Anda di halaman 1dari 13

1

PERPAJAKAN I (HK PAJAK) PAJAK PENGHASILAN UMUM

MODUL 9-10
Mutiah

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2008


Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Muti'ah SE PERPAJAKAN

2
PAJAK PENGHASILAN UMUM Subjek Pajak : adalah orang yang di tuju oleh undang-undang untuk dikenakan pajak. PPh dikenakan terhadap subjek pajak atas penghasilan yang diterima / diperolehnya dalam tahun pajak. Yang menjadi Subjek Pajak adalah : 1. 2. a. Orang Pribadi b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak Badan, terdiri dari PT. CV, Perseroan lainnya, BUMN, BUMD, Persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, bentuk badan usaha lain. 3. Bentuk Usaha Tetap (BUT) BUT : adalah Bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bl, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

Berdasarkan lokasi geografis, subjek pajak dapat dibedakan menjadi dua : Subjek Pajak DN a. - Orang pribadi : yang bertempat tinggal / berada di Indonesia lebih dari 183 hari (tidak harus berturut-turut) dalam jangka waktu 12 bulan - Orang pribadi yang dalam tahun pajak berada di Ind dan mempunyai niat bertempat tinggal di Ind b. Sujek pajak badan, Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. c. Sujek pajak warisan, Warisan yang belum terbagi sebagai Subjek Pajak LN Subjek pajak Orang Pribadi, yaitu : Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Ind / berada di Ind tidak lebih dari 183 hr dalam jangka waktu 12 bl yang : - Menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Ind - Dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Ind bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Ind. b. Subjek Pajak Badan, yaitu : Badan yang tidak didirikan dan tidak

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE PERPAJAKAN

3
satu kesatuan, menggantikan yang bertempat kedudukan di Ind yang : - Menjalankan usaha / melakukan kegiatan melalui BUT di Ind - Dapat menerima atau memperoleh penghasilan menjalankan Ind. Subjek pajak DN, menjadi WP apabila telah menerima /memperoleh penghasilan Subjek pajak LN, menjadi WP sehubungan dengan penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan di Indonesia / diperoleh melalui BUT di Indonesia. Wajib Pajak : adalah orang pribadi atau badan yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. Perbedaan subjek pajak DN dan subjek pajak LN terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya. Wajib Pajak DN - Dikenakan pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh dari Ind dan dari luar Ind. Dikenakan pajak berdasarkan penghasilan neto umum (tariff UU PPh Ps-17). Wajib pemberitahuan Tidak termasuk subjek pajak : 1. Badan perwakilan negara asing 2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatic dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat : Bukan warga negara Ind dan Muti'ah SE PERPAJAKAN menyampaikan surat Wajib Pajak LN Dikenakan pajak hanya penghasilan di Indonesia. Dikenakan penghasilan bruto sepadan (tariff UU PPh Ps-26). Tidak wajib menyampaikan surat pemberitahuan pajak berdasarkan dari Ind bukan dari usaha atau

berhak

melakukan kegiatan melalui BUT di

atas

penghasilan yang berasal dari sumber

Tarif pajak ang digunakan adalah tariff - Tarif pajak yang digunakan adalah tariff

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

4
Di Ind tidak menerima atau memperoleh penghasilan perlakuan timbal balik. 3. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan oleh menteri keuangan dengan syarat : Ind menjadi anggota organisasi tersebut tidak menjalankan usaha atau melakukan anggota. 4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Men Keu dengan syarat : Bukan warga negara Ind dan Tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Ind selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran pada lain di luar jabatan memberikan

atau pekerjaannya tersebut, serta negara yang bersangkutan

Pajak penghasilan merupakan jenis pajak subjektif yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek pajak bersangkutan, artinya kewajiban tidak dilimpahkan kepada subjek pajak lainnya.
Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif : MULAI Subjek Pajak DN OP - Saat dilahirkan tinggal di Ind Subjek Pajak DN Badan - Saat didirikan / bertempat kedudukan Subjek Pajak DN Badan di Ind Subjek Pajak LN melalui BUT Saat menjalankan usaha melakukan kegiatan melalui BUT di Ind Subjek Pajak LN tidak melalui BUT - Saat dibubarkan / tidak lagi bertempat kedudukan di Ind Subjek Pajak LN melalui BUT atau Saat tidak lagi menjalankan usaha / melakukan kegiatan melalui BUT di Ind Subjek Pajak LN tidak melalui BUT BERAKHIR Subjek Pajak DN OP Saat meninggal Saat meninggalkan Ind untuk selamalamanya

- Saat berada di Ind / berniat bertempat -

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE PERPAJAKAN

5
Saat menerima atau memperoleh - Saat tidak lagi menerima / memperoleh penghasilan dari Indonesia Warisan Belum Terbagi Saat warisan selesai dibagikan

penghasilan dari Ind. Warisan belum terbagi Saat timbulnya warisan yang belum terbagi

OBJEK PAJAK (Pasal 4 ayat (1) (1). Yang menjadi objek pajak adalah Penghasilan Penghasilan : setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima/diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi/untuk menambah kekayaan WP yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk : a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan / jasa yang diterima atau diperoleh termasuk : gaji, upah, tunjangan, honorarium,, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, premi asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, atau imbalan dalam bentuk lainnya ; b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan; c. Laba usaha; d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta; e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya; f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang g. Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi; h. Royalty; i. j. l. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta; Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala; Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;

k. Keuntungan karena pembebasan utang; m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva; n. Premi asuransi;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE PERPAJAKAN

6
o. Iuran yang diterima / diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas; p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak. Dilihat dari mengalirnya (inflow) penghasilan dapat dikelompokkan menjadi : 1. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas; 2. Penghasilan dari usaha dan kegiatan; 3. Penghasilan dari modal atau penggunaan harta; 4. Penghasilan lain-lain, yaitu : a. Keuntungan karena pembebasan utang b. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing c. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva d. Hadiah undian WP DN yang menjadi objek pajak adalah penghasilan baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. WP LN yang menjadi objek pajak adalah hanya penghasilan yang berasal dari Indonesia saja. TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK Ps-4 ayat (3) a. 1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat / lembaga amil zakat yang dibentuk atau disyahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhal. 2. Harta hibahan yang ditera oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu Keu. Sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. b. Warisan; c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal; d. Penggantian / imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari WP / pemerintah; Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Muti'ah SE PERPAJAKAN derajat dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Men social atau

7
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna dan asuransi beasiswa f. Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai WP DN, koperasi dan BUMN / BUMD, dari penyertaan modal pada didirikan dan bertempat kedudukan di Ind. g. Iuran yang diterima / diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Men Keu, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai; h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam bidangbidang tertentu yang ditetapkan dengan keputusan Men Keu; i. Bagian laba yang diterima / diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi; j. Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 th pertama sejak pendirian perusahaan / pemberian ijin usaha. Perusahaan Reksadana : adalah perusahaan yang kegiatan utamanya malakukan investasi, investasi kembali, atau jual beli sekuritas. Dari sisi pemodal kecil, perusahaan reksa dana merupakan pilihan yang aman untuk menanamkan modalnya, penghasilan yang diterima / diperoleh berupa deviden atau bunga obligasi; k. Penghasilan yang diterima / diperoleh perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Ind Perusahaan Modal Ventura : adalah Suatu perusahaan yang kegiatan usahanya membiayai badan usaha (sebagai pasangan usaha) dalam bentuk penyertaan modal untuk suatu jangka waktu tertentu. DASAR PENGENAAN PAJAK WP DN atau BUT yang menjadi dasar pengenaan pajak adalah Penghasilan Kena pajak WP LN yang menjadi dasar adalah penghasilan bruto Ada 2 cara untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak : 1. Penghitungan PPh dengan dasar pembukuan Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Muti'ah SE PERPAJAKAN badan usaha yang

8
2. Penghitungan PPh dengan dasar pencatatan ad 1. Penghitungan PPh dengan dasar pembukuan : Pengh Kena Pajak WP Badan : Pengh Kena Pajak = Pengh bruto Biaya yang diperkenankan UU PPh Pengh Kena Pajak WP OP : Pengh Kena Pajak = (Pengh bruto Biaya yang diperkenankan UU PPh) - PTKP

ad 2. Penghitungan PPh dengan dasar pencatatan : Norma Penghasilan ada 2 yaitu : a. Norma Pnghitungan Penghasilan Neto b. Norma Penghitungan Penghasilan Bruto WP yang boleh menggunakan norma penghitungan WP OP dengan syarat: - Perederan bruto maksimal Rp. 600.000.000 per tahun - Mengajukan permohonan dalam jangka waktu 3 bl pertama dari tahun buku Menyelenggarakan pencatatan

Contoh : WP A kawin dengan mempunyai 4 orang anak, ia seorang dokter bertempat tinggal di Jakarta dengan penghasilan bruto setahun Rp. 75.000.000,- misalnya prosentase untuk norma dokter di Jakarta sebesar 40%, maka penghasilan kena pajaknya di hitung sbb : Peredaran bruto Penghasilan neto = 40% x Rp. 75.000.000 PTKP (K/3) Penghasilan Kena Pajak PPh terutang = 5% x Rp. 21.360.000 = Rp. 1.068.000,CARA PELUNASAN PAJAK Wajib pajak dapat menghitung dan melunasi pajak penghasilan melalui 2 cara : 1. Pelunasan pajak tahun berjalan : Muti'ah SE PERPAJAKAN Rp. 75.000.000,Rp. 30.000.000,Rp. 8.640.000,Rp. 21.360.000,-

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

9
a. Pembayaran sendiri oleh WP (PPh Ps-25), angsuran bulanan untuk bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh sebesar jumlah angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak yang lalu, sepanjang tidak kurang dari rata-rata angsuran bulanan tahun pajak yang lalu. b. Pembayaran pajak melalui pemotongan / pemungutan pihak ke tiga berupa kredit pajak yang dapat diperhitungkan dengan jumlah pajak terutang selama tahun pajak yaitu : - Pemotongan PPh atas pengh dari pekerjaan, jasa / kegiatan (Ps-21) - Pemotongan PPh atas pengh dari kegiatan bidang impor / kegiatan usaha di bidang lain, dan pembayaran atas penyerahan barang kepada pemerintah Ps-22). oang - Pemotongan PPh atas pengh dari modal atau penggunaan harta oleh lain, hadiah dan penghargaan (Ps-23) - Pelunasan PPh di LN atas pengh di LN (Ps-24) - Pemotongan PPh atas pengh yang tidak bersifat final (Ps-26 ayat (5) ) 2. Pelunasan pajak sesudah akhir tahun : a. Membayar pajak yang kurang disetor yaitu dengan menghitung PPh terutang dikurangi jumlah kredit pajak.

b. Membayar pajak yang kurang di setor berdasarkan SKP


PENGURANGAN PENGHASILAN (BIAYA) Beban-beban yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto bagi WP DN dan BUT : 1. 2. Baban / biaya yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari 1 tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan. Beban / biaya yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh WP dapat dibedakan : 1. 2. Pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya (deductible expenses) Pengeluaran yang tidak dapat dibebankan sebagai biaya (non-deductible expenses). BIAYA YANG DIPERKENANKAN BAGI WP DN DAN BUT (DEDUCTIBLE EXPENSES) Ps-6 UU PPh a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan; Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Muti'ah SE PERPAJAKAN

10
b. Penyusutan atas pengeluaan untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 th; c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Men Keu d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan; e. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing; f. g Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia; Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan. 1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial. 2. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada pengadilan negeri atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN). 3. Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus dan 4. WP harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada DJP.

h. Piutang yang nyata tidak dapat di atgih, dengan syarat :

PP No.138 th 2000 ttg biaya yang tidak boleh dikurangkan dalam menghit PKP 1. 2. 3. 4. 5. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek pajak. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang dikenakan pajak berdasarkan norma penghitungan Pajak penghasilan yang ditanggung oleh pemberi penghasilan. Kerugian dari harta atau utang yang tidak dimiliki dan tidak dipergunakan dalam usaha. BIAYA YANG TIDAK BOLEH DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO (NON DEDUCTIBLE EXPENSES) Ps-9 UU PPh a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden, termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi; Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Muti'ah SE PERPAJAKAN

11
b. c. Biaya yang dibebankan / dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota; Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan; d. e. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa; Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu; f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubunghan dengan pekeraan yang dilakukan; g. h. i. j. k. Harta yang dihibahan, bantuan atau sumbangan, dan warisan; Pajak Penghasilan Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi WP / orang yang menjadi tanggungannya. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan firma atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham; Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan. Kompensasi Kerugian Kerugian dapat dikompensasikan selama 5 tahun berturut-turut, dimulai sejak tahun pajak berikutnya. PTKP 13.200.000 1.200.000 13.200.000 1.200.000 Diri wajib pajak Tambahan untuk wajib pajak kawin Tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga Muti'ah SE PERPAJAKAN

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

12
semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya (max 3 orang) Penghitungan PTKP ditentukan menurut keadaan wajib pajak pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak. TARIF PAJAK Ps-17 ayat (1) Untuk WP OP DN Lapisan Penghasilan Kena Pajak S/d - 25.000.000 Di atas 25.000.000 - 50.000.000 Di atas 50.000.000 - 100.000.000 Di atas 100.000.000 - 200.000.000 Di atas 200.000.000 Untuk WP Badan DN dan BUT S/d Di atas 50.000.000 Di atas 100.000.000 HUBUNGAN ISTIMEWA Hubungan istimewa di anggap ada apabila : 1. 2. 3. WP mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah sebesar 25% pada WP lain; WP menguasai WP lainnya atau dua atau lebih WP berada dibawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung atau; Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau kesamping satu derajat. Hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat adalah : ayah, ibu dan anak. Hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan ke samping satu derajat adalah : saudara. Keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat adalah :mertua dan anak tiri Hubungan keluarga semenda dalam keturunan ke samping satu derajat adalah ipar. 50.000.000 100.000.000 10% 15% 30% Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35%

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE PERPAJAKAN

13
Untuk menghitung Penyusutan : Kelompok Harta Berwujud Masa manfaat Tarif Penyusutan Sebagaimana Di maksud dalam Ayat 1 Ayat 2 I Bukan Bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 II Bangunan Permanen Tidak Permanen 20 th 10 th 5% 10% 4 th 8 th 16 th 20 th 25% 12,5% 6,25% 5% 50% 25% 12,5% 10%

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Muti'ah SE PERPAJAKAN