Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KEMATIAN MENURUT AJARAN ISLAM

MAKALAH

Oleh : Nama NRP : Hilda Rani Dwitama : 103020030

JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2010

Kematian Menurut Islam dan Al-Quran


Kematian Menurut Islam dan Al-Quran Kematian Pemahaman menurut islam dan Tafsir Al-Quran. Sebelumnya, silahkan baca artikel terdahulu yang berjudul Takdir Menurut Islam. Kesan umum tentang kematian Pandangan agama tentang makna kematian Mengapa takut mati Sebelum membicarakan kematian, terlebih dahulu perlu digarisbawahi bahwa kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi sekali, tetapi dua kali. Mereka berkata, Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami menyadari dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk keluar (dari siksa neraka)? (QS Surat Ghafir ayat 11) Kematian oleh sementara ulama didefinisikan sebagai ketiadaan hidup, atau antonim dari hidup. Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia yang fana ini. Kehidupan pertama dialami oleh manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia, sedang kehidupan kedua saat ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat. Al-Quran berbicara tentang kematian dalam banyak ayat, sementara pakar memperkirakan tidak kurang dari tiga ratusan ayat yang berbicara tentang berbagai aspek kematian dan kehidupan sesudah kematian kedua. KESAN UMUM TENTANG KEMATIAN Secara umum dapat dikatakan bahwa pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun manusia bahkan ingin hidup seribu tahun lagi. Al-Quran pun melukiskan keinginan sekelompok manusia untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil merayu Adam dan Hawa melalui pintu keinginan untuk hidup kekal selama-lamanya. Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk? (QS Thaha [20]: 120), demikian iblis merayu Adam. Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan-pandangan optimistis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan, bahkan dari kalangan para pemikir sekalipun. Manusia, melalui nalar dan pengalamannya tidak mampu mengetahui hakikat kematian, karena itu kematian dinilai sebagai salah satu gaib nisbi yang

paling besar. Walaupun pada hakikatnya kematian merupakan sesuatu yang tidak diketahui, namun setiap menyaksikan bagaimana kematian merenggut nyawa yang hidup manusia semakin terdorong untuk mengetahui hakikatnya atau, paling tidak, ketika itu akan terlintas dalam benaknya, bahwa suatu ketika ia pun pasti mengalami nasib yang sama. Manusia menyaksikan bagaimana kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak pula menangguhkan kehadirannya sampai terpenuhi semua keinginan. Di kalangan sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan, apalagi bagi mereka yang memandang bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai kehidupan ini sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan menghindari sedapat mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas tanpa kendali, demi mewujudkan eksistensi manusia. Bukankah kematian akhir dari segala sesuatu? Kilah mereka. Sebenarnya akal dan perasaan manusia pada umumnya enggan menjadikan kehidupan atau eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai kepunahan tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara untuk menunjukkan eksistensinya. Misalnya, dengan menyediakan kuburan, atau tempat-tenapat tersebut dikunjunginya dari saat ke saat sebagai manifestasi dari keyakinannya bahwa yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada. Hubungan antara yang hidup dan yang telah meninggal amat berakar pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut oleh umat manusia dewasa ini. Sedemikian berakar hal tersebut sehingga orang-orang Mesir Kuno misalnya, meyakini benar keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan mayat-mayat mereka ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Konon Socrates pernah berkata, sebagaimana dikutip oleh AsySyahrastani dalam bukunya Al-Milal wa An-Nihal (I:297), Ketika aku menemukan kehidupan (duniawi) kutemukan bahwa akhir kehidupan adalah kematian, namun ketika aku menemukan kematian, aku pun menemukan kehidupan abadi. Karena itu, kita harus prihatin dengan kehidupan (duniawi) dan bergembira dengan kematian. Kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup. Demikian gagasan keabadian hidup manusia hadir bersama manusia sepanjang sejarah kemanusiaan. Kalau keyakinan orang-orang Mesir Kuno mengantar mereka untuk menciptakan teknik pengawetan jenazah dan pembangunan piramid, maka dalam pandangan pemikir-pemikir modern, keabadian manusia dibuktikan oleh karya-karya besar mereka. Abdul Karim Al-Khatib dalam bukunya Qadhiyat Al-Uluhiyah (I:214) mengutip tulisan Goethe (1749-1833 M) yang menyatakan:

Sesungguhnya usaha sungguh-sungguh yang lahir dari lubuk jiwa saya, itulah yang merupakan bukti yang amat jelas tentang keabadian. Jika saya telah mencurahkan seluruh hidup saya untuk berkarya, maka adalah merupakan hak saya atas alam ini untuk menganugerahi saya wujud baru, setelah kekuatan saya terkuras dan jasad ini tidak lagi memikul beban jiwa. Demikian filosof Jerman itu menjadikan kehidupan duniawi ini sebagai arena untuk bekerja keras, dan kematian merupakan pintu gerbang menuju kehidupan baru guna merasakan ketenangan dan keterbebasan dari segala macam beban. PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN Agama, khususnya agama-agama samawi, mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan. Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuhkembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agamaagama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Rasul Muhammad saw, misalnya bersabda, Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan duniawi (kematian). Dapat dikatakan bahwa inti ajakan para Nabi dan Rasul setelah kewajiban percaya kepada Tuhan, adalah kewajiban percaya akan adanya hidup setelah kematian. Dari Al-Quran ditemukan bahwa kehidupan yang dijelaskannya bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Ada kehidupan tumbuhan, binatang, manusia, jin, dan malaikat, sampai ke tingkat tertinggi yaitu kehidupan Yang Mahahidup dan Pemberi Kehidupan. Di sisi lain, berulang kali ditekankannya bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Yang pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), sedangkan yang kedua dinamainva al-hayawan (kehidupan yang sempurna). Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna (QS Al-Ankabut [29]: 64) Dijelaskan pula bahwa, Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS Al-Nisa 14]: 77) Betapa kehidupan ukhrawi itu tidak sempurna, sedang di sanalah diperoleh keadilan sejati yang menjadi dambaan setiap manusia, dan di sanalah diperoleh kenikmatan hidup yang tiada taranya. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan kenikmatan dan kesempurnaan itu, adalah kematian, karena menurut Raghib Al-Isfahani: Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah

perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana diriwayatkan bahwa, Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negeri ke negeri (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat. (Abdul Karim AL-Khatib, I:217) Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. Kematian manusia dapat diibaratkan dengan menetasnya telur-telur. Anak ayam yang terkurung dalam telur, tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas. Demikian juga manusia, mereka tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini (mati). Ada beberapa istilah yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada kematian, antara lain al-wafat (wafat), imsak (menahan). Dalam surat Al-Zumar (39): 42 dinyatakan bahwasanya, Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu. Ar-Raghib menjadikan istilah-istilah tersebut sebagai salah satu isyarat betapa Al-Quran menilai kematian sebagai jalan menuju perpindahan ke sebuah tempat, dan keadaan yang lebih mulia dan baik dibanding dengan kehidupan dunia. Bukankah kematian adalah wafat yang berarti kesempurnaan serta imsak yang berarti menahan (di sisi-Nya)? Memang, Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca surat Al-Ma-idah [5]: 106), tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam arti bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup di negeri seberang. Kematian juga dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia. Nikmat yang diakibatkan oleh kematian, bukan saja dalam kehidupan ukhrawi nanti, tetapi juga dalam kehidupan duniawi, karena tidak dapat dibayangkan bagaimana keadaan dunia kita yang terbatas arealnya ini, jika seandainya semua manusia hidup terus-menerus tanpa mengalami kematian. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi makhluk manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Bukankah AlQuran menegaskan bahwa, Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya,

dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun (QS Al-Mulk [67]: 12) Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati. Kematian Merupakan Sunnatullah Allah memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yg belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yg telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yg lain sampai waktu yg ditentukan. Sesungguhnya pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yg mau berfikir. Kematian merupakan sunnatullah yg berlaku pada tiap makhluk yang bernyawa. Kematian adl diamnya jiwa dan terpisahnya nyawa dari badan utk kembali kepada Rabbnya. Ia lalu dikuburkan dan itulah terminal awal dari kehidupan akherat yg disebut alam barzah. Kematian tidak akan menjemput manusia sebelum ia sampai pada ajal dan rezeki yg ditentukan Allah untuknya. Itulah yg disebut takdir. Allah melakukan segala sesutau menurut kehendakNya. Dia mematikan manusia pada kematian agung melalui malaikatNya. Disamping kematian agung ada kematian kecil yaitu ketika manusia sedang tidur hal itu sebagai per-ingatan bagi orang-orang yg berfikir. Allah memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yg belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yg telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yg lain sampai waktu yg ditentukan. Sesungguhnya pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yg mau berfikir. Dalam shahihain disebutkan Nabi memerintahkan tiap mukmin jika mau tidur agar berdoa Dengan namaMu ya Allah aku baringkan tubuhku dan dgn nama-Mu aku bangun Jika Engkau tahan jiwaku maka rahmatilah ia dan jika Engkau melepaskannnya maka jagalah ia seperti Engkau menjaga orang-orang shalih. Lalu bila bangun agar membaca Segala puji bagi Allah yg telah menghidupkanku setelah mematikanku dan kepadaNya lah dibangkitkan. Allah Taala menceritakan apa yg ada dibalik kematian dalam firmanNya Dan Dia lah yg menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yg kamu kerjakan pada siang hari kemudian Dia membangunkanmu pada siang hari utk disempurnakan umur yg telah ditentukan lalu kepada Allah lah kamu kembali lantas Dia memberitahukan kepadamu apa yg dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yg mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya dan diutusNya kepadamu malaikat-malaikat penjaga sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami mereka itu tidak pernah melalaikan kewajibannya. Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah Penguasa mereka yg sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum kepunyaanNya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yg paling cepat.

Karena itu Allah memerintahkan kita dgn firmanNya Hai orang-orang yg beriman bertakwalah kamu kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Artinya perbanyaklah amal kebaji-kan selama masih hidup dan bertakwalah selalu kepada Allah sehingga Allah mematikanmu dalam keadaan bertakwa kepadaNya. Karena pada ghalibnya seseorang itu meninggal dalam keadaan yg biasa ia kerjakan ketika hidup. Dan kelak ia akan dibangkitkan sesuai dgn keadaan ketika ia mati. Kematian adalah suatu kejadian di dunia yg paling dahsyat yg pernah terjadi pada diri manusia sesuatu yg menampakkan kemahakuasaan Allah yg mutlak serta menegaskan betapa kerdil dan lemahnya manusia di hadap-anNya. Allah menggambarkan kematian itu dalam fimanNya Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan padahal kamu ketika itu melihat dan kami lbh dekat kepadanya daripada kamu Tetapi kamu tidak melihat maka mengapa jika kamu tidak dikuasai kamu tidak mengembalikan nyawa itu jika kamu adl orangorang yg benar. Orang yg beriman amat bersuka cita dgn kematiannya. Ia bersuka cita sebab akan bertemu Rabbnya. Berbeda dgn orang yg tidak beriman ia sama sekali tidak berdaya menghadapi kematian ia ingin lari dari kematian tetapi kemana? Ayat-ayat di atas juga mengisyaratkan pengertian bahwa dgn kematiannya seseorang telah mengetahui apa yg telah disedia-kan oleh Allah untuknya kenimatankah atau kesengsaraan. Dalam ayat lain Allah menegaskan Sekali-kali jangan apabila nafas seseorang telah sampai ke kerongkongan dan dikatakan kepada-nya Siapakah yg dapat menyembuh-kan? dan dia yakin sesungguhnya itulah waktu perpisahan dan bertaut betis dgn betis . Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Allah memperingatkan umat Islam agar tidak mengikuti orang-orang kafir. Mereka mengira bahwa berpaling dari kebenaran akan memanjangkan umurnya dan dapat menghindarkannya dari maut. Sungguh alangkah sia-sianya mimpi itu. Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu seperti orang-orang kafir itu yg mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau berperang Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh. Akibat yg demikian itu Allah menimbulkkan rasa penye-salan yg sangat di hati mereka Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yg kamu kerjakan. Dan sungguh kalau gugur di jalan Allah atau meninggal tentulah ampunan dan rahmat Allah lbh baik daripada harta rampasan yg mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan. Dengan ketidak ikutsertaan mereka berperang maka Allah menegaskan bahwa mereka lbh dekat kepada kekufuran daripada kepada keimanan. Kemudian Allah menghinakan mereka dgn ayatNya Orang-orang yg mengatakan kepada para saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang Sekiranya mereka mengikuti kita tentulah mereka tidak terbunuh. Katakanlah Tolaklah kematian itu dari dirimu jika kamu adl orang-orang yg benar. Ali Imran 168} Kematian yg

ditakutkan orang-orang munafik itu -karena berjihad- justeru bagi kaum mukminin merupakan kabar gembira kenimatan keamanan dan ridha dari Allah Taala bagi mereka. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yg gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dgn mendapat rezki mereka dalam keadaan gembira sebab karunia Allah yg diberikan kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yg masih ting-gal di belakang yg belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dgn nimat dan karunia yg besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yg beriman. Tetapi ayat di atas terkadang disalah tafsirkan oleh sebagian umat. Yakni krn keyakinan mereka bahwa para wali dan syuhada masih hidup maka mereka pun memohon dan meminta ke kuburan-kuburan mereka. Orang-orang itu tidak memahami dan menyadari bahwa yg berhak dimintai pertolongan hanyalah Allah semata tidak yg lain. Dan orang-orang yg menyeru selain Allah itu tidak menciptakan sesuatu apa pun bahkan mereka dicip-takan. Mereka adl mati tidak hidup dan mereka tidak mengetahui bilakah akan dibangkitkan? Rabb kamu adl Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yg tidak beriman kepada akherat hati mereka mengingkari sedangkan mereka sendiri adl orang-orang yg sombong. Dan siapakah yg lbh sesat daripada orang yg menyembah sembahansembahan selain Allah yg tiada dapat mengabulkan nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaanpemujaan mereka. Setiap jiwa takut kepada kematian -kecuali orang-orang yg benar-benar beriman dan ikhlas-. Allah menyatakan Katakanlah Sesungguhnya maut yg kamu lari daripadanya sungguh ia akan menemuimu. Rasulullah menggariskan kaidah dgn sabdanya Barangsiapa suka utk bertemu dgn Allah maka Allah akan cinta bertemu dengannya; dan barangsiapa tidak suka bertemu dgn Allah maka Allah tidak suka bertemu dengannya. Allah membantah angan-angan dan hayalan orang-orang Yahudi dan yg mengikuti jejaknya bahwa mereka akan mendapatkan akherat dgn segala kenimatan yg ada di dalamnya meskipun mereka melakukan berbagai macam dosa kemaksiatan kerusakan serta menyalahi syariat-syariat Allah. Katakanlah Jika kamu kampung akherat itu khusus untukmu di sisi Allah bukan utk orang lain maka inginilah kemtian jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan meng-ingini kematian itu selama-lamanya krn kesalahan-kesalahan yg telah diperbuat oleh tangan-tangan mereka . Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yg suka berbuat aniaya. Bantahan angan-angan itu umum utk semua orang apapun jenisnya. itu bukanlah menurut angan-anganmu yg kosong dan tidak menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dgn kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih baik laki-laki maupun

perempuan sedang ia seorang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tak dianiaya walau sedikitpun. An Nisa 123-124} Imam Muslim Turmudzi Ahmad dan Nasai meriwayatkan dari Abu Hurairah Aku datang kepada Rasulullah saat beliau sedang membaca firman Allah } sedang bani Adam berkata mana hartaku mana hataku? Padahal tidaklah hartamu itu melainkan apa yg engkau makan sehingga ia binasa atau apa yg engkau pakai sehingga ia usang atau apa yg engkau sede-kahkan sehingga engkau melakukan perintah. Sedang selain itu akan hilang dan engkau tinggalkan buat manusia. Maka sebaik-baik manusia adl yg mengambil perkara duniawinya sesuai kebutuhannya tidak berlebihan dan tidak pula meninggalkannya sama sekali. Lalu menjadikan semua hidupnya utk mengerjakan berbagai amal keba-jikan sebagi bekal dalam kehidupannya di akherat kelak. MENGAPA TAKUT MATI Al-Quran seperti dikemukakan berusaha menggambarkan bahwa hidup di akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia (QS AlDhuha [93]: 4) Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad. Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi saw- seperti duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras. Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa naziat gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS An-Naziat [79]: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan. Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai dicabut dengan lemah lembut, sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. Surat Al-Zumar (39): 42 yang dikutip sebelum ini mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadis pun diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah saw untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah: Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepadaNya jua kebangkitan (kelak).

Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut: Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi. Kalau demikian. mati itu sendiri lezat dan nikmat, bukankah tidur itu demikian? Tetapi tentu saja ada faktor-faktor ekstern yang dapat menjadikan kematian lebih lezat dari tidur atau menjadikannya amat mengerikan melebihi ngerinya mimpi-mimpi buruk yang dialami manusia. Faktor-faktor ekstern tersebut muncul dan diakibatkan oleh amal manusia yang diperankannya dalam kehidupan dunia ini. Nabi Muhammad saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan bahwa, Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan Tuhan (mati) . Dalam surat Fushshilat (41): 30 Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih, serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu. Turunnya malaikat tersebut menurut banyak pakar tafsir adalah ketika seseorang yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi kematian. Ucapan malaikat, Janganlah kamu merasa takut adalah untuk menenangkan mereka menghadapi maut dan sesudah maut, sedang jangan bersedih adalah untuk menghilangkan kesedihan mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan seperti anak, istri, harta, atau hutang. Manusia dapat menghibur dirinya dalam menghadapi kematian dengan jalan selalu mengingat dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak seorang pun akan luput darinya, karena kematian adalah risiko hidup. Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, Setiap jiwa akan merasakan kematian? (QS Ali Imran [3]: 183) Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS Al-Anbiya [21]: 34) Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia, dan demikian kitab suci menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantar seorang mukmin agar tidak merasa khawatir menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Menghadapi Dahsyatnya Kematian Menurut Islam Kematian bukanlah hal baru dan hangat yang ada di tengah-tengah kita, bahkan telah menjadi suatu hal yang biasa saja. Mungkin teman dekat kita, teman

kantor, teman sekolah telah mendahului kita kembali kepada Zat Yang Maha Pencitpa, Allah Subhanahu Wata'ala. Atau bahkan kerabat karib, sepupu, keponakan, adik, kakak, atau orangtua kita yang kita sayangi kini telah tiada. Sungguh sakit sekali rasanya kehilangan orang-orang terdekat kita. Menjadi hal yang wajar di tengah masyarakat saat kepergian orang yang dicintai kita menangis meraung-raung. Namun apakah kita sadar, bahwa yang meninggal itu jauh lebih sakit daripada yang ditinggal? Sadarkah kita bahwa kita nanti akan mengalami hal demikian? Apa amal kebaikan utama yang kita persiapkan untuk menolong kita dari siksa setelah kematian? Hadapi Kematian, Tidak bisa Tidak. Saat berbelanja, mungkin kita membeli mana yang sesuai keperluan hidup kita. Demikian halnya ketika kita bekerja sebagai general manager berhak dan berkuasa menolak kebijakan yang merugikan diri dan perusahaan. Berlakukah hal tersebut dalam kematian? Tidak! Sekali lagi, tidak! Wahai saudaraku. Kematian tidak dapat ditolak seperti kehidupan permainan dunia yang dapat seenaknya kita terima dan tolak. Mau tak mau, tidak bisa tidak, kematian pasti terjadi. Kita tidak dapat lari atau bersembunyi menghindari kematian. Allah telah menjelaskan dalam QS Al Jumu'ah {62}:8

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Dahsyatnya Kematian. Kematian bukanlah hal yang mudah ataupun bukan sesuatu yang selalu indah. seperti halnya pendapat dan angan-angan yang kita banyangkan dalam benak kita. Bahkan banyak ayat-ayat al quran dan hadis Rasul yang menyatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang menyakitkan. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Anam {6}:93:

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu

mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. kemudian, dalam hadis shahih, Rosullah telah bersabda: Sabda Rasulullah SAW : Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang (HR Tirmidzi). Sabda Rasulullah SAW : Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ? (HR Bukhari). Bekal Hadapi Kematian Kematian yang datang dengan tiba-tiba dan tidak terduga dengan sakit yang luarbiasa tersebut tak berarti kita diam saja dan pasrah hadapi kematian dengan alakadarnya amal kita. Justru dengan kematian yang mendadak itulah, kita dituntut untuk selalu waspada, diantaranya: 1. Selalu dalam keadaan beramal dan ibadah. Tak dapat ditawar, dengan kematian yang tidak terduga-duga kita dituntut selalu mengerjakan amal kebajikan dalam waktu 24 jam hidup kita tanpa diketahui detik keberapa kita meninggal. 2. Perbanyak ingat Allah dan siksa kematian Ingat kematian tak jera juga membuat kita berhenti berbuat dosa. Maka, ingatlah kita dengan siksa kematian. Betapa sakit orang yang berada dalam kematian (sakaratul maut). Perbanyak diri dalam mengingat Allah. Baca selengkapnya. 3. Berdoa dan mohon ampunan dosa Manusia tak luput dari salah. Allah telah membukan pintu tobat dan doa selebar-lebarnya dan seluas-luasnya kepada siapa yang ingin memperbaiki diri sebelum nyawa sampai di kerongkongan. Jangan lewatkan kesempatan hidup kita untuk senantiasa berdoa dan bertobat walaupun ujung rambut kita belum berubah putih (beruban). Siapkan diri kita hadapi kematian! Jangan tunggu besok atau lusa untuk bertobat! Siapkah Anda menghadap Allah Swt? Wallahu a'lam bish showab.