Anda di halaman 1dari 3

Pneumonia pada Sapi

by Raldy Palullungan Radang paru-paru (pneumonia) merupakan radang parenkim yang dapat berlangsung baik akut maupun kronik ditandai dengan batuk, suara abnormal pada waktu auskultasi, dyspnoe dan kenaikan suhu tubuh. Radang ini disebabkan oleh berbagai agen etiologi, radang yang disebabkan bakteri terkadang menyebabkan terjadinya toksemia. Secara patologi banyak ditemukan bersamaan dengan radang bronchus hingga terjadi bronchopneumonia yang sering terjadi pada hewan. Etiologi Faktor-faktor pengelolaan peternakan dan lingkungan hewan sangat berpengaruh terhadap terjadinya radang paru-paru pada sapi. Penempatan sapi hanya dikandang saja yang lembab dan berdebu dengan ventilasi yang jelek; overcrowding; pedet yang tidak cukup mendapatkan kolustrum; lingkungan yang dingin serta transportasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya radang paruparu pada sapi. Pada lingkungan yang jelek sering terjadi infeksi bakteri Pasteurela sp dan Streptococcus sp. Pneumonia yang disebabkan oleh virus pada hewan biasanya bersifat akut. Pada kultur paru-paru hewan yang sudah mati disebabkan pneumonia sering dijumpai adanya bakteri Corynobacterium pyogenes, hemolytic staphylococci dan Pseudomonas aeruginosa. Agen Infeksi Sapi Virus Infectious Bovine Rhinotracheitis, Malignant Catharal Fever, Bovine Herpes V4, Adenovirus, Parainfluenza-3, Bovine Respiratory Virus , Bovine Virus DiarrheaMucosal Disease, Rhino-virus, Rota-virus Bakteri Pasteurela multocida, Pasteurela hemolitica, Streptococcus sp, Mycobacterium tuberkulosa, Corynobacterium pyogenes, Hemophilus somnus Jamur Chlamydia psittaci Mycoplasma Mycoplasma mycoides, Mycoplasma dispar Parasit Dictocaulus viviparus Gejala Klinis Pada awalnya radang paru-paru ( pneumonia ) didahului gejala hiperemi pulmonum, diikuti dyspnoe, frekuensi nafas 40-80 kali permenit, tipe nafas bersifat abdominal, napasnya mula-mula dangkal kemudian dalam, batuk, setelah berlangsung beberapa hari muncul leleran pada hidung, pulsus 60-90 kali per menit, demam ( suhu 42C ) kenaikan suhu tubuh ini sejalan dengan reaksi tubuh dalm memobilisasi sel-sel darah putih dan berlangsungnya seperti antigen-antibodi. Pada inspeksi terkadang tercium bau abnprmal dari pernapasan penderita. Bau busuk ( halitosis, foxtor ex ero ) dapat berasal dari runtuhan sel atau dari produk

bakteri penyebab pneumonia. Bau busuk selalu ditemukan pada radang paru-paru yang disertai ganggren. Pada auskultasi daerah paru-paru akan terdengar berbagai suara abnormal. Terdengar suara bronchial ( rhonci basah ) yang seharusnya suara vesicular disebabkan alveoli terisi cairan radang. Pada pemeriksaan perkusi pada daerah paru-paru tidak ditemukan adanya perubahan pada batas-batas daerah perkusi. Suara resonansi yang dihasilkan bervariasi mulai dari agak pekak pada daerah yang mengalami hiperemi sampai pekak total pada daerah yang mengalami hepatisasi. Pada sapi perah terjadi penurunan produksi susu bahkan sering sekali produksi susu terhenti sama sekali. Penderita tampak lesu, malas berbaring, gelisah, kehilangan nafsu makan dan minum, depresi, terkadang pernapasan dengan mulut, konstipasi dan oligouria. Patogenesis Agen-agen infeksi memasuki jaringan paru-paru secara inhalasi, hematogen atau limfogen. Berat ringan proses radang tergantung pada jenis, virulensi, dan jumlah agen infeksi yang berhasil memasuki jaringan. Infeksi secara hematogen dan limfogen menyebabkan terbentuknya foci-foki radang yang letaknya tersebar pada bebrbagai lobus paru-paru. Kejadian akut biasanya disebabkan oleh bakteri Pasteurela sp dan Mycoplasma sp sedangkan yang disebabkan jamur atau bakteri Mycobacterium sp kebanyakan bersifat kronis dengan pembentukan granuloma. Sedangkan agen infeksi yang disebabkan oleh viral berlangsung subklinis yang memerlukan faktor lain dalam patogenesisnya yaitu dengan kerja sama dengan bakteri patogen lain maupun pengelolaan peternakan dan lingkungan yang jelek. Radang paru-paru akan menyebabkan terjadinya hipoksia karena terjadi ganguan pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida. Kompensasi dari hal tersebut hewan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas pernafasan. Karena adanya rasa sakit ketika bernafas disebabkan meningkatnya kepekaan jaringan yang mengalami radang pernapasan berlangsung cepat dan dangkal. Adanya hiperemi, paru-paru akan mengalami pemadatan, konsolidasi yang dalam keadaan lanjut terjadi pemadatan yang berkonsistensi seperti hati ( hepatisasi). Pada uji apung jaringan yang berkonolidasi akan melayang ataupun tenggelam. Adanya eksudat pada saluran pernafasan akan menyebabkan batuk bagi jaringan yang peka, karena eksudat ini bila dilakukan auskultasi akan terdengar suara ronchi basah dan hilangnya suara vesikuler. Selain itu pernafasan yang normalnya tipe kostoabdominal akan berubah menjadi tipe abdominal. Pemeriksaan patologi Pemeriksaan makroskopis pada paru-paru tampak perubahan warna mulai yang dari kemerahan sampai menjadi abu-abu dan kuning bahkan terjadi hepatisasi merah,

konsistensinya berubah menjadi seperti hati yang elastis bahkan mengalami kerapuhan. Pada pengirisan paru-paru ditemukan adanya eksudat mulai dari serous sampai mukopurulen, jaringan parenkim tampakmengalami kongesti dan hepatisasi. Pada uji apung akan melayang atau tenggelam, dan ditemukan inklusi bodi pada pneumonia yang disebabkan virus. Diagnosis Dengan pengambilan swab pada batang tenggorokan dan bronchus. Deferensial diagnosa pada pneumonia meliputi gangguan jantung, hiperemi pulmonum, oedema pulmonum, emfisema pulmonum dan laringo-tracheitis. Terapi Pengawasan pada hewan yang masih sehat sangatlah penting, penderita ditempatkan dikandang yang bersih, hangat dan ventilasi yang baik. Pemberian antibiotic dan sulfonamid selama 3 hari secara parenteral atau melalui makanan diperlukan untuk meniadakan agen infeksi oleh bakteri. Pemberian Ca boroglukonat dan vitamin C serta penangan dehidrasi sangat berguna untuk terapi pneumonia. Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook