Anda di halaman 1dari 49

EKLAMPSIA

Oleh: dr. Sugeng EW

Anggota Kelompok: dr. Benny dr. Karina dr. Robert Mars


Pendamping: dr. David Sianipar, M.Kes

Identitas
Nama
Umur Jenis kelamin

No. RM
Masuk RS

: Ny. R : 17 tahun : Perempuan : 133406 : 17 september 2012

ANAMNESIS
Keluhan Utama Riwayat Penyakit Sekarang

: Kejang :

Jam 19.15 kejang di rumah sebanyak 1 kali, selama kurang lebih 5 menit, kejang seluruh tubuh, setelah kejang pasien tidak sadar. Merupakan kejang pertama kali dialami oleh os.

dibawa ke rumah bidan dan kemudian di rujuk ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan k RS pasien sadar, kejang (-)

tiba d UGD os kejang 1x, selama 5 menit, kemudian kembali tidak sadarkan diri.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kejang sebelumnya disangkal Riwayat hipertensi disangkal Riwayat penyakit ginjal disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga : - Riwayat penyakit Hipertensi dalam keluarga disangkal

- Riwayat kejang dalam keluarga disangkal

Riwayat Perkawinan : Menikah 1x dengan suami yang sekarang sudah 1 tahun Riwayat kehamilan : Anak 1 : Sekarang Riwayat haid : Menarche Siklus Lamanya Haid teratur

: 11 thn : 28 hari : 5 -7 hari

HPHT
HPL

: Lupa :-

Riwayat ANC : Melakukan pemeriksaan kandungan sebanyak 2x di Bidan. Riwayat Kontrasepsi : Wanita belum pernah KB

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

Kesadaran
Tanda Vital

: Lemah : composmentis

TD : HR : RR : T :

160/110 mmHg 96 x/menit 24 x/menit 37,3oC

Pemeriksaan Fisik
Mata : Conjungtiva tidak anemis Sklera : Tidak ikterik Thorax : Cor : BJ I-II reguler, Gallops (-), murmur (-)

Pulmo : Vesikuler, Rhonchi (-), wheezing (-) Abdomen : lihat Status obstetric Ekstremitas : - akral hangat - Tangan & Kaki nampak Oedema (+)

Abdomen Inspeksi TFU His DJJ

: perut membesar : 35 cm : (-) : (+) 128x

VT : pembukaan 1cm, portio tebal lunak, lendir (+), darah(-). Ekstremitas : Akral dingin -/-, edema +/+ +/+

DIAGNOSIS

G1P0A0 hamil preterm (31 minggu) dengan Eklampsi Ante Partum

Terapi di IGD
MgSO4 20% 4 g (20 cc) dalam 100 cc RL habis dalam 30 menit kemudian MgSO4 20% 6 g (30 cc) dalam 500 cc RL 20 tpm
Jika masih kejang inj Valium 1Amp IV

Po: Nifedipin 3x10mg

Program
Lab darah lengkap

Urin rutin
Persipan SC

Hasil Pemeriksaan Penunjang


Darah rutin
AL AE HB HT AT : : : : : 7,3.103/l 6,9.106/l 11,9 gr% 35,8 % 359.103/l (N : 4,5-10,0) (N: 4-5) (N : 12-16) (N: 38-47) (N: 150-450)

Urine : protein urin (++++)

Penatalaksanaan di Ruangan
20.05 pasien kejang lagi masuk valium 1 amp Konsul dr. Eddy, Sp.OG Observasi 10 menit, jika masih kejang inj valium 1 amp diulang. Inj Lasix 1 amp (extra) O2 3 Lpm Jika Keadaan Umum stabil SC sito.

22.00 pasien masuk ruang operasi 22.08 lahir bayi asfiksi ringan,

BB 2000, PB 40cm

Obs TTV tiap jam


MgSO4 6g drip Inj Ceftriaxon 2x1g IV Inj Ketorolac 3x1A IV Nifedipin 4x10mg

FOLLOW UP
18/09/2012 Kel : - nyeri di sekitar luka jahitan - kejang (-) Keadaan Umum : lemah, Compos Mentis TD : 160/100 mmHg N : 92 x/m SB : 36,7 C

19/09/2012 Kel : - nyeri di sekitar luka jahitan, pusing - kejang (-) Keadaan Umum : lemah, Compos Mentis TD : 140/100 mmHg N : 88 x/m SB : 36,7 C

20/09/2012 Kel : - nyeri di sekitar luka jahitan - kejang (-) Keadaan Umum : lemah, Compos Mentis TD : 130/90 mmHg N : 80 x/m SB : 36,7 C

Tinjauan Pustaka

EKLAMPSIA

DEFINISI
Istilah eklampsia berasal dari bahasa Yunani dan berarti "halilintar". Kata tersebut dipakai karena seolah-olah gejala-gejala eklampsia timbul dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh tandatanda lain.

Eklampsia merupakan kasus akut dari penderita preeklampsia (wanita hamil dan wanita dalam nifas, diserta dengan hipertensi, proteinuri dan dengan atau tanpa oedem)yang disertai dengan kejang menyeluruh hingga koma.

KLASIFIKASI
Menurut saat terjadinya eklampsia dikenal : Eklampsia ante partum ialah eklampsi yang terjadi sebelum persalinan (paling sering)(setelah 20 minggu kehamilan) Eklampsia intrapartum ialah eklampsia sewaktu persalinan. Eklampsia postpartum, eklampsia setelah persalinan.

Kejang dalam eklamsi ada 4 tingkat, meliputi:


- Tingkat awal atau aura (invasi) Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong) kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar kekanan dan kekiri. - Stadium kejang tonik. Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti muka mulai kelihatan sianosis, lodah dapat trgigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik. - Stadium kejang klonik. Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung selama 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik mafas seperti mendengkur. - Stadium koma Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma.

ETIOLOGI
Etiologi preeklampsia dan eklampsia sampai saat ini masih belum sepenuhnya dimengerti, masih banyak ditemukan kontroversi, itulah sebabnya penyakit ini sering disebut the disease of theories.

PATOFISIOLOGI

FAKTOR RESIKO
Usia, pada wanita hamil kurang dari 25 tahun

insiden meningkat > 3 kali lipat Paritas, angka kejadian tinggi pada primigravida Faktor keturunan, insiden meningkat sampai 25 % Iklim Hiperplasentosis Hidrops fetalis Mola hidatidosa

GAMBARAN KLINIK

TERAPI

Pada prinsipnya pengobatan medikamentosa mencakup : A. MgSO4 untuk pengobatan kejang Initial dose atau Loading dose : 4 gr MgSO4 40% IV (4-5 menit). Lanjutkan dengan maintenace dose : MgSO4 40% (12gr) dalam IVFD RL 500 cc 14 tpm. Bila kejang berulang diberikan MgSO4 20 % 2 gr IV, diberikan sekurang - kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. Bila setelah diberikan dosis tambahan masih tetap kejang dapat diberikan Sodium Amobarbital 3-5 mg/ kg BB IV perlahanlahan.

Syarat pemberian Magnesium Sulfat: Harus tersedia antidotum Magnesium Sulfat yaitu Kalsium Glukonas 10%, diberikan iv secara perlahan, apabila terdapat tanda tanda intoksikasi MgSO4 Refleks patella (+) Frekuensi pernafasan > 16 kali / menit. Produksi urin > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya ( 0,5 cc/ kg BB/ jam ). Pemberian Magnesium Sulfat sampai 20 gr tidak perlu mempertimbangkan diurese

Obat antihipertensi Diberikan pada penderita dengan TD 160/110mmHg atau lebih. Nifedipin Dosis awal: 10-20 mg, diulangi 30 menit bila perlu Dosis maksimum 120 mg per 24 jam. Tidak boleh diberikan sublingual karena efek vasodilatasi sangat cepat, sehingga hanya boleh per oral Klonidine (Catapres) Satu ampul mengandung 0,15 mg/cc. Klonidene 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc larutan garam faali atau larutan air untuk suntikan Diuretikum Tidak diberikan secara rutin kecuali bila ada edema paru-paru, CHF atau edem anarsarka. Harus disertai dengan monitor plasma elektrolit. Diuretikum yang dipakai adalah Furosemide.

Terminasi Kehamilan/persalinan
Stabilisasi : 4-6jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini: Setelah kejang berakhir Setelah pemberian antikejang terakhir Setelah pemberian antihipertensi terakhir Penderita mulai sadar

Komplikasi
Kematian Ibu Solutio plasenta, terjadi pada ibu yang

menderita hipertensi Hipofibrinogenemia, dianjurkan pemeriksaan fibrinogen secara berkala. Nekrosis hati, akibat vasospasmus arteriol umum. Sindroma HELLP Kelainan ginjal DIC. Prematuritas, dismaturitas, kematian janin intra uterine

Prognosis
Kriteria Eden adalah kriteria yang dipakai untuk menentukan prognosis eklampsia, yang terdiri dari: Koma yang lama Frekuensi nadi diatas 120 kali per menit Suhu tubuh diatas 39.4oC Tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg Konvulsi lebih dari 10 kali Proteinuria 10 gram atau lebih Tidak ada edema, edema menghilang

PEMBAHASAN

Anamnesis
Seorang wanita berusia 17 tahun
Primigravida, usia kehamilan 8 bulan
OS tidak pernah kejang sebelumnya OS tidak pernah hipertensi, TD OS biasanya 110/80 mmHg OS tidak pernah bengkak-bengkak sebelumnya OS tidak pernah sakit ginjal

Pemeriksaan fisik : VS : TD : 160/110 mmhg N : 90x/mnt Rr : 24x/ mnt T : 36,2 oC Extremitas : Kaki pitting edema Pemeriksaan penunjang : Urine : protein +4

Kejang yang terjadi dalam kehamilan patut

untuk dipikirkan sebagai eklampsia, namun kejang dapat juga terjadi pada epilepsi, malaria serebral, meningitis, ensefalitis, tetanus dan migraine. Akan tetapi kejang pada eklampsia selalu disertai dengan peningkatan tekanan darah dan hasil protein urin yang positif

Pada CKD juga dapat ditemukan hipertensi,

edem dan protein urin positif. Namun CKD merupakan kasus kronik sedangkan eklampsia merupakan kasus akut pada wanita hamil dan nifas.

Pada pasien ini keluhan utamanya kejang,

pasien mengaku hamil 8 bulan, dan pada pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darahnya 160/110 mmHg. Sebelum hamil pasien tidak pernah kejang dan tekanan darah sebelum hamil 110/80 mmHg. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan protein urin (positif 4/ ++++) ini memperkuat diagnosa kearah eklampsia.

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah mengarah kepada eklampsia yaitu adanya tekanan darah tinggi dan kejang pada

kehamilan lebih dari 20 minggu dimana sebelumnya tidak ada riwayat tekanan darah tinggi dan kejang. Dari hasil pemeriksaan penunjang didapatkan protein urin ++++ (positif 4) yang memperkuat diagnosis kearah eklampsia.

Namun demikian, dibutuhkan pemeriksaan

laboratorium lainnya untuk memonitor kondisi pasien terutama berkaitan dengan komplikasi dari eklampsia, seperti kadar ureum dan kreatinin, nilai enzim hati (SGOT dan SGPT), dan fungsi koagulasi seperti APTT. Pemeriksaan penunjang lainnya tergantung komplikasi yang muncul pada pasien, seperti rontgent thorax PA jika edema paru dan pemeriksaan CT scan kepala jika terjadi penyulit stroke pada pasien.

Diagnosa Akhir : G1P0A0 gravida aterm (31 32 mgg) dengan Eklampsia

Penatalaksanaan
Perawatan dasar eklampsia yang utama ialah terapi suportif untuk stabilitas fungsi vital yakni Airway, Breathing, Circulation (ABC),

mengatasi dan mencegah kejang, mengatasi asidemia, mencegah trauma pada pasien pada waktu kejang, mengendalikan tekanan darah khususnya pada waktu krisis hipertensi, melahirkan janin pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat.

Analisa penatalaksanaan : Pemasangan infus ditujukan untuk memasukkan obat obatan Setuju pemberian MgSO4 bertujuan sebagai terapi antikonvulsan karena bersifat sebagai inhibitor kompetitif terhadap ion Ca2+ di neuromuscular junction

Pemberian lasix karena indikasi adanya oedem ekstrimitas. Setuju dengan dilakukannya terminasi

kehamilan dengan Sectio sesarea, karena dari hasil pemeriksaan dalam Ostium bukaan 1, bagian terendah (kepala) masih tinggi dikarenakan harus dilakukan terminasi kehamilan < 12 jam, bahkan ada yang mengatakan harus dilakukan persalinan < 6 jam setelah kejang terjadi.