Anda di halaman 1dari 8

KESADAHAN KALSIUM DAN MAGNESIUM Kesadahan perairan dikelompokan menjadi kesadahan kalsium dan kesadahan magnesium karena pada

perairan alami kesadahan lebih banyak disebabkan oleh kation kalsium dn magnesium. Kesadahan kalsiu dan magnesium sering kali perlu diktahui untuk menentukan jumlah kapur dan soda abu yang dibutuhkan dalam proses pelunakan air (lime-soda ash softening). Jika nilai kesadahan kalsium di ketahui maka kesadahan magnesim dapat ditentukan melalui persamaan : Kesadahan total kesadahan kalsium = kesadahan magnesium Pada penentuan nilai kesadahan 9baik kesadahn total, kesadahan kalsium, maupun kesadahan magnesium), keberadaan besi dan mangan di anggap sebagai pengganggu karena dapat bereaksi dengan pereaksi yang di gunakan oleh. Oleh karena itu, kesadahan kalsium menjadi lebih besar daripada kadar ion kalsium. Demikian pula halnya, jika kesadahan magnesium lebih besar daripada kadar ion magnesium. Unyuk mendapatkan kadar ion kalsium dan ion magnesium dari nilai kesadahan, digunakan persamaan berikut (Cole, 1988). Kadar Ca 2+ (mg/liter) = 0,4 x kesadahan kalsium Kadar Mg 2+ (mg/liter) = 0,243 x kesadahan magnesium Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai air sadah, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi kerak. Kesadahan air disebabkan oleh Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Kesadahan air dibagi menjadi dua yaitu kesadahan tetap dan kesadahan sementara. Kesadahan tetap yaitu kesadahan yang disebabkan oleh garam garam nonbikarbonat seperti CaNO3, MgNO3 dan CaSO4, garam seperti ini banyak ditemukan di perairan pantai tergolong kesadahan tetap perlu adanya sistem pengolahan dan penambahan senyawa-senyawa penurun tegangan muka dari air sadah tersebut. dan kesadahan sementara disebabkan oleh garam garam bikarbonat yaitu Ca(HCO3) dan Mg(HCO3), garam bikarbonat jenis ini biasa ditemukan di daerah pegunungan atau tanah vulkanis. Kesadahan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu : a). Kesadahan sementara Adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca2+ dan Mg2+ yang berikatan dengan ion karbonat dan bikarbonat. Air sadah sementara dapat terjadi secara alami ketika air hujan melarutkan sedikit karbon dioksida udara, sehingga air hujan itu mengandung asam karbonat. Kaika air hujan ini melewati daerah berkapur air tersebut akan menyerap dan menghanyutkan kapur sehingga terbentuk hidrogen-karbonat larut, CaCO3 (s) + CO2(s) + H2O Ca(HCO)3 (aq)

Tergolong kesadahan sementara sangat mudah menurunkanya yaitu dengan jalan pemanasan. Pengaruh air sadah yaitu: 1. menimbulkan kerak. 2. menimbulkan penyumbatan pada saluran air. 3. menimbulkan pengapuran dalam pembuluh darah. 4. pemborosan sabun

b). Kesadahan tetap Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Ca2+ dan Mg2+ yang berikatan dengan ion Cl-, SO42-, NO3-, contohnya CaCl2, MgSO4. Kesadahan tetap terjadi ketika air melewati daerah bebatuan yang mengandung sulfat magnesium dan kalsium. Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan hanya dengan pendidihan atau dengan penambahan kapur mati, tetapi dapat dihilang dengan penambahan soda basuh atau menggunakan proses permutit (yang juga dapat dipakai untuk air sadah sementara). Kesadahan yang terdapat di dalam air, (baik itu air permukaan ataupun air tanah), biasanya akibat terlarutnya garam kalsium dan magnesium oleh air yang mengalir pada batuan/tanah. Biasanya batuan/tanah tersebut banyak mengandung mineral limestone, dolomite dan gypsum. Larutan tersebut dapat berupa garam CaSO4, CaCl2 dan MgSO4, MgCl2 yang disebut kesadahan tetap, ataupun dapat berupa Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2 yang disebut kesadahan sementara. Kesadahan tetap/sementara tidak diinginkan di dalam suatu proses industri baik itu sebagai bahan baku air pengisi ketel uap atau pun proses/industri kimia yang perlu kemurnian tinggi. Penentuan Bilangan Penyabunan Minyak/Lemak Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang di perlukan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Apabila sejumlah sampel minyak atau lemak disabunkan dengan larutan KOH berlebih dalam alkohol, maka KOH akan bereaksi dengan trigliserida, yaitu tiga molekul KOH bereaksi dengan satu molekul minyak atau lemak. Larutan alkali yang tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCL sehingga KOH yang bereaksi dapat diketahui. Dalam penetapan bilangan penyabunan, miasalnya larutan alkali yang digunakan adalah larutan KOH , yang diukur dengan hati-hati kedalam tabung dengan buret atau pipet. Besarnya jumlah ion yang diserap menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tak jenuh , ikatan rangkap yang terdapat pada minyak yang tak jenuh akan bereaksi dengan iod. Gliserida dengantingkat ketidak jenuhan yang tinggi akan mengikat iod dalam jumlah yang lebih besar. Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang diperlukan Untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Apabila sejumlah sampel minyak atau lemak disabunkan dengan larutan KOH berlebih dalam alkohol, maka KOH akan bereaksi dengan trigliserida, yaitu tiga molekul KOH bereaksi denngan satu molekul minyak atua lemak, larutan alkali yang tinggi ditentukan dengan titrasi menggunakan HCL sehingga KOH yang bereaksi dapat diketahui. Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh sam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul

yang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan relatif kecil. Angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak ( Herina, 2002). KMnO4 Kalium permanganat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangaan oksida. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah , netral dan basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau ( rivai, 1995 ). Kalium permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen(III) oksida standar-standar primer. Pereaksi kalium permanganat bukan pereaksi baku primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni, bebas dari mangan dioksida . kalium permanganat merupakan zat pangoksida kuat yang berlainan menurut pH medium, kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air, yang merupakan ciri khas untuk ion permanganat. Pembakuan larutan KMnO4 ini dapat dilakukan dengan titrasi permanganometri secara langsung,biasanya dilakukan pada analit yang dapat langsung dioksida. Kalium permanganat merupakan zat pengoksida yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indicator, karena mampu bertindak sebagai indicator oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan KMnO4. Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terlatak pada : larutan pentiter KMnO4 pada buret apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan resipiitat coklat yang seharusnya adalah larutan yang berwarna merah rosa. Penambaha KMnO4 yang berlaku cepat pada larutan seperti H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 yang telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4 dengan Mn2+.
PEDOMAN PENYIMPANAN ZAT KIMIA DI LABORATORIUM UNTUK KESEHATAN DAN KEAMANAN Laboratorium kimia harus merupakan tempat yang aman bagi para penggunanya. Aman dari setiap kemungkinan kecelakaan fatal dari sakit maupun kesehatan. Hanya dalam laboratorium yang aman seseorang dapat bekerja dengan aman, produktif, dan efisien, bebas dari rasa khawatir akan keceakaan dan keracunan. Apabila ada kemauan dari setiap pengguna untuk menjaga dan melindungi diri, maka keadaan aman dalam laboratorium pasti akan tercipta. Diperlukan kesadaran bahwa kecelakaan dapat berakibat bagi para pengguna maupun orang lain serta lingkungan di sekitarnya. Kemudian disiplin setiap individu terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Semua ini tergantung pada faktor manusianya, yang merupakan sumber terbesar terjadinya kecelakaan di laboratorium. Keamanan adalah faktor yang seharusnya menjadi perhatian yang paing besar dalam kegiatan laboratorium, tetapi umumnya yang terjadi adalah kita belum terbiasa memperhatikan keamanan kerja. Syarat keamanan di laboratorium bertujuan untuk meindungi baik yang bekerja di laboratorium itu sendiri maupun untuk ingkungan dan menciptakan suasana laboratorium sebagai sarana belajar sains yang aman. Caranya dengan meningkatkan pengetahuan praktisi sains (dosen, laboran, siswa) tentang keselamatan kerja, mengenal bahaya yang mungkin terjadi serta upaya penanganannya. Bahan kimia merupakan materi belajar yang harus ada dalam laboratorium, pada dasarnya semua bahan kimia itu beracun, namun dengan pengeolaan dan penyimpanan bahan kimia yang tepat dan benar,

maka tingkat bahaya sebagai beracun dapat dikurangi dan ditanggulangi. Pengenalan sifat dan jenis bahan kimia akan memudahkan dalam cara penanganannya, yaitu cara pencampuran, mereaksikan, pemindahan atau transportasi, dan penyimpanannya. Dalam makalah ini akan diuraikan tentang bagaimana perawatan bahan praktikum kimia, cara penyimpanan agar kerusakan bahan-bahan kimia dapat dihindari, serta bahaya-bahaya yang ditimbulkan akibat penyimpanan dapat dicegah. PENYIMPANAN ZAT-ZAT/BAHAN-BAHAN KIMIA Bahan kimia yang ada di laboratorium jumlahnya relatif banyak seperti halnya jumlah peralatan. Di samping jumlahnya yang banyak, bahan kimia juga dapat menimbulkan resiko bahaya yang cukup tinggi. oleh karena itu hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyimpan bahan-bahan kimia diantaranya: wujud zat, konsentrasi zat, bahaya dari zat, label, kepekaan zat terhadap cahaya, dan kemudahan zat tersebut menguap. Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis akan lebih tepat apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis, dan sifat kimianya terutama tingkat kebahayaannya. Semua bahan harus diberi label secara jeas, dan untuk larutan harus dicantumkan tanggal pembuatannya. Penyimpanan bahan-bahan kimia di laboratorium di dasarkan pada wujud dari zat tersebut (padat, cair dan gas), sifat-sifat zat (Asam dan basa), sifat bahaya zat (korosif, mudah terbakar, racun dll), seberapa sering zat tersebut digunakan. Sistem penyimpanan bahan-bahan kimia didasarkan pada bahan yang sering dipakai, bahan yang boleh diambil sendiri oleh pemakai laboratorium, bahan yang berbahaya/racun, dan jumlah bahan yang dsimpan. Cara menyimpan bahan-bahan kimia sama hanya dengan menyimpan alat-alat laboratorium, sifat masing-masing bahan harus diketahui sebelum melakukan penyimpanan, seperti: 1. Bahan yang dapat bereaksi dengan plastic sebaiknya disimpan dalam botol kaca. 2. Bahan yang dapat bereaksi dengan kaca sebaiknya disimpan dalam botol plastic. 3. Bahan yang dapat berubah apabila terkena matahari langsung harus disimpan daam botol gelap dan diletakkan dalam lemari tertutup. 4. Bahan yang tidak mudah rusak oleh cahaya matahari secara langsung dapat disimpan dalam botol berwarna bening. 5. Bahan berbahaya dan bahan korosif sebaiknya disimpan terpisah dari bahan lainnya. 6. Bahan disimpan dalam botol yang diberi symbol karakteristik masing-masing bahan. 7. Sebaiknya bahan disimpan dalam botol induk yang berukuran besar. Pengambilan bahan kimia dari botol secukupnya saja sesuai kebutuhan, dan sisa bahan praktikum disimpan dalam botol kecil, jangan dikembalikan ke dalam botol induk, bertujuan untuk menghindari rusaknya bahan dalam botol induk. Tempat penyimpanan bahan-bahan kimia yang baika dalah di ruangan khusus, tidak bercampur dengan tempat kegiatan praktikum berjalan. Kelembaban ruangan harus benar-benar diperhatikan untuk mencegah agar bahan tidak mudah rusak. Umumnya bahan kimia disimpan berdasarkan kelompoknya seperti rak atau lemari tempat menyimpan bahan padat, bahan cair, dan bahan berbahaya. Untuk bahan padat yang tidak mudah meledak atau terbakar dapat diletakkan dalam lemari tertutup, sedangkan untuk bahan yang mudah terbakar atau meledak diletakkan dalam rak terbuka yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Tujuannya agar bila terjadi ketidakberesan mudah untuk diketahui. Tmpat penyimpanan bahan cair seperti asam, kloroform sebaiknya di simpan di lemari asam, sedangkan untuk bahan yang tidak berbahaya dapat disimpan dalam lemari tersendiri. Tujuannya bila terjadi kebocoran maka gas dapat langsung keluar melalui cerobong asap dari lemari asam, jadi tidak menyebar. Untuk lebih jelas berikut akan dibahas syarat-syarat dalam penyimpanan bahan-bahan kimia di laboratorium.

Syarat-syarat penyimpanan bahan-bahan kimia di laboratorium. 1. Bahan mudah terbakar Banyak bahan-bahan kimia yang dapat terbakar sendiri, terbakar jika terkena udara, terkena benda panas, terkena api, atau jika bercampur dengan bahan kimia lain. Fosfor (P) putih, fosfin (PH3), alkil logam, boran (BH3) akan terbakar sendiri jika terkena udara. Pipa air, tabung gelas yang panas akan menyalakan karbon disulfide (CS2). Bunga api dapat menyalakan bermacam-macam gas. Dari segi mudahnya terbakar, cairan organic dapat dibagi menjadi 3 golongan: a. Cairan yang terbakar di bawah temperatur -4oC, misalnya karbon disulfide (CS2), eter (C2H5OC2H5), benzena (C5H6), aseton (CH3COCH3). b. Cairan yang dapat terbakar pada temperatur antara -4oC - 21oC, misalnya etanol (C2H5OH), methanol (CH3OH). c. Cairan yang dapat terbakar pada temperatur 21oC 93,5oC, misalnya kerosin (minyak lampu), terpentin, naftalena, minyak baker. Syarat penyimpanan: Temperatur dingin dan berventilasi, Tersedia alat pemadam kebakaran, Jauhkan dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik dan bara rokok. 2. Bahan mudah meledak Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya explosive (E) dapat meledak dengan pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Contoh bahan kimia mudah meledak antara lain: ammonium nitrat, nitrogliserin, TNT. Hal-hal yang dapat menyebabkan ledakan adalah: a. Karena ada udara cair. Udara dapat meledak jika dicampur dengan unsur-unsur pereduksi dan hidrokarbon b. Karena ada gas-gas c. Karena ada debu. Debu padat dari bahan mudah terbakar bercampur dengan udara dapat menimbulkan ledakan dahsyat d. Karena adanya pelarut mudah terbakar. e. Karena ada peroksida. Syarat penyimpanan: Ruangan dingin dan berventilasi Jauhkan dari panas dan api Hindarkan dari gesekan atau tumbukan mekanis Kombinasi zat-zat yang sering meledak di laboratorium pada waktu melakukan percobaan adalah: Ammonium nitrat (NH4NO3), serbuk seng (Zn) dengan air Peroksida dengan magnesium (Mg), seng (Zn) atau aluminium (Al) Klorat dengan asam sulfat Natrium (Na) atau kalium (K) dengan air Asam nitrat (HNO3) dengan seng (Zn), magnesium atau logam lain Kalium nitrat (KNO3) dengan natrium asetat (CH3COONa) Nitrat dengan eter Halogen dengan amoniak Fosfor (P) dengan asam nitrat (HNO3), suatu nitrat atau klorat Merkuri oksida (HgO) dengan sulfur (S) 3. Bahan beracun Bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya very toxic (T+) dan toxic (F) dapat menyebabkan kerusakan kesehatan akut atau kronis dan bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit. Contoh: kalium

sianida, hydrogen sulfida, nitrobenzene, atripin, sublimate (HgCl2), persenyawaan sianida, arsen, dan gas karbon monoksida (CO) dari aliran gas. Syarat penyimpanan: Ruangan dingin dan berventilasi Jauh dari bahaya kebakaran Disediakan alat pelindung diri, pakaian kerja, masker, dan sarung tangan Dipisahkan dari bahan-bahan yang mungkin bereaksi Kran dari saluran gas harus tetap dalam keadaan tertutup rapat jika tidak sedang dipergunakan 4. Bahan korosif

Bahan dan formulasi dengan notasi corrosive (C) adalah merusak jaringan hidup. Contoh asam-asam, anhidrida asam, dan alkali. Bahan ini dapat merusak wadah dan bereaksi dengan zatzat beracun. Syarat penyimpanan: Ruangan dingin dan berventilasi Wadah tertutup dan beretiket Dipisahkan dari zat-zat beracun 5. Bahan Oksidator Bahan-bahan dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya oxidizing (O) biasanya tidak mudah terbakar. Tetapi bila kontak dengan bahan mudah dapat menimbulkan ledakan dahsyat, terutama peroksida. Contoh: Chlorat, Perklorat, Bromat, Peroksida, Asam Nitrat, Kalium Nitrat, Kalium Permanganat, Bromin, Klorin, Fluorin, dan Iodin yang mudah bereaksi dengan Oksigen (dalam kondisi tertentu). Syarat penyimpanan: Temperatur ruangan dingin dan berventilasi Jauhkan dari sumber api dan panas, termasuk loncatan api listrik dan bara rokok Jauhkan dari bahan-bahan cairan mudah terbakar atau reduktor 6. Bahan reaktif terhadap air Contoh: natrium, hidrida, karbit, nitrida. Syarat penyimpanan: Temperatur ruangan dingin, kering, dan berventilasi Jauh dari sumber nyala api atau panas Bangunan kedap air Disediakan pemadam kebakaran tanpa air (CO2, dry powder) 7. Bahan reaktif terhadap asam Zat-zat tersebut kebanyakan dengan asam menghasilkan gas yang mudah terbakar atau beracun, contoh: natrium, hidrida, sianida. Syarat penyimpanan: Ruangan dingin dan berventilasi Jauhkan dari sumber api, panas, dan asam Ruangan penyimpan perlu didesain agar tidak memungkinkan terbentuk kantong-kantong hydrogen Disediakan alat pelindung diri seperti kacamata, sarung tangan, pakaian kerja

8. Gas bertekanan Contoh: gas N2, asetilen, H2, dan Cl2 dalam tabung silinder. Syarat penyimpanan: Disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan terikat Ruangan dingin dan tidak terkena langsung sinar matahari Jauh dari api dan panas Jauh dari bahan korosif yang dapat merusak kran dan katub-katub. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam proses penyimpanan adalah lamanya waktu pentimpanan untuk zat-zat tertentu. Eter, paraffin cair, dan olefin akan membentuk peroksida jika kontak dengan udara dan cahaya. Semakin lama disimpan akan semakin besar jumlah peroksida. Isopropil eter, etil eter, dioksan, dan tetrahidrofuran adalah zat yang sering menimbulkan bahaya akibat terbentuknya peroksida dalam penyimpanan. Zat sejenis eter tidak boleh disimpan melebihi satu tahun, kecuali ditambah inhibitor. Eter yang telah dibuka harus dihabiskan selama enam bulan. Penyimpanan bahan harus memperhitungkan sumber kerusakan bahan. Sumber-sumber kerusakan yang disebabkan bahan-bahan kimia di dalam lingkungannya meliputi: 1. Udara Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi. Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru, terjadinya endapan, gas dan panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi lagi serta dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan. 2. Cairan: air, asam, basa, cairan lainnya Usahakan semua bahan kimia dalam keadaan kering dan harus disimpan dalam tempat yang kering. Cairan yang bersifat asam mempunyai daya merusak lebih hebat dari air. Asam yang sifatnya gas seperti asam klorida bersama udara akan mudah berpindah dari tempat asalnya. Cara yang paling baik adalah dengan mengisolir asam itu sendiri, misalnya menempatkan botol asam yang tertutup rapat dan ditempatkan dalam lemari khusus, atau di lemari asam. 3. Suhu/temperatur Pengaruh temperatur akan menyebabkan terjadinya reaksi atau perubahan kimia dan dapat mempercepat reaksi. Panas yang cukup tinggi dapat memacu terjadinya reaksi oksidasi. Keadaan temperatur yang terlalu rendah juga mengakibatkan hal yang serupa. 4. Mekanik

Bahan-bahan kimia yang harus dahindari dari benturan maupun tekanan yang besar adalah bahan kimia yang mudah meledak, seperti ammonium nitrat, nitrogliserin, trinitrotoluene (TNT). 5. Cahaya/Sinar Sinar ultra violet (UV) sangat mempengaruhi bahan-bahan kimia. Seperti larutan kalium permanganat, apabila terkena sinar UV akan mengalami reduksi, sehingga akan merubah sifat larutan itu. Oleh karena itu untuk menyimpan larutan kalium permanganat dianjurkan menggunakan botol yang berwarna coklat. 6. Api

Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga yang dikenal dengan segitiga api. Komponen itu adalah adanya bahan bakar (bahan yang dapat dibakar), adanya panas yang cukup tinggi, dan adanya oksigen. Untuk menghindari terjadinya kebakaran salah satu dari komponen segitiga api tersebut harus ditiadakan. Cara termudah ialah menyimpan bahan-bahan yang mudah terbakar di tempat yang dingin, sehingga tidak mudah naik temperaturnya dan tidak mudah berubah menjadi uap yang mencapai titik bakarnya. 7. Sifat bahan kimia itu sendiri Bahan-bahan kimia mempunyai sifat khasnya masing-masing. Misalnya asam sangat mudah bereaksi dengan basa. Reaksi-reaksi kimia dapat berjalan dari yang sangat lambat hingga ke yang spontan. Reaksi yang spontan biasanya menimbulkan panas yang tinggi dan api. Ledakan dapat terjadi bila reaksi terjadi pada ruang yang tertutup. Contoh reaksi spontan: asam sulfat pekat yang diteteskan pada campuran kalium klorat padat dan gula pasir seketika akan terjadi api. PENUTUP Dalam melakukan praktikum yang menggunakan bahan-bahan kimia harus selalu memperhatikan faktor keselamatan diri, keselamatan semua orang yang terlibat dan juga keselamatan lingkungan. Faktor keselamatan dan kenyamanan kerja di laboratorium adalah diri kita sendiri dan adanya pengaturan dan penyimpanan bahan-bahan kimia yang sesuai aturannya, serta control rutin terhadap bahan-bahan kimia setiap jangka waktu tertentu. Kontrol terhadap penyimpanan bahan kimia dapat menghindari terjadi kecelakaan kerja maupun bahaya di laboratorium.