasan terhadap kekayaan atau keuangan negara, 3. auditor pajak bertanggung jawab atas penerimaan negara dari sektor perpajakan dan penegakan hukum dalam pelaksanaan ketentuan pajak, 4. auditor intern bekerja pada suatu perusahaan untuk melakukan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan. Karena kondisi masyarakat semakin kompleks, terdapat kemungkinan bahwa para pengambil keputusan akan memperoleh informasi yang tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diandalkan yang sering disebut sebagai risiko informasi. Risiko informasi menunjukkan kemungkinan informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usaha tersebut tidak akurat.

19

Risiko informasi dapat disebabkan oleh: 1. hubungan yang tidak dekat antara penerima dan pemberi informasi, 2. sikap memihak dan motif lain yang melatarbelakangi pemberi informasi, 3. data yang berlebihan, 4. dan transaksi pertukaran yang kompleks.

Risiko informasi dapat dikurangi dengan melakukan: 1. verifikasi informasi oleh pihak pemakai, 2. pemakai menanggung risiko informasi bersama-sama dengan manajemen, 3. dan dilakukan audit atas laporan keuangan. Kantor akuntan publik melaksanakan empat jenis jasa utama, yaitu: atestasi, perpajakan, konsultasi manajemen, serta jasa akuntansi dan pembukuan. 1. Jasa atestasi adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh kantor akuntan publik untuk mengeluarkan laporan tertulis yang menyatakan kesimpulan atas keandalan asersi tertulis yang telah dibuat dan ditanggungjawabi pihak lain. Terdapat tiga macam jasa atestasi, yaitu: a. audit: audit atas laporan keuangan historis, adanya opini auditor atas laporan keuangan, b. review: lebih sempit dari audit, dan cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pemakai laporan keuangan, c. jasa atestasi lainnya, misalnya atestasi atas laporan keuangan prospektif (perkiraan dan proyeksi), data statistik atas hasil-hasil investasi untuk organisasi, seperti reksa dana, serta karakteristik perangkat lunak komputer. 2. Jasa perpajakan, yaitu kantor akuntan publik menyusun surat pemberitahuan pajak (SPT) pajak penghasilan dari perusahaan dan perseorangan, baik yang merupakan klien audit maupun yang bukan. 3. Konsultasi manajemen yaitu pemberian jasa tertentu yang memberi kemungkinan pada kliennya untuk meningkatkan efektivitas operasinya. 4. Jasa akuntansi dan pembukuan adalah jasa dalam melakukan tugas-tugas pembukuan guna memenuhi kebutuhan klien. Dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya, auditor berpedoman pada standar auditing. Standar-standar ini meliputi pertimbangan mengenai kualitas profesional mereka, seperti keahlian dan independensi, persyaratan pelaporan, dan bahan bukti.

20

tiga jenis standar auditing yang berlaku umum. 1. Standar Umum a. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai auditor. b. Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi sikap mental harus dipertimbangkan oleh auditor. c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. 2. Standar Pekerjaan Lapangan a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya. b. Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit, dan menentukan sifat, saat, dan lingkup penyajian yang harus dilakukan. c. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. 3. Standar Pelaporan a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan PABU. b. Laporan audit harus menunjukkan adanya prinsip akuntansi yang tidak konsisten diterapkan (periode sekarang dan sebelumnya). c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit. d. Laporan audit harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan

keuangan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Tujuan audit umum atas laporan keuangan oleh auditor independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (PABU). Tanggung jawab manajemen adalah menentukan kebijakan akuntansi yang sehat, menjalankan sistem pengendalian intern yang baik, dan membuat penyajian yang wajar dalam laporan keuangan,

21

Sedangkan tanggung jawab auditor mensyaratkan agar audit dirancang untuk memberikan keyakinan memadai atas pendeteksian salah saji yang material dalam laporan keuangan. Selanjutnya audit harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sikap skeptisme profesional yaitu auditor tidak boleh menganggap manajemen tidak jujur, tetapi kemungkinan tersebut harus dipertimbangkan. Salah saji dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kekeliruan (errors) adalah salah saji yang tidak disengaja, dan ketidakberesan (irregularities) adalah salah saji yang disengaja, ada dua macam, yaitu (1) pencurian aktiva atau kecurangan pegawai, (2) pelaporan keuangan yang menyesatkan atau kecurangan manajemen. Kecurangan manajemen sulit untuk diungkapkan karena (1) adanya kemungkinan bahwa salah satu atau beberapa anggota manajemen mengabaikan pengendalian intern, (2) adanya usaha manajemen untuk menyembunyikan salah saji tersebut. Asersi manajemen adalah pernyataan yang tersirat atau yang dinyatakan dengan jelas oleh manajemen mengenai jenis transaksi dan akun terkait dalam laporan keuangan (pernyataan ini merupakan bagian dari kriteria manajemen untuk mencatat dan mengungkapkan informasi akuntansi dalam laporan keuangan). Asersi manajemen dapat digolongkan menjadi lima kategori pernyataan yang luas. 1. Keberadaan (eksistensi) atau keterjadian (occurrance) berkaitan dengan apakah aktiva, kewajiban dan ekuitas yang tercantum dalam neraca, benar-benar ada pada tanggal neraca, serta apakah pendapatan dan beban yang tercantum dalam laporan rugi/laba benar-benar terjadi selama periode akuntansi. 2. Kelengkapan adalah semua transaksi dan akun yang seharusnya ada dalam laporan keuangan semuanya memang dimasukkan. 3. Hak dan Kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva memang menjadi hak perusahaan dan hutang menjadi kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu. 4. Penilaian dan Alokasi menyangkut masalah apakah aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, atau beban telah dimasukkan ke dalam laporan keuangan dengan angkaangka yang wajar. 5. Penyajian dan Pengungkapan menyangkut masalah apakah komponen-komponen dalam laporan keuangan diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan dengan sepantasnya.

22

Proses Audit Pada saat auditor memutuskan tujuan spesifik audit untuk setiap komponen dalam laporan keuangan, proses pengumpulan bahan bukti dapat dimulai. Auditor memutuskan untuk mengumpulkan bahan bukti yang layak dalam proses audit. Proses audit adalah metodologi penyelenggaraan audit yang jelas untuk membantu auditor dalam mengumpulkan bahan bukti pendukung yang kompeten. Ada empat tahap dalam proses audit. Tahap I : Merencanakan dan merancang pendekatan audit Ada dua perhitungan yang mempengaruhi pendekatan yang akan dipilih. 1. Bahan bukti kompeten yang cukup harus dikumpulkan untuk memenuhi tanggung jawab professional dari auditor. Bahan bukti adalah segala informasi yang digunakan auditor dalam menentukan kesesuaian informasi yang sedang diaudit dengan kriteria yang ditetapkan. Keputusan bahan bukti audit dapat dipecah menjadi empat macam. Prosedur audit mana yang akan digunakan (prosedur audit adalah petunjuk rinci untuk mengumpulkan bahan bukti audit tertentu yang diperoleh pada waktu tertentu selama audit). Besar sampel. Pos atau unsur yang dipilih. Kapan prosedur-prosedur tersebut dilakukan. Ada empat faktor yang menentukan apakah suatu bahan bukti dapat memberikan kesimpulan, yaitu: relevansi, bahan bukti tersebut harus berkaitan atau relevan terhadap tujuan pengujian auditor sebelum dikatakan bersifat dapat menyimpulkan, kompetensi, mengacu pada derajat dapat dipercayanya bahan bukti (bahan bukti kompeten meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar), meliputi: independensi penyelia data, efektifitas SPI, pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh auditor, kualifikasi orang yang menyediakan informasi, dan tingkat obyektifitas. kecukupan, besar sampel yang memadai, dan memilih bagian dari populasi yang layak, ketepatan waktu, kapan bahan bukti dikumpulkan atau periode yang dicakup oleh audit.

23

Ada tujuh kategori bahan bukti yang dapat dipilih auditor yang dikenal sebagai jenis bahan bukti. Pemeriksaan fisik adalah inspeksi atau penghitungan aktiva berwujud oleh auditor. Konfirmasi sebagai penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen dalam memverifikasi akurasi informasi yang telah diminta oleh auditor. Konfirmasi dapat dibagi menjadi tiga: (1) konfirmasi positif berarti bahwa penerima konfirmasi diminta untuk mengembalikan konfirmasi dalam kondisi apapun, (2) konfirmasi positif dengan informasi yang akan dikonfirmasi tertera dalam formulir, (3) konfirmasi negative berarti bahwa penerima konfirmasi menjawab hanya jika informasinya salah. Dokumentasi, pemeriksaan dokumen, merupakan pemeriksaan auditor atas dokumentasi dan catatan klien untuk menyokong informasi yang ada atau seharusnya ada dalam laporan keuangan. Pengamatan adalah penggunaan perasaan untuk menetapkan aktivitas tertentu. Tanya jawab dengan klien adalah mendapatkan informasi tertulis atau lisan dari klien dengan menjawab pertanyaan dari auditor. Pelaksanaan ulang mencakup pengecekan ulang suatu sampel perhitungan dan perpindahan informasi yang dilakukan klien selama periode yang diaudit. Prosedur analitis, menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menentukan apakah saldo akun tersaji secara layak. Keandalan jenis bahan bukti dipengaruhi oleh: 1. efektifitas SPI mempunyai pengaruh yang besar pada keandalan kebanyakan jenis bahan bukti, 2. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ulang diharapkan lebih andal kalau SPI efektif, penggunaan dipertimbangkan secara berbeda, 3. jenis bahan bukti tertentu jarang mencukupi sendirian untuk memberikan bahan bukti yang kompeten untuk memenuhi satu tujuan. 2. Biaya pengumpulan bahan bukti harus dibuat seminimal mungkin. Biaya dari jenis bahan bukti. Paling mahal adalah pemeriksaan fisik dan konfirmasi. Tingkat menengah adalah dokumentasi dan prosedur analitis. Paling tidak mahal adalah pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan pelaksanaan ulang.

24

Perencanaan dan perancangan pendekatan audit dapat dipisahkan menjadi beberapa bagian. a. Mendapatkan pengetahuan atas bidang usaha klien. b. Memahami struktur pengendalian klien dan menetapkan risiko pengendalian (jika klien memiliki SPI yang baik, risiko pengendalian akan rendah, dan jumlah bahan bukti audit yang harus dikumpulkan lebih sedikit daripada SPI yang jelek). Penetapan risiko pengendalian adalah proses evaluasi yang meliputi identifikasi pengendalianpengendalian spesifik yang mengurangi kemungkinan kekeliruan dan ketidakberesan akan terjadi dan tidak terdeteksi serta tidak diperbaiki dalam waktu yang tepat. Struktur pengendalian intern mencakup lima kategori dasar kebijakan dan prosedur yang dirancang dan digunakan oleh manajemen untuk memberikan keyakinan memadahi bahwa tujuan pengendalian dapat dipenuhi, komponen struktur

pengendalian intern terdiri dari: 1. Lingkungan pengendalian yang terdiri dari tindakan kebijakan dan prosedur yang mencerminkan sikap menyeluruh manajemen puncak, direktur dan komisaris, dan pemilik suatu satuan usaha terhadap pengendalian dan pentingnya terhadap satuan usaha tersebut. 2. Penetapan risiko manajemen. Penetapan risiko untuk laporan keuangan adalah identifikasi dan analisis oleh manajemen atas risiko-risiko yang relevan terhadap penyiapan laporan keuangan yang sesuai dengan PABU. 3. Sistem informasi dan komunikasi akuntansi. Kegunaan sistem akuntansi satu satuan usaha adalah untuk mengidentifikasi, menggabungkan, mengklasifikasi,

menganalisis, mencatat dan melaporkan transaksi satu satuan usaha dan untuk mengelola akuntabilitas (tanggung gugat) atas aktiva terkait. 4. Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur, selain dari empat komponen yang lain, yang dibuat manajemen untuk memenuhi tujuannya, ada lima macam: a. pemisahan tugas yang cukup (melindungi dari penggelapan), b. otorisasi yang pantas atas transaksi dan aktivitas, c. dokumen dan catatan yang memadahi, d. pengendalian fisik atas aktiva dan catatan, e. pengecekan independen atas pelaksanaan. 5. Pemantauan. Berkaitan dengan penilaian efektifitas rancangan dan operasi terstruktur pengendalian intern secara periodik dan terus-menerus oleh manajemen

25

untuk melihat apakah telah dilaksanakan dengan semestinya dan telah diperbaiki sesuai dengan keadaan. Tugas auditor dalam memperoleh pemahaman struktur pengendalian intern adalah untuk menemukan elemen struktur pengendalian intern, melihat apakah ditempatkan dalam operasi, mendokumentasikan informasi yang diperoleh dengan cara yang baik. Berikut ini adalah prosedur yang berkaitan dengan perancangan dan penempatan dalam operasi. 1. Pengalaman auditor dalam periode sebelumnya atas satuan usaha tersebut. 2. Tanya jawab dengan pegawai klien. 3. Kebijakan dan pedoman sistem klien. 4. Inspeksi dokumen dan catatan. 5. Pengamatan atas aktivitas dan operasi satuan usaha. Pengendalian yang telah diidentifikasi auditor dalam penetapan sebagai pengurang risiko pengendalian (pengendalian kecil) harus didukung oleh pengujian atas pengendalian untuk menjamin bahwa pengendalian telah dilaksanakan dengan efektif dalam keseluruhan atau sebagian besar periode audit. Empat jenis prosedur yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan dan prosedur yang berkenaan dengan pengendalian, adalah : 1. tanya jawab dengan pegawai suatu satuan usaha yang tepat 2. pemeriksaan dokumen, catatan dan laporan, 3. pengamatan aktifitas berkenaan dengan pengendalian, 4. pelaksanaan ulang prosedur klien. Tahap II : Melakukan pengujian pengendalian dan transaksi Pengujian atas pengendalian mencakup pemeriksaan dokumen-dokumen yang mendukung transaksi. Jika auditor menetapkan tingkat risiko pengendalian yang lebih rendah berdasarkan identifikasi pengendalian, ia memperkecil luas penilaian sampai suatu titik dimana ketepatan informasi laporan keuangan yang berkaitan langsung dengan pengendalian harus diperiksa keabsahannya melalui pengumpulan bahan bukti. Pengujian substantif adalah prosedur yang dirancang untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung mempengaruhi kebenaran saldo laporan keuangan. Terdapat tiga jenis pengujian substantif: pengujian atas transaksi, prosedur analitis, dan pengujian terinci atas saldo. Tujuan pengujian substantif atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat

26

dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan benar. Tujuan audit umum berkait transaksi berfungsi sebagai kerangka kerja bagi auditor dalam mengumpulkan bahan bukti kompeten yang cukup dibutuhkan oleh standar pekerjaan lapangan ketiga dan memutuskan bahan bukti yang pantas untuk dikumpulkan sesuai dengan penugasan. Ada enam tujuan audit umum berkait transaksi. Eksistensi, transaksi yang dicatat memang ada. Kelengkapan, transaksi-transaksi yang ada telah dicatat. Akurasi, transaksi yang tercatat disajikan pada nilai yang benar. Klasifikasi, transaksi yang dicantumkan dalam jurnal diklasifikasikan dengan tepat. Saat pencatatan, transaksi dicatat pada tanggal yang benar. Posting pengikhtisaran, transaksi yang tercatat secara tepat dimasukkan dalam berkas induk dan diikhtisarkan dengan benar. Tahap III : Melaksanakan prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo Ada dua kategori pada prosedur tahap III. 1. Prosedur analitis digunakan untuk menentukan kelayakan transaksi dan saldo secara keseluruhan. Prosedur analitis adalah sebagai evaluasi atas informasi keuangan yang dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data keuangan dan non keuangan, meliputi perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi auditor. Tujuan dan pelaksanaan prosedur analitis meliputi: 1. memahami bidang usaha klien, 2. penetapan kemampuan satuan usaha untuk menjaga kelangsungan hidupnya, 3. indikasi adanaya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan, 4. mengurangi pengujian audit yang terinci, 5. saat pelaksanaan, meliputi: pada tahap perencanaan, selama tahap pengujian, dan selama tahap penyelesaian audit. Bagian penting dalam menggunakan prosedur analitis adalah memilih prosedur yang paling layak. Terdapat lima jenis prosedur analitis. Membandingkan data klien dengan data industri sebagai indikasi kesulitan keuangan dan sebagai penunjang dalam memahami usaha klien. Membandingkan data klien dengan data yang serupa pada periode sebelumnya, (1) perbandingan antara saldo tahun berjalan dengan saldo tahun lalu, (2)

27

membandingkan rincian total saldo dengan rincian serupa pada tahun sebelumnya, (3) menghitung rasio dan hubungan persentase untuk perbandingan dengan tahun sebelumnya. Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh klien. Membandingkan data klien dengan data yang diperkirakan oleh auditor. Membandingkan data klien dengan hasil perkiraan yang menggunakan data non keuangan. 6. Pengujian terinci atas saldo adalah prosedur khusus untuk menguji kekeliruan moneter dalam saldo-saldo laporan keuangan. Tujuan audit berkait saldo adalah sebagai kerangka kerja untuk mengaudit saldo akun neraca, auditor mengumpulkan bahan bukti untuk memverifikasi rincian-rincian yang mendukung saldo akun (bukan memverifikasi saldo akun). Ada sembilan tujuan umum audit berkait saldo. Eksistensi, angka-angka yang dicantumkan memang ada. Kelengkapan, angka-angka yang ada telah dimasukkan seluruhnya. Akurasi, jumlah yang ada disajikan pada jumlah yang benar. Klasifikasi, angka-angka yang dimasukkan didaftar klien telah diklasifikasikan dengan tepat. Pisah batas, transaksi-transaksi yang dekat dengan tanggal neraca dicatat dalam periode yang tepat. Kecocokan rincian, rincian dalam saldo akun sesuai dengan angka-angka buku besar tambahan, dijumlah kebawah benar dalam saldo akun, dan sesuai dengan jumlah dalam buku besar. Nilai realisasi, aktiva dinyatakan pada jumlah yang diestimasi dapat direalisasi. Hak dan kewajiban, cara auditor memenuhi asersi manajemen mengenai hak dan kewajiban. Penyajian dan pengungkapan, saldo akun dan persyaratan pengungkapan yang berkaitan telah disajikan dengan pantas dalam laporan keuangan. Tahap IV : Menyelesaikan audit dan menerbitkan laporan audit Setelah auditor menyelesaikan semua prosedur, adalah perlu untuk menggabungkan seluruh informasi yang didapat untuk memperoleh kesimpulan menyeluruh mengenai kewajaran laporan keuangan.

28

1. Penyelesaian audit. a. Menelaah kewajiban bersyarat. Kewajiban bersyarat adalah potensi kewajiban di masa mendatang kepada pihak ketiga untuk jumlah yang tidak diketahui sebagai akibat aktivitas yang telah terjadi. Ada tiga kondisi kewajiban bersyarat. Terdapat kemungkinan pembayaran dimasa datang kepada pihak ketiga akibat kondisi saat ini. Terdapat ketidakpastian atas jumlah pembayaran dimasa mendatang tersebut. Hasilnya akan ditentukan oleh peristiwa dimasa datang. b. Menelaah peristiwa kemudian, auditor bertanggung jawab untuk menelaah transaksi dan peristiwa yang terjadi setelah tanggal neraca untuk menentukan apakah terjadi sesuatu yang mempengaruhi penilaian atau pengungkapan atas laporan keuangan yang sedang diaudit (dibatasi untuk periode dengan diawali tanggal neraca dan berakhir pada tanggal laporan audit). Ada dua jenis peristiwa kemudian. Peristiwa kemudian yang mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian, seperti: pengumuman pailit satu pelanggan dengan saldo piutang usaha outstanding yang mempengaruhi kondisi keuangan, penyelesaian perkara hukum dengan jumlah yang berbeda dari jumlah yang dicatat dalam buku, penghentian peralatan yang tidak digunakan dalam operasi pada harga dibawah nilai buku saat ini, penjualan investasi pada harga dibawah harga perolehan yang dicatat. Peristiwa yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap laporan keuangan tetapi pengungkapannya dianjurkan, seperti: penerbitan obligasi, kerugian persediaan akibat kebakaran yang tidak diasuransikan. 2. Tanggal ganda. Kadang auditor menentukan bahwa peristiwa kemudian yang penting terjadi setelah pekerjaan lapangan selesai, tetapi sebelum laporan audit diterbitkan (misalnya, perolehan perusahaan lain oleh klien yang diaudit pada tanggal 23 april, sedangkan hari terakhir pekerjaan lapangan adalah 11 april). Mewajibkan auditor memperluas pengujian audit atas peristiwa kemudian terbaru yang terungkap untuk meyakinkan bahwa klien telah benar mengungkapkannya (ada dua pilihan).

29

Memperluas periode dari seluruh pengujian atas peristiwa kemudian sampai tanggal dimana auditor puas bahwa peristiwa kemudian terbaru yang ditetapkan telah dinyatakan dengan benar. Membatasi penelaahan kepada hal yang berkaitan dengan peristiwa kemudian yang terbaru. Untuk pilihan pertama: tanggal laporan audit akan diubah. Untuk piliha kedua: laporan audit akan ditanggali ganda. 3. Laporan audit, bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapat wajar tanpa pengecualian. Kondisi untuk laporan wajar tanpa pengecualian adalah: semua laporan keuanganneraca, laporan laba/rugi, saldo laba, dan laporan arus kassudah tercakup di dalam laporan keuangan, ketiga standar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan, bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tersebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah dipenuhi, laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelas atau modifikasi kata-kata dalam laporan. Keadaan yang menyebabkan penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian. Kondisi 1 : pembatasan lingkup audit. Kondisi 2 : laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip

akuntansi yang berterima umum. Kondisi 3 : auditor tidak independen. Ada empat pandapat auditor terhadap laporan keuangan yang telah diaudit. Pendapat wajar tanpa pengecualian: auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar/ bebas dari salah saji yang material dan laporan keuangan disajikan sesuai dengan PABU. Pendapat wajar dengan pengecualian: auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, kecuali untuk pos tertentu (karena adanya pembatasan lingkup audit atau tidak ditaatinya PABU). Pendapat tidak wajar: auditor menyimpulkan laporan keuangan tidak disajikan secara wajar (keseluruhan laporan keuangan yang disajikan memuat salah saji yang

30

material atau menyesatkan sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan sesuai dengan PABU). Pernyataan tidak memberikan pendapat: auditor tidak menyimpulkan apakah laporan keuangan disajikan secara wajar (auditor tidak berhasil untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar, adanya pembatasan lingkup audit, hubungan yang tidak independen). Materialitas adalah jumlah atau besarnya kekeliruan atau salah saji dalam informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi yang bersangkutan, mungkin membuat pertimbangan pengambilan keputusan pihak yang berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh salah saji tersebut. Pertimbangan awal mengenai materialitas adalah jumlah maksimum suatu salah saji dalam laporan keuangan yang menurut pendapat auditor, tidak mempengaruhi keputusan dari pemakai. Tujuan penetapan materialitas adalah untuk membantu auditor merencanakan pengumpulan bahan bukti yang cukup. Jika auditor menetapkan jumlah yang rendah maka lebih banyak bahan bukti yang harus dikumpulkan dari pada jumlah yang tinggi. Langkah-langkah dalam menetapkan materialitas adalah sebagai berikut ini. Langkah 1 : Tentukan pertimbangan awal mengenai materialitas Langkah 2 : Alokasikan pertimbangan awal mengenai materialitas ke dalam Langkah 3 : Estimasikan total salah saji dalam segmen. Langkah 4 : Estimasikan salah saji gabungan. Langkah 5 : Bandingkan estimasi gabungan dengan pertimbangan awal materialitas. Keputusan materialitas dapat dibagi dua. Berkaitan dengan PABU: jumlah rupiah dibandingkan terhadap tolok ukur tertentu, misalnya: laba bersih, jumlah aktiva lancer, dan modal kerja, daya ukur, nilai uang yang terkandung tidak dapat diukur secara akurat (adanya gugatan hukum), mengenai segmen.

sifat salah saji: 1. transaksi-transaksi yang melanggar hukum, 2. pos yang mempengaruhi periode mendatang, 3. sesuatu yang menimbulkan akibat psikis,

31

4. sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi penting bila dipandang dari segi kewajiban kontrak. Berkaitan dengan pembatasan lingkup audit: sulit diukur, sifatnya subyektif. Pembatasan lingkup audit dapat dibagi dalam dua kategori utama. Disebabkan oleh klien: kemungkinan bahwa manajemen sengaja mencegah terungkapnya informasi salah saji (dalam hal pemeriksaan fisik dan konfirmasi piutang usaha). Disebabkan oleh keadaan diluar kekuasaan auditor dan klien: penugasan yang baru disepakati setelah tanggal neraca, sehingga sulit melaksanakan pemeriksaan fisik. 4. Penemuan fakta kemudian, laporan keuangan yang diaudit telah diterbitkan dan terdapat informasi dalam laporan tersebut yang secara material menyesatkan (auditor meminta klien menerbitkan dengan segera laporan keuangan yang direvisi yang berisi penjelasan mengenai alasan revisi tersebut). Kertas Kerja Kertas kerja didefinisikan sebagai catatan-catatan yang dibuat atau dikumpulkan dan disimpan oleh akuntan publik mengenai prosedur pemeriksaan yang ditempuhnya, pengujian yang dilakukannya, keterangan yang diperolehnya, dan kesimpulan yang ditariknya sehubungan dengan pemeriksaannya. Tujuan kertas kerja adalah untuk membantu auditor memberikan keyakinan memadai bahwa audit yang layak telah dilakukan sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan IAI. Kertas kerja sebagai yang disinggung dalam audit tahun berjalan, menyediakan dasar untuk perencanaan audit, pencatatan bahan bukti yang dikumpulkan dan hasil pengujian, data untuk menentukan jenis laporan audit yang pantas, dan dasar untuk menelaah oleh penyelia dan partner. 1. Dasar untuk perencanaan audit, kertas kerja mencakup berbagai informasi perencanaan seperti informasi deskriptif mengenai struktur pengendalian intern, anggaran waktu bagi tiap bidang audit, program audit, dan hasil audit tahun lalu. 2. Catatan bahan bukti yang dikumpulkan dan hasil pengujian, kertas kerja sebagai alat dokumentasi utama bahwa audit yang memadai telah dilaksanakan sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan IAI. Kalau diperlukan, auditor dapat menunjukkan kepada lembaga kehakiman dan pengadilan bahwa audit telah direncanakan dengan baik dan disupervisi dengan cukup, bahan bukti yang dikumpulkan kompeten, cukup dan tepat waktu, dan laporan audit sudah pantas dengan mempertimbangkan hasil audit.

32

3. Dasar untuk menentukan jenis laporan audit yang pantas, kertas kerja memberikan informasi penting yang membantu auditor menentukan kelayakan laporan audit yang diterbitkan dalam suatu keadaan tertentu. Data dalam kertas kerja juga bermanfaat untuk mengevaluasi kecukupan ruang lingkup audit dan kewajaran laporan keuangan. 4. Dasar untuk penelaahan oleh penyelia dan partner, kertas kerja merupakan kerangka acuan utama yang digunakan penyelia untuk mengevaluasi apakah bahan bukti yang kompeten telah dikumpulkan dengan cukup untuk membenarkan laporan audit. Berkas permanen. Berkas permanen dimaksudkan berisi data historis atau yang bersifat berkelanjutan berkenaan dengan pemeriksaan tahun berjalan. Berkas ini memberikan sumber informasi mengenai audit yang berkelanjutan dari tahun ke tahun. Berkas

permanen mencakup hal-hal sebagai berikut: kutipan atau fotokopi dari dokumen perusahaan yang kepentingannya berkelanjutan seperti akte pendirian, anggaran dasar dan rumah tangga, peraturan perundangan, surat hipotik, dan kontrak-kontrak, analisis, dari tahun sebelumnya, atau akun yang mempunyai kepentingan berkelanjutan bagi auditor, mencakup akun seperti utang jangka panjang, perkiraan modal, goodwill, dan aktiva tetap. informasi berkenaan dengan pemahaman struktur pengendalian intern dan penetapan risiko pengendalian, hasil prosedur analitis, dari audit tahun sebelumnya, diantaranya adalah rasio dan persentase yang dihitung oleh auditor, dan total saldo atau saldo perbulan untuk akun tertentu, Kertas kerja yang disiapkan selama pelaksanaan penugasan, mencakup juga yang disiapkan oleh klien untuk auditor, merupakan harta milik auditor, tidak seorangpun, termasuk klien, mempunyai hak untuk memeriksa kertas kerja kecuali digunakan oleh pengadilan sebagai bahan bukti yuridis formal. Kebutuhan untuk memelihara kerahasiaan hubungan dengan klien dinyatakan dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia pasal 6 yang menyatakan: setiap anggota harus menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh selama pekerjaannya, dan tidak boleh terlibat dalam pengungkapan fakta atau informasi tersebut, bila tidak diperoleh ijin khusus, kecuali dikehendaki oleh hukum atau negara atau profesinya. Ia tidak boleh menggunakan untuk keuntungan sendiri atau untuk keuntungan pihak ketiga, suatu pengetahuan atau informasi yang diperolehnya dari pelaksanaan tugasnya.

33

Risiko Risiko adalah auditor menerima suatu tingkat ketidakpastian tertentu dalam pelaksanaan audit (misalnya, kompetensi bahan bukti, efektifitas SPI klien, apakah laporan keuangan disajikan secara wajar setelah audit selesai). Model risiko audit digunakan terutama untuk tahap perencanaan dalam menentukan berapa besar bahan bukti yang harus dikumpulkan dalam tiap siklus. Rumusnya adalah sebagai berikut: AAR IRxCR = Resiko penemuan yang direncanakan (Planned Detection Risk)

PDR =

PDR

Risiko penemuan yang direncanakan adalah risiko bahwa bahan bukti yang dikumpulkan dalam segmen, gagal menemukan salah saji yang melewati jumlah yang dapat ditoleransi, kalau salah saji semacam itu terjadi. Risiko penemuan yang direncanakan diperkecil, auditor harus mengumpulkan bahan bukti yang lebih banyak dalam audit. AAR = Resiko audit yang dapat diterima (Acceptable Audit Risk)

Risiko audit yang dapat diterima adalah ukuran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan terdapat salah saji yang material walaupun audit telah selesai dan pendapat wajar tanpa pengecualian telah diberikan. IR = Risiko bawaan (Inherent Risk)

Risiko bawaan adalah penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, sebelum memperhitungkan faktor efektifitas pengendalian intern (faktor kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji yang material, dengan asumsi tidak ada pengendalian intern, yaitu salah saji yang paling mungkin terjadi dan salah saji yang paling kecil terjadi/ transaksi yang tidak rutin). CR = Risiko pengendalian (Control Risk)

Risiko pengendalian adalah ukuran penetapan auditor akan kemungkinan adanya kekeliruan (salah saji) dalam segmen audit yang melewati batas toleransi, yang tidak terdeteksi atau tercegah oleh SPI klien. Makin efektif SPI klien, makin rendah risiko yang dapat diterapkan untuk risiko pengendalian. Hubungan antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti Audit Jika materialitas rendahjumlah salah saji yang kecil saja dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuanganauditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, jika materialitas tinggijumlah salah saji besar

34

baru dapat mempengaruhi keputusan pemakai informasi keuanganauditor hanya perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah sedikit. Semakin rendah risiko audit auditor bersedia untuk menanggung risiko audit rendah sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah tinggiauditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah banyak. Sebaliknya, semakin tinggi risiko auditauditor bersedia untuk menanggung risiko audit tinggi sehingga tingkat kepastian yang diinginkan oleh auditor adalah rendahauditor perlu mengumpulkan bukti audit kompeten dalam jumlah kecil saja. Berbagai kemungkinan hubungan antara materialitas, bukti audit, dan risiko audit dapat digambarkan sebagai berikut ini. 1. Jika auditor mempertahankan risiko audit konstan dan tingkat materialitas dikurangi, auditor harus menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan. 2. Jika auditor mempertahankan tingkat materialitas konstan dan mengurangi jumlah bukti audit yang dikumpulkan, risiko audit menjadi meningkat. 3. Jika auditor menginginkan untuk mengurangi risiko audit, auditor dapat menempuh salah satu dari tiga cara berikut ini. a. Menambah tingkat materialitas, sementara itu mempertahankan jumlah bukti audit yang dikumpulkan. b. Menambah jumlah bukti audit yang dikumpulkan, sementara itu tingkat materialitas tetap dipertahankan. c. Menambah sedikit jumlah bukti audit yang dikumpulkan dan tingkat materialitas secara bersama-sama.

35

Sistem Pengendalian Manajemen


Sistem adalah sekelompok komponen yang masing-masing saling menunjangsaling berhubungan maupun tidakyang keseluruhannya merupakan sebuah kesatuan. Sistem dapat disebut juga sebagai langkah-langkah terkoordinasi yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Marciariello ada dua bentuk sistem yang berlaku, yaitu: (1) sistem formal, sistem yang memungkinkan pendelegasian otoritas dimana sistem formal memperjelas struktur, kebijakan, dan prosedur yang harus diikuti oleh anggota organisasi, (2) sistem informal, sistem yang lebih berdimensi hubungan antar pribadi yang tidak ditunjukkan dalam struktur formal. Pengendalian menurut Hansen dan Mowen adalah proses penetapan standar dengan menerima umpan balik berupa kinerja sesungguhnya, dan mengambil tindakan yang diperlukan jika kinerja sesungguhnya berbeda secara signifikan dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya. Suatu sistem pengendalian mempunyai beberapa elemen yang memungkinkan pengendalian berjalan dengan baik. Elemen-elemen tersebut adalah: Detektor atau sensor adalah suatu alat untuk mengidentifikasi apa yang sedang terjadi dalam suatu proses. Alat pembanding/ assesor adalah suatu alat untuk menentukan ketepatan, ukurannya adalah dengan membandingkan kenyataan dan standar yang telah ditetapkan. Efektor adalah alat yang digunakan untuk mengubah sesuatu yang diperoleh dari assesor. Jaringan komunikasi adalah alat yang mengirim informasi antara detektor dan sensor, dan antara assesor dan efektor. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan

pengendalian pekerjaan anggota organisasi, serta pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi, sedangkan pengendalian manajemen merupakan proses dimana manajer mempengaruhi anggotanya untuk melaksanakan strategi organisasi. Kegiatan yang dilakukan pada suatu organisasi biasanya meliputi: (1) merencanakan apa yang akan dicapai perusahaan, (2) mengkoordinasikan kegiatan pada masing-masing bagian, (3) mengkomunikasikan informasi yang ada, (4) mengevaluasi informasi, (5) memutuskan apa yang akan dilakukan, (6) mempengaruhi orang dalam organisasi tersebut untuk mengerjakan sesuai yang digariskan. Sistem pengendalian manajemen berdasarkan pendapat Anthony dan Govindarajan adalah suatu alatdari alat-alat lainnya untuk mengimplementasikan strategi, yang berfungsi untuk memotivasi anggota-anggota organisasi guna mencapai tujuan organisasi. Tujuan adalah pernyataan mengenai apa yang hendak dicapai oleh suatu organisasi. Tujuan merupakan hasil akhir dari proses perumusan strategi. Perumusan strategi adalah proses memutuskan atas tujuan organisasi dan langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan tersebut. Strategi merupakan rencana untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Strategi menurut Kenneth R. Andrews adalah suatu proses

36

evaluasi kekuatan dan kelemahan yang ada pada perusahaan yang dilakukan oleh eksekutif puncak serta melihat kesempatan dan ancaman pada saat ini dan memutuskan strategi pemasaran suatu produk yang cocok dengan kesempatan yang ada pada lingkungannya. Strategi perusahaan mempunyai pengaruh yang penting atas struktur organisasinya. Pada dasarnya ada tiga bentuk struktur organisasi, yaitu struktur organisasi fungsional, organisasi unit usaha, dan organisasi matrik. 1. Struktur organisasi fungsional membagi tugas sesuai keahlian masing-masing. Kelebihan organisasi fungsional adalah memiliki potensi untuk bekerja secara efisien, serta kegiatan yang sama dalam organisasi fungsional dapat lebih efektif. Kelemahan tipe ini adalah tidak ada cara yang tepat untuk menentukan tingkat keefektifan pemisahan fungsi tersebut karena masingmasing fungsi secara bersamaan memberi kontribusi terhadap output perusahaan, sehingga perusahaan sulit untuk menetapkan tanggung jawab terhadap laba kepada manajer perusahaan. Kelemahan lainnya adalah tidak ada cara yang tepat untuk perencaaan kerja dari masing-masing fungsi yang terpisah pada level bawah dari suatu organisasi. Dalam organisasi fungsional ini perencanaan dibuat oleh pimpinan puncak karena diperlukan koordinasi dari masing-masing fungsi yang mengkonstribusi output akhir. 2. Organisasi unit usaha, setiap unit usaha bertanggung jawab terhadap semua fungsi yang terlibat dalam proses produksi dan pemasaran produk tertentu. Manajer unit bisnis bertindak seakanakan divisinya merupakan bagian terpisah dari perusahaan, mereka juga bertanggung jawab terhadap perencanaan dan koordinasi untuk masing-masing fungsi. Kelemahannya adalah Manajer unit usaha tidak mempunyai kekuasaan yang lengkap. Kantor pusat mempunyai hak untuk membuat keputusan tertentu, bertanggung jawab terhadap keuangan perusahaan secara keseluruhan dan berhak mengalokasikan sesuai dengan pertimbangan kantor pusat, serta menentukan kebijakan perusahaan secara keseluruhan. Keuntungannya adalah, divisi lebih memahami pasar dari pada kantor pusat dan bisa bereaksi lebih cepat apabila ada ancaman atau kesempatan, sehingga tanggung jawab menghasilkan laba dapat diletakkan pada satu orang manajer atau direktur yang diberi tanggung jawab, merupakan tempat yang cocok untuk latihan manajemen. 3. Organisasi matrik. Dalam organisasi matrik, manajer suatu proyek bertanggung jawab

terhadap keberhasilan proyeknya, juga bertanggung jawab terhadap unit-unit fungsional. Masalah pengendalian manajemen pada organisasi matrik lebih sulit dibandingkan dengan bentuk organisasi lainnya. Perencanaan harus disesuaikan dengan kebutuhan program atau proyek dan disesuaikan pula dengan sumber daya yang tersedia pada unit-unit fungsional.

37

Dua unsur penting dalam sistem pengendalian manajemen adalah lingkungan pengendalian, dan proses pengendalian. 1. Dalam lingkungan pengendalian, terdapat dua aspek penting yaitu eksternal dan internal. Faktor internal dalam hal ini adalah struktur organisasi, struktur program, struktur rekening, faktor administratif, faktor perilaku dan faktor budaya. Baik lingkungan internal maupun eksternal bervariasi pada setiap organisasi sehingga pengaruhnya terhadap proses pengendalian akan berbeda. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pengendalian manajemen meliputi perilaku organisasi dan pusat-pusat pertanggungjawaban. Perilaku organisasi, proses pengendalian manajemen tetap meletakkan manusia sebagai aktornya. Artinya ada proses yang mempengaruhi terhadap pencapaian tujuan organisasi. Perilaku organisasi juga berkaitan erat dengan motivasi. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan organisasi. Motivasi merupakan kegiatan yang mendorong, menyalurkan, dan memelihara perilaku manusia. Faktor lain yang terlibat adalah kemampuan individu itu sendiri dan pemahaman tentang perilaku yang diperlukan untuk mencapai prestasi yang tinggi atau disebut persepsi peranan. Pusat pertanggungjawaban adalah suatu unit organisasi yang membawahi tugas tertentu yang dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggungjawab terhadap tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Tujuannya adalah untuk mengimplementasikan rencana strategi manajemen puncak. Secara garis besar pusat pertanggungjawaban dibedakan menjadi: pusat biaya, pusat pendapatan, pusat laba, dan pusat investasi. Pusat biaya adalah pusat pertanggungjawaban dimana input atau biaya diukur dalam unit moneter namun outputnya tidak diukur dalam unit moneter. Pusat biaya dapat dibedakan menjadi pusat biaya teknik atau pusat biaya standar (standard or engineered expense center) dan pusat biaya kebijakan (discretionary expense center). Pusat biaya teknik adalah elemen biaya yang benar-benar terjadi dan dapat diukur secara pasti karena mempunyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan, biasanya ditemukan pada perusahaan manufaktur yang menghasilkan suatu barang, misalnya departemen produksi. Pusat biaya teknik pada dasarnya mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) inputnya dapat diukur dalam satuan moneter (nilai uang), (2) outputnya dapat diukur dalam bentuk fisik, (3) jumlah optimum dari input yang ingin diproduksi untuk satu unit output bisa diukur. Efisiensi pusat biaya teknik diukur dengan membandingkan antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya terjadi. Dikatakan efisien jika biaya sesungguhnya tidak

38

melebihi jumlah biaya standarnya. Efektif tidaknya suatu pusat biaya teknik diukur atas dasar kuantitas produk yang telah ditargetkan dengan tingkat kualitas dan waktu tertentu. Pusat biaya kebijakan adalah pusat biaya yang sebagian besar biaya yang terjadi tidak mempunyai hubungan yang erat dengan output yang dihasilkan. Misalnya unit administratif, dan unit pendukung lainnya (departemen akuntansi, departemen hukum, departemen hubungan industrial). Output biaya kebijakan tidak dapat diukur dengan nilai moneter. Dalam menentukan anggaran untuk pusat biaya kebijakan, tugas utama seorang manajer adalah memutuskan pentingnya suatu pekerjaan untuk diselesaikan. Tugas ini dibagi dalam dua hal, tugas kontinyu dan tugas khusus. Tugas kontinyu adalah tugas berulang dari satu tahun ke tahun berikutnya, misalnya persiapan laporan keuangan. Tugas khusus adalah tugas yang terjadi sesekali dan tidak merupakan rutinitas, misalnya pengembangan sistem anggaran untuk satu pusat biaya yang baru dibentuk. Teknik ini biasa disebut Management by Objectives yang biasa digunakan untuk persiapan anggaran untuk pusat biaya kebijakan,

Manajement by Objectives adalah proses formal dimana anggaran yang diusulkan untuk mengerjakan tugas tertentu dan pernyataan untuk mengukur apakah tugas tersebut telah diselesaikan. Pusat pendapatan merupakan pusat pertanggungjawaban dimana outputnya diukur dalam unit moneter, tetapi tidak dihubungkan dengan inputnya. Karenanya pusat pendapatan adalah organisasi pemasaran yang tidak mempunyai tanggung jawab terhadap laba. Penentuan tentang keberhasilan pusat pendapatan dilakukan dengan membandingkan antara pendapatan yang sesungguhnya diperoleh dengan pendapatan yang dianggarkan. Pusat laba, apabila suatu prestasi keuangan pusat pertanggungjawaban diukur dengan dasar laba, yaitu selisih antara pendapatan dan biaya maka pusat pertanggungjawaban tersebut disebut pusat laba. Unit organisasi yang didesentralisasikan menjadi suatu pusat laba mempunyai beberapa keuntungan, yakni: keputusan tentang operasional bisa lebih cepat diambil karena banyak

keputusan tidak perlu lagi pertimbangan dari kantor pusat, kualitas keputusan lebih baik karena yang memutuskan adalah orang yang benarbenar mengerti tentang keputusan tersebut, manajemen kantor pusat bisa lebih memfokuskan diri pada keputusan yang lebih luas, tidak sekedar keputusan harian saja, kesadaran laba akan lebih meningkat karena manajer divisi benar-benar bertanggung jawab untuk meningkatkan laba divisinya, karena merupakan ukuran prestasi bagi manajer yang bersangkutan,

39

pengukuran prestasi dari suatu divisi bisa lebih diperluas karena pengukuran atas dasar laba lebih lengkap dari pada pengukuran prestasi atas dasar pendapatan dan biaya secara terpisah-pisah, manajer divisi lebih bebas berkreasi dan berinisiatif, divisionalisasi memudahkan seorang manajer puncak memperoleh informasi tentang profitabilitas komponen-komponen perusahaan. Sedangkan beberapa kelemahan yang terjadi pada pusat laba, adalah: untuk keputusan yang telah didelegasikan, manajer puncak mungkin kehilangan kendali tertentu, manajer umum yang berwenang menangani semua aktivitas barangkali tidak ada pada organsasi fungsional karena tidak adanya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan pribadi mereka, unit organisasi yang tadinya bekerjasama sebagai unit fungsional mungkin bisa bersaing satu dengan yang lainnya, friksi bisa meningkat karena adanya perbedaan pendapat tentang pengambilan keputusan dalam divisi yang bersangkutan, kemungkinan terlalu memperhatikan laba jangka pendek, tidak ada sistem yang menjamin bahwa divisionalisasi untuk masing-masing pusat laba bisa meningkatkan laba perusahaan, kualitas keputusan yang diambil seorang manajer divisi mungkin lebih jelek dari keputusan yang diambil oleh manjer puncak, adanya tambahan biaya karena divisionalisasi tentu menambah biaya yang harus dikeluarkan untuk manajer divisi. Pengukuran kinerja pusat laba, ada dua cara pengukuran tingkat profitabilitas pusat laba: 1) Dengan mengukur kinerja manajemen, seberapa baik seorang manajer dalam memimpin unit atau pusat pertanggungjawaban, sehingga prestasi manajer diukur sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya, 2) Dengan mengukur kinerja ekonomi pusat laba, yaitu sejauh mana pusat laba sebagai unit kegiatan ekonomi dapat mencapai atau memenuhi anggaran labanya. Dalam proses pengukuran prestasi pusat laba dibutuhkan elemen-elemen sebagai berikut: tersedianya anggaran atau rencana, pemahaman dan penerimaan logika pengukuran oleh manajer divisi, delegasi pengendalian yang konsisten dengan tanggung jawab yang dibebankan, adanya konsistensi pengukuran di antara divisi-divisi dalam perusahaan. Tujuan sistem pengukuran pusat laba oleh Fremgen, yaitu:

40

untuk menentukan kontribusi sebuah pusat laba, sebagai suatu kesatuan, terhadap tujuan organisasi, untuk memberikan dasar dalam mengevaluasi kinerja manajer pusat laba, untuk memotivasi manajer pusat laba dalam mengoperasikan unitnya agar konsisten dengan tujuan umum perusahaan secara keseluruhan. Ada empat permasalahan dalam pengukuran prestasi pusat laba, yaitu: (1) masalah alokasi pendapatan bersama, (2) masalah alokasi biaya bersama, (3) masalah penentuan harga transfer, (4) masalah pemilihan tolok ukur laba. Pusat investasi, suatu pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur atas dasar perbandingan antara laba dengan investasi yang digunakan. Tujuan pengukuran pusat investasi adalah: menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai investasi yang digunakan manajer divisi dan memotivasi manajer untuk melakukan keputusan yang tepat, mengukur prestasi divisi sebagai kesatuan yang berdiri sendiri, membandingkan prestasi antar divisi untuk penentuan alokasi sumber ekonomik. Sedangkan informasi atas dasar pusat investasi dapat memotivasi manajer divisi untuk: menghasilkan laba yang memadai dengan keleluasaan untuk mengambil keputusan tentang sumber ekonomik dan fasilitas fisik yang digunakan, mengambil keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut memberikan kembalian yang memadai, mengambil keputusan untuk melepas investasi yang tidak memberikan kembalian yang memadai. Beberapa masalah yang terjadi dalam suatu pusat investasi meliputi: masalah pengukuran dan tolok ukur prestasi pusat investasi, masalah pengukuran aktiva yang digunakan sebagai dasar investasi. 1) Masalah pengukuran dan tolok ukur prestasi pusat investasi, pada umumnya seorang manajer unit usaha mempunyai tujuan menghasilkan laba. Pertama, menghasilkan laba dari sumber daya yang ada. Kedua, menginvestasikan sumber daya tambahan hanya apabila investasi tersebut menambah laba. Pengukuran prestasi suatu pusat investasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pusat investasi tersebut dapat menghasilkan kembalian yang memuaskan bagi unit usaha dan bagi perusahaan secara keseluruhan. Tolok ukur yang digunakan untuk menentukan keberhasilan suatu pusat investasi adalah Return On Investment atau Residual

41

Income. Return On Investment adalah perbandingan antara laba dan investasi yang digunakan. Ada tiga manfaat jika ROI digunakan: ROI merupakan pengukuran komprehensif dalam segala hal yang

mempengaruhi laporan keuangan seperti ditunjukkan oleh rasio ROI, ukuran ROI sangat mudah dihitung dan dipahami, ROI merupakan denominator umum yang diterapkan dalam setiap organisasi pertanggungjawaban yang menggunakan tingkat laba sebagai ukuran kinerjanya. Kebaikan ROI: ROI mendorong manajer untuk memberi perhatian yang lebih luas terhadap hubungan antara penjualan, biaya dan investasi, yang seharusnya merupakan fokus bagi manajer pusat investasi, ROI mendorong efisiensi biaya, ROI bisa mengurangi investasi yang berlebihan pada aktiva operasi, Kelemahan ROI: ROI tidak mendorong manajer untuk menerima investasi proyek-proyek yang akan menurunkan ROI divisi walaupun akan meningkatkan profitabilitas perusahaan secara keseluruhan, ROI mendorong manajer divisi untuk memfokuskan diri hanya pada jangka pendek tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang. Residual Income, merupakan jumlah uang, yang diperoleh dengan mengurangkan laba sebelum pajak dengan beban investasi yang dilakukan. Kebaikan Residual Income adalah: mendorong manajer divisi untuk menerima usulan investasi yang menurut ROI tidak menguntungkan sehingga tidak diterima tetapi menguntungkan perusahaan secara keseluruhan, RI memungkinkan penggunaan cost of capital (biaya modal) yang berbeda-beda untuk berbagai jenis aktiva. Kelemahan Residual Income, seperti halnya ROI bisa mendorong ke pencapaian target jangka pendek tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang. 2) Masalah pengukuran aktiva sebagai dasar investasi, dalam menentukan dasar investasi yang digunakan untuk mengevaluasi manajer pusat investasi, beberapa hal yang menjadi pertanyaan adalah tindakan apa yang bisa mendorong manajer unit usaha menggunakan aktivanya secara efisien dan menentukan tambahan aktiva baru yang benar-benar bermanfaat bagi unit usaha, dan ukuran kinerja yang manakah

42

yang bisa dijadikan ukuran penilaian suatu unit usaha dalam perusahaan, serta adanya aktiva yang menganggur. 2. Proses Pengendalian Manajemen Proses pengendalian manajemen formal meliputi kegiatan: perencanaan strategi, penyusunan anggaran, pelaksanaan, dan evaluasi. a. Perencanaan strategi (pemrograman) adalah proses memutuskan program-program utama yang akan dilakukan suatu organisasi dalam rangka implementasi strategi dan menaksir jumlah sumber daya yang akan dialokasikan untuk tiap-tiap program jangka panjang beberapa tahun yang akan datang. Secara umum ada lima tugas manajemen strategik yang harus dilakukan oleh seorang manajer, yakni: mengembangkan suatu konsep usaha dan membentuk visi kemana organisasi akan dijalankan, menjadikan misi menjadi tujuan yang lebih spesifik, membuat suatu strategi untuk mencapai kinerja yang ditargetkan, implementasi dan pelaksanaan strategi yang dipilih secara efisien dan efektif, evaluasi prestasi, mengkaji situasi dan melakukan penyesuaian dalam hal misi, tujuan, strategi atau implementasi sesuai dengan keadaan riil, perubahan kondisi, ide-ide baru dan kesempatan baru. Perbedaan perencanaan strategi dan perumusan strategi: a) perumusan strategi merupakan proses memutuskan atas suatu strategi baru, perencanaan strategi adalah proses memutuskan bagaimana mengimplementasikan strategi baru, b) proses perumusan strategi, manajemen memutuskan tujuan organisasi dan strategi utama untuk mencapai tujuan tersebut, proses perencanaan strategi membawa tujuan dan strategi ini dan mencoba mengembangkan program mengimplementasikan strategi tersebut secara efisien dan efektif, c) perencanaan strategi merupakan kegiatan sistematis, dengan adanya proses perencanaan strategi tahunan dengan prosedur dan jadwal yang tersusun rapi, perumusan strategi merupakan kegiatan yang tidak sistematis, strategi yang dirumuskan diuji kembali untuk merespon kesempatan dan ancaman. Keuntungan perencanaan strategi adalah: proses perencanaan strategis merupakan kerangka kerja dalam mengembangkan anggaran tahunan, sebagai alat pengembang manajemen organisasi, sebagai mekanisme untuk memaksa manajer berpikir jangka panjang, membantu mengarahkan manajer sesuai dengan tujuan jangka panjang perusahaan, untuk

43

membantu berpikir secara eksplisit tentang tindakan jangka pendek yang diperlukan dalam menjalankan strategi jangka panjang. Kelemahan perencanaan strategi, adalah: kegiatan perencanaan strategi bisa bersifat rutin, birokratis yang mengurangi cara berpikir strategis, organisasi membuat departemen perencanaan strategi yang luas dan

mendelegasikan penyusunan rencana strategi kepada staf departemen, perencanaan strategi menghabiskan waktu dan mahal. Analisis program yang sedang berjalan. Untuk pengembangan program baru, banyak perusahaan mempunyai cara sistematis untuk analisis program yang sedang berjalan. Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis), kerangka value chain merupakan suatu metode untuk merinci suatu rangkaiandari bahan baku hingga produk akhir yang digunakan oleh langgananmenjadi kegiatan strategi yang relevan untuk memahami perilaku biaya dan perbedaan sumber daya. Dari perspektif strategi, konsep value chain menyoroti dalam tiga bidang peningkatan laba, yaitu: 1) kaitan dengan pemasok, 2) kaitan dengan pelanggan, 3) keterkaitan proses dalam value chain dari suatu perusahaan. Activity Based Costing, activity diartikan sebagai pusat biaya, dan pemicu biaya (cost driver) diartikan sebagai dasar alokasi. Dasar alokasi dari sistem ini atau cost drivernya untuk masing-masing pusat biaya menunjukkan sebab terjadinya biaya tersebut, yakni elemen yang menerangkan mengapa jumlah biaya yang terjadi pada pusat biaya atau kegiatan berbeda. Analisis pusat biaya kebijakan, menggunakan pendekatan zero-base review, pendekatan ini diperlukan untuk membandingkan biaya dan jika mungkin output untuk mengukur operasi yang sama. Perbandingan ini akan mengidentifikasikan kegiatan yang keluar dari jalur sehingga diperlukan pengujian yang lebih seksama. b. Penyusunan anggaran adalah proses pengoperasionalan rencana dalam bentuk pengkuantifikasian, biasanya dalam unit moneter, untuk kurun waktu tertentu. Program atau strategik plan yang telah disetujui pada tahap sebelumnya, merupakan titik awal dalam mempersiapkan anggaran. Anggaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: anggaran mengestimasi tingkat laba potensial dari suatu unit usaha, anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan, walaupun satuan keuangan tersebut dibantu dengan data non keuangan, anggaran umumnya meliputi periode satu tahun,

44

anggaran merupakan komitmen manajemen; yang berarti bahwa manajer mau menerima tanggung jawab untuk mencapai target yang dianggarkan, usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari penyusun anggaran, anggaran yang telah disetujui diubah hanya jika terjadi kondisi khusus, secara periodik, kinerja keuangan sesungguhnya dibandingkan dengan anggaran kemudian selisihnya dianalisis dan dijelaskan. Hubungan anggaran dengan perencanaan strategi, proses penyusunan anggaran memfokuskan pada satu tahun sementara perencanaan strategi memfokuskan kegiatan untuk periode beberapa tahun. Perencanaan strategi mendahului penyusunan anggaran dimana nantinya merupakan kerangka acuan untuk menyusun anggaran. Rencana strategi terstruktur menurut lini produk ataupun program lain, sementara penyusunan anggaran terstruktur menurut pusat pertanggungjawaban. Perbandingan anggaran dengan forecasting, anggaran merupakan rencana manajemen dengan asumsi implisit dan langkah-langkah yang akan dijalankan oleh manajer yang menyiapkan manajemen, sementara forecast merupakan prediksi atas apa yang terjadi, yang tidak merasakan akibatnya atas apa yang menjadi prakiraannya. Karakteristik forecast adalah: forecast tidak dinyatakan dalam bentuk uang, bisa berlaku untuk beberapa periode, forecasternya sendiri tidak bertanggung jawab terhadap hasil perkiraannya, prakiraan biasanya tidak perlu disetujui oleh atasan, prakiraan akan selalu disesuaikan jika ada informasi baru yang mengubah kondisi, selisih antara ramalan dan kenyataan tidak perlu dianalisis secara formal dan secara periodik. Penyusunan anggaran mempunyai empat sasaran pokok, yaitu: memperjelas rencana strategi, membantu koordinasi kegiatan beberapa bagian dari suatu organisasi, melimpahkan tanggung jawab kepada manajer, untuk memberikan otorisasi jumlah yang diizinkan untuk dikeluarkan dan mengimformasikan kinerja yang diharapkan, memperoleh kesepakatan bahwa anggaran merupakan dasar penilaian kinerja manjer. c. Pelaksanaan, selama tahun anggaran manajer melakukan program atau bagian dari program yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan yang dibuat hendaknya menunjukkan dapat menyediakan informasi tentang program dan pusat

pertanggungjawaban. Laporan pusat pertanggungjawaban juga harus menunjukkan

45

informasi tentang anggaran dan realisasinya, baik itu informasi untuk mengukur kinerja keuangan maupun non keuangan, informasi internal maupun informasi eksternal. d. Evaluasi kinerja, menilai kinerja manajer pusat pertanggungjawaban. Prestasi kerja dapat dilihat dari efisien dan efektif tidaknya suatu pusat pertanggungjawaban menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Sistem Pengukuran Kinerja


Sistem pengukuran kinerja memiliki sasaran implementasi strategi. Sistem pengukuran kinerja merupakan mekanisme perbaikan lingkungan organisasi agar berhasil dalam menerapkan strategi perusahaan. Manfaat pengukuran kinerja bagi manajemen maupun karyawan adalah sebagai berikut: 1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum, 2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti promosi, transfer, dan pemberhentian, 3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk

menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan, 4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka, 5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan. Balanced Scorecard, merupakan contoh sistem pengukuran kinerja yang diperkenalkan pertama kali oleh Kaplan dan Norton. Balanced scorecard menekankan keseimbangan antara ukuran strategis dalam upaya mencapai keselarasan tujuan, sehingga mendorong bawahan untuk bertindak sesuai dengan tujuan perusahaan. Balanced scorecard menciptakan gabungan ukuran strategis: ukuran hasil dan ukuran pemicu, ukuran hasil menunjukkan hasil dari suatu strategi (pendapatan yang meningkat atau kualitas yang membaik), ukuran pemicu adalah indikator terdepan, yang menunjukkan kemajuan bagian-bagian terpenting dari penerapan suatu strategi, ukuran keuangan dan non keuangan, ukuran eksternal dan ukuran internal. Balanced scorecard membantu manajer dalam melihat bisnis dari empat perspektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, pertumbuhan dan pembelajaran. 1. Kinerja keuangan, mengukur kinerja perusahaan dalam memperoleh laba dan nilai pasar. Ukuran keuangan biasanya diwujudkan dalam profitabilitas, pertumbuhan dan nilai pemegang saham. Alat ukur yang biasa digunakan adalah Return on Investment, dan Residual Income.

46

2. Kepuasan pelanggan, diukur dari bagaimana perusahaan dapat memuaskan pelanggan. Alat ukur yang biasa digunakan adalah market share, customer retention, customer acquisition, customer satisfaction dan customer probability. 3. Proses bisnis internal, kinerja perusahaan diukur dari bagaimana perusahaan dapat menghasilkan produk atau jasa secara efisien dan efektif. Ukuran yang biasa digunakan adalah kualitas, respon time, cost dan pengenalan produk baru. 4. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif ini menekankan pada bagaimana perusahaan dapat berinovasi dan terus tumbuh dan berkembang agar dapat bersaing di masa sekarang maupun yang akan datang. Oleh karena itu sumber daya dituntut untuk produktif dan terus belajar agar mempunyai kemampuan dalam berinovasi dan mengembangkan produk baru yang memiliki value bagi customer. Alat ukur yang biasa dipakai adalah employee satisfaction dan information system available. Keunggulan Balanced scorecard sebagai metode pengukuran kinerja manajemen dibandingkan dengan pengukuran kinerja tradisional adalah: Merupakan konsep pengukuran yang komprehensif. Balanced scorecard menekankan pengukuran kinerja tidak hanya pada aspek kuantitatif saja, tetapi juga aspek kualitatif. Aspek finansial dilengkapi dengan aspek customer, inovasi, dan pengembangan pasar merupakan fokus pengukuran integral. Merupakan konsep yang adaptif dan responsif terhadap lingkungan bisnis. Memberikan fokus terhadap tujuan menyeluruh perusahaan. Kelemahan Balanced scorecard: Kurangnya hubungan antara ukuran dan hasil non keuangan, tidak ada jaminan bahwa tingkat keuntungan masa depan akan mengikuti pencapaian target pada setiap bidang non keuangan. Fixation on Financial Result. Pencapaian ukuran keuangan seringkali tidak dikaitkan dengan program insentif sehingga tekanan baik dari pemegang saham maupun dewan direksi berpengaruh pada pencapaian target. Tidak adanya mekanisme perbaikan. Ukuran-ukurannya tidak diperbarui. Pengukuran terlalu berlebihan. Kesulitan dalam menentukan trade-offs.

47

Penentuan Harga Transfer


Pengertian harga transfer adalah harga barang dan jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam satu organisasi tanpa memandang bentuk pusat

pertanggungjawaban. Dalam arti sempit, harga transfer adalah harga barang atau jasa yang ditransfer antar pusat laba atau setidak-tidaknya salah satu dari pusat pertanggungjawaban yang terlibat merupakan pusat laba. Syarat terpenuhinya harga transfer: 1. sistem harus dapat memberikan informasi yang relevan yang dibutuhkan oleh suatu pusat laba untuk dapat menentukan trade-off yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan. 2. laba yang dihasilkan harus dapat menggambarkan dengan baik pengaturan trade-off antara biaya-pendapatan yang telah ditetapkan. 3. tingkat laba yang diperlihatkan oleh masing-masing pusat laba harus dapat mencerminkan besarnya kontribusi laba dari masing-masing pusat laba terhadap laba perusahaan secara keseluruhan. Harga transfer harus didesain sedemikian rupa sehingga memenuhi tujuan-tujuan berikut: menyajikan informasi yang relevan untuk keputusan trade-off antara pendapatan dan biaya, memotivasi manajer untuk mencapai goal congruence, membantu menilai kinerja ekonomi pusat laba yang terkait, sistemnya sederhana untuk dipahami dan mudah diadministrasikan. Sedangkan tujuan penetapan harga transfer itu sendiri adalah untuk: evaluasi prestasi divisi secara akurat, artinya tidak satupun manajer divisi yang memperoleh keuntungan dengan mengorbankan kepentingan divisi lain, selarasan tujuan, berarti bahwa para manajer mengambil keputusan yang memaksimalkan laba perusahaan dengan memaksimalkan laba divisinya, tetap terjaganya otonomi divisi, artinya tidak ada campur tangan manajemen puncak terhadap kebebasan manajemen divisi dalam mengambil keuntungan.

48

Metode penentuan harga transfer.


1. Metode harga transfer berdasarkan harga pasar, harga ditetapkan sesuai dengan permintaan dan penawaran pasar. Metode ini mempunyai dua manfaat: unit usaha yang ada mampu beroperasi sebagai pusat laba independen dimana manajer masing-masing unit bertanggung jawab atas kinerjanya sendiri, metode harga transfer biasanya diuntungkan oleh masalah pajak maupun bea cukai dari negara asal sehingga unit usaha mempunyai kontribusi terhadap laba yang dihasilkan oleh perusahaan secara keseluruhan. Kesulitan yang biasa timbul atas penggunaan metode ini: harus ada pasar kompetitif sehingga harga transfer bisa dibandingkan dengan harga pasar, harga pasar yang tetap mungkin sulit ditentukan jika harga pasar tersebut berada pada beberapa negara. 2. Metode harga transfer berdasarkan harga pokok, metode ini menggunakan harga transfer berdasarkan harga pokok tanpa memasukkan unsur laba. Metode harga pokok ini bisa diterima oleh pihak pajak maupun bea cukai karena metode ini menyediakan beberapa indikasi dimana harga transfer memperkirakan harga sesungguhnya dari barang yang ditawarkan sehingga beban pajak yang dikenakan lebih menggambarkan harga sesungguhnya dari produk. Masalah yang timbul biasanya pendekatan harga pokok ini tidak transparan, sehingga bisa menimbulkan kecurigaan karena mungkin saja harga pokok tersebut sudah diatur sebelumnya untuk kepentingan pajak. 3. Metode negosiasi, negosiasi adalah proses formal menentukan besarnya harga transfer antar pusat laba yang terlibat, tanpa campur tangan dari kantor pusat. Dengan pendekatan ini, unit usaha pembelian maupun penjualan bebas bernegosiasi agar harga transfer yang ditetapkan saling menguntungkan. Kebaikan metode ini adalah apabila pusat laba penjual mempunyai kapasitas menganggur, sedang pasar dari produk tersebut sempit (captive market), maka akan menguntungkan perusahaan secara keseluruhan. Kelemahan adalah jika barang tersebut dibutuhkan oleh pusat laba pembeli sedang dipasar bebas tidak ada, maka pusat laba penjual menjadi pihak yang menang dalam kompromi penentuan harga. 4. Arbitrasi dan Penyelesaian Konflik Negosiasi yang dilakukan kadang-kadang tidak menghasilkan keputusan yang memuaskan kedua pihak, sehingga perlu ditangani oleh pimpinan puncak dengan membentuk komite arbitrasi. Tugas lembaga arbitrasi ini adalah: menyelesaikan perselisihan tentang harga transfer, mengkaji ulang perubahan sumber daya, mengubah aturan harga transfer jika diperlukan.

49