Anda di halaman 1dari 7

A.

Pendahuluan
sia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia di dunia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan. Usia lanjut merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Semua

U
hari lagi.

orang akan mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari

Tahap usia lanjut adalah tahap dimana terjadi penuaan dan penurunan, penurunannya lebih jelas dan lebih dapat diperhatikan daripada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia penuaan dihubungkan dengan perubahan degenerative pada kulit, tulang, jantung, pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainnya. Dengan kemampuan regenerative yang terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain. Untuk menjelaskan penurunan pada tahap ini, terdapat berbagai perbedaan teori, namun para ahli pada umumnya sepakat bahwa proses ini lebih banyak ditemuka oleh faktor gen. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat sel, umur sel manusia ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang berlokasi pada ujung kromosom. Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika telomere berkurang ukurannya pada ujung kritis tertentu.

B.

Pembahasan

Perubahan yang terjadi di usia lanjut tidak hanya tidak hanya terjadi pada fisiknya, namun yang lebih penting adalah perubahan mentalnya yang sangat mempengaruhi perkembangan emosionalnya. Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi ( Widyastuti, 2000 ). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak ikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus di hadapi lanjut usia. Hal - hal tersebut di atas yang dapat menjadi penyebab lanjut usia kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri. Bahkan sering ditemui lanjut usia dengan penyesuaian diri yang buruk. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya gangguan fungsional, keadaan depresi dan ketakutan akan mengakibatkan lanjut usia semakin sulit melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga lanjut usia yang masa lalunya sulit dalam menyesuaikan diri cenderung semakin sulit penyesuaian diri pada masa masa selanjutnya. Kesulitan kesulitan itu dimulai ketika usia lanjut memasuki masa pensiun yang selalu menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan dan nilai, dan perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu. Menurut Schwartz, pensiun dapat merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup baru. ( Hurlock, 1980 : 417 ) Di saat usia lanjut memasuki masa pensiun, mereka akan mengalami Post Powers Syndrom ( kekuasaan ) atau purna tugas, secara psikologis ia akan mengalami kehilangan aktifitas rutin di masa sebelumnya. Menurut Erikson, pada usia lanjut orang mengalami krisis identitas ( identity crisis ), yang tidak sama dengan krisis identitas yang dihadapi seseorang pada masa dewasanya, pada waktu mereka kadang-kadang diperlakukan sebagai anak dan kadang-kadang diperlakukan sebagai orang dewasa. Krisis identitas yang menimpa

orang setelah pensiun adalah sebagai akibat dari keharusannya untuk melakukan perubahan peran yang drastis dari seorang pekerja yang sibuk dan penuh optimis, menjadi seorang penganggur yang tidak menentu. Lebih lanjut, perlu diketahui bahwa perubahan terhadap kebiasaan dan pola yang sudah mantap yang telah dilakukan sepanjang hidup yang pernah dialaminya, sering mengakibatkan perasaan yang sangat traumatik bagi orang usia lanjut Monk menjelaskan mengapa hal ini terjadi, menurutnya : Pensiun mengakibatkan hilangnya status, prestise, tidak mempunyai peran dalam situasi yang cocok, atau paling tidak didefinisikan secara jelas sebagai hilangnya posisi sosial dan peranan yang diharapkkan agar terkenal.. Sekali seseorang tidak dapat menampilkan peranan jabatannya, pengakuannya yang terdahulu terhadap prestise, kemampuan dan posisi sosialnya yang tidak sahih lagi, atau posisi sosialnya sudah tidak penting lagi, dengan demikian berarti identitas dirinya sudah runtuh . ( Hurlock, 1980 : 435 ) Menurut pendapat Havighurst orang lanjut usia dapat dibagi dalam dua kategori umum atas dasar sikap mereka terhadap pensiun, yakni : 1. Kategori pertama, di sebut "pengalih peran ( transformer ) Mereka yang mampu dan mau mengubah gaya hidupnya dengan mengurangi kegiatan kegiatan berdasarkan pilihannya sendiri dengan menciptakan gaya hidup yang baru dan menyenangkan mereka sendiri. Hal ini mereka lakukan dengan cara melepas berbagai peran lama dan menjalankan peran baru. Mereka sendiri jarang rileks dan tidak mengerjakan apapun, kecuali mereka mengembangkan hobi, melakukan perjalanan, dan menjadi aktif dalam berbagai pertemuan yang diadakan oleh masyarakat.

2. Kategori kedua, di sebut pemelihara peran ( maintainers )

Mereka terus bekerja dengan melakukan pekerjaan penggal waktu ( part time jobs ) setelah pensiun. Mereka seperti merubah perubah peran , jarang untuk rileks dan tidak mengerjakan apapun, tetapi apa yang mereka kerjakan merupakan kejutan dari apa yang mereka lakukan bertahun tahun sebelumnya, untuk beberapa bentuk pekerjaan mereka digaji seperti saat mereka kerja dahulu. ( Hurlock, 1980 : 418 ) Mengacu pada pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, di usia lanjut sebagian orang mengisi masa purna tugasnya dengan kegiatan kegiatan baru seperti kegiatan sosial, berkebun, membuka lapangan kerja, atau dengan memomong cucu yang merupakan kebahagiaan di masa tuanya. Hal ini sesuai dengan Teori Activity, yang secara formal diajukan oleh Cumming dan Henry pada tahun 1961, yang menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin memelihara hubungan sosial, fisik maupun emosionalnya. Kepuasan hidup orang tua sangat tergantung pada kelangsungan keterlibatannya pada berbagai kegiatan. ( Lafrancois (1984) ) Bagi sebagian yang lain juga memanfaatkan waktu dengan mengubahnya pada minat keagamaan. Banyak dari orang orang lanjut usia yang mengubah peranannya setelah tidak lagi produktif bekerja dan jauh dari anak dan cucu, mengisi kegiatan sehari hari mereka dengan memperdalam ilmu agama yang mereka yakini. Hal disebabkan karena mereka telah kehilangan aktifitas rutin di masa sebelumnya. Mereka mencari kegiatan yang dapat membuat hatinya senang, tidak merasa kesepian, stress dan tentunya mereka akan merasa sangat dekat dengan Tuhan. Bahkan dengan keaktifan mereka dalam kegiatan keagamaan tersebut, tidak jarang pula dari mereka akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan, dan itu dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya bahwa kehadirannya juga masih dibutuhkan. Dalam sebuah penelitian, menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Kebutuhan spiritual ( keagamaan ) sangat berperan dalam memberikan ketenangan batiniah, khususnya bagi para lansia. Sehingga religiusitas atau

penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Hal ini ditunjukkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hawari ( 1997 ), bahwa : a. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar

daripada orang yang religius. b. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat

dibandingkan yang non religius. c. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi atau

masalah hidup lainnya. d. kecil. e. kecil. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stress Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stress

daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih

daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih

C.

Kesimpulan
Dari kajian diatas dapat disimpulkan bahwa menjadi tua atau menua adalah kodrat

manusia yang tidak akan mungkin dapat dihindari. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan segalanya bagi hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang merasa terbebani atau merasa cemas ketika mereka beranjak tua. Takut ditinggalkan oleh keluarga, takut merasa tersisihkan dan takut akan rasa kesepian yang akan datang. Keberadaan lingkungan keluarga dan sosial yang menerima lansia juga akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosio emosional lansia, namun begitu pula sebaliknya jika lingkungan keluarga dan sosial menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau rung interaksi bagi mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup lansia.

Referensi : Anonymous, Memahami kepribadian lansia, diakses pada tanggal 02 Januari 2010 dari http://singgihpanduwicaksono.blogspot.com/ Depresi pada lansia, diakses pada tanggal 30 Desember 2009 dari http://lansiafood.net B. Hurlock, Elizabeth, Psikologi Perkembangan, Jakarta Erlangga, 1980 Desmita, Psikologi Perkembangan.Cet.II; Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006. F.J. Monk & A.M.P Knoers, Psikologi Perkembangan : Pengantar dalam Berbagai bagiannya. Cet XV;Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004