Anda di halaman 1dari 8

1.Pendahuluan 1.1Latar Belakang Masalah DELAPAN PULUH persen lulusan SMA kini menganggur.

Angkatan kerja yang besar ini belum termasuk tamatan sarjana (S1) yang setiap tahunnya juga terus membengkak. Hal seperti ini tentu sangat merisaukan. Jika ini dibiarkan, dampaknya, mereka akan mengalami depresi mental yang besar. Hal ini bisa berdampak pada kehilangan kepercayaan diri, akan timbul rasa kepahitan dan frustrasi. Dalam jangka pendek -- semasih keluarga punya warisan/mampu menghidupi keluarganya -- hal ini tidak terasa. Tetapi, tidak semua orang punya warisan harta yang bisa menjadi jaminan hidup aman. Di sinilah peran pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk memberdayakan para pencari kerja (baca penganggur) dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan.

You are here: Home / Bahasa Jurnalistik / Arti Kata Blusukan

Arti Kata Blusukan


January 15, 2013 by romeltea Leave a Comment 17 Views Jokowi gencar blusukan. Presiden pun ikutan blusukan. Blusukan menjadi kata/istilah populer di media di Indonesia seiring gencarnya aksi blusukan sang Gubernur DKI Joko Widodo alias Jokowi. Masalahnya, apa sih arti kata blusukan? Saya buka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tidak ada! Oh, ternyata ia bahasa Jawa. Namun, ketika saya cek ke Kamus Bahasa Jawa Online, dicari blusuk dan blusukan, hasilnya No match for blusuk dan No match for blusukan. Yang ada kata blesek yang diartikan membenamkan ke dalam tumpukan. Bahasa Sundanya mah kukurusukan meureun nya? Bisa jadi, asal kata blusukan itu blesek yang arti praktisnya masuk. Jadi, blusukan dalam konteks aksi Jokowi bisa berarti masuk ke tempat-tempat yang tidak lazim dikunjungi pejabat. Bahasa politisnya sih turba, turun ke bawah, menjaring aspirasi dan melihat langsung kondisi rakyat di lapangan. Di sisi lain, kasus populernya kata blusukan ini menjadi bukti ke sekian: media memang trend setter! Apa yang dipopulerkan media akan menjadi populer di masyarakat. Blusukan yang merupakan bahasa media kini menjadi bahasa publik. Wasalam. (www.romeltea.com).*

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez Home Humaniora Bahasa

Artikel

Bahasa Kang_insan

TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Kang Insan, begitulah saya biasa dipanggil...


0inShare

Blusukan dan Turba: Menyingkap Makna yang Lain


OPINI | 09 January 2013 | 10:50 Dibaca: 230 Komentar: 0 3 aktual Sebagai peminat bahasa, yang menarik dan berkesan dari Joko Widodo setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta, bagi saya, adalah keberhasilannya mengangkat kata blusukan yang awalnya merupakan kata yang lebih akrab dengan masyarakat pedesaan di Jawa (atau pinjam istilah Tukul Arwana, ndeso) menjadi sebuah kata yang sangat metropolis dan sexi. Saya sebut metropolis sebab kata blusukan tiba-tiba saja menjadi perbincangan warga perkotaan dan menghentak kesadaran kaum urban itu atas ketidakmampuan bahasa yang mereka pakai dalam percakapan di Ibu Kota untuk menyebut atau mengistilah dengan kata apa terhadap tindakan atau perjalanan keluar-masuk ke permukiman yang dilakukan oleh gubernurnya. Bagi saya, itu adalah keberhasilan Jokowi menaklukkan Jakarta, sebagai simbol kebanggan nasional. Sisi lain yang saya lihat adalah ketidakberdayaan pers (media massa)sebab awalnya istilah blusukan terdengar melalui media massasebagai salah satu agen penjaga atau pemelihara bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berdepan-depan dengan pemimpin populer. Saya pun menyebut kata blusukan itu sexi, tulisan yang sesuai ejaan kita adalah seksi dan semestinya saya pun memberinya tanda petik. Sebab kata itu telah merangsang orang lain (baca: penguasa lain) untuk tertarik dan melakukan apa yang dilakukan oeh Jokowi. Seberapa ketertarikan itu? Tampaknya, sangat tertarik , tetapi seperti biasa mereka akan ramai-ramai menolak disamakan apalagi dianggap meniru-meniru. Pantang bagi seorang pemimpin untuk meniru pemimpin yang lain apalagi jika ia merasa lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang ditirunya. Implikasinya apa? Pertama, mereka akan menciptakan kata baru atau istilah baru untuk mengacu kepada tindakan atau perbuatan yang sama. Dalam kajian semantik atau semiotika, mereka akan membuat penanda baru terhadap petanda yang sama. Seperti, ada kata siswa dan murid yang keduanya mengacu

kepada satu hal yang sama, yaitu orang yang belajar. Sebab itu, saya tidak aneh jika kemudian kata blusukan mendapat tandingan kata turba. Kata terakhir adalah kata yang dipakai oleh para loyalis SBY untuk mengacu tindakan-tindakan SBY akhir-akhir ini yang menyerupai tindakan Jokowi. Kedua, untuk mengesankan tidak meniru, maka akan dibangun wacana seolah-olah mereka sudah jauh-jauh hari melakukan hal itu. Agar wacana itu kuat, mereka akan berulang-ulang di berbagai kesempatan untuk menyebut-nyebut istilah itu dan berupaya sekuat tenaga merujuk pada perbuatan-perbuatan masa lampau dengan harapan masih ada yang bisa mengingatnya. Dengan demikian, akan ada dua pertarungan di sana. Pertarungan pertama adalah persaingan pemakaian istilah terhadap tindakan yang sama. Blusukan bersaing dengan turba. Persaingan dalam wacana dan pembicaraan. Nanti akan terlihat mana yang frekuensinya lebih banyak dipakai oleh masyarakat. Tentu saja, yang sering dipakai oleh masyarakat itulah yang disukai. Namun, belum tentu pada ahirnya kata itu dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sekaligus menandakan resminya kata itu menjadi kata baku bahasa Indonesia. Pertarungan kedua adalah pertarungan dalam memberikan petanda terhadap kata itu, atau memaknakan kata itu sehingga punya arti yang signifikan bagi masyarakat. Masyarakat jelas akan membedakan blusukan dan turba dalam hal bagaimana baik Jokowi maupun SBY menjadikan tindakan-tindakan itu benar-benar bermanfaat atau tidak di mata masyarakat. Hal lain yang saya cermati dari munculnya kata blusukan dan turba itu adalah munculnya kesan terhadap gaya kepemimpinan. Kata blusukan adalah kata yang sangat akrab bagi masyarakat pedesaan. Berbicara masyarakat pedesaan, mungkin saya terlalu mereduksi, berarti kita membahas masyarakat kelas bawah kita, masyarakat kecil atau wong cilik. Dari sini saja, tampak bahwa Jokowi memakai istilah itu untuk menunjukkan keegaliterannya dengan masyarakat yang dipimpinnya. Artinya, Jokowi mengidentifikasikan dirinya sebagai masyarakat kecil juga sebab dia berbicara dengan kosa kata masyarakat kecil. Sebaliknya, kata turba yang merupakan akronim dari turun ke bawah menunjukkan kesan bertolak belakang. Istilah itu pun mengesankan adanya orang di atas dan orang di bawah. Orang di atas adalah mereka yang memerintah yang memiliki kekuasaan, sedangkan orang di bawah adalah mereka yang diperintah, tidak punya kekuasaan, atau rakyat. Jelaslah, pemakaian istilah turba masih terlalu berorientasi kekuasaan. Sebab, turba itu menunjukkan adanya pemimpin yang mendatangi rakyat. Tampak, tidak ada kesan egaliter di sana, yang ada adalah jarak yang terbentang antara pemimpin dan rakyatnya. Dari sisi struktur bahasa, pemakaian istilah turba menunjukkan sebuah pleonasme, berlebihan. Kata turun pasti menuju bawah, tidak pernah menuju atas. Tapi di sisi sosiologis, istilah turba lebih kepada penegasan posisi sosial antara kelas atas dan kelas bawah. Jadi, Anda suka dengan blusukan atau turba?

Mampang Prapatan, saat Jakarta diguyur hujan sejak pagi, 9 Januari 20

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez

Home Humaniora Bahasa Artikel

Bahasa Kang_insan

TERVERIFIKASI
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Kang Insan, begitulah saya biasa dipanggil...


0inShare

Blusukan dan Turba: Menyingkap Makna yang Lain


OPINI | 09 January 2013 | 10:50 Dibaca: 230 Komentar: 0 3 aktual Sebagai peminat bahasa, yang menarik dan berkesan dari Joko Widodo setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta, bagi saya, adalah keberhasilannya mengangkat kata blusukan yang awalnya merupakan kata yang lebih akrab dengan masyarakat pedesaan di Jawa (atau pinjam istilah Tukul Arwana, ndeso) menjadi sebuah kata yang sangat metropolis dan sexi. Saya sebut metropolis sebab kata blusukan tiba-tiba saja menjadi perbincangan warga perkotaan dan menghentak kesadaran kaum urban itu atas ketidakmampuan bahasa yang mereka pakai dalam percakapan di Ibu Kota untuk menyebut atau mengistilah dengan kata apa terhadap tindakan atau perjalanan keluar-masuk ke permukiman yang dilakukan oleh gubernurnya. Bagi saya, itu adalah keberhasilan Jokowi menaklukkan Jakarta, sebagai simbol kebanggan nasional. Sisi lain yang saya lihat adalah ketidakberdayaan pers (media massa)sebab awalnya istilah blusukan terdengar melalui media massasebagai salah satu agen penjaga atau pemelihara bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berdepan-depan dengan pemimpin populer. Saya pun menyebut kata blusukan itu sexi, tulisan yang sesuai ejaan kita adalah seksi dan semestinya saya pun memberinya tanda petik. Sebab kata itu telah merangsang orang lain (baca: penguasa lain) untuk tertarik dan melakukan apa yang dilakukan oeh Jokowi. Seberapa ketertarikan itu? Tampaknya, sangat tertarik , tetapi seperti biasa mereka akan ramai-ramai menolak disamakan apalagi dianggap meniru-meniru. Pantang bagi seorang pemimpin untuk meniru pemimpin yang lain

apalagi jika ia merasa lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang ditirunya. Implikasinya apa? Pertama, mereka akan menciptakan kata baru atau istilah baru untuk mengacu kepada tindakan atau perbuatan yang sama. Dalam kajian semantik atau semiotika, mereka akan membuat penanda baru terhadap petanda yang sama. Seperti, ada kata siswa dan murid yang keduanya mengacu kepada satu hal yang sama, yaitu orang yang belajar. Sebab itu, saya tidak aneh jika kemudian kata blusukan mendapat tandingan kata turba. Kata terakhir adalah kata yang dipakai oleh para loyalis SBY untuk mengacu tindakan-tindakan SBY akhir-akhir ini yang menyerupai tindakan Jokowi. Kedua, untuk mengesankan tidak meniru, maka akan dibangun wacana seolah-olah mereka sudah jauh-jauh hari melakukan hal itu. Agar wacana itu kuat, mereka akan berulang-ulang di berbagai kesempatan untuk menyebut-nyebut istilah itu dan berupaya sekuat tenaga merujuk pada perbuatan-perbuatan masa lampau dengan harapan masih ada yang bisa mengingatnya. Dengan demikian, akan ada dua pertarungan di sana. Pertarungan pertama adalah persaingan pemakaian istilah terhadap tindakan yang sama. Blusukan bersaing dengan turba. Persaingan dalam wacana dan pembicaraan. Nanti akan terlihat mana yang frekuensinya lebih banyak dipakai oleh masyarakat. Tentu saja, yang sering dipakai oleh masyarakat itulah yang disukai. Namun, belum tentu pada ahirnya kata itu dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sekaligus menandakan resminya kata itu menjadi kata baku bahasa Indonesia. Pertarungan kedua adalah pertarungan dalam memberikan petanda terhadap kata itu, atau memaknakan kata itu sehingga punya arti yang signifikan bagi masyarakat. Masyarakat jelas akan membedakan blusukan dan turba dalam hal bagaimana baik Jokowi maupun SBY menjadikan tindakan-tindakan itu benar-benar bermanfaat atau tidak di mata masyarakat. Hal lain yang saya cermati dari munculnya kata blusukan dan turba itu adalah munculnya kesan terhadap gaya kepemimpinan. Kata blusukan adalah kata yang sangat akrab bagi masyarakat pedesaan. Berbicara masyarakat pedesaan, mungkin saya terlalu mereduksi, berarti kita membahas masyarakat kelas bawah kita, masyarakat kecil atau wong cilik. Dari sini saja, tampak bahwa Jokowi memakai istilah itu untuk menunjukkan keegaliterannya dengan masyarakat yang dipimpinnya. Artinya, Jokowi mengidentifikasikan dirinya sebagai masyarakat kecil juga sebab dia berbicara dengan kosa kata masyarakat kecil. Sebaliknya, kata turba yang merupakan akronim dari turun ke bawah menunjukkan kesan bertolak belakang. Istilah itu pun mengesankan adanya orang di atas dan orang di bawah. Orang di atas adalah mereka yang memerintah yang memiliki kekuasaan, sedangkan orang di bawah adalah mereka yang diperintah, tidak punya kekuasaan, atau rakyat. Jelaslah, pemakaian istilah turba masih terlalu berorientasi kekuasaan. Sebab, turba itu menunjukkan adanya pemimpin yang mendatangi rakyat. Tampak, tidak ada kesan egaliter di sana, yang ada adalah jarak yang terbentang antara pemimpin dan rakyatnya. Dari sisi struktur bahasa, pemakaian istilah turba menunjukkan sebuah pleonasme, berlebihan. Kata turun pasti menuju bawah, tidak pernah menuju atas. Tapi di sisi sosiologis, istilah turba lebih kepada penegasan posisi sosial antara kelas atas dan kelas bawah. Jadi, Anda suka dengan blusukan atau turba?

Mampang Prapatan, saat Jakarta diguyur hujan sejak pagi, 9 Januari 20

Kampanye pada prinsipnya merupakan suatu proses kegiatan komunikasi individu atau kelompok yang dilakukan secara terlembaga dan bertujuan untuk menciptakan suatu efek atau dampak tertentu. Rogers dan Storey (1987) mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu (Venus, 2004:7). Beberapa ahli komunikasi mengakui bahwa definisi yang diberikan Rogers dan Storey adalah yang paling popular dan dapat diterima dikalangan ilmuwan komunikasi (Grossberg, 1998; Snyder, 2002; Klingemann & Rommele, 2002). Hal ini didasarkan kepada dua alasan. Pertama, definisi tersebut secara tegas menyatakan bahwa kampanye merupakan wujud tindakan komunikasi, dan alasan kedua adalah bahwa definisi tersebut dapat mencakup keseluruhan proses dan fenomena praktik kampanye yang terjadi dilapangan Definisi Rogersda Storey juga umumnya dirujuk oleh berbagai ahli dari disiplin ilmu yang berbeda seperti ilmu politik dan kesehatan masyarakat. Beberapa definisi lain yang sejalan dengan batasan yang disampaikan Rogers dan Storey diantaranya sebagai berikut : Pfau dan Parrot (1993) A campaigns is conscious, sustained and incremental process designed to be implemented over a specified period of time for the purpose of influencing a specified audience (Kampanye adalah suatu proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan yang dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan mempengaruhi khalayak sasaran yang telah diterapkan). Leslie B. Snyder (Gudykunst & Mody, 2002) A communication campaigns is an organized communication activity, directed at a particular audience, for a particular period of time, to achieve a particular goal (Kampanye komunikasi adalah tindakan komunikasi yang terorganisasi yang diarahkan pada khalayak tertentu, pada periode waktu tertentu guna mencapai tujuan tertentu).
Kampanye sebetulnya masuk kategori tindakan politik, akan tetapi dalam blog ini kampanye yang dibahas lebih merujuk pada bidang teknologi. Pengertian kampanye menurut seowaton adalah suatu tindakan teknis untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, bisa dilakukan perorangan maupun kelompok (tentunya yang loyal sama seowaton pencarian dari mesin pencari (kalau bisa ), sehingga bisa tercantum pada hasil halaman pertama gan... ). pada

Dan harapan dari seowaton, hasil pencarian tersebut berdasarkan kata kunci Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009. Kalau kata kunci lain boleh lah, asalkan hasil paling tinggi kalau pakai kata kunci yang tadi itu .

Bagaimana? apakah ada yang mau ikutan untuk berkampanye dengan seowaton? ketik reg spasi Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, kirim ke nomor HP anda masing-masing 0 comments: .

Post a Comment

Artikel Alumni
Kampanye Politik dan Sampah

Pada saat ini hampir mustahil menjerat pencurian start kampanye yang dilakukan partai politik, calon anggota DPD dan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dengan Undang-undang Pemilu yang berlaku. UU No. 12 Th 2003 mendifinisikan kampanye pemilu sebagai kegiatan peserta pemilu dan/atau calon anggota legislatif untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan program-programnya, sedangkan UU No. 23 Th 2003 menyatakan kampanye merupakan kegiatan dalam rangka meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program pasangan capres dan cawapres. Pengertian kampanye ini relatif lebih rinci dan jelas dari pada undang-undang pemilu sebelumnya, baik mulai dari UU No. 7 Tahun 1951 sampai UU No. 3 Tahun 1999. Lebih lanjut dinyatakan bahwa kampanye dapat dilakukan melalui pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog, penyebaran melalui media cetak dan elektronika, penyiaran melalui radio dan/atau televisi, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga di tempat umum, rapat umum, debat publik/debat terbuka dan kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan Hal-hal tersebut diatas merupakan media kampanye saja, sedangkan pelakunya adalah peserta pemilu dan sasarannya jelas yaitu kepada pemilih. Pada kenyataan memang sampai saat ini peserta pemilu dan pemilih belum ditetapkan, karena penetapan parpol peserta pemilu, calon DPD dan penetapan daftar pemilih tetap, baru diumumkan berturut-turut pada tg 2, 9 dan 31 bulan Desember 2003 oleh KPU, sedangkan untuk pasangan capres dan cawapres tanggal 22 Desember oleh masing-masing Partai Politik Peserta Pemilu. Kegiatan partai dan perorangan yang menurut pandangan masyarakat umum diindikasikan jelas-jelas sebagai kegiatan kampanye, seperti pemasangan spanduk dan bendera, simbul partai, penyebaran kaos dan sticker, sarasehan, debat publik, pidato di televisi, bahkan arakarakan massa yang merupakan upaya show of force, nampaknya sulit dikenai pidana kampanye. Ketentuan pidana pemilu tentang kampanye yang hanya satu pasal baik UU No. 12 maupun UU No. 23 Tahun 2003- tidak cukup kuat untuk menjerat kegiatan tersebut

1.Pendahuluan 1.1Latar Belakang Masalah DELAPAN PULUH persen lulusan SMA kini menganggur. Angkatan kerja yang besar ini belum termasuk tamatan sarjana (S1) yang setiap tahunnya juga terus membengkak. Hal seperti ini tentu sangat merisaukan. Jika ini dibiarkan, dampaknya, mereka akan mengalami depresi mental yang besar. Hal ini bisa berdampak pada kehilangan kepercayaan diri, akan timbul rasa kepahitan dan frustrasi. Dalam jangka pendek -- semasih keluarga punya warisan/mampu menghidupi keluarganya -- hal ini tidak terasa. Tetapi, tidak semua orang punya warisan harta yang bisa menjadi jaminan hidup aman. Di sinilah peran pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk memberdayakan para pencari kerja (baca penganggur) dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan.

1.Pendahuluan 1.1Latar Belakang Masalah DELAPAN PULUH persen lulusan SMA kini menganggur. Angkatan kerja yang besar ini belum termasuk tamatan sarjana (S1) yang setiap tahunnya juga terus membengkak. Hal seperti ini tentu sangat merisaukan. Jika ini dibiarkan, dampaknya, mereka akan mengalami depresi mental yang besar. Hal ini bisa berdampak pada kehilangan kepercayaan diri, akan timbul rasa kepahitan dan frustrasi. Dalam jangka pendek -- semasih keluarga punya warisan/mampu menghidupi keluarganya -- hal ini tidak terasa. Tetapi, tidak semua orang punya warisan harta yang bisa menjadi jaminan hidup aman. Di sinilah peran pemerintah, pengusaha dan masyarakat untuk memberdayakan para pencari kerja (baca penganggur) dengan meningkatkan jiwa kewirausahaan.

Dalam kaitan tingginya angka pengangguran di dalam masyarakat, gejolak-gejolak sosial akan sering terjadi. Ini sangat wajar jika melihat angka pengangguran itu rata-rata berpendidikan tinggi. Mereka menjadi lebih dinamis, makin pandai dan vokal menyuarakan pendapat-pendapatnya. Apalagi mereka sekarang dihadapkan kesenjangan sosial yang belum teratasi. Dengan keadaan yang demikian ini, para penganggur akan menjadi frustrasi karena ada perasaan tidak puas terhadap lembaga pembuat kebijakan di negeri ini. Sementara itu, di kalangan pengusaha sering dikeluhkan output yang dihasilkan lembaga pendidikan tidak sesuai dengan pasar kerja. Di lain pihak, lembaga pendidikan tetap ngotot dan dibebani target untuk bisa meluluskan sebanyak-banyaknya. Terlepas dari pro dan kontra ini, kini sudah saatnya menumbuhkan semangat jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda kita. Jangan sampai mereka seperti pepatah ''ayam bertelur di lumbung, mati kelaparan''. Apakah seseorang untuk menjadi pengusaha harus memiliki keterampilan dulu? Dari pengalaman sejumlah pengusaha yang sukses, awal mulanya pendidikan mereka relatif rendah. Hanya berbekal keberanian, mereka berani mengambil risiko untuk memulai usaha. Disadari atau tidak, gerakan globalisasi telah memberi berbagai peluang bagi masyarakat untuk berusaha di berbagai bidang usaha. Globalisasi yang sering didefinisikan dunia tanpa batas-batas ini, akan menimbulkan lintas budaya. Lintas budaya ini tidak saja berdimensi ekonomi, juga bermakna perdamaian antarnegara. Agar peluang yang tercipta itu tak diambil masyarakat luar, akan sangat baik masyarakat lokal diberdayakan dengan mengembangkan jiwa kewirausahaannya. Jiwa kewirausahaan ini merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam usaha meningkatkan pembangunan menuju kesejahteraan. Dalam Sidang Umum MPR 11-23 Maret 1978 dalam salah satu ketetapannya -- Tap IV/MPR/1978 tentang GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) -- menyebutkan dengan tegas akan perlunya kewiraswastaan/kewirausahaan dalam menunjang pembangunan nasional.