Anda di halaman 1dari 32

Induksi Reproduksi Dan Spermatozoa Ikan Lele (Clarias sp) I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Reproduksi adalah salah saatu cara suatu mahluk hidup mempertahankan kelangsungan hidupnya. Begitupun juga denga ikan, ikan merupakan salah satu mahluk hidup yang melakukan reprodusi untuk melestarikan/melangsungkan kehidupannya. Pada dasarnya, ikan bersifat ovivar (bertelur). Jadi ikan melakukan reproduksi dengan cara bertelur dan pada saat musim yang berbedabeda. Musim reprodusi/pemijahan ikan mempengaruhi terhadap jumlah telur yang dihasilkan ikat tersebut. Jika pada musimnya ikan akan mengeluarkan telur yang banyak. Selain itu juga jumlah telur yang dihasilkan dipengaruhi oleh ketersediaan atau asupan makanan yang dimakan oleh ikan. Dalam hal ini, ikan jantan dan betina akan saling mendekat satu sama lain kemudian si betina akan mengeluarkan telur. Selanjutnya si jantan akan segera mengeluarkan spermanya, lalu sperma dan telur ini bercampur di dalam air. cara reproduksi ini dikenal sebagai oviparus, yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan. Ikan terkenal sebagai mahluk yang mempunyai potensi fekunditas yang tinggi dimana kebanyakan jenis ikan yang merupakan penghasil telur beribu-ribu bahkan berjuta-juta tiap tahun. Apabila alam tidak mengaturnya maka dunia akan sangat padat dengan ikan. Cara reproduksi ikan yang ada antara lain :

1. 2. 3.

Ovipar, sel telur dan sel sperma bertemu di luar tubuh dan embrio ikan berkembang di luar tubuh sang induk. Contoh : ikan pada umumnya Vivipar, kandungan kuning telur sangat sedikit, perkembangan embrio ditentukan oleh hubungannya dengan placenta, dan anak ikan menyerupai induk dewasa Ovovivipar, sel telur cukup banyak mempunyai kuning telur, Embrio berkembang di dalam tubuh ikan induk betina, dan anak ikan menyerupai induk dewasa. Contoh : ikan-ikan livebearers Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai kematangan kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar. Ada berbagai cara yang sudah dilakukan oleh orang-orang perikanan yang bekerja di bidang akuaultur. Adanya pemijahan buatan dapat mempercepat produksi ikan di sebuah tambak atau hatchery. Hal ini dilakukan untuk mengejar target pasar agar kebutuhan konsumen terpenuhi. Dengan cara menyuntikan hormon untuk mematangkan sel telur. Sehingga kita dapat mengawinkan ikan sesuai kebutuhan yang kita inginkan. Salah satu komoditas perikanan yang cukup populer di masyarakat adalah lele dumbo (Clarias gariepinus). Ikan ini berasal dari Benua Afrika dan pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Karena memiliki berbagai kelebihan, menyebabkan, lele dumbo termasuk ikan yang paling mudah diterima masyarakat. Kelebihan tersebut diantaranya adalah pertumbuhannya cepat, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, dalam proses pemijahan sangat mudah dilakukan diantaranya dapat dipijahkan secara alami maupun buatan, rasanya enak dan kandungan gizinya cukup tinggi. Maka tak heran, apabila minat masyarakat untuk membudidayakan lele dumbo sangat besar.

B.

Tujuan dan Manfaat Adapun tujuan di laksanakannya praktikum ini yaitu :

1. 2. 3. 4.

Mengetahui indeks kematangan gonad pada ikan. Mengetahui tepat-tempat penyuntikan pada pemijahan buatan pada ikan. Mengetahui tingkat kematangan gonad ikan. Mengetahui morfologi dan sifat-sifat fisiologi dari sel spema pada ikan. Dan manfaat dari praktikum ini adalah dapat dijadikan bahan informasih dalam bidang reproduksi organisme aquatik (ikan) khususnya para pembudidaya ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

II TINJAUN PUSTAKA

A.

Pemijahan Proses pemijahan adalah proses yang ditujukan kepada suatu spesies dalam bentuk tingkahlaku melakukan perkawinan atau pembuahan ovum oleh sperma. Secara umum pemijahan biota akuatik dibagi dalam beberapa tahapan yaitu proses matting, proses spawning, proses pasca spawning. Berdasarkan sifatnya proses pemijahan dapat berlangsung secara alamiah dan buatan :

1.

Pemijahan Alami Sepasang ataupun sekelumpok ikan yang siap memijah dan akan memijah ditaruh dalam suatu wadah kolam. Dan sudah tentu keadaan, salinitas, dan suhu sudah diatur agar sesuai dengan tempat pemijahan ikan itu yang sebenarnya. Dan saat pemijahan kolam biasanya ditutup, agar mengurai gangguan dalam pemijahan dan ikan lebih suka memijah pada tempat gelap dan hangat.

2.

Pemijahan Buatan Pada pemijahan buatan, pembuahan telur oleh sperma dilakukan dengan bantuan manusia. Telur dipaksa keluar dari tubuh induk ikan betina dengan tehnik stripping/pengurutan kemudian ditampung pada suatu wadah. Lalu segera dilakukan stripping pada induk jantan untuk mengeluarkan sperma secara paksa. Telur dan sperma kemudian di satukan dalam satu wadah lalu diaduk dengan alat lembut dan halus seperti bulu ayam sehingga tercampur dan terjadi pembuahan. Berdasarkan tehniknya, pemijahan ikan dapat dilakukan dengan 3 macam cara yaitu :

a. b. c.

Pemijahan ikan secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur tangan manusia. Terjadi secara alamiah ( tanpa pemberian rangsangan hormon) Pemijahan secara semi intensif, yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Pemijahan ikan secara intensif, yaitu memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad serta ovulasinya dilakukan secara buatan dengan tehnik stripping/pengurutan. Ada tiga komponen yang mempengaruhi proses reproduksi atau pemijahan pada ikan, yaitu gonad, sinyal lingkungan, dan sistem hormon dimana ketiga komponen itu saling mempengaruhi.

B.

Seksualitas Ikan Pada prinsipnya, seksualitas hewan terdiri dari dua jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Begitu pula seksualitas pada ikan, yang dikatakan ikan jantan adalah ikan yang mempunyai organ penghasil sperma,sedangkan ikan betina adalah ikan yang mempunyai organ penghasil telur. Suatu populasi terdiri dari ikan-ikan yang berbeda seksualitasnya, maka populasi tersebut disebut populasi heteroseksual, bila populasi tersebut terdiri dari ikan-ikan

betina saja maka disebut monoseksual. Sifat seksual primer pada ikan tandai dengan adanya organ yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi, yaitu ovarium dan pembuluhnya pada ikan betina, dan testis dengan pembuluhnya pada ikan jantan. Sifat seksual sekunder ialah tanda-tanda luar yang dapat dipakai untuk membedakan ikan jantan dan ikan betina. Seksual dichromatisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu individu ikan merupakan ikan jantan atau betina berdasarkan warna yang dimiliki tubuh dan organ pelengkap lainnya, pada umumnya ikan jantan mempunyai warna yang lebih cerah dan lebih menarik dari pada ikan betina. Sedangkan seksual dimorphisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu ikan jantan atau betina berdasarkan morphometrik yang dimiliki seperti ukuran tubuh atau bentuk sirip punggung. Beberapa jenis ikan juga memiliki dua alat kelamin pada tubuhnya yang sering disebut dengan ikan hermafrodit. Ikan hermafrodit dibagi menjadi tiga bagian yaitu hermafrodit sinkroni, hermafrodit protandri, dan hermafrodit protogini. Hermafrodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel sex betina dan sel sex jantan yang dapat masak bersama-sama, misalnya pada ikan famili Serranidae. Hermafrodit protandri yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina, misalnya pada ikan Kakap (Lates calcarifer). Sedangkan ikan hermafrodit protogini yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase betina ke fase jantan, misalnya pada ikan belut sawah (Monopterus albus). Selain hermafroditisme, pada ikan juga terdapat Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan bertahap juvenile gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betinanya. Gonad tersebut akan berkembang sebagian menjadi ovarium dan sebagian lagi menjadi testes tapi tidak terjadi masa diferensiasi atau intersex yang spontan. Misalnya pada ikan Anguila anguila dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdeferensiasi. Faktor yang mempengaruhi komponen reproduksi atau kematangan gonad diantaranya umur dan fisiologi induk ikan itu sendiri. Secara umum spesies ikan dari ukuran ,maksimum terkecil dan mempunyai siklus hidup yang pendek, mencapai kematangan gonad pada usia lebih muda dari pada spesies ikan maksimum besar. Pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/gamet.

Ikan lele jantan C. Perkembangan Gonad

ikan lele betina

Keberhasilan suatu spesies ikan ditentukan oleh kemampuan ikan tersebut untuk bereproduksi dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan kemampuan untuk mempertahankan populasinya. Setiap spesies ikan mempunyai strategi reproduksi yang tersendiri sehingga dapat melakukan reproduksinya dengan sukses. Fungsi reproduksi pada ikan pada dasarnya merupakan bagian dari system reproduksi. Sistem reproduksi terdiri dari komponen kelenjar kelamin atau gonad, dimana pada ikan betina disebut ovarium sedang pada jantan disebut testis beserta salurannya (Hoar & Randall, 1983).

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu akan terjadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna, 1995). Faktor internal meliputi kondisi tubuh dan adanya hormone reproduksi (Redding & Reynaldo, 1993). Adapun faktor internal yaitu tersedianya hormon steroid dan gonadotropin baik dalam bentuk hormone Gonadotropin I (GtH I) dan Gonadotropin II (GtH II) dalam jumlah yang cukup dalam tubuh untuk memacu kematangan gonad diikuti ovulasi serta pemijahan. Sebaliknya bilamana salah satu atau kedua hormon; tersebut tidak mencukupi dalam tubuh maka perkembangan oosit dalam ovarium terganggu bahkan akan berhenti dan mengalami atresia (Pitcher, 1995) Faktor lingkungan merupakan stimuli yang dapat ditangkap oleh alat indera ikan seperti kulit, mata dan hidung. Informasi berasal dari lingkungan sampai di otak melalui reseptor yang terdapat pada masingmasing organ sensori. Tingkat kematangan gonad ialah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Semakin meningkat kematangan gonadnya, telur dan sperma ikan semakin berkembang. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Kematangan gonad ikan pada umumnya adalah tahapan pada saat perkembangan gonad sebelum dan sesudah memijah. Selama proses reproduksi, sebagian energi dipakai untuk perkembangan gonad. Bobot gonad ikan akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah kemudian akan menurun dengan cepat selama proses pemijahan berlangsung sampai selesai. Pertambahan bobot gonad ikan betina pada saat stadium matang gonad dapat mencapai 10 25 persen dari bobot tubuh dan pada ikan jantan 5 10 persen. Lebih lanjut dikemukakan bahwa semakin bertambahnya tingkat kematangan gonad, telur yang ada dalam gonad akan semakin besar. Pendapat ini diperkuat oleh Kuo et al. (1979) bahwa kematangan gonad pada ikan dicirikan dengan perkembangan diameter rata-rata telur dan pola distribusi ukuran telurnya. Secara garis besar, perkembangan gonad ikan dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad ikan sampai ikan menjadi dewasa kelamin dan selanjutnya adalah pematangan gamet. Tahap pertama berlangsung mulai ikan menetas hingga mencapai dewasa kelamin, dan tahap kedua dimulai setelah ikan mencapai dewasa, dan terus berkembang selama fungsi reproduksi masih tetap berjalan normal. Lebih lanjut dikatakan bahwa kematangan gonad pada ikan tertentu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar antara lain dipengaruhi oleh suhu dan adanya lawan jenis, faktor dalam antara lain perbedaan spesies, umur serta sifat-sifat fisiologi lainnya. Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan cara morfologi adalah bentuk, ukuran panjang dan berat, warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Kesteven membagi tingkat kematangan gonad dalam beberapa tahap yaitu: a) b) c) d) Dara. Organ seksual sangat kecil berdekatan di bawah tulang punggung, testes dan ovarium transparan, dari tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak terlihat dengan mata biasa. Dara Berkembang. Testis dan ovarium jernih, abu-abu merah. Panjangnya setengah atau lebih sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat terlihat dengan kaca pembesar. Perkembangan I. Testis dan ovarium bentuknya bulat telur, berwarna kemerah-merahan dengan pembuluh kapiler. Gonad mengisi kira-kira setengah ruang ke bagian bawah. Telur dapat terlihat seperti serbuk putih. Perkembangan II. Testis berwarna putih kemerah-merahan, tidak ada sperma kalau bagian perut ditekan. Ovarium berwarna oranye kemerah-merahan. Telur dapat dibedakan dengan jelas, bentuknya bulat telur. Ovarium mengisis kira-kira dua pertiga ruang bawah.

e) f) g) h) i) D.

Bunting. Organ seksual mengisi ruang bawah. Testis berwarna putih, keluar tetesan sperma kalau ditekan perutnya. Telur bentuknya bulat, beberapa dari telur ini jernih dan masak. Mijah. Telur dan sperma keluar dengan sedikit tekanan di perut. Kebanyakan telur berwarna jerinih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur tinggal dalam ovarium. Mijah/Salin. Gonad belum kosong sama sekali, tidak ada telur yang bulat telur. Salin. Testis dan ovarium kosong dan berwarna merah. Beberapa telur sedang ada dalam keadaan dihisap kembali. Pulih Salin. Testis dan ovarium berwarna jernih, abu-abu merah. (Begenel & Braum (1968) dalam Effendie, 1997). Indeks Kematangan Gonad (IKG) Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat perkembangan ovarium, secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen (Effendie, 1979 dalam Hadiaty, 2000). IKG = Wg / W x 100% Wg = berat gonad W = berat tubuh ikan Indeks Kematangan Gonad atau Gonado somatic Index (GSI) akan semakin meningkat nilainya dan akan mencapai batas maksimum pada saat terjadi pemijahan. Pada ikan betina nilai IKG lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan. Penghitungan indeks kematangan gonad selain menggunakan perbandingan antara berat gonad dengan berat tubuh ikan, dapat juga dengan mengamati perkembangan garis tengah telur yang dikandungnya hasil dari pengendapan kuning telur selama proses vitellogenesis. Perkembangan gonad akan diikuti juga dengan semakin membesarnya pula garis tengah telur yang 62 dikandung di dalamnya. Sebaran garis tengah telur pada tiap tingkat kematangan gonad akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.

E.

Hipofisasi Hipofisasi adalah induksi pemijahan ikan yang pertama kali dikembangkan di Negara Brazil. Dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa pada ikan yang telah matang gonad. Penambahan gonadotropin yang berasal dari kelenjar hipofisa, merupakan sumber eksogen ke dalam darah akan menstimulasi pematangan tahap akhir dan ovulasi sehingga pemijahan ikan dapat diprediksikan dan pemijahan ikan pun dapat terjadi meskipun diluar musim pemijahan. Dosis Penyuntikan ekstrak kelenjar pituitari bervariasi tergantung jenis ikannya. Pada ikan lele dosis yang dianjurkan adalah tiga dosis, artinya ikan donor tiga kali lebih berat dibanding ikan resipien (Suyanto, 1991). Selain dosis penyuntikan, frekuensi penyntikan juga berpengaruh terhadap keberhasilan induksi pemijahan. Winfield (1991) mngemukakan bahwa untuk mempercepat proses pemijahan penyuntikan ekstrak hipofisa sebaiknya dilakukan dua kali dengan interval waktu penyuntikan 6 jam. Setelah 8 jam, ovulasi dan pmijahan sudah terjadi. Kelenjar hipofisa yang digunakan untuk hipofisasi dapat berupa kelenjar yang masih segar maupun yang telah diawetkan. Pengaruh stimulasi ekstrak kelenjar hipofisa, baik yang segar maupun diawetkan memiliki evektifitas yang sama (Fujaya el al. 1999 ; Anrosana 1999). Bahan pengawet yang umum digunakan adalah aseton dan alkohol. Menutut Pillay (1990), pengawetan kelenjar hipofisa dengan alkohol tetap efektif hingga dua tahun pengawetan dengan aseton hingga 6-10 tahun dalam bentuk kering. Penggunaan ekstrak kelenjar hipofisa dari jenis hewan yang lain juga dapat digunakan untuk menginduksi pemijahan ikan. Jarigau (1992) menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa ayam untuk disuntikkan ke ikan lele. Dengan dosis 800 mg/kg ikan lele dumbo repisien mampu meningkatkan persentase kematanga telur dan mempercepat masa laten pemijahan ikan. Ada tiga tempat yang umum digunakan untuk menyuntik ikan yakni :

1. 2. 3.

Penyuntikan ke dalam otot di bawah sirip punggung (instramuskular). Penyuntikan ke pangkal sirip ekor. Penyuntikan ke rongga perut. (1) (2) (3)

F.

Spermatozoa Spermatozoa atau sperma adalah gamet jantan yang dihaslkan oleh testis melalui proses spermatogenesis. Cairan sperma adalah larutan spermatozoa yang berada dalam cairan seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testis (Hoar, 1969). Campuran semi plasma dengan spermatozoa disebut semen. Menurut Toelihere (1981), sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas, yang tidak bertumbuh dan membagi diri. Pada dasarnya sperma terdiri dari kepala yang membawa materi keturunan paternal dan ekor yang berperan sebagai alat penggerak. Struktur spermatozoa ikan yang matang terdiri dari kepala, leher, dan ekor flagella. Inti spermatozoa terdapat pada bagian kepala (Lagler, 1972). Ada juga sperma mempunyai middle piece sebagai penghubung atau penyambung antara leher dan ekor, middle piece ini mengandung mitokondria yang berfungsi dalam metabolisme sperma. Kepala spermatozoa secara umum berbentuk bulat atau oval; spermatozoa berbentuk sabit ditemukan pada sidat (Tang dan Affandi, 2001). spermatozoa pada ikan Umumnya ukuran panjang kepala spermatozoa adalah 2-3 mikro dan panjang total dari spermatozoa antara (40-60 mikro). Panjang pendeknya ukuran ekor dapat menentukan keaktifan dari sperma dalam bergerak. Semakin panjang ekor sperma maka semakin aktif sperma itu bergerak. Toelihere (1981) menyatakan ekor sperma mengandung semua sarana yang perlu untuk motilitas dan ekor yang telah terpisah dari kepala sperma dapat bergerak.

III METODOLOGI

A.

Waktu dan Tempat Praktikum Biologi Reproduksi dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2011 pukul 09.30 WITA sampai selesai. Bertempat di Laboratorium Kualitas Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Borneo, Tarakan

B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Alat dan Bahan Alat yang digunakan : Spoit Mikroskop Pipet Suntikan Beaker glass Cawan petrik Pinset

8. 1. 2. 3. 4. 5. C. 1. 2. 3. 1.

Gunting bedah Bahan yang digunakan : Ikan Lele jantan 1 ekor Ikan Lele betina 1 ekor Larutan NaCl fisiologis Kertas Lakmus Tisu Prosedur Kerja Dari praktikum yang telah dilaksanakan, adapun prosedur kerja yang kami lakukan diantaranya : Melakukan Proses striping/pengurutan pada ikan jantan. Ikan jantan : jika distriping, keluar sperma pekat (berwarna putih susu) dari lubang kelamin. Memeriksa sel sperma Secara makroskopis : Warna, tingkat kekentalan Secara mikroskopis : Masa sperma, pergerakannya Pembuatan Preparat ulas Tahapan-tahapan dalam pewarnaan eosin-nigrosin : Teteskan larutan spermatozoa diatas objek glass yang telah bersih dan steril, kemudian diteteskan zat warna eosin-neoksin. Dicampurkan secara merata dengan menggunakan satu batang objek glass steril. Sesudah beberapa detik sampai satu menit dibuat preparat ulas dengan objek glas lain kemudian dikering udarakan beberapa saat.

2.

Dan di amati dibawah mikroskop dan catat hasilnya.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Berdasarkan praktikum yang telah kami dilakukan dilaboratorium maka pemijahan buatan pada ikan lele dapat dilakukan dengan penyuntikan yaitu dengan cara menyuntik pada bagian otot bawah sirip punggung, pangkal sirip ekor, dan rongga perut dengan menggunakan kelenjar hipofisa dengan dosis 800 mg/kg dan stripping/pengurutan yaitu telur dipaksa keluar dari tubuh induk ikan betina dengan cara diurut kemudian ditampung pada suatu wadah. Lalu segera dilakukan stripping pada induk jantan untuk mengeluarkan sperma secara paksa. Telur dan sperma kemudian di satukan dalam satu wadah lalu diaduk dengan alat lembut dan halus seperti bulu ayam sehingga tercampur dan terjadi pembuahan. Berat gonad jantan pada ikan lele 17 g dan belum matang gonad, tingkat kematangan gonat (TKG) III, dan pH 7 (netral). Pada telur betina warnanya berbeda-beda dikarenakan tingkat kematangan gonad belum sempurna dan dari spesies yang berbeda. B. Pembahasan Faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan seksual ikan antara lain spesies, ukuran, dan umur. Secara umum ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang relatif pendek, akan mencapai kematangan kematangan seksual lebih cepat dibandingkan ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar. Ada tiga komponen yang mempengaruhi

proses reproduksi atau pemijahan pada ikan, yaitu gonad, sinyal lingkungan, dan sistem hormon dimana ketiga komponen itu saling mempengaruhi. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi pada spesies ikan terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal meliputi curah hujan, suhu, sinar matahari, tumbuhan dan adanya ikan jantan. Pada umumnya ikan-ikan di perairan alami akan memijah pada awal musim hujan atau pada akhir musim hujan, karena pada saat itu akan terjadi suatu perubahan lingkungan atau kondisi perairan yang dapat merangsang ikan-ikan untuk berpijah (Sutisna, 1995). Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada gonad, tingkat perkembangan ovarium, secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan dikalikan 100 persen (Effendie, 1979 dalam Hadiaty, 2000). Tempat-tempat penyuntikan pada ikan lele yaitu diotot bawah sirip punggung, pangkal sirip ekor, dan rongga perut dengan menggunakan kelenjar hopofisa dengan dosis 800 mg/kg. Jarigau (1992) menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa ayam. Sebelum di suntik ikan terlebih dahulu di bungkus dengan kain agar tidak bergerak sehingga memudahkan dalam proses penyuntikan. Pada pemijahan buatan dengan metode striping, telur dipaksa keluar dari tubuh induk ikan betina dengan cara diuruturut kemudian ditampung pada suatu wadah. Lalu segera dilakukan stripping pada induk jantan untuk mengeluarkan sperma secara paksa. Telur dan sperma kemudian di satukan dalam satu wadah lalu diaduk dengan alat lembut dan halus seperti bulu ayam sehingga tercampur dan terjadi pembuahan. Spermatozoa atau sperma adalah gamet jantan yang dihaslkan oleh testis melalui proses spermatogenesis. Cairan sperma adalah larutan spermatozoa yang berada dalam cairan seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testis (Hoar, 1969). Campuran semi plasma dengan spermatozoa disebut semen. Menurut Toelihere (1981), sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas, yang tidak bertumbuh dan membagi diri. Utuk melihat Spermatozoa pada ikan dapat dilahukan dengan cara striping/ pengurutan dan pembedahan, tapi dara yang kami gunakan adalah mengambil sperma pada ikan dengan cara membedah, sebelum di bedah terlebih dahulu ikan lele di pingsankan kemudian di bedah mulai dari perut ingga mendekati insang kemudian sperma pada ikan lele tadi di ambil kemudian ditimbang dengan berat 17 gr dan pH nya 7 (netral) kemudian diberi kelenjar hipofida dan diliat spermatozoanya dengan mikroskop. Teryata pada ikan lele jantan belum matang gonad, tingkat kenatangan gonadnya (TKG) III.

V PENUTUP

A.

Kesimpulan Hipofisasi adalah induksi pemijahan ikan yang pertama kali dikembangkan di Negara Brazil. Dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa pada ikan yang telah matang gonad. Tempat-tempat yang umum digunakan untuk menyuntik ikan yaitu otot di bawah sirip punggung (instramuskular), pangkal sirip ekor, dan rongga perut. Tingkat kematangan gonad ikan lele dalam suatu perairan tidak lah sama, tergantung terhadap kondisi ikan dan makan yang terjadi. Besar tubuh dan berat ikan mempengaruhi terhadap perkembangan gonad ikan tersebut. Pemijahan/ pengeluaran telur pada ikan dapat terjadi pada tahap ikan itu menginjak kematangan gonadnya pada fase Sali. Setelah memasuki fase itu, ikan akan siap mengeluarkan telurnya Jumlah telur yang dihasilkan, juga dipengaruhi oleh musim. Seperti halnya ikan lele.

Cairan sperma adalah larutan spermatozoa yang berada dalam cairan seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testis (Hoar, 1969). Campuran semi plasma dengan spermatozoa disebut semen. Menurut Toelihere (1981), sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas, yang tidak bertumbuh dan membagi diri. B. Saran Dalam penulisan laporan ini penulis menyadari masih banyak kekurangan serta kekeliruan baik dari segi materi maupun penulisan, dikarenakan terbatasnya leteratur yang menjadi bahan acuan untuk menyusun laporan ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan keritik dan saran kepada pembaca yang bersifat membangun bagi penulis agar dalam pembuatan laporan selanjutnya dapat lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

http://alamendah.wordpress.com/2009/09/21/klasifikasi-dan-jenis-ikan-lele/ file:///D|/E-Learning/Iktologi/Textbook/Cover%20Buku%20ajar%20(ikhtiologi).htm http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/teknik-pemijahan-lele-dumbo-sistem-induced-breeding-kawin-suntik/ http://zaldibiaksambas.wordpress.com/2010/06/21/aspek-biologi-reproduksi-ikan-lele-clarias-batrachus/

Sel sperma adalah sel padat yang tidak tumbuh atau membelah diri. Sel sperma hanya bertujuan untuk membuahi sel telur. Jumlah Sperma yang dihasilkan oleh ikan jantang beraneka ragam volum dan maupun kualitasnya, hal ini dipengaruhi oleh umur, ukuran dan frekuensi pengeluaran sperma (Kazakou, 1981 dalam Sutrisna, 2002) selain tiu faktor eksternal lain yang mempengaruhi adalah musim, frekuensi pemijahan, jumlah ikan betina yang akan dibuahi dan konsisi pemijahan. Sperma bergerak dengan bantuan bagian ekornya. Sperma yang berkualitas akan bergerak melawan aliran air. Faktor luar yang yang berpengaruh terhadap penetasan telur ikan adalah suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan intensitas cahaya. Proses penetasan umumnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi karena pada suhu yang tinggi proses metabolismo berjalan lebih cepat sehingga perkembangan embrio akan lebih cepat yang berakibat lanjut pada pergerakan embrio dalam cangkang yang lebih intensif. Namur demikian, suhu yang terlalu tinggi atau berubah mendadak dapat menghambat proses penetasan dapat menyebabkan kematian embrio dan kegagalan penetasan. Suhu yang baik untuk penetasan ikan 27 300C. Kelarutan oksigen terlarut dan intensitas cahaya akan mempengaruhi proses penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi sejumlah organ embrio. Cahaya yang kyat dapat menyebabkan laja penetasan yang cepat, kematian dan pertumbuhan embrio yang jelek serta figmentasi yang banyak yang berakibat pada terganggunya proses penetasan. Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap bak penetasan di pasang aerasi. Telur akan menetas tergantung dari suhu air bak penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat. Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. Telur ikan lele dumbo, ikanpatin dan bawal akan menetas menjadi larva antara 18 24 jam dari saat pembuahan. Sumantadinata (1983) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah : 1.Kualitas telur. Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat kematangan telur. 2.Lingkungan yaitu kualitas air terdiri dari suhu, oksigen, karbon-dioksida, amonia, dll. 3.Gerakan air yang terlalu kuat yang menyebabkan terjadinya benturan yang keras di antara telur atau benda lainnya sehingga mengakibatkan telur pecah.

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar yang spesifik. Modul minimal memuat tujuan pembelajaran, materi/substansi belajar, dan evaluasi. Modul berfungsi sebagai sarana belajar yang bersifat mandiri, sehingga peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan masingmasing.

Untuk menghasilkan modul yang mampu meningkatkan motivasi belajar, pengembangan modul harus memperhatikan karakteristik yang diperlukan sebagai modul seperti dibawah. 1. Self Instruction Merupakan karakteristik penting dalam modul, dengan karakter tersebut memungkinkan seseorang belajar secara mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instruction, maka modul harus: 1. Memuat tujuan pembelajaran yang jelas, dan dapat menggambarkan pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. 2. Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang kecil/spesifik, sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas; 3. Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi pembelajaran; 4. Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik; 5. Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik; 6. Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, 7. Terdapat rangkuman materi pembelajaran; 8. Terdapat instrumen penilaian, yang memungkinkan peserta didik melakukan penilaian mandiri (self assessment); 9. Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik, sehingga peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi; 10. Terdapat informasi tentang rujukan/ pengayaan/referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud. 2. Self Contained Modul dikatakan self contained bila seluruh materi pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena materi belajar dikemas kedalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu standar kompetensi/kompetensi dasar, harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan standar kompetensi/kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. 3. Berdiri Sendiri (Stand Alone) Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik modul yang tidak tergantung pada bahan ajar/media lain, atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar/media lain. Dengan menggunakan modul, peserta didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih menggunakan dan bergantung pada bahan ajar lain selain modul yang digunakan, maka bahan ajar tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang berdiri sendiri. 4. Adaptif

Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes digunakan di berbagai perangkat keras (hardware). 5. Bersahabat/Akrab (User Friendly) Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly atau bersahabat/akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan istilah yang umum digunakan, merupakan salah satu bentuk user friendly. Selain karakteristik, dalam pembuatan modul juga harus mempertimbangkan desain modul. Desain Langkah awal yang perlu dilakukan dalam pengembangan suatu modul adalah menetapkan desain atau rancangannya. Desain menurut Oemar Hamalik (1993) adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan suatu kegiatan. Kedudukan desain dalam pengembangan modul adalah sebagai salah satu dari komponen prinsip pengembangan yang mendasari dan memberi arah teknik dan tahapan penyusunan modul. PRINSIP PENGEMBANGAN MODUL Di dalam pengembangan modul, terdapat sejumlah prinsip yang perlu diperhatikan. Modul harus dikembangkan atas dasar hasil analisis kebutuhan dan kondisi. Perlu diketahui dengan pasti materi belajar apa saja yang perlu disusun menjadi suatu modul, berapa jumlah modul yang diperlukan, siapa yang akan menggunakan, sumberdaya apa saja yang diperlukan dan telah tersedia untuk mendukung penggunaan modul, dan hal-hal lain yang dinilai perlu. Selanjutnya, dikembangkan desain modul yang dinilai paling sesuai dengan berbagai data dan informasi objektif yang diperoleh dari analisis kebutuhan dan kondisi. Bentuk, struktur dan komponen modul seperti apa yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan dan kondisi yang ada. Berdasarkan desain yang telah dikembangkan, disusun modul per modul yang dibutuhkan. Proses penyusunan modul terdiri dari tiga tahapan pokok. Pertama, menetapkan strategi pembelajaran dan media pembelajaran yang sesuai. Pada tahap ini, perlu diperhatikan berbagai karakteristik dari kompetensi yang akan dipelajari, karakteristik peserta didik, dan karakteristik konteks dan situasi dimana modul akan digunakan. Kedua, memproduksi atau mewujudkan fisik modul. Komponen isi modul antara lain meliputi: tujuan belajar, prasyarat pembelajar yang diperlukan, substansi atau materi belajar, bentuk-bentuk kegiatan belajar dan komponen pendukungnya. Ketiga, mengembangkan perangkat penilaian. Dalam hal ini, perlu diperhatikan agar semua aspek kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap terkait) dapat dinilai berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan. Modul yang telah diproduksi kemudian digunakan / dimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar dilaksanakan sesuai dengan alur yang telah digariskan dalam modul. Kegiatan belajar diakhiri dengan kegiatan penilaian hasil belajar. Pelaksanaan penilaian juga mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam modul.

Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi lebih dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur apakah implementasi pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembangannya. Bila tidak atau kurang optimal, maka modul perlu diperbaiki sesuai dengan hasil evaluasi. Sedangkan validasi, lebih ditujukan untuk mengetahui dan mengukur apakah materi/isi modul masih sesuai (valid) dengan perkembangan kebutuhan dan kondisi yang berjalan saat ini. Karena modul telah disusun beberapa waktu sebelumnya, ada kemungkinan isi modul sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan yang ada. Karenanya, perlu disesuaikan dengan perkembangan. Maksud dari prinsip jaminan kualitas adalah, bahwa modul senantiasa harus selalu dipantau efektivitas dan efisiensinya. Modul harus efektif untuk mencapai tujuan kegiatan belajar mengajar. Selain itu juga harus efisien dalam implementasinya. Kesemuanya (efektif dan efisien) harus diyakini (assured) dapat terjadi. Seluruh prinsip di atas, selain bersifat siklus, satu dengan lainnya saling terkait dan memberi umpan balik. Adanya satu informasi ketidaksesuaian dengan yang diharapkan dari satu prinsip, menjadi balikan bagi komponen prinsip yang lain. Elemen Mutu Modul Untuk menghasilkan modul pembelajaran yang mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif, modul perlu dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan beberapa elemen yang mensyaratkannya, yaitu: format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, spasi kosong, dan konsistensi. 1. Format a. Gunakan format kolom (tunggal atau multi) yang proporsional. Penggunaan kolom tunggal atau multi harus sesuai dengan bentuk dan ukuruan kertas yang digunakan. Jika menggunakan kolom multi, hendaknya jarak dan perbandingan antar kolom secara proporsional. b. c. Gunakan format kertas (vertikal atau horisontal) yang tepat. Penggunaan format kertas secara vertikal atau Gunakan tanda-tanda (icon) yang mudah ditangkap dan bertujuan untuk menekankan pada hal-hal yang horizontal harus memperhatikan tata letak dan format pengetikan. dianggap penting atau khusus. Tanda dapat berupa gambar, cetak tebal, cetak miring atau lainnya. 2. Organisasi a. b. c. d. e. 3. Tampilkan peta/bagan yang menggambarkan cakupan materi yang akan dibahas dalam modul. Organisasikan isi materi pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis, sehingga memudahkan Susun dan tempatkan naskah, gambar dan ilustrasi sedemikian rupa sehingga informasi mudah mengerti oleh Organisasikan antarbab, antarunit dan antarparagrap dengan susunan dan alur yang memudahkan peserta didik Organisasikan antar judul, subjudul dan uraian yang mudah diikuti oleh peserta didik. Daya Tarik

peserta didik memahami materi pembelajaran. peserta didik. memahaminya.

Daya tarik modul dapat ditempatkan di beberapa bagian seperti:

a. b. c. a. b. c. 5.

Bagian sampul (cover) depan, dengan mengkombinasikan warna, gambar (ilustrasi), bentuk dan ukuran huruf Bagian isi modul dengan menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar atau ilustrasi, pencetakan huruf Tugas dan latihan dikemas sedemikian rupa sehingga menarik. Gunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta didik. Gunakan perbandingan huruf yang proporsional antar judul, sub judul dan isi naskah. Hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruh teks, karena dapat membuat proses membaca menjadi sulit. Ruang (spasi kosong)

yang serasi. tebal, miring, garis bawah atau warna. 4. Bentuk dan Ukuran Huruf

Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk menambah kontras penampilan modul. Spasi kosong dapat berfungsi untuk menambahkan catatan penting dan memberikan kesempatan jeda kepada peserta didik/peserta didik. Gunakan dan tempatkan spasi kosong tersebut secara proporsional. Penempatan ruang kosong dapat dilakukan di beberapa tempat seperti: a. b. c. d. e. f. g. h. 6. Ruangan sekitar judul bab dan subbab. Batas tepi (marjin); batas tepi yang luas memaksa perhatian peserta didik untuk masuk ke tengah-tengah Spasi antarkolom; semakin lebar kolomnya semakin luas spasi diantaranya. Pergantian antarparagraf dan dimulai dengan huruf kapital. Pergantian antarbab atau bagian. Gunakan bentuk dan huruf secara konsisten dari halam ke halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan Gunakan jarak spasi konsisten. Jarak antar judul dengan baris pertama, antara judul dengan teks utama. Jarak Gunakan tata letak pengetikan yang konsisten, baik pola pengetikan maupun margin/batas-batas pengetikan. Konsistensi

halaman.

beberapa cetakan dengan bentuk dan ukuran huruf yang terlalu banyak variasi. baris atau spasi yang tidak sama sering dianggap buruk, tidak rapih.

Langkah-langkah Penyusunan Modul Penulisan modul dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Analisis Kebutuhan Modul Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan menganalisis silabus dan RPP untuk memperoleh informasi modul yang dibutuhkan peserta didik dalam mempelajari kompetensi yang telah diprogramkan. Nama atau judul modul sebaiknya disesuaikan dengan kompetensi yang terdapat pada silabus dan RPP. Pada dasarnya tiap satu standar kompetensi dikembangkan menjadi satu modul dan satu modul terdiri dari 2-4 kegiatan pembelajaran. Perlu disampaikan bahwa yang dimaksud kompetensi disini adalah standar kompetensi dan kegiatan pembelajaran adalah kompetensi dasar.

Tujuan analisis kebutuhan modul adalah untuk mengidentifikasi dan menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan dalam satu satuan program tertentu. Satuan program tersebut dapat diartikan sebagai satu tahun pelajaran, satu semester, satu mata pelajaran atau lainnya. Analisis kebutuhan modul sebaiknya dilakukan oleh tim, dengan anggota terdiri atas mereka yang memiliki keahlian pada program yang dianalisis. Analisis kebutuhan modul dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1. Tetapkan satuan program yang akan dijadikan batas/lingkup kegiatan. Apakah merupakan program tiga tahun, program satu tahun, program semester atau lainnya. 2. Periksa apakah sudah ada program atau rambu-rambu operasional untuk pelaksanaan program tersebut. Misal program tahunan, silabus, RPP, atau lainnya. Bila ada, pelajari program-program tersebut. 3. Identifikasi dan analisis standar kompetensi yang akan dipelajari, sehingga diperoleh materi pembelajaran yang perlu dipelajari untuk menguasai standar kompetensi tersebut. 4. Selanjutnya, susun dan organisasi satuan atau unit bahan belajar yang dapat mewadahi materi-materi tersebut. Satuan atau unit ajar ini diberi nama, dan dijadikan sebagai judul modul. 5. Dari daftar satuan atau unit modul yang dibutuhkan tersebut, identifikasi mana yang sudah ada dan yang belum ada/tersedia di sekolah. 6. Lakukan penyusunan modul berdasarkan prioritas kebutuhannya. Untuk menganalisis kebutuhan modul dapat menggunakan format berikut. Format Analisis Kebutuhan Modul Mata Pelajaran Standar Kompetensi : : Ketersediaan Kompetensi Dasar Pengetahuan Keterampilan Sikap Judul Modul Belum Tersedia Tersedia

Setelah kebutuhan modul ditetapkan, langkah berikutnya adalah membuat peta modul. Peta modul adalah tata letak atau kedudukan modul pada satu satuan program yang digambarkan dalam bentuk diagram. Pembuatan peta modul disusun mengacu kepada diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam KTSP. Setiap judul modul dianalisis keterkaitannya dengan judul modul yang lain dan diurutkan penyajiannya sesuai dengan urutan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Pemetaan modul dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Silabus/RPP Pengetahuan,Keterampilan, Sikap.

Analisis Kebutuhan Judul modul Daftar Judul Modul Pemetaan Peta Modul 2. Desain Modul

Desain penulisan modul yang dimaksud di sini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun oleh guru. Di dalam RPP telah memuat strategi pembelajaran dan media yang digunakan, garis besar materi pembelajaran dan metoda penilaian serta perangkatnya. Dengan demikian, RPP diacu sebagai desain dalam penyusunan/penulisan modul. Penulisan modul belajar diawali dengan menyusun buram modul. Modul yang dihasilkan dinyatakan sebagai buram sampai dengan selesainya proses validasi dan uji coba. Bila hasil uji coba telah dinyatakan layak, barulah suatu modul dapat diimplementasikan secara riil di lapangan. Penulisan modul dilakukan sesuai dengan RPP. Namun, apabila RPP belum ada, maka dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Tetapkan kerangka bahan yang akan disusun. 2. Tetapkan tujuan akhir (performance objective), yaitu kemampuan yang harus dicapai peserta didik setelah selesai mempelajari suatu modul. 3. Tetapkan tujuan antara (enable objective), yaitu kemampuan spesifik yang menunjang tujuan akhir. 4. Tetapkan sistem (skema/ketentuan, metoda dan perangkat) evaluasi. 5. Tetapkan garis-garis besar atau outline substansi atau materi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu komponen-komponen: kompetensi (SK-KD), deskripsi singkat, estimasi waktu dan sumber pustaka. Bila RPP-nya sudah ada, maka dapat diacu untuk langkah ini. 6. Materi/substansi yang ada dalam modul berupa konsep/prinsip-prinsip, fakta penting yang terkait langsung dan mendukung untuk pencapaian kompetensi dan harus dikuasai peserta didik. 7. Tugas, soal, dan atau praktik/latihan yang harus dikerjakan atau diselesaikan oleh peserta didik. 8. Evaluasi atau penilaian yang berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menguasai modul 9. Kunci jawaban dari soal, latihan dan atau tugas. Langkah-langkah penyusunan buram modul dapat dilihat pada alur berikut ini. Buram Modul Analisis Materi RPP

Perumusan Tugas/Praktik Penyusunan Evaluasi Tes Kognitif Tes Psikomotor Tes Sikap Penyusunan Kunci Jawaban Tugas/Praktik Untuk Penguatan Kognitif dan Psikomotorik Kunci Jawaban Kerangka Modul Tujuan AkhirTujuan Antara Perumusan Tujuan PENYUSUNAN BURAM MODUL Perumusan Evaluasi Sistem Evaluasi Sebelum modul diimplementasikan, perlu diuji coba terlebih dahulu. Uji coba dilakukan terhadap buram modul yang telah dinyatakan valid. Karena modul telah dinyatakan valid tidak berarti modul tersebut siap digunakan. Uji coba buram modul dimaksudkan untuk mengetahui apakah buram modul dapat diimplementasikan pada situasi dan kondisi sesungguhnya. Langkah ini dapat membantu meningkatkan efisiensi penyiapan modul, sebelum diperbanyak untuk kepentingan pembelajaran. Hal-hal yang perlu diujicoba antara lain adalah: 1. Kemudahan bahan ajar digunakan oleh peserta didik dalam proses belajar. 2. Kemudahan guru dalam menyiapkan fasilitas (alat dan bahan) belajar, mengelola proses pembelajaran, dan dalam mengadministrasi-kannya. Untuk melakukan uji coba buram modul dapat diikuti langkah-langkah berikut ini: 1. Siapkan perangkat untuk uji coba (kriteria modul yang layak dan kuesioner kelayakan modul). Penyiapan sebaiknya dilakukan oleh tim. 2. Tentukan responden uji coba. sesuai dengan kondisi. 3. Siapkan dan gandakan buram modul yang akan diujicobakan sesuai dengan jumlah responden. 4. Siapkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk mengimplementasikan modul. 5. Informasikan kepada responden tentang tujuan uji coba dan kegiatan yang harus dilakukan oleh responden. 6. Lakukan uji coba sebagaimana melakukan kegiatan pembelajaran dengan modul. sesungguhnya 7. Kumpulkan data hasil uji coba. 8. Olah data dan simpulkan hasilnya.

Bila hasil uji coba buram modul layak, berarti modul tersebut siap diimplemtasikan untuk kepentingan pembelajaran yang sesungguhnya, siap dicetak dan diperbanyak. Sebaliknya, bila belum layak, maka harus dilakukan perbaikan seperlunya, sesuai dengan masukan pada saat uji coba. 3. Implementasi Implementasi modul dalam kegiatan belajar dilaksanakan sesuai dengan alur yang telah digariskan dalam modul. Bahan, alat, media dan lingkungan belajar yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran diupayakan dapat dipenuhi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Strategi pembelajaran dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan skenario yang ditetapkan. 4. Penilaian Penilaian hasil belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta didik setelah mempelajari seluruh materi yang ada dalam modul. Pelaksanaan penilaian mengikuti ketentuan yang telah dirumuskan di dalam modul. Penilaian hasil belajar dilakukan menggunakan instrumen yang telah dirancang atau disiapkan pada saat penulisan modul. 5. Evaluasi dan Validasi Modul yang telah dan masih digunakan dalam kegiatan pembelajaran, secara periodik harus dilakukan evaluasi dan validasi. Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui dan mengukur apakah implementasi pembelajaran dengan modul dapat dilaksanakan sesuai dengan desain pengembangannya. Untuk keperluan evaluasi dapat dikembangkan suatu instrumen evaluasi yang didasarkan pada karakteristik modul tersebut. Instrumen ditujukan baik untuk guru maupun peserta didik, karena keduanya terlibat langsung dalam proses implementasi suatu modul. Dengan demikian hasil evaluasi dapat objektif. Validasi merupakan proses untuk menguji kesesuaian modul dengan kompetensi yang menjadi target belajar. Bila isi modul sesuai, artinya efektif untuk mempelajari kompetensi yang menjadi target berlajar, maka modul dinyatakan valid (sahih). Validasi dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli yang menguasai kompetensi yang dipelajari. Bila tidak ada, maka dilakukan oleh sejumlah guru yang mengajar pada bidang atau kompetensi tersebut. Validator membaca ulang dengan cermat isi modul. Validator memeriksa, apakah tujuan belajar, uraian materi, bentuk kegiatan, tugas, latihan atau kegiatan lainnya yang ada diyakini dapat efektif untuk digunakan sebagai media mengasai kompetensi yang menjadi target belajar. Bila hasil validasi ternyata menyatakan bahwa modul tidak valid maka modul tersebut perlu diperbaiki sehingga menjadi valid. 6. Jaminan Kualitas Untuk menjamin bahwa modul yang disusun telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam pengembangan suatu modul, maka selama proses pembuatannya perlu dipantau untuk meyakinkan bahwa modul telah disusun sesuai dengan desain yang ditetapkan. Demikian pula, modul yang dihasilkan perlu diuji apakah telah memenuhi setiap elemen mutu yang berpengaruh terhadap kualitas suatu modul. Untuk kepentingan penjaminan mutu suatu modul, dapat dikembangkan suatu standar operasional prosedur dan instrumen untuk menilai kualitas suatu modul. B. Penulisan Modul

1.

Kerangka Modul

Sebaiknya dalam pengembangan modul dipilih struktur atau kerangka yang sederhana dan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Kerangka modul tersusun sebagai berikut: Kata Pengantar Daftar Isi Peta Kedudukan Modul Glosarium I. PENDAHULUAN 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 2. Deskripsi 3. Waktu 4. Prasyarat 5. Petunjuk Penggunaan Modul 6. Tujuan Akhir A. Cek Penguasaan Standar Kompetensi II. PEMBELAJARAN 1. Pembelajaran 1 A. Tujuan B. Uraian Materi C. Rangkuman D. Tugas E. Tes i. ii. Lembar Kerja Praktik Pembelajaran 2 n (dan seterusnya, mengikuti jumlah pembelajaran yang dirancang) a. Tujuan b. Uraian Materi c. Rangkuman d. Tugas e. Tes III. EVALUASI 1. Tes Kognitif 2. Tes Psikomotor 3. Penilaian Sikap KUNCI JAWABAN DAFTAR PUSTAKA

2.

Deskripsi Kerangka

Halaman Sampul Berisi antara lain: label kode modul, label milik negara, bidang/program studi keahlian dan kompetensi keahlian, judul modul, gambar ilustrasi (mewakili kegiatan yang dilaksanakan pada pembahasan modul), tulisan lembaga seperti Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan SMK, tahun modul disusun. Kata Pengantar Memuat informasi tentang peran modul dalam proses pembelajaran. Daftar Isi Memuat kerangka (outline) modul dan dilengkapi dengan nomor halaman. Peta Kedudukan Modul Diagram yang menunjukkan kedudukan modul dalam keseluruhan program pembelajaran (sesuai dengan diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam KTSP). Glosarium Memuat penjelasan tentang arti dari setiap istilah, kata-kata sulit dan asing yang digunakan dan disusun menurut urutan abjad (alphabetis). I. PENDAHULUAN A. B. Standar Kompetensi Deskripsi Standar kompetensi yang akan dipelajari pada modul Penjelasan singkat tentang nama dan ruang lingkup isi modul, kaitan modul dengan modul lainnya, hasil belajar yang akan dicapai setelah menyelesaikan modul, serta manfaat kompetensi tersebut dalam proses pembelajaran dan kehidupan secara umum. C. D. Waktu Prasyarat Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi yang menjadi target belajar. Kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari modul tersebut, baik berdasarkan bukti penguasaan modul lain maupun dengan menyebut kemampuan spesifik yang diperlukan. E. Petunjuk Penggunaan Modul 1. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mempelajari modul secara benar, 2. Perlengkapan, seperti sarana/prasarana/ fasilitas yang harus dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan belajar , F. Tujuan Akhir Pernyataan tujuan akhir (performance objective) yang hendak dicapai peserta didik setelah menyelesaikan suatu modul. Rumusan tujuan akhir tersebut harus memuat 1. Kinerja (perilaku) yang diharapkan Memuat panduan tatacara menggunakan modul, yaitu

2. Kriteria keberhasilan 3. Kondisi atau variable yang diberikan G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi Berisi tentang daftar pertanyaan yang akan mengukur penguasaan awal kompetensi peserta didik, terhadap kompetensi yang akan dipelajari pada modul ini. Apabila peserta didik telah menguasai standar kompetensi/ kompetensi dasar yang akan dicapai, maka peserta didik dapat mengajukan uji kompetensi kepada penilai. II. PEMBELAJARAN A. Pembelajaran 1 Kompetensi dasar yang hendak dipelajari. Tujuan Memuat kemampuan yang harus dikuasai untuk satu kesatuan kegiatan belajar. Rumusan tujuan kegiatan belajar relatif tidak terikat dan tidak terlalu rinci. Uraian Materi Berisi uraian pengetahuan/ konsep/ prinsip tentang kompetensi yang sedang dipelajari. Rangkuman Berisi ringkasan pengetahuan / konsep / prinsip yang terdapat pada uraian materi. Tugas Berisi instruksi tugas yang bertujuan untuk penguatan pemahaman terhadap konsep/ pengetahuan/prinsip-prinsip penting yang dipelajari. Bentuk-bentuk tugas dapat berupa: 1. Kegiatan observasi untuk mengenal fakta, 2. Studi kasus, 3. Kajian materi, 4. Latihan-latihan. Setiap tugas yang diberikan perlu dilengkapi dengan lembar tugas, instumen observasi, atau bentuk-bentuk instrumen yang lain sesuai dengan bentuk tugasnya Tes Berisi tes tertulis sebagai bahan pengecekan bagi peserta didik dan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hasil belajar yang telah dicapai, sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan berikut. Lembar Kerja Praktik Berisi petunjuk atau prosdur kerja suatu kegiatan praktik yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka penguasaan kemampuan psikomotorik. Isi lembar kerja antara lain: alat dan bahan yang digunakan, petunjuk tentang keamanan/keselamatan kerja yang harus diperhatikan, langkah kerja, dan gambar kerja (jika diperlukan) sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Lembar kerja perlu dilengkapai dengan lembar pengamatan yang dirancang sesuai dengan kegiatan praktik yang dilakukan. III. EVALUASI

Teknik atau metoda evaluasi harus disesuaikan dengan ranah (domain) yang dinilai, serta indikator keberhasilan yang diacu. A. Tes Kognitif Instrumen penilaian kognitif dirancang untuk mengukur dan menetapkan tingkat pencapaian kemampuan kognitif (sesuai standar kompetensi dasar). Soal dikembangkan sesuai dengan karakteristik aspek yang akan dinilai dan dapat menggunakan jenis-jenis tes tertulis yang dinilai cocok. B. Tes Psikomotor Instrumen penilaian psikomotor dirancang untuk mengukur dan menetapkan tingkat pencapaian kemampuan psikomotorik dan perubahan perilaku (sesuai standar kompetensi/kompetensi dasar). Soal dikembangkan sesuai dengan karakteristik aspek yang akan dinilai. C. Penilaian Sikap Instrumen penilaian sikap dirancang untuk mengukur sikap kerja (sesuai kompetensi/ standar kompetensi dasar). KUNCI JAWABAN Berisi jawaban pertanyaan dari tes yang diberikan pada setiap kegiatan pembelajaran dan evaluasi pencapaian kompetensi, dilengkapi de This entry was posted in pendidikan by mohammad muzakki. Bookmark the permalink.

TEKNIK PENYUSUNAN MODUL PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN Berlakunya kurikulum baru, yaitu KTSP memberikan nuansa baru dalam dunia pendidik-an, terutama nuansa aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan di kelas oleh guru. Guru-guru diharapkan semaksimal mungkin memberikan sentuhan pembelajaran yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan membuat inovasi dan penciptaan kreativitas yang dapat memuncul-kan sesuatu yang baru, baik dalam hal metode, media, maupun sumber belajar yang lebih memadai dan bermakna. Seiring dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini, guru-guru dipacu untuk mampu mengembangkan profesionalisme melalui daya kreasinya dalam menciptakan pembelajaran yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Kreativitas ini bukan hanya dalam hal menciptakan metode dan strategi pembelajaran yang lebih menarik, bermakna, dan menyenangkan, tetapi juga dalam penyediaan sarana belajar yang lebih variatif dan fungsional agar mampu mendukung kelancaran dan keberhasilan pembelajaran peserta didik. Sebagai guru yang kualifikasinya minimal S-1 tentu sudah memiliki bekal yang relatif memadai tentang bagaimana menuliskan bahan ajarnya ke dalam bentuk baku yang mudah diperbanyak, yaitu dalam bentuk cetak, dapat berupa handout, LKS, modul, maupun diktat. Keberadaan buku ajar bukan satu-satunya sarana pembelajaran bagi peserta didik saat ini, meskipun buku ajar berisi materi seperti yang ditetapkan dalam kurikulum, peserta didik juga memerlukan pegangan sumber belajar lainnya agar pembelajaran lebih hidup dan terarah. Pada kenyataannya guru memiliki segudang tugas dan kewajiban yang sangat menyita waktunya, mulai dari mempersipkan pembelajaran, mengajar di kelas, mengevaluasi dan mengoreksi, sampai pada tugas administrasi yang masih dibebankan kepadanya. Hal inilah yang sering menjadi alasan ketidakberdayaan guru untuk mengembangkan diri dalam hal menyusun dan mengembangkan bahan ajar. Akhirnya, proses pembelajaran berlangsung dengan sumber belajar yang sudah tersedia, yaitu buku ajar dari berbagai penerbit yang ada. Berkaitan dengan hal itu, maka sudah waktunya guru memiliki kemampuan tambahan selain mengajar, yaitu mengembangkan dan menyusun bahan ajar, khususnya yang berupa bahan ajar bentuk cetak. Dengan menyusun bahan ajar sendiri diharapkan lebih mengena, karena guru berhubungan langsung dengan mereka sehingga lebih memahami sifat dan karakter peserta didiknya. Oleh karena itu sangat penting bagi guru memperoleh pengetahuan tentang bagaimana mengembangkan dan menyusun bahan ajar bentuk cetak, mulai dari bentuk sederhana sepertihandout, LKS sampai pada bentuk yang memerlukan pemikiran yang lebih lama dan mendalam, seperti diktat, modul, dan buku ajar.

PENTINGNYA BAHAN AJAR DALAM PEMBELAJARAN Pembelajaran adalah suatu sistem yang lebih sempit dari sistem pendidikan. Namun melalui sistem pembelajaran inilah peserta didik dibentuk kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Sebagai suatu sistem, pembelajaran

memiliki berbagai komponen yang berperan dan berinter-aksi dengan komponen lain dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Salah satu komponen yang penting dalam sistem pembelajaran adalah keberadaan bahan ajar bagi peserta didik. Dalam meningkatkan kompetensinya, guru memerlukan bantuan berbagai bahan ajar, baik yang berupa handout, buku ajar, modul, LKS, dan lain-lain yang dapat membantu melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan lancar. Bahan ajar merupakan salah satu masukan (input) dalam proses pembelajaran yang merupakan pendekatan implementasi kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, ketika kurikulum suatu negara berubah, maka secara otomatis bahan ajar yang digunakannyapun berubah (Nasution, 1982 : 119 120). Bahan ajar dipandang sebagai sarana yang harus secara jelas dapat mengkomunikasikan informasi, konsep, pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami dengan baik oleh guru dan peserta didik. Bahan ajar juga harus mampu menyajikan suatu objek secara terurut bagi keperluan pembelajaran dan memberikan sentuhan nilai-nilai afektif, sosial, dan kultural yang baik agar dapat secara komprehensif menjadikan peserta didik bukan hanya dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya, tetapi juga afektif dan psikomotoriknya. Tidak pernah terbersit dalam benak seorang guru jika dalam mengajar tidak memerlukan bahan ajar. Hal ini artinya bahan ajar, baik dalam bentuk buku, modul, LKS atau bentuk-bentuk yang lain merupakan komponen integral yang sangat dibutuhkan dalam membantu kelancaran proses pembelajaran di kelas. Oleh karena pentingnya bahan ajar tersebut, sudah sewajarnya setiap guru belajar menyediakan bahan ajar itu sendiri agar bahan ajar tersebut benar-benar sesuai dan tepat dalam membantu belajar peserta didik.

MODUL 1. PENGERTIAN MODUL Munculnya istilah modul didasari atas pemikiran adanya perbedaan individual pada siswa yang perlu mendapat perhatian dalam proses pembelajaran. Modul sering pula dijumpai dengan istilah lain, seperti learning activity package (paket aktivitas belajar), individualized learning package (modul individual), learning package (paket belajar). Di Indonesia istilah modul untuk pertama kali dikemukakan dalam forum rapat antara 8 Proyek Perintis Sekolah Pembangunan di Cibulan Bogor pada bulan Februari 1974. Konsep modul yang ketika itu masih membingungkan bagi kebanyakan orang, kini sudah berkembang dengan pesat dan mulai tersebar di kalangan dunia pendidikan di Indonesia. Universitas Terbuka merupakan salah satu Universitas yang telah menggunakan modul dalam proses pembelajarannya. Menurut James D. Russel, modul adalah suatu paket yang memuat satu unit konsep dari bahan pelajaran. Sedangkan Goldschmid menyatakan modul sebagai yang dapat berdiri sendiri, unit independen dari sebuah aktivitas belajar yang terencana berseri yang disusun untuk membantu siswa melakukan tujuan yang telah dirancang dengan baik. Pendapat lain dikemukakan oleh Vembriarto, modul adalah satu unit program belajar-mengajar yang terkecil yang secara terperinci menegaskan tujuan, topik, pokok-pokok materi, peranan guru, alat-alat dan sumber belajar, kegiatan belajar, lembar kerja, dan program evaluasi.

Modul biasanya disajikan dalam bentuk pembelajaran mandiri (self instructional). Siswa dapat mengatur kecepatan dan intensitas belajarnya secara mandiri. Waktu belajar untuk menyelesaikan satu modul tidak harus sama, berbeda beberapa menit sampai beberapa jam. Modul dapat digunakan secara individual atau gabungan dalam suatu variasi urutan yang berbeda (Russell, 1973 : 3).

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

2. SIFAT MODUL Modul diartikan sebagai satu unit program belajar - mengajar yang mengandung : Kompetensi dasar yang akan ditunjang pencapaiannya. Topik yang akan dijadikan pangkal proses pembelajaran. Indikator yang akan dicapai oleh siswa. Pokok-pokok materi yang akan dipelajari dan diajarkan. Peranan guru di dalam proses pembelajaran. Alat-alat dan sumber belajar yang akan digunakan. Kegiatan belajar yang akan dilakukan dan dipahami siswa secara berurutan. Lembar kerja yang harus diisi oleh siswa. Program evaluasi yang akan dilaksanakan selama berjalannya proses belajar ini. Modul sebagai sumber belajar juga mempunyai sifat-sifat yang khas yang menjadikannya berbeda dengan model sumber belajar yang lain. Sifat-sifat tersebut adalah : Merupakan unit atau paket pembelajaran terkecil dan terlengkap. Memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncanakan dan sistematis. Memuat tujuan belajar (SK dan KD) yang dirumuskan secara eksplisit dan spesifik. Memungkinkan bagi siswa belajar secara mandiri (independent). Merupakan realisasi pengakuan perbedaan individual.

a. b. c. d. e.

3. KOMPONEN-KOMPONEN MODUL Menurut Vembriarto (1985 : 49 53), modul yang dikembangkan di Indonesia saat ini mengandung komponen sebagai berikut : a. Petunjuk Guru Petunjuk guru memuat penjelasan tentang bagaimana pembelajaran itu dapat dilakukan oleh guru secara efisien, yang menyangkut macam-macam kegiatan yang harus dikerjakan di kelas. Selain itu, juga memuat waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul, alat pelajaran, sumber yang digunakan, prosedur evaluasi, dan jenis evaluasi yang digunakan.

b. Lembar Kegiatan Siswa. Lembar ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Materi pelajaran disusun langkah demi langkah secara teratur dan sistematis sehingga siswa dapat mengikutinya dengan mudah dan cepat. Kegiatan yang harus dilakukan siswa, seperti observasi dan percobaan, serta buku yang harus dipelajari sebagai pelengkap materi dicantumkan pula dalam lembar ini.

c. Lembar Kerja Siswa Lembar ini terdiri dari pertanyaan atau masalah yang harus dijawab dan dipecahkan oleh siswa. Pada lembar kerja siswa tidak boleh membuat coretan, karena modul akan digunakan oleh siswa yang berbeda di lain waktu. Semua pekerjaan yang dilakukan siswa ditulis pada lembar kerja siswa.

d. Kunci Lembar Kerja Siswa Adanya kunci lembar kerja memungkinkan siswa untuk mengecek ketepatan hasil pekerjaannya. Dengan kunci lembar kerja ini akan terjadi konfirmasi dengan segera terhadap jawaban yang benar dan koreksi terhadap jawaban yang salah.

e. Lembar Evaluasi Penilaian guru terhadap tercapai tidaknya tujuan yang dirumuskan pada modul oleh siswa, ditentukan oleh hasil ujian akhir yang terdapat pada lembar evaluasi. Lembar evaluasi dan kuncinya harus disimpan oleh guru. f. Kunci Lembar Evaluasi Kunci lembar evaluasi juga ditulis oleh penyusun modul untuk mencocokkan jawaban siswa. Jawaban siswa dapat digunakan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan (kompetensi dasar) yang dirumuskan pada modul.

4. TEKNIK PENYUSUNAN MODUL YANG BAIK DAN MENARIK Meskipun modul yang kita susun sudah mengikuti langkah-langkah penyusunan modul yang benar, tetapi belum tentu modul tersebut mampu membangkitkan semangat belajar mandiri pada diri siswa. Hal ini kemungkinan kita lupa bahwa selain baik dan benar. Modul juga harus dibuat dalam kemasan yang menarik. Seperti kita ketahui, berbagai hal yang menarik pasti akan menimbulkan minat untuk melihat dan menelusuri lebih jauh isi dari modul. Modul yang beredar di pasaran yang sering digunakan sebagai acuan mungkin dari segi format sudah sangat memenuhi syarat, namun terkadang kita lupa mempertimbangkan dan memperhatikan nilai estetika dan grafika sebagai salah satu aspek yang dapat menarik perhatian siswa. Sebagai contoh, ketika memaparkan lembar kegiatan siswa, sedapat mungkin kita tampilkan kegiatan yang berbeda dari biasanya tetapi menggunakan peralatan dan bahan yang mudah diperoleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain untuk menghilangkan kejenuhan siswa yang harus selalu berkutat dengan bahan dan alat kimia di lab, juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, karena semuanya berkaitan dengan kehidupan siswa atau bersifat kontekstual. Namun demikian, pada lembar kegiatan siswa tidak selalu harus berupa percobaan, bisa berupa observasi atau pendalaman konsep melalui paparan berbagai gambar. Semua itu dapat menarik, asalkan kita dapat mengemasnya dalam bentuk kegiatan yang tidak membosankan dan memberi kebebasan siswa berkreasi dan berinisiatif sendiri.

Demikian pula paparan tentang lembar kerja siswa, jangan hanya berisi pertanyaan / masalah yang harus dijawab secara terpisah-pisah, tetapi usahakan pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan berantai yang bersifat inkuiri, yaitu ke arah penemuan konsep yang utuh dari konsep yang menjadi judul modul tersebut. Guru diharapkan membiarkan siswa mencoba mencari jawaban pertanyaan dalam modul. Setelah semua siswa berusaha dengan jawaban masing-masing, barulah guru membantu mengambil kesimpulan dengan cara mengarahkan pada jawaban yang benar. Jadi, pada pembelajaran dengan modul jelas bahwa seorang guru harus memberi pemantapan dalam pemahaman konsep yang dilakukan siswa, bukan berarti guru memberitahu langsung tetapi mengarahkan siswa menemukan jawaban sendiri. Hal ini berarti dalam pembelajaran dengan menggunakan modul, guru tidak hanya diam (pasif) dan memperhatikan aktivitas siswanya, tetapi juga perlu berpikir mencari cara untuk membantu siswa agar dapat mempelajari modul dengan baik dan lancar. Pemantapan dari guru menuju kesimpulan yang benar diperlukan meskipun ada kunci lembar kerja siswa, karena kunci tersebut hanya berupa jawaban singkat yang tidak banyak mengandung penjelasan. Namun demikian, kunci ini bermanfaat sebagai pegangan siswa ketika mengulang kembali materi tersebut di rumah. Untuk lembar evaluasi, akan lebih baik bila tidak hanya berisi soal bentuk pilihan ganda seperti yang terdapat dalam modul model UT. Hal ini karena, soal bentuk pilihan ganda selalu memunculkan guessing (tebakan) bagi siswa, sehingga kemampuan kognitif yang lebih tinggi (analisis, sintesis, dan evaluasi) tidak akan terungkap. Sebenarnya bisa saja soal tetap dalam bentuk pilihan ganda, tetapi siswa diminta membuat jawaban lengkap hingga ia sampai pada jawaban salah satu option yang tersedia. Tentu saja, tugas guru untuk mengoreksi jawaban itu sebagai tanggung jawab terhadap kemajuan belajar siswa. Sangat tidak dianjurkan untuk memberikan soal dalam bentuk uraian, tetapi sudah dituliskan urutan penyelesaiannya, karena cara demikian akan mematikan kreativitas siswa dalam menyelesaikan soal. Bukankah, banyak jalan menuju pemecahan soal ? Demikian pula untuk kunci lembar evaluasi, sebaiknya soal-soal yang berupa perhi-tungan, tidak diberi kunci lengkap dengan langkah-langkahnya, tetapi cukup diberi kunci jawaban terakhir saja. Selain bertujuan agar siswa tidak tergantung pada kunci, juga melatih siswa untuk kreatif mengerjakan soal dengan caranya sendiri.

HANDOUT Istilah handout sudah sangat familiar di telinga kita sebagai pengajar, namun mungkin kita hanya mendengar dan tidak tahu arti dan makna yang sesungguhnya dari handout tersebut. Handout merupakan bahan ajar yang dituangkan secara ringkas yang berguna sebagai pegangan dalam pembelajaran. Dengan adanya handout guru membantu peserta didik dalam mengikuti pembelajaran secara lebih terarah dan terfokus, karena handout adalah sejenis kisi-kisi materi ajar yang akan disampaikan guru. Guru yang terbiasa berpikir dengan alur pikir yang runtut dapat dengan mudah menulis handout ketika akan mengajar. Hal ini karena handout berisi pokok-pokok pikiran utama dari materi ajar yang disampaikan. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika membuat handout, yaitu : 1. Berisi materi-materi yang pokok saja, bukan uraian detail materi.

2. Biasanya dibuat untuk tiap bab / materi pokok / pokok bahasan. 3. Bukan dibuat untuk setiap kali pertemuan, karena handout bukan rencana pembelajaran. 4. Dapat disajikan dalam bentuk transparansi, power point dengan LCD, atau dalam bentuk cetak. 5. Meski ringkas, handout mampu memberikan informasi penting tentang bahan ajar tersebut.

LEMBAR KERJA SISWA (LKS) 1. PENGERTIAN LKS Menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R. E. Kaligis (1992 : 40), LKS atau Lembar Kerja Siswa merupakan sarana pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam meningkatkan keterlibatan atau aktivitas peserta didik dalam proses belajar-mengajar. Pada umumnya, LKS berisi petunjuk praktikum, percobaan yang bisa dilakukan di rumah, materi untuk diskusi, Teka Teki Silang, tugas portofolio, dan soal-soal latihan, maupun segala bentuk petunjuk yang mampu mengajak peserta didik beraktivitas dalam proses pembelajaran. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Surachman (1998 : 46) yang menyatakan LKS sebagai

jenis handoutyang dimaksudkan untuk membantu peserta didik belajar secara terarah (guided discovery activities). Hal ini berarti melalui LKS peserta didik dapat melakukan aktivitas sekaligus memperoleh semacam ringkasan dari materi yang menjadi dasar aktivitas tersebut.

2. MANFAAT LKS Mengajar dengan menggunakan LKS ternyata semakin populer terutama pada masa dekade terakhir ini. Manfaat yang diperoleh dengan menggunakan LKS (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992 : 40), antara lain : a. Memudahkan guru dalam mengelola proses belajar, misalnya mengubah kondisi belajar dari suasana guru sentris menjadi peserta didik sentris. b. Membantu guru mengarahkan peserta didiknya untuk dapat menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri atau dalam kelompok kerja. c. Dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan proses, mengembangkan sikap ilmiah serta membangkitkan minat peserta didik terhadap alam sekitarnya. d. Memudahkan guru memantau keberhasilan peserta didik untuk mencapai sasaran belajar.

3. CARA MENYUSUN / MEMBUAT LKS YANG BAIK

Penggunaan LKS sangat besar peranannya dalam proses pembelajaran, sehingga seolah-olah penggunaan LKS dapat menggantikan kedudukan seorang guru. Hal ini dapat dibenarkan, apabila LKS yang digunakan tersebut merupakan LKS yang berkualitas baik. LKS dikatakan berkualitas baik bila memenuhi syarat (Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis, 1992 : 41-46) sebagai berikut : a. Syarat-syarat Didaktik LKS sebagai salah satu bentuk sarana PBM haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya LKS harus mengikuti asas-asas belajar-mengajar yang efektif, yaitu : 1) Memperhatikan adanya perbedaan individual. 2) Tekanan pada proses untuk menemukan konsep-konsep. 3) Memiliki variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan peserta didik. 4) Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada diri peserta didik. 5) Pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi peserta didik dan bukan ditentukan oleh materi bahan pelajaran.

b. Syarat-syarat Konstruksi Syarat konstruksi ialah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa-kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh pengguna yaitu peserta didik. 1) Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan peserta didik. 2) Menggunakan struktur kalimat yang jelas. 3) Memiliki tata urutan pelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. 4) Hindarkan pertanyaan yang terlalu terbuka. 5) Tidak mengacu pada buku sumber yang di luar kemampuan keterbacaan peserta didik. 6) Menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaan pada peserta didik untuk menuliskan jawaban atau menggambar pada LKS. 7) Menggunakan kalimat yang sederhana dan pendek. 8) Menggunakan lebih banyak ilustrasi daripada kata-kata. 9) Dapat digunakan untuk semua peserta didik, baik yang lamban maupun yang cepat.

10) Memiliki tujuan belajar yang jelas serta bermanfaat sebagai sumber motivasi. 11) Mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.

3. Syarat-syarat Teknis 1) Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf Latin atau Romawi. 2) Gunakan huruf tebal yang agak besar untuk topik, bukan huruf biasa yang diberi garis bawah. 3) Gunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris. 4) Gunakan bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban peserta didik. 5) Usahakan perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar serasi.

4. PENGEMBANGAN LKS Pengembangan LKS dapat dilakukan dengan mengadaptasi langkah-langkah pengem-bangan Modul / Paket Belajar (B. Suryobroto, 1986 : 155). Berdasarkan langkah-langkah pengembangan Modul dan Paket Belajar tersebut, maka LKS dapat dikembangkan melalui langkah-langkah sebagai berikut : a. Menetapkan standar kompetensi, judul, dan tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) yang ingin dicapai. Tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) merupakan TPU pada Kurikulum 1994, sedangkan indikator merupakan TPK. b. Menganalisis dan menjabarkan KD menjadi indikator dengan langkah-langkah sbb : 1) Merumuskan kompetensi dasar yang ingin dicapai. 2) Memilih dan menjabarkan materi pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar yang ingin dicapai. 3) Membuat indikator pencapaian kompetensi dasar.

Kriteria indikator yang baik (Tim Peneliti Program Pascasarjana, 2001 : 2), adalah 1) Memuat ciri-ciri tujuan yang hendak diukur. 2) Memuat satu kata kerja operasional yang dapat diukur. 3) Berkaitan erat dengan materi yang diajarkan. 4) Dapat dibuat evaluasinya sebanyak 3-5 butir soal. c. Menetapkan prosedur, jenis, dan alat penilaian berbasis kelas sesuai dengan misi KTSP.

d. Menetapkan alternatif kegiatan (pengalaman belajar) yang dapat memberikan peluang yang optimal kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan proses sains di dalam dirinya. e. Menetapkan dan mengembangkan bahan / media / sumber yang sesuai dengan kemam-puan dasar yang akan dicapai, karakteristik peserta didik, fasilitas (sarana dan prasarana), dan karakteristik lingkungan peserta didik. f. Menyusun LKS yang lengkap, yaitu menuangkan hasil-hasil yang telah dilakukan menjadi sebuah LKS.

DIKTAT Diktat merupakan salah satu bentuk bahan pelajaran tertulis yang sering digunakan di sekolah dan Perguruan Tinggi (Tjipto Utomo, 1994 : 219). Diktat dibuat dengan tujuan memper-mudah proses pembelajaran peserta didik, hingga pembuatannya memerlukan persyaratan khusus yang menyangkut kemudahan belajar peserta didik. Diktat merupakan salah satu pengajaran dengan fungsi-fungsi terbatas, terutama untuk memberikan orientasi yang lengkap mengenai teori, cara penalaran, serta penerapan teori bidang ilmu tertentu. Adapun beberapa keuntungan adanya diktat adalah : 1. memungkinkan variasi bentuk cara belajar dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. 2. membantu belajar secara mandiri. 3. jika diktat dipelajari terlebih dahulu, maka perhatian peserta didik lebih dapat diarahkan ke materi ajar, sehingga pelajaran lebih dapat dipahami. 4. peserta didik dapat mempersiapkan lebih dahulu, sehingga kemampuan awal peserta didik akan lebih homogen terhadap materi yang diajarkan. 5. mendorong peserta didik untuk meninjau kembali apa yang telah dibahas dalam pembela-jaran di kelas.

Adapun prosedur penyusunan dan pengembangan diktat adalah sebagai berikut : 1. Orientasi terhadap keadaan peserta didik. 2. merancang isi diktat dan pembagiannya. 3. pembahasan rancangan dengan teman sejawat, baik teman yang satu bidang studi maupun teman dalam bidang bahasa dan estetika. 4. pembuatan draf awal. 5. penilaian teman sejawat untuk kemudian direvisi hingga diperoleh produk akhir. 6. ujicoba pemakaian terbatas (pada peserta didik). 7. revisi berdasarkan masukan peserta didik.

MENULIS, MODALNYA ADALAH KEMAUAN

Semua guru dapat menulis itu sudah pasti, tetapi untuk menulis bahan ajar bentuk cetak belum tentu semua guru bisa. Sebenarnya bukan masalah bisa dan tidak, tetapi masalah utama terletak pada mau dan tidaknya guru tersebut mencoba. Jika ketika menempuh kesarjanaan kita saja kita mampu menulis skripsi, maka setelah mengajar bertahun-tahun tentunya kemam-puan menulisnya jauh lebih baik, karena bagaimanapun ilmu yang diterapkan akan mengasah otak kita berpikir lebih baik dan mendalam. Menulis adalah kesenangan, apa maksudnya ? Ketika seseorang sudah terbiasa menulis buku misalnya, maka ia akan memperoleh kesenangan dan kepuasan tersendiri karena hasil jerih payahnya telah berguna dan dibaca orang banyak. Kita menjadi merasa keberadaan / eksistensi diri kita diakui. Jika sampai saat ini kita sebagai guru belum pernah sekalipun mencoba berkarya dalam bentuk cetak bahan ajar yang kita sampaikan setiap hari kepada peserta didik kita, cobalah 5 langkah ini, yaitu : think, read, plan, write,dan rewrite. Think, kita pikirkan subjek yang akan ditulis dengan memilih subjek yang kita merasa kompeten untuk menulisnya, Read, membaca berbagai tulisan yang berkaitan dengan subjek yang akan kita tulis, untuk memperkaya pemahaman sekaligus melihat dari berbagai sudut pandang. Plan, merencanakan bentuk dan cara menuangkan ide-ide tersebut sebelum ditulis. Write, mulai menuliskan sesuai dengan rencana. Rewrite, melakukan edit ulang, revisi, dan merekonstruksi tulisan beberapa kali sebelum benar-benar yakin bahwa tulisan kita pantas dipublikasikan.

PENUTUP Tidak seorangpun merasa bisa jika tidak mencoba. Sebagai guru, kita memang dihadapkan pada berbagai tugas yang luar biasa banyak dan beratnya. Namun tidak ada salahnya, di sela-sela kesibukan itu kita belajar untuk menjadi guru istimewa, yaitu guru yang mampu menghasilkan karya bagi orang banyak, minimal bagi peserta didiknya sendiri. Sebaik-baiknya perkara adalah yang di tengah-tengah, mengandung makna sebaik-baiknya guru adalah mereka yang tidak menjadi kaum minimalis yang hanya bisa bilang BISA-ku ya hanya ini, tetapi juga tidak menjadi kaum idealis yang selalu bicara saya HARUS menjadi ini. Jadi, menjadi guru di tengah-tengah artinya selalu berusaha mengembangkan diri, tidak hanya diam di tempat, tetapi juga tidak terlalu idealis yang menyebabkan kita frustasi karena sulit mencapai. Guru adalah profesi pilihan kita, maka marilah kita berkarya dalam pilihan profesi yang kita pilih dengan cara mengembangkan bahan ajar bentuk cetak semampunya. DAFTAR PUSTAKA Bahrul Hayat, dkk. (2001). Sistem Penilaian Buku. Jakarta : Pusat Perbukuan. Raka Joni. (1983). Pengembangan Paket Belajar. Jakarta : Dirjen Dikti. Russell, James, D. (1973). Modular Instruction : A Guide to the Design, Selection, utilization and Evaluation of Modular Materials. Minnesota : Burgess Publishing Comp. Taya Paembonan, dkk. (1990). Penerbitan dan Pengembangan Buku Pelajaran di Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Vembriarto. (1985). Pengantar Pengajaran Modul. Yogyakarta : Yayasan Pendidikan Paramita.