Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA PERCOBAAN 6

Kinetika Reaksi Kimia

DISUSUN OLEH: Farisman Hidayah A4111176 DOSEN PEMBINA : Rohimatush Shofiyah, S.Si, M.Si

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI BENIH JURUSAN PRODUKSI PERTANIAN POLITEKNIK NEGERI JEMBER 2012

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kinetika kimia merupakan salah satu cabang ilmu kimia fisika yang mempelajari laju reaksi. Laju reaksi berhubungan dengan pembahasan seberapa cepat atau lambar reaksi berlagsung. Sebagai contoh seberapa cepat reaksi pemusnahan ozon di atmosfer bumi, seberapa cepat reaksi suatu enzim dalam tubuh berlangsung dan sebagainya Dalam laporan praktikum ini akan dijelaskan pula mengenai konsep konsep kinetika kimia tersebut.. Kinetika kimia juga membahas tentang konsep konsep kinetika seperti : hukum laju,orde reaksi,tetapan kelajuan, kemolekulan , dan faktor yang menyebabkan laju reaksi.Dalam makalah ini juga menjelaskan persamaan laju reaksi,persamaan laju reaksi adalah persamaan matematika yang dipegunakan dalam kinetika kimia yang menghubungkan antara laju reaksi dengan konsentrasi reaktan. 1.2 Perumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan kinetika reaksi kimia ? 2. Bagaimanakah menentukan kecepatan reakasi kimia? 3. Tergolong dalam orde berapakah hubungan reaksi Na2S2O3 dengan waktu?

1.3 Tujuan 1. Mahasiswa dapat mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kinetika reaksi kimia. 2. Mahasiswa dapat mempelajari tingkat-tingkat reaksi. 3. Mahasiswa dapat mempelajari cara menentukan grafik estimasi reaksi.

1.4 Manfaat 1. Dapat mempelajari konsep dasar kinetika reaksi 2. Dapat mempelajari hubungan kecepatan reaksi dengan waktu. 3. Dapat memahami penerapan kinetika reaksi kimia dalam usaha pertanian.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar Kinetika kimia adalah studi tentang kecepatan (speed) atau laju (rate) reaksi kimia. Salah satu tujuan utama mempelajari kinetika kimia adalah untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kimia. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi kimia dibagi atas empat kelompok : a) Sifat kimia molekul pereaksi dan hasil reaksi (produk). Bila semua faktor lain sama maka susunan kimia molekul atau ion akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia. b) Konsentrasi zat-zat yang bereaksi. Bila dua buah molekul beraksi satu dengan yang lain, maka kedua molekul tersebut harus bertemu atau bertumbukan. Kebolehjadian antar molekul untuk bertumbukan di dalam sistem homogen (satu jenis fasa, biasanya gas atau larutan) makin besar jika konsentrasi makin besar. Di dalam sistem reaksi heterogen, dimana pereaksi berada pada fasa terpisah, kecepatan reaksi tergantung pada luas kontak antar fasa. Karena luas permukaan makin besar bila ukuran partikel makin kecil, maka penurunan ukuran partikel akan menaikkan kecepatan reaksi. c) Pengaruh temperatur. Hampir semua jenis reaksi kimia berlangsung lebih cepat bila temperaturnya dinaikkan. d) Pengaruh zat lain yang disebut katalis. Kecepatan beberapa reaksi kimia, termasuk hampir semua reaksi biokimia, dipengaruhi oleh zat yang disebut katalis. Secara keseluruhan selama reaksi, katalis tidak mengalami perubahan atau pengurangan. Mempelajari bagaimana faktor-faktor ini mempengaruhi kecepatan reaksi juga tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Contohnya :

a) Kondisi reaksi dapat diatur sedemikian untuk memperoleh produk yang secepat mungkin. Hal ini sangat penting dalam industri. b) Kondisi reaksi dapat diatur agar berlangsung selambat mungkin. Hal ini sangat membantu pengendalian pertumbuhan jamur dan mikroorganisme lainnya dalam merusak bahan makanan. Bagi ahli kimia salah satu manfaat paling penting yang dapat diperoleh dalam mempelajari kecepatan reaksi kimia adalah pengetahuan tentang bagaimana proses lengkap perubahan kimia itu dapat terjadi. Ternyata, umumnya reaksi kimia tidak berlangsung hanya satu tahap tetapi merupakan kumpulan dari serangkaian tahap-tahap reaksi sederhana. Rangkaian reaksi ini disebut mekanisme reaksi. Jadi, mempelajari kecepatan reaksi dapat memberi petunjuk tentang mekanisme reaksi yang terjadi. Dengan demikian kita memperoleh wawasan alasan-alasan sangat mendasar (fundamental) kenapa zat-zat kimia bereaksi. Kecepatan Reaksi dan Pengukuran Kecepatan reaksi kimia dapat diungkapkan sebagai perbandingan perubahan konsentrasi pereaksi atau produk terhadap waktu. Hal ini analog dengan kecepatan mobil, yaitu perubahan posisi (jarak yang ditempuh) dibagi dengan waktu. Pada reaksi kimia, kecepatan dinyatakan dalam mol per liter per detik, Untuk penyederhanaan maka kecepatan reaksi kimia diberi simbol v, sehingga, Kecepetan reaksi kimia ditentukan dengan mengukur kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi atau produk. Hal ini paling mudah dilakukan dengan menentukan konsentrasi setiap interval waktu tertentu. Contoh reaksi paling sederhana adalah reaksi yang melibatkan hanya satu jenis pereaksi dan membentuk produk tunggal. Contohnya adalah reaksi konversi siklopropena menjadi propilen, Secara umum, untuk reaksi dengan stoikiometri, bila reaksi terjadi, mula-mula produk (B) belum ada. Bersamaan dengan berjalannya waktu maka konsentrasi B akan naik dan A akan turun, gambar 5.l. Gambar 4.2. Perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi terhadap waktu

Perhatikan gambar 4.2, kecepatan reaksi berubah dengan waktu. Pada titik dekat awal reaksi, konsentrasi A berkurang dan B bertambah dengan cepat. Setelah reaksi berlangsung lama, perubahan konsentrasi adalah kecil yang berarti kecepatannya kecil. Perilaku ini terjadi untuk semua jenis reaksi kimia. Jika pereaksi berkurang maka kecepatan reaksi berangsur-angsur turun. Pada reaksi kompleks, tidak sesederhana AB, maka kecepatan pembentukan produk dan pengurangan pereaksi tidak selalu sama tetapi tergantung pada koefisian reaksi. Contohnya, reaksi N2 + 3H2 2NH3 maka koefisien reaksi menjelaskan bahwa untuk setiap molekul N2 bereaksi dengan 3 molekul H2. Ini berarti bahwa hidrogen berkurang tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrogen. Koefisien NH3 adalah 2, maka kecepatan pembentukan NH3 adalah 2 kali lebih besar dari kecepatan pengurangan N2. Penentuan kecepatan reaksi Estimasi kecepatan reaksi yang akurat pada setiap saat dapat diperoleh dari kemiringan grafik konsentrasi terhadap waktu, gambar 4.3. Gambar 4.3. Estimasi kecepatan reaksi pada waktu tertentu sepanjang reaksi Pada titik-x, perubahan konsentrasi adalah (B) dan perubahan waktu adalah t. Dari tangen kurva maka kecepatan pembentukan B pada titik-x adalah, Bila kecepatan dinyatakan terhadap A maka, Tanda minus (-) menyatakan bahwa konsentrasi A berkurang dengan waktu, dan tanda minus selalu digunakan untuk menyatakan kecepatan terhadap pereaksi. Bila range perubahan konsentrasi dan waktu sangat kecil maka dapat ditulis, Untuk reaksi kompleks seperti reaksi pembentukan NH2 dari N2 dan H2 maka dapat ditulis,

Pada penentuan kecepatan reaksi kimia, maka monitoring konsentrasi dan teknik pengukuran yang digunakan tergantung pada sifat pereaksi atau hasil reaksi. Contohnya: a) Reaksi gas: penentuan perubahan konsentrasi dilakukan dengan pengukuran perubahan tekanan. b) Pereaksi dan produk zat berwarna: penentuan perubahan konsentrasi dilakukan dengan pengukuran intensitas warna, gambar 4.4. Gambar 4.4. Perubahan konsentrasi diukur dari intensitas warna Contoh reaksi perubahan warna: Br2(aq) + HCOOH(aq) 2Br- (aq) + 2H+ (aq) + CO2(g) Molekul brom adalah berwarna coklat. Setelah reaksi berlangsung, warna secara perlahan hilang. Fenomena ini dapat diamati dengan mata atau dimonitor secara kuantitatif dengan spektrofotometer sinar tampak. Perubahan warna setiap selang waktu disebut kecepatan reaksi dan dapat dinyatakan dengan: Contoh lain reaksi perubahan warna adalah reaksi redoks Zn-Cu2+, gambar 4.5. Gambar 4.5. Perubahan warna Cu2+ dan pembentukan Cl2 pada reaksi redoks Kecepatan reaksi melalui perubahan warna larutan Cu2+ dan pembentukan gas Cl2 masing-masing dapat dinyatakan dengan: Hukum Laju Tidak semua reaksi barjalan dengan kecepatan yang sama. Reaksi ionik biasanya terjadi seketika. Reaksi lain seperti pencernaan makanan terjadi sangat lambat. Perbedaan kecepatan ini terutama disebabkan perbedaan sifat kimia zat pereaksi. Untuk setiap reaksi kimia, selain sifat kimia pereaksi, salah satu faktor penting pengendali reaksi kimia adalah konsentrasi pereaksi. Umumnya, bila reaksi telah berlangsung lama maka kecepatannya berangsur-angsur turun. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa kecepatan reaksi tergantung pada konsentrasi zat-zat yang bereaksi.

Kecepatan reaksi kimia hampir selalu berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi dengan pangkat tertentu. Untuk reaksi, AB dapat ditulis, dengan pangkat n disebut orde reaksi. Bila n=l disebut reaksi orde l. Contoh reaksi orde 1 adalah dekomposisi siklopropana. Bila n=0 disebut reaksi orde nol. Pada reaksi orde nol, kecepatan reaksi adalah konstan dan tidak tergantung pada konsentrasi pereaksi. Salah satu contoh reaksi orde nol adalah dekomposisi amonia pada permukaan logam Pt atau tungsten. Kecepatan dekomposisi amonia selalu sama berapapun konsentrasi NH3. Contoh lain adalah reaksi eliminasi etil alkohol (alkohol) oleh tubuh. Berapapun konsentrasi alkohol di dalam aliran darah, kecepatan pengeluarannya dari dalam tubuh adalah konstan. Jadi kecepatannya tidak tergantung pada konsentrasi alkohol. Satu fakta penting lain yang perlu diketahui adalah bahwa koefisien reaksi tidak ada hubungannya dengan orde reaksi. Harga n hanya dapat ditentukan dari percobaan. Hal ini berbeda dengan kesetimbangan kimia, dimana koefisien reaksi ada hubungannya dengan pangkat konsentrasi pada ungkapan konstanta kesetimbangan. Untuk reaksi lebih kompleks, A + B produk maka biasanya kecepatan tergantung pada konsentrasi A dan B. Bila konsentrasi A dan B diperbesar maka kecepatan reaksi meningkat, dan sebanding dengan perkalian konsentrasi A dan B masing-masing dipangkat dengan bilangan tertentu, misalnya n dan m. Jadi, Pada reaksi ini, n dan m adalah orde reaksi terhadap A dan B. Jumlah n dan m disebut orde reaksi total. Harga n dan m boleh semua bilangan pecahan, negatip dan nol. Reaksi, NO2(g) + CO(g) CO2(g) + NO(g) pada temperatur dibawah 225 C maka,

Jadi kecepatan tidak tergantung pada konsentrasi CO tetapi hanya pada NO2 pangkat dua. Jadi reaksi adalah orde 2 terhadap NO2 dan orde nol terhadap CO. Perhatikan bahwa karena koefisien reaksi dengan pangkat NO2 tidak ada hubungan karena koefisien reaksi adalah 1 sedangkan orde reaksi adalah 2. Seperti dijelaskan sebelumnya, orde reaksi ditentukan dari percobaan. Hubungan proporsionalitas (kesebandingan) dapat diubah menjadi kesamaan dengan menggunakan konstanta proporsional, misalnya k. Pada kinetika kimia, k disebut konstanta kecepatan reaksi. Dengan demikian diperoleh hubungan, Contohnya, hukum laju reaksi ICl dan H2, 2ICl(g) + H2(g) I2(g) + 2HCl(g) dan pada 230C persamaan hukum lajunya adalah Harga k=0,163 Lmol-1det-l, dan ini berlaku hanya pada suhu 230C. Bila temperaturnya berbeda maka harga k juga berbeda. Penentuan hukum laju Bagaimana cara menentukan hukum laju? Salah satu cara adalah dengan melakukan serangkaian percobaan dengan konsentrasi awal pereaksi berubah secara teratur. Contohnya reaksi, A B, dan , maka jika reaksi adalah orde 1 dapat ditulis, Ini berarti bahwa bila konsentrasi diperbesar 2 kali maka kecepatan juga berubah 2 kali. Jika reaksi adalah orde 2, maka bila konsentrasi diperbesar dua kali diperoleh bahwa kecepatan reaksi berubah 4 kali. Konsentrasi dan waktu: waktu paruh

Hukum laju menyatakan hubungan antara kecepatan reaksi dengan konsentrasi pereaksi. Selain hubungan ini, juga dapat diperoleh hubungan lain yaitu antara konsentrasi dengan waktu. Contohnya, untuk reaksi orde 1, A produk, dengan , maka dari hubungan dapat diturunkan hubungan, dengan [A]o adalah konsentrasi mula-mula (pada t=0) dan [A]t adalah konsentrasi pada waktu t setelah reaksi berlangsung. Bila reaksi orde 2, dengan maka dapat diturunkan hubungan, Hal yang sama dapat dilakukan untuk reaksi dengan orde lebih tinggi dan reaksi kompleks. Satu besaran penting lain, khususnya untuk reaksi orde 1, adalah waktu-paruh, tl/2, yang didefinisikan dengan waktu yang diperlukan agar pereaksi berkurang setengah dari konsentrasi sebelumnya. Jadi pada t=tl/2, Untuk reaksi orde 1 diperoleh hubungan, Ternyata untuk reaksi orde 1, tl/2 hanya tergantung pada k. Jadi harga t1/2 adalah konstan selama reaksi berlangsung. Untuk reaksi orde 2, dengan diperoleh hubungan, Waktu paruh reaksi orde 2 tergantung pada konsentrasi awal. Karena setiap satu waktu paruh konsentrasi [A]t=1/2[A]o, maka pada waktu paruh pada t=t2 adalah dua kali lebih besar dari waktu paruh pada t=t1, yaitu: Hubungan waktu paruh dengan k dan [A]o untuk reaksi dengan orde lebih tinggi dapat juga diturunkan. Teori Tumbukan Reaksi kimia terjadi bila molekul yang bereaksi saling bertumbukan. Pandangan ini menjadi dasar teori tumbukan pada kinetika kimia. Teori tumbukan menyatakan bahwa kecepatan reaksi sebanding dengan jumlah tumbukan yang terjadi antara dua molekul yang bertumbukan per detik, jumlah tumbukan

Bila kecepatan tergantung pada jumlah tumbukan maka hal ini memberi penjelasan bahwa kecepatan reaksi tergantung pada konsentrasi pereaksi. Namun demikian, bahwa tidak semua tumbukan yang terjadi efektif menghasilkan perubahan kimia. Jumlah fraksi yang efektif menghasilkan reaksi kimia tergantung pada (a) sifat pereaksi dan (b) temperatur. Andaikan reaksi terjadi melalui tumbukan antara dua molekul atau bimolekul, yaitu A + B produk maka kecepatan reaksi sebanding dengan jumlah tumbukan antara molekul A dan B. Jika konsentrasi A dua kali lipat maka jumlah tumbukan juga menjadi dua kali lipat. Atau bila molekul A dua kali lipat maka terdapat molekul A dua kali lipat yang dapat bertumbukan dengan molekul B. Hal yang sama akan terjadi bila jumlah molekul B diperbesar. Maka hukum laju untuk proses tumbukan bimolekul adalah, Bila molekul sejenis dan reaksinya adalah bimolekul, 2A produk maka hukum laju adalah, Berdasarkan teori tumbukan, jika diketahui bagaimana terjadinya proses tumbukan untuk menghasilkan produk, maka dapat diperkirakan hukum lajunya. Pada proses tumbukan sederhana, pangkat pada hukum laju sama dengan koefisien pada persamaan reaksi proses tumbukan. Mekanisme Reaksi Persamaan reaksi total adalah menyatakan perubahan kimia total yang terjadi jika reaksi telah selesai. Ini tidak berarti bahwa semua pereaksi langsung mengalami perubahan menghasilkan produk. Tetapi perubahan kimia total biasanya merupakan jumlah dari serangkaian reaksi-reaksi sederhana. Reaksi yang sederhana ini disebut proses elementer. Rangkaian proses elementer yang akhirnya akan menghasilkan produk disebut mekanisme reaksi.

BAB 3 METODOLOGI

3.1 Peralatan dan Bahan 3.1.1 Peralatan Peralatan yang digunakan dalam praktikum Kinetika Reaksi adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jas laboratorium Sarung tangan Masker Tabung reaksi Rak tabung Pipet volume Penangas air Stopwacth

3.1.2 Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum Kinetika Reaksi adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Larutan KI 0,1M Larutan Na2S2O3 0,1M Larutan Amylum 10% Larutan kalium pirodisulfit Larutan HCl 0,1M Air aquadest Kertas label Tissue

3.2 Prosedur Kerja 1. Konsentrasi sebagai faktor kecepatan reaksi I Menyiapkan alat dan bahan Memberi label pada tabung reaksi, dengan label 1, 2, 3, dan 4 Membuat larutan sesuai dengan perlakuan:

Tab. 1 2 3 4

KI 0,1 M 1 1 1 1

0,1 M Na2S2O3 2 2,5 3 3,5

H2O 1 1 1 1

Amylum 10 % 1 1 1 1

Setelah tabung reaksi diisi dengan larutan sesuai dengan ketentuan, tabung reksi digojok terlebih dahulu untuk menghomogenkan larutan Pada masing-masing tabung ditambahkan 2 ml Kalium pirodisulfit 1M, kemudian digojok dan diperhatikan waktu yang diperlukan hingga larutan berubah warna Mencatat waktu dari masing-masing tabung saat warna larutan berubah untuk pertama kalinya Membuat grafik antara hubungan mol Na2S2O3 dengan waktu yang diperlukan untuk berubah warna, serta menentukan tingkat reaksinya Merapikan alat dan bahan

2. Konsentrasi sebagai faktor kecepatan reaksi II Menyiapkan alat dan bahan Memberi label pada tabung reaksi, dengan label 1, 2, 3, dan 4 Membuat larutan sesuai dengan perlakuan: Tab. 1 2 3 4 KI 0,1 M 2 2,5 3 3,5 0,1 M Na2S2O3 1 1 1 1 H2O 1 1 1 1 Amylum 10 % 1 1 1 1

Setelah tabung reaksi diisi dengan larutan sesuai dengan ketentuan, tabung reksi digojok terlebih dahulu untuk menghomogenkan larutan

Pada masing-masing tabung ditambahkan 2 ml Kalium pirodisulfit 1M, kemudian digojok dan diperhatikan waktu yang diperlukan hingga larutan berubah warna Mencatat waktu dari masing-masing tabung saat warna larutan berubah untuk pertama kalinya Membuat grafik antara hubungan mol KI dengan waktu yang diperlukan untuk berubah warna, serta menentukan tingkat reaksinya Merapikan alat dan bahan

3. Temperatur sebagai faktor kecepatan reaksi Menyiapkan alat dan bahan Memberi label pada tabung reaksi dengan label a dan b Mengisi tabung reaksi dengan 3ml HCl 0,1M Memberi label pada tabung reaksi dengan label c dan d Mengisi tabung reaksi dengan larutan Tio 0,1M (Na2S2O3 0,1M) Memanaskan tabung a dan c dengan suhu 60oC menggunakan penangas air, kemudian dicampur, digojok dan dicatat waktu yang dibutuhkan untuk larutan menjadi keruh dan terbentuk endapan Mencampur tabung b dan tabung d pada suhu kamar, kemudian digojok kemudian dicatat waktu yang dibutuhkan untuk larutan menjadi keruh dan terbentuk endapan Merapikan alat dan bahan

BAB 4 ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa data 1. Tabel pengamatan Konsentrasi sebagai faktor kecepata reaksi Tabel a Tab. 1 2 3 4 KI 0,1 M 0,1 M Na2S2O3 1 2 1 2,5 1 3 1 3,5 Tabung 1 H2O 1 1 1 1 Amylum 10 % 1 1 1 1 Penambahan 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit Warna Awal Akhir bening Keruh bening Keruh bening Keruh bening Keruh Waktu 03.30.11 03.42.34 03.46.61 03.52.53

Dik : V Na2S2O3 = 2 ml = 0,002 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,002 = 0,0002 mol Tabung 2 Dik : V Na2S2O3 = 2,5 ml = 0,0025 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,0025 = 0,00025 mol

Tabung 3 Dik : V Na2S2O3 = 3 ml = 0,003 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,003 = 0,0003 mol Tabung 4 Dik : V Na2S2O3 = 3,5 ml = 0,0035 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,0035 = 0,00035 mol

Grafik hubungan 0,1 M Na2S2O3 dengan Waktu


8 6 4 2 0 1 2 3 4 5 Waktu Na2S2O3

Tabel b Tab. 1 2 3 4 KI 0,1 M Amylum H2O 0,1 M Na2S2O3 10 % 2 1 1 1 2,5 1 1 1 3 1 1 1 3,5 1 1 1 Dik : V Na2S2O3 = 1 ml = 0,001 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,001 L = 0,0001 mol 2. Tabel pengamatan temperatur sebagai kecepatan reaksi Tab a b c d Larutan 3 ml HCl 0,1 M 3 ml HCl 0,1 M 3 ml Na2S2O3 0,1M 3 ml Na2S2O3 0,1M Warna Setelah pemanasan Lebih bening Lebih bening Lebih bening Lebih bening Dicampu r larutan a+c b+d Waktu 05.01.00 01.20.31 Warna Keruh Keruh Endapa n Ada Tidak ada Penambahan 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit 2 ml pirodisulfit Warna Awal Akhir bening Keruh bening Keruh bening Keruh bening Keruh Waktu 04.51.00 04.05.00 10.14.00 15.10.00

Awal Bening Bening Bening Bening

Dik : V Na2S2O3 = 3 ml = 0,003 L M = 0,1M Dit : mol Na2S2O3 ........? Dijawab : n = M x V = 0,1 mol/L x 0,003 = 0,0003 mol

4.2 Pembahasan Laju reaksi dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi atau tekanan dari produk atau reaktan terhadap waktu. Berdasarkan jumlah molekul yang bereaksi, reaksi terdiri atas : 1. Reaksi unimolekular : hanya 1 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : N2O5 N2O4 + O2 2. Reaksi bimolekular : ada 2 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : 2HI H2 + I2 3. Reaksi termolekular : ada 3 mol reaktan yang bereaksi.Contoh : 2NO + O2 2NO2

Berdasarkan banyaknya fasa yang terlibat, reaksi terbagi menjadi : 1. Reaksi homogen : hanya terdapat satu fasa dalam reaksi (gas atau larutan) 2. Reaksi heterogen : terdapat lebih dari satu fasa dalam reaksi Secara kuantitatif, kecepatan reaksi kimia ditentukan oleh orde reaksi, yaitu jumlah dari eksponen konsentrasi pada persamaan kecepatan reaksi.

2.2.Penetapan Hukum-hukum Laju atau Tetapan Laju

Suatu persamaan yang memerikan hubungan antara laju reaksi dengan konsentrasi pereaksi disebut persaman laju atau hukum laju. Tetapan kesebandingan k dirujuk sebagai tetapan laju untuk suatu reaksi tertentu. Karena konsentrasi pereaksi berkurang dengan berlangsungnya reaksi. Tetapi tetapan laju k tetap tak berubah sepanjang perjalanan reaksi. Jadi laju reaksii memberikan suatu ukuran yang memudahkan bagi kecepatan reaksi. Makin cepat reaksi makin besar harga k, makin lambat reaksi, makin kecil harga k itu.

Laju atau kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi atupun produk dalam satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan tekanan atmosfer, millimeter merkurium, atau pascal, dapat digunakan sebagai ganti konsentrasi.

2.3.Orde Reaksi

Orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen (dari konsentrasi dalam persamaan laju. Orde reaksi juga menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi reaktan (pereaksi) terhadap laju reaksi.Jika laju suatu reaksi berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari hanya satu pereaksi.

Laju = k [A]

Maka reaksi itu dikatakan sebagai reaksi orde pertama. Penguraian N2O5 merupakan suatu contoh reaksi orde pertama. Jika laju reaksi itu berbanding lurus dengan pangkat dua suatu pereaksi,

Laju = k[A]2

Atau berbanding lurus dengan pangkat satu konsentrasi dari dua pereaksi,

Laju = k [A][B]

Maka reaksi itu disebut reaksi orde kedua. Dapat juga disebut orde terhadap masingmasing pereaksi. Misalnya dalam persamaan terakhir itu adalah orde pertama dalam A dan orde dalam B, atau orde kedua secara keseluruhan. Suatu reaksi dapat berorde ketiga atau mungkin lebih tinggi lagi, tetapi hal-hal semacam itu sangat jarang. Dalam reaksi yang rumit, laju itu mungkin berorde pecahan, misalnya orde pertama dalam A dan orde 0,5 dalam B atau berorde 1,5 secara keseluruhan. Suatu reaksi dapat tak tergantung pada konsentrasi suatu pereaksi. Perhatikan reaksi umum, yang ternyata berorde pertama dalam A. Jika kenaikan konsentrasi B tidak menaikkan laju reaksi, maka reaksi itu disebut orde nol terhadap B. Ini bisa diungkapkan sebagai :

Laju = k[A][B]0 = k[A]

Orde suatu reaksi tak dapat diperoleh dari koefisien pereaksi dalam persamaan berimbangnya. Dalam penguraian N2O5 dan NO2, koefisien untuk pereaksi dalam masing-masing persamaan berimbang adalah 2 tetapi reaksi pertama bersifat orde pertama dalam N2O5 dan yang kedua berorde kedua dalam NO2. Seperti dilukiskan oleh contoh. Contoh: Perhatikan reaksi umum 2A + 2B 2AB

Menentukan Orde reaksi a.Jika tahap reaksi dapat diamati, orde adalah koefisien pada tahap reaksi yang berjalan lambat. Contoh : reaksi 4HBr + O2 2H2O + 2Br2

Berlangsung dalam tahapan sebagai berikut : 1.HBr + O2 -> HBr2O (lambat) 2.HBr + HBr2O -> 2HBrO (cepat) 3.2HBr + 2HBr) -> 2H2O + 2Br2 (cepat)

Maka orde reaksi ditentukan oleh reaksi (1). Persamaan laju reaksi, V = [HBr] [O2]. Orde reaksi total (lihat koefisien reaksi) = 1 + 1 = 2. b. Jika tahap reaksi tidak bisa diamati, orde reaksi ditentukan melalu eksperimen, kosentrasi salah satu zat tetap dan kosentrasi zat lain berubah.

Berbagai Orde Reaksi: 1. Reaksi Orde Nol

Gambar 1: Grafik yang menyatakan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap laju reaksi Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu pereaksinya apabila perubahan konsentrasi pereaksi tersebut tidak mempengaruhi laju reaksi. Artinya, asalkan terdapat dalam jumlah tertentu, perubahan konsentrasi pereaksi itu tidak mempengaruhi laju reaksi. 2. Reaksi Orde Satu

Gambar 2: Grafik yang menyatakan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap laju reaksISuatu reaksi dikatakan berorde satu terhadap salah satu pereaksinya jika laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi itu. Jika konsentrasi pereaksi itu dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 31 atau 3 kali lebih besar. 3. Reaksi Orde

DuaGambar 3: Grafik yang menyatakan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap laju reaksi

Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika laju reaksi merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila konsentrasi zat itu dilipat-tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 32 atau 9 kali lebih besar 2.4.Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

1.Sifat dasar pereaksi

Zat-zat berbeda dalam mengalami perubahan kimia. Molekul hidrogen dan flour bereaksi secara meledak, bahkan dalam temperatur kamar menghasilkan molekul hidrogen fluorida. H2(g) + F2(g) 2HF(g) (sangat cepat pada temperatur kamar) Pada kondisi serupa, molekul hidrogen dan oksigen bereaksi begitu lambat, sehingga tak nampak sesuatu perubahan kimia. 2H2(g) + O2(g) 2H2O (sangat lambat pada temperatur kamar)

2.Temperatur

Laju suatu reaksi kimia bertambah dengan naiknya temperatur. Biasanya kenaikan sebesar 100C akan melipatkan dua atau tiga laju reaksi antara molekul-molekul. Molekul harus bertumbukan dengan energi yang cukup untuk bereaksi. Makin tinggi suhu, maka energi kinetik molekul makin tinggi sehingga tumbukan makin sering, laju reaksi makin tinggi. Pada beberapa reaksi yang umum, laju reaksi makin besar (waktu reaksi makin singkat) 2 kali setiap kenaikan suhu 10oC, sehingga didapatkan rumus:

v = laju reaksi pada suhu t Vo = laju reaksi pada suhu awal ta = suhu akhir to = suhu awal DV = perubahan laju reaksi

3.Penambahan katalis Katalis adalah zat yang dapat menurunkan energi aktivasi (energi minimum yang diperlukan agar suatu reaksi kimia dapat berlangsung. Penambahan katalis akan mempercepat reaksi. Alasan mengapa katalis dapat mempermudah dan mempercepat reaksi disajikan dalam grafik antara energi potensial terhadap koordinat reaksi dari persamaan reaksi: A + B C

Gambar 4. Jika ada reaksi : A + B C ; pada keadaan awal, yang terdapat pada sistem reaksi

hanyalah pereaksi A dan B. Setelah reaksi berjalan, pereaksi A dan B makin berkurang dan hasil reaksi C makin bertambah. Laju reaksi dapat diukur dengan mengukur penambahan konsentrasi C (produk), atau pengurangan konsentrasi A/B (pereaksi) tiap satuan waktu.

4.Konsentrasi

Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi, atau sebagai laju bertambahnya konsentrasi suatu produk. Konsentrasi mempengaruhi laju reaksi, karena banyaknya partikel memungkinkan lebih banyak tumbukan, dan itu membuka peluang semakin banyak tumbukan efektif yang menghasilkan perubahan. v = laju reaksi (mol/L.det)

[A] = konsentrasi A (mol/L) [B] = konsentrasi A (mol/L) [C] = konsentrasi C (mol/L)

= waktu

(detik)

2.5.Efek Katalis

Katalis adalah suatu senyawa yang dapat menaikkan laju reaksi, tetapi tidak ikut menjadi reaktan / produk dalam sistem itu sendiri. Setelah reaksi selesai, katalis dapat diperoleh kembali tanpa mengalami perubahan kimia. Katalis berperan dengan menurunkan energi aktifasi. Sehingga untuk membuat reaksi terjadi, tidak diperlukan energi yang lebih tinggi. Dengan demikian, reaksi dapat berjalan lebih cepat. Karena katalis tidak bereaksi dengan reaktan dan juga bukan merupakan produk, maka katalis tidak ditulis pada sisi reaktan atau produk. Umumnya katalis ditulis di atas panah reaksi yang membatasi sisi reaktan dan produk. Contohnya pada reaksi pembuatan oksigen dari dekomposisi termal KClO3, yang menggunakan katalis MnO2. 2 KClO3 2 KCl + 3 O2

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari hasil praktikum percobaan 6 Kinetika Reaksi Kimia maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 1. Kinetika kimia adalah ilmu tentang kecepatan atau laju reaksi kimia 2. Kecepatan reaksi kimia ditentukan dengan mengukur kecepatan perubahan konsentrasi pereaksi atau produk 3. Tingkat reaksi Na2S2O3 tergolong dalam orde satu karena kecepatan reaksi berbanding lurus. 5.2 Saran Setiap pelaksanaan praktikum seharusnya dosen telah melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan teknisi praktikum setidaknya datang lebih awal untuk mempersiapkan praktikum agar praktikum dapat terlaksana dengan efisiensi waktu yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

http://chayoy.blogspot.com/2012/06/makalah-kinetika-kimia.html http://imc.kimia.undip.ac.id/mata-kuliah/kimia-dasar-ii/bab-4-kinetika-reaksi-kimia/