Anda di halaman 1dari 39

1

JUDUL : ANALISIS PENGARUH KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN ROKOK PT. BENTOEL INTERNASIONAL INVESTAMA, TBK. YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal merupakan salah satu sarana yang efektif untuk mempercepat akumulasi dana bagi pembiayaan pembangunan melalui mekanisme pengumpulan dana dari masyarakat dan menyalurkan dana tersebut ke sektor-sektor produktif. Dengan berkembangnya pasar modal, maka alternatif investasi bagi para pemodal kini tidak lagi terbatas pada aktiva riil dan simpanan pada sistem perbankan melainkan dapat menanamkan dananya di pasar modal, baik dalam bentuk saham, obligasi, maupun sekuritas (aktiva finansial) lainnya. Dengan membeli saham, para pemodal berharap untuk menerima dividen (pembagian laba) setiap tahun dan keuntungan (capital gains) pada saat sahamnya dijual kembali. Namun pada saat yang sama, mereka pun harus siap menghadapi risiko bila hal sebaliknya terjadi. Dalam berinvestasi di pasar modal tidak saja memerlukan pemikiran yang lebih rumit dan informasi yang lebih kompleks, namun juga menghadapi risiko yang relatif lebih besar bila dibanding dengan bentuk-bentuk simpanan pada sistem perbankan. Oleh karena itu, biasanya return yang diharapkan pada investasi saham relatif lebih besar dibanding tingkat bunga simpanan pada bank-bank. Return saham

merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return) (Jogiyanto,2008;195).. Untuk melindungi kepentingan para pemodal tersebut, maka hanya perusahaan (perseroan) yang sehat dan berprestasi sajalah yang diizinkan menjual sahamnya di pasar modal (liested di Bursa Efek Indonesia). Tandelilin (2010: 26-27), pasar modal secara umum diartikan sebagai pasar yang memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana (Investor) dapat

memilih alternatif investasi yang memberikan return yang paling optimal. Optimal tidaknya suatu return yang akan diperoleh oleh seorang investor bisa juga diamati dari kinerja sebuah perusahaan, khususnya kinerja keuangan. Menurut Darsono dan Ashari (2005:62). Alat analisis yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah analisis rasio. Karena rasio keuangan ini juga dapat digunakan untuk menginterpretasikan tingkat keuangan dalam bisnis, mengukur efektivitas manajemen dan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan. Kondisi perusahaan yang dinilai baik oleh investor akan memberikan sinyal yang positif bagi para investor pasar modal yang akan mengakibatkan kenaikan harga saham karena meningkatnya permintaan akan saham tersebut di pasar modal. Terdapat tiga tujuan investor dalam melakukan investasi di pasar modal: memperoleh dividen atau laba yang dibagikan oleh perusahaan setiap akhir tahun buku, memperoleh capital gain, yaitu keuntungan yang diperoleh pemegang saham karena kenaikan harga sahamnya, dan yang terakhir adalah memperoleh keduanya.

Perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri Rokok di Indonesia merupakan perusahaan yang cukup mendapat sorotan karena dalam beberapa waktu yang lalu dan bahkan hingga kini, hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan ini sering kali mengalami jatuh bangun dalam menjalankan kegiatan perusahaannya. Dari keempat perusahaan rokok yang ada PT. Bentoel Internasional Investama lah yang paling peneliti soroti. Ketidakstabilan kondisi PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. tersebut dapat memberikan sinyal-sinyal yang beragam bagi investor sehingga kegiatan pasar modal sektor ini menjadi bergairah. Seperti diketahui terdapat lima kelompok jenis rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan dari sebuah perusahaan. Adapun masing-masing rasio keuangan tersebut terdiri dai berbagai macam rasio. Guna memudahkan dalam penelitian ini, maka digunakan hanya beberapa rasio saja. Rasio-rasio yang digunakan tersebut adalah Current rasio (CR,), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER). Untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang listed di BEI dapat dilihat dari kinerja keuangannya seperti sebagai berikut: Tabel 1. Perkembangan Rasio-rasio Keuangan PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. Yang Liested di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009. Ratio ROE ROA 23.50 11.58 23.74 13.70 9.20 5.31 (2.37) (1.77)

Tahun 2000 2001 2002 2003

CR 2.18 2.29 2.00 1.82

DER 1.98 1.01 0.89 1.01

2004 2.01 7.69 2005 2.21 9.71 2006 1.61 12.22 2007 3.53 15.76 2008 2.48 13.82 2009 2.66 1.43 Sumber: data sekunder diolah

4.61 5.72 7.65 7.28 5.48 2.07

0.86 0.65 0.97 1.50 1.58 1.45

Dari tabel 1 dapat dilihat perkembangan Rasio Lancar pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia sangat berfluktuasi. Hal ini menunjukkan ketidakstabilan penjaminan aktiva lancar terhadap utang lancar pada perusahaan ini. Ketidakstabilan kinerja keuangan dari sisi Current Rasio mengakibatkan para investor akan kesulitan memprediksi kinerja keuangan PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia ini. Menurut Sartono (2008: 116), semakin tinggi current rasio berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya. Menurut Darsono dan Ashari (2005: 52), current rasio yang terlalu tinggi juga menunjukkan manajemen yang buruk atas sumber likuiditas. Untuk ROE perkembanganya juga mengalami fluktuasi. Hal ini

mengindikasikan tidak stabilnya kinerja perusahaan ditinjau dari kemampuan modal sendiri dalam menghasilkan laba bersih setelah bunga dan pajak bagi perusahaan. Keadaan ini akan menyulitkan para investor dalam memprediksi imbalan yang akan mereka peroleh dalam berinvestasi. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang investor (Hanafi dan Halim, 2007: 84)

Begitupun yang terjadi pada ROA perkembanganya juga mengalami fluktuasi. Hal ini mengindikasikan tidak stabilnya kinerja perusahaan ditinjau dari kemampuan total aktiva dalam menghasilkan laba sebelum pajak bagi perusahaan. Menurut Mamduh dan Halim (2005:165), Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai oleh perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai aset tersebut. Sedangkan jika ditinjau dari rasio lavarage dalam hal ini Debt to Equity Ratio (DER), rasio ini juga mengalami fluktuasi dari tahun 2000-2009. tentu saja keadaan ini akan mengakibatkan kesulitan dalam melakukan prediksi tentang seberapa terjaminnya utang oleh modal yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Darsono dan Ashari (2004:54), semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. Baik buruknya kinerja sebuah perusahaan tentunya akan berpengaruh terhadap tingkat pengembalian saham (return saham). Sebagai gambaran tingkat pengembalian saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang go publik di Bursa Efek Jakarta dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Perkembangan Harga Saham PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. Yang Liested di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009. Perkembangan Harga Tahun Saham perubahan 2000 500.00 2001 140.00 (360.00) 2002 125.00 (15.00) 2003 90.00 (35.00) 2004 110.00 20.00 2005 135.00 25.00 2006 310.00 175.00 2007 560.00 250.00 2008 520.00 (40.00) 2009 500.00 (20.00) Sumber: data sekunder diolah Dari tabel 2 dapat dilihat perkembangan harga saham pada saat penutupan terjadi fluktuasi, nilai saham tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu senilai 560 dan terendah pada tahun 2003 senilai 90. penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2001, yaitu sebesar 360 point dan peningkatan tertinggi terjadi pada tahun 2007, yaitu sebesar 250 point. Tidak stabilnya sebagian besar nilai saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009 ini tentu akan berpengaruh terhadap nilai return saham yang akan diperoleh oleh para investor. Fenomena ini tentu disebabkan oleh berbagai macam sebab. Oleh karena hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Return Saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di BEI.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari penjabaran pada latar belakang dapat diidentifikasi permasalahanpermasalahan sebagai berikut:
1) Perkembangan Curent Rasio (CR) pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk.

yang liested di Bursa Efek Indonesia terjadi fluktuasi dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009.
2) Perkembanga Return On Equity (ROE) dari tahun 2000 sampai dengan tahun

2009 pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia sangat berfluktuasi.
3) Perkembanga Return On Asset (ROA) dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009

pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia sangat berfluktuasi.
4) Berfluktasinya nilai Debt to Equity Ratio (DER) dari tahun 2000 sampai dengan

tahun 2009 pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia.
5) Tidak stabilnya perkembangan nilai saham pada PT. Bentoel Internasional

Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2000-2009. 1.3. Perumusan Masalah Dari masalah yang telah berhasil diidentifikasi maka dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

1) Apakah kinerja keuangan (CR, ROE, ROA dan DER) pada PT. Bentoel

Internasional Investama, tbk. yang listed di BEI secara simultan maupun parsial terhadap return Saham?
2) Variabel manakah yang mempunyai pengaruh paling dominan terhadap return

saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang listed di BEI? 1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian Dari rumusan-rumusan masalah yang telah ditentukan, maka dapat ditentukan tujuan-tujuan penelitian sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui pengaruh dari kinerja keuangan (CR, ROE, ROA dan

DER) terhadap return Saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang listed di BEI secara simultan maupun parsial.
2) Untuk mengetahui Variabel yang mempunyai pengaruh paling dominan

terhadap return saham pada pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang listed di BEI. 1.4.2. Manfaat Penelitian Adapun manfaat-manfaat yang akan didapatkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Secara akademik merupakan salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi pada program strata satu (S1) Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.

2)

Secara teoritis ilmiah diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya di bangku kuliah, khususnya di bidang manajemen keuangan.

3)

Secara praktis, diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan serta pertimbangan bagi pimpinan perusahaan terkait dengan kinerja keuangan perusahaan dan risiko sistematis yang ada dalam rangka meningkatkan harga saham dan bagi calon investor terkait dengan keputusan investasi yang tepat dalam rangka memperoleh return saham yang diharapkan.
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu 1) Penelitian Rosdiana (2010) dengan judul Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Dan Risiko Sistematis Terhadap Harga Saham Perbankan di Bursa Efek Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan yang terdiri dari Capital Adequacy Ratio (CAR); Non Performing Loan (NPL); Net Interest Margin (NIM); Return on Assets (ROA); Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia dan untuk mengetahui sejauhmana pengaruh risiko sistematis terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia. Model analisis data yang digunakan untuk menjawab hipotesis I adalah regresi linier berganda, sedangkan untuk hipotesis II adalah regresi sederhana. Hasil penelitian pada hipotesis pertama menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) yang diperoleh adalah 52,2% dan dengan

10

menggunakan confidential interval sebesar 95%, secara serempak kinerja keuangan yang terdiri dari CAR, NPL, NIM, ROA, dan LDR berpengaruh terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia, sedangkan secara parsial hanya ROA yang berpengaruh terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian pada hipotesis kedua menunjukkan nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah 1,1% dan dengan menggunakan confidential interval sebesar 95%, diperoleh hasil bahwa risiko sistematis tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perbankan di Bursa Efek Indonesia. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah variabel bebas yang digunakan sama, yaitu kinerja keuangan. Adapun perbedaannya adalah objek penelitian dan variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah return saham, sementara penelitian terdahulu memilih harga saham. 2) Penelitian Ary Dwi Cahyono (2008) dengan judul Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Rokok Yang Go Public Dengan Menggunakan Informasi Keuangan EVA, ROE Dan EPS. Hasil penelitian ini menemukan tiga hal. Pertama, ukuran kinerja keuangan EVA, ROE dan EPS menghasilkan penilaian kinerja keuangan yang berbeda. Kedua, informasi keuangan EVA dan ROE tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan rokok yang go public, sedangkan informasi keuangan EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan rokok yang go public. Secara simultan, informasi keuangan EVA,

11

ROE dan EPS tidak berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan rokok yang go public. Ketiga, informasi keuangan EPS memiliki pengaruh yang paling kuat terhadap harga saham perusahaan rokok yang go public. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah salah satu variabel bebas yang digunakan sama, yaitu kinerja keuangan. Adapun perbedaannya adalah objek penelitian dan variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah return saham, sementara penelitian terdahulu memilih harga saham. 3) Penelitian Ismu Basuki (2006) dengan judul Pengaruh rasio-rasio keuangan Terhadap return saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (2003) . Hasil penelitian ini menemukan 2 hal. Pertama Secara parsial, DER, ROA, ROE, NPM, OPM, PER, dan PBV tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Tidak adanya pengaruh yang signifikan dari masing-masing ketujuh variabel bebas terhadap return saham. Kedua secara bersama-sama (simultan), DER, ROA, ROE, NPM, OPM, PER, dan PBV tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah tiga variabel bebasnya (DER, ROA dan ROE) dan variabel terikat yang digunakan sama, yaitu Kinerja Keuangan dan harga saham. Adapun perbedaannya adalah objek penelitian dan variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini Current Ratio (CR), sementara penelitian terdahulu ada rasio NPM, OPM, PER, dan PBV.

12

2.2. Tinjauan Teoritis 2.2.1. Pengertian Pasar Modal Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Pasar modal juga bisa diartikan sebagai pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, sepeti saham dan obligasi. (Tandelilin, 2010:26) Menurut Husnan (2005:3) Pasar modal didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa

diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta. Menurut Gitman (2003:25), Capital market is market that enables suppliers and demanders of long-term funds to make transactions. (Pasar modal adalah pasar yang memungkinkan para investor dan emiten membuat transaksi untuk jangka panjang). Menurut Riyanto (2000:219), Pasar modal adalah suatu pengertian abstrak yang mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan yang kepentingannya saling mengisi, yaitu calon pemodal (investor) di satu pihak dan emiten yang membutuhkan dana jangka menengah atau jangka panjang. Di lain pihak, pemodal adalah perorangan atau lembaga yang menanamkan dananya dalam efek, sedangkan emiten adalah perusahaan yang menerbitkan efek untuk ditawarkan kepada masyarakat.

13

Jadi dapat disimpulkan, pasar modal merupakan suatu sarana untuk mempertemukan penjual dan pembeli dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas, seperti saham dan obligasi, baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. 2.2.2. Instrumen Pasar Modal Beberapa sekuritas yang umumnya diperdagangkan di pasar modal antara lain adalah saham, obligasi, reksadana dan instrumen derivatif. 1) Saham Saham merupakan surat bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Saham dapat dibedakan menjadi saham preferen dan saham biasa. Saham preferen adalah saham yang mempunyai kombinasi karakteristik gabungan dari obligasi maupun saham biasa, karena saham preferen memberikan pendapatan yang tetap seperti halnya obligasi, dan juga mendapatkan hak kepemilikan seperti pada saham biasa. Perbedaan dengan saham biasa adalah bahwa saham preferen tidak memberikan hak suara kepada pemegangnya untuk memilih direksi ataupun manajemen perusahaan, seperti layaknya saham biasa. Sedangkan saham biasa adalah sekuritas yang menunjukkan bahwa pemegang saham biasa tersebut mempunyai hak kepemilikan atas aset-aset perusahaan. Oleh

14

karena itu, pemegang saham mempunyai hak suara (voting rights) untuk memilih direktur ataupun manajemen perusahaan dan ikut berperan dalam pengambilan keputusan penting perusahaan dalam RUPS. Investor yang membeli saham biasa belum tentu akan mendapatkan pendapatan secara tetap dari perusahaan, karena saham biasa tidak mewajibkan perusahaan untuk membayar sejumlah kas terhadap pemegang saham.
2) Obligasi

Obligasi merupakan sekuritas yang memberikan pendapatan dalam jumlah tetap kepada pemiliknya. Pada saat membeli obligasi, investor sudah dapat mengetahui dengan pasti berapa pembayaran bunga yang akan diperoleh secara periodik dan berapa pembayaran kembali nilai par (par value) pada saat jatuh tempo. Pembayaran bunga obligasi ditentukan oleh seberapa besar kupon yang ditetapkan oleh penerbit obligasi. Umumnya, pada setiap obligasi terdapat kupon dalam jumlah dan waktu pembayaran yang sudah ditentukan. Tetapi ada satu jenis obligasi yang tidak memberikan kupon, disebut dengan zero coupon bond. Pada jenis obligasi ini, penerbit tidak memberikan pembayaran bunga tetap, tetapi pembeli akan membayar dengan harga kurang dari nilai par yang telah ditetapkan (harga discount), dan pada saat jatuh tempo akan menerima sejumlah nilai par (tanpa discount). 3) Reksadana Reksadana (natural fund) adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan sejumlah dana kepada perusahaan reksadana, untuk digunakan sebagai modal berinteraksi baik di pasar modal maupun di pasar uang.

15

Reksadana dapat dibedakan menjadi dua, yaitu reksadana tertutup (closeended) dan reksadana terbuka (open-ended). Pada reksadana tertutup, setelah dana yang terhimpun mencapai jumlah tertentu maka reksadana tersebut akan ditutup. Dengan demikian, investor tidak dapat menarik kembali dana yang telah

diinvestasikan. Sedangkan pada reksadana terbuka, investor dapat menginvestasikan dananya dan atau menarik dananya setiap saat dari reksadana tersebut sebelum reksadana tersebut masih aktif. 4) Instrumen Derivatif Instrumen Derivatif merupakan sekuritas yang nilainya merupakan turunan dari suatu sekuritas lain. Sebagai nilai instrumen derivatif sangat tergantung dari harga sekuritas lain yang ditetapkan sebagai patokan. Ada beberapa jenis instrumen derivative, di antaranya waran, bukti right (right issue), opsi dan futures (Tandelilin, 2007: 18-22). 2.2.3. Kinerja Keuangan Menurut Noor (2009: 221), kinerja perusahaan menjadi hal yang perlu diketahui oleh investor atau calon investor dalam melakukan investasi. Untuk mengetahui kondisi atau kinerja perusahaan secara lengkap perlu dilakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan. Analisis laporan keuntungan adalah kegiatan membandingkan komponen laporan keuangan (neraca dan rugi laba). Dengan menganalisis laporan keuangan akan diketahui makna dari angkaangka yang ada. Untuk mengetahui makna yang ada pada laporan keuangan

16

diperlukan sebuah alat analisis. Alat analisis yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah analisis rasio (Darsono dan Ashari, 2005:62). Penggunaan informasi akuntansi untuk berbagai keperluan pengambilan keputusan manajemen disebut dengan akuntansi manajemen. Berbagai informasi keuangan yang dihasilkan dari proses akuntansi dapat dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan manajemen. Salah satu fungsi dari informasi keuangan tersebut adalah untuk penilaian kinerja manajemen perusahaan. Terdapat berbagai metode untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan, di mana masing-masing memiliki yang berbeda dan spesifik dengan suatu kegunaan tertentu. Ukuran kinerja tersebut dapat dipilah menjadi beberapa kelompok ukuran kinerja, seperti rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio leverage dan rasio likuiditas. (Rudianto, 2006:314-315) Menurut Gitman (2003:53), Financial ratios can be divided for convenience into five basic categories: liquidity, activity, debt, profitability, and market ratios, Liquidity, activity, and debt ratios primarily measure risk. Profitability ratios measure return. Market ratios capture both risk and return. (Rasio keuangan dapat dibagi untuk kemudahan ke dalam lima kategori dasar: likuiditas, aktivitas, hutang, profitabilitas, dan rasio pasar. Likuiditas, Aktivitas, dan rasio hutang diutamakan untuk mengukur risiko. Rasio Profitabilitas mengukur tingkat pengembalian. Rasio pasar mencakup kedua-duanya, yaitu risiko dan tingkat pengembalian). Di dalam proses penilaian kinerja manajemen perusahaan, salah satu kriteria penting yang digunakan ukuran kinerja keuangan perusahaan. Untuk dapat

17

melakukan penilaian hasil kerja manajemen suatu perusahaan di bidang keuangan, informasi yang digunakan adalah berbagai informasi keuangan yang dihasilkan dari proses akuntansi yang dilakukan perusahaan. 2.2.4. Analisis Rasio Keuangan Analis rasio merupakan salah satu cara dalam menilai kinerja keuangan sebuah perusahaan. Terkait dengan pengertian dari analisis rasio ini para ahli tidak mempunyai perbedaan yang begitu jauh, atau bisa dikatakan hampir sama. Menurut Munawir (2007: 64), rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical method) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. Sedangkan menurut Riyanto (2008: 329), analisis rasio adalah alat yang dinyatakan dalam aritmatical terms yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data finansial. Jadi dapat disimpulkan analisis rasio merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan dengan cara membandingkannya. Angka rasio dapat dikelompokkan ke beberapa jenis, hal ini tergantung dari cara menilainya. Menurut Munawir (2007:68), angka-angka rasio pada umumnya dapat digolongkan menjadi dua kelompok. Golongan yang pertama adalah

18

berdasarkan sumber data keuangan yang merupakan unsur atau elemen dari angka rasio tersebut dan penggolongan yang kedua didasarkan pada tujuan dari penganalisa. Namun dalam penelitian ini peneliti lebih condong membagi rasio berdasarkan pada tujuan penganalisaan. Menurut Mamduh dan Halim (2007:76), Pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan ke dalam lima macam kategori, yaitu:
1) Likuidity ratios

Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Ada dua rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas, yaitu:
a) Rasio lancar (current ratio)

b) Rasio cepat (quick ratio)

2) Activity ratios

Rasio aktivitas merupakan rasio yang mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. Rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur aktivitas, yaitu:
a) Perputaran persediaan (inventory turnover)

19

b) Rasio penangguhan piutang (average collection period)

c) Perputaran total aktiva (total Aset Turn Over)

3) Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas adalah rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Ada beberapa rasio hutang yang bisa dihitung, yaitu:
a) Rasio total utang (total debt rasio)

b) Rasio utang terhadap modal (debt to equity rasio)

4) Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba (profitabilitas). Ada beberapa rasio yang dapat digunakan, yaitu: a) Return on asset

20

b) Return on equity

c) Earning per share

5) Rasio Pasar

Rasio ini melihat perkembangan nilai perusahaan relatif terhadap nilai buku perusahaan. Beberapa rasio yang bisa dihitung, yaitu:
a) Price earning rasio

b) Price to book value

Dalam penelitian ini, rasio yang digunakan untuk menganalisa adalah rasio-rasio sebagai berikut:
1) Current rasio (CR)

Current rasio merupakan salah satu bagian dari rasio likuiditas yang paling umum digunakan. Bagi investor dan calon investor, rasio ini menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Rasio ini memberikan indikasi penting mengenai kemampuan

21

perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang jangka pendeknya, karena kalau utang lancar melebihi aktiva lancarnya berarti perusahan tidak akan mampu membayar tagihan utangnya (Munawir, 2008: 94). Menurut Sartono (2008: 116), semakin tinggi current rasio berarti semakin besar kemampuan perusahan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya. Menurut Darsono dan Ashari (2005: 52), current rasio yang terlalu tinggi juga menunjukkan manajemen yang buruk atas sumber likuiditas.
2) Debt to Equity Rasio (DER)

Rasio ini menunjukkan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham erhdap pemberi pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham. (Darsono dan Ashari, 2004:54). Sedangkan menurut Halim dan Sarwoko (1999: 56), rasio ini merupakan perbandingan antara total utang dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan berapa rupiah modal sendiri yang disediakan untuk membayar utang.
3) Return On Equity (ROE)

Return on Equiety (ROE) merupakan bagian dari rasio profitabilitas. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang investor (Hanafi dan Halim, 2007: 84). Sedangkan menurut Halim dan Sarwoko (1999:63), ROE merupakan perbandingan antara laba setelah biaya bunga dan pajak dengan modal sendiri.

22

4) Return On Asset (ROA)

Return On Asset (ROA) merupakan bagian dari rasio profitabilitas. Rasio ini perbandingan antara Laba sebelum bunga dan pajak dengan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. 2.2.5. Saham Saham atau equity adalah sumber dana yag berasal dari pendiri atau pemilik usaha. Sumber dana ini dikenal juga dengan istilah saham atau share. Biasanya sumber dana ini digunakan untuk memulai usaha (Noor, 2009:96). Lebih terperinci lagi Fahmi dan Hadi (2009:68) menjelaskan, bahwa saham adalah: a. perusahaa. b. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu

dan di ikuti hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya. c. Persediaan yang siap utuk dijual. Suatu perusahan dapat menjual hak kepemilikannya dalam suatu bentuk saham (stock). Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ii disebut denagan saham biasa (common stock). Untuk menarik ivestor potensial lainnya, suatu perusahaan mugkin juga mengeluarkan kelas lain dari saham, yaitu yang disebut dengan saham preferen (preferred stock). Saham prefern mempunyai hak-hak prioritas lebih dari saham biasa. Hak-hak prioritas dari saham preferen yaitu

23

hak atas dividen yang tetap da hak terhadap aktiva jika terjadi likuidasi. Akan tetapi, saham preferen umumnya tidak mempunyai hak veto seperti yang dimiliki oleh saham biasa. Saham preferen akan dibahas terlebih dahlu diikuti oleh saham biasa (Jogiyanto, 2008: 107). Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal oleh publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preferred stock). Dimana kedua jenis saham ii memiliki arti aturannya masing-masing. a. Common stock (saham biasa)

Common stock (saham biasa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta berhak untuk menentukan membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang selanjutnya diakhir tahun akan memperoleh dalam bentuk deviden. b. Preferred stock (saham istimewa)

Prefered stock (saham istimewa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk deviden yang akan diterima setiap kuartal (tiga bulanan). (Fahmi dan Hadi, 2009:68)

24

2.4.1 Pengertian Harga Saham Menurut Halim (2005: 16), harga saham dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: c. Nilai nominal (nilai pasar), merupakan harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar.
d. Harga perdana, merupakan harga saham sebelum saham tersebut

dicatati di bursa efek, atau merupakan harga jual dari penjamin emisi kepada investor besarnya harga perdana ini tergantung pada kesepakatan antara emiten dan penjamin emisi (underwriter).
2.2.6. Return Saham

Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return) (Jogiyanto,2008;195). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi penting karena dapat digunakan sebagai salah satu pengukuran kinerja perusahaan serta sebagai dasar penentu return ekspektasi dan risiko masa yang akan datang. Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh investor dimasa yang akan datang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, return ekspektasi bersifat belum terjadi namun diharapkan akan terjadi. Return merupakan salah satu dasar yang digunakan oleh investor dalam mengambil keputusan investasi karena return merupakan tujuan utama seseorang berinvestasi. Dengan adanya return, diharapkan seseorang akan termotivasi untuk berinvestasi.

25

Return juga merupakan imbalan yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada investor atas keberaniannya menanggung risiko atas investasi yang dilakukannya. Return total sering disebut return saham, yaitu perubahan kemakmuran dari perubahan harga saham dan perubahan pendapatan dari dividen yang diterima. Perubahan kemakmuran ini menunjukkan tambahan kekayaan sebelumnya. Pemegang saham dalam investasinya dapat mendapatkan return yang ditawarkan suatu saham dalam bentuk capital gain dan dividen. Capital gain merupakan selisih harga saham sekarang relatif dengan harga saham periode yang lalu. Dividen merupakan keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Biasanya tidak seluruh keuntungan perusahaan dibagikan kepada pemegang saham, tetapi terdapat bagian yang ditanam kembali. Biasanya dividen yang diterima ditentukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan tersebut. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa perusahaan tidak selalu membagikan dividen kepada para pemegang saham tetapi bergantung pada kondisi perusahaan itu sendiri. Ini berarti bahwa jika perusahaan mengalami kerugian tentu saja deviden tidak akan dibagikan pada tahun berjalan tersebut. Dividen yang dibagikan dapat berupa dividen tunai maupun dividen saham. 2.3. Kerangka Konseptual Penelitian Untuk memperjelas kerangka berfikir dari penelitian ini, maka perlu disusun sebuah kerangka pemikiran/ konseptual. Sehingga dapat terlihat bagaimana

26

hubungan-hubungan dari variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Adapun kerangka konseptual pemikiran dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

Current Ratio (CR)

Return On Equity (ROE)

Kinerja Keuangan Return Saham (Y)


Return On Asset (ROA)

Debt to Equity Ratio (DER)

Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian Keterangan: : Pengaruh secara simultan : Pengaruh secara Parsial

Optimal tidaknya suatu return yang akan diperoleh oleh seorang

investor bisa juga diamati dari kinerja sebuah perusahaan, khususnya kinerja

27

keuangan. Menurut Darsono dan Ashari (2005:62). Alat analisis yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan adalah analisis rasio.
-

Maka sesuai dengan pernyataan di atas, rasio-rasio yang digunakan

dalam penelitian ini terkait dengan pengaruhnya terhadap return saham adalah Current rasio (CR,), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) 2.4. Hipotesis Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah :
1. Diduga bahwa Kinerja Keuangan (Current rasio (CR,), Return On Equity

(ROE), Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER)) berpengaruh terhadap return saham secara simultan maupun parsial.
2. Diduga variabel Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh paling

dominan terhadap Return Saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 20002009. 3. Metodologi Penelitian 3.1. Jenis Penelitian Jenis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan

28

antara dua variabel atau lebih. (Sugiyono,2004:11). Hubungan antara variabel ada tiga bentuk, yaitu simetris, kausal, dan hubungan interaktif atau timbal balik. Hubungan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hubungan kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat, di mana ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen (variabel yang dipengaruhi) Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebab akibat antara variabel independen Kinerja Keuangan yang terdiri dari Current rasio (CR,), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER)) terhadap variabel dependent yaitu Return Saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia tahun 2000-2009. 3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk.. Ada beberapa pertimbangan yang mendasar dalam memilih perusahaan ini sebagai objek penelitian adalah: 1) 2) Perusahaan ini sudah lama liested di Bursa Efek Indonesia Perusahaan ini merupakan perusahaan rokok yang terkecil di

antara 3 perusahaan lain yang liested di Bursa Efek Indonesia.


3)

Perusahaan ini tidak stabil kinerja keuangannya.

29

3.3.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah studi kasus. Studi kasus yaitu penelitian tentang status objek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari seluruh personalia (Nazir, 2009:57). 3.4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi, yaitu dengan cara melakukan pencatatan terhadap data-data yang disediakan oleh PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia Di Bursa Efek Indonesia, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah tentang Laporan Laba Rugi, Laporan Neraca dan berbagai hal yang terkait dengan Kinerja Keuangan dan Return Saham pada PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia. 3.5. 3.5.1. Jenis Data 1. Data Kuantitatif adalah data yang dapat di ukur dengan satuan angka. Dalam hal ini yang termasuk data kuantitatif adalah laporan neraca, laporan laba rugi. 2. Data Kualitatif adalah data dalam bentuk informasi atau kalimat atau keterangan karena data ini tidak dapat dijelaskan dalam bentuk angka dan besarnya tidak dapat diukur. Jenis dan Sumber data

30

3.5.2.

Sumber data Data sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui laporan-laporan yang dikeluarkan oleh PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang liested di Bursa Efek Indonesia. Di samping itu juga dengan membaca literatur-literatur atau bacaanbacaan yang mempunyai kaitan atau hubungan dengan masalah yang diteliti. 3.6. Identifikasi Variabel Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka variabel pokok yang terkait dapat diidentifikasi sebagai berikut : 1) Kinerja Keuangan
a) Current rasio (CR), b) Return On Equity (ROE), dan c) Return On Asset (ROA)

d) Debt to Equity Ratio (DER) 2) Return Saham

3.7. Klasifikasi Variabel Dari identifikasi variabel tersebut, dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Variabel bebas (independent variable), adalah variabel yang mempengaruhi

variabel lain. Dalam penelitian ini variabel bebas yaitu Kinerja Keuangan yang terdiri dari CR, ROE, ROA dan DER.

31

2) Variabel terikat (dependent variable), adalah variabel yang dipengaruhi oleh

variabel lain (independent variable). Dalam penelitian ini variabel terikat adalah Return Saham. 3.8. Definisi Operasional Variabel Berbagai variabel dalam penelitian ini perlu mendapatkan penegasan agar sesuai dengan jenis penelitian dan objek yang diteliti, berikut adalah definisi operasional dari masing-masing variabel.
1)

Current rasio (CR)

Current rasio merupakan kemampuan PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang go publik di BEI untuk memenuhi kewajiban atau utang jangka pendeknya yang dinyatakan dalam kali (x).
2)

Return On Equity (ROE)

Return on Equiety (ROE) merupakan perbandingan antara laba setelah biaya bunga dan pajak dengan modal sendiri yang dimiliki oleh PT. Bentoel

Internasional Investama, tbk. yang go publik di BEI.


3)

Return On Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) merupakan perbandingan antara laba sebelum pajak dengan Total aktiva yang dimiliki oleh PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang go publik di BEI.

32

4)

Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara total hutang dengan modal yang dimiliki oleh PT. Bentoel Internasional Investama, tbk 5) Return Saham Return Saham adalah tingkat keuntungan yang akan diperoleh oleh investor yang menanamkan dananya di PT. Bentoel Internasional Investama, tbk. yang go publik di BEI berupa return realisasi dan return ekspektasi pada masa yang akan datang. 3.9. Prosedur Analisis Data

Untuk menguji kebenaran dari hipotesis yang diajukan dan untuk menganalisis permasalahan, alat analisis yang digunakan adalah analisis rasio dan analisis statistik. 3.9.1. Menghitung Return Saham Return saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah return saham pada periode jendela, yaitu 3 hari sebelum, pada saat publikasi, dan 3 hari setelah pempublikasian laporan keuangan tahun 2000-2009. Adapun rumus Return saham yang digunakan adalah rumus menurut Jogiyanto (2008: 196): Return Saham = Pt Pt 1 + Dt Pt 1

Dimana: Pt = harga saham (investasi) sekarang. Pt-1 = harga saham (investasi) sebelumnya. Dt = dividen periodik

33

3.9.2.

Analisis Statistik a. Uji Asumsi Klasik (Uji Ekonometrik) Regresi linier berganda dengan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Squares/OLS) akan dapat dijadikan alat estimasi yang tidak bias jika telah memenuhi persyaratan BLUE (Best Liniear Unbiased Estimator), maka diperlukan pengujian terhadap asumsi-asumsi klasik sebagai berikut : 1) Multikolinearitas Uji asumsi tentang Multikolinearitas dimaksudkan untuk membuktikan atau menguji ada tidaknya hubungan yang linier antar variabel bebas (independen) satu dengan variabel bebas (independen) lainnya, (Sudarmanto, 2005:136). Menurut Suharjo (2008:98), Pemeriksaan multikolinieritas dilakukan dengan VIF (Variance Inflation Factor) yang terkait dengan Xh yaitu: VIF (Xh) =

1 1 Rj 2

2) Autokorelasi Uji ini bertujuan untuk melihat apakah variabel dependen berkorelasi dengan dirinya sendiri, maksudnya apakah ada hubungan antara nilai variabel dependen baik dengan nilai periode sebelumnya maupun sesudahnya. Autokorelasi bisa dideteksi dan diukur dengan statistik Durbin-Watson. Statistik Durbin-Watson dihitung dengan rumus :

34

D=

(e
i=2 n

ei 1 )
2 i

e
i =1

(Hakim,2002:253) Menurut Sunyoto (2009:91-92), adapun ketentuan uji turbin watson adalah sebagai berikut: 4) -2) 5) Tidak terjadi otokorelasi jika nilai DW berada di antara -2 Terjadi otokorelasi positif jika nilai DW di bawah -2 (DW <

dan +2 atau -2 < DW < +2. 6) > +2. b. Analisa Regresi Berganda Terjadi otokorelasi negatif jika nilai DW di atas +2 atau DW

Adapun formulasi dari regresi linier berganda adalah : = bo + b1x1 + b2x2 + b3x3+ b4x4 + eit di mana : bo b1, b2, b3, X1 = Return Saham = Konstanta = Koefisien regresi = CR

35

X2 X3 X4 Eit

= ROE = ROA = ROA = Standard error

(Hakim, 2002:274) Untuk membantu mengolah data digunakan program analisis statistik yaitu program Statistical Package For Social Science (SPSS). Versi 16. For Windows. 1. Uji Signifikansi

Uji signifikansi yang dilakukan adalah uji regresi simultan (uji F) dan uji regresi parsial (uji t). a. Uji Simultan (uji F test) Uji F digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variabel CR (X1), ROE (X2), ROA (X3) dan DER (X4) mempunyai pengaruh signifikan secara simultan atau tidak terhadap variabel Return Saham (Y) Langkah-langkah pengujian sebagai berikut :
1) Merumuskan hipotesis statistik :

Ho : b1 : b2 : b3 : b4 = 0, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel bebas (CR, ROE, ROA dan DER) terhadap variabel terikat Return Saham.

36

Ha : b1 : b2 : b3 : b4 0, artinya ada pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel bebas (CR, ROE, ROA dan DER) terhadap variabel terikat Return Saham.
2) Menentukan Level of significance ()

Level of significance yang digunakan adalah 5% 3) Tentukan Fhitung (Fh), dengan rumus : Fhitung =

(1 R ) /( n k 1)
2

/k

(Sugiyono, 2007:235)

Keterangan : R = Koefisien determinasi n Jumlah anggota sample k = Jumlah variabel bebas 4) Kriteria = jumlah anggota sampel

Ho diterima F = (.df) Ho diterima jika Fh Ftabel Ha diterima jika Fh > Ftabel 5) Kesimpulan.

Ha diterima

37

1. Apabila Ho diterima (Ha ditolak) berarti tidak terdapat atau tidak

ada pengaruh yang signifikan secara simultan antara variabel bebas (CR, ROE, ROA dan DER) terhadap variabel terikat Return Saham.

2. Apabila Ha diterima (Ho ditolak) berarti ada pengaruh yang

signifikan secara simultan antara variabel bebas (CR, ROE, ROA dan DER) terhadap variabel terikat Return Saham. c. Uji t- test Model analisis ini digunakan untuk mengetahui derajat keyakinan antara variabel bebas, yaitu CR, ROE, ROA dan DER mempunyai pengaruh signifikan secara parsial terhadap variabel terikat yaitu terhadap Return Saham. Langkah-langkah pengujian sebagai berikut :
1)

Merumuskan hipotesis statistik : Ho : bi = 0, artinya tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara variabel bebas X terhadap variabel terikat Y. Ha : bi 0, artinya ada pengaruh signifikan secara parsial antara variabel bebas X terhadap variabel terikat Y.

2)

Menentukan Level of significance () Level of significance yang digunakan adalah 5%

3)

Tentukan t hitung, digunakan rumus:

38

t=

b Sb

(Hakim,2002:291)

Keterangan : t = nilai t b = koefisien regresi Sb = standar deviasi 4) Kriteria

Kurva Distribusi t

Daerah tolak Ho Daerah Diterima

Daerah tolak Ho

t tabel

Ho diterima jika -t th t Ha diterima jika th > t atau th< -t 5) Kesimpulan Apabila Ho diterima berarti tidak ada pengaruh signifikan secara parsial antara variabel bebas X terhadap variabel terikat Y. Apabila Ha diterima berarti ada pengaruh signifikan secara parsial antara variabel bebas X terhadap variabel terikat Y. d. Koefisien Determinasi

39

Untuk mengetahui besarnya kontribusi variasi yang diterangkan oleh variabel X1, X2, X3 dan X4 secara serentak atau bersama-sama terhadap variasi variabel Y. Koefisien determinasi merupakan kuadrat dari korelasi pada persamaan regresi. Sehingga koefisien determinasi dirumuskan dengan, (Suharjo, 2008:61). ^ yi y i =1
yi y i =1 n n 2

r =

ket: r2 = Koefisien determinasi yi = nilai y berdasarkan hasil estimasi dari persamaan regresi y = nilai rata-rata y dari data awal Nilai r berkisar antara 0 sampai 1 (0 r 1) di mana semakin mendekati 1 berarti pengaruh dari variabel CR, ROE, ROA dan DER secara serempak (bersama-sama) terhadap Return Saham semakin kuat dan sebaliknya semakin mendekati 0, berarti pengaruh ketiga variabel tersebut semakin lemah terhadap Return Saham (Supranto, 2001:251).