Anda di halaman 1dari 5

Metastasis merupakan kemampuan sel kanker dari tumor primer untuk menginfiltrasi jaringan normal dan menyebar ke seluruh

tubuh. Cara Penyebaran dan Pertumbuhan Tumor Penyebaran tumor jinak Penyebaran setempat/lokal, merupakan penjalaran sel-sel tumor dari tumor induk ke jaringan normal sekitarnya secara ekspansif. Penyebaran tumor ganas 1. Penyebaran setempat/lokal Penjalaran sel-sel tumor dari tumor induk ke jaringan normal sekitarnya secara infiltrasi, massa sel tumor berhubungan dengan tumor induknya. 2. Penyebaran jauh/metastasis Pelepasan sel-sel tumor dari tumor induk, diangkut oleh aliran darah / getah bening ke tempat jauh membentuk pertumbuhan baru atau anak sebar atau metastase. Massa tumor anak sebar tak berhubungan dengan massa tumor induk. Syarat terjadinya penyebaran sel tumor ganas : 1. Adanya pelepasan sel-sel tumor yang dapat hidup otonom 2. Adanya jalan penyebaran
a. Melalui pembuluh darah (hematogen). Sel-sel tumor dibawa aliran darah ke

organ-organ tubuh yang jaul letaknya. Penyebaran ini spesifik untuk sarcoma. Pembuluh vena berdinding tipis sehingga mudah ditembus oleh sel-sel tumor, selsel tumor sebagai embolus diangkut oleh aliran darah vena dan tersangkut pada hati atau paru-paru dan membentuk anak sebar di sana. Sel tumor dapat juga masuk ke pembuluh limfe kemudian melalui torasikus masuk ke vena jugularis sinistra. Arteri berdinding tebal sehingga sukar ditembus. Penyebaran melalui aliran darah arteri hanya dapat terjadi pada tumor paru-paru/anak sebar di paruparu yang membentuk embolus tumor. Sel-sel tumor sebagai embolus masuk ke jantung kiri kemudian ke pembuluh arteri dan tersangkut pada alat tubuh yang menerima banyak darah arteri misalnya ginjal, anak ginjal, sumsum tulang.
b. Melalui pembuluh linfe (limfogen). Penyebaran ini spesifik untuk karsinoma. Sel-

sel tumor yang telah menembus pembuluh linfe diangkut oleh cairan getah bening sebagai embolus, kemudian tersangkut pada kelenjar getah bening regional. Anak sebar mungkin menyebabkan terbendungnya aliran cairan getah bening sehingga terjadi aliran retrograd dan menimbulkan penyebaran retrograd. i. Lymphatic permeation. Sel-sel tumor menembus pembuluh limfe. ii. Lymphatic emboli. Sel-sel tumor merupakan embolus dan tersangkut pada kelenjar getah bening regional atau yang lebih jauh letaknya.
c.

Penyebaran dengan transplantasi langsung. Penyebaran ini terjadi pada tumor rongga serosa yang disebut transcoelomic spread. Sel-sel tumor menembus serosa dan dengan gaya gravitasi sel akan jatuh ke dalam rongga di bawahnya. Sel-sel

tumor dengan bantuan fibrin akan melekat ke serosa di bawahnya dan membentuk anak sebar di sana. 3. Adanya lingkungan yang memungkinkan untuk hidupnya sel-sel tumor di tempat yang baru

Patobiologi Metastasis Konsep dasar dari langkah-langkah terjadinya metastasis yang dianut sekarang ini, pertama adalah proses terlepasnya sel-sel tumor dari kelompoknya (detachment) dan kemudian sel-sel ini akan melengket pada membrana basalis pembuluh darah, kemudian sel ini akan mengeluarkan enzim yang menyebabkan lisisnya membrana basalis pembuluh darah. Sel kanker tersebut kemudian masuk ke dalam pembuluh darah melalui defek yang terjadi tadi. Walaupun sel tersebut telah masuk pembuluh darah, dan beredar dalam aliran darah, hal ini belum menjamin terjadinya metastasis yang berhasil, karena tidak jarang banyak sel kanker dalam sirkulasi, namun tidak terjadi metastasis. Agar sel tumor dapat menembus extra cellular matrix (ECM) yang berada di sekitar sel tumor, maka sel tumor harus melekat pada ECM. Hal ini dimungkinkan karena sel tumor mempunyai reseptor terhadap laminin dan fibronektin yang merupakan komponen dari ECM. Sel epithel normal mengexpresikan reseptor dengan affinitas tinggi terhadap laminin pada membrana basalis, akan tetapi sel kanker mempunyai reseptor yang lebih banyak lagi yang terdistribusi pada membran sel. Karena itu nampaknya derajat invasi tumor berkorelasi dengan jumlah reseptor laminin pada membran sel. Selain reseptor laminin sel tumor juga mengexpresikan integrin yang berfungsi sebagai reseptor untuk komponen lain pada ECM yaitu fibronektin, kollagen dan vitronektin. Sebagaimana halnya dengan reseptor laminin, tampak terdapat juga korelasi antara expressi integrin alpha4beta1 (VLA-4) dengan kemampuan metastasis sel melanoma, namun demikian nampaknya hal ini tidak bersifat umum, karena ada juga melanoma yang kurang mengandung melanin tetapi mampu mengadakan metastasis, sehingga diduga mungkin terdapat jalur lain sel tumor untuk melekatkan diri dengan ECM. Setelah sel tumor melekat pada ECM, maka sel tumor harus menciptakan jalan untuk migrasi. Sel-sel tumor harus menghancurkan ECM dengan mengeluarkan enzym proteolitik dan merangsang sel fibroblast dan sel-sel macrophage untuk memproduksi enzym protease, yang sampai saat ini dikenal tiga enzym protease yaitu serine, cysteine dan metalloprotease. Salah satu metalloprotease adalah kollagenase tipe IV yang mampu memotong kollagen tipe IV pada membran basalis pembuluh darah dan sel epithelial.

Beberapa Carcinoma yang sangat invasif ternyata mengandung kollagenase tipe IV yang sangat tinggi, sedang adenoma atau carcinoma in situ mengandung kolagenase tipe IV yang rendah. Walaupun sel-sel kanker mengeluarkan enzim untuk menghancurkan ECM, sel stroma juga mengeluarkan antiprotease untuk menghancurkan enzim tersebut. berbagai penelitian juga mengindikasikan bahwa sel kanker berusaha juga untuk menghambatdampak dari anti protease yang dihasilkan sel stroma 1.11Dapat dibayangkan bahwa metastasis tidak berlangsung dengan mudah, tetapi merupakan resultant dari perang yang dahsyat antara antara sel kanker dan jaringan pertahanan tubuh, masing-masing mengeluarkan senjata pamungkasnya, dan perangkat persentaan tersebut mengalami "evolusi" juga artinya masing-masing pihak berusaha mempertahankan eksistensinya sehingga selalu saja terjadi modifikasi dari arsenal dari pihak sel kanker, demikian pula halnya dengan pertahanan tubuh yang senantiasanya memperbaiki sistem pertahanan tubuh untuk mengimbangi kecanggihan sel kanker. Pada binatang percobaan nampak bahwa adanya inhibitor terhadap kollagenasi tipe IV akan sangat menurunkan kejadian metastasis. Saat ini telah diisolasi Tissue Inhibitor Metallopreteinase (TIMP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuntikkan TIMP dapat menurunkan dengan mencolok kejadian metastasis. 9, 12-14Enzim dalam serum misalnya Cathepsin-D dan plasminogen aktivator tipe urokinase juga berperan penting dalam degradasi ECM, sehingga penderita dengan kadar tersebut yang tinggi dapat memberi probabilitas kejadian metastasis yang lebih tinggi dari pada penderita dengan kadar rendah. Setelah sel tumor menghancurkan ECM dan membran basal pembuluh darah, maka tahap selanjutnya adalah bagaimana sel tumor masuk kedalam pembuluh darah, untuk maksud ini diperlukan adanya proses gerakan (motilitas). Tampaknya sel tumor ini mengeluarkan suatu zat yang disebut autocrine motility factor oleh karena memberi dampak balik pada sel yang mengeluarkannya untuk mengadakan pergerakan. Setelah sel kanker memasuki aliran darah, maka tidak serta merta sel-sel tersebut dapat mengadakan metastasis, oleh karena begitu masuk aliran darah akan dihadapi sel sel pembunuh (Natural Killer Cell) dan sistem kekebalan humoral dan selluler yang akan berusaha menghancurkan sel tersebut. Untuk menghadapi serangan tersebut dalam sirkulasi, maka sel kanker berusaha untuk saling berikatan, dengan mengadakan adhesi antara sesama sel kanker atau dengan platet. Agregasi akan meningkatkan kemampuan hidup sel kanker, hal ini bisa dipahami karena sel kanker berada di bagian sentral akan sulit dijangkau oleh sel immunokompetent. Platelet yang melekat pada sel-sel kanker akan berfungsi sebagai pelindung dari serangan immunokomptent sel. Di samping menghadapi serangan sel-sel immunokompetent sel, sel kanker juga bisa juga hancur karena tekanan mekanik dari sel-sel darah merah yang mengalir dalam sirkulasi. Sel kanker yang masih dapat bertahap hidup dalam sirkulasi akhirnya akan memilih suatu tempat untuk pertumbuhannya. Hal ini dimungkinkan karena adanya interaksi antara molekul endothel pembuluh darah dari jaringan yang akan merupakan tempat metastasis. Sel kanker akan mengeluarkan molekul adhesi, yang mempunyai

reseptor pada endothel pembuluh darah. Salah satu molekul adhesi yang banyak dikenal adalah molekul CD44. Dalam keadaan normal molekul ini diekspresikan sel limfosit T yang berguna untuk menghancurkan enzim tersebut dan untuk migrasi limfosit T menuju tempat selektif dalam jaringan limfoid. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sel kanker dengan kadar CD44 yang tinggi mempunyai kemampuan penyebaran yang tinggi. Setelah sel kanker melekat pada sel endothel, maka terjadi lagi proses seperti pada waktu sel kanker memasuki aliran darah.

Skema Metastasis Tumor Ganas Tumor ganas sebagai serangkaian penyakit dimana sel berhasil meloloskan diri dari mekanisme control yang pada keadaan normal akan menghalangi pertumbuhannya. Kerusakan genetic nonletal merupakan hal sentral dalam karsinogenesis. Kerusakan (atau mutasi) genetic semacam ini mungkin didapat akibat pengaruh lingkungan, seperti zat kimia, radiasi, atau virus, atau diwariskan dalam sel germinativum. Hipotesis genetic pada tumor ganas

mengisyaratkan bahwa massa tumor terjadi akibat ekspansi klonal satu sel progenitor yang telah mengalami kerusakan genetic (yaitu tumor bersifat monoklonal). Tiga kelas gen regulatorik normal antara lain: 1. Protoonkogen, yang mendorong pertumbuhan. 2. Suppressor gen (gen penekan tumor), yang menghambat pertumbuhan. 3. Gen yang mengatur kematian sel/ aspoptosis, gen ini merupakan sasaran utama pada kerusakan genetic. Selain ketiga kelas gen tersebut, kategori keempat yaitu gen yang mengatur perbaikan DNA ynag rusak, berkaitan dengan karsinogenesis. Gen yang memperbaiki DNA mempengaruhi proliferasi atau kelangsungan hidup sel secara tidak langsung dengan mempengaruhi kemampuan organisme memperbaiki kerusakan nonletal di gen lain, termasuk protoonkogen, suppressor gen, dan gen yang mengendalikan apoptosis.

Sumber : Sudiono, Janti, dkk. 2003. Ilmu Patologi. Jakrta:EGC