Anda di halaman 1dari 7

Awal tahun Masehi merujuk kepada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih karena

itu kalender ini dinamakan Masihiyah atau Yesus dari Nazaret. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat selama abad ke-8. Sejarawan tidak mengenal tahun 0, tahun 1 M adalah tahun pertama sistem Masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun Sebelum Masehi dihitung dengan menggunakan angka 0, maka dari itu terdapat selisih 1 tahun di antara kedua sistem. Di Indonesia selain tahun Masehi yang digunakan secara resmi, secara tidak resmi masyarakat juga mengenal tahun Hijriyah/tahun Jawa dan tahun Imlek/tahun Tionghoa. Dalam bahasa Inggris dan dipergunakan secara internasional, istilah Masehi disebut menggunakan bahasa Latin Anno Domini / AD (Tahun Tuhan kita) dan Sebelum Masehi disebut sebagai Before Christ / BC (Sebelum Kristus). Sistem ini mulai dirancang tahun 525, namun tidak begitu luas digunakan hingga abad ke-11 hingga ke-14. Pada tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi. Selain itu dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan Common Era / CE (Era Umum) dan Before Common Era / BCE (Sebelum Era Umum) ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen. Referensi : Doggett. (1992). Calendars (Ch. 12), in P. Kenneth Seidelmann (Ed.) Explanatory supplement to the astronomical almanac. Sausalito, CA: University Science Books, 579

Petra, Yordania Inilah istana yang dipahat di sebuah bukit batu. Diperkirakan manusia menghuni Petra sejak abad ke-2 Masehi. Dalam foto National Geographic ini, bangunannya disebut sebagai El-Deir. Arkeolog menyimpulkan bangunan ini dahulunya sebagai kuil pemujaan, sebelum berubah menjadi gereja atau biara. Petra dalam bahasa Yunani berarti batu. Sedangkan, orang Arab menyebutnya alBitra. Situs arkeologi itu terletak di sebuah dataran rendah yang diapit oleh gununggunung yang membentuk sayap. Sejarah Kota Petra pun tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.Hadis tersebut memang tak menjelaskan secara langsung Kota Petra. Namun, yang disebut adalah bangsa Arab kuno bernama Anbath Asy-Syam. Menurut kitab Al-Qamus al-Islami, Kota Petra yang indah dan menakjubkan merupakan peninggalan Anbath AsySyam--yakni bangsa Arab kuno yang tinggal di antara Semenanjung Sinai dan Harun.Kota itu sempat menjadi pusat perdagangan para kafilah yang melakukan perjalanan antara Mesir, Jazirah Arab, dan Syam. Pada awal kemunculan Islam, menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-Hadith al-Nabawi, ada beberapa peninggalan bangsa Anbath yang telah bercampur dengan bangsa lain."Konon, peradaban bangsa Anbath memiliki jenis tulisan (kaligrafi) yang dinamakan Khath Nabthi," ujar Dr Syauqi. Kota Petra sempat hilang dari peradaban manusia selama 500 tahun, tepatnya sejak berakhir nya Perang Salib pada abad ke-12 M.Kota yang hilang itu baru diketahui peradaban Barat pada 1812. Adalah petualang berkebangsaan Swiss bernama Johann Ludwig Burckhardt yang kembali memperkenalkan kota itu. Yang mengetahui keberadaan kota itu adalah suku Badui yang tinggal di sekitar wilayah itu.Keindahan dan kemegahan Kota Petra dilukiskan oleh BBC dalam seuntai kalimat, "Ini adalah satu dari 40 tempat yang harus Anda lihat sebelum mati." Betapa tidak, Petra merupakan kota yang unik. Kota itu dibangun dengan cara memahat dindingdinding batu.Kota Petra merupakan simbol teknik dan perlindungan. Kota tersebut didirikan dengan menggali dan mengukir cadas setinggi 40 meter. Tak heran, jika kota itu sulit untuk ditembus musuh. Petra pun dikenal sebagai kota yang aman dari bencana alam seperti badai pasir.Kota itu dikelilingi gunung-gunung. Salah satunya ada yang memiliki ketinggian sekitar 1.350 meter di atas permukaan laut.Gunung tertinggi itu disebut Gunung Harun (Jabal Harun) atau Gunung Hor atau El-Barra.Banyak yang meyakini di

puncak Jabal Harun itulah Nabi Harun meninggal dan dimakamkan oleh Nabi Musa. Rasulullah SAW pun diduga pernah mengunjungi gunung itu bersama pamannya Abu Thalib saat berdagang ke Syam (Suriah). Tradisi Arab meyakini Petra merupakan tempat Nabi Musa (Musa) memukul batu dengan tongkatnya hingga keluarlah air dari batu tersebut. Di kota itu juga terdapat nama tempat Wadi Musa untuk menyebut lembah sempit di wilayah itu.Pada abad ke14 Masehi, sebuah masjid dibangun di tempat itu dengan kubah berwarna putih yang terlihat dari berbagai area di sekitar Petra. Konon, Nabi Harun tiba di wilayah itu ketika mendampingi Nabi Musa membawa umatnya keluar dari Mesir dari kejaran Raja Firaun. Petra didirikan enam tahun sebelum Masehi. Ia merupakan ibu kota kerajaan Nabatean. Adalah Raja Aretas IV yang membangun kota unik dan ajaib itu. Suku Nabatean membangun Kota Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Peradaban itu memiliki teknologi hidrolik untuk mengangkat air.Untuk menghidupi penduduknya, di kota itu terdapat terowongan dan bilik air untuk menyalurkan air bersih ke kota. Selain itu, mereka juga sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di mana pun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna memenuhi kebutuhan mereka akan air bersih. Di akhir abad ke-4 SM, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean turut berkecimpung dalam perdagangan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia.Suku Nabatean akhirnya bisa menjadi para saudagar yang sukses dengan berdagang dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India bagian timur. Letaknya yang strategis untuk mengembangkan usaha dan hidup, serta aman untuk melindungi diri dari orang asing, membuat suku Nabatean memutuskan bermukim di kota batu itu.Untuk mempertahankan kemakmuran yang telah diraih, mereka memungut bea cukai dan pajak kepada para pedagang setempat atau dari luar yang masuk ke sana. Suku Nabatean akhirnya berhasil membuat kota internasional yang unik dan tak biasa.S eiring waktu, Kota Petra pun dihuni puluhan ribu warga hingga akhirnya berkembang menjadi kota perdagangan karena terletak di jalur distribusi barang antara Eropa dan Timur Tengah. Pada 106 Masehi, Romawi mencaplok Petra sehingga peran jalur perdagangannya melemah.Sekitar 700 M, sistem hidrolik dan beberapa bangunan utama yang menunjang kehidupan masyarakat di kota itu hancur menjadi puing. Petra pun menghilang dari peta bumi saat itu dan

hanya tinggal legenda. Hingga akhirnya ditemukan lagi pada abad ke-19 M.

Mesa Verde, Amerika Serikat Di bukit ini, sebanyak 600 lubang menyerupai sumur bangsa Indian Pueblo atau dengan sebutan Anasazi. sejak 550 sebelum Mereka membangun batu ini. Rumah dibangun bisa hingga 250 Mesa Verde,

dibuat oleh dikenal juga Mereka hidup Masehi. rumah di bukti terbesar yang menampung orang.

Amerika SerikatReruntuhan yang satu ini tidak berada di Asia yang eksotis, atau Eropa yang bergaya seni tinggi. Mesa Verde berada di Amerika Serikat, tepatnya di kawasan Taman Nasional Mesa Verde, Colorado.Mesa Verde merupakan reruntuhan kota yang berada di tebing yang dulunya menjadi tempat tinggal suku asli Amerika. Di kota ini dulunya tinggal lebih dari 20 suku yang berbeda yang telah menempatinya selama lebih dari 700 tahun.

Mesa Verde terletak di barat daya Colorado, dan terkenal karena terdapat rumah-rumah tebing dari orang Anasazi kuno. Mesa Verde merupakan temuan

arkeologi paling signifikan dari budaya asli Amerika di Amerika Serikat. Pada abad ke-12, orang-orang Anasazi mulai membangun rumah-rumah di gua-gua dangkal di bawah tebing batu yang menggantung di atasnya di sepanjang dinding ngarai. Rumah yang paling terkenal di sini disebut Cliff Palace dan Rumah Spruce Tree. Pada tahun 1300, semua orang Anasazi telah meninggalkan daerah Mesa Verde, namun reruntuhan rumah-rumah ini tetap terawetkan dengan hampir sempurna. Alasan untuk kepergian mereka yang tiba-tiba mereka tidak terjelaskan. Tetapi ada teori yang menduga bahwa hal tersebut diakibatkan karena kegagalan panen saat kekeringan melanda. Teori lain menyebut disebabkan oleh serangan suku lainnya dari Utara.

Persopolis, iran

Salah satu kota kuno terbesar dan berpengaruh dalam sejarah dunia. Persepolis adalah ibu kota dari Kerajaan Persia. Saking besarnya kerajaan Persia, mereka punya empat ibu kota. Persepolis dibangun pada 520 sebelum Masehi. Kota ini dibangun dengan arsitektur yang megah dan rumit. Dihiasi perak dan emas. Pahatan-pahatan kualitas tinggi ada di tiap tinggalan. Persepolis dan Persia jatuh ditaklukkan Alexander Agung. Ia membakar kota ini hingga rata dengan tanah. Sekarang sisa-sisanya masih bisa dinikmati di Iran. Iran memang bukan pilihan yang populer sebagai tempat wisata, tetapi bukan berarti tidak menyimpan keagungan tradisinya. Terdapat banyak bahasa yang digunakan oleh

75 juta penduduk di sana. Persepolis adalah salah satu situs kota tua yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu di Iran.Ketika Kerajaan Persia Kuno (Achaemenid) di puncak kejayaan, tempat itu menjadi kota yang hiruk-pikuk. Bahkan, saking besarnya kerajaan tersebut, mereka punya empat ibu kota, Persepolis termasuk diantaranya.Kota yang dinobatkan sebagai salah satu World Heritage Site oleh UNESCO pada 1979 ini didirikan oleh Raja Darius I pada tahun 518 Sebelum Masehi. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut "Parsa", yang berarti "Kota Bangsa Persia". Persepolis sendiri berasal dari terjemahan bahasa Yunani dari nama kota ini, Perses polis atau "Kota Persia". Dalam bahasa Persia modern, tempat ini dikenal sebagai Takht-e Jamshid (Tahta Jamshid) dan Parseh. Kota ini dibangun dengan arsitektur yang megah dan rumit karena terinspirasi oleh model Mesopotamia. Kota kuno yang terletak di 70 kilometer timur laut Shiraz dihiasi perak dan emas. Pahatan-pahatan kualitas tinggi ada di tiap peninggalan. Persepolis dan Persia jatuh ditaklukkan Alexander Agung. Ia membakar kota ini hingga rata dengan tanah. Sekarang sisasisanya masih bisa dinikmati di Iran.Reruntuhan beberapa bangunan kolosal terdapat di teras. Semuanya terbuat dari marmer abu-abu gelap. Lima belas pilar diantaranya masih utuh. Tiga pilar telah didirikan kembali sejak 1970. Beberapa bangunan lain tidak terselesaikan. Peninggalan Kekaisaran Persia yang masih terlihat jelas dari patungpatung, reruntuhan bangunan, serta karya seni dari emas dan perak membuat Persepolis menjadi tempat wisata yang pantang dilewatkan. Persepolis hanyalah salah satu tempat di Iran yang patut dikunjungi. Masih banyak tempat lain yang pantas untuk diamati mendalam. Tidak sebatas pada tempat, banyak makanan dan barang khas Iran yang sayang untuk dilewatkan. Ciptakan Simbol Keagungan Andre Godard, seorang arkeolog Perancis pada awal 1930-an menyatakan bahwa lokasi kota ini dicetuskan oleh Cyrus Agung, tapi pembangunannya dilaksanakan oleh Darius.Darius memerintahkan pembangunan Balai Apadana dan Balai Konsul (Tripylon atau Balai Tiga Gerbang) yang menjadi bangunan Perbendaharaan Kemaharajaan, serta beberapa bangunan di sekelilingnya. Pembangunan ini dirampungkan pada masa pemerintahan putranya, Raja Xerxes Agung. Pembangunan lebih lanjut pada bangunan dan teras terus dilanjutkan hingga masa keruntuhan Kekaisaran Akhemeniyah. Sejumlah arkeolog dari Amerika Serikat pun tak ingin ketinggalan, menurut mereka pembangunan Persepolis bertujuan untuk menciptakan suatu simbol keagungan dari kejayaan kerajaan Persia kuno saat itu, serta sebagai tempat menggelar upacara dan perayaan khusus.Sebagai alasan historis, Persepolis dibangun di tanah air dinasti Akhaemenid, meskipun pada saat itu tidak terletak tepat di tengah jantung kemaharajaan. Bangunan di komplek ibukota ini dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan militer, kawasan perbendaharaan dan kawasan raja. Sedangkan struktur utama, antara lain Tangga Agung, Gerbang Semua Bangsa atau Gerbang Xerxes, Istana Apadana Darius, Balai Seratus Tiang, Balai Tripylon Hall, dan Istana Tachara milik Darius, Istana Hadish milik Xerxes, Istana

Artaxerxes III, Bendahara kerajaan, Istal kuda kerajaan, serta rumah Kereta Perang. Reruntuhan di sekitar kota ini dikenal sebagai Chehel minar atau 40 menara. Para arkeolog masih berdebat apakah reruntuhan ini dihancurkan oleh Alexander III atau Alexander Agung dari kerajaan Makedonia. B ukti Peradaban Tingkat TinggiSalah satu reruntuhan utama adalah Gerbang Semua Bangsa. Gerbang ini dimaksudkan untuk seluruh kerajaan taklukan kemaharajaan Persia saat itu. Terdiri atas balai agung berukuran panjang 25 meter, dengan empat tiang besar di pintu masuknya di dinding Barat. Terdapat dua pintu lain, satu menghadap ke selatan membuka ke arah lapangan pelataran Apadana, yang satunya lagi membuka ke arah jalan panjang ke timur.Lubang engsel ditemukan di sudut dalam setiap pintu menunjukkan bahwa pintu besar ini terdiri atas dua daun pintu, mungkin terbuat dari kayu, dan dilapisi lembaran logam berukir. Sepasang banteng Lamassu berkepala pria berjenggot, berdiri di sisi barat.Sepasang lainnya memiliki sayap berkepala khas Persia (Gopat-Shah) yang berdiri di gerbang timur, kesemuanya melambangkan kekuasaan Kerajaan Achaemenid. Nama Xerxes tertulis dalam tiga bahasa terukir di pintu masuk, menunjukkan bahwa dialah yang memerintahkan pembangunan gerbang ini. Di belakang Takht-e Jamshid terdapat tiga makam yang diukir dari batu karang di sisi bukit. Berjarak sekitar 13 kilometer mengarah ke timur laut, di sisi lain Pulwar, berdiri tembok batu, di mana empat makam serupa yang diukir cukup tinggi dari dasar tembok.Situs ini kini disebut Nakshi Rostam (Lukisan Rostam) yang dianggap sebagai gambaran pahlawan mistis Rostam. Dapat ditafsirkan bahwa patung-patung yang menghuni tujuh makam ini adalah perwujudan para raja. Pembangunan tebing sangat menakjubkan, sungguh mengherankan di zaman yang begitu kuno peradabannya manusia sudah bisa membuat arsitektur bangunan seindah itu. Ukiran-ukiran di dinding ini dibuat dengan sedemikian detail dan sempurna.Di dalam pintu masuk akan ditemukan sebuah camber kecil di mana raja akan berada di sarkofagus, tapi sekarang sudah kosong. Tebing-tebing ini juga dikenal sebagai milik Kekaisaran Persia zaman penguasa mulai dari Xerxes, Darius dan Cyrus. Di luar juga memiliki relief ukiran berbentuk orang dan kuda, dan prasasti tertua Iran yang pernah tercatat juga dapat ditemukan di sana. Ini merupakan daya tarik wisata dan cara yang baik untuk mengenal sejarah dan budaya Persia tua dan segala halnya yang terdapat di tempat ini dapat mengingatkan kita pada Kekaisaran Persia. n ger/R-2 http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/98812