Anda di halaman 1dari 73

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

SISTEM DIGESTI
Batasan
Digesti yang dalam bahasa Inggeris digestion berasal dari bahasa Latin digestio yang diturunkan dari istilah Latin sebelumnya digerere yang berarti memisahkan. Jones dan kawan-kawan (1953) memaknai pengertian digesti sebagai: 1) aktifitas atau proses pengubahan bentuk makanan menjadi bentuk yang memungkinkan untuk proses asimilasi, 2) pengurangan massa suatu substansi dengan cara penguapan atau pemanasan, 3) proses disintegrasi suatu materi dengan menggunakan bahan kimia kuat Masyarakat luas memaknai digesti sebagai penguraian bahan makanan yang masuk melalui mulut menjadi bentuk yang lebih halus sehingga mudah diserap usus untuk diedarkan ke dalam sistem sirkulasi darah..Sehubungan dengan itu, padanan kata yang banyak dipakai masyarakat luas di Indonesia untuk istilah digesti ini adalah pencernaan makanan. Dalam bidang biologi ada istilah katabolisme (Inggeris: catabolism), yakni proses penguraian bentuk molekul kompleks menjadi bentuk molekul yang lebih sederhana guna menghasilkan energi. Lawannya adalah anabolisme (Inggeris: anabolism) yakni pembentukan molekul kompleks dari molekul sederhana dengan membutuhkan energi. Singkatnya, katabolisme adalah fase-urai (fase-analisa) dari proses metabolisme yang menghasilkan energi, sedang anabolisme adalah fase-susun (fase-sintesa) dari proses metabolisme yang membutuhkan energi. Dalam konteks metabolisme, digesti adalah bagian dari katabolisme Sistem digesti pada tingkat ini dapat dikatakan sebagai sistem digesti pada tingkat molekul (Sistem Digesti Molekuler, SDM) (Lihat Metabolisme). Sistem digesti tersedia pula pada tingkat seluler. Sistem digesti tersebut dilakukan oleh bagian dari organ-organ seluler (organella) yakni vakuola Sistem digesti pada tingkat ini dapat dikatakan sebagai Sistem Digesti Seluler (SDS). Sedang sistem digesti yang lazim terjadi pada tubuh manusia (dan tubuh hewan pada umumnya) adalah Sistem Digesti Organik (SDO). Tanpa penjelasan lain, sistem digesti pada tubuh manusia dimaksudkan sebagai sistem digesti organik (SDO) ini, Kajian anatomis terhadap SDO semestinya sudah sedemikian kompleks. Tetapi pada kesempatan kali ini dibahas kajian-kajian yang relatif lebih sederhana Kajian tersebut meliputi: A. Saluran Digesti (Gambar 1) B. Kelenjar-Kelenjar Digesti C. Organ-Organ Penunjang Digesti: 1. Sistem selubung dan rongganya 2. Sistem kelenjar pelumasnya 3. Sistem pembuluh darahnya 4. Sistem limfatikanya 5. Sistem sarafnya 6. Sistem ekskresinya

A. Saluran Digesti (Saluran Pencernaan, Traktus Digestivus, Tractus Digestivus)


Saluran digesti pada tubuh manusia meliputi (Gambar 1) - Rongga Mulut (Cavitas Oris, Cavum Oris) - Orofarings (Oropharynx) - Esofagus (Esophagus) - Ventrikulus (Lambung, Ventriculus, Gaster, Maag) - Usus Halus (Intestinum Tenue) yang meliputi: Duodenum (Usus Duabelas Jari, Jejunum & iIeum

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Usus Tebal (Intestinum Crassum), atau Kolon (Colon) yang meliputi: Usus Buntu (Sekum, Cecum), Kolon Asendens (Colon Ascendens), Kolon Transversum (Colon Transversum), Kolon Desendens (Colon Descendens), Kolon Sigmoid (Colon Sigmoideum) Rektum (Rectum) dan Dubur (Anus, Anus, Liang Pelepasan)

Gambar 1 Saluran & Kelenjar Digesti

A1. Rongga Mulut (Cavitas Oris, Cavum Oris, RM)


Rongga Mulut (RM) (Gambar-gambar 2--7 terdapat di daerah kepala, yang dibatasi oleh: Cranial Antero-lateral Caudal Posterior : Langit-langit (Palatum) : Gusi-gusi serta Geligi Atas dan Bawah (Gingivae et Dentes Superiores et Inferiores) : Lidah (Lingua) dan Dasar Mulut : Lengkung Palatoglosus Kanan dan Kiri (Arcus Palatoglossus Dexter et Sinister)

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 2 Rongga mulut

Gambar 3 Rongga Mulut penampang sagital

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 4 Potongan sagital ruang-ruang di sekitar Rongga Mulut NP= Nasopharynx, OP= Oropharynx, LP= Laryngopharynx, Ep= Epiglottis, CO= Cavum Oris, RO= Rima Oris, CN= Cavum Nasi, PD= Palatum Durum, PM= Palatum Molle

Gambar 5 Diagram potongan sagital ruang-ruang di sekitar Rongga Mulut NP= Nasopharynx, PM= Palatum Molle, OP= Oropharynx, LP= Laryngopharynx, Ep= Epiglottis, Es= Esophagus, Lr= Larynx, OH= Os Hyoideum, Mb= Mandibula, VO= Vestibulum Oris, DI= Dentes Inferiores, LI= Labium Oris Inferior, Lg= Lingua, LS= Labium Oris Superior, CO= Cavum Oris, PD= Palatum Durum, CN= Cavum Nasi Celah di luar RM, yang terdapat di antara gusi & geligi di sebelah dalam dan pipi (bucca) beserta bibir mulut (labium oris) di sebelah luar disebut vestibulum (vestibulum oris) (Gambar 2, 3 ,5 & 6). Pintu masuk ke dalam vestibulum dan RM, yang dibatasi oleh lingkar yang dibentuk oleh Bibir Mulut Atas dan Bawah (Labium Oris Superior et Inferior) disebut Rima Oris (Lubang Mulut) (Gambar 4). Pintu keluar dari RM ke arah posterior untuk masuk ke Orofarings (Oropharynx) yang dibatasi oleh Lipat Palatoglosus Kiri dan Kanan disebut Fausium (Faucium) (Gambar 3 & 6).

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 6. Rongga Mulut dan bangunan-bangunannya LS= Labium (Oris) Superior, LI= Labium (Oris) Inferior, GS= Gingiva Superior, GI= Gingiva Inferior DS= Dentes Superiores, DI= Dentes Inferiores, VO= Vestibulum Oris, PD= Palatum Durum, PM= Palatum Molle, Uv= Uvula, Fa= Faucium, fls= frenulum labii superioris, fli= frenulum labii inferioris, flg= frenulum linguae, CLg= Corpus Linguae, ALg= Apex linguae (di-fleksi ke kiri) Langit-langit (Palatum) (Gambar 2-6) sebagai atap dari RM dibedakan menjadi Langit-langit Keras (LK, Palatum Durum) di bagian anterior dan Langit-langit Lunak (LL, Palatum Molle) di bagian posterior. Langit-langit Keras (Palatum Durum, LK) sebagai atap bagian depan RM cukup keras dan kuat, karena ditopang oleh bagian dari Viscerocranium yakni os palatinum (kanan dan kiri). Langit-langit Lunak (Palatum Molle, LL) sebagai atap bagian belakang dari RM relatif lunak, Selain oleh jaringan tulang di depan dan jaringan otot di belakang, Palatum dilapisi pula oleh jaringan ikat dan selaput lendir (Tunica Mucosa Palatini). Selaput lendir langit-langit (Tunica Mucosa Palatini) mengandung kelenjarkelenjar lendir (glandulae mucosae) yang menghasilkan lendir (mucin) yang pada umumnya bersifat mucous (lendir kental). Tidak dijumpai kelenjar-kelenjar liur (glandulae salivares) pada selaput lendir langit-langit. LK karena konsistensinya yang kuat, banyak berfungsi dalam membantu proses digesti mekanik (mengunyah makanan) yang terjadi di dalam RM. LL karena relatif lunak tidak berperan aktif dalam proses mengunyah makanan. Mobilitasnya karena ditopang M Uvulae, membantu di dalam proses pencampuran (pengadukan) makanan yang dikunyah di dalam RM. Gusi (isit, gingiva) (Gambar 3, 6 & 7) adalah bangunan yang terbentuk oleh jaringat ikat padat dan dilapisi selaput lendir (Tunica Mucosa Gingivae), yang menempati permukaan dari lengkung tulang rahang atas dan rahang bawah yang dikenal sebagai Processus Alveolaris Maxillaris (yang atas) dan Processus Alveoilaris Mandibularis (yang bawah).Selaput lendirnya yang luar menghadap ke celah Vestibulum, yang dalam menghadap ke RM, sedang yang bawah (untuk Gusi Atas) atau yang atas (untuk Gusi Bawah) membentuk cekung gusi (alveolus gingivae) sebagai tempat bersarang akar-akar gigi. Tunica Mucosa Gingivae seperti Tunica Mucosa Palatini, mengandung kelenjar-kelenjar lendir yang menghasilkan lendir bersifat mucous, dan tidak mengandung kelenjar-kelenjar liur. Fungsinya di dalam proses digesti adalah, menopang geligi pada proses mengunyah makanan padat.

Geligi (dentes) adalah rangkaian gigi-gigi yang menempati cekung-cekung gusi atas maupun bawah (Gambar 5, 6 & 7).

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 7 Penampang bujur gigi, pada gusi dan rahang. Pada gambar ini dicontohkan gigi dewasa Molar, dan pada rahang bawah (Mandibula). cn= corona dentis, cv= cervix dentis, rd= radix dentis, em= enamelum (email), dt= dentinum, pd= pulpa dentis, cr= canalis radicis, gv= gingival, cm= cementum, Md= Mandibula, vn= vasa (arteria dan vena) dan nervi Pada orang dewasa geligi berjumlah 64 buah, 32 menempati gusi atas, sedang 32 yang lain menempati gusi bawah. Pada masing-masing gusi geligi dewasa masih dibedakan atas 2 pasang gigi seri (incisivus, I), sepasang gigi taring (caninus, C), 2 pasang gigi premolar (premolare, P) dan 3 pasang gigi molar (molare, M). Rumusan geligi dewasa biasa dituliskan sebagai Gambar 8 berikut: kanan atas kiri atas

kanan bawah

kiri bawah

Gambar 8 Rumus susunan geligi permanen (dewasa) I= Incisivus, C= Caninus, P= Premolare, M= Molare (kesemuanya sudah permanen) Atas dasar rumusan tersebut, bila ingin menuliskan rumusan sebuah gigi, misal Incisivus1 Kanan Atas, atau Caninus Kiri Atas, atau Molar Kanan Bawah, atau Premolar Kiri Bawah saja, maka dapat dituliskan sebagai Gambar 9 berikut ini:

Gambar 9. Contoh penulisan rumus gigi

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Contoh-contoh lain perumusan gigi dapat pula dilihat pada Gambar 10 berikut ini. Pada Gambar 10 hanya dicontohkan cara penulisan rumus gigi untuk gigi-gigi dewasa kiri atas.

Gambar 10. Gigi atas permanen dan contoh perumusannya.

(a) Incisivus 2 Kiri Atas, (b) Caninus Kiri Atas, (c) Premolare 1 Kiri Atas, (d) Molare 3 Kiri Atas
Pada anak-anak, gigi-gigi masih belum permanen. Gigi pada masa anak-anak disebut gigi decidua.Gigi decidua jumlah maksimalnya hanya 20, atau 8 untuk setiap kuadran. Pada tiap kuadran ini, jumlah incisivus (i) dan caninus (c) sama dengan bila sudah dewasa, tetapi belum ada gigi premolar dan gigi-gigi molar (m)-nya hanya 2. Rumusannya dapat dituliskan sebagai Gambar 11 berikut ini:

I= Incisivus, C= Caninus, P= Premolare, M= Molare

Gambar 11. Rumus susunan geligi decidua (anak-anak) i= incisivus, c= caninus, m= molare (kesemuanya masih decidua) Dalam mekanisme digesti, geligi berperan aktif di dalam proses menggigit, mengoyak, dan mengunyah (melumat) bahan-bahan makanan padat di dalam RM. Pipi (bucca) (Gambar 3) adalah dinding lateral Vestibulum Oris. Lapisan luarnya ditutup kulit wajah, lapisan dalamnya oleh selaput lendir pipi (Tunica Mucosa Buccalis) yang mengandung kelenjar-kelenjar lendir penghasil mucin. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat jaringan ikat longgar, yang selain dilewati pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, dilewati pula saluran kelenjar liur dari glandula parotis, yang terletak di bagian belakang pipi. Saluran kelenjar liur tersebut dikenal sebagai ductus parotideus (Gambar 12). Dalam jaringan ikat pipi terdapat pula jaringan otot, m. buccinator (Gambar 12 & 13) , yang turut membantu di dalam proses mengunyah RM.

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 12. Glandula parotidea, ductus parotideus & m buccinator pada pipi kanan. GP= glandula parotis (glandula parotidea), GPa= glandula parotis accessorius, GSm= glandula submandibularis, Bc= m buccinator, Ms= m masseter

Gambar 13 Menunjukkan otot pipi kanan, M Buccinator Dexter Lidah (Lingua) (Gambar 2-6, 14-19), merupakan organ muskuler yang terdapat di dasar RM. Permukaannya ditutup oleh lapisan lendir (Tunica Mucosa Lingualis), yang dibedakan menjadi 2 jenis. Yang terdapat pada 2/3 anterior bersifat General Somatic Afferent (GSA), sedang yang terdapat pada 1/3 bagian posterior, di sekitar sulcus terminalis, dan pada tepi lidah bersifat Special Visceral Afferent (SVA) Sulkus terminalis (sulcus terminalis) adalah gambaran alur melengkung berbentuk huruf V yang menjadi batas antara permukaan lidah bagian anterior dan bagian posterior (Gambar 14 & 15).. Sifat GSA adalah sifat-sifat seperti yang dimiliki kulit pada umumnya, yakni dapat merasakan sensasi taktil, panas dan dingin. Sedang sifat SVA adalah sifat-sifat perbatasan antara General Visceral Afferent (GVA) dengan GSA. Sifat-sifat GVA adalah sifat-sifat yang dimiliki selaput-selaput lendir (tunica mucosa) organ dalam pada umumnya, yakni: tidak menyadari adanya rangsangan (stimulus), tetapi langsung merespons-nya sebagai refleks. Seperti diketahui, epidermis kulit (GSA) secara embriologis berasal dari ektoderm, sedang lapisan mukosa organ dalam (GVA) dari endoderm. Lapisan mukosa yang bersifat SVA, secara embriologis berasal dari endoderm, tetapi secara fungsional bersifat seperti yang berasal dari ektoderm. Maka pada lapisan mukosa lidah bagian ini (posterior, sekitar sulkus terminalis, dan bagian tepi) dijumpai

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

pula organ-organ reseptor pengecap rasa (taste, gustasi), yang dikenal sebagai organon gustus (jamak: organa gustatoria). Mayoritas organa gustatoria yang menempati bagian belakang lidah untuk sensasi rasa pahit, sedang yang menempati sekitar sulkus terminalis dan bagian tepi lidah (secara sporadis muncul pula pada permukaan bagian anterior lidah, terutama pada permukaan ujung lidah) untuk sensasi-sensasi manis, asin, gurih dan asam. Organon gustus dapat berbentuk seperti jamur (papilla fungiformis), seperti daun (papilla foliata) atau berbentuk bundaran dengan cekung melingkarinya (papilla circumvallata) (Gambar 14).

Gambar 14 Permukaan lidah, untuk menunjukkan bagian belakang dan bagian depan lidah, serta organa gustatoria yang terdapat padanya Pada bagian bawah lidah bagian anterior, lapisan lendir yang berbatasan dengan dasar mulut melipat dikenal sebagai plica sublingualis, dan lapisan lendir yang bagian median juga membentuk lipatan yang dikenal sebagai frenulum linguae. Pangkal frenulum pada plica sublingualis membentuk tonjolan yang dikenal sebagai caruncula sublingualis. Di kanan kiri caruncula ini, bermuara saluran kelenjar liur, ductus submandibularis (Gambar 16)

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 15 Permukaan lidah bagian posterior

Gambar 16. Dasar bagian depan lidah untuk menunjukkan muara saluran kelenjar liur glandula submandibularis (muara ductus submandibularis) 1= frenulum lingua, 2= crista v sublingualis profunda, 3= plica sublingualis, 4= caruncula sublingualis, 5= muara ductus submandibularis Otot pada lidah ada 2 macam, yakni otot intrinsik lidah, dan otot ekstrinsik lidah. Otot intrinsik lidah adalah otot-otot yang berujung dan pangkal di dalam jaringan ikat lidah itu sendiri, yang dengan demikian turut serta di dalam membentuk massa lidah bersama jaringan ikatnya. Otot-otot intrisik lidah terdiri dari Mm longitudinales linguae, yang berjalan dari bagian belakang ke bagian depan teras lidah, yang dibedakan menjadi m longitudinalis superior, medius, dan inferior linguae. M

10

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

transversus lingua, yang berjalan melintang dari kanan ke kiri teras lidah, dan M verticalis linguae yang berjalan dari bawah ke atas di dalam teras lidah (Gambar 17) Otot ekstrinsik lidah adalah otot-otot yang yang berpangkal (berorigo) dari tulang-tulang di seputar lidah, dan berinsertio (berakhir, melekat) pada teras lidah. Otot-otot tersebut meliputi (Gambar 18 & 19): m styloglossus, berpangkal pada processus styloideus m. palatoglossus, berpangkal pada bagian belakang os palatinum m genioglossus, berpangkal pada spina mentalis pada sisi dalam mandibula, dan m hyoglossus, berpangkal pada os hyoideus

Gambar 17 Otot intrinsik lidah pada penampang sagital lidah. Tampak pada gambar ini m longitudinalis (m longitudinalis linguae superior) yang memanjang dari belakang ke depan, m transversalis (m transversalis linguae) yang terpotong melintang, dan m verticalis (m verticalis lingua) yang tergambar menyebar naik dari bawah ke atas.

Gambar 18 Otot ekstrinsik lidah pada penampang sagital lidah.(m palatoglossus tidak tampak) 1 m longitudinalis inferior (linguae) 6 esopohagus 2 processus styloideus 7 m cricohyoideus 3 m constrictor pharyngis superior 8 cartilago thyroidea 4 m constrictor pharyngis medius 9 m thyrohyoideus 5 m constrictor pharyngis inferior 10 insertio m stylohyoideus 11 mandibula

11

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 19 Skema lengkap otot ekstrinsik lidah Pg= M Palatoglossus Dexter, Sg=M Stylolossus Dexter, Hg= M Hyoglossus Dexter, Gg= M Genioglossus, Gh= M Geniohyoideus Dexter, Mh= M Mylohyoideus Dari data anatomis sebagaimana diuraikan di atas, lidah dalam sistem digesti berfungsi sebagai - Alat perasa suhu bahan makanan dan minuman - Alat pengecap bahan makanan dan minuman - Alat pengaduk bahan makanan padat yang dikunyah (di-digesti mekanik) di dalam rongga mulut Otot Dasar RM & Otot Mastikasi. M geniohyoideus, m mylohyoideus, bersama dengan m digastricus venter anterior, bukan termasuk otot ekstrinsik lidah, tetapi merupakan otot-otot dasar RM (Gambar 20). Sedang otot-otot pada dinding lateral RM seperti: m masseter, m temporalis, m pterygoideus lateralis, dan m pterygoideus medialis, karena aktifitasnya yang dapat menggerakkan articulatio temporomandibularis (sendi rahang), maka berfungsi sebagai otot-otot pengunyah (otot-otot mastikasi) (Gambar 21 & 22).

Gambar 20 Otot-otot dasar mulut Mb= Mandibula, OH= Os Hyoideum, DvA= m digastricus venter anterior, Gh= m geniohyoideus, Mh= m mylohyoideus, DvP= m digastricus venter posterior, Sh= m stylohyoideus

12

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 21 M Temporalis dan M Masseter 1= linea temporalis superior (tempat melekat m temporalis), 2= m temporalis, 3= capsula articularis temporomandibularis (selubung sendi rahang), 4= arcus zygomaticus, 5= m masseter

Gambar 22 Musculi Pterygoidei 1= M pterygoideus lateralis, 2= m pterygoideus medialis, 3= Mandibula

A2. Orofarings (Oropharynx)


Orofarings (Gambar 3, 4 & 5) adalah bagian dari Farings (Pharynx, Tekak), Sebagaimana diketahui, Farings terbagi menjadi 3 bagian, yakni Nasofarings, Orofarings, dan Laringofarings. Nasofarings adalah bagian Farings yang terletak di belakang (dorsal) dari Ronga Hidung, Orofarings adalah bagian Farings yang terletak di belakang (dorsal) RM, sedang Laringofarings adalah bagian Farings yang terletak di atas (cranial) dari Larings (Larynx, Tenggorok) Di bagian cranial-oral, oral (frontal, depan) dan caudal, Orofarings tidak berdinding. Di bagian cranial-oral berhubungan terbuka dengan nasofarings, di bagian oral dengan RM, dan di bagian caudal dengan laringofarings. Pintu penghubungnya dengan nasofarings disebut choanae, sedang pintu penghubungnya dengan RM disebut faucium.

13

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Di bagian cranial Orofarings dibatasi dinding tulang bagian dari basis cranii (tulang dasar tengkorak, yakni Os Occipitale), jaringan ikat padat dan selaput lendir yang melapisinya. Di bagian dorsal oleh tulang vertebra pertama dan kedua, jaringan ikat padat serta selaput lendir yang melapisinya. Di bagian dorsal lateral dan lateral dibatasi oleh otot-otot farings, jaringan ikat dan selaput lendir yang melapisinya.. Lebih lanjut, sekurang-kurangnya pada deskripsi kali ini, sebutan farings yang sehubungan dengan sistem digesti dimaksudkan sebagai orofarings. Otot dinding orofarings (farings) bersifat special visceral efferent (SVE), dibedakan atas m. constrictor pharyngis superior, medius, dan inferior (Gambar 23). Otot SVE adalah otot-otot yang secara embriologis (asal-usul pada massa embrio) adalah mesoderma-visceralis (sama dengan asal-usul otot polos pada umumnya), tetapi dalam perkembangannya kemudian, gambaran histologisnya, topografi anatomisnya, serta fungsinya, sudah tidak murni sebagaimana otot polos pada umumnya. Gambaran histologisnya sudah mirip otot seranlintang, topografinya sudah lebih somatik (lebih berhubungan dengan permukaan tubuh dan tidak lagi meliputi/melapisi organ dalam) dan fungsinya sudah tidak semata-mata untuk refleks (walau masih berfungsi refleks), tetapi juga sudah dapat dipengaruhi kehendak (walau tidak mudah). Orofarings tidak melakukan proses mengunyah (digesti), tetapi berperan sebagai organ pengubung antara RM dengan Esofagus. Keberadaan lapisan ototnya berfungsi sebagai organ yang mampu melakukan aktifitas refleks, baik refleks menelan, maupun refleks muntah. Dengan demikian orofarings mampu merespons hasil digesti rongga mulut untuk meneruskan ke dalam esofagus (dengan refleks menelan-nya), atau sebaliknya, memuntahkan kembali ke arah rongga mulut (dengan refleks muntahnya), bila ternyata hasil digesti tidak dikehendaki untuk diteruskan esofagus masuk ke dalam ventrikulus.

Gambar 23 Otot-otot pharynx. cps= m constrictor pharingis superior, cpm= m constrictor pharyngis medius, cpi= m constrictor pharyngis inferior, OH= Os Hyoideum, CT= Cartilago Thyreoidea, CC= Cartilago Cricoidea, Tr= Trachea, Es= Esophagus

A3. Esofagus (Esophagus)


14

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Esofagus adalah bagian dari saluran digesti, yang menghubungkan Farings dengan Ventrikulus (Ventriculus, Gaster, Maag) (Gambar 24). Esofagus berjalan vertikal sejak keluar dari Farings, melalui bagian belakang leher (cervix, collum), bagian belakang rongga dada (cavitas thoracis), menerobos diafragma (diaphragma, sekat rongga badan) melalui Hiatus Esophagus (Hyatus Esophagus), (Gambar 27) untuk bermuara ke dalam Ventrikulus di dalam rongga perut (cavitas abdominalis).

Gambar 24. Esofagus Dinding Esofagus terdiri dari - bagian luar, tunica fibrosa, berupa serabut-serabut jaringan ikat - bagian tengah, tunica muscularis, dan - bagian dalam, tunica mucosa Tunica fibrosa terutama tersusun oleh jaringan ikat elastik Tunica muscularis esophagei dibedakan menjadi 2 bagian. Bagian 1/3 cranial terbentuk oleh otot-otot special visceral efferent (SVE), sedang bagian yang 2/3 caudal oleh otot-otot general visceral efferent (GVE, otot visceral, atau otot polos pada umumnya). Otot visceral (GVE) adalah otot polos, jadi hanya berfungsi melaksanakan gerak refleks, tidak dapat diperintah oleh kehendak. Otot esofagus masih dipisahkan menjadi 2 lapisan, yang luar adalah lapisan longitudinal (stratum longitudinale), sedang yang dalam adalah lapisan sirkuler (stratum circulare) (Gambar 25).

Gambar 25. Lapisan otot pada Esofagus Selaput lendir Esofagus (Tunica Mucosa Esophagei) tidak mengandung kelenjar-kelenjar yang menghasilkan enzim-enzim digesti. Kelenjar-kelenjar yang terdapat padanya hanyalah kelenjar-kelenjar lendir yang menghasilkan mucin.

15

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sebagai anggota sistem digesti, peran Esofagus adalah menghantarkan bahan-bahan yang tertelan oleh Orofarings,menuju ke Ventrikulus, dengan gerakan peristaltiknya. Dengan kata lain Esofagus berperan pula di dalam proses menelan. Gerak peristaltik adalah gerak kontraksi bergantian antara lapisan otot longitudinal (stratum longitudinale) dengan lapisan otot sirkuler (stratum circulare)-nya

A4 Ventrikulus (Ventriculus, Gaster, Maag)


Ventrikulus adalah bagian dari sistem digesti, muara dari Esofagus, terdapat di dalam rongga perut (cavitas abdominalis) kiri atas. Organ ini berupa kantung, berbentuk seperti huruf J, dan dibedakan atas cardia, yakni bagian yang berhubungan langsung dengan Esofagus, fundus, yakni bagian atas yang cembung, corpus, atau badan ventrikulus yang di tengah, dan antrum, yakni bagian yang berhubungan dengan Pylorus (Gambar 26).

Gambar 26 Ventrikulus dengan bagian-bagiannya Di bagian atas ventrikulus dibatasi dan bersingungan dengan diafragma (diaphragma). Lubang pada diafragma tempat masuk ke dalam cardia ventriculi disebut hyatus esophagus (Gambar 27). Di bagian kanan terdapat Hepar (lobus sinister), di bagian kiri belakang terdapat Limpa (Lien), di bagian bawah kiri terdapat Ginjal Kiri (Ren Sinister) dan Kelenjar Suprarenal Kiri (Glandula Suprarenalis Sinister), dan di bagian bawahnya terdapat Colon Transversum dan Flexura Coli Sinistra (Flexura Coli Lienalis) (Gambar 28). Cekung ventrikulus yang menghadap ke medial dikenal sebagai curvatura minor, dan cembung yang menghadap ke lateral dikenal sebagai curvatura major (Gambar 27). Pada curvatura minor melekat lipatan derivat (turunan) peritoneum yang dikenal sebagai Omentum Minus, dan pada curvatura major terdapat lipatan derivat peritoneum yang dikenal sebagai Omentum Majus (Gambar 28).

16

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 27 Diaphragma & Hyatus Esophagus Dp= Diaphragma, FCV= Foramen Venae Cavae, HE= Hyatus Esophagus, HA= Hyatus Aorticus

Gambar 28 Ventrikulus dan organ-organ sekitar 1. Ventriculus, 2. Hepar lobus dexter, 3. Hepar lobus sinister, 4. Vesica Fellea, 5. Pylorus, 6. Duodenum (pars superior), 7. Omentum Minus, 8. Omentum Majus (menutup Colon Transversum), 9. Flexura Coli Dextra, 10. Ren Dexter, 11. Lien, 12. Flexura Coli Sinistra, 13. Penunjuk masuk Bursa Omentalis melalui Foramen Epiploicum, 14. Pengait menyibak hepar untuk memperjelas gambar bangunan di sebaliknya

Ruang di antara lipatan omentum minus sering disebut sebagai Cavitas Peritoniealis Minor atau Bursa Omentalis, sedang celah di antara lipatan omentum majus disebut Recessus Bursa Omentalis atau Recessus Inferior Omentalis. Cavitas Peritonealis Minor dihubungkan dengan Cavitas Peritonealis Major, oleh lubang yang disebut Foramen Epiploicum (Winslowi) (Gambar 28, 29)

17

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 29 Foramen Epiploicum (Winslowi)

FEW= Foramen Epiploicum Winslowi. Ruang di dalam Omentum Minus adalah Cavitas Peritonii Minor. Gambar tangan berada di dalam Cavitas Peritonii Major, sedang gambar telunjuk masuk lubang (FEW) menuju Cavitas Peritonii Minor (Bursa Omentalis) Foramen Epiploicum dibatasi oleh - cranial (atas) - ventral (depan) - dorsal (belakang) - caudal (bawah) : lobus caudatus hepar : ligamentum hepatoduodenale : peritoneum yang melapis v cava inferior : pars superior duodenum

Dinding ventrikulus dari luar ke dalam terdiri dari lapisan-lapisan: tunica serosa, tunica subserosa, tunica muscularis, tunica submucosa, tunica mucosa Tunica serosa diliputi sel-sel mesothelium yang berasal dari peritoneum. Tunica muscularisnya pada dasarnya terdiri dari stratum longitudinale di bagian luar, dan stratum circulare di bagian dalam. Tetapi terutama pada corpus bagian atas, fundus dan cardia, di sebelah dalam stratum circulare terdapat pula lapisan otot yang berjalan miring (menyilang, diagonal, obliq), yakni stratum obliquum. Tunica mucosanya membentuk lipatan-lipatan yang dikenal sebagai plica gastrica (Gambar 30).

Gambar 30 Ventrikulus, lapisan otot, serta lipatan mukosanya. 1. stratum longitudinale, 2. sratum circulare, 3. stratum obliquum, 4. plica gastrica, 5. sphincter esophagei (inferior)

18

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Pada tunica mucosa ventriculi, terdapat beberapa jenis sel-sel kelenjar i. sel-sel kelenjar mucosa menghasilkan mucin sebagai pelumas ii. sel-sel kelenjar digesti, menghasilkan pepsin, asam lambung dan enzimenzim digesti yang lain, dan iii. sel-sel parietal yang menghasilkan glikoprotein yang berlaku sebagai faktor intrinsik untuk absorbsi vitamin B12 Dengan demikian, ventrikulus berperan sebagai organ digesti mekanik (melalui lapisan otot polosnya), serta digesti kimiawi, melalui sekresi enzim-enzim digestinya.

A5. Usus Halus (Intestinum Tenue)


Usus halus (Gambar 31) adalah bagian dari sistem digesti, berbentuk saluran, yang terdapat di antara ventrikulus dan usus tebal. Usus halus yang pada orang dewasa memiliki panjang sekitar 7 meter dibedakan lagi menjadi: duodenum, jejunum, dan ileum

Gambar 31 Usus halus (Intestinum Tenue) 1. Esophagus, 2. Ventrikulus, 3. Pylorus, 4. A Mesenterica superior, 5. Mesenterium, 6. Colon Transversum, 7. Flexura Coli Dextra, 8. Colon Ascendens, 9. tenia coli, 10. Muara Ileum ke dalam Cecum, 11. Cecum, 12. Appendix Vermiformis Duodenum atau usus dua belas jari (karena panjangnya sekitar 12 jari atau sekitar 25 cm) adalah bagian paling proksimal dan paling tebal dari usus halus. Duodenum dapat dibedakan menjadi 4 bagian: pars superior, pars descendens, pars horisontalis, dan pars ascendens. Pars superior duodeni mulai dari akhir pylorus kira-kira setinggi vertebra lumbalis I (VL I), berjalan ke arah kanan sepanjang kira-kira 5 cm; pars decendens duodeni sepanjang 7-10 cm berjalan turun mulai dari ujung kanan pars horisontalis sampai setinggi VL IV; pars horisontalis duodeni berjalan ke arah kiri dari ujung bawah pars desendens, menyilang columna vertebralis, panjang sekitar 5-7,5 cm; pars ascendens duodeni berjalan naik dari ujung kiri pars horisontalis, sampai kira-kira setinggi VL II, panjang sekitar 2,5 cm. Ujung akhir pars ascendens duodenum melekuk ke arah bawah, dikenal sebagai flexura duodeno-jejunalis, dan menjadi awal dari bagian usus halus berikut yakni jejunum (Gambar 32).

19

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 32 Duodenum, topografi & bagian-bagiannya d1= Duodenum Pars Superior, d2= Duodenum Pars Descendens, d3= Duodenum Pars Horizontalis, d4= Duodenum Pars Ascendens, SD= Glandula Suprarenalis Dexter, SS= Glandula Suprarenalis Sinister, RD= Ren Dexter, RS= Ren Sinister, Pc= Pancreas, UD= Ureter Dexter, US= Ureter Sinister, AAb= Aorta Abdominalis, VCI= Vena Cava Inferior. Perhatikan A & V Mesenterica Superior yang muncul dari belakang Pancreas.

Gambar 33 Skeletopi Duodenum (merah) Pars superior setinggi VL1 (Vertebra Lumbal I), pars descendens antara VL1-VL4, akhir pars ascendens setinggi VL4 Kecuali pars superior, semua bagian duodenum adalah retroperitoneal, artinya, terdapat di belakang selubung peritoneum, atau tidak diliputi oleh selubung peritoneum. Dengan demikian, dinding duodenum pada bagian-bagian tersebut (yang retroperitoneal) dari luar ke dalam adalah: tunica fibrosa, tunica muscularis, tunica submucosa, dan tunica mucosa. Dinding duodenum pars superior, sebagaimana dinding bagian intestinum tenue yang lain (jejunum dan ileum) dari luar ke dalam adalah: tunica serosa, tunica subserosa, tunica muscularis, tunica submucosa, dan tunica mucosa. Bagian duodenum ini termasuk intraperitoneal, karena diliputi oleh selubung peritoneum.

20

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Retro- dan intraperitoneal adalah istilah yang lazim diperuntukkan bagi organ-organ di dalam abdomen. Retroperitoneal apabila permukaan organ tidak diliputi atau hanya 1/3 atau kurang dari permukaannya yang ditutup/diliput oleh selubung peritoneum. Intraperitoneal apabila hampir seluruh permukaan atau sekurang-kurangnya 2/3 permukaannya ditutup/diliputi oleh selubung peritoneum. Contoh-contoh organ dalam abdomen (viscera abdominis) yang retroperitoneal adalah: Duodenum (selain pars superior), Ren Dexter dan Sinister, Glandula Suprarenalis Dexter dan Sinister, Pancreas (caput dan corpusnya), Colon Ascendens, Colon Descendens Contoh-contoh viscera abdominis yang intraperitoneal adalah: Ventriculus, Pylorus, Duodenum pars Superior, Jejunum, Ileum, Cecum, Appendix Vermiformis, Colon Transversum, Colon Sigmoideum, Hepar, Vesica Fellea, Pancreas (cauda-nya), dan Lien. Jejunum adalah bagian kedua, atau bagian tengah dari usus halus, kelanjutan dari duodenum (mulai dari flexura duodenojejunalis), yang kemudian melanjut sebagai ileum, bagian ketiga, atau bagian akhir dari usus halus. Ileum bermuara ke dalam pangkal dari colon (Colon Ascendens) yang disebut Cecum. Jejunum dan Ileum termasuk organ intraperitoneal. Selain hampir seluruh permukaannya dilapis peritoneum, Jejunum dan Ileum juga memiliki alat penggantung dari lipatan peritoneum, yang dikenal sebagai mesenterium (Gambar 31). Pada dasarnya, mesenterium adalah lipatan peritoneum, yang merupakan kelanjutan dari tunica serosa yang melapisi permukaan luar Jejunum dan Ileum. Lipatan mesenterium untuk kembali menjadi peritoneum parietale, bila dipotong akan meninggalkan garis ganda beriringan pada dinding posterior abdomen, yang dikenal sebagai radix mesenterii (Gambar 34)

Gambar 34 Radix mesenterii 1= duodenum pars superior, 2= duodenum pars ascendens, 3= ujung distal duodenum (muara ke jejunum), 4= peritoneum parietale, 5= tempat kedudukan cecum, 6= radix mesenterii

Usus halus adalah bagian dari sistem digesti yang menyempurnakan pencernaan makanan yang telah dimulai dari Rongga Mulut (RM) dan Ventrikulus, dan melakukannya secara kimiawi dengan bantuan enzim-enzim yang dihasilkan oleh Hepar dan terutama Pankreas, untuk kemudian mengabsorbsinya (menyerapnya). Oleh enzim amylase pankreas, karbohidrat dicerna menjadi bentuk monosakarid terutama glukosa. Oleh enzim proteolitik pankreas seperti tripsin (trypsin), kimotripsin (chymotrypsin), karboksipeptidase (carboxypeptidase), aminopeptidase, atau dipeptidase, protein dipecah menjadi molekul-molekul asam amino atau molekul-molekul peptida yang lebih sederhana. Oleh enzim lipase pankreas yang dibantu oleh bilus yang dihasilkan hepar, zat lemak dalam bentuk trigliserida dicerna terutama menjadi asam lemak bebas dan monogliserida (2-monogliserida), dan sebagian menjadi gliserol bebas dan digliserid.

21

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Enzim-enzim digesti yang dihasilkan sel-sel kelenjar eksokrin pancreas, begitu pula bilus yang dihasilkan hepar, masuk usus halus ke dalam duodenum (pars descendens). Enzim yang dari sel-sel eksokrin pankreas dapat melalui duktus pankreatikus asesorius (ductus pancreaticus accessorius, ductus pankreatikus minor, ductus pancreaticus minor, ductus pancreaticus Santorini), dapat pula melalui ductus pankreatikus mayor (ductus pancreaticus major, ductus pancreaticus Wirsungi). Yang melalui duktus pankreatikus minor bermuara pada papilla duodeni minor, sedang yang melalui duktus pankreatikus mayor pada papilla duodeni mayor. Papilla-papilla duodenalis itu terdapat pada pertengahan dinding posterior sinister (posterior medial) dari duodenum pars descendens, dengan papilla yang mayor terletak lebih caudal dan lebih visibel dibanding yang minor (Gambar 35, 37).

Gambar 35 Pankreas dengan saluran kelenjar dan muaranya pada duodenum. 1. Ductus Pancreaticus Major (Wirsungi), 2. Papilla Duodeni Major, 3. Papilla Dudodeni Minor, 4. Ductus Pancreaticus Minor (Santorini, Accessorius), 5. Ductus Choledochus (Ductus Biliaris Communis) Bilus masuk duodenum melalui duktus koledokus (ductus choledochus, ductus biliaris communis) pada papilla duodeni mayor, setelah bersatu terlebih dulu dengan duktus pankreatikus mayor. Duktus koledokus adalah persatuan dari duktus sistikus (ductus cysticus, saluran ekskresi bilus dari vesica fellea) dengan duktus hepatikus komunis (ductus hepaticus communis, gabungan dari saluran ekskresi bilus yang dari ductus hepaticus dexter dan sinister) (Gambar 36)

Gambar 36 Vesica Fellea (Kantung Empedu) VF= Vesica Fellea, DCy= Ductus Cysticus, DHd= Ductus Hepaticus Dexter, DHs= Ductus Hepaticus Sinister, DHc= Ductus Hepaticus Communis, DCh= Ductus Choledochus

22

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sebelum bermuara pada papilla duodeni major, saluran bilus (gabungan ductus pancreaticus major dengan ductus choledochus) melebar dan dikenal sebagai Ampulla dari Vater (Ampulla Vateri). Ampulla ini dikelilingi jaringan otot polos yang berlaku sebagai klep, dikenal sebagai M Sphincter Hepatopancreaticus atau M Sphincter Oddi (Gambar 37).

Gambar 37. Diagram potongan vertikal duodenum (pars descendens) di sekitar papilla duodeni major Dpd= Duodenum pars descendens,, Dch= Ductus Choledochus, Dpm= Ductus pancreaticus major, Pcr= Pancreas, SO= M Sphincter Oddi, AV= Ampulla Vateri. Bangunan-bangunan pada duodenum: 1= Papilla Duodeni Major (Papilla Wirsungi), 2= Plica circularis Kerkringi, 3= tunica mucosa, 4= tela submucosa, 5= tunica muscularis Tunica mucosa duodeni membentuk lipatan-lipatan ke arah lumen duodenum. Lipatan-lipatan itu melingkari hampir seluruh keliling lumen duodenum, dikenal sebagai plica circularis duodeni (plica circularis Kerkringi). Sel-sel kelenjar pada tunica mucosa duodeni menghasilkan lendir (mucous). Di sekitar papilla Wirsungi, ada kelenjar lendir yang relatif besar, dikenal sebagai glandula duodenalis Brunneri (glandula duodenalis, glandula Brunneri). Kelenjar ini menghasilkan lendir (mucous) yang kaya alkalin dan mengandung bikarbonat, yang berfungsi sebagai: - pelindung lapisan mukosa duodenum dari pengaruh asam lambung - pembuat suasana basa dalam usus halus agar cukup kondusif untuk proses pencernaan dan absorbsi (penyerapan) - pelumas permukaan mukosa usus halus Kelenjar Brunneri juga mensekresi urogastron yang berfungsi menghambat aktifitas sel-sel utama (chief cells) dan sel-sel pendamping/tepi/sertaan-nya (parietal cells) pada ventrikulus. Dengan demikian juga berfungsi menjaga lapisan lendir duodenum (dan usus halus yang lain) dari pengaruh asam lambung. Selain itu, disebutkan pula bahwa sel-sel kelenjar pada duodenum (juga pada usus halus yang lain) ada yang menghasilkan sejenis hormon yang disebut kolesistokinin (cholecystokinin) yang berfungsi memacu sekresi enzim-enzim kelenjar digesti dari sel-sel eksokrin pancreas. Sekresi kolesistokinin dipacu oleh adanya nutrient yang masuk ke dalam saluran digesti. Pada tunica mucosa jejunum dan ileum, selain membentuk plica circularis, lapisan mukosa pada tiap plica bercabang-cabang seperti pohon dan dikenal sebagai villus intestinalis (jamak: villi intestinales) (Gambar 38 & 39). Keberadaan vIlli ini menjadikan permukaan jejunum dan ileum menjadi sangat luas, yang sangat berguna untuk fungsi absorbsinya. Seperti diketahui, proses absorpsi hasil digesti banyak dilakukan oleh lapisan mukosa jejunum dan ileum, terutama sekali jejunum. Prosesnya melalui mekanisme difusi (difusi aktif, transport aktif) pada membran-membran sel epitel villi.

23

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 38 Permukaan dalam usus halus (intestinum tenue) dan plica circularisnya

Gambar 39 Penampang bujur villi intestinales (A) dan sebuah vilus intestinalis (B) pada tunika mukosa usus halus TMc= tunica mucosa, TSm= tunica submucosa, vl= vasa lymphatica, ka= kapiler arteriosa, kv = kapiler venosa, kl = kapiler limfatika (kapiler khilosa, kapiler lakteal), ep = epitel selaput lendir usus (epitel tunika mukosa usus)

24

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Jejunum menjadi bagian dari usus halus yang menjalankan fungsi absorpsi terhadap mayoritas nutrient, dengan perkecualian sebagai berikut: - zat besi diabsorpsi duodenum - vitamin B12 dan garam-garam empedu diabsorpsi bagian distal ileum - air dan lipid diabsorpsi secara difusi pasif oleh semua bagian usus halus - fruktosa diabsorbsi secara difusi yang difasilitasi - sodium bikarbonat (Na-bikarbonat) diabsorpsi secara difusi aktif atau secara difusi ko-transport (co-transport diffusion). Difusi ko-transportnya bisa bersama glukosa, atau bersama asam amino Meskipun peran utama jejunum dan ileum adalah untuk absorpsi, pada bagian usus halus ini juga masih terjadi digesti kimiawi, terutama untuk karbohidrat dan protein, karena terdapat kelenjar-kelenjar digesti yang dikenal sebagai kelenjar-kelenjar intestinal atau kelenjar-kelenjar Lieberkuhn (glandula Lieberkuhn). Enzim yang dihasilkan kelenjar-kelenjar tersebut adalah maltase, sukrase, dan enteropeptidase (enterokinase). Enzim sukrase & maltase berfungsi untuk digesti karbohidrat (sukrosa dan maltose), enteropeptidase untuk mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin yang berfungsi untuk digesti protein (Lihat Bab Kelenjar-kelenjar Digesti di bawah) Catatan Difusi pasif adalah proses transportasi pasif dari substansi kimiawi (atom atau molekul) melalui membran sel secara spontan, tanpa bantuan aktifitas khusus dari substansi lain atau substansi (protein) pada membran sel, dan tidak memerlukan energi dari sel (tidak mengurangi energi sel) Difusi aktif adalah proses transportasi aktif dari substansi kimiawi (atom atau molekul) melalui membran sel, dengan bantuan aktifitas khusus dari substansi lain atau substansi (protein) pada membran sel untuk meningkatkan gradasi/kualitas strukturnya, sehingga memerlukan energi tambahan dari sel (mengurangi energi sel) Difusi difasilitasi adalah difusi pasif yang dibantu oleh aktifitas protein membrane sel Difusi ko-transport adalah transportasi melalui membran sel dengan menumpang mekanisme transport dari substansi lain Perlu diperhatikan bahwa transportasi lipid setelah melalui mekanisme difusi pasif pada membran epitel vilus, tidak masuk langsung ke dalam sistem sirkulasi darah (melalui kapiler venosa), tetapi masuk ke dalam sistem sirkulasi limfe (vasa limfatika) melalui kapiler limfatika (kapiler lakteal, kapiler khilosa, lymphatic capillary, lacteal capillary, chylus capillary) Kapiler-kapiler limfatika (lakteal, khilosa) dari dalam vilus kemudian bermuara ke dalam anyaman vasa limfatika pada tunika submukosa, untuk lebih lanjut bermuara ke dalam vasa limfatika (lacteal, khilosa) yang lebih besar lagi di dalam mesenterium (Gambar 39 dan 41) Oleh karena itu pada tunika submukosa usus halus, banyak dijumpai nodus-nodus limfatikus, baik yang berbentuk nodus-nodus tunggal (nodus limfatikus solitarius, nodus limphaticus solitarius), maupun yang berbentuk gerombolan-gerombolan nodus (nodus limfatikus agregatus, nodus limphaticus agregatus). Gerombolan nodi limfatici tersebut tergambar sebagai bercak-bercak (plak, plaque) kehitaman pada tunika submukosa usus, yang dikenal sebagai Plaques Peyeri (plak atau bercak dari Peyer) (Gambar 40 & 41). Plaques Peyeri terutama banyak dijumpai pada tunika submukosa ileum dan jejunum bagian distal. Plaques Peyeri dapat pula disebut sebagai tonsilla intestinalis

25

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 40 Gambaran histologis potongan lintang ileum, menunjukkan Plaques Peyeri. 1. tunica serosa, 2. tunica muscularis, 3. tunica submucosa, 4. tunica mucosa, dengan gambaran-gambaran villi intestinales, 5. gerombolan nodi lymphatici yang membentuk bercak (Plaques Peyeri), 6. nodus lymphaticus yang tersebar (nodus lymphaticus solitarius)

Gambar 41 Gambaran mikroskopik electron (ME) sistem limfatika dalam dinding usus halus. kl= kapiler limfatika, vl1= vasa limfatika dalam tunica mucosa, vl2= vasa limfatika menembus dinding usus (menuju vasa limfatika mesenterii), nls= nodus limfatikus solitaries, nla= nodus limfatikus agregatus (Plaques Peyeri), sc= stratum circulare (tunica muscularis intetinalis), sl= stratum longitudinal (tunica muscularis intestinalis), Lapisan-lapisan penyusun dinding usus halus mulai dari luar ke dalam lumen usus terdiri dari tunika serosa, tunika muskularis, tunika submukosa, dan tunika mukosa . (Gambar 42) Tunika mukosa tersusun oleh epitel, berbagai kelenjar dan jaringan penunjang Epitel usus halus berbentuk epitel kolumnar selapis dan terbagi menjadi beberapa jenis sel, yakni: sel absortif, sel goblet,

26

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

sel endokrin dan sel Paneth Lamina proprianya tersusun oleh jaringan ikat retikular dan fibroplastik yang longgar dan kaya pembuluh darah, pembuluh khilus (lacteal), jaringan saraf, dan otot polos (otot visceral, otot GVE). Lapisan otot polos di sini dikenal sebagai lamina muscularis mucosae

Gambar 42. Gambaran histologist dinding usus halus. Mstr= jaringan mesenterium, Tsrs= tunika serosa,, Tmus= tunika muskularis, Tsub= tunika submukosa, Tmuk= tunika mukosa, 1= vasa darah, 2= lapisan mesotel (dari tunika serosa), 3= lapisan jaringan ikat dari tunika serosa (tunika subserosa), 4= lamina muscularis mucosae, 5= lamina propria, 6= kelenjar usus halus (glandula intestinalis, glandula Lieberkuhn), 7= epitel kulumner simpleks, 8= vilus intestinalis Tunika muskularis usus halus sebagaimana otot pada saluran digesti pada umumnya, terpisah menjadi dua lapisan, yang bagian luar serabut-serabut ototnya membentuk berkas-berkas longitudinal (memanjang) dikenal sebagai stratum longitudinale, dan yang bagian dalam membentuk berkas-berkas melingkar (sirkuler) dikenal sebagai stratum circulare. Di antara kedua strata itu terdapat anyaman saraf visceral (saraf General Visceral Efferent, saraf GVE), yang dikenal sebagai Plexus Auerbachi (Gambar 43). Di dalam plexus ini dijumpai ganglion GVE yang disebut pula sebagai Ganglion Auerbachi. Ganglion Auerbachi diyakini sebagai ganglion untuk GVE Parasympathis (GVE-P)

Gambar 43 Gambaran histologis lapisan otot usus (tunica muscularis intestinalis). 1. Tunica Submucosa, 2. Stratum Circulare, 3. Stratum Longitudinale, 4. Tunica Subserosa, 5. Tunica Serosa, 6. Plexus Auerbachi

A6. Usus Tebal (Intestinum Crassum, Colon)


27

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sistem digesti bagian anal yang juga berlaku sebagai sistem ekskresi untuk sisa-sisa digesti padat adalah usus tebal atau kolon (intetinum crassum, colon). Bagian-bagian kolon dari oral ke anal adalah: - Sekum (cecum, usus buntu) - Kolon asendens (colon ascendens) - Kolon transversum (colon transversum) - Kolon desendens (colon descendens) - Kolon sigmoid (colon sigmoideum) - Kolon rectum (colon rectum, rectum) (Gambar-gambar 44, 45 & 46) Pada dasar sekum ada sisa saluran digesti yang dikenal sebagai umbai cacing (Appendix vermiformis). Bagian-bagian kolon dari sekum sampai kolon sigmoid masih terdapat di dalam rongga perut (cavitas abdominalis) sehingga termasuk alat dalam perut (viscera abdominis), sedang rektum sudah berada di dalam rongga panggul (cavitas pelvis) sehingga termasuk viscera pelvis. Umbai cacing, sekum, kolon transversum dan kolon sigmoid sebagian besar (lebih dari 2/3 permukaannya) dilapis peritoneum sehingga termasuk organ intra-peritoneal, sedang permukaan kolon asendens , kolon desendens dan rektum tidak dilapis atau kurang dari 1/3 permukaannya yang dilapis peritoneum, sehingga termasuk organ retro-peritoneal. Selain sebagai organ intra-peritoneal, apendiks vermiformis, kolon transversum, dan kolon sigmoid memiliki pula alat penggantung dari duplikatur (lipat-ganda) peritoneum, kelanjutan dari peritoneum yang melapisi permukaan luarnya (tunika serosanya). Alat-alat penggantung tersebut berturut-turut adalah: - Mesoapendiks vermiformis (mesoappendix vermiformis, mesenteriolum) - mesokolon transversum (mesocolon transversum), dan - mesokolon sigmoideum (mesocolon sigmoideum, mesosigmoideum) (Gambar-gambar 46, 47 & 48) Pada kolon asendens sampai kolon sigmoid stratum longitudinale dari tunica muscularisnya membentuk 3 pasang pita sejajar memanjang yang dikenal sebagai tenia koli (taenia coli, tenia coli), sedang stratum circularenya berkontribusi dalam pembentukan lipatan mukosa ke arah lumen kolon (plica circularis coli), serta bentuk segmentasi (pada permukaan kolon) dan haustra (bangunan cekung di dalam lumen kolon, di antara plicae circularesnya) (Gambar 46). Peranan digesti yang masih dapat dilakukan kolon adalah melaksanakan absorpsi air, vitamin (vit B12 dan vit K) dan mineral tertentu (misal garam-garam empedu). Bakteri koli yang terdapat padanya dapat membantu digesti sisa-sisa makanan padat untuk menghasilkan vitamin terutama vitamin K.

Gambar 44 Intestinum Crassum. Ilustrasi memisahkan bagian-bagiannya dengan pewarnaan. Hijau muda = Colon Ascendens, Hijau tua = Colon Transversum, Biru = Colon Descendens, Ungu = Colon Sigmoideum, Merah = Rectum

28

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 45 Intestinum Crassum (Colon) dan bagian-bagiannya AV= Appendix Vermiformis (Umbai Cacing), An= Anus, CA= Colon Ascendens, CD= Colon Descendens, CT= Colon Transversum, CS= Colon Sigmoideum, Ce= Cecum (Usus Buntu), FCd= Flexura Coli Dextra, FCs= Flexura Coli Sinistra, Im= Ileum, mt= mesenteriolum (penggantung appendix), tc= tenia coli

Gambar 46 Colon dan bangunan yang terdapat padanya 1= Flexura Coli Dextra (Flexura Hepatica), 2= Bagian Omentum Majus yang melekat pada Colon Transversum, 3= Tenia Epiploica, 4= Mesocolon Transversum, 5= haustra, 6= Flexura Coli Sinistra (Flexura Lienalis), 7= Pengait yang menunjukkan Tenia Epiploica, 8= Appendix Epiploicae, 9= Pengait yang menunjukkan Tenia Mesocolica, 10= Tenia Libera, 11= Mesocolon Sigmoideum (Mesosigmoideum), 12= Appendix Vermiformis, 14= Cecum, 15= Plica Semicircularis

29

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 47 Colon dan alat penggantung colon CT= Colon Transversum, CS= Colon Sigmoideum, AV= Appendix Vermiformis, FCd= Flexura Coli Dextra, FCs= Flexura Coli Sinistra, Mct= Mesocolon Transversum, Mcs= Mesocolon Sigmoideum, Map= Mesoappendix= Mesenteriolum

Gambar 48 Appendix Vermiformis, penggantung dan arterianya AV= Appendix Vermiformis, AE= Appendix Epiploicum, tc= tenia coli, Ce= Cecum, Im= Ileum, MA= Mesoappendix= Mesenteriolum. 1= a ileocecalis, 2= r ascendens a ileocecalis, 3= r cecalis a ileocecalis, 4= r iliacus a ileocecalis, 5= a apendicularis

30

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Anus (dubur) (Gambar 49) adalah lubang pelepasan sisa-sisa digesti padat. Bersama alat-alat kelamin luar, anus menempati bagian paling kaudal badan yakni perineum. Alat-alat kelamin luar pada bagian anterior (pars anterior, pars genitalis), sedang anus pada bagian posterior (pars posterior, pars analis) dari perineum. Mekanisme pelepasan hasil digesti melalui anus dikenal sebagai defekasi (defecation, buang air besar, BAB). Apabila permukaan mukosa rektum (kanalis analis rekti) terangsang (oleh sisa digesti atau oleh rangsangan lain), maka akan timbul mekanisme refleks, yang dikenal sebagai refleks defekasi. Refleks defekasi dapat dihambat oleh otot-otot yang mengelilingi dan sekaligus berperan sebagai klep anus (m sphincter ani). Hambatan secara otomatis dilakukan oleh m sphincter ani internus, sedang hambatan yang dikehendaki (disadari) dapat dilakukan melalui m sphincter ani externus. M sphincter ani internus adalah serabut-serabut otot polos (serabut-serabut otot GVE) yang berasal dari bagian paling anal dari stratum circulare rectum, sedang m sphincter ani externus berasal dari m levator ani (termasuk otot somatic efferent, otot general somatic efferent, otot GSE)

Gambar 49 Rectum & Anus 1= Rectm, 2= Valvula Rectalis, 3= Canalis Analis, 4= Columna Analis, 5= Anus, 6= M Sphincter Ani Externus, 7= M Sphincter Ani Internus, 8= M Levator Ani

B. Kelenjar-kelenjar Digesti (Glandula Digestoria)


31

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Mekanisme digesti pada sistem digesti manusia ada 3 macam 1) mekanisme mekanik, yang dilakukan oleh Rongga Mulut (RM) dan Ventrikulus Organ utama untuk digesti mekanik di dalam RM adalah gigi-gigi (geligi), dan dibantu oleh: lidah, langit-langit, pipi, gusi, bibir dan kelenjar lendir RM. Dalam konteks mekanisme digesti mekanik oleh RM, kelenjar liur dapat disebutkan pula sebagai organ pembantu digesti Organ utama untuk digesti mekanik di dalam ventrikulus adalah tunika muskularisnya (stratum longitudinale, sirkulare, dan oblikum). Dalam konteks digesti mekanik oleh ventrikulus, kelenjar-kelenjar lendir dan kelenjar-kelenjar digesti pada tunika mukosa ventrikuli dapat disebutkan sebagai organ pembantu digesti 2) mekanisme kimiawi, yang dilakukan oleh enzim-enzim digesti yang dikeluarkan oleh a. glandula parotis, glandula submandibularis, dan glandula sublingualis pada dinding RM b. glandulae ventrikuli yang terdapat pada tunika mukosa ventrikuli c. glandula hepatika di dalam hati (hepar) d. glandula pankreatika di dalam korteks pankreas (sel-sel eksokrin pankreas) e. glandula intestinalis pada tunika mukosa usus halus 3) mekanisme peragian (fermentasi) yang dilakukan oleh bakteri-bakteri di dalam usus tebal (kolon)

Kelenjar-kelenjar Liur (Glandulae Salivares)


Kelenjar-kelenjar Liur meliputi kelenjar parotis (glandula parotis), kelenjar submandibularis (glandula submandibularis), dan kelenjar sublingualis (glandula sublingualis) (Gambar 50a, 50b, 50c, 50d). Kelenjar parotis terletak di bagian belakang samping (postero-lateral) dinding RM, di depan daun telinga, terlindung oleh tangkai rahang bawah (ramus mandibulae). Ada sepasang di kanan dan kiri (Glandula Parotis Dexter dan Sinister), dan bermuara ke dalam RM melalui saluran ekskresinya yang dikenal sebagai duktus parotideus (ductus parotideus). Ductus Parotideus Dexter maupun Ductus Parotideus Sinister bermuara ke dalam RM di daerah pipi, setelah menembus otot pipi (m buccinator), jaringan ikatnya, dan tunika mukosa bukalis (tunica mucosa buccalis). Kelenjar submandibularis terletak di bagian belakang samping bawah (postero lateral inferior) RM, terlinding oleh bagian belakang lengkung rahang bawah (arcus mandibulae). Ada sepasang (Glandula Submandibularis Dexter et Sinister), dengan saluran ekskresinya yakni duktus submandibularis, bermuara di bagian bawah kiri dan kanan dari lidah bagian depan (Gambar 16) Kelenjar sublingualis terletak di bawah samping pangkal lidah bagian anterior, di depan gld submandibularis. Saluran-saluran ekskresinya yang kecil-kecil disebut sebagai duktus sublinguales minores (ductus sublinguales minores, ductus sublinguales Rivinus), dan yang besar disebut ductus sublingualis mayoris (ductus sublingualis majoris, ductus sublingualis Bartholinus) (Gambar 50d). Saluran-saluran ini akan bergabung terlebih dulu dengan duktus submandibularis, sebelum bermuara di rongga mulut (RM) di bawah lidah, di kanan kiri caruncula sublingualis (Gambar 16 & 50d). Glandulae salivares mensekresi enzim ptyalin (ptialin). Ptialin atau amylase salivarius (amilase saliva) mencerna amilum, yakni polisakarida yang masih kompleks susunan molekulnya dan yang masih belum larut dalam air, menjadi bentuk disakarida (maltose), yang sudah lebih sederhana susunan molekulnya dan sudah larut dalam air. Karbohidrat dalam bentuk maltose menjadi lebih mudah untuk di-digesti lebih lanjut di lambung dan atau usus halus.

32

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 50a Glandulae Salivares Dextra 1. Glandula Parotis Dextra, 2. Glandula Parotis Accessorius Dextra, 3. Ductus Parotideus Dextra, 4. Glandula Sublingualis Dextra, 5. Glandula Submandibularis

Gambar 50b
Glandulae Salivares Dextra. Menunjukkan ductus parotideus berjalan di lateral m masseter, melalui gld parotis accessories, kemudian belok ke medial menembus m buccinators untuk memasuki Rongga Mulut. GP= glandula parotis, GPa= glandula parotis accessories, DP= ductus parotideus, Ms= m masseter, Bc= m buccinators, GSm= glandula submandibularis

33

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 50c Glandulae Salivares Dextra Menunjukkan duktus submandibularis, yang sebelum bermuara ke bawah lidah melalui dulu gld sublingualis. 1= duktus parotideus, 2= gld parotis, 3= m masseter, 4= gld submandibularis, 5= mandibula (terpotong), 6= duktus submandibularis, 7= gld sublingualis

Gambar 50d Glandulae Salivares Dextra. Menunjukkan saluran-saluran ekskresi gld sublingualis. 1= gld parotis, 2= duktus parotideus, 3= duktus sublinguales minores (ductus sublinguales minores, ductus sublinguales Rivinus), 4= muara persatuan duktus sublingales dan duktus submandibularis di bawah lidah bagian anterior, 5= duktus sublingualis mayor (ductus sublingualis major, ductus sublingualis Bartholinus), 6= gld sublingualis, 7= duktus submandibularis, 8= gld submandibularis

Kelenjar digesti pada ventrikulius (Glandula ventricularis, glandula gastrica)


34

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Kelenjar digesti pada ventrikulus (glandula ventrikularis, glandula gastrika) dibedakan atas: - sel-sel parietal (parietal cells, sel-sel oksintik, oxyntic cells - sel-sel utama (chief cells, sel-sel zimogenik, zymogenic cells) - sel-sel enteroendokrin (enteroendocrine cells, sel-sel APUD. APUD= Amine Precursor Uptake Decarboxylase) Sel-sel parietal menghasilkan asam lambung (HCl Lambung) dan faktor intrinsik Sel--sel zimogenik menghasilkan pepsinogen dan rennin Sel-sel APUD, salah satunya adalah sel G (G cell) meghasilkan hormon gastrin, histamin, endorfin, serotonin, kolesistokinin dan somatostatin

Gambar 51. Diagram dinding ventrikulus menunjukkan glandula gastrica A. Tunica mucosa, B. Tunica Submucosa, C. Tunica Muscularis, D. Tunica Serosa. 1= foveola gastrica, 2. glandula gastrica, 3. lamina muscularis mucosae, 4. vasa darah, 5. Stratum obliquum, 6. stratum circulare, 7. stratum longitudinale, 8. tunica subserosa, 9. lapisan mesothelium (dari tunica serosa)

Kelenjar-kelenjar digesti pada usus


Kelenjar-kelenjar digesti yang bekerja pada usus adalah: = kelenjar hati (glandula hepatica) = kelenjar pankreas (glandula pancreatica) = kelenjar-kelenjar usus (glandulae intestinales)

Hepar
Hepar (hati) (Gambar 52a,b,c) adalah glandula digestoria paling besar, terdapat di dalam rongga perut, di bawah diafragma, di sebelah kiri ventrikulus, dan di atas kolon transversum. Hepar terbagi menjadi 2 lobus, lobus kanan (lobus dexter) dan lobus kiri (lobus sinister), dengan lobus yang kanan jauh lebih besar dari pada yang kiri. Hepar termasuk organ intra-peritoneal, karena lebih dari 2/3 permukaannya terlapisi peritoneum. Bagian hepar yang tidak tertutup peritoneum adalah: - bagian atas (superior) yang menempel pada diafragma. Bagian ini dikenal sebagai pars afixa hepatis atau area nuda (Gambar 52b, 52c) - bagian hilus (hilum), yakni bagian yang menjadi pintu masuk untuk saluransaluran bilus, pembuluh darah, pembuluh limfe dan serabut saraf. Bagian ini dikenal sebagai porta hepatis (Gambar 52c, 53) Organ-organ yang melalui porta hepatis tersebut adalah: = ductus hepaticus dexter & sinister = a hepatica dextra & sinistra

35

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

= v porta dextra & sinistra = vasa limphatica & nodi lymphatici hepatici = serabut-serabut saraf (Gambar 53)

Gambar 52a Hepar, Vesica Fellea & Pancreas (A) serta topografinya di dalam rongga perut (B)

Gambar 52b. Hepar, dilihat dari bawah-belakang AH= A Hepatica, VP= V Porta, VCI= Vena Cava Inferior, VF= Vesica Fellea, DCh= Ductus Choledochus (Ductus Biliaris Communis), DHp= Ductus Hepaticus, DCy= Ductus Cysticus, IG= Impressio Gastrica, IR= Impressio Renalis, ID= Impressio Duodenalis, IC= Impressio Colica

36

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 52c Bangunan-bangunan pada facies visceralis hepatis

Gambar 53. Porta hepatis dan organ-organ yang melewatinya. 1= Ramus (r) Dexter A Hepatica (A Hepatica Dextra), 2= Ductus Hepaticus Dexter, 3= R Dexter V Porta (V Porta Dextra), 4= Ductus Hepaticus Sinister, 5= R Sinister V Porta (V Porta Sinistra), 6= R Sinister A Hepatica (A Hepatica Sinistra), 7= A Cystica, 8= Ductus Cysticus, 9= Ductus Choledochus (Ductus Biliaris Communis), 10= A Hepatica, 11= A Celiaca (Truncus Celiacus), 12= V Porta, 13= Hyatus Aorticus, 14= Ductus Hepaticus Communis

37

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sel-sel hepar (hepatosit, hepatocytus) merupakan komponen utama dari massa hepar. Hepatosit mengisi sekitar 70-80% dari keseluruhan massa sitoplasmatik hepar. Unit fungsional terkecil dari setiap lobus hepar adalah lobulus hepatis. Sebuah lobulus terbentuk oleh hepatosit-hepatosit yang menyusun diri dalam bentuk kolumna, dengan di sela-selanya membentuk celah (sinusoid). Melalui sinusoid-sonuoid ini sekret-sekret yang dihasilkan hepatosit dicurah untuk kemudian dikirim ke dalam sistem pembuluh darah (Gambar 54 & 55)

Gambar 54 Lobulus hepar dan sel-sel hepar sebagai glandula hepatica 1= sel-sel hepar (hepatosit, hepatocytus) membentuk kolumna, 2= v interlobularis, 3= v intralobularis, 4= sinusoid hepatis, 5= v sublobularis

Gambar 55 Penampang lintang canalis portalis. Menunjukkan kedudukan sel-sel hepar (sebagai glandula hepatica) terhadap saluran bilus dan vasa darah pada daerah porta hepatis. VP= Vena Porta, DB= Ductus Biliaris, AH= Arteria Hepatica, VL= Vasa Lymphatica Hepatosit berperan penting sebagai: 1. Penghasil energi (panas badan) dari karbohidrat, lemak dan asam amino

38

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

2. Pengontrol gula darah dengan cara menimbun kelebihan glukosa dalam bentuk glikogen. Yang merubah glukosa menjadi glikogen adalah hormon insulin dari pankreas 3. Pembentuk senyawa lipid (kolesterol) dalam jumlah yang diperlukan untuk metabolism sel. 4. Pengontrol kadar lipid darah. Kelebihan lipid diubah menjadi energi, atau senyawa karbohidrat, atau seyawa lain, atau menyimpannya sebagai jaringan lemak sebagai cadangan energi. 5. Pembentuk senyawa protein (asam amino) darah, terutama albumin, globuln, fibrinogen, dan protrombin 6. Pengontrol kadar asam amino darah. Kelebihan asam amino diubah menjadi energi, atau senyawa karbohidrat, atau seyawa lain. Kelebihan yang tidak dapat diserap diubah menjadi ureum untuk dibuang melalui ginjal 7. Penghasil heparin, senyawa yang penting untuk menjaga plasma darah agar tidak menjendal 8. Penawar racun (detoksikasi) dan pembuang zat-zat beracun yang masuk melalui sistem digesti, termasuk terhadap haem (hasil pemecahan eritrosit (sel darah marah) oleh limpa 9. Pembentuk bilus (empedu) dan bilirubin dari hasil detoksikasinya terhadap haem 10. Pembuang hasil detoksikasi haem yang berlebih, dalam bentuk sterkobilin melalui feses (faeces) atau dalam ventuk urobilin melalui urin 11. Pembuang kelebihan hormon yang sudah tidak terpakai 12. Pembentuk vitamin vit A dari karoten 13. Penyimpan kelebihan vitamin, misal vit A, D, dan B12 14. Pada masa embrio berfungsi pula sebagai penghasil sel-sel darah merah

Pankreas (Pancreas)
Pankreas adalah kelenjar digesti terbesar kedua setelah Hepar. Pankreas terdapat di dalam rongga perut, di bawah ventrikulus, dan di antara Duodenum pars desendens (di sebelah kanan) dan Limpa (Lien) di sebelah kiri (Gambar 56 & 57). Pankreas dibedakan atas: caput, corpus dan cauda. Caput pancreas menempati sisi medial dari duodenum pars descendens, corpus merupakan kelanjutan caput yang berjalan horizontal ke arah kiri, di bawah ventrikulus, sedang cauda adalah bagian yang menempel pada permukaan medial Lien. Caput dan corpus pancreas, sebagaimana duodenum pars descendens, termasuk organ retroperitoneal. Cauda pancreas, sebagaimana lien yang ditempelnya, termasuk organ intraperitoneal.

Gambar 56 Pankreas, duodenum, ventrikulus dan hepar

39

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 57. Pankreas, Duodenum dan Lien A= Duodenum Pars Superior, B= Duodenum Pars Descendens, C= Duodenum Pars Horizontalis, D= Duodenum Pars Ascendens, E= Flexura Duodenojejunalis, F= pangkal Jejunum, G= Caput Pancreas, H= Corpus Pancreas, I= Cauda Pancreas, J= Lien, 1= V Porta, 2= Ductus Choledochus, 3= A Pancreaticoduodenalis Superior, 4= A Pancreaticoduodenalis Inferior, 5= V Mesenterica Superior, 6= A Mesenterica Superior, 7= A Lienalis Pankreas adalah organ glanduler (organ kelenjar), sehingga massa utama dari organ ini adalah sel-sel kelenjar (Gambar 58 & 59). Sel-sel kelenjar pankreas dibedakan atas: - Sel-sel kelenjar endokrin (endocrinus), dan - Sel-sel kelenjar eksokrin (exocrinus, acinus), Sel-sel kelenjar endokrin membentuk gerombolan-gerombolan di antara susunan sel-sel eksokrinnya. Ada sekitar 1 juta gerombolan yang terdapat di antara sebaran-sebaran sel-sel eksokrin yang mengelilinginya. Dengan demikian sering diibaratkan, sel-sel endokrin tersebut sebagai pulau-pulau di antara lautan sel-sel eksokrin. Maka gerombolan sel-sel endokrin pada pancreas dikenal pula dengan sebutan Pulau Langerhans (Insula Langerhans).Sell-sel pada Insula Langerhans ada 5 macam: - Sel (alpha), 15-20%, mensekresi hormon glucagon, menaikkan kadar gula darah - Sel (beta), 65-80%, mensekresi hormon insulin, menurunkan kadar gula darah - Sel (delta), 3-10%, mensekresi hormon somatostatin, mengatur (menghentikan ekses) fungsi sel dan - Sel (gama, sel PP), 3-5%, mensekresi polipeptida pancreas. Fungsi sel PP: 1. Mengatur aktifitas sekresi dari kelenjar-kelenjar pancreas (endokrin & eksokrin) 2. Mempengaruhi level glikogen hepar 3. Mempengaruhi sekresi kelenjar-kelenjar gastro-intestinal 4. Memiliki efek antagonistic dengan kolesistokinin (cholecystokinine) - Sel (epsilon), < 1%, menghasilkan grelin (ghrelin), berfungsi merangsang rasa lapar. Sel ini dijumpai pula pada tunika mukosa ventrikuli (daerah fundus).

40

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sel-sel kelenjar eksokrin pankreas menghasilkan amylase, protease, dan lipase pankreas, yang berturut-turut menyempurnakan digesti kimiawi dari karbohidrat, protein, dan lemak, yang telah dimulai oleh ventrikulus (karbohidrat telah dimulai sejak di RM). Hasil digesti enzim-enzim pancreas ini menghasilkan bentuk-bentuk molekul karbohidrat, protein dan lemak menjadi bentuk sederhana yang mudah diabsorpsi oleh usus halus. Karbohidrat menjadi bentuk monosakardia (glukosa dan fruktosa), protein menjadi asam amino, dan lemak (lipid) menjadi gliserol dan asam lemak bebas.

Gambar 58. Pankreas & Sel-sel Kelenjarnya 1= ductus choledochus, 2= ductus pancreaticus accessories (minoris, Santorini), 3= ductus pancreaticus majoris (Wirsungi), 4= ampulla vateri, 5= sel-sel exocrinus (sel-sel acinus), 6= insula Langerhansi dengan sel-sel endocrinus, 7= sel-sel betha (), 8= sel-sel alpha ()

Gambar 59. Gambaran histologis sel-sel kelenjar pankreas

Glandula Intestinalis
41

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Seperti diketahui, fungsi utama usus halus, terutama jejunum dan ileum adalah untuk penyerapan sarisari makanan. Fungsi ini dilaksanakan oleh sel-sel batang (sel-sel kolumner, stem-cells) pada lapisan mukosa (tunika mukosa) usus halus. Untuk meningkatkan efektifitas fungsi penyerapan ini, tunika mukosa usus halus bersama tunika submukosanya melipat-lipat, membentuk lipatan menyilang (plica circularis , plica circularis Kerkringi, Gambar 38 & 60), dan jaringan tunika mukosanya sendiri membentuk lipatan-lipatan seperti jari-jari tangan yang dikenal sebagai villi intestinales (tunggal: villus intestinalis), (Gambar 39, 60, 61, 62) bahkan membran sel pada tiap epitel sel-sel penyerap tersebut memperluas diri pula dengan membentuk tonjolan-tonjolan ke arah lumen usus yang dikenal sebagai mikrovilli (microvilli, tunggal: microvillus) (Gambar 60C) Bagaimanapun, sel-sel epitel pada usus halus juga mampu menhasilkan hormon dan enzim-enzim digesti. Fungsi sekresi hormon digesti dilaksanakan oleh sel-sel APUD (Amine Precursor Uptake Decarboxylase) (lihat pula glandula gastrica), dan sekresi enzim-enzim dilakukan oleh sel-sel Paneth (Gambar 63 & 64). Sel-sel epitel usus halus, terutama sel-sel kelenjar enzimnya, menyusun bangunan kelenjar berbentuk kolumner simpleks (tabung tunggal), yang masuk sampai lapisan submukosanya, dan muara kelenjar ini (foveola glandula intestinalis) muncul di sela-sela villi intestinales. Bangunan kelenjar pada usus halus ini dikenal sebagai glandula intestinalis, atau glandula Lieberkuhn, atau kripta Lieberkuhn (crypta Lieberkuhn) (Gambargambar 42, 61, 62, 63 & 64). Perlu diingat, bahwa selain memiliki sel-sel penyerap dan sel-sel yang menghasilkan enzim dan hormon sebagaimana disebutkan di atas, lapisan mukosa usus halus, sebagaimana lapisan mukosa saluran digesti yang lain, juga memiliki sel-sel penghasil lendir kental (mucous, mucine, musin). Lendir di sini selain sebagai pelumas, juga bersifat sebagai pertahanan terhadap benda asing. Sel-sel goblet pada lapisan mukosa duodenum, membentuk kelenjar tubuler simpleks yang relatif besar pada jaringan submukosanya, terutama di sekitar pailla mayor (papilla Wirsungi). Kelenjar itu dikenal sebagai kelenjar Bruneri (Glandula Bruneri) (Gambar-gambar 33, 35 & 65) (Lihat pula Duodenum pada Bab A5 Usus Halus)

Gambar 60. Diagram organ usus halus (A), vilus intestinalis (B) dan epitel usus halus (C) Keterangan Gambar A: A= diagram organ usus halus,1= tunika serosa, 2= tunika muskularis, stratum longitudinale, 3= tunika muskularis, stratum sirkulare, 4= tunika submukosa, 5= tunika mukosa, 6= plika sirkularis (Kerkringi), 7= villi intestinales, 8= arteria yang memvaskularisasi usus, 9= sistema vena porta (sistem darah balik dari usus, menuju hepar) Keterangan Gambar B & C : B= vilus intestinalis (jamak: villi intestinales), 1= lapisan epitel usus (pada permukaan vilus), 3= kapiler arteriosa, 3= kapiler venosa, 4= kapiler khilosa (kapiler limfatika), C= sebuah epitel usus (halus), 5= membrane sel, 6= mikrovili (microvilli), 7=plasma sel, 8= inti sel, 9= organela-organela dalam plasma sel

42

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 61. Diagram kedudukan glandula intestinalis dalam lapisan submukosa usus halus.
1= villi intestinales, 2= glandula intestinalis (glandula Lieberkuhn, kripta Lieberkuhn), 3= foveola glandula intestinalis, 4= jaringan submukosa, 5= lapisan epitel

Gambar 62. Gambaran mikroskopis vilus dan glandula Intestinalis 1= sel-sel epitel tunika mukosa, 2= vilus intestinalis, 3= jaringan vasa (darah dan khilus) di dalam vilus, 4= muara glandula intestinalis, 5= glandula intestinalis (glandula Lieberkuhn, Kripta Lieberkuhn), 6= jaringan submukosa

43

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 63 Gambaran mikroskopis sel-sel glandula intestinalis Menunjukkan sel-sel Paneth dan sel APUD. 1= endotel vasa darah, 2= lumen vasa darah, 3= sel APUD, 4= sel mitosis, 5= lumen glandula, 6= sel Paneth, 7= lamina muscularis mucosae

Gambar 64 Diagram sel-sel pada glandula intestinalis Menunjukkan bermacam sel glandula dan peranannya dalam mekanisme pertahanan tubuh

44

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 65. Diagram topografi Glandula Bruneri pada Duodenum Dpd= Duodenum pars descendens,, Dch= Ductus Choledochus, Dpm= Ductus pancreaticus major, Pcr= Pancreas, SO= M Sphincter Oddi, AV= Ampulla Vateri. Bangunan-bangunan pada duodenum: 1= Papilla Duodeni Major (Papilla Wirsungi), 2= Plica circularis Kerkringi, 3= tunica mucosa, 4= tela submucosa (dengan Glandula Bruneri di sekitar Ampula Vateri dalam papilla Duodeni Major, berwarna biru), 5= tunica muscularis,

Gambar 65. Gambaran mikroskopis Glandula Bruneri pada Duodenum. 1= tunika muskularis, 2= tunika submukosa, 3= tunika mukosa

C. Organ-organ Penunjang Sistem Digesti


45

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Yang dimaksud dengan organ-organ penunjang sistem digesti adalah, organ-organ yang turut serta berperan secara tidak langsung untuk keberhasilan dan kelancaran mekanisme digesti yang dilakukan oleh saluran digesti, dari rongga mulut (RM) sampai kolon. Ogan-organ atau sistem-sistem tersebut meliputi: Sistem selubung dan rongganya Sistem kelenjar pelumasnya Sistem pembuluh darahnya Sistem limfatikanya Sistem sarafnya Sistem ekskresinya

Sistem Selubung dan Rongga


Organ selubung yang berperan menunjang sistem digesti hanya dijumpai pada rongga perut (cavitas abdominalis). Organ tersebut adalah peritoneum, yang dibedakan atas Peritoneum parietale, yakni bagian peritoneum yang melekat pada permukaan dalam rongga perut, dan peritoneum viscerale, yakni peritoneum yang melekat pada organ dalam perut (viscera abdominis, termasuk organ-organ digesti) atau sebagai alat-alat penggantungnya. Peritoneum yang melekat pada organ-organ digesti, sekaligus menjadi pelapis permukaan luarnya, terdapat mulai dari ventrikulus, sampai pada kolon sigmoid. Peritoneum di sini kemudian dikenal sebagai tunika serosa dari organ-organ yang dilapisinya. Sehubungan dengan keberadaan peritoneum yang menjadi pelapis viscera abdominis, maka dikenal istilah organ-organ dalam perut atau viscera abdominis yang intra- dan retroperitoneal. Organ disebut intraperitoneal apabila hampir seluruh atau lebih dari 2/3 permukaannya diliputi peritoneum, dan organ retroperitoneal, apabila kurang dari 1/3 permukaannya yang dilapis peritoneum. Viscera abdominis yang termasuk intraperitoneal adalah: Ventrikulus, Duodenum Pars Superior, Hepar, Vesika Felea, Lien, Kauda Pankreas, Jejunum, Ileum, Umbai Cacing, Sekum, Kolon Transversum, Kolon Sigmoid, Indung Telur (Ovarium) dan Tuba Uterina (Tuba Fallopi). Buah Zakar (Testis) bukan viscera abdominis, tapi dapat disebut sebagai organ intraperitoneal, karena seluruh permukaannya diliputi derivat peritoneum. Viscera abdominis yang termasuk retroperitoneal adalah: Duodenum Pars Desendens, Duodenum Pars Horisontal, Duodenum Pars Asendens, Kaput Pankreas, Korpus Pankreas, Kolon Asendens, Kolon Desendens, Ren Kanan dan Kiri, serta Glandula Suprarenalis Kanan dan Kiri. Organ-organ di dalam rongga panggul (cavitas pelvis) misal Kandung Kemih (Vesca Urinaria), Rektum, Uterus, dan Vagina bukanlah viscera abdominis, melainkan viscera pelvis. Bagaimanapun (walau tidak lazim) kepada organ-organ tersebut seringkali disebut pula sebagai organ-organ yang retroperitoneal, karena kurang dari 1/3 permukaannya, bahkan tidak tertutup sama sekali oleh peritoneum (misal Rektum dan Vagina) Peritoneum yang menjadi alat penggantung viscera abdominis, khususnya untuk organ-organ digesti, dikenal dengan sebutan sesuai nama organnya, dengan awalan meso- atau mes-, misal: = Mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsal untuk ventrikulus. Mesogastrium ventrale kemudian lebih dikenal sebagai omentum minus, sedang mesogastrium dorsal sebagai omentum majus. Omentum minus yang membentang hepar sampai curvature minor ventriculi kemudian dikenal pula sebagai ligamentum hepatogastrium, sedang yang membentang dari hepar sampai pylorus dan pars superior duodenum dikenal sebagai ligamentum hepatoduodenale. = Mesenterium untuk jejunum dan ileum = Mesocolon transversum untuk kolon transversum = Mesosigmoideum untuk kolon sigmoid = Mesoappendix vermiformis atau mesenteriolum untuk umbai cacing (appendix vermiformis)

46

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Rongga peritoneum yang terdapat di antara peritoneum parietale dengan peritoneum viscerale dikenal sebagai Cavitas Peritonealis atau Cavitas Peritonealis Major. Rongga peritoneum yang terdapat posterior dari omentum minus dikenal sebagai Bursa Omentalis atau Cavitas Peritonealis Minor (Gambar 66)

Gambar 66 Diagram potongan sagital tubuh manusia (perempuan), untuk menunjukkan peritoneum dan rongga-rongganya. 1a= peritoneum parietale yang melapis permukaan dalam dinding anterior abdomen, 1b= peritoneum parietale yang menutup permukaan dalam dinding posterior abdomen, 1c= peritoneum parietale yang menutup permukaan bawah diafragma, 2= Cavitas Peritonealis Major, 3a= Cavitas Peritonealis Minor (Bursa Omentalis), 3b= Recessus Inferior Bursa Omentalis, 4= Mesocolon Transversum (penggantung Kolon Transversum), 5= Mesenterium (penggantung Jejunum dan Ileum), 6= Mesosigmoideum (penggantung Kolon Sigmoid), 7= Omentum Majus, 8= Omentum Minus, 9= Hepar, 10= Pars Afixa Hepatis (Area Nuda, bagian hepar yang tidak tertutup peritoneum), 11= Ventriculus, 12= Colon Transversum, 13= Colon Sigmoideum, 14= Intestinum Tenue (Jejunum dan Ileum), 15= Uterus, 16= Spatium (Excavatio) Vesico-uterina, 17= Spatium (Excavatio) Vesica Urinaria, 18= Spatium (Excavatio) Recto-uteina (Cavum Douglasi), 19= Rectum, 20= Vagina

Lubang penghubung antara cavitas peritonealis major dan minor dikenal sebagai foramen epiploicum (foramen epiploicum Winslowi) (Gambar 28, 29 & 67) (Lihat pula Bab A4 Ventriculus)

47

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 67. Foramen Epiploicum Winslowi 1= Kantung Empedu (Vesica Fellea), 2= Duodenum Pars Superior, 3= Foramen Epiploicum (Winslowi), 4= Ligamentum Hepatoduodenale, 5= Hepar (dipotong bagian kiri), 6= Omentum Minus (Ligamentum Hepatogastrium), 7= Curvatuta Minor Ventriculi, 8= Ventriculus, 9= Omentum Majus, 10= Curvatura Major Ventriculi, 11= Pylorus Cavitas peritonii, baik yang major maupun yang minor, selalu dibasahi oleh cairan serosa, yang dikenal sebagai liquor peritonii. Keberadaan rongga peritoneum (cavitas peritonii) dengan liquor peritoniinya itu akan membantu fungsi mobilitas saluran-saluran digesti di dalam perut, dengan demikian membantu pula kelancaran fungsi digestinya. Kecuali itu, peritoneum yang berlaku sebagai alat penggantung berperan pula sebagai: - Alat fiksasi organ - Media untuk lewat arteria, vena, vasa lymphatica, dan serabut saraf yang menuju organ yang digantungnya (media vaskularisasi & inervasi) - Pangkalan nodi lymphatici (media pertahanan organ) - Media untuk menimbun jaringan lemak cadangan energi

Sistem Kelenjar Pelumas


Sistem kelenjar pelumas yang mendampingi traktus digestivus meliputi - Kelenjar-kelenjar lendir (glandula mucosa) yang terdapat pada lapisan mukosa traktus digestivus, sejak dari RM sampai Anus. Nama-namanya sesuai dengan nama organnya, misal Glandula Mucosa Labialis Oris, Glandula Mucosa Buccalis, Glandula Mucosa Palatini, Glandula Mucosa Pharyngis, Glandula Mucosa Esophagei, dst, sampai Glandula Mucosa Analis, Pada Ventrikulus dan usus (halus dan tebal) sel-sel kelenjarnya disebut sebagai Sel-Sel Goblet. Sifat lendirnya adalah mucous (lendir pekat) - Kelenjar-kelenjar lendir yang menjadi perluasan dari kelenjar-kelenjar tersebut di atas, yang membentuk bangunan sebagai kelenjar tubuler simpleks, dan yang pangkalnya sampai di dalam lapisan submukosa. Sebagai contoh adalah Glandula Bruneri pada Duodenum. Sifat lendirnya adalah mucous (lendir pekat) - Sel-sel kelenjar pada lapisan mesothelium peritoneum yang menghasilkan cairan bersifat seromucous (seromukosa, lendir setengah cair) yang dikenal sebagai liquor peritonii.

48

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sistem Vaskularisasi
Arteria untuk Sistem Digesti Untuk Rongga Mulut & Orofarings, arterianya adalah cabang-cabang dari a carotis externa, cabang dari a carotis communis. Nama-nama arterianya, pada umumnya mengikuti nama-nama organ yang ditujunya, missal a lingualis, untuk Lidah (Lingua), a pharyngea ascendnes (untuk Orofarings), a parotidea, untuk kelenjar parotis, dsb Untuk Esofagus, adalah Rami Esophagei (Rr Esophagei, Rr Esofagei), cabang langsung dari Aorta Thoracalis, atau cabang-cabang dari Rr Bronchiales Untuk Ventrikulus, Hepar, Vesika Felea, Lien, Duodenum dan Pankreas, mendapat cabangcabang dari Truncus Celiacus (A Celiaca), cabang dari Aorta Abdominalis segera setelah masuk rongga perut (setinggi VT12) Untuk Jejunum dan Ileum mendapat dari A Mesenterica Superior, cabang dari Aorta Abdominalis (setinggi VL1) , di bawah pangkal A Celiaca Untuk Sekum, Apendiks, dan Kolon, mendapat dari A Mesenterica Inferior, cabang Aorta Abdominalis (setinggi VL3), di bawah pangkal A Mesenterica Superior Rektum bagian anal dan Anus, mendapat cabang dari a pudenda interna, cabang dari a iliaca interna. A iliaca interna adalah cabang dari a iliaca communis, merupakan percabangan paling caudal dari Aorta Abdominalis (Gambar-gambar 68, 69, 70, 71, 72, 73) Vena untuk Sistem Digesti Vena untuk sistem digesti pada umumnya mengikuti kembali arterianya, termasuk nama-namanya. Yang perlu dicatat di sini adalah, bahwa sistem vena yang berasal dari intestinum (usus), bermuara ke dalam vena yang masuk melalui porta hepatis, sehingga disebut V Porta. Sistem vena yang bermuara ke dalam V Porta disebut sebagai Sistem Vena Porta. Keistimewaan sistem ini adalah, selain membawa darah balik (kurang oksigen, kaya karbondioksida), juga membawa sari-sari makanan hasil absorpsi dari usus (Gambar 74. Lihat pula Gambar 53 & 60).

Gambar 68 Vaskularisasi Kelenjar Saliva 1= v retromandibularis, 2=5= a carotis externa, 3= a & v facialis, 4= a & v lingualis, 6= v jugularis interna, 7= v jugularis externa

49

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 69 Diagram percabangan a maxillaris (a maxillaris interna)

Gambar 70 Diagram percabangan Aorta. Menunjukkan pula arteriae yang menjadi cabang-cabang dari A Carotis Externa Sinistra

50

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 71 Percabangan Aorta di daerah rongga dada (Cavitas Thoracis).. Menunjukkan pula cabang-cabang Aorta Descendens (Aorta Thoracalis) yang menuju Esofagus, yakni Rr Esophagei

51

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 72 Percabangan Aorta di daerah rongga perut (Cavitas Abdominalis). Menunjukkan pula cabang-cabang Aorta Abdominalis yang menjadi vaskularisasi utama untuk sistem digesti daerah perut, yakni A Celiaca, A Mesenterica Superior dan A Mesenterica Inferior.

52

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 73 Percabangan A Iliaca Interna (A Hypogastrica). Menunjukkan A Rectalis Media dan A Pudenda Interna yang memberikan vaskularisasi pada saluran digesti bagian anal.

Gambar 74 Systema Vena Porta. Perhatikan bahwa yang bermuara langsung ke dalam V Porta adalah V Mesenterica Superior, V Lienalis, V Gastrica Dextra & V Gastrica Sinistra

Sistem Limfatik (Systema Lymphatica)


53

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Limfe atau getah bening (Ingg: lymph) berasal dari bahasa Latin: lymphe, yang arti harfiahnya adalah air. Limfe dalam biologi tubuh manusia (dan hewan) kemudian diartikan sebagai suatu cairan setengah pekat dan bersifat transparan atau bening (oleh karenanya sering disebut getah bening), yang berasal dari cairan ekstraseluler, mengandung banyak sel-sel pertahanan tubuh (limfosit, makrofag, dll), dan mengalir di dalam saluran (pembuluh) epitelial yang dikenal sebagai pembuluh limfe (vasa limfatika, vasa lymphatica), yang pada umumnya berjalan mendampingi vasa sanguinea (pembuluh darah), khususnya vasa venosanya (Gambar 75). Vasa limfatika adalah pembuluh epitelial yang dilalui cairan limfe yang berjalan mendampingi pembuluh darah khususnya pembuluh vena. Perbedaan prinsip dari vasa limfatika dengan pembuluh darah adalah bahwa dinding vasa limfatika tidak dilapisi jaringan otot (polos). Dinding utamanya hanyalah lapisan endotel di bagian dalamnya (sebagai tunika intima), yang diselubungi (dilapisi) jaringan ikat di sebelah luarnya (sebagai tunika fibrosa). Fungsi utamanya adalah mengangkut material-material dari cairan ekstraseluler yang belum layak masuk ke dalam system pembuluh darah (vena) dikarenakan: 1) susunan molekul atau berat molekulnya masih relatif besar atau kasar, 2) mengandung lemak, 3) mengandung substansi asing atau beracun atau yang masih dianggap berbahaya bagi jaringan tubuh. Vasa limfatika diawali dari pembuluh-pembuluh kapilernya yang datang dari semua jaringan tubuh. Pembuluh-pembuluh kapiler limfatik itu (yang di dalam usus dikenal sebagai pembuluh khilus) (Gambar 39, 60) kemudian membentuk vasa limfatika yang lebih besar, berkumpul menjadi lebih besar lagi, dst. Pembuluh limfatik terbesar (dan menjadi muara akhir dari semua pembuluh limfe tubuh) dikenal sebagai duktus toraksikus (ductus thoracicus) dan duktus limfatikus kanan (ductus lymphaticus dexter). Limfe dari duktus toraksikus dan dari duktus limfatikus kanan tidak bermuara langsung ke dalam jantung, tetapi masuk dulu (bergabung dulu) dengan darah vena, melalui v brakhiosefalika (v brachiocephalica, v anonyma), tepat pada pertemuan antara muara v subklavia (v subclavia) dengan v jugularis interna. Ductus Thoracicus bermuara pada pertemuan antara V Jugularis Interna Sinistra dengan V Subclavia Sinistra, sedang Ductus Lymphaticus Dexter pada pertemuan antara V Jugularis Interna Dextra dengan V Subclavia Dextra. Dengan kata lain, muara akhir vasa limfatika adalah v brachiocephalica (atau beberapa buku menyebut ke v subclavia); Ductus Thoracicus bermuara ke dalam V Subclavia Sinistra, dan Ductus Lymphaticus Dexter bermuara ke dalam V Subclavia Dextra (Gambar 76). Ductus Thoracicus menerima aliran limfe dari seluruh jaringan tubuh selain yang berasal dari: daerah kepala, leher, anggota badan, dada, dan lobus inferior paru-paru sebelah kanan. Jaringan tubuh dari wilayah-wilayah badan yang disebut belakangan bermuara ke dalam Ductus Lymphaticus Dexter (Gambar 77). Nodus limfatikus (nodus lymphaticus, nl, atau nodi lymphatici kalau jamak, nll) (Gambar 78) adalah organ limfatik berbentuk oval seperti kacang, dengan ukuran relatif kecil (sekitar beberapa mm sampai 2 cm, yang dapat membengkak bila ada infeksi atau tumor). Sebuah nodus (nodulus kalau kecil) tersusun oleh bangunan utama berupa kapsul (capsula), rongga (sinus, sinusoid) kulit (korteks, cortex), teras (medulla) dan benang-benang retikuler di dalam medulla di antara rongga-ronganya. Benang-benang retikuler (chorda medullaris) ini tebentuk oleh sel-sel pertahanan tubuh: sel plasma, makrofag dan selsel B. Pada rongga medulla (sinus medullaris) dijumpai pula sel-sel pertahanan tubuh yang lain, yakni sel-sel histiosit dan sel-sel retikulosit. Nodus limfatikus dapat pula disebut sebagai stasiun pembersih benda-benda asing atau racun yang dibawa cairan limfe, Pembuluh limfe yang masuk kedalam nodus disebut vasa afferentia dan vasa yang meningalkannya disebut vasa efferentia. Nodus limfatikus tersusun sebagai gerombolan-gerombolan sel nodus (nodi limfatici, nll), pada setiap lipatan-lipatan tubuh, tersusun secara serial sejak dari periferi sampai sebelum bermuara ke dalam pembuluh limfatik besarnya. Gerombolan nodi lymphatici yang sudah relatif besar dan dapat diraba (terutama bila ada infeksi) misal yang terdapat pada lipat kulit pada ketiak (axilla) sebagai nll axillares atau pada lipat paha (inguinal) sebagai nll inguinales (Gambar 79). Selain nodi lymphatici, yang dapat disebut sebagai organ limfatik yang lain adalah: tonsil (tonsilla, misal tonsilla palatina, tonsilla lingualis dan tonsilla pharyngea, Gambar 2, 3, 14, 79), thymus (Gambar 79), Plaques Peyeri (Gambar 40, 41, 79), dan yang paling besar adalah Limpa (Lien) (Gambar 57, 72, 74, 79).

Sistem limfatik pada sistem digesti


54

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Organ-organ limfatik pada sistem digesti misalnya: Pada Rongga Mulut (RM) ada tonsilla palatina, tonsilla pharyngea & tonsilla lingualis yang terdapat pada tunica mucosa di sekeliling Orofarings. Organ-organ limfatik tersebut, tidak sebagaimana nodi lymphatici pada umumnya, dapat bekerja secara langsung di dalam menangkal kuman-kuman penyakit yang masuk ke dalam RM. Selain itu terdapat pula nll mentales, nll sublinguales dan nll submandibularis yang menempati tunica submucosa dasar Rongga Mulut. Nll tersebut menerima aliran limfe dari jaringanjaringan sekitar RM. Pada esofagus sampai rektum, terdapat nll yang namanya sesuai dengan nama organ dari mana vasa limfatikanya mengalir, missal: nll esophagei, nll gastrici, nll pylorici, nll duodenales, nll hepatici, nll pancreatici, nll jejunales & nll ilei (keduanya sering disebut nll mesenterici), nll ileocolica, nll colica, dan nll rectales, yang berturut-turut menerima aliran limfe dari organ-organ digesti: Esofagus. Ventrikulus, Pilorus, Duodenum, Hepar, Pankreas, Jejunum, Ileum, sekitar Sekum, Kolon, dan Rectum. Nll solitarii adalah gerombolan nodulus limfatikus yang tersebar di dalam tunika submukosa intestinum, sedang nll agregati adalah gerombolan nodulus limfatikus yang membentuk bercak (plak, plaque) di dalam tunika submukosa intestinum, yang dikenal pula sebagai Plaques Peyeri (Gambar 40, 41). Vasa limfatika dari sistem digesti, yang dari RM dan Esofagus bermuara dulu ke dalam Ductus Lymphaticus Dexter atau Ductus Thoracicus sebelum masuk ke dalam sistem pembulh darah (melalui v subclavia atau v brachiocephalica, dextra atau sinistra), sedang yang dari Ventrikulus dan semua organ digesti daerah perut (abdomen) bermuara dulu ke dalam Ductus Thoracicus sebelum masuk ke dalam sistem pembuluh darah melalui v subclavia atau v brachiocephalica sinistra. Vasa limfatika dari intestinum dikenal pula sebagai pembuluh khilus (chylus). Pembuluh khilus besar, yang menjadi muara-muara pembuluh khilus sebelumnya, dikenal sebagai cysterna chyli (sisterna khili), yang terdapat kira-kira setinggi vertebra lumbalis I. Vasa efferentia dari cysterna chyli bermuara ke dalam Ductus Thoracicus (Gambar 76).

Gambar 75 Gambaran histologis penampang melintang vasa lymphatica, vena dan arteria

55

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 76 Diagram Ductus Thoracicus, dan muaranya pada sudut yang dibentuk oleh muara V jugularis Interna Sinistra dengan V Subclavia Sinistra pada V Brachiocephalica (V Anonyma) Sinistra

Gambar 77 Diagram bagian-bagian tubuh yang menjadi wilayah aliran limfe Ductus Lymphaticus Dexter dan Ductus Thoracicus

56

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 78 Lukisan penampang bagian dalam sebuah nodus lymphaticus

Gambar 79 Ilustrasi beberapa organ anggota Systema Lymphatica pada tubuh manusia

57

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Sistem Saraf (Systema Nervosum)


Sistem saraf yang dibahas di sini terutama adalah Sistem Saraf Tepi (SST)-nya, dan terlebih untuk serabut-serabut saraf (nervus)-nya, yang menjadi anggota dari Nervi (Nn) Craniales dan Nn Spinales (Lihat Klasifikasi Anatomis Sistem Saraf Gambar 80)

Gambar 80 Skema Klasifikiasi Anatomis (Morfologis) Sistem saraf

Seperti diketahui, anggauta Nn Craniales ada 12 pasang, yakni (masing-masing Dexter & Sinister): N Olfactorius (N Cranialis I, N I) N Facialis (N VII)

58

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

N Opticus (N II) N Occulomotorius (N III) N Trochlearis (N IV) N Trigeminus (N V) N Abdusecens (N VI)

N Octavus (N VIII) N Glossopharyngeus (N IX) N Vagus (N X) N Acessorius (N XI) N Hypoglossus (N XII)

sedangkan anggota Nn Spinales ada 31 pasang, yang berturut-turut dari cranial ke caudal adalah: Nn Cervicales ( 8 pasang, tunggal N Cervicalis) Nn Thoracales (12 pasang, tunggal N Thoracalis) Nn Lumbales ( 5 pasang, tunggal N Lumbalis) Nn Sacrales ( 5 pasang, tunggal N Sacralis) Nn Coccygeales ( 1 pasang, tunggal N Coccygeus) Nama-nama tersebut adalah nama-nama pangkal sarafnya pada saat keluar dari SSP (Sistem Saraf Pusat) dari dasar Otak untuk Nn Craniales atau dari foramen intervertebrale untuk Nn Spinales (Gambargambar 81, 82, 83) Lebih lanjut serabut-serabut saraf tersebut, terutama yang Nn Spinales, bercabang-cabang dan sebagian membentuk anyaman (plexus). Nama-nama percabangannya pada umumnya sesuai dengan nama-nama regio (daerah) atau organ yang diinervasi (dipersarafi) nya. Sifat-sifat serabut saraf yang terkandung di dalamnya juga bermacam-macam, dapat aferen (menuju pusat) dapat pula eferen (dari pusat), atau keduanya dapat somatik (disadari), dapat pula viseral (tak disadari), atau keduanya dapat general (sifat umumnya, sifat dasarnya, sifat sebagaimana asal-usul embriologisnya), atau dapat spesial (sifat khusus, sifat perbatasan antara somatik dan viseral) (Lihat Klasifikasi Fungsional Serabut Saraf Gambar 84)

Gambar 81 Ilustrasi 12 pasang Nn Craniales di saat keluar dari dasar otak

59

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 82 Ilustrasi 31 pasang Nn Spinales di saat keluar dari Medulla Spinalis (MS)

Gambar 83 Penampang melintang vertebra (di sini vertebra cervicalis) untuk menunjukkan N Spinalis (di sini N Cervicalis) keluar dari Medulla Spinalis melalui foramen intervertebrale

60

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Klasifikasi Fungsional Serabut Saraf


Secara fungsional, penyebutan sistem saraf berdasar 2 pengertian dasar penting, yang pertama berdasar arah impuls, apakah menuju ataukah berasal dari sistem saraf pusat (Pusat), sedang yang kedua berdasar organ yang diinervasi, apakah organ-organ somatik ataukah organ-organ visera. Atas dasar arah impuls: disebut aferen (A) bila menuju Pusat, dan eferen (E) bila berasal dari Pusat. Atas dasar organ yang diinervasi: disebut saraf somatik (S) untuk yang datang dari atau menuju organorgan somatik dan saraf viseral (V) untuk yang datang dari atau menuju organ-organ viseral. Dengan demikian dikenal sebutan-sebutan serabut saraf SA (somatik aferen), SE (somatik eferen), VA (viseral aferen) dan VE (viseral eferen). Dikarenakan ada jaringan atau organ yang mengalami perkembangan secara khusus, maka serabutserabut saraf tersebut di atas dibedakan pula atas sifatnya yang umum (General, G) atau yang khusus (Spesial, S). Oleh karena itu kemudian SA dan SE-nya menjadi GSA, SSA, GSE, dan SSE, sedang VA dan VE-nya menjadi GVA, SVA, GVE dan SVE Khusus untuk yang datang dan menuju organ viseral dibedakan pula apakah bersifat simpatis (Sp) ataukah parasimpatis (Ps). Sehingga GVE-nya masih dibedakan menjadi GVE-Ps dan GVE-Sp (GVAnya jarang dibedakan menjadi GVA-Ps dan GVA-Sp. Tampaknya untuk GVA ini tidak dianggap penting untuk dibedakan atas Ps ataukah Sp. Yang penting dibedakan adalah GVE-nya) Serabut saraf aferen dari jaringan-jaringan mesodermik (yang embriologisnya berasal dari lapisan mesoderm) dikenal sebagai serabut saraf proprioseptif (P); dapat P somatik (PS) atau P viseral (PV). Serabut saraf PS datang dari jaringan-jaringan otot skelet, tendo, tulang, tulang rawan, persendian, serta jaringan penghubung pada umumnya. Serabut-serabut ini membawa impuls-impuls untuk stimulus tekanan, regangan, rasa capai, perasaan getaran, serta ngilu. Serabut saraf PV berangkat dari jaringan-jaringan otot polos dan jaringan ikat selubung-selubungnya. Sensasinya tidak disadari, tetapi bila rangsang sangat kuat, timbul sensasi ngilu (nyeri) yang sangat kuat, misal yang terjadi pada migrain, kolik ureter, kolik usus, sakit uterus di saat haid, dsb Serabut GSA berangkat dari kulit, membawa impuls dari stimulus suhu dan rabaan (taktil). Sensasinya dikenal sebagai sensor sensibel. Serabut SSA berangkat dari: 1) retina, yang membawa impuls dari stimulus cahaya dan sensasinya dikenal sebagai sensor visus (penglihatan), 2) organ korti (koklear) di telinga yang membawa impuls dari getaran suara dan sensasinya dikenal sebagai sensor auditif (pendengaran), 3) organ vestibuler di telinga yang membawa impuls dari getaran cairan perilimfe di sakulus dan sensasinya dikenal sebagai sensor keseimbangan leher-kepala (sensor vestibuler). Serabut GVA berangkat dari tunika mukosa organ-organ visera. Sensasinya tidak disadari, responnya berupa refleks dari organ-organ visera yang bersangkutan. Serabut SVA berangkat dari: 1) organ olfaktus pada hidung, yang membawa impuls dari stimulus kimia untuk pembauan (penghiduan), dan sensasinya berupa sensor penghiduan; 2) organ gustus pada permukaan lidah yang membawa impuls dari stimulus kimia untuk pengecapan (gustasi) dan sensasinya berupa sensor gustasi (pengecapan). Serabut GSE menuju semua otot skelet, kecuali sternocleidomastoideus (sternomastoideus) dan m trapezius. Kedua otot tersebut diinervasi saraf eferen yang bersifat SSE. GVE menuju semua otot polos, kecuali yang pada esophagus 1/3 bagian cranial, pharynx, larynx, otototot wajah dan otot-otot bola mata yang diinervasi SVE. Secara ringkas klasifikasi fungsional serabut-serabut saraf tersebut dapat dilukiskan pada Gambar 84

61

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 84 Diagram Klasifikasi Sistem Saraf dari sudut pandang fungsinya

Serabut-serabut saraf yang menginervasi Sistem Digesti


Pada Rongga Mulut, Yang dari Nn Craniales, yakni cabang-cabang dari N Trigeminus (N V), N Facialis (N VII), N Glossopharyngeus (N IX), N Vagus (N X), dan N Hypoglossus (N XII) Yang dari Nn Spinales, yakni anyaman serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) cabang-cabang dari N Cervicalis 8 (N C8) dan N Thoracalis 1 (N T1) Pada Orofarings (Farings) & Esofagus 1/3 bagian cranial, Yang dari Nn Craniales N Glossopharyngeus (N IX) Yang dari Nn Spinales, yakni anyaman serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) cabang-cabang dari N Cervicalis 8 (N C8) dan N Thoracalis 1 (N T1) Pada Esofagus 2/3 bagian caudal) Yang dari Nn Craniales N Vagus (N X) Yang dari Nn Spinales, yakni anyaman serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) cabang-cabang dari Nn Thoracales 1-5 (Nn T1-5)

62

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Pada Ventrikulus, Pilorus, Duodenum (pertengahan pars descendens), Hepar, Vesika Felea, Pankreas Yang dari Nn Craniales N Vagus (N X) Yang dari Nn Spinales, yakni anyaman serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) cabang-cabang dari Nn Thoracales 6-9 (Nn T6-9) Pada Duodenum (pertengahan pars descendens), Jejunum, Ileum, Sekum, Umbai Cacing, Kolon Asendens, Kolon Transversum Yang dari Nn Craniales N Vagus (N X) Yang dari Nn Spinales, yakni anyaman serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) cabang-cabang dari Nn Thoracales 10-12 (Nn T10-12) Pada Kolon Desendens, Kolon Sigmoid, Rektum, Anus Yang dari Nn Craniales sudah tidak ada, digantikan anyaman serabut-serabut parasimpatis (general visveral parasimpathis) cabang-cabang dari Nn Sacrales 2-4 (Nn S2-4) Serabut-serabut simpatis (general visveral simpathis) nya adalah cabang-cabang dari Nn Lumbales 1-3 (Nn L1-3)

N trigeminus (N V)
N trigeminus bercabang 3: N ophtalmicus (N V1) N maxillaries (N V2), dan N mandibularis (N V3) (Gambar 85, 86) N ophthalmicus tidak menginervasi Rongga Mulut N maxillaris mengandung serabut-serabut GSA yang menginervasi kulit dinding RM daerah maksiler dan tunica mucosa RM bagian atas depan (pipi, gusi atas, langit-langit keras) dan email gigi-gigi atas, N mandibularis mengandung serabut-serabut GSA dan SVE. Serabut-serabut GSA-nya menginervasi kulit dinding RM daerah mandibuler dan tunica mucosa RM bagian bawah depan (gusi bawah, dasar RM, lidah 2/3 depan) dan email gigi-gigi bawah. Serabut-serabut SVE-nya menginervasi otot-otot: mastikasi (mm masseter, temporalis, pterygoideus internus & pterygoideus externus), m mylohyoideus, m digatricus venter anterior, m tensor veli palatini dan m tensor tympani Selain m tensor tympani, semua otot tersebut berperan dalam mekanisme menggigit, mengunyah, dan menelan makanan (M tensor tympani untuk menegangkan membrana tympanica pada telinga). Badan sel serabut-serabut GSA (untuk semua cabang n V) adalah gln nervi trigemini (gln semilunare, gln Gasseri) . (Gambar 85) Badan sel serabut SVE-nya adalah nucleus motorius n V, yang berlaku pula sebagai pusat refleks eferen n trigeminus. Pusat refleks GSA-nya adalah nucleus sensibilis n V. Pusat-pusat refleks n trigeminus, baik yang afferent (GSA) maupun yang eferen (SVE) terdapat pada Pons (Pons Varoli, bagian dari Otak Belakang)

63

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 85 Percabangan N trigeminus

Gambar 86 Sketsa wilayah inervasi n trigeminus pada kulit permukaan wajah

64

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 87. Cabang n facialis yang ke Rongga Mulut dan sekitarnya

Gambar 88 Cabang n facialis yang menuju otot-otot dahi, wajah, daerah leher dan belakang telinga

N facialis (N VII)
65

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Serabut-serabut saraf n facialis terbagi menjadi 3 percabangan utama, yakni cabang yang ke arah frontal (depan) disebut n petrosus superficialis majoris (Gambar 87) , cabang yang ke arah occipital (belakang) yang keluar melalui foramen stylomastoideum (dan yang masih memakai sebutan n facialis) (Gambar 87, 88), dan cabang n facialis sebelum keluar dari foramen stylomastoideum, ketika masih di dasar rongga telinga tengah (auris media) yang disebut chorda tympani (Gambar 85) N petrosus superficialis majoris mengandung serabut-serabut saraf GVE-Ps dan GVA-Ps yang menuju daerah mata, hidung dan mulut bagian atas. Serabut-serabut GVA-Ps membawa impuls-impuls viseral yang datang dari organ-organ viseral daerah tersebut (termasuk dari tunica mucosa RM bagian atas belakang), sedang serabut GVE-Ps-nya menginervasi jaringan otot polos dan otot-otot kelenjar di daerah tersebut, sedang GVA-Ps-nya membawa impuls dari tunica mucosa rongga hidung bagian belakang dan dan rongga mulut bagian atas belakang. Badan sel serabut-serabut GVE-Ps-nya adalah ganglion sphenopalatinum yang terdapat pada fossa pterygopalatina (celah di belakang maksila) (Gambar 87). Badan sel saraf GVA-Ps-nya adalah ganglion geniculatum (Gambar 87). Pusat refleks GVE-Ps-nya adalah nucleus parasympathicus n VII. Pusat refleks GVA-Ps-nya pada nucleus tractus solitarius n VII. Kedua pusat refleks tersebut ada di Medulla Oblongata (MO), bagian dari Otak Belakang N facialis setelah keluar dari foramen stylomastoideum berjalan ke arah depan, menembus glandula parotis, kemudian bercabang-cabang menuju ke semua otot-otot wajah (selain otot-otot yang diinervasi n mandibularis). Sebelum menembus gld parotis, mempercabangkan pula serabut ke arah leher (untuk m digastricus venter posterior dan m stylohyoideus) dan ke belakang telinga (untuk mm auriculares otototot telinga) (Gambar 88). Sifat-sifat serabut saraf ini adalah SVE. Badan sel sarafnya pada nucleus motorius n facialis di MO, yang juga menjadi pusat refleks eferentnya. Chorda tympani berjalan ke arah frontal, untuk bergabung dengan n lingualis (cabang n mandibularis), menuju ke RM bagian bawah (Gambar 85) Serabut-serabut chorda tympani sendiri bersifat GVE-Ps, GVA-Ps dan SVA. GVE-Ps-nya menginervasi jaringan otot polos dinding RM bagian bawah (mandibuler) termasuk otot-otot polos gld sudorifera, gld sebacea, gld mucosa dan glandulae salivares (selain gld parotis). GVA-Ps-nya membawa impuls dari selaput lendir RM bagian bawah SVA-nya membawa impuls dari organa gustatoria pada permukaan lidah bagian depan (sensasi-sensasi selain pahit). Badan sel GVE-Ps-nya pada ganglion submandibulare (di sekitar gld submandibularis) (Gambar 85) atau pada ganglion sublinguale (di sekitar gld sublingualis). Badan GVA-Ps dan SVA-nya terdapat pada ganglion geniculatum (Gambar 87). Pusat refleks GVE-Ps-nya pada nucleus parasimpathicus N VII, atau nucleus salivarius superior untuk yang ke kelenjar-kelenjar saliva (gld submandibularis dan gld sublingualis) Pusat refleks GVA-Ps-nya pada nucleus tractus solitarius N VII Pusat refleks SVA-nya pada nucleus gustatorius superior. Pusat-pusat refleks tersebut ada di MO.

N glossopharyneus (N IX)
66

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

N glossopharyngeus menginervasi daerah belakang lidah (Gambar 14, 15), farings (orofarings) dan gld parotis (Gambar 50a-d, Gambar 88 & 89). Cabang yang ke belakang lidah menginervasi organon gustus pada tunica mucosa belakang lidah (Gambar 14, 15), bersifat SVA, Cabang yang ke farings menginervasi mm constrictors pharyngis (mm constrictor pharyngis superior, medius & inferior) (Gambar 23, 89) dan m stylopharyngeus (Gambar 89), bersifat SVE Cabang yang ke gld parotis bersifat GVE-Ps Badan sel SVA-nya pada gln superius atau gln petrosum (Gambar 89, 90) Badan sel SVE-nya pada nucleus motorius n IX (nucleus ventralis vagi, nucleus ambiguus) Badan sel GVE-Ps-nya pada gln oticum (Gambar 85, 89) Pusat refleks SVA pada nucleus gustatorius inferior Pusat refleks SVE pada nucleus ambiguus Pusat refleks GVE-Ps pada nucleus salivarius inferior. Semua pusat reflekss tersebut ada di MO

N vagus (N X)
Untuk sistem digesti, cabang-cabang n vagus menginervasi = daerah orofarings (GVA-Ps & SVE) = esofagus 1/3 cranial (GVA-Ps & SVE) = esophagus 2/3 caudal sampai colon transversum (GVA-Ps & GVE-Ps) Cabang yang ke orofarings menginervasi mm levator veli palatini, palatoglossus & palatopharyngeus (SVE) dan tunica mucosanya (GVA-Ps). Cabang yang ke esofagus 1/3 cranial menginervasi jaringan ototnya (SVE) dan tunica mucosanya (GVA-Ps) Cabang-cabang yang ke esofagus 2/3 caudal sampai colon transversum serabut GVE-Ps-nya menginervasi jaringan otot-otot polos dari organ-organ esophagus 2/3 caudal - jejunum ventriculus - ileum pylorus - cecum duodenum - appendix vermiformis hepar - colon ascendens vesica fellea - colon transversum pancreas dan serabut GVA-Ps-nya menginervasi tunica mucosa organ-organ tersebut (Lihat pula Gambar 91) Badan sel SVE n vagus pada nucleus ventralis vagi (nucleus ambiguous, nucleus ambiguus) di Medulla

Oblongata (sekaligus sebagai pusat refleks). Badan sel GVE-Ps-nya pada ganglion parasympathicum (gln parasimpatis) in situ (ganglion yang terdapat pada dinding organ yang diinervasi). Pusat refleksnya pada nucleus dorsalis vagi di MO. Badan sel GVA-Ps-nya terdapat pada gln jugulare atau gln nodosum. Pusat refleksnya pada nucleus tractus solitarius nervi vagi (nucleus tractus solitarius N X) di MO Pusat refleks SVE pada nucleus ambiguus Pusat refleks GVE-Ps pada nucleus dorsalis nervi vagi (nucleus dorsalis vagi) Pusat refleks GVA-Ps pada nucleus tractus solitarius n X (nucleus tractus solitarius n vagi) Semua pusat refleks tersebut ada di MO

67

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 89 N glossopharyngeus (N IX)

Gambar 90 N glossopharyngeus, n vagus & n accessories ketika bersama keluar melalui foramen jugulare

68

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 91 Diagram N Vagus (N X) dan organ-organ yang diinervasi

Gambar 92 N hypoglossus (N XII)

69

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

N hypoglossus (N XII)
Serabut-serabut saraf efferent N XII menuju lidah dan dasar RM. Serabut yang menuju lidah menginervasi otot-otot intrinsik lidah (longitudinales, transversales, dan verticales) serta otot-otot ekstrinsik lidah selain m palatoglossus (mm genioglossus, hyoglossus & styloglossus). Serabut yang ke dasar RM menginervasi otot dasar RM; m geniohyoideus (Gambar 92) Sifat serabut sarafnya SVE, badan selnya (sekaligus pusat refleksnya) pada nucleus motorius nervi hypoglossi (nucleus motorius n XII) pada MO.

Nervi Erigentes (Nn Splanchnici Sacrales)


Saraf ini berupa anyaman serabut-serabut visceral parasimpatis, yang dipercabangkan dari Nn sacrales 2-4, bersifat GVE-Ps dan GVA-Ps (Gambar 93). Organ-organ digesti yang diinevasi adalah = colon descendens = colon sigmoideum = rectum dan = anus Serabut GVE-Ps-nya menginervasi jaringan otot polos dan serabut GVA-Psnya menginervasi tunica mucosa organorgan tersebut. Badan sel saraf GVE-Ps-nya pada ganglion parasimpatis in situ, pusat refleksnya pada nuclei intermedii medulla spinalis sacral 2-4 (nuclei intermedii MS S2-4). Badan sel saraf GVA-Ps-nya pada ganglion intervertebrale (ganglion spinale) S2-4, pusat refleksnya pada nuclei dorsales MS S2-4 (nuclei cornu posterioris MS S2-4).

Serabut-serabut simpatis
Serabut-serabut simpatis yang menuju sistem digesti bersifat efferent (GVE-Sp) dan afferent (GVA-Sp), dan berpusat pada medulla spinalis (MS), sejak dari MS C8 sampai MS L3. Nama nucleus (pusat refleks) GVE-Sp-nya adalah nucleus intermediolateralis, sedang pusat refleks GVA-Sp-nya adalah nucleus dorsalis (nucleus cornu posterioris). Badan sel saraf GVA-Sp-nya adalah ganglion spinale. Badan sel saraf GVE-Sp-nya adalah ganglion simpatis paravertebrale yang tersusun dalam bentuk tangga tali di samping kanan-kiri columna vertebralis sebagai truncus sympathicus (Gambar 94). Untuk system digesti di daerah abdomen & pelvis, ganglion simpatisnya menyusun diri sebagai gerombolangerombolan badan sel saraf di depan vertebra thoracalis XII atau di dekat pangkal truncus celiacus (ganglion celiacum), di depan vertebra lumbalis I atau di dekat pangkal a mesenterica superior (ganglion mesentericum superius) dan di depan vertebra lumbalis III atau di dekat pangkal a mesenterica inferior (ganglion mesentericum inferius). Oleh karena kedudukannya sudah di depan columna vertebralis, maka ganglia tersebut dinamakan pula sebagai ganglion prevertebrale (jamak: ganglia prevertebralia) (Gambar 95). Serabut-serabut simpatis, selepas dari badan-badan selnya, membentuk anyaman-anyaman saraf (plexus nervosus) dan mengikuti pembuluh-pembuluh darah guna mencapai organ-organ yang diinervasinya.

Serabut-serabut proprioseptif
Selain serabut-serabut saraf afferent sebagaimana sudah diuraikan di atas (GSA, GVA-Ps, GVA-Sp, SVA), untuk jaringan ikat, jaringan otot polos maupun otot SVE pada sistem digesti ada pula serabut yang bersifat proprioseptif, dalam hal ini adalah serabut proprioseptif visceral (PV). Serabut proprioseptif adalah serabut saraf yang membawa impuls-impuls dari jaringan-jaringan ikat termasuk yang terdapat di dalam otot. Bila jaringan ototnya somatik (otot skelet, otot lurik) maka sifatnya proprioseptif somatik (PS), dan bila jaringan ototnya visera (polos, termasuk SVE) maka sifatnya proprioseptif viseral (PV). PS membawa sensasi capai (letih), pegal sampai ngilu (disadari), dan PV sensasinya tidak disadari, kecuali bila rangsangan terlalu kuat, akan menimbulkan sensasi ngilu yang sangat kuat (misal pada migrain, kolik ureter, kolik usus, sakit pada otot rahim saat menstruasi, dsb). Badan selnya sama dengan badan sel GVA-Ps, GVA-Sp, atau SVA-nya. Pusat refleksnya pada nucleus radicis mesencephalici, di daerah mesencephalon (otak tegah).

70

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 93 N erigentes

Gambar 94 Truncus Sympathicus

71

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Gambar 95 Ganglia prevertebralia: gln celiacum, gln mesentericum superius & gln mesentericum inferius

Sistem Ekskresi
Ekskresi berasal dari istilah Latin e x c e r n e r e yang berarti menyaring keluar. Lebih lanjut ekskresi diartikan sebagai membuang atau memisahkan material tidak berguna dari tubuh organisme. Ekskret adalah sebutan untuk material-material tak berguna (bagi tubuh) yang terbuang (dibuang). Sistem Ekskresi adalah sebutan untuk serangkaian organ-organ yang dalam keadaan normal memiliki kapasitas untuk membuang material-material tidak berguna. Secara umum yang lazim disebut sebagai organ-ogan ekskresi adalah: = kelenjar keringat (gld sudorifera) dengan ekskretnya berupa cairan keringat (sudoriferus) = ginjal dengan saluran-saluran kemihnya, dengan ekskretnya berupa urin = paru-paru, dengan ekskretnya berupa gas karbondioksida. Bagaimanapun perlu diingat, bahwa sistem digesti dilengkapi pula dengan sistem ekskresi, yakni rektum dan anus. Karena material-material hasil digesti yang sudah berada di dalam rektum praktis sudah tidak berguna bagi tubuh, dan rektum, melalui anus, memiliki kapasitas untuk membuangnya keluar tubuh. Ekskret hasil digesti disebut feses (faeces). Proses ekskresinya disebut defekasi (defecatio). Orofarings dengan dibantu Rongga Mulut, sesunguhnya juga memiliki kapasitas dapat mengeluarkan material-material tidak berguna yang masuk ke dalam lambung, dengan mekanisme muntah (vomitus), yang biasanya didahului dengan perasaan mual (nausea). Tetapi mekanisme ini hanya terjadi di dalam keadaan-keadaan patologis (tidak normal), sehingga RM & Orofarings tidak lazim disebut sebagai organ ekskresi.

CATATAN
72

PS Ilmu Gizi FKUGM Bahan Anatomi Sistem Digesti dr Rismanto Tahun Akademik 2012/2013

Tentang penulisan istilah anatomis: = Kalau masih sebagai sebutan (predikat), tidak dituliskan dalam huruf kapital pada setiap huruf awal katanya = Kalau sudah sebagai Nama Organ (atau sebagai Judul), ditulis dengan huruf capital pada setiap awal katanya Misal glandula submandibularis, belum ditulis dengan huruf kapital untuk huruf awal tiap katanya, sebab belum menunjukkan identitas sebagai organ, tetapi hanya sebutan. Lain halnya bila sudah menunjuk pasti kepada organnya, misal: Glandula Submandibularis Sinister, atau Glandula Submandibularis Dexter Demikian pula untuk sebutan-sebutan anatomis yang lain, apakah untuk musculus (m), nervus (n), arteria (a), vena (v), dan lain-lain Misal nervus vagus baru dituliskan dengan huruf kapital tiap awal hurufnya bila sudah menunjuk pasti sebagai organ, misal N Vagus Dexter. Atau arteria radialis, baru dengan huruf kapital pada awal kata bila sudah menunjuk organ, misal A Radialis Sinister. Untuk organ yang tidak berpasangan, misal hati (hepar), atau pankreas (pancreas), atau aorta asendens (aorta ascendens), atau sekum (cecum), kalau sedang memerikan sebagai organ, lazim ditulis sebagai Hati (Hepar), Pankreas (Pancreas), Aorta Asendens (Aorta Ascendens), dan Sekum (Cecum). Tetapi bila hanya sebagai sebutan, misal sedang memerikan perihal fungsinya, atau sifat-sifatnya yang lain, tidak perlu dituliskan dengan huruf kapital (pada huruf awal katanya)

PR I
01 Sebutkan organ-organ digesti mekanik pada tubuh manusia ! 02 Sebutkan organ-organ digesti kimiawi pada tubuh manusia ! 03 Sebutkan macam-macam mekanisme digesti pada tubuh manusia ! 04 Apakah ada organ digesti yang tidak mensekresi lendir? Sebutkan kalau ada ! 05 Saluran digesti mana yang tidak memiliki sel kelenjar digesti ? Sebutkan ! 06 Sebutkan macam-macam sel kelenjar digesti yang bekerja pada: a) Rongga Mulut e) Jejunum b) Esofagus f) Ileum c) Ventrikulus g) Kolon d) Duodenum 07 Saluran digesti mana yang merangkap pula sebagai sistem ekskresi ? 08 Sebutkan organ-organ digesti yang termasuk intra-peritoneal ! 09 Sebutkan organ-organ digesti yang termasuk retro-peritoneal ! 09 Sebutkan sel-sel pada organ digesti yang mensekresi hormon, nama hormonnya, serta fungsinya ! 10 Apa batas-batas foramen epiploicum Wnslowi ? 11 Apa guna dari foramen epiploicum Winslowi ? 12 Dari bahan apakah bilus dibentuk ? 13 Organ manakah yang berfungsi mensintesa bilus ? Apakah nama sel kelenjarnya ? 14 Di manakah muara saluran bilus pada sistem digesti ? 15 Apakah guna bilus pada proses digesti ? 16 Jelaskan perbedaan antara villus dengan microvillus pada intestinum tenue 17 Sebutkan fungsi hepar 18 Sebutkan fungsi pankreas 19 Apa itu peritoneum ? 20 Sebutkan macam-macam bentuk peritoneum, dan jelaskan fungsinya ! =jr=

73