Anda di halaman 1dari 4

cerpen love affair...

"sku masuk dulu ya, kamu tidak mampir?" tanya asya pelan. "enggaklah, sudah malam" beringsut aku menghampiri tubuh asya seraya memberinya sebuah kecupan hangat dikeningnya. Kembali aku menatap kedua mata asya dan menemukan sesuatu yang aku sendiri sebenarnya tahu namun sepertinya hati ini menutupi apa yang terlihat disitu. Asya pun keluar dari mobil dan beranjak menuju ke dalam rumah seraya melambaikan tangannya ke arah mobilku yang perlahan keluar dari rumah asya malam itu. Sempat aku melihat ke arah jendela atas lantai dua rumah asya, terlihat sekelebat bayangan seseorang yang pernah ada dalam hari-hariku...yah..shinta. Dia adalah kakak kandung asya. Mereka hanya tinggal berdua di rumah ini, orang tua mereka telah meninggal sewaktu shinta masih kuliah di salah satu PT swasra di surabaya, sedangkan asya masih duduk di bangku SMU kelas 3. Praktis setelah orang tuanya meninggal Shintalah yang memanggul tanggung jawab atas adiknya asya. Maka terlihat begitu jelas perbedaan karakter keduanya. Shinta terlihat tomboy, disiplin, tegas, seperti sosok yang bisa mengayomi keluarganya, sedangkan asya terlihat agak rapuh, manja, dan sifat feminim yang sangat kental melekat. Perkenalanku dengan mereka sebenarnya diawali dari Shinta. Saat itu aku tengah berjalan menuju tempatku latihan boxing dan tiba-tiba brakk. Seseorang menabrakku. Aku menatap terlihat wajah tomboy shinta dan tubuh tegapnya. Ada sesuatu yang kuat yang membuat mataku tak bisa lepas memandangi sosok didepanku saat ini. Entah, antara perasaan kagum, terpesona atau apalah itu. "Hey, ehm aku Andrew," sambil mengulurkan tangan memperkenalkan diriku. "Aku Shinta. Kami saling berjabat tangan. "kamu anggota baru disini ya?". Iya, emang kamu sudah lama disini? yah baru 3 tahun, pernah sih coba cari tempat lain, tapi kayaknya disinilah tempat yang cocok. Oh ya, kamu kerja? Aku kerja di Red Label advertising..Oh ya, aku juga disitu, kamu karyawan baru y?...Shinta mengangguk. Pantesan aku baru lihat kamu, wah kbetulan kita satu tempat kerja dan latihan, kalo boleh kita bisa berangkat dan pulang sama-sama latihannya okey?? tanpa basa-basi aku langsung menawarkan niat baikku skaligus keinginanku untuk mengenal lebih dekat Shinta bisa terwujud. "he eh, jawab Shinta sambil tersenyum. Waktu terus berlalu, tak terasa hubunganku dengan Shinta smakin dekat. Aku dan Shinta sedang bercanda ditepi kolam, "Mba Shinta, ada mas Adit tuh didepan. Cepat, teriak Asya kepada kami berdua. Seketika itu kami yang dalam keadaan dekat tiba-tiba mengatur jarak bahkan menjaga sikap. Aku tau adit dari Shinta yang katanya adalah pacarnya. "Kenalkann ini Adit pacar aku". "Oh, Andrew teman kerja Shinta". Kami saling berjabat tangan dan kalimat basa-basi pun keluar sebagai pemanis perkenalan kami hari itu. "Mau aku temani ga? tanya asya kepadaku. "Iya, ga pa-pa dech. Aku tidak tau seperti apa sebenarnya hubunganku dengan Shinta, karena hari-hari yang kami lalui bersama sepertinya lebih dari hubungan dekat sebagai teman. Tak canggung aku kadang merangkul, mengenggam jemarinya yang lentik, bahkan ciuman bibir pun hampir setiap hari mewarnai kisah kita. Shinta, sosok yang penuh kehangatan, enak buat diajak hang out, tempatku untuk bercerita semua keluh kesahku, tak ada lagi batasan yang jelas. Aku sendiri sangat merasa nyaman bila dekat dengan dia, dan naluriku sebagai laki-lakipun mengatakan hal yang sama. Namun, sampai dia mengenalkan aku dengan Adit sebagai kekasihnya tak ada satu keinginanku untuk mengatakan perasaanku yang aku sendiri masih bingung perasaan apakah ini?. Aku pun tidak memungkiri bahwa kehadiran Shinta telah merubah hatiku yang telah terisi oleh seseorang, hingga akupun mengenalkan orang itu ke Shinta sebagai kekasihku. "Hey, kenalkan ini lidya, pacar aku. Ekspresi biasa dari wajah Shinta, padahal aku berharap lebih dari itu.

"Kenapa kamu gak bilang mba Shinta mau pergi Sya? Terus dia ga mau bilang alamatnya dimana? tanyaku. Aku hampir kehilangan kendali karena bingung yang menyergap pikiranku waktu itu. Yah. Shinta pergi tanpa menitipkan pesan apapun untukku. Asya cuman bilang "Mba Shinta pergi ke OZ meneruskan studinya, dia ga mau diganggu oleh siapapun, jadi maaf mas Andrew aku ga bisa bantu mas. "Apa alasan dia seperti ini? "Aku ga tau mas, dia cuman bilang seperti itu. Aku mencoba mencari informasi ke teman dekatnya Alien, dan jawaban yang samapun terdengar dari mulut Alien. "Bahkan untuk alamat emailpun lien?". "Maaf Ndrew, andaikan aku bisa mengatakannya, tapi sekali lagi maafkan aku tidak bisa". Hari pertama, selanjutnya terasa ada yang kosong disini. Bahkan sepi begitu terasa. Tak ada lagi yang bisa membuatku bersemangat hingga akhirnya Asya masuk dalam kehidupanku. Namun, masih saja terasa sepi. Tapi aku berpikir kenapa tidak aku mencoba menutup lembaran lamaku dan mencoba membuka lembaran baru. Tapi, sungguh dalam hati ini masih mengganjal entah karena perasaan yang tidak pernah aku tahu, atau aku hanya coba mengingkari bahwa sebenarnya aku telah mencintai Shinta....andaikan saja waktu bisa berputar kembali untuk aku bisa menyelesaikan ganjalan hatiku ini...tapi semuanya telah berlalu seperti waktu yang terus berlalu. "Andrew, entah kenapa aku merasa sejak mba Shinta kembali di sini, aku smakin takut kehilangan kamu. Meski aku tau bahwa diantara kalian tidak pernah ada suatu ikatan yang pasti, namun aku tau hubungan kalian sangat dalam sekali". "Kenapa kamu bilang seperti itu, aku dan Shinta ta ada apa-apa, kamu tau sendiri kan kita tidak pernah berkomitmen apa-apa. Hanya sekedar teman dekat saja". "Tapi....Husssh...kamu tidak boleh berpikiran negatif gitu dong. Itu hanya menyiksa batin kamu saja. Percaya aku dan Shinta tidak ada apa-apa, okey". Asya menutup pintu dan menemukan Shinta berdiri didepannya. Terlihat begitu jelas tatapan wajah yang tidak suka kakaknya ke arah dirinya. "Sudah berapa lama kamu jalan sama Andrew?" "Bukan urusan kamu, lagian bukan hak kamu untuk melarang aku pergi dengan Andrew, karena diantara kalian tidak pernah ada apa-apa". "TApi sya, kamu kan tau kalau aku menyukai Andrew". "Terus, apakah kakak sudah mengatakan perasaan kakak ataupun sebaliknya?. Bukankah itu berarti tidak ada hubungan yang special antara kalian berdua kan?" "Kemana saja kakak selama ini, salah jika aku masuk dalam kehidupan Andrew dan mendapatkan cintanya untuk aku?" "Aku tau, tapi setidaknya kamu bisa menghargai perasaan kakak Sya, tidak mudah bagi aku menerima kalian". "Aku tidak peduli, yang aku tau aku tidak pernah merasa merebut Andrew dari kakak". Dan air mata Shinta tak terasa mengalir, ternyata memang tidak mudah baginya menerima semua kenyataan ini, kenyataan bahwa Asya telah memiliki hati Andrew. Siang itu, tampak Shinta mulai latihan boxing dengan Firman. Alien, Randy, mereka teman Shinta memberi semangat latihan untuk mereka berdua. Dan, satu pukulan dibarengi tendangan membaut Firman jatuh tersungkur. "Aku tau kamu hanya ingin membuatku merasa tenang". bisik Shinta sambil mendekati tubuh Firman yang masih terlentang. "Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa mencintai aku Shin. "Apakah kamu masih menyimpan perasaan itu untuk aku?". "Aku...

"Sudah kamu jawab iya atau ngga saja. "Kamu tau kan dari dulu perasaanku ke kamu tidak pernah berubah, dan aku tetap menunggumu Shin". "Oke, aku mau jadi pacar kamu. "Shinta, kamu serius, terlihat wajah Firman yang mendadak berubah. Ada rasa yang tidak bisa tergambar dimatanya. Aku serius, jawab Shinta meski dalam hatinya bertanya apakah yang dia lakukan ini adalah hal yang benar. Ah peduli setan, setidaknya aku mencoba untuk melupakan Andrew dalam kehidupan aku, dan inilah salah satu caraku, meski aku tau akan ada perasaan bersalahku untuk Firman karena aku tidak mencintainya, Pikir Shinta. Penembakan ini disertai tepukan meriah oleh sahabat mereka sebagai saksi. Kecemburuan Asya terhadap Shinta makin menjadi, bahkan dalam kerjaanpun sepertinya Asya tidak menginginkan celah sedikitpun antara aku dan Shinta. Sampai akhirnya dalam meeting pagi itu, aku baru tau kalau Shinta telah resmi pacaran dengan Firman. Sebenarnya ada perasaan yang terluka, tapi setidaknya ini membuatku lebih mudah untuk melihat kenyataan sekarang, bahwa aku telah memiliki Asya, dan membiarkan Shinta menentukan pilihan terbaik untuk langkah hidupnya. "ada satu hal yang ingin aku tanyakan ndrew. "apa itu? "hubunganmu dengan Shinta dulu...kamu telah melakukan apa saja dengan dia? 'Ah, ga penting buat kita. "tapi aku ingin tau... Malam itu aku dan Asya bertengkar hanya karena keingintahuan Asya tentang masalah yang menurutku ga penting untuk hubungan kita berdua. "Ini penting, ndrew, please tolong jawab!" teriak Asya yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Dan akupun ikut larut dalam buncahan emosi yang tertahan "Baik, kalau itu yang kamu ingin tau, aku dan dia melakukan semua hal yang orang dewasa pernah lakukan, puas kamu?" Dan aku sudah tau, bahwa Asya lari pergi meninggalkan aku masuk ke dalam rumahnya tanpa memberiku kesempatan untuk menenangkan dirinya. Akupun hanya bisa memandangi punggungnya dan akhirnya akupun pergi menenangkan diriku sendiri yang kacau. Malam itu aku pergi ke tempat latihan boxing, kebiasaanku menenangkan diri. Dengan mengepalkan tangan seolah masalah ada dalam kepalan tangan ini ingin aku buang dengan sekuat tenagaku. Dan, aku menemukan Shinta yang waktu itu sedang melakukan latihan boxing. Aku menghampiri, meski kikuk harus berhadapan dengan dirinya. "Masih sama ya, kamu suka latihan disaat malam sepi sendiri sekedar menenangkan jiwa" "Iya masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah". Dan tak terasa tubuh kami semakin dekat, dan akupun tidak bisa menahan lagi rasa kerinduan yang telah lama tersimpan. Aku raih pinggangnya dan aku peluk tubuhnya, masih terasa sama seperti 2 tahun yang lalu, terlihat jelas sikapku yang tidak bisa mengendalikan emosi Aku bisikkan ditelinganya "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu shin, kemana saja kamu, kenapa kamu tidak memberiku apapun selepas kamu pergi, aku bingung harus mencarimu kemana, aku... Yang aku tau saat itu kami saling melepaskan kerinduan hati, benar-benar terasa...sampai akhirnya "Hey, kalian berdua disini rupanya" teriakan Firman mengejutkan kami berdua. tampak salah tingkah antara kami berdua, Shinta mencoba berusaha menenangkan Firman dan

menjelaskan bahwa kejadian tadi tidak seperti yang dia bayangkan. Namun, Ekspresi Firman yang biasa saja seolah tidak memerlukan penjelasan apapun dari Shinta membuatnya hanya bisa terdiam memandangi Firman. "Sudah lama juga kita ga latihan berdua ya Ndrew, mau ga kamu temani aku latihan neh". "Ok...jawabku singkat sembari melayani permintaan Firman. Aku meneruskan latihan boxingku, sekali-kali aku melihat wajah Shinta yang agak gugup, dan berusaha menenangkan perasaannya. Aku tau itu.