Anda di halaman 1dari 5

MORFOLOGI Sel darah merah (SDM) adalah sel yang terbanyak di dalam darah.

Karena mengandung hemoglobin, yang berwarna merah. Sel ini dapat di lihat dengan bantuan mikrosko pada sediaan hapus dengan pewarnaan MGD, sel darah merah tampak sebagai sel sel bulat tidak berinti. Dilihat dari satu arah, sel darah merah tampak sebagai lingkaran dengan arah yang tegak luruns tampak dwicekung atai bikonkaf. Dalam penyakit bawaan tertentu, sel darah merah berbentuk bola seperti dalam keadaan sferositosis. Dalam penyakit bawaan lain yaitu afalositosis morfologi sel darah merah seperti telur. Ketika melalui kapiler, banyak di antara SDM yang tidak biasa ini rusak sehingga terjadilah pemecahan SDM di dalam pembuluh darah (hemolisis intra vaskuler). Diameter SDM manusia biasanya sebesar 7,82mm, sedangakan tebal cakramnya adalah 0,810,35 mm ditempat yang paling tipis dan 2,580,27 di tempat yang paling tebal. Volume SDM rata-rata adalah 9414 fL (femtoliter, 1Fl = 1015 L atau 0,000000000000001 L), sedangakan luas permukaanya yaitu 13516 mm2. Bila ukuran volume SDM menjadi lebih besardinamai dengan makrositosis. Sebaliknya, bila ukuran volume ini lebih kecil, terjadi keadaan mikrositosis. HEMOGLOBIN Fungsi utama SDM ialah mengikat dan membawa O2 dari paru-paru untuk diedarkan dan dibagikan keseluruh sel diberbagai jaringan. Kelarutan oksigen secara fisik di dalam darah sangat dipengaruhi tekanan parsial oleh gas ini (PO2) serta oleh suhu. Kedua faktor ini merupakaan faktor lingkungan yang sangat mudah berubah-ubah. Satusatunya jalan ialah dengan mengikat oksigen secara kimia dan untuk itu harus ada senyawa yang mampu melakukan pengikatan tersebut. Keperluaan tersebut dipenuhi oleh senyawa yang terkenal dengan nama hemoglobin (Hb) ini. Hemoglobin ini dapat saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma, kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak maksimum karena pengaruh faktor lingkungan tersebut masih tampak. Oksigen yang berikatan dengan hemoglobin (disebut sebagai oksihemoglobin atau HbO2 saja) merupakan suatu senyawa yang reaktif, lebih reaktif dari pada oksigen yang terlarut secara fisik demikian saja. Reaksi yang membentuk ikatan antara hemoglobin dan oksigen tersebut dapat dituliskan sebagai berikut Hb+O2HbO2 Hemoglobin yang tidak atau belum yang mengikat oksigen disebut sebagai deoksihemoglobin atau deoksiHb dan umumnya dapat ditulis sebagai Hb saja. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut sebagai oksihemoglobin atau HbO2. Seperti yang tampak pada persamaan reaksi tersebut, reaksi ini dapat berlangsung dalam arah kekanan, yang merupakan reaksi penggabungan atau asosiasi terjadi didalam alveolus

paru-paru, tempat berlangsungnya pertukaran udara antara tubuh dengan lingkungan. Sebaliknya, reaksi yang berjalan dalam arah yang berlawanan dari kiri ke kanan, yang merupakan suatau reaksi penguraian atau disosiasi, terutama terjadi didalam berbagai jaringan. Denagn demikian, dapat juga di katakana bahwa hemoglobin dalam SDM mengikat oksigen di paru-paru dan melepaskannya di jaringan, untuk diserahkan dan digunakan oleh sel-sel. Peran besi(Fe) dalam hemoglobin Sebagai suatu senyawa yang berperan dalam pengikatan dan penglepasan oksigen. Hb merupakan suatu protein yang kompleks, yang tersusun dari protein globin dan suatu senyawa bukan protein yang dinamai hem. Hem sendiri juga suatu senyawa yang rumit, tersususn dari suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin ,yang bagian pusatnya di tempati oleh logam besi Fe. Jadi, hem adalah senyawa porfirin-Fe (Fe-porfirin), Sedangkan Hb adalah kompleks aatara globin-hem. Besi yang berada dalam molekul Hb sangat penting untuk menjalankan fungsi pengikatan dan penglepasan O2 bila terjadi kekurangan Fe, jumlah Hb juga akan berkurang sehingga jumlah O2 yang di bawa juga akan berkurang pula. Misalnya dalam keadaan kekurangan (defisiensi) Fe yang menimbulkan keadaan kekurangan darah atau anemia yang lebih tepat di sebut sebagai kekurangan Hb . adanya besi di dalam Hb secara kimia dapat di tuliskan sebagai Hb(Fe)4. Oleh karena sudah umum di ketahui bahwa1 molekul Hb mengandung 4 atom Fe, maka untuk melukiskan adanya besi tersebut biasanya secara kimia hemoglobin di tuliskan sebagai Hb (Fe) saja. Untuk dapat menjalankan fungsi mengikat oksigen, besi yang terkandung dalam molekul hemoglobin harus berada dalam falensi yang rendah atau tereduksi (Fe2+ atau Ferro). Dengan demikian, kandungan besi dalam hemoglobin yang fungsional secara kimia ditulis sebagai Hb (Fe2+) , reaksi dengan pengikatan dan penglepasan oksigen oleh hemoglobin dapa dituliskan sebagai berikut Hb (Fe2+) + O2 Hb (Fe2+) O2 Hemoglobin dan besi dalam keadaan tereduksi dinamakan sebagai hemoglobin terreduksi. Ion ferro yang mengalami penglepasan 1 elektron akan menjadi ferri. PROTEIN GLOBULIN Protein globulin adalah bagian sangat penting dari hemoglobin dan ikut menentukan daya ikat atom besi yang terkanduung dalam molekul tersebut. Ikatan dan interaksi protein globulin dengan hem menentukan afinitas (kuat tidaknya ikatan) antara atom besi hem dengan oksigen. Interaksi tersebut juga mempengaruhi mudah atau sukarnya atom besi Hem dicapai oleh molekul air. Pada orang dewasa sehat telah diketahui terdapat dua macam hemoglobin ada bersama-sama ialah HbA1 HbA2 (A singkatan dari adult,dewasa) pada bayi dalam kandungan terutama dua trisemester pertama terdapat hemoglobin lain

yang bernama HbF (F singkatan dari fetal, jabang bayi). Afinitif HbF lebih besar dari HbA. Perbedaan afinitas oksigen ini disebabkan oleh perbedaan jenis protein globin yang membentuk tiap-tiap hemoglobin tersebut. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IKATAN HEMOGLOBIN-OKSIGEN Tujuan pengikatan ini agar oksigen dapat dibawa dal jumlah besar. Faktor yang mempengaruhinya adalah yang SDM dan pH molekul hemoglobin terdiri atas dua protein globin yang berbeda jenis globin berpangaruh terhadap afinitas O2dari gugus hem yang diikatnya. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya globin pada HbF, karena kedua jenis Hb ini sama-sama mempunyai globin . Metabolisme yang terpenting dari SDM ialah glikolisis, yang memecah glukosa secara anaerob, tanpa melibatkan oksigen, menjadi asam laktat. Beberapa metabolit atau senyawa antara yang terbentuk dari rangkaian reaksi kimia dalam glikiolisis ini ternyata mempengaruhi ikatan hemoglobin dengan oksigen, sehingga oksigen dilepaskan. Tingkat keasaman atau pH cairan tubuh juga sangat berpengaruh pada daya ikat hemoglobin atau oksigen. Bila cairan misbi lebih asam, ion H+ yang berlebihan tersebut berdifusi masuk SDM dan berikatan dengan hemoglobin dengan menggeser oksigen oksigen dari ikatannya dengan protein tersebut. Reaksi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut. H+ + HbO2 HHb + O2

Faktor lainnya yaitu berhubungan dengan lingkungan seperti suhu ,tekanan pasrsial O2 dan CO2 . faktor suhu ikut menentukan kelarutan gas dalam air. Pada umumnya, makin tinggi tekanan suatu gas (dalam keadaan murni) atau tekanan parsialnya (dalam campuran gas) makin besar kelarutannya. Sebaliknya, bila tekanan parsial tersebut lebih rendah, gas yang terlarut tersebut akan keluar dari cairan. Pengaruh tekanan parsial kedua gas pernafasan tersebut perlu di perhitungkan, karenan tekanan parsial tersebut berbeda-beda di dalam tubuh. Tekanan parsial ialah tekanan komponen tersebut di dalam campuran gas yang kita hirup tatkala kita bernafas. Pada dasarnya tekanan parsial oksigen di dalam jaringan lebih kecil dalam darah kapiler. Tekanan parsial Oksigen akan sama dengan tekanan saat kita bernafas sehingga oksigen akan lepas dari ikatannya dengan hemoglobin ketika tekanan parsial oksigen di sekelilingnya rendah. Oleh karena itu oksigen akan lepas dan akan di tangkap oleh selseluntuk digunakan sebagaimana mestinya. Unruk CO2 takanan yang tertinggi adalah di jaringan karena di tempat ini lah yang akan menghasilkan metabolism tersebut. Tekanan parsial yang rendah adalah di udara dan ada

di dalam paru-paru. Berdasarkan prinsip yang sama makan ini akan terjadi penglepasan gas CO2 ke uadar di lingkungan. KONSENTRASI SEL DARAH MERAH Konsentrasi sel darah perlu diketahui untuk menilai fisiologi tubuh. Sel darah merah yang cukup ikut menjamin jumlah oksigen untuk sel-sel diberbagai jaringan sehingga sel-sel tersebut dapat bekerja sebaik-baiknya. Sebaliknya, bila jumlah tersebut berbeda dari biasanya, umumnya kurang sehingga terjadi anemia, maka keadaan tersebut harus diatasi. Ada beberapa cara yang digunakan untuk menyatakan konsentrasi sel darah merah didalam darah. Pertama ialah menyatakanya dalam konsentrasi hemoglobin, kedua sebagai jumlah SDM dalam suatu volume tertentu dan ketiga dalam nilai hematokrit. Diantara ketiga caraini, penetuan konsentrasi hemoglobin adalah nisbi yang paling teliti dan paling mudah dilakukan. Pada dasarnya yang diperlukan sebenarnya adalah hemoglobin untuk mengangkut oksigen, menggambarkan kemampuan pengikatan dan pengangkutan gas. Penetapan secara kimia hasilnya dinyatakan dalam satuan gram hemoglobin atau Dl (atau gram hemoglobin / 100mL dulu dinyatakan sebagai gram %). Jumlah SDM dihitung secara mikroskopis dengan alat yaitu kamar hitung. Cara ini sangat tergantung pada pengalaman penghitung dan ada tidaknya penglelahan mata penghitung. Dengan cara ini, konsentrasi darah dinyatakan sebagai jumlah SDM/mL. nilai yang umumnya disepakati ialah 5.106 SDM/mL bagi lelaki dewasa dan 4,5.106 SDM/mL bagi perempuan dewasa. Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada didalam darah dalam volume tertentu. Darah diambil dengan semperit dalam suatu volume yang ditetapakan dan dipindahkan ketabung khusus berskala hematokrit. Pengukuran hematokrit, darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung digoyang SDM akan mengendap. Dari skala hematokrit yang tertulis didinding tabung dapat dibaca berapa besar volume yang didududki oleh sedimen SDM, yang dibandingkan dengan volume darara seluruhnya. Nilai hematokrit normal pada laki-laki dewasa sehat ialah 45% dan perempuan dewasa ialah 41%. Penetapan salah satu dari ketiga nilai ini sudah dapat memberikan gambaran umum, apakah konsentrasi SDM seseorang cukup atau tidak. Bila terjadi anemia diperlukan informasi lebih lanjut, bagaiman konsentrasi rata-rata hemoglobin/SDM, volume SDM makrositik (kecil), normositik biasa atau makrositik (lebih besar). Nilai-nilai tersebut diperoleh dari perhitungan dan diperlukan 2 dari 3 data besaran dasar tersebut, yaitu konsentrasi Hb, Konsentrasi SDM, dan hematrokrit (Ht). volume SDM diperoleh dari membagi nilai hematrokrit (mL/L darah) dibagi dengan jumlah SDM (juta/mL darah). Satuan yang digunakan adalah fL dan nilainya 80-94 fL. Konsentrasi hemoglobin/SDM

diperoleh dari membagi konsentrasi hemoglobin dengan jumlah SDM. Hasilnya, dalam satuan pg (pikogram, 1 pg = 10-12g). pada orang dewasa sehat antara 27-32 pg, dengan rat-rata 29,5 pg. ANEMIA Secara harfiah anemia berate kurang darah. Oleh Karen fungsi sel darah merah sebenarnya dijalankan oleh hemoglobin dan akibat anemia adalah konsekuensi dari kurangnya hemoglobin untuk mengikat dan mengangkut oksigen ke jaringan, maka anemia diartikan sebagai keadaan konsentrasi hemoglobin yang kurang dari normal. Gejala yang paling umum ialah pucat, yang dilihat pada wajah penderita. Gejala ini tampak lebih jelas pada selaput lender, dilihat pada mulut dan dalam kelopak mata. Selain itu, gejala umum yang selalu ditemukan ialah mudah lelah. Penyebab anemia dapat dibagi menjadi 4 kelompok. Anemia disebabkan oleh cacat atau masalah faktor konstitusional dari SDM. Anemia seperti ini biasanya tidak atau belum dapat diobati. Selain itu disebabkan oleh faktor defisiensi bahan-bahan makanan yang diperlukan untuk sintesis komponen SDM. Anemie jenis ini pada dasarnya dapat di obati dan di cegah asalkan penyebabnya di ketahui dengan tepat. Penyebab anemia yang ketiga ialah kehilangan SDM yang baik dan sehat yang sudah di buat dalam jumlah yang cukup. Kehilangn ini umumnya terjadi karena pendarahan besar maupun kecil. Penyebab yang paling sering dari anemia jenis ini ialah pendarahan kecil dan kronis. Penyebab yang ke empat ialah adanya reaksi imunitas (otoimun) dari system imun seseorang terhadap sel darah merah sedangkan SDM tersebut mungkin sehat-sehat saja. System imun orang tersebut seharusnya tidak boleh memandangh asing terhadap komponen tubuhnya sendiri kali ini memperlakukan SDM sendiri sebagai benda asing.