Anda di halaman 1dari 5

PERSEDIAAN TENAGA KERJA (SDM)

Penyediaan Sumberdaya manusia yang kompeten, yaitu SDM yang memiliki ketrampilan dan kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas yang diisyaratkan sehingga mampu menstabilkan performa, tindakan, perilaku, dan pikiran secara rasional dan efektif dalam implementasi. Hal ini perlu dipersiapkan untuk menjawab tantangan pembangunan perkebunan ke depan yang dihadapkan kepada berbagai tantangan. Tantangan pembangunan perkebunan seperti terjadinya berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan yang sangat dinamis serta berbagai persoalan mendasar seperti adanya tekanan globalisasi dan liberalisasi pasar, pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, semakin terbatasnya sumberdaya lahan, air dan energi, terjadinya perubahan iklim global, kecilnya kepemilikan dan status lahan, masih terbatasnya kemampuan sistem perbenihan nasional, terbatasnya akses petani terhadap permodalan, masih lemahnya kapasitas kelembagaan petani dan penyuluh, serta kurang harmonisnya koordinasi kerja antar sektor tekait pembangunan perkebunan.Penyediaan SDM yang kompeten dalam mendukung pembangunan perkebunan tidaklah mudah, membutuhkan proses dan pembelajaran yang kontinu serta melalui tindakan real. Proses dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Pembelajaran harus mengimplementasikan konsep kedalam tindakan nyata. Sedangkan tindakan rieal dapat dijadikan sebagai pengalaman dalam mengimplementasikan konsep. Semua ini dapat diramu untuk menciptakan SDM yang kompeten dalam mendukung pembangunan perkebunan.

Selain itu dalam mendukung pembangunan perkebunan, dukungan Birokrasi dan regulasi juga merupakan hal penting khususnya menyangkut kebijakan dan peraturanperaturan yang berlaku. Contoh kebijakan yang dilakukan pemerintah melalui Ditjen Perkebunan Kementan yaitu Diterbitkannya UU No 18 tahun 2006 tentang perkebunan dan kebijakan pelaksanaan pembangunan perkebunan melalui strategi Tujuh Gema

Revitalisasi menjadi strategi umum pembangunan perkebunan tahun 2010-2014, yang didalamnya terdapat revitalisasi SDM perkebunan. Tujuh Komponen gema revitalisasi

tersebut adalah: 1) Revitalisasi Lahan, 2) Revitalisasi perbenihan, 3) Revitalisasi infrastruktur dan sarana, 4) Revitalisasi sumberdaya manusia, 5) Revitalisasi pembiayaan petani, 6) Revitalisasi kelembagaan petani, 7) Revitalisasi teknologi dan industri hilir

SUMBERDAYA MANUSIA SEBAGAI KUNCI KEBERHASILAN

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan bidang Pembangunan perkebunan pengkajiaanya harus terkait dengan industri berbasis perkebunan dan organisasinya. Dalam definisi yang lain, sumber daya manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik yang dimiliki individu, perilaku dan sifatnya ditentukan oleh keturunan dan lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk memenuhi kepuasannya. Sumberdaya manusia perkebunan merupakan potensi yang terkandung didalam diri para pelaku pembangunan perkebunan baik sebagai ujung tombak kegiatan pengembangan perkebunan secara langsung maupun sumberdaya intelektual yang berada di dalam birokrasi dan pengembangan ilmu dan teknologi. Berangkat dari beberpa definisi tersebut SDM perkebunan yang mampu membawa pembangunan perkebunan dituntut memiliki potensi yang optimal artinya potensi yang dimiliki harus mampu melaksanakan pembangunan perkebunan secara tepat, cepat, efektif dan optimal.

1. Pelaksanaan Pembangunan Perkebunan Secara Tepat, Pembangunan perkebunan yang tepat sasaran, tujuan dan manfaatnya sangat tergantung pada SDM yang tepat sesuai dengan bidang dan keahliannya. 2. Pelaksanaan Pembangunan Perkebunan Secara Cepat, Pelaksanaan pembangunan perkebunan yang cepat ditentukan oleh SDM yang cekatan, trampil dan sehat. 3. Pelaksanaan Pembangunan Perkebunan Secara Efektif, Efektifitas pelaksanaan pembangunan perkebunan didukung oleh SDM yang memiliki Kompetensi. Yaitu karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannya meliputi efektifitas performa, gaya bertindak, berperilaku, dan berpikir. 4. Pelaksanaan pembangunan perkebunan secara optimal Pembangunan perkebunan yang mengacu kepada optimalisasi proses produksi dan produksi tidak saja dipengaruhi oleh penyediaan SDM yang kompeten akan tetapi juga harus memperhatikan tingkat optimalisasi penggunaan SDM. Optimalisasi SDM hanya dapat dilakukan dengan melakukan perencanaan SDM yang memadai. Perencanaan SDM merupakan proses analisis dan identifikasi tersedianya kebutuhan akan SDM sehingga tujuan pembangunan dapat tercapai. Ada tiga kepentingan dalam perencanaan SDM yaitu: Kepentingan Individu, kepentingan organisasi dan epentingan nasional. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan SDM yaitu:

Perencanaan SDM harus mempunyai tujuan untuk pembangunan perkebunan dan mampu menghubungkan SDM yang ada untuk kebutuhan saat ini dan masa yang akan datang untuk menghindari mismanajemen dan tumpang tindih dalam pelaksanaan tugas.

Perencanaan SDm juga harus mengacu kepada perencanaan pembangunan perkebunan sebagai aktivitas yang dilakukan untuk mengadakan perubahan yang positif bagi perkembangan perkebunan.

Syarat-syarat perencanaan SDM perkebunan antara lain:


Mengetahui secara jelas masalah yang akan direncanakannya. Mampu mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang SDM. Mempunyai pengalaman luas tentang job analysis, organisasi dan situasi persediaan SDM.

Mampu membaca situasi SDM masa kini dan masa mendatang. Mampu memperkirakan peningkatan SDM dan teknologi masa depan. Mengetahui secara luas peraturan dan kebijaksanaan perburuhan pemerintah . Prosedur perencanaan sumber daya manusia:

Menetapkan secara jelas kualitas dan kuantitas SDM yang dibutuhkan. Mengumpulkan data dan informasi tentang SDM. Mengelompokkan data dan informasi serta menganalisisnya. Menetapkan beberapa alternative. Memilih yang terbaik dari alternative yang ada menjadi rencana. Menginformasikan rencana kepada para karyawan untuk direalisasikan.

Jika perencanaan sumber daya manusia dilakukan dengan baik, maka akan diperoleh keuntungan :

Pimpinan memiliki pandangan yang lebih baik terhadap dimensi SDM atau terhadap keputusan-keputusannya.

Biaya SDM menjadi lebih kecil, karena manajemen dapat mengantisipasi ketidakseimbangan.

ersedianya lebih banyak waktu untuk menempatkan yang berbakat karena kebutuhan dapat diantisipasi dan diketahui sebelum jumlah tenaga kerja yang sebenarnya dibutuhkan.

Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian

muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan dan juga dapat sebagai beban (liability). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka. Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan pembangunan perkebunan yang bertumpu kepada kemampuan dan kemandirian pelaku usaha perkebunan, rencana aksi yang akan dilaksanakan mencakup upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas SDM baik petugas, pekebun, maupun masyarakat dengan cara: 1. Meningkatkan kualitas, moral dan etos kerja petugas termasuk di dalamnya petugas fungsional. 2. Meningkatkan lingkungan kerja yang kondusif dan membangun sistem pengawasan yang efektif. 3. Meningkatkan penerapan sistem recruitment dan karir yang terprogram serta transparan untuk mewujudkan petugas yang profesional. 4. Meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan sikap prakarsa petugas yang proaktif dalam mewujudkan pelayanan prima sesuai kebutuhan pelaku usaha. 5. Meningkatkan kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan kemandirian pekebun dan masyarakat untuk mengoptimasikan usahanya secara berkelanjutan. 6. Memfasilitasi dan mendorong kemampuan pekebun dan masyarakat untuk dapat mengakses berbagai peluang usaha dan sumberdaya dalam

memperkuat/mempertangguh usaha taninya. 7. Menumbuhkan kebersamaan dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan pekebun dan masyarakat dalam mengelola kelembagaan petani dan kelembagaan usaha serta menjalin kemitraan. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan dukungan sistem dan mutu pendidikan yang kompeten untuk menciptakan SDM perkebunan yang kompeten pula.(Sdevalap)