Anda di halaman 1dari 31

SISTITIS

A. Definisi Sistitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra (Brunner & Suddarth, 2002). Sistitis adalah infeksi kandung kemih (Lyndon Saputra, 2009). Sistitis (cystitis) adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh bakteri. Sistitis merupakan inflamasi kandung kemih yang disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra (Nursalam & Fransisca, 2009) B. Etiologi Penyebab dari sistitis antara lain: (Lyndon Saputra, 2009).

Pada wanita, kebanyakan infeksi kandung kemih diakibatkan oleh infeksi ascenden yang berasal dari uretra dan seringkali berkaitan dengan aktivitas seksual Pada pria, dapat diakibatkan infeksi ascenden dari uretra atau prostat tetapi agaknya lebih sering bersifat sekunder terhadap kelainan anatomik dari traktus urinarius. Mungkin berkaitan dengan kelainan kongenital traktus genitourinarius, seperti bladder neck obstruction, stasis urine, refluks ureter, dan neurogenic bladder. Lebih sering terjadi pada penderita diabetes Dapat meningkat pada wanita yang menggunakan kontrasepsi atau diafragma yang tidak terpasang dengan tepat. Kateterisasi urine mungkin menyebabkan infeksi

C. Patofisiologi Sistitis merupakan asending infection dari saluran perkemihan. Pada wanita biasanya berupa sistitis akut karena jarak uretra ke vagina pendek (anatomi), kelainan periuretral, rektum (kontaminasi) feses, efek mekanik coitus, serta infeksi kambuhan organisme gram negatif dari saluran vagina, defek terhadap mukosa uretra, vagina, dan genital eksterna memungkinkan organisme masuk ke vesika perkemihan. Infeksi terjadi mendadak akibat flora (E. coli) pada tubuh pasien. Pada laki-laki abnormal, sumbatan menyebabkan striktur uretra dan hiperplasi prostatik (penyebab yang palin sering terjadi). Infeksi saluran kemih atas penyebab penyakit infeksi kandung kemih kambuhan (Nursalam & Fransisca, 2009). D. Manifestasi klinis Pasien sistitis mengalami urgency, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat berkemih, nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih, dan suprapubis. Piuria (adanya sel darah putih dalam urin), bakteri, dan sel darah merah (hematuria) ditemukan pada pemeriksaan urine. Kit kultur memberikan informasi kualitatif yang umum mengenai jumlah koloni bakteri dan mengidentifikasi apakah organisme gram negatif atau positif (Brunner & Suddarth, 2002).

Gejala dan Tanda: (Lyndon Saputra, 2002)

Disuria (nyeri saat berkemih), polakisuria (kencing sedikit-sedikit dan sering/anyang-anyangen), nokturia (kencing pada malam hari), rasa tidak enak di daerah suprapubis, nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis. Gejala sistemik berupa pireksia, kadang-kadang menggigil; sering lebih nyata pada anak-anak, kadang-kadang tanpa gejala atau tanda-tanda infeksi lokal dari traktus urinarius. Urin keruh dan mungkin berbau tidak enak dengan leukosit, eritrosit, dan organisme. E. Penatalaksanaan 1. Uncomplicated sistitis: wanita diterapi antimikroba dosis tunggal atau jangka pendek (1-3 hari sesuai hasil kultur). Obat pilihan yang sensitif terhadap E. Coli: nitrofurantoin, trimetropim-sulfametosaksol, atau ampisilin. Laki-laki diterapi selama 7-10 hari dengan antibiotik. Lakukan kultur untuk meningkatkan efektivitas terapi. Awasi efek samping: mual, diare, kemerahan dan kandidiasis vagina. 2. Antikolinergik (propanthelin bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas kandung kemih dan fenazopiridin hidroklorid sebagai antiseptik pada saluran kemih.

F. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan urine midstream, pemeriksaan sedimen urine untuk leukosit Pewarnaan gram dan biakan dari unspun midsteram urin yang ditampung dalam wadah yang bersih. Pungsi suprapubik untuk biakan urine mungkin perlu pada anak-anak dan penderita lain yang tidak dapat diusahakan untuk memperoleh spesimen yang bersih.

G. Prognosis Sangat baik Dapat kambuh kembali Infeksi pertama pada pria rekuren dan sering pada wanita memerlukan pemeriksaan urologi khusus. H. Komplikasi 1. 2. Pyelonefritis Infeksi darah melalui penyebaran hematogen (sepsis)

Pengertian Uretro Sistitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh penyebaran infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih ( refluks urtrovesikal ), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop.(Suzane, C. Smelzer. Keperawatan medikal bedah vol. 2. hal.1432) Uretro Sistitis adalah inflamasi kandung kemih yang menyerang pada pasien wanita, dimana terjadi infeksi oleh Escherichia Coli.(Lewis.Medical

Surgikal Nersing. Hal 1262)Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanitawanita dewasa tanpa mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat sesuai pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi saluran perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan hubungan seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan tidak mempunyai substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan seminal. Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma karena kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah pengosongan sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi sekunder akibat bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau batu pada kandung kemih. 2. Klasifikasi Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu; 1. Cystitis primer,merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat terjadi karena penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi prostat dan striktura uretra. 2. Cystitis sekunder, merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari penyakit primer misalnya uretritis dan prostatitis. 3. Etiologi Pada umumnya disebabkan oleh basil gram negatif Escheriachia Coli yang dapat menyebabkan kira-kira 90% infeksi akut pada penderita tanpa kelainanurologis atau kalkuli. Batang gram negatif lainnya termasuk proteus, klebsiella, enterobakter, serratea, dan pseudomonas bertanggung jawab atas sebagian kecil infeksitanpa komplikasi. Organisme-organisme ini dapat dapat menjadi bertambah penting pada infeksiinfeksi rekuren dan infeksi-infeksi yang berhubungan langsung dengan manipulsi urologis, kalkuli atau obstruksi. Pada wanita biasanya karena bakteri-bakteri daerah vagina kearah uretra atau dari meatus terus naik kekandumg kemih dan mungkin pula karena renal infeksi tetapi yang tersering disebabkan karena infeksi E.coli.

Pada pria biasanya sebagai akibat dari infeksi diginjal, prostat, atau oleh karena adanya urine sisa(misalnya karena hipertropi prostat, striktura uretra, neurogenik bladder) atau karena infeksi dari usus.Jalur infeksi Tersering dari uretra, uretra wanita lebih pendek membuat penyalkit ini lebih sering ditemukan pada wanita Infeksi ginjalyan sering meradang, melalui urine dapat masuk kekandung kemih. Penyebaran infeksi secara lokal dari organ laindapat mengenai kandung kemih misalnya appendiksiti Pada laki-laki prostat merupakan sumber infeksi. 4. Patofisiologi Cystitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara umum disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu Escheriachia Coli peradangan timbul dengan penjalaran secara hematogen ataupun akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik akut maupun kronik dapat bilateral maupun unilateral.Kemudian bakteri tersebut berekolonisasi pada suatu tempat misalkan pada vagina atau genetalia eksterna menyebabkan organisme melekat dan berkolonisasi disuatu tempat di periutenial dan masuk ke kandung kemih. 5. Manifestasi Klinis Uretro Sistitis biasanya memperlihatkan gejala : Disuria (nyeri waktu berkemih) karena epitelium yang meradang tertekanv Peningkatan frekuensi berkemihv Perasaan ingin berkemihv Piuria(Adanya sel-sel darah putih dalam urin)v Nyeri punggung bawah atau suprapubicv Demam yang disertai hematuria (danya darah dalam urine) pada kasus yang parah. 6. Pemeriksaan diagnostik a. Urinalisis1) Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih2) Hematuria 5 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih. b. Bakteriologis Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi, 102 103 organisme koliform/mL urin plus piuria 2 ) Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik. c. Pemeriksaan USG abdomend. Pemeriksaan photo BNO dan BNO IVP

7. Pengobatano Pemberian terapi single : trimekstropin-sulfametroxazole (bactrhim,septa)oPemberian terapi 1-3 hari : Nitrofurantoin (Macrodantin, Furadantin), Chephalaxin (keflek), Ciprofloksasim (cibrloksin, noroksin), Ofdlksasin (floksin)o Pemberian anlgesik untuk mengurangi nyeri. 8. Kompslikasi : 1) Pembentukan Abses ginjal atau perirenal 2) Gagal ginjal3) Sepsis B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan1. Pengkajian Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu : Data biologis meliputi : 1) Identitas klien 2) Identitas penanggung Riwayat kesehatan : 1) Riwayat infeksi saluran kemih 2) Riwayat pernah menderita batu ginjal 3) Riwayat penyakit DM, jantung. Pengkajian fisik : 1) Palpasi kandung kemih 2) Inspeksi daerah meatus a) Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine b) Pengkajian pada costovertebralis

Riwayat psikososial : - Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan -Persepsi terhadap kondisi penyakit - Mekanisme kopin dan system pendukung - Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga 1) Pemahaman tentang penyebab/perjalanan penyakit 2) Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi medis 2. Diagnosa Keperawatan 1) Infeksi yang berhubungan dengan adanya bakteri pada kandung kemih 2) Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau nokturia) yang berhubungan dengan Inflamasi pada kandung kemih 3) Nyeri akut yang berhubungan dengan proses penyakit 4) Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. 3. Perencanaana. Infeksi yang b.d adanya bakteri pada kandung kemih, Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien memperlihatkan tidak adanya tanda-tanda infeksi. Kriteria Hasil : 1) Tanda vital dalam batas normal 2) Nilai kultur urine negative 3) Urine berwarna bening dan tidak bau Intervensi :

1) Kaji suhu tubuh pasien setiap 4 jam dan lapor jika suhu diatas 38,50 CR/:Tanda vital menandakan adanya perubahan di dalam tubuh 2) Catat karakteristik urineR/ :Untuk mengetahui/mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangandari hasil yang diharapkan. 3) Anjurkan pasien untuk minum 2 3 liter jika tidak ada kontra indikasiR/ :Untuk mencegah stasis urine 4) Monitor pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi.R/ :Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita. 5) Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih. R/ :Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih 6) Berikan perawatan perineal, pertahankan agar tetap bersih dan kering. Rasional :Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra b. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan frekuensi dan atau nokturia) yang berhubungan dengan Inflamasi pada kandung kemih Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat. Kriteria : 1) Klien dapat berkemih setiap 3 jam 2) Klien tidak kesulitan pada saat berkemih 3) Klien dapat bak dengan berkemih Intervensi : 1) Ukur dan catat urine setiap kali berkemih R/ :Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/out put 2) Anjurkan untuk berkemih setiap 2 3 jam R/ :Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria. 3) Palpasi kandung kemih tiap 4 jam R/ :Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih. 4) Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal R/ :Untuk memudahkan klien di dalam berkemih. 5) Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman R/ :Supaya klien tidak sukar untuk berkemih.

c. Nyeri akut yang berhubungan dengan proses penyakitTujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang Kriteria Hasil : 1) Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih. 2) Kandung kemih tidak tegang3) Pasien nampak tenang4) Ekspresi wajah tenang Intervensi : 1) Kaji intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri. R/ :Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2) Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran. R/ :Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot 3) Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi R/ :Untuk membantu klien dalam berkemih 4) Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi. R/ :Analgetik memblok lintasan nyeri d. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan di rumah. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak memperlihatkan tanda- tanda gelisah. Kriteria hasil : 1) Klien tidak gelisah 2) Klien tenang Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan R/ :Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 2) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya R/ :Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 3) Beri support pada klien R/ :Meningkatkan respon fisiologis pada klien 4) Beri dorongan spiritual R/ :Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan YME.Beri support pada klien 5) Beri penjelasan tentang penyakitnya R/ : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya.

DAFTAR PUSTAKA Arif Mansjoer dkk .2000. Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1.Jakarta: EGC Bruner & Sudarth.2002.Keperwatan Medikal Bedah vol 2 edisi 8. Jakarta : EGCDoenges, Marilynn E, dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.Lewis, dkk.2004. Medical Surgical Nursing vol.2. New York : Mosby oleh Risky dan Liana

SISTITIS AKUT
Definisi Sistitis adalah infeksi pada kandung kemih. Infeksi kandung kemih umumnya terjadi pada wanita, terutama pada masa reproduktif. Beberapa wanita menderita infeksi kandung kemih secara berulang. Penyebab E.coli (organisme paling sering, pada 80 90% kasus); Juga Klebsiella, Pseudomonas, grup B Streptococcus dan Proteus mirabilis Gambaran Klinik Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk buang air kecil dan rasa terbakar atau nyeri selama buang air kecil. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering buang air kecil di malam hari). Urin tampak berawan dan mengandung darah. Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan urin (urinalisis untuk alasan lain.) Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia uri sebagai akibatnya. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Diambil contoh urin aliran tengah (midstream), agar urin tidak tercemar oleh bakteri dari vagina atau ujung penis. Urin kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat adanya sel darah merah atau sel darah putih atau zat lainnya. Dilakukan penghitungan bakteri dan dibuat biakan untuk menentukan jenis bakterinya. Jika terjadi infeksi, maka biasanya satu jenis bakteri ditemukan dalam jumlah yang banyak. Pada pria, urin aliran tengah biasanya cukup untuk menegakkan diagnosis. Pada wanita, contoh urin ini kadang dicemari oleh bakteri dari vagina, sehingga perlu diambil contoh urin langsung dari kandung kemih dengan menggunakan kateter. Pemeriksaan lainnya yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis sistitis adalah: Rontgen, untuk menggambarkan ginjal, ureter dan kandung kemih

Sistouretrografi, untuk mengetahui adanya arus balik urin dari kandung kemih dan penyempitan uretra Uretrogram retrograd, untuk mengetahui adanya penyempitan, divertikula Sistoskopi, untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan serat optik. Penatalaksanaan Pengobatan:

Pada usia lanjut, infeksi tanpa gejala biasanya tidak memerlukan pengobatan. Untuk sistitis ringan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah minum banyak cairan. Aksi pembilasan ini akan membuang banyak bakteri dari tubuh, bakteri yang tersisa akan dilenyapkan oleh pertahanan alami tubuh.

Pemberian antibiotik peroral seperti kotrimoksazol atau siprofloksasin selama 5 hari biasanya efektif, selama belum timbul komplikasi. Jika infeksinya kebal, biasanya antibiotik diberikan selama 7 10 hari. Untuk meringankan kejang otot bisa diberikan atropin. Gejalanya seringkali bisa dikurangi dengan membuat suasana urin menjadi basa, yaitu dengan meminum baking soda yang dilarutkan dalam air. Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.

SISTITIS AKUT
1. Definisi Sistitis adalah infeksi pada kandung kemih. Sistitis akut merupakan inflamasi akut pada mukosa buli-buli (vesica urinaria) yang kebanyakan disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi kandung kemih umumnya terjadi pada wanita, terutama pada masa reproduktif. Beberapa wanita menderita infeksi kandung kemih secara berulang. Sistitis bakteri berulang sering ditemukan pada wanita diabetes, kehamilan atau anomaly congenital yang menyebabkan infeksi sekunder. Pada pria sistitis biasanya sekunder terhadap infeksi prostat ataupun ginjal atau sekunder terhadap retensi urin sisa.

2. Epidemologi Wanita lebih sering mngalami sistitis daripada pria dikarenakan uretra wanita lebih pendek dibandingkan dengan uretra pria. Selain itu juga getah pada cairan prostat pria mempunyai sifat bakterisidal sehingga relative tahan terhadap infeksi saluran kemih. 3. Etiologi E.coli (organisme paling sering, pada 8090% kasus), juga Klebsiella, Pseudomonas, grup B Streptococcus dan Proteus mirabilis. Jalur utama infeksi yang terjadi pada sistitis adalah ascending melalui periurethral/vaginal dan flora pada tinja. Mikroorganisme penyebab utama adalah E.coli, Enterococci, Proteus, dan Stafilokokus

aureus yang masuk ke dalam buli-buli melalui uretra. Selain akibat infeksi, inflamasi pada buli-buli juga disebabkan oleh bahan kimia seperti deodorant, detergent, atau obat-obatan yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli (siklofosfamid). 4. Patogenesis Bakteri dari vagina bisa berpindah dari uretra ke kandung kemih. Wanita sering menderita infeksi kandung kemih setelah melakukan hubungan seksual, kemungkinan karena uretra mengalami cedera pada saat melakukan hubungan seksual. Kadang infeksi kandung kemih berulang pada wanita terjadi karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih dan vagina (fistula vesikovaginal). Infeksi kandung kemih jarang terjadi pada pria dan biasanya berawal sebagai infeksi uretra yang bergerak menuju prostat lalu ke kandung kemih. Selain itu, infeksi kandung kemih bisa terjadi akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama pembedahan. Penyebab tersering dari infeksi kandung kemih berulang pada pria adalah infeksi prostat karena bakteri yang bersifat menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan bakteri dari air kemih di dalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat menembus prostat dengan baik sehingga tidak dapat meredakan infeksi di dalam prostat. Karena itu, jika pemakaian antibiotik dihentikan, maka bakteri yang berada di dalam prostat akan cenderung kembali menginfeksi kandung kemih. Hubungan abnormal antara kandung kemih dan usus (fistula vesikoenterik) kadang menyebabkan bakteri pembentuk gas masuk dan tumbuh di dalam kandung kemih. Infeksi ini bisa menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung udara di dalam air kemih (pneumaturia).

5. Manifestasi Klinis Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia(sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah. Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain.) Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia uri sebagai akibatnya.

6. Pemeriksaan

A. Anamnesis Terdapat gejala frekuensi, karena buli-buli mengalami hipersensitif akibat reaksi inflamasi. Rasa nyeri/ sakit pada daerah suprapubik akibat kontraksi buli-buli. Terdapat riwayat hematuria akibat eritema pada mukosa buli-buli mudah berdarah. Riwayat kebersihan alat kelamin yang tidak bersih. Riwayat kencing yang berbau. Jarang/ tidak ada terdapat gejala seperti pada infeksi saluran kemih bagian atas seperti demam, mual, muntah, badan lemas, dan kondisi umum yang menurun. B. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan tentang keadaan umum pasien dan pemeriksaan urologi. Hal ini dilakukan karena sering kelainan-kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi penyakit sistemik, atau kebalikannya. Tetapi khusus pada kasus ini kita menitik beratkan pemeriksaan System saluran kemih bagian bawah khususnya buli-buli, dikarenakan didukung oleh manifestasi klinis yang ada. Pada pemeriksaan buli akan didapatkan : Adanya edema pada buli-buli Nyeri di daerah suprapubik Nyeri juga sering dirasakan di punggung sebelah bawah C. Pemeriksaan Penunjang Urinalisis

Makroskopik: urine berwarna keruh dan berbau Mikroskopik: piuria, hematuria, dan bakteriuria Kultur Urine, dilakukan untuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi Sistografi, dilakukan jika sistitis sering mengalami kekambuhan, sehingga perlu difikirkan adanya kelainan lain pada buli-buli seperti keganasan dan urolitiasis. Rontgen, untuk menggambarkan ginjal, ureter dan kandung kemih Sistouretrografi, untuk mengetahui adanya arus balik air kemih dari kandung kemih dan penyempitan uretra Uretrogram retrograd, untuk mengetahui adanya penyempitan, divertikula atau fistula.

Sistoskopi, untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan serat optik.

7. Managemen dan Prognosis A. Managemen Manajemen untuk sistitis akut adalah pemberian antibiotic oral jangka pendek. TMPSMX, nitrofurantoin, dan fluoroquinolones memiliki keefektifan yang sangat baik terhadap kebanyakan patogen yang menyebabkan cystitis. TMP-SMX dan nitrofurantoin memiliki harga yang murah sehingga dianjurkan untuk pengobatan sistitis uncomplicated. Pada orang dewasa dan anak-anak, durasi pemberian obat biasanya diberikan untuk 3-5 hari. Terapi jangka panjang pada sistitis tidak dianjurkan dan terapi dosis tunggal untuk perawatan Sistitis/ISK berulang tampaknya kurang efektif untuk dilakukan. Tetapi, fluoroquinolones dengan long half-lives (fleroxacin, pefloxacin, dan rufloxacin) mungkin cocok untuk terapi dosis tunggal. Angka resistensi bakteri penyebab sistitis terhadap penisilin dan aminopenicillins sangat tinggi sehingga tidak direkomendasikan untuk pengobatan pengobatan. Selain antibiotic, kadang-kadang juga diperlukan obat-obatan golongan antikolinergik (propantheline bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida sebagi antiseptic pada saluran kemih. Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. B. Prognosis Prognosis pada kasus sistitis akut tergantung penanganan yang diberikan. Apabila penanganan yang diberikan cepat dan tepat maka akan mendapatkan prognosis yang baik, namun bila penanganannya salah dan buruk maka prognosisnya akan kurang baik.

8. Komplikasi Pada umumnya sistitis yang merupakan tipe ISK uncomplicated yaitu non-obstruksi dan bukan terjadi pada wanita hamil merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka panjang. Akan tetapi apabila sistitis terjadi pada wanita hamil, akan menyebabkan berbagai komplikasi khususnya akan terjadi pada bayi yang dilahirkan seperti: Pielonefritis Bayi premature

Anemia Pregnany-induced hypertension Retardasi mental Pertumbuhan lambat Cerebral palsy Fetal death
Prostatitis adalah suatu reaksi inflamasi pada prostat, disebabkan oleh bakteri atau non bakteri. Untuk menentukan adanya prostatitis dapat digunakan uji 4 tabung (Meares, 1976). Sampel untuk uji ini diambil dari urine dan getah kelenjar prostat, Uji 4 tabung terdiri atas :

1.

10 cc pertama adalah contoh urine yang dikemihkan pertama kali, tujuannya adalah untuk menilai keadaan mukosa uretra 2. urine porsi tengah tujuannya menilai keadaan mukosa kandung kemih 3. getah prostate dikeluarkan melalui masase prostat/expressed prostatic secretion tujuannya menilai keadaan kelenjar prostate 4. urine yang dikemihkan setelah masase prostate Keempat contoh itu kemudian dianalisis secara mikroskopik dan dilakukan kultur untuk mencari kuman penyebab infeksi. Klasifikasi National Institute of Health membagi prostatitis dalam 4 klasifikasi : 1. Kategori I yaitu prostatitis bakterial akut 2. Kategori II yaitu prostatitis bakterial kronis 3. Kategori III prostatitis non bakterial kronis atau sindrom pelvik kronis. Pada kategori ini terdapat keluhan nyeri dan perasaan tidak nyaman di daerah pelvis yang telah berlangsung paling sedikit 3 bulan. Kategori ini dibedakan dalam 2 subkategori, yaitu subkategori IIIA yaitu sindrom pelvik kronis dengan inflamasi, dan kategori IIIB adalah sindrom pelvik non inflamasi 4. Kategori IV yaitu prostitis inflamasi asimtomatik Prostatitis bakterial akut (kategori I) Bakteri masuk ke dalam kelenjar prostat diduga melalui beberapa cara, antara lain: (1) ascending dari uretra, (2) refluks urine yang terinfeksi ke dalam duktus prostatikus, (3) langsung atau secara limfogen dari organ yang berada disekitarnya (rektum) yang mengalami infeksi, dan (4) penyebaran secara hematogen. Gambaran Klinis Pasien yang menderita prostatitis bakterial akut tampak sakit, demam, mengigil, rasa sakit di daerah perineal, dan mengeluh adanya gangguan miksi. Pada pemeriksaan fisis dengan colok dubur, prostat teraba membengkak, hangat, dan nyeri. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan melakukan masase prostat untuk mengeluarkan getah prostat karena menimbulkan nyeri dan memacu terjadinya bakteremia. Jika tidak ditangani dengan baik keadaan ini dapat menjadi abses prostat atau menimbulkan urosepsis. Kuman penyebab infeksi yang paling sering adalah E. Coli, Proteus, Klebsiella, Pseudomonas spp, Enterobacter, dan Serratia spp.

Terapi Dipilih antibiotik yang sensitif terhadap kuman penyebab infeksi dan pasien perlu dirawat di rumah sakit untuk pemberian obat secara parenteral. Antibiotik yang dipilih adalah dari golongan fluoroquinolon, cotrimoksasol, dan golongan aminoglikosida. Untuk parenteral dapat diberikan ceftriakson atau cefixime. Setelah keadaan membaik dapat diberikan antibiotik oral selama 30 hari. Jika keadaan miksi terganggu, maka dapat dilakukan pemasangan kateter suprapubik karena dalam keadaan ini pemasangan kateter transuretra menjadi sulit dan menambah nyeri. Prostatitis bakterial kronis (kategori II) Prostatitis bakterial kronis terjadi karena adanya infeksi saluran kemih yang sering kambuh. Gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah disuri, urgensi, frekuensi, nyeri perineal, dan kadang - kadang nyeri pada saat ejakulasi atau hematospermi. Pada pemeriksaan colok dubur mungkin teraba krepitasi yang merupakan tanda dari suatu kalkulosa prostat. Uji 4 tabung tampak pada EPS didapatkan kuman yang lebih banyak daripada VB1 dan VB2, di samping itu pada pemeriksaan mikroskopik pada EPS tampak oval fat bodies Terapi Pada prostatitis bakterial akut, hampir semua antibiotik dapat menembus barier plasma epitelium dan masuk ke dalam sel - sel kelenjar prostat, tetapi pada infeksi kronis tidak banyak jenis antibiotik yang dapat menembus barier itu. Antibiotik yang dapat menembus barier adalah doksisiklin, minoksilin, karbeniksilin, cotrimoksasol, dan fluoroquinolon. Pengobatan diberikan dalam jangka lama sampai pada hasil kultur didapatkan kuman negatif. Prostatitis Non Bakterial Inflamasi kelenjar prostat yang belum diketahui penyebabnya. Sesuai dengan klasifikasi dari NIH, kategori III dibagi menjadi 2 subkategori, yaitu subkategori IIIA dan IIIB. Pada kategori IIIA tidak tampak kelainan pada pemeriksaan fisik dan pada uji 4 tabung tidak didapatkan pertumbuhan kuman, hanya saja pada EPS terlihat banyak leukosit dan bentukan oval fat body. Beberapa penulis menduga inflamasi ini disebabkan oleh infeksi dari Ureaplasma urealitikum atau Chlamidia trachomatis sehingga mereka memberikan antibiotik yang sensitif terhadap kuman itu, antara lain minosiklin, doksisiklin, atau eritromisin selama 2 - 4 minggu. Pada subkategori IIIB yang dulu dikenal dengan nama prostatodinia terdapat nyeri pada pelvis yang tidak berhubungan dengan keluhan miksi dan sering terjadi pada usia 20-45 tahun. Pada uji 4 tabung tidak didapatkan adanya bakteri penyebab infeksi maupun sel - sel penanda proses inflamasi. Diduga kelainan ini ada hubungannya dengan faktor stress. Pemberian obat - obat simtomatik berupa obat penghambat adrenergik alfa dapat mengurangi keluhan miksi. Prostatitis Inflamasi Asimtomatik Secara klinis pasien tidak menunjukkan adanya keluhan maupun tanda dari suatu prostatitis. Adanya proses inflamasi pada prostat diketahui dari spesimen yang kemungkinan didapat dari cairan semen pada saat analisis semen dan jaringan prostat yang didapatkan pada biopsi maupun pada saat operasi prostat. Sebagian besar prostatitis yang tanpa menunjukkan gejala seperti pada kategori ini tidak memerlukan terapi, tetapi didapatkannya sel - sel inflamasi pada analisis semen seorang pria yang mandul perlu mendapatkan terapi antibiotika. Ref : Basic of Urology

DEFINISI Epididimitis adalah peradangan pada epididimis. Epididimis adalah sebuah struktur yang terletak di atas dan di sekeliling testis (buah zakar). Fungsinya adalah sebagai pengangkut, tempat penyimpanan dan

tempat pematangan sel sperma yang berasal dari testis. Epididimis akut bisanya lebih berat daripada epididimis kronis. Epididimis kronis berlangsung selama lebih dari 6 minggu.

PENYEBAB Epididimitis biasanya disebabkan oleh bakteri yang berhubungan dengan: Infeksi saluran kemih Penyakit menular seksual (misalnya klamidia dan gonore) Prostatitis (infeksi prostat). Epididimitis juga bisa merupakan komplikasi dari: Pemasangan kateter Prostatektomi (pengangkatan prostat). Resiko yang lebih besar ditemukan pada pria yang berganti-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom.

GEJALA Gejalanya berupa nyeri dan pembengkakan skrotum (kantung zakar), yang sifatnya bisa ringan atau berat. Peradangan yang sangat hebat bisa menyebabkan penderita tidak dapat berjalan karena sangat nyeri. Infeksi juga bisa menjadi sangat berat dan menyebar ke testis yang berdekatan. Infeksi hebat bisa menyebabkan demam dan kadang pembentukan abses(pernanahan). Gejala lainnya yang mungkin ditemukan adalah: Benjolan di testis Pembengkakan testis pada sisi epididimis yang terkena Pembengkakan selangkangan pada sisi yang terkena Nyeri testis ketika buang air besar Demam Keluar nanah dari uretra (lubang di ujung penis) Nyeri ketika berkemih Nyeri ketika berhubungan seksual atau ejakulasi Darah di dalam semen Nyeri selangkangan. DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Testis pada sisi yang terkena kadang membengkak. Nyeri tekan biasanya terbatas pada daerah tertentu (tempat melekatnya epididimis). Bisa ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening di selangkangan. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: Analisa dan pembiakan air kemih Tes penyaringan untuk klamidia dan gonore Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan kimia darah. PENGOBATAN Untuk mengatasi infeksi, diberikan antibiotik. Selain itu juga diberikan obat pereda nyeri dan anti peradangan. Penderita sebaiknya menjalani tirah baring dengan skrotum diangkat dan dikormpres dingin.

PENCEGAHAN Pada saat menjalani pembedahan, seringkali diberikan antibiotik profilaktik (sebagai tindakan pencegahan) kepada orang-orang yang memiliki resiko menderita epididimitis. Epididimitis akibat penyakit menular seksual bisa dicegah dengan cara tidak melakukan hubungan seksual di luar nikah.

PROSTATITIS Definisi Prostatitis menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel-sel radang (paling sering limfosit) pada stroma prostat didekat asinus kelenjar prostat (Nickel et al 1999). Darch 1971 mengelompokkan prostatitis menjadi 4 (berdasarkan pemeriksaan 4 porsi urin berdasarkan Meares dan Stamey): Prostatitis bakteri Akut Prostatitis bakterial kronik Prostatitis nonbakterial Prostatodinia Dahulu disebut prostatitis saja, sekarang Prostatitis Syndrome karena seringnya etiologi tidak diketahui sehingga kriteria diagnostik lemah. Klasifikasi yang baru berdasarkan National Institutes of Health classification system (1995) menjadi : NIH kategori I (Prostatitis Bakteri Akut)

NIH kategori II (Prostatitis Bakteri Kronik) NIH kategori III (Chronic Pelvic Pain Syndromes/ (CPPS))

o NIH kategori IIIa (Inflammatory CPPS) Ditemukan sel darah putih yang bermakna pada sekresi prostat yang dimasase, sedimen urin pasca masase atau semen o NIH kategori IIIB (Non inflammatory CPPS) Tidak ditemukan sel darah putih yang bermakna pada sekresi prostat yang dimasase, sedimen urin pasca masase atau semen NIH kategori IV (asimtomatik) Kuman patogen Kuman yang sering ditemukan adalah E. coli, Klebsiella spp, Proteus mirabilis, Enterococcus faecalis dan Pseudomonas aeruginosa. Jenis kuman yang juga dapat ditemukan adalah Staphylococci, Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis walaupun masih menimbulkan perdebatan. Gejala dan tanda Gejala klinis : Akut Kronis (minimal 3 bulan menderita) Paling sering dikeluhkan: NYERI Prostat/perineum : 46 % Skrotum dan atau Testis : 39 %

Penis : 6% Kandung kemih : 6% Punggung : 2% dan LUTS : Sering BAK Sulit BAK seperti pancaran lemah, mengedan Nyeri saat BAK/nyeri bertambah saat BAK Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan metoda urin empat porsi (Stamey-Meares) pemeriksaan ini termasuk kultur urin inisial (VB1), urin porsi tengah (VB2), sekret prostat pasca masase prostat (EPS), dan urin pasca masase prostat. Walaupun pemeriksaan metoda urin empat porsi ini masih menjadi pemeriksaan baku emas, beberapa survey menunjukkan pemeriksaan ini membutuhkan banyak waktu dan lebih mahal. Saat ini dapat disarankan pemeriksaan metoda dua porsi (urin premasase dan urin post masase) yang lebih simpel. Urin premasase diambil urin porsi tengan dan urin inisial 10 cc pasca masase prostat. Pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas dan spesifisitas mencapai 91 %. Penatalaksanaan Prostatitis bakterial akut dapat merupakan infeksi yang serius, dibutuhkan pemberian AB parenteral dosis tinggi seperti aminoglikosid dan derivat penisillin, atau sefalosporin generasi ke 3, sampai keadaan membaik atau normalnya parameter tanda infeksi. Pada kasus yang lebih ringan dapat diberikanfluorokuinolon peroral sedikitnya 10 hari. Prostatitis bakterial kronis dan Inflamasi CPPS diberikan fluorokuinolon atau trimetoprim per oral selama 2 minggu sejak diagnosis awal. Kemudian pasien harus dinilai kembali, dan AB diteruskan jika kultur sebelum terapi positif atau pasien merasa adanya efek positif terapi. Disarankan periode pengobatan 4 6 minggu.

EPIDIDIMITIS & ORKHITIS Definisi Epididimitis adalah peradangan / inflamasi pada epididimis, yang menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan, biasanya unilateral dan timbul dengan cepat. Pada beberapa kasus, testis juga terlibat dalam proses inflamasi (epididimo-orkhitis). Orkhitis adalah peradangan pada testis, umumnya disebabkan oleh virus dan juga kadang-kadang melibatkan epididimis. Kuman patogen Bakteri

Non spesifik : C. trachomatis Spesifik : M. tuberculosa Virus : mumps Imunologis : auto imun Diagnosis Klinis : tanda-tanda inflamasi Urinalisis, kultur urine Pengecatan gram dari urine / sekret urethra Kalau perlu : - Ejakulat analisis - Ig. M - Analisa sperma
1. Definisi

Epididimitis merupakan suatu proses inflamasi yang terjadi pada epididimis. Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk kurva (koil) yang menempel di belakang testis dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma yang matur. Berdasarkan timbulnya nyeri, epididimitis dibedakan menjadi epididimitis akut dan kronik. Epididimitis akut memiliki waktu timbulnya nyeri dan bengkak hanya dalam beberapa hari sedangkan pada epididimitis kronik, timbulnya nyeri dan peradangan pada epididimis telah berlangsung sedikitnya selama enam minggu disertai dengan timbulnya indurasi pada skrotum.
1. Etiologi

Bermacam penyebab timbulnya epididimitis tergantung dari usia pasien, sehingga penyebab dari timbulnya epididimitis dibedakan menjadi: 1) Infeksi bakteri non spesifik

Bakteri coliforms (misalnya E coli, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella) menjadi penyebab umum terjadinya epididimitis pada anak-anak, dewasa dengan usia lebih dari 35 tahun dan homoseksual. Ureaplasma urealyticum, Corynebacterium, Mycoplasma, and Mima polymorpha juga dapat ditemukan pada golongan penderita tersebut. Infeksi yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae and N meningitides sangat jarang terjadi. 2) Penyakit Menular Seksual

Chlamydia merupakan penyebab tersering pada laki-laki berusia kurang dari 35 tahun dengan aktivitas seksual aktif. Infeksi yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Trichomonas dan Gardnerella vaginalis juga sering terjadi pada populasi ini. 3) Virus

Virus menjadi penyebab yang cukup dominan pada anak-anak. Pada epididimitis yang disebabkan oleh virus tidak didapatkan adanya pyuria. Mumps merupakan virus yang sering menyebabkan epididimitis selain coxsackie virus A dan varicella

4)

Tuberkulosis

Epididimitis yang disebabkan oleh basil tuberkulosis sering terjadi di daerah endemis TB dan menjadi penyebab utama terjadinya TB urogenitalis. 5) Penyebab infeksi lain

seperti brucellosis, coccidioidomycosis, blastomycosis, cytomegalovirus [CMV], candidiasis, CMV pada HIV) dapat menjadi penyebab terjadinya epididimitis namun biasanya hanya terjadi pada individu dengan sistem imun tubuh yang rendah atau menurun. 6) Obstruksi (seperti BPH, malformasi urogenital) memicu terjadinya refluks.

7) Vaskulitis (seperti Henoch-Schnlein purpura pada anak-anak) sering menyebabkan epididimitis akibat adanya proses infeksi sistemik. 8) Penggunaan Amiodarone dosis tinggi

Amiodarone adalah obat yang digunakan pada kasus aritmia jantung dengan dosis awal 600 mg/hari 800 mg/ hari selama 1 3 minggu secara bertahap dan dosis pemeliharaan 400 mg/hari. Penggunaan Amiodarone dosis tinggi ini (lebih dari 200 mg/hari) akan menimbulkan antibodi amiodarone HCL yang kemudian akan menyerang epidididmis sehingga timbullah gejala epididimitis. Bagian yang sering terkena adalah bagian cranial dari epididimis dan kasus ini terjadi pada 3-11 % pasien yang menggunakan obat amiodarone. 9) Prostatitis

Prostatitis merupakan reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat disebabkan oleh bakteri maupun non bakteri dapat menyebar ke skrotum, menyebabkan timbulnya epididimitis dengan rasa nyeri yang hebat, pembengkakan, kemerahan dan jika disentuh terasa sangat nyeri. Gejala yang juga sering menyertai adalah nyeri di selangkangan, daerah antara penis dan anus serta punggung bagian bawah, demam dan menggigil. Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostat yang membengkak dan terasa nyeri jika disentuh. 10) Tindakan pembedahan seperti prostatektomi. Prostatektomi dapat menimbulkan epididimitis karena terjadinya infeksi preoperasi pada traktus urinarius. Hal ini terjadi pada 13% kasus yang dilakukan prostatektomi suprapubik. 11) Kateterisasi dan instrumentasi Terjadinya epididimitis akibat tindakan kateterisasi maupun pemasangan instrumentasi dipicu oleh adanya infeksi pada urethra yang menyebar hingga ke epididimis.
1. Patofisiologi

Patofisiologi terjadinya epididimitis masih belum jelas, dimana diperkirakan terjadinya epididimitis disebabkan oleh aliran balik dari urin yang mengandung bakteri, dari uretra pars prostatika menuju epididimis melalui duktus ejakulatorius vesika seminalis, ampula dan vas deferens. Oleh karena itu, penyumbatan yang terjadi di prostat dan uretra serta adanya anomali kongenital pada bagian genito-urinaria sering menyebabkan timbulnya epididimitis karena tekanan tinggi sewaktu miksi. Setiap kateterisasi maupun instrumentasi seperti sistoskopi merupakan faktor resiko yang sering menimbulkan epididimitis bakterial. Infeksi berawal di kauda epididimis dan biasanya meluas ke tubuh dan hulu epididimis. Kemudian mungkin terjadi orkitis melalui radang kolateral. Tidak jarang berkembang abses yang dapat menembus kulit dorsal skrotum. Jarang sekali epididimitis disebabkan oleh refluks dari jalan kemih akibat tekanan tinggi intra abdomen karena cedera perut.
1. Manifestasi Klinis

Gejala yang timbul tidak hanya berasal dari infeksi lokal namun juga berasal dari sumber infeksi yang asli. Gejala yang sering berasal dari sumber infeksi asli seperti duh uretra dan nyeri atau itching pada uretra (akibat uretritis), nyeri panggul dan frekuensi miksi yang meningkat, dan rasa terbakar saat miksi (akibat infeksi pada vesika urinaria yang disebut Cystitis), demam, nyeri pada daerah perineum, frekuensi miksi yang meningkat, urgensi, dan rasa perih dan terbakar saat miksi (akibat infeksi pada prostat yang disebut prostatitis), demam dan nyeri pada regio flank (akibat infeksi pada ginjal yang disebut pielonefritis). Gejala lokal pada epididimitis berupa nyeri pada skrotum. Nyeri mulai timbul dari bagian belakang salah satu testis namun dengan cepat akan menyebar ke seluruh testis, skrotum dan kadangkala ke daerah inguinal disertai peningkatan suhu badan yang tinggi. Biasanya hanya mengenai salah satu skrotum saja dan tidak disertai dengan mual dan muntah.
1. Tanda Klinis Pemeriksaan Fisik

Tanda klinis pada epididimitis yang didapat saat melakukan pemeriksaan fisik adalah : 1) Pada pemeriksaan ditemukan testis pada posisi yang normal, ukuran kedua testis sama besar, dan tidak terdapat peninggian pada salah satu testis dan epididimis membengkak di permukaan dorsal testis yang sangat nyeri. Setelah beberapa hari, epididimis dan testis tidak dapat diraba terpisah karena bengkak yang juga meliputi testis. Kulit skrotum teraba panas, merah dan bengkak karena adanya udem dan infiltrat. Funikulus spermatikus juga turut meradang menjadi bengkak dan nyeri. 2) Hasil pemeriksaan refleks kremaster normal

3) Phren sign bernilai positif dimana nyeri dapat berkurang bila skrotum diangkat ke atas karena pengangkatan ini akan mengurangi regangan pada testis. Namun pemeriksaan ini kurang spesifik. 4) Pembesaran kelanjar getah bening di regio inguinalis.

5) Pada colok dubur mungkin didapatkan tanda prostatitis kronik yaitu adanya pengeluaran sekret atau nanah setelah dilakukan masase prostat. 6) Biasanya didapatkan eritema dan selulitis pada skrotum yang ringan

7) Pada anak-anak, epididimitis dapat disertai dengan anomali kongenital pada traktus urogenitalis seperti ureter ektopik, vas deferens ektopik, dll.
1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya suatu infeksi adalah: 1) Pemeriksaan darah dimana ditemukan leukosit meningkat dengan shift to the left (10.000-30.000/l) 2) 3) 4) 5) Kultur urin dan pengecatan gram untuk kuman penyebab infeksi Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak Tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoeae. Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada penderita
1. Pemeriksaan Radiologis

Sampai saat ini, pemeriksaan radiologis yang dapat digunakan adalah : 1) Color Doppler Ultrasonography (a) Pemeriksaan ini memiliki rentang kegunaan yang luas dimana pemeriksaan ini lebih banyak digunakan untuk membedakan epididimitis dengan penyebab akut skrotum lainnya. (b) Keefektifan pemeriksaan ini dibatasi oleh nyeri dan ukuran anatomi pasien (seperti ukuran bayi berbeda dengan dewasa) (c) Pemeriksaan menggunakan ultrasonografi dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis. Pada epididimitis, aliran darah pada arteri testikularis cenderung meningkat. (d) Ultrasonografi juga dapat dipakai untuk mengetahui adanya abses skrotum sebagai komplikasi dari epididimitis. (e) Kronik epididimitis dapat diketahui melalui pembesaran testis dan epididimis yang disertai penebalan tunika vaginalis dimana hal ini akan menimbulkan gambaran echo yang heterogen pada ultrasonografi. 2) Nuclear Scintigraphy

(a) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang meragukan dengan memakai ultrasonografi. (b) Pada epididimitis akut, akan terlihat gambaran peningkatan penangkapan kontras (c) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah iskemia akibat infeksi. (d) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu (e) Keterbatasan dari pemeriksaan ini adalah harga yang mahal dan sulit dalam melakukan interpretasi 3) Vesicouretrogram (VCUG), cystourethroscopy, dan USG abdomen Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui suatu anomali kongenital pada pasien anak-anak dengan bakteriuria dan epididimitis.
1. Diagnosis

Diagnosis epididimitis dapat ditegakkan melalui : 1) 2) 3) 4) Anamnesa Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan penunjang lainnya
1. Diagnosis Banding

Diagnosis banding epididimitis meliputi : 1) 2) 3) 4) 5) Orkitis Hernia inguinalis inkarserata Torsio testis Seminoma testis Trauma testis
1. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan epididimitis meliputi dua hal yaitu penatalaksanaan medis dan bedah, berupa :

1)

Penatalaksanaan Medis

Antibiotik digunakan bila diduga adanya suatu proses infeksi. Antibiotik yang sering digunakan adalah : (a) Fluorokuinolon, namun penggunaannya telah dibatasi karena terbukti resisten terhadap kuman gonorhoeae (b) Sefalosforin (Ceftriaxon) (c) Levofloxacin atau ofloxacin untuk mengatasi infeksi klamidia dan digunakan pada pasien yang alergi penisilin (d) Doksisiklin, azithromycin, dan tetrasiklin digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri non gonokokal lainnya Penanganan epididimitis lainnya berupa penanganan suportif, seperti: (a) Pengurangan aktivitas

(b) Skrotum lebih ditinggikan dengan melakukan tirah baring total selama dua sampai tiga hari untuk mencegah regangan berlebihan pada skrotum. (c) Kompres es

(d) Pemberian analgesik dan NSAID (e) 2) Mencegah penggunaan instrumentasi pada urethra Penatalaksanaan Bedah

Penatalaksanaan di bidang bedah meliputi : (a) Scrotal exploration

Tindakan ini digunakan bila telah terjadi komplikasi dari epididimitis dan orchitis seperti abses, pyocele, maupun terjadinya infark pada testis. Diagnosis tentang gangguan intrascrotal baru dapat ditegakkan saat dilakukan orchiectomy. (b) Epididymectomy Tindakan ini dilaporkan telah berhasi mengurangi nyeri yang disebabkan oleh kronik epididimitis pada 50% kasus. (c) Epididymotomy

Tindakan ini dilakukan pada pasien dengan epididimitis akut supurativa.


1. Komplikasi

Komplikasi dari epididimitis adalah : 1) 2) 3) Abses dan pyocele pada skrotum Infark pada testis Epididimitis kronis dan orchalgia

4) Infertilitas sekunder sebagai akibat dari inflamasi maupun obstruksi dari duktus epididimis 5) 6) Atrofi testis yang diikuti hipogonadotropik hipogonadism Fistula kutaneus
1. Prognosis

Epididimitis akan sembuh total bila menggunakan antibiotik yang tepat dan adekuat serta melakukan hubungan seksual yang aman dan mengobati partner seksualnya. Kekambuhan epididimitis pada seorang pasien adalah hal yang biasa terjadi. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit 2. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi akibat proses infeksi 3. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan proses penyakit

Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit

Tujuan : Menunjukkan penurunan skala nyeri Kriteria hasil: Dalam 324 jam, pasien menunjukkan:
1. Skala nyeri 5 2. Nadi : 100x/menit

Intervensi
Kolaborasi pemberian analgesik Gunakan pendekatan yang positif Instruksikan pada pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika pengurang nyeri tidak dapat tercapai Lakukan pemasangan kateter

Rasional
Untuk menurunkan nyeri Mengoptimiskan respons pasien terhadap analgesic Untuk merencanakan intervensi yang akan dilakukan selanjutnya Meningkatkan rasa nyaman

karena seringnya BAK Pantau tanda-tanda vital Mengevaluasi efek nyeri terhadap perubahan tanda-tanda vital

1. Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi akibat proses infeksi

Tujuan : Menunjukkan penurunan suhu tubuh Kriteria hasil: Dalam 324 jam, pasien menunjukkan: T: 370 C Tidak ada abses skrotum Intervensi
Kolaborasi pemberian antipiretik dan antibiotik Lakukan kompres pada aksila,kening, leher, dan lipat paha Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang tipis Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan Ukur tanda-tanda vital Lakukan pemeriksaan Color Doppler Ultrasonography

Rasional
Untuk menurunkan panas tubuh Menurunkan panas tubuh Untuk mempermudah pengeluaran panas Untuk mencegah dehidrasi akibat hipermetabolisme Mengevaluasi efek intervensi yang telah dilakukukan Untuk mengecek abses pada skrotum

1. Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan proses penyakit

Tujuan : Menunjukkan pola seksualitas yang normal Kriteria hasil: Dalam 324 jam, pasien menunjukkan: Dapat mengungkapkan ketakutan yang dirasakan terkait seksualitas Mengungkapkan secara verbal pemahamannya tentang perubahan fungsi seksual

Beradaptasi pada pengungkapan seksual yang berhubungan dengan perubahan fisik karena penyakit Intervensi
Anjurkan pasien untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan dan mengungkapkan pertanyaan Diskusikan efek penyakit terhadap seksualitas diskusikan dengan pasien untuk menunda hubungan seksual selama kondisi sakit Diskusikan pentingnya modifikasi dalam aktivitas seksual Berikan rujukan pada anggota tim pelayanan kesehatan lainnya (ahli terapi seks)

Rasional

Eksplorasi perasaan pasien Meningkatkan pemahaman pasien tentang penrunan fungsi seksualitasnya Meningkatkan pengetahuan pasien Meningkatkan pengetahuan pasien Pasien mendapatkan konseling yang tepat terkait pola seksualitasnya

Definisi Uretritis adalah peradangan yang terjadi pada uretra (Anonym 1997) II. Etiologi secara umum Penyebab : kuman gonore atau kuman lain, kadang kadang uretritis terjadi tanpa adanya bakteri. (Anonym 1997) Penyebab klasik dari uretritis adalah infeksi yang dikarenakan oleh Neisseria Gonorhoed. Akan tetapi saat ini uretritis disebabkan oleh infeksi dari spesies Chlamydia, E.Coli atau Mycoplasma. (Emanuel Rubin, 1982) III. Klasifikasi A. Uretritis Akut a. Penyebab

Asending infeksi atau sebaliknya oleh karena prostate mengalami infeksi. Keadaan ini lebih sering diderita kaum pria.

b.

Tanda dan Gejala

Mukosa merah udematus Terdapat cairan eksudat yang purulent Ada ulserasi pada uretra Mikroskopis : terlihat infiltrasi leukosit sel sel plasma dan sel sel limfosit Ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis G.O yaitu morning sickness Pada oria : pembuluh darah kapiler, kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok pus Pada wanita : jarang diketemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita. c. Diagnosa Diferential Uretritis GO Amicrobic pyuhria Uretritis karena trichomonas Prostatitis non spesifik d. Pemeriksaan Diagnostik

Dilakukan pemeriksaan terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman penyebab. e.

Tindakan Pengobatan

Pemberian antibiotika Bila terjadi striktuka, lakukan dilatasi uretra dengan menggunakan bougil f. Komplikasi Mungkin prostatitis Periuretral abses yang dapat sembuh, kemudian meninbulkan striktura atau urine fistula B. Uretritis Kronis

a.

Penyebab

Pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut Prostatitis kronis Striktura uretra b. Tanda dan Gejala

Mukosa terlihat granuler dan merah

Mikroskopis : infiltrasi dari leukosit, sel plasma, sedikit sel leukosit, fibroblast bertambah Getah uretra (+), dapat dilihat pada pagi hari sebelum bak pertama Uretra iritasi, vesikal iritasi, prostatitis, cystitis. c. Prognosa Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter, ginjal. d.

Tindakan Pengobatan

Chemoterapi dan antibiotika Cari penyebabnya Berikanlah banyak minum e. Komplikasi Radang dapat menjalar ke prostate. C. Uretritis Gonokokus a. Penyebab

Neisseria Gonorhoeoe (gonokokus) b. Tanda dan Gejala

Sama dengan tanda dan gejala pada uretritis akut, karena uretritis ini adalah bagian dari uretritis akut c. Prognosa

Infeksi dapat menyebar ke proksimal uretra. d.

Komplikasi Infeksi yang menyebar ke proksimal uretra menyebabkan peningkatan frekuensi kencing

Gonokokus dapat menebus mukosa uretra yang utuh, mengakibatkan terjadi infeksi submukosa yang meluas ke korpus spongiosum Infeksi yang menyebabkan kerusakan kelenjar peri uretra akan menyebabkan terjadinya fibrosis yang dalam beberapa tahun kemudian mengakibatkan striktura uretra. (underwood,1999)

D. Uretritis Non Gonokokus (Non Spesifik) Uretritis non gonokokus (sinonim dengan uretritis non spesifik) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual yang paling sering diketemukan. Pada pria, lender uretra yang mukopurulen dan disuria terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa minggu setelah melakukan hubungan kelamin dengan wanita yang terinfeksi. Lendir mengandung sel nanah tetapi gonokokus tidak dapat di deteksi secara mikroskopis atau kultur. (Underwood,1999) a. Insiden Masih merupakan penyakit yang sering terjadi pada banyak bagian dunia, insiden berhubungan langsung dengan promiskuitas dari populasi b. Etiologi

Infeksi hamper selalu didapat selama hubungan seksual. Gonokokus membelah diri pada mukosa yang utuh dari uretra anterior dan setelah itu menginvasi kelenjar peri uretral, dengan akibat terjadinya bakteremia dan keterlibatan limfatik. c. Makroskopik

Peradangan akut dari mukosa uretra, dengan eksudat yang purulenta pada permukaan; dapat terjadi ulserasi dari mukosa. d. Rabas

Timbul 3-8 hari setelah infeksi dan kental, kuning serta banyak. Apusan memperlihatkan sejumlah besar sel sel pus (100%), banyak mengandung diplokokus gram negative intraseluler yang difagositosis. e. Perjalanan Penyakit

1.

Dapat mengalami resolusi dalam 2-4 minggu, sebagai akibat pengobatan atau

kadang kadang spontan. 2. f. 1. 2. Menjadi kronik. Penyulit Uretritis posterior, prostatitis, vesikulitis, epididimitis dan sistitis. Abses peri uretral.

3. Penyebaran sistemik arthritis supuratif atau teno sinovitis tidak jarang ditemukan pada kasus yang terabaikan sementara endokarditis jarang sekali terjadi. (A.D Thomson,1997) E. Uretritis Abakterial Penyakit Reiter a. Klinik

Uretritis yang berkaitan dengan konjunktivitis dan artritis b. Etiologi

Kemungkinan terdapat organisme dari kelompok chlamydia c. Hasil

Kemungkinan terdapat pemulihan spontan, tetapi sering kali terdapat riwayat yang lama, dengan banyak eksaserbasi klinik. Pada kasus yang berat terdapat ulserasi dari mukosa bukal, kulit kaki, glans penis, uretra dan kandung kemih. Iritis dan keraitis dapat menjadi penyulit konjunktivitis.