Anda di halaman 1dari 3

Infeksi Post Partum ( Nifas ) Infeksi post partum / nifas adaah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan

setiap infeksi bakteri di traktus genitalia setelah pelahiran. Infeksi panggul merupakan penyulit paling sering pada masa nifas. Infeksi panggul, preeklamsia dan perdarahan obstetric merupakan trias letal penyebab kematian ibu selama beberapa decade pada abad ini. The national Pregnancy Mortality Surveilance System menggambarkan kematian hampir 1500 ibu di Amerika Serikat dari 1987 sampai 1990. Infeksi menyebabkan 13 persen kematian terkait kehamilan dan merupakan penyebab tersering keempat. Demam Nifas Demam nifas merupakan indeks yang cukup diandalkan untuk menunjukkan insiden infeksi panggul. The Joint Commite on Maternal Welfare bersidang pada tahun 1919. Beberapa tahun kemudian badan ini memodifikasi standar Eropa dan mendefinisikan morbiditas nifas sebagai berikut: Suhu mencapai 38oC atau lebih pada 2 diantara 10 hari pertama postpartum kecuali pada 24 jam perta,a dan diperoleh melalui pengukuran di mulut dengan teknik standar paling tidak empat kali sehari. Infeksi Uterus Infeksi yang terjadi pada desidua, miometrium dan parametrium, istilah infeksi uterus lebih dikenal sebagai metritis dengan selulitis pelvis. Infeksi uterus jarang terjadi setelah persalinan pervaginam non komplikata, tetapi merupakan masalah pada pasien dengan persalinan section caesarea. Faktor Predisposisi 1. Persalianan Pervaginam Metritis setelah pelahiran pervaginam relative lebih jarang dijumpai. Sweet dan Ledger (1973) melaporkan bahwa insiden infeksi uterus postpartum setelah pelahiran pervaginam adalah 2,6 persen. - Apabila wanita dengan risiko tinggi yang ditandai dengan ketuban pecah dini dan persalinan lama, pemeriksaan dalam ulang serta pemantauan janin internal, mengakibatkan peningkatan insiden metritis setelah persalinan pervaginam mencapai 6 persen. Apabila terjadi korioamnionitis intrapartum, risiko infeksi meningkat menjadi 13 persen - Wanita dengan kehamilannya disertai dengan gangguan pada janin, termasuk lahir mati, berat lahir rendah, persalinan premature dan morbiditas neonatus serius lebih sering terjadi metritis. - Wanita yang dirawat berulang karena persalinan pervaginam, lebih sering terjadi metritis. 2. Sectio caesarea Cuningham dkk (1978) mendapatkan insiden keseluruhan sekittar 50 persen pada wanita yang melahirkan dengan section caesaria di Parkland Hospital.

Wanita yang menjalani section caesaria atas indikasi disproporsi sefalopelvik tanpa mendapat profilaksis berioperasi memperlihatkan insiden infeksi panggul serius mendekati 90 % ( DePalma dkk, 1982; Gilstrap dan Chuningham, 1979) 3. Faktor lain - Hubungan seksual - Kolonisasi bakteri - Gestasi multi janin - Usia ibu yang muda dan nulipara Etiologi Adanya organism yang menginvasi tempat implantasi plasenta, insisi atau laserasi akibat pelahiran biasanya disebabkan oleh organism normal yang berkoloni di serviks, vagina dan perineum. Bakteri yang sering menjadi penyebab infeksi genitalia wanita : Aerob Streptokokus grup A, B, dan D Enterococcus Bakteri gram negative E.coli, Klebsiella dan spesies Proteus Staphylococcus aureus Gardnerella vaginalis Anaerob Spesies Peptococcus Spesies Peptostreptococcus Grup Bacteroides Fragilis Spesies Clostridium Spesies Fusobacterium Spesies Mobiluncus Lain-lain Spesies Mycoplasma Chlamydia Trachomatis Neisseria Gonorrhoeae

Patogenesis Pada sebagian besar kasus, bakteri yang menyebabkan infeksi panggul adalah bakteri yang normalnya menghuni usus dan juga berkoloni di perineum, vagina dan serviks. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi genitalia biasanya beragam, walaupun biasanya dianggap bervirulensi rendah, bakter-bakteri ini dapat menjadi pathogen akibat hematom dan devitalisasi jaringan. Walaupun vagina dan servik memiliki banyak bakteri pathogen, namun rongga uterus biasanya steril sebelum kantong amnion pecah. Akbiat persalinan dan pelahiran serta terjadinya manipulasi, cairan amnion dan mungkin biasanya uterus terkontaminasi oleh bakteri anaerob dan bakteri aerob. Infeksi nifas setelah persalinan pervaginam terutama mengenai tempat implantasi plasenta dan desidua serta miometrium di dekatnya. Pada sebagian kasus, duh tubuh yang keluar berbau, banyak, berdarah dan kadang-kadang berbusa. Patogenesis infeksi uterus setelah seksio sesarea adalah akbiat

infeksi luka operasi. Sewaktu persalinan, bakteri yang kolonisasi serviks dan vagina memperoleh akses cairan amnion dan postpartum bakteri-bakteri ini akan menginvasi jaringan mati di tempat histerektomi. Kemudian terjadi selulitis parametrium dengan infeksi jaringan ikat fibroareolar retroperitoneum panggul. Hal ini disebabkan penyebaran limfogen organism dari tempat laserasi serviks atau insisi / laserasi uterus yang terinfeksi. Proses biasanya terbatas di jaringan paravagina dan jarang meluas ke dalam panggul. Perjalanan penyakit Demam yang timbul pada infeksi uterus mungkin setara dnegan luasnya infeksi. Dan apabila terbatas di endometrium (desidua) dan miometrium superficial, kasus biasanya ringan dan demam minimal. Biasanya suhu lebih dari 38 sampai 39oC. Demam dapat disertai menggigil dan mengisyaratkan adanya bakterimia yang terbukti terjadi pada 10 sampai 20 persen wanita dengan infeksi panggul setelah seksio sesarea. Denyut nadi biasanya mengikuti kurva suhu. Wanita yang bersangkutan biasanya mengeluh nyeri abdomen dan pada pemeriksaan abdomen dan bimanual dijumpai nyeri tekan parametrium. Karena nyeri insisi, nyeri tekan abdomen dan fundus uterus mungkin lebih bermanfaat untuk menegakkan diagnosis metritis setelah persalinan pervaginam daripada section sesarea. Bahkan pada tahap awal sudah dapat timbul duh berbau. Namun pada banyak wanita didapatkan lokia berbau tidak enak tanpa tanda-tanda infeksi yang lain. Dengan demikian stelah mengeklusi kausa lain, demam tetap merupakan kriteria terpenting untuk diagnose metritis postpartum. Terapi Untuk kasus metritis,ringan setelah persalinan pervaginam yang didiagnosa berdasarkan duh, obat oral mungkin memadai. Namun untuk infeksi sedang dan berat termasuk pada kasus pascasectio sesarea diindikasikan untuk terapi parenteral dengan antimikroba spectrum luas. Perbaikan akan terjadi dalam 48 sampai 72 jam hampir 90 persen wanita